Aksi Damai Akbar di Washington DC Menentang Partai Komunis Tiongkok, Anggota Kongres AS dari Kedua Partai Bersatu Mendukung Falun Gong

EtIndonesia.com Pada 23 Juli 2026, lebih dari 2.000 praktisi Falun Gong dan pendukung dari berbagai kalangan mengadakan aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Monumen Lincoln di ibu kota AS, Washington DC, menuntut agar “penganiayaan segera dihentikan” dan mengakhiri tirani Partai Komunis Tiongkok. 

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Diperkenalkan kepada masyarakat di Tiongkok pada awal 1990-an, latihan ini dengan cepat meraih popularitas luas. Menurut perkiraan resmi saat itu, jumlah praktisinya mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade tersebut.

Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang khawatir popularitas Falun Gong akan mengancam kekuasaannya, melancarkan kampanye penindasan besar-besaran untuk memberantas latihan tersebut. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kehilangan nyawa akibat praktik pengambilan organ secara paksa.

Para praktisi Falun Dafa mengikuti pawai yang menyerukan diakhirinya 27 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Tiongkok, di Washington, pada 23 Juli 2026. Larry Dye/The Epoch Times

Sejumlah anggota Kongres AS dari kedua partai, pemimpin hak asasi manusia, dan tokoh masyarakat, hadir secara langsung untuk menyampaikan pidato dan memberikan dukungan kepada Falun Gong.

Sebelum aksi unjuk rasa, Komite Kongres dan Eksekutif AS untuk Tiongkok (CECC) mengeluarkan pernyataan di platform X, mengecam penganiayaan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong, serta menuntut agar pihak berwenang AS “harus mendesak pembebasan semua praktisi Falun Gong yang ditahan, dan menjatuhkan sanksi kepada pejabat Partai Komunis Tiongkok yang bertanggung jawab atas kekejaman ini”.

“Selama beberapa tahun terakhir, saya bersama pihak lain telah memimpin upaya legislatif bipartisan yang dikenal sebagai ‘Undang-Undang Perlindungan Falun Gong’. Banyak dari Anda yang sudah tidak asing lagi dengan RUU ini. Melalui RUU ini, kami mengirimkan pesan yang jelas dan tegas kepada Partai Komunis Tiongkok: kami tidak akan mentolerir tindakan keji mereka yang merugikan kemanusiaan dan para praktisi Falun Gong!” ujar anggota Kongres AS dari Partai Demokrat Pat Ryan. 

Anggota DPR AS Pat Ryan (Demokrat–New York) bertemu dengan para praktisi Falun Dafa dalam aksi unjuk rasa tahunan di Lincoln Memorial, Washington, pada 23 Juli 2026. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Lebih dari sepuluh anggota Kongres dari kedua partai juga masing-masing mengirimkan video dan surat dukungan, menuntut Partai Komunis Tiongkok segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong, serta menyerukan kepada negara-negara di dunia bebas untuk bersama-sama menghentikan kekejaman Partai Komunis Tiongkok.

Direktur Hubungan Luar Negeri Yayasan Peringatan Korban Komunisme (Victims of Communism Memorial Foundation), Karina Lipsman: “Selama 27 tahun, tak terhitung jumlahnya orang yang mengalami penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, pemenjaraan, dan pelanggaran hak asasi manusia serius lainnya hanya karena keyakinan spiritual damai mereka.”

Piero Tozzi, Direktur Senior Kebijakan Tiongkok di American First Policy Institute (AFPI): “Segala yang dialami Falun Gong di Tiongkok, Amerika Serikat, dan semakin banyak negara lain, menunjukkan bahwa cengkeraman Partai Komunis Tiongkok terus menjangkau wilayah-wilayah tersebut dan terus melakukan tindakan penindasan lintas batas. Hal ini menyoroti bahwa korban terbesar dari (tirani) PKT adalah rakyat Tiongkok sendiri!”

Pada 21 Juli, Departemen Luar Negeri AS secara khusus mengirimkan surat kepada The Epoch Times  yang menyatakan bahwa AS berkomitmen untuk memberantas tindakan penindasan lintas batas yang dilakukan rezim PKT di wilayah AS, serta melindungi kelompok-kelompok rentan seperti praktisi Falun Gong.

Faith McDonnell, Direktur Advokasi Katartismos Global (Gereja Kristen Global): “PKT melihat bagaimana Shen Yun, melalui penari, penyanyi, dan musisi yang penuh keindahan dan keanggunan, membela kebenaran dan kebaikan. PKT ingin membungkam mereka dan mengintimidasi mereka dengan berbagai ancaman teror.”

Sean Nelson, Penasihat Hukum Senior Bidang Kebebasan Beragama Global di “Aliansi Internasional untuk Membela Kebebasan” (ADF International): “Karena itulah, saya mengagumi Anda. Di tengah penganiayaan tanpa ampun selama puluhan tahun, Anda dan komunitas Anda selalu berani bersuara menentang kekejaman dan penganiayaan komunis.”

Enes Kanter Freedom, aktivis hak asasi manusia dan mantan pemain NBA, bergabung dengan para praktisi Falun Dafa dalam aksi unjuk rasa tahunan di Washington pada 23 Juli 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Mantan bintang NBA dan aktivis hak asasi manusia, Enes Kanter Freedom : “Pesan kalian sedang menyebar di kalangan masyarakat dan ke seluruh penjuru dunia. Jika para pemimpin setiap negara mau mendengarkan pesan indah dan suci dari Falun Gong ini, kita tidak akan mengalami perang-perang ini sekarang. Oleh karena itu, saya harap kalian terus memperjuangkan keadilan, karena kalian sedang menginspirasi miliaran orang.”

Laporan wawancara dari Kantor Berita New Tang Dynasty Television di Washington, D.C.

Para praktisi Falun Dafa memegang foto-foto rekan praktisi yang meninggal dunia akibat penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Tiongkok, dalam aksi di Lincoln Memorial, Washington, pada 23 Juli 2026. Madalina Kilroy/The Epoch Times
Praktisi Falun Dafa mengikuti pawai di Washington pada 23 Juli 2026 untuk menyerukan diakhirinya 27 tahun penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Falun Gong di Tiongkok. (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Para praktisi Falun Dafa membentangkan spanduk di Lincoln Memorial, Washington, pada 23 Juli 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times
Praktisi Falun Dafa mengikuti malam renungan lilin di Lincoln Memorial, Washington, pada 23 Juli 2025 untuk mengenang sesama praktisi yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Tiongkok. (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Para praktisi Falun Dafa membentangkan spanduk bertuliskan “Untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang tewas akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT)” di Washington, pada 23 Juli 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

INSPIRASI ERABARU

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

Su Shi dalam Pengasingan: Makna “Meredakan Angin dan Gelombang”

Su Shi, salah satu penyair dan negarawan terkemuka Dinasti Song di Tiongkok, menulis beberapa karya paling abadi dalam hidupnya ketika menjalani pengasingan politik. Salah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine