EtIndonesia.com Data bencana di perbatasan Nepal dan Tibet terus diperbaharui. Operasi penyelamatan pada 30 Agustus memasuki hari keempat, sementara masa emas 72 jam untuk pencarian dan penyelamatan telah berlalu. Banjir bandang dahsyat ini telah menewaskan sekitar 700 orang, sementara hampir 3.000 orang masih belum diketahui keberadaannya. Pihak berwenang Nepal juga mulai meminta bantuan teknis profesional dari luar negeri.
Setelah bencana runtuhnya gletser yang disertai banjir bandang dan longsor terjadi pada Rabu (26/8/2026) di perbatasan Nepal–Tibet, periode emas 48 hingga 72 jam untuk pencarian dan penyelamatan telah berlalu. Karena wilayah bencana memiliki medan pegunungan yang terjal dan lembah-lembah yang sempit, operasi penyelamatan menghadapi tantangan yang sangat besar.
Para penyintas yang kehilangan segala sesuatu berdatangan ke tempat-tempat penampungan sementara. Banyak warga juga berkumpul di markas militer dan rumah sakit, menunggu kabar mengenai kerabat mereka yang hilang.
“Kami sudah berada di sini selama dua hari, dari pagi hingga malam, tetapi kerabat dan teman-teman kami masih belum diselamatkan. Mereka kehilangan kontak dengan dunia luar. Kami tidak tahu apakah mereka berada di sungai atau di dalam hutan,” ujar kerabat korban hilang, Mingma Sherpa.
Korban banjir Saraswati Galay mengatakan: “Bagaimana perasaan saya? Ketika melihat ke sekeliling, rasanya seperti dunia sudah tidak ada lagi. Apa yang masih tersisa? Saya merasa seperti sudah mati. Sekarang harus bagaimana? Saya tidak punya apa-apa lagi. Apa lagi yang membuat hidup ini layak dijalani? Sekarang apa yang akan terjadi, siapa yang tahu? Saya memang selamat, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana semuanya akan berkembang. Biarlah seperti ini.”
Sebelumnya, Nepal sempat menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan akibat hujan dan kabut tebal, serta meminta bantuan teknis profesional dari negara-negara asing.
“Seiring operasi terus berlangsung, kami telah meminta negara-negara tetangga yang bersahabat untuk memberikan bantuan konkret dan profesional guna memperkuat upaya pencarian dan penyelamatan kami dalam beberapa bidang berikut: membuka akses ke terowongan tempat orang-orang terjebak; menyediakan teknologi yang dapat membantu kami menemukan korban selamat di daerah bencana; menyediakan analisis forensik dan DNA secara cepat; serta menyediakan kamar jenazah untuk menampung jasad korban,” ujar Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal.
Pihak berwenang Nepal mengatakan bahwa distribusi bantuan ke sejumlah desa terpencil kini sedang dipercepat. Tim penyelamat juga terus mencari puluhan orang yang masih terjebak di pembangkit listrik tenaga air di kawasan Trishuli.
Karena lebih dari 20 jembatan di Nepal hancur, pemerintah telah meminta negara-negara tetangga menyediakan jembatan Bailey portabel yang dapat dirakit dengan cepat, sehingga transportasi dan komunikasi di wilayah terdampak dapat segera dipulihkan.
Tragedi ini juga memberikan pukulan berat terhadap perekonomian Nepal. Pemerintah memperkirakan secara awal bahwa biaya rekonstruksi pascabencana dapat mencapai US$5 miliar, atau hampir sepersepuluh dari total perekonomian negara tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, banjir tersebut telah menyebabkan sedikitnya 675 orang tewas di Nepal. Banyak jenazah ditemukan di bagian hilir Sungai Trishuli dan di dalam endapan lumpur, sehingga kamar jenazah di fasilitas kesehatan setempat mengalami kelebihan kapasitas yang parah. Selain itu, 2.426 orang masih dinyatakan hilang di Nepal, termasuk sedikitnya 500 warga negara asing.
Sementara itu, media pemerintah Tiongkok mengklaim bahwa di wilayah Tibet telah dikonfirmasi 7 orang tewas dan 554 orang hilang. Namun, angka tersebut tidak berubah selama dua hari berturut-turut sehingga menimbulkan keraguan luas. Karena pemerintah Tiongkok selama ini dituding kerap menutupi kebenaran, jumlah korban yang sebenarnya masih belum diketahui.
Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga mengklaim bahwa danau bendungan alami kini sedang mengalirkan air secara alami dan risiko jebolnya bendungan telah berkurang secara signifikan. Namun, para ahli mengatakan situasinya masih belum stabil dan risiko longsor harus terus dipantau secara ketat.
Reporter NTDTV, Guo Yuexi, berkontribusi dalam laporan ini.


