EtIndonesia.com New Tang Dynasty (NTD) melaporkan bahwa pada 26 Agustus terjadi banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat di wilayah Nepal utara yang berbatasan dengan Tibet. Berdasarkan data terbaru, bencana ini telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang dari kedua negara, Tiongkok dan Nepal, kehilangan kontak.
Di sisi Kabupaten Gyirong, Tibet, sedikitnya 558 orang dilaporkan hilang kontak, sementara di sisi Nepal ratusan wisatawan juga belum diketahui keberadaannya. Para wisatawan tersebut berasal dari 28 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan India.
Banjir diduga dipicu longsoran salju
Bencana terjadi pada 26 Agustus pagi.
Pemerintah Nepal mengatakan mereka menduga longsoran salju di sisi lain perbatasan Tibet telah menyumbat sebuah sungai. Setelah itu, air sungai berhasil menerobos sumbatan tersebut dan mengalir deras menuruni lembah.
Banjir kemudian menghancurkan seluruh desa, jalan, jembatan, serta pembangkit listrik yang berada di sepanjang jalurnya.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa Pos Perbatasan Gyirong di sisi Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, Tiongkok, telah diterjang dan ditenggelamkan oleh banjir.
Lebih dari 1.000 orang hilang
Hingga pagi 27 Agustus, media resmi Tiongkok menyebut bahwa disisi Kabupaten Gyirong, Tibet, terdapat 558 orang yang kehilangan kontak, termasuk 260 warga negara asing.
Sementara itu, pemerintah Nepal menyatakan 579 wisatawan hilang, dengan 466 di antaranya merupakan warga negara asing.
Wisatawan yang telah dikonfirmasi hilang berasal dari 28 negara, termasuk:
- Amerika Serikat
- India
- Malaysia
- Inggris
- serta sejumlah negara lainnya.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan juga mengkonfirmasi bahwa sejumlah warga negaranya hilang di Nepal.
BBC memperoleh informasi dari Kementerian Luar Negeri Ukraina bahwa lebih dari 50 warga negara Ukraina juga dilaporkan hilang di kawasan perbatasan Nepal–Tibet. (***)


