EtIndonesia.com — Di tengah berakhirnya periode memorandum antara Amerika Serikat dan Iran serta semakin suramnya prospek penyelesaian melalui jalur diplomasi, muncul laporan bahwa Teheran sebenarnya telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang jauh lebih besar.
Laporan terbaru The Wall Street Journal pada 17 Agustus 2026, dengan mengutip sejumlah pejabat Iran dan Arab serta penilaian intelijen regional, menyebut kelompok garis keras di Iran sejak awal tidak sepenuhnya mempercayai proses diplomasi yang berlangsung setelah memorandum dengan Amerika Serikat disepakati pada pertengahan Juni 2026.
Di kalangan kelompok tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa memorandum itu bukan jalan menuju perdamaian permanen, melainkan sekadar kesempatan bagi Amerika Serikat dan Israel untuk membeli waktu, mengatur ulang kekuatan, serta mempersiapkan operasi militer yang lebih besar terhadap Iran.
Kecurigaan inilah yang disebut menjadi salah satu alasan mengapa kelompok garis keras Iran tidak pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada perundingan.
Alih-alih mengendurkan kesiapan militernya selama periode diplomasi, Teheran justru dilaporkan menggunakan sekitar dua bulan terakhir untuk memperkuat kemampuan menghadapi perang berkepanjangan.
Iran Mempercepat Persiapan Militer
Menurut laporan tersebut, persiapan Iran berlangsung dalam berbagai bidang, mulai dari restrukturisasi kekuatan militer, peningkatan kemampuan kontraintelijen, hingga percepatan produksi persenjataan.
Salah satu langkah penting adalah semakin besarnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC terhadap unsur-unsur kekuatan militer reguler. Struktur pertahanan Iran disebut diarahkan agar mampu bergerak lebih terkoordinasi apabila konflik kembali meningkat.
Teheran juga dilaporkan membawa kembali sejumlah tokoh garis keras dan veteran dari lembaga-lembaga lama ke posisi penting. Sebagian dari mereka memiliki pengalaman sejak Perang Iran-Irak pada 1980–1988, sementara yang lain berpengalaman dalam operasi keamanan dan penanganan ancaman di dalam negeri.
Langkah tersebut mengindikasikan bahwa Iran tidak hanya mempersiapkan kemampuan untuk menghadapi serangan dari luar, tetapi juga berusaha memperkuat keamanan internal apabila perang berkepanjangan menimbulkan tekanan politik, sosial, maupun ekonomi.
Operasi kontraintelijen juga diperluas. Bagi Teheran, ancaman bukan hanya berasal dari rudal, pesawat tempur atau kapal perang lawan, tetapi juga kemungkinan infiltrasi jaringan intelijen asing, sabotase dan operasi rahasia terhadap fasilitas strategis.
Pada saat bersamaan, Iran disebut mempercepat produksi rudal dan pesawat nirawak. Kedua jenis persenjataan tersebut menjadi bagian penting dari strategi Iran karena dapat digunakan untuk menyerang sasaran dalam jarak jauh tanpa harus mengandalkan kekuatan udara konvensional.
WSJ melaporkan reorganisasi internal dan penguatan kemampuan rudal serta drone merupakan bagian dari persiapan Teheran menghadapi kemungkinan konfrontasi jangka panjang, meskipun Iran sendiri tetap menghadapi tekanan ekonomi dan kerugian akibat konflik sebelumnya.
Medan Konflik Semakin Meluas
Persiapan Iran tidak berhenti pada wilayah daratannya sendiri.
Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas di jalur pelayaran strategis juga menjadi bagian penting dari konfrontasi. Serangan terhadap kapal-kapal komersial meningkat, sementara perselisihan mengenai pengaturan lalu lintas melalui Selat Hormuz terus menjadi salah satu hambatan utama dalam proses diplomasi.
Iran sebelumnya mengajukan sejumlah tuntutan terkait pembukaan kembali Hormuz, termasuk penghentian blokade laut Amerika Serikat, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian operasi terhadap sekutu-sekutu Teheran di kawasan.
Konflik juga tidak lagi terbatas pada Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Jaringan kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran di Yaman dan Irak disebut semakin terkoordinasi, sementara eskalasi juga telah menjangkau Laut Merah. WSJ melaporkan strategi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan biaya yang harus ditanggung lawan apabila perang terus berlanjut.
Perkembangan terbaru kembali muncul pada Senin, 17 Agustus 2026.
Media Iran melaporkan sebuah kapal tanker minyak milik perusahaan Uni Emirat Arab dihentikan dan ditahan di dekat Pulau Qeshm ketika melintasi Selat Hormuz. Data navigasi maritim disebut menunjukkan kapal tersebut berhenti ketika sedang melakukan pelayaran melalui kawasan itu. Identitas kapal maupun perusahaan pemiliknya belum diumumkan dalam laporan awal.
Dengan demikian, laporan awal yang menyebut kapal tersebut sebagai “kapal pesiar” perlu dikoreksi. Informasi yang tersedia pada 17–18 Agustus menyebutnya sebagai kapal tanker milik perusahaan UEA.
Insiden tersebut semakin memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Newt Gingrich: Iran Berusaha Menang Secara Politik
Di tengah meningkatnya tekanan militer tersebut, mantan Ketua DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Newt Gingrich, mengemukakan pandangan berbeda mengenai tujuan jangka panjang Iran.
Dalam wawancara radio yang diberitakan pada 16 Agustus 2026, Gingrich berpendapat bahwa Teheran tidak harus mengalahkan Amerika Serikat secara langsung di medan perang untuk mencapai tujuannya.
Menurut Gingrich, strategi Iran adalah bertahan cukup lama sehingga biaya ekonomi, militer dan politik konflik mulai menggerus dukungan masyarakat Amerika terhadap perang. Ia membandingkannya dengan strategi Vietnam Utara pada era Perang Vietnam.
Dalam pandangan tersebut, kemenangan dapat dicapai dengan melemahkan kemauan politik lawan untuk meneruskan konflik.
Iran, menurut analisis Gingrich, dapat berharap bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan domestik yang dihadapi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Apalagi Amerika Serikat juga harus menanggung biaya mempertahankan operasi militer dalam jangka panjang. Pentagon kini melakukan rotasi kapal induk di Timur Tengah setelah pengerahan panjang USS Abraham Lincoln, sebuah perkembangan yang sekaligus memperlihatkan besarnya tuntutan logistik untuk mempertahankan operasi militer berkepanjangan di kawasan.
Karena itulah, konfrontasi antara Washington dan Teheran kini bukan lagi sekadar persoalan siapa yang memiliki rudal, pesawat atau kapal perang lebih banyak.
Pertarungan juga berlangsung dalam dimensi ekonomi, diplomasi, psikologis dan politik.
Bagi Iran, kemampuan bertahan menghadapi tekanan dapat menjadi senjata tersendiri. Sementara bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah mempertahankan tekanan militer dan ekonomi tanpa kehilangan dukungan politik di dalam negeri.
Dengan berakhirnya memorandum dan belum terlihatnya terobosan diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, laporan mengenai persiapan perang Iran memberikan gambaran bahwa Teheran setidaknya sedang mempersiapkan skenario terburuk.
Pertanyaan terbesarnya sekarang bukan hanya apakah Amerika Serikat dan Iran masih dapat mencapai kesepakatan, tetapi apakah kedua pihak masih memiliki ruang untuk mundur sebelum persaingan yang berlangsung berubah menjadi konflik regional yang jauh lebih luas. (***)


