EtIndonesia.com Pada 16 Agustus, seorang pengguna internet Tiongkok mengunggah video di media sosial yang mengatakan bahwa ketiga anggota keluarganya mengalami demam tinggi dan semuanya dinyatakan positif COVID-19. Ia menyarankan masyarakat untuk tidak bepergian keluar rumah dan sebisa mungkin tetap berada di rumah.
“Beberapa hari lalu saya pergi keluar bersama keluarga. Setelah pulang, kami semua tertular,” katanya dalam video tersebut. Ia kembali mengingatkan masyarakat, “Jangan keluar rumah dulu.”
Agustus merupakan salah satu periode dengan mobilitas masyarakat yang tinggi di Tiongkok. Karena para pelajar sedang libur, banyak keluarga bepergian dan berwisata, yang dinilai turut mendorong penyebaran wabah.
Akun Weibo populer bernama “Hou Dabao” pada 15 Agustus menulis: “Kemarin saya melihat sangat banyak pasien yang mengalami demam. Sebagian besar ternyata adalah pasien COVID-19. Gejala utamanya adalah demam tinggi, seluruh tubuh terasa sakit, bahkan terasa nyeri sampai ke tulang. Selain itu, sakit tenggorokan. Ada juga yang mengalami berbagai gejala di seluruh tubuh yang tidak dapat didiagnosis sebagai penyakit lain. Setelah datang berobat ke tempat kami dan diperiksa, ternyata hasilnya positif COVID-19. Bisa dikatakan, belakangan ini sebagian besar orang yang mengalami gejala-gejala tersebut adalah pasien COVID-19.”
Menurut data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC Tiongkok), jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan pada Juli mencapai 522.000 kasus. Angka tersebut meningkat 443.000 kasus dibandingkan Juni yang mencatat sekitar 79.000 kasus, atau naik 560,76% dalam sebulan.
Dari jumlah tersebut, tercatat 487 kasus parah dan 1 kematian. Data menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat.
Data juga menunjukkan bahwa selama 3–9 Agustus, berdasarkan pemeriksaan sampel saluran pernapasan dari pasien dengan gejala mirip influenza di rumah sakit pemantauan di seluruh Tiongkok, tingkat positif tertinggi berasal dari virus SARS-CoV-2 (COVID-19), yaitu 21,1%.
Di posisi berikutnya adalah:
- Virus influenza: 14,3%
- Enterovirus: 3,9%
Karena pemerintah Tiongkok selama ini dituduh menyembunyikan informasi sebenarnya mengenai wabah, pihak luar mempertanyakan apakah jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19 di Tiongkok sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka resmi.
Seorang pengguna di platform X di luar Tiongkok mengatakan: “522.000 itu hanya data orang yang pergi berobat ke rumah sakit. Banyak orang yang mengalami flu dan demam tidak pergi ke rumah sakit. Jumlah kasus sebenarnya diperkirakan bahkan lebih dari 2 juta.”
Seiring dengan kembali meningkatnya kasus COVID-19, banyak warga Tiongkok membagikan pengalaman mereka di media sosial.
Salah satu pengguna menulis: “Satu keluarga semuanya tertular, tidak ada satu pun yang lolos. Saya yang paling parah, demam ringan berulang kali, seluruh tubuh terasa sakit. Sudah hari keenam dan masih sangat lemas.”
Pengguna lainnya mengatakan: “Semua orang di perusahaan kami tertular.”
Ada pula yang menulis: “Setengah orang di perusahaan kami sudah positif.”
Seorang pengguna internet mengatakan bahwa pada Juli, Tiongkok mencatat 522.000 kasus baru COVID-19, sementara Guangdong saja menyumbang lebih dari 70.000 kasus. Menurutnya, jumlah infeksi telah meningkat secara signifikan.
Ia juga mengutip pepatah lama yang berbunyi, “Setelah banjir besar, biasanya akan datang wabah.” Menurutnya, kondisi yang banyak hujan, lembap, dan panas dapat membuat virus lebih mudah menyebar. (***)


