EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase serangan udara yang semakin intensif. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, Ukraina melancarkan salah satu serangan drone terbesar terhadap wilayah Rusia sejak perang skala penuh dimulai pada Februari 2022. Hampir 800 pesawat nirawak dilaporkan dikerahkan dalam satu malam, dengan sebagian besar diarahkan ke Moskow dan wilayah sekitarnya.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan 791 drone Ukraina. Lebih dari 600 drone disebut diarahkan ke kawasan Moskow, menjadikan serangan tersebut sebagai salah satu gelombang serangan udara paling masif yang pernah dihadapi ibu kota Rusia selama perang berlangsung.
Besarnya jumlah drone menunjukkan perubahan penting dalam pola operasi Ukraina. Kyiv kini semakin mengandalkan serangan dalam jumlah besar untuk menekan pertahanan udara Rusia sekaligus membawa dampak perang semakin jauh dari garis depan.
Serangan pada 18 Agustus juga bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Hanya beberapa hari sebelumnya, Ukraina telah melancarkan serangan udara besar lainnya ke berbagai wilayah Rusia. Intensitas serangan yang berlangsung berdekatan memperlihatkan kemampuan Kyiv untuk mengerahkan drone dalam jumlah sangat besar secara berulang.
Di Oblast Moskow, kebakaran kembali dilaporkan terjadi di sebuah kawasan industri. Sebuah gudang yang berkaitan dengan salah satu perusahaan perdagangan daring terbesar Rusia dilaporkan terbakar. Insiden semacam ini menjadi perhatian karena fasilitas logistik dan industri Rusia semakin sering berada dalam jangkauan operasi drone Ukraina.
Namun, eskalasi tidak hanya terjadi di wilayah Rusia.
Pada hari yang sama, 18 Agustus 2026, serangan Rusia menghantam Pechenihy di Oblast Kharkiv, Ukraina timur laut. Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan 17 lainnya terluka, sementara sejumlah rumah dan bangunan mengalami kerusakan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam serangan tersebut sebagai serangan brutal. Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan membiarkannya tanpa respons dan berjanji negaranya akan memberikan balasan.
Dua rangkaian serangan tersebut memperlihatkan karakter perang yang semakin didominasi pertarungan jarak jauh. Rusia terus menggunakan rudal dan drone untuk menghantam wilayah Ukraina, sementara Kyiv secara bertahap meningkatkan kemampuan untuk menyerang sasaran ratusan kilometer di dalam wilayah Rusia.
Drone Inggris Mulai Menjadi Sorotan
Di tengah serangan besar tersebut, perhatian juga tertuju pada perubahan sumber persenjataan drone Ukraina.
Laporan media Inggris mengungkap bahwa drone buatan Inggris telah digunakan Ukraina dalam operasi serangan jarak jauh terhadap sasaran militer, industri, dan ekonomi di wilayah Rusia. Salah satu sistem yang menjadi sorotan adalah drone bernama Nyan, sebuah one-way effector atau wahana nirawak sekali jalan yang dikembangkan oleh perusahaan Inggris Callen-Lenz, yang berada di bawah BAE Systems.
Keberadaan Nyan sebenarnya telah diketahui sebelumnya. Pada 18 Juni 2026, Callen-Lenz mengungkapkan bahwa ribuan unit sistem tersebut telah dikirim dan telah digunakan secara operasional oleh pelanggan yang identitasnya tidak diumumkan. Sejumlah publikasi pertahanan menduga pelanggan tersebut adalah Ukraina.
Nyan merupakan drone serang yang menggunakan mesin microturbine dan diluncurkan melalui sistem katapel pneumatik. Sistem tersebut dirancang sebagai wahana sekali jalan, sehingga dalam operasi tertentu fungsinya menyerupai rudal jelajah berbiaya lebih rendah.
Konsep seperti ini memberikan keuntungan strategis bagi Ukraina. Dibandingkan mengandalkan rudal jelajah yang jauh lebih mahal dan jumlahnya terbatas, drone serang dapat diproduksi serta dikerahkan dalam jumlah lebih besar.
Jika puluhan atau bahkan ratusan drone diluncurkan hampir bersamaan dari berbagai arah, pertahanan udara Rusia dipaksa mendeteksi, melacak, menentukan prioritas, dan menembak jatuh banyak sasaran dalam waktu singkat. Bahkan apabila sebagian besar berhasil dihancurkan, sejumlah kecil drone yang lolos masih berpotensi mencapai sasaran.
Karena itulah penggunaan drone jarak jauh semakin menjadi salah satu unsur penting strategi Ukraina untuk menyerang fasilitas militer, kilang minyak, pusat logistik, serta infrastruktur lain jauh di belakang garis pertempuran.
Inggris Siapkan 150.000 Drone
Dukungan London terhadap kemampuan nirawak Ukraina juga terus meningkat.
Pada 18 Juni 2026, Pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan paket senilai sekitar 752 juta pound sterling, yang antara lain mencakup penyediaan 150.000 drone hingga akhir 2026, selain lebih dari 350 rudal pertahanan udara dan sistem radar.
Sebagian besar drone tersebut memang merupakan sistem yang dibutuhkan untuk operasi medan tempur dan tidak semuanya merupakan drone serang jarak jauh buatan Inggris. Namun, masuknya sistem serangan jarak jauh ke dalam operasi Ukraina memiliki konsekuensi politik yang jauh lebih besar karena membuka kemungkinan meningkatnya serangan terhadap sasaran jauh di wilayah Rusia.
Moskow pun bereaksi keras.
Pada 18 Agustus 2026, Kedutaan Besar Rusia di London memperingatkan bahwa Inggris akan menghadapi “konsekuensi” atas keterlibatannya dalam memasok kemampuan yang kemudian digunakan Ukraina untuk melakukan serangan jauh ke wilayah Rusia. Rusia menuduh London sengaja mendorong eskalasi konflik.
Pemerintah Inggris menolak mundur.
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan London tetap berdiri bersama Ukraina dan berkomitmen menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan Kyiv untuk mempertahankan negaranya. Namun, kementerian tersebut tidak secara resmi mengonfirmasi rincian mengenai penggunaan drone Inggris dalam serangan tertentu ke Rusia.
Perkembangan pada 18 Agustus 2026 dengan demikian menandai babak penting dalam perang drone Rusia-Ukraina. Hampir 800 drone yang dikerahkan dalam satu malam bukan sekadar menunjukkan besarnya skala serangan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana teknologi nirawak semakin menggantikan sebagian fungsi senjata jarak jauh konvensional.
Dan dengan semakin banyaknya teknologi serta kapasitas produksi Barat yang masuk ke dalam ekosistem drone Ukraina, pertempuran udara jarak jauh tampaknya akan semakin sulit dipisahkan dari persaingan industri pertahanan antara Rusia dan negara-negara pendukung Kyiv.
Bagi Moskow, ancamannya kini bukan hanya apa yang terjadi di garis depan. Perang semakin mampu menjangkau pusat industri, fasilitas energi, jaringan logistik, bahkan kawasan di sekitar ibu kota Rusia—sementara peringatan keras Moskow kepada London menunjukkan bahwa dampak politik dari perang drone tersebut kini juga semakin meluas ke hubungan langsung Rusia dengan negara-negara NATO. (***)


