Mengakui bahwa diri tidak punya uang memberi seseorang ruang untuk hidup sesuai kemampuan. Sebaliknya, berpura-pura kaya membuat seseorang harus terus mempertahankan sebuah sandiwara yang tagihannya selalu jatuh tempo setiap akhir bulan.
Ada sebuah pepatah yang berbunyi, “Miskin sungguhan mudah dijalani, kaya pura-pura sulit ditanggung” (真窮好過,假富難挨). Apa maksudnya? Pepatah ini menggambarkan sesuatu yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang memang benar-benar tidak punya uang dan mengakuinya, ada banyak cara untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kondisi tersebut. Kehidupan seperti itu ternyata relatif lebih mudah dijalani. Sebaliknya, orang yang tidak punya uang tetapi tetap berusaha tampil kaya demi menjaga gengsi tidak akan mampu mempertahankan sandiwara tersebut terlalu lama.
Ada ungkapan yang cukup dikenal: “Terlalu mencintai gengsi hanya membuat diri sendiri menderita” (死愛面子活受罪).
Dalam budaya Tionghoa, menjaga muka atau gengsi sangat penting, sementara dipandang rendah oleh orang lain merupakan sesuatu yang sangat ditakuti. Karena itu, tidak sedikit orang yang tetap berusaha menampilkan kehidupan serba berkecukupan meski sebenarnya tidak punya banyak uang atau hanya berpenghasilan terbatas, agar orang lain memandang mereka lebih tinggi.
Mereka lebih mengutamakan gengsi daripada kenyataan. Demi mendapatkan penghormatan, mereka rela meminjam uang dan berutang untuk membeli apartemen, mobil, serta barang-barang bermerek. Mereka mengunggahnya di WeChat Moments dan memamerkannya kepada orang lain, seolah-olah takut orang tidak mengetahui betapa sukses kehidupan mereka.
Dari luar, semuanya tampak mengesankan—sebuah kehidupan yang penuh gaya. Namun, begitu akhir bulan tiba dan tagihan mulai jatuh tempo, mereka hanya bisa menatapnya dengan cemas dan kebingungan.
Orang seperti ini kini cukup banyak. Mereka sebenarnya telah memahami satu sisi sifat manusia: kebanyakan orang cenderung menyukai orang kaya dan memandang rendah orang miskin. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, semakin banyak orang yang ingin mendekatinya dan semakin banyak peluang yang terbuka. Sebaliknya, semakin sedikit uang yang dimiliki, semakin banyak orang yang menjaga jarak dan semakin sedikit peluang yang tersedia.
Inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak penipu berhasil. Seorang penipu terlebih dahulu membangun citra dirinya sedemikian rupa sehingga calon korbannya melihat ada sesuatu yang bisa diperoleh. Setelah korban melihat keuntungan tersebut, barulah ia terjebak.
Namun, kebanyakan orang yang berpura-pura kaya bukanlah penipu. Mereka hanya mempertahankan sandiwara demi gengsi, demi mendapatkan penghormatan, sedikit lebih banyak kesempatan, dan beberapa koneksi tambahan.
Mereka rela hidup serba kekurangan di rumah, tetapi berusaha terlihat berkecukupan di luar. Mempertahankan ilusi tersebut berarti harus terus berbohong dan terus mengeluarkan uang untuk menjaga penampilan. Biayanya bukan hanya sangat besar secara finansial. Tekanan psikologisnya juga berat sehingga mereka menjalani hidup dalam kelelahan.
Suaminya bekerja sebagai pengantar makanan, tetapi kepada orang lain dikatakan bekerja di perusahaan besar. Rumah yang sebenarnya disewa dikatakan sebagai rumah milik sendiri. Apartemen yang sepenuhnya dibeli dengan uang pinjaman tetap diklaim sebagai hasil kerja keras sendiri. Penghasilan tidak seberapa, tetapi mereka tetap membeli pakaian bermerek dan jam tangan mahal.
Saat pulang kampung untuk Tahun Baru Imlek, mereka bahkan menyewa mobil agar bisa datang dengan gaya. Penghasilan hanya 3.000 yuan per bulan, tetapi kepada orang lain dikatakan hampir 10.000 yuan.
Inilah yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut “pura-pura” atau “berlagak” (裝).
Hanya memikirkannya saja sudah melelahkan.
Bagian Tersulit dari Kekayaan Palsu
Hal yang paling pahit dari berpura-pura kaya bukan semata-mata karena uang yang dimiliki tidak cukup untuk dibelanjakan. Masalah yang lebih besar adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk memahami batas antara kemampuan dan keinginan.
Kemiskinan yang nyata hanyalah kondisi saat ini. Begitu seseorang menerimanya, ia bisa hidup sesuai kemampuan dan memperbaiki kehidupannya secara bertahap.
Sebaliknya, kekayaan palsu merupakan persoalan mental. Jelas tidak mampu membiayai kehidupan tersebut, tetapi seseorang tetap memaksakan diri hidup berdasarkan pandangan orang lain.
