EtIndonesia.com Pemerintah Iran pada Sabtu (20/6/2026) secara mendadak mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk seluruh lalu lintas pelayaran mulai berlaku segera, serta memperingatkan bahwa langkah tersebut hanyalah “tahap pertama”.
Padahal, baru tiga hari sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani sebuah nota kesepahaman perdamaian, yang menyepakati pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan dimulainya perundingan mengenai program nuklir Iran.
Kini, Iran menuduh Amerika Serikat gagal memenuhi komitmennya dalam perjanjian tersebut. Selain itu, Iran juga menyatakan bahwa operasi militer Israel di Lebanon selatan masih terus berlangsung, sehingga Teheran memutuskan untuk kembali menutup selat tersebut.
Di sisi lain, perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss juga mengalami perubahan. Wakil Presiden AS, J.D. Vance sempat menunda keberangkatannya pada menit-menit terakhir, namun menegaskan bahwa komunikasi diplomatik antara kedua pihak masih terus berjalan. Ia juga menyebutkan bahwa Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, telah tiba di Swiss untuk mempersiapkan pembicaraan damai berikutnya.
Iran: Penutupan Selat Hormuz Berlaku Segera
Pada Sabtu, Markas Besar Militer Iran Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa Selat Hormuz mulai ditutup bagi kapal-kapal yang melintas dan menegaskan bahwa tindakan tersebut hanyalah “langkah pertama”. Mereka memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat dan Israel terus melanggar kesepakatan, Iran akan mengambil tindakan lanjutan.
Pernyataan ini langsung menarik perhatian dunia karena hanya tiga hari sebelumnya Presiden Donald Trump dan Presiden Iran telah menandatangani nota kesepahaman gencatan senjata. Dalam kesepakatan itu, kedua pihak sepakat membuka kembali Selat Hormuz dan memulai perundingan selama 60 hari untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran serta menstabilkan situasi di Timur Tengah.
Perundingan di Swiss Ditunda
Kedua belah pihak semula berencana menggelar pembicaraan di Swiss pada hari Jumat, namun ditunda karena situasi keamanan di Lebanon yang terus memburuk.
Menurut laporan Axios pada hari Sabtu, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff telah tiba di Swiss untuk memulai putaran pertama pembahasan mengenai perjanjian nuklir dengan delegasi Iran. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Qatar, Mohammed, yang bertindak sebagai mediator, juga hadir untuk membantu proses negosiasi.
Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang sebelumnya dijadwalkan memimpin delegasi ke Swiss, mengumumkan penundaan keberangkatannya pada Jumat malam. Namun, dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu pagi, ia menegaskan bahwa komunikasi antara kedua pihak tetap berlangsung.
Vance mengatakan: “Perundingan bisa saja dimulai secepat besok, tetapi jadwal diplomasi memang sering berubah. Jared dan Steve Witkoff sudah berada di lokasi selama beberapa jam untuk menangani berbagai rincian teknis dari negosiasi ini.”
Prioritas Amerika Serikat
Vance menjelaskan bahwa saat ini Washington memiliki dua prioritas utama:
- Memastikan Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional.
- Menangani persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran guna mencegah negara tersebut membangun kembali kemampuan senjata nuklirnya di masa depan.
Iran Menuduh AS Tidak Memenuhi Janji
Sementara itu, pihak Iran terus menyampaikan bahwa Amerika Serikat belum sepenuhnya melaksanakan komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman. Iran juga mengkritik berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon selatan sebagai alasan untuk kembali menutup Selat Hormuz.
Menurut laporan Reuters, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengirimkan sinyal keras dengan memperingatkan bahwa Iran tidak akan menerima tuntutan yang dianggap berlebihan dari pihak Amerika Serikat. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga menyatakan bahwa apabila AS melanggar perjanjian, Iran akan mengambil langkah-langkah balasan yang disebut sebagai “respons setimpal”.
Ancaman Ranjau Laut Masih Mengintai
Meski setelah penandatanganan nota kesepahaman sempat ada beberapa kapal yang kembali melintasi Selat Hormuz, pelaku industri pelayaran memperingatkan bahwa sekitar 80 ranjau laut masih belum dibersihkan dari jalur pelayaran utama di bagian tengah selat tersebut. Oleh karena itu, kawasan itu masih dianggap memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi bagi aktivitas pelayaran. (***)


