EtIndonesia.com Gelombang besar air, lumpur, dan puing menerjang permukiman di Himalaya dekat perbatasan Nepal–Tiongkok, menghancurkan desa, jembatan, dan jalan. Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menemukan para korban yang masih selamat.
Pada 23 Agustus, banjir bandang dahsyat menerjang sejumlah permukiman di sepanjang perbatasan Nepal–Tiongkok, menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang setelah runtuhan besar es dan bebatuan dari kawasan tinggi Himalaya mengirimkan dinding air dan puing mengalir deras ke wilayah hilir.
Hingga malam 27 Agustus waktu setempat, jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 390 orang, menurut otoritas Nepal dan Tiongkok. Lebih dari 1.400 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan wisatawan asing yang sedang mengunjungi kawasan pegunungan tersebut.
Bencana terjadi di Distrik Rasuwa, Nepal bagian utara, sekitar pukul 09.00, ketika permukaan Sungai Bhote Koshi tiba-tiba naik secara drastis. Dalam hitungan menit, arus deras itu mengalir ke Sungai Trishuli, membawa lumpur, bebatuan, dan berbagai puing sambil menghancurkan permukiman yang dilaluinya.
Video dari wilayah tersebut memperlihatkan warga berlari menyelamatkan diri ketika massa air berlumpur yang menjulang menerjang bangunan dan kendaraan hanya dalam hitungan detik. Helikopter dikerahkan untuk menyelamatkan warga yang terjebak di atas atap, sementara tim tanggap darurat menyisir kawasan yang luluh lantak.
Seorang pilot helikopter yang menyaksikan banjir dari udara memperkirakan ketinggian gelombang mencapai sekitar 5 hingga 6 meter.
“Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar mengelilingi desa-desa dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan terseret arus,” kata pilot Aman Budathoki kepada CNN.
“Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengikuti aliran banjir untuk mengetahui kerusakan yang terjadi,” tambah Budathoki.
Ribuan Orang Hilang, Upaya Penyelamatan Ditingkatkan
Besarnya kehancuran akibat bencana tersebut masih terus terungkap. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer ruas jalan tersapu banjir, menurut laporan AP. Fasilitas pembangkit listrik tenaga air dan desa-desa di sepanjang Sungai Bhote Koshi juga mengalami kerusakan parah.
Otoritas memperingatkan warga di sejumlah distrik untuk menjauhi tepian Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani karena adanya kekhawatiran akan terjadi banjir susulan.
Di antara mereka yang hilang terdapat ratusan wisatawan, termasuk warga negara India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya. CNN melaporkan sedikitnya 47 warga Amerika Serikat termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Sementara itu, otoritas Nepal menyatakan 28 polisi juga masih hilang.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya mengetahui adanya warga Amerika yang terdampak bencana tersebut dan tengah berkoordinasi dengan otoritas Nepal serta badan-badan pariwisata untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan.
“Amerika Serikat siap memberikan bantuan,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Nepal juga meminta bantuan penyelamatan dari negara tetangga, India dan Tiongkok.
Di seberang perbatasan, otoritas Tiongkok melaporkan kerusakan luas di sekitar Gyirong, Tibet, setelah tanah longsor mengganggu akses jalan, komunikasi, dan pasokan listrik. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping memerintahkan operasi pencarian dan penyelamatan setelah otoritas melaporkan 265 orang hilang di wilayah Tibet.
Ilmuwan Meneliti Pemicu Bencana
Laporan awal mengenai penyebab banjir tersebut sempat berbeda. Pejabat Nepal pada awalnya mengatakan gempa bumi memicu tanah longsor yang kemudian membendung Sungai Bhote Koshi. Bendungan alami tersebut kemudian jebol dan melepaskan aliran air dalam jumlah besar ke wilayah hilir.
Namun, para ilmuwan kemudian menunjuk longsoran besar es dan batu atau keruntuhan sebagian gletser sebagai kemungkinan pemicu utama.
Para peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) mengatakan bukti awal menunjukkan bahwa sejumlah besar es dan batu masuk ke Sungai Lende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, sehingga memicu peningkatan debit air secara tiba-tiba dan ekstrem.
Kecepatan kenaikan air tersebut luar biasa. ICIMOD menyatakan Sungai Trishuli naik hingga 9 meter—hampir 30 kaki—hanya dalam waktu 30 menit di salah satu lokasi pemantauan.
Para ilmuwan juga menyelidiki kemungkinan puing-puing sempat membendung aliran sungai, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pelepasan air secara tiba-tiba lainnya dapat terjadi.
Lanskap Himalaya yang Berubah Cepat
Bencana ini kembali menyoroti kerentanan masyarakat Himalaya di tengah meningkatnya suhu yang mengubah gletser, lapisan salju, dan lereng pegunungan di kawasan tersebut.
Himalaya memiliki ribuan gletser yang menjadi sumber aliran sungai bagi masyarakat di berbagai wilayah Asia Selatan dan Asia Tengah. Ketika suhu meningkat, pencairan es dan ketidakstabilan lereng pegunungan dapat meningkatkan risiko longsoran salju, tanah longsor, serta banjir akibat jebolnya danau gletser.
ICIMOD sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu mempercepat hilangnya gletser dan meningkatkan berbagai bahaya yang berkaitan dengan kriosfer, termasuk perubahan pada lapisan permafrost dan stabilitas pegunungan di kawasan tersebut.
Namun, para peneliti masih menyelidiki secara pasti rangkaian peristiwa yang menyebabkan banjir pada 23 Agustus.
“Frekuensi bencana yang berkaitan dengan kriosfer semakin terlihat dibandingkan sebelumnya,” kata Mohd. Farooq Azam, pakar senior kriosfer ICIMOD. Ia menambahkan bahwa laju perubahan lingkungan kini menjadi tantangan yang semakin besar bagi kesiapsiagaan dan upaya penyelamatan.
Namun, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir, perhatian utama saat ini tetap tertuju pada pencarian korban yang masih selamat.
Dengan ratusan orang masih hilang dan timbunan puing yang tidak stabil berpotensi memicu gelombang banjir berikutnya, otoritas memperingatkan bahwa skala sebenarnya dari bencana ini mungkin baru diketahui dalam beberapa hari atau bahkan beberapa pekan mendatang.
Berita ini masih berkembang dan akan diperbarui seiring tersedianya informasi terbaru.
Sumber ; Visiontimes.com