Di mata orang lain, ia tampak seperti seseorang yang mati-matian menjaga gengsi. Padahal, sesungguhnya ia sedang mengorbankan ketenangan batinnya sendiri.
Harga diri yang sesungguhnya bukanlah membuat orang lain mengira kita kaya. Harga diri adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan tenang dan teguh.
Miskin tanpa berbohong, hidup susah tanpa menjilat, sederhana tanpa serakah, berkecukupan tanpa sombong—itulah fondasi kehidupan seseorang.
Kemewahan tanpa fondasi ibarat buih di atas air: tampak berkilau, tetapi cepat menghilang.
Banyak penderitaan di dunia ini sebenarnya bukan disebabkan oleh kemiskinan itu sendiri, melainkan oleh perbandingan dengan orang lain.
Jika kita hanya melihat apa yang dimiliki orang lain, kita mudah melupakan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Jika kita hanya memikirkan bagaimana agar orang lain iri kepada kita, kita mudah mengubah kehidupan sendiri menjadi sebuah beban.
Tidak punya banyak uang? Kita bisa berhemat.
Tidak memiliki kemampuan? Kita bisa belajar.
Namun, kesombongan dan keinginan untuk menjaga gengsi, ketika dibiarkan tumbuh, akan terus mendorong seseorang untuk hidup melampaui kemampuannya sendiri.
Orang yang benar-benar miskin tidak perlu berpura-pura kaya. Mereka menjalani kehidupan mereka sendiri.
Ketika punya uang, mereka membeli. Ketika tidak punya uang, mereka tidak membeli. Ketika memiliki sedikit lebih banyak, mereka bisa membelanjakan sedikit lebih banyak. Ketika sedang kekurangan, mereka berhemat.
Mereka berani mengakui bahwa mereka tidak punya uang, penghasilan mereka rendah, bahkan bahwa mereka miskin.
Mereka tidak takut ditertawakan dan tidak takut dipandang rendah.
Karena menjalani kehidupan mereka sendiri, mereka berdiri di atas tanah yang kokoh.
Menjalani Hidup Sesuai Posisi
Doktrin Jalan Tengah (The Doctrine of the Mean) mengajarkan:
“Seorang junzi bertindak sesuai dengan kedudukannya dan tidak menginginkan sesuatu di luar kedudukannya. Ketika berada dalam kekayaan dan kehormatan, ia bertindak sebagai orang yang kaya dan terhormat. Ketika berada dalam kemiskinan dan kedudukan rendah, ia bertindak sebagai orang yang miskin dan berkedudukan rendah.”
(君子素其位而行,不願乎其外。素富貴,行乎富貴;素貧賤,行乎貧賤)
Inti ajaran ini adalah tetap berada pada tempat kita sendiri.
Kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rendah, kita harus memahami posisi kita dan melakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan.
Ketika miskin, jalani apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sedang berada dalam kondisi miskin.
Ketika berkecukupan, lakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang hidup berkecukupan.
Jangan sampai keduanya tertukar.
Itulah makna hidup sesuai dengan posisi kita.
Namun, makna yang lebih dalam dari kalimat tersebut bukanlah bahwa manusia harus pasrah dan menerima kemiskinan atau kedudukan rendah. Apalagi berhenti berusaha.
Pesannya adalah berdirilah dengan teguh di posisi Anda terlebih dahulu.
Tidak berpura-pura kaya ketika miskin adalah bentuk kejernihan berpikir.
Tidak menipu orang lain ketika kaya adalah bentuk kedewasaan moral.
Mengetahui batas kemampuan diri, memahami apa yang layak dikejar dan apa yang sebaiknya ditinggalkan, membuat seseorang tidak mudah diseret oleh keinginannya sendiri.
Miskin Sungguhan atau Kaya Palsu?
Jadi, apakah benar kemiskinan nyata mudah dijalani sementara kekayaan palsu sulit ditanggung?
Pada akhirnya, jawabannya bergantung pada apakah seseorang mampu tetap teguh menjalani kehidupannya sendiri.
Kemiskinan bukan sesuatu yang memalukan. Di dalam kemiskinan masih ada kejujuran dan masih tersedia ruang untuk bergerak serta memperbaiki keadaan.
Sebaliknya, kekayaan palsu adalah hal yang paling sulit ditanggung karena tidak hanya menyembunyikan kenyataan, tetapi juga menguras ketenangan dan kekuatan batin seseorang.
Jika seseorang mampu merasa cukup tanpa menjadi malas, tahu kapan harus berhenti tanpa kehilangan keberanian untuk maju, serta mampu memahami rasa malu tanpa hidup dalam kepalsuan, maka kehidupannya mungkin sederhana dan penuh penghematan, tetapi tetap memiliki harga diri dan keteguhan.
Hidupnya mungkin biasa-biasa saja, tetapi tetap dapat dijalani dengan tenang, kokoh, dan aman.


