48 Jam Setelah Bencana, 350 Orang Diselamatkan dari Terowongan di Nepal, 1.500 Orang Masih Hilang

EtIndonesia.com  Pada Jumat (28 Agustus), bencana banjir dahsyat di perbatasan Tiongkok–Nepal telah berlalu selama 48 jam. Hingga saat ini, lebih dari 500 orang tewas dan sekitar 1.500 orang masih hilang. Pihak Nepal terus mengerahkan helikopter dan alat berat untuk mencari korban selamat di tengah timbunan lumpur. Lebih dari 5.000 personel militer dan polisi telah bergabung dalam operasi penyelamatan.

Selain itu, karena danau bendungan alami (danau bendungan longsor) masih berisiko jebol, perwakilan Palang Merah di Nepal menyatakan sangat khawatir akan terjadinya banjir susulan yang lebih besar.

Video pada Jumat menunjukkan tim penyelamat yang dibentuk oleh militer Nepal menerobos lumpur tebal dan secara bertahap mengevakuasi orang-orang yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli River.

Kantor Perdana Menteri Nepal mengatakan bahwa 350 orang telah diselamatkan dari dalam terowongan, sementara 533 warga setempat yang terdampak bencana telah dipindahkan ke tempat aman. Pihak berwenang masih berupaya mengevakuasi lebih dari 100 orang yang terjebak.

Hingga pukul 18.00 waktu setempat pada Jumat, pihak Nepal mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas dalam bencana ini telah meningkat menjadi 538 orang, sementara hampir 1.000 orang masih hilang.

Pemerintah Nepal juga merilis nama lebih dari 500 warga negara asing dari 34 negara yang dilaporkan hilang, termasuk 178 warga India, 90 warga Amerika Serikat, 33 warga Inggris, 25 warga Kanada, serta 100 warga Tiongkok.

Sementara itu, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa di sisi Tibet, bencana tersebut menyebabkan 5 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Secara keseluruhan, masih terdapat sekitar 1.500 orang yang hilang, termasuk sekitar 400 warga Tiongkok.

Namun, angka yang diumumkan pemerintah Tiongkok dinilai sangat jauh dari kondisi sebenarnya, sehingga menimbulkan keraguan dan kritik keras dari pihak luar.

Bencana banjir mematikan ini menyebabkan banyak keluarga di Nepal tiba-tiba kehilangan anggota keluarganya dan mengalami trauma berat.

“Istri dan anak saya terseret banjir. Seluruh desa saya juga tersapu banjir. Hampir semua jalan hancur diterjang banjir, dan semua jembatan juga hilang. Hanya beberapa jalan yang masih bisa dilalui. Saya berjalan menyusuri jalan-jalan tersebut hingga akhirnya sampai di sini,” ujar Seorang warga Nepal yang terdampak bencana, Ghyamba Tsering. 

Menurut data yang tersedia, bencana banjir dahsyat ini sedikitnya merusak 80 jembatan dan 40 kilometer jalan. Lokasi tersebut merupakan tujuan populer bagi para pendaki dan peziarah yang melakukan perjalanan antara Lhasa di Tibet dan Kathmandu di Nepal, sehingga operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan yang sangat besar.

Nepal telah mengerahkan helikopter dan alat berat untuk mencari korban selamat di tengah timbunan lumpur.

Helikopter juga menjatuhkan bantuan darurat kepada ribuan warga yang terjebak di daerah pegunungan yang sulit dijangkau. Bantuan tersebut antara lain berupa tenda, makanan, dan obat-obatan yang disediakan oleh negara tetangga, India.

Pada Jumat pagi, operasi penyelamatan sempat dihentikan setelah pejabat setempat menerima peringatan bahwa sebuah danau berisiko segera jebol, yang dapat menyebabkan banjir atau longsor baru. Namun, beberapa jam kemudian, situasi darurat tersebut untuk sementara dinyatakan telah mereda dan operasi penyelamatan kembali dilanjutkan.

Demi keselamatan, warga yang tinggal di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet dievakuasi ke daerah yang lebih tinggi.

Reporter NTDTV, Li Mei, berkontribusi dalam laporan ini.

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine