AS dan Australia Gelontorkan Rp 10,22 Triliun  untuk Mendukung Negara-Negara Kepulauan Pasifik, Hadapi Pengaruh PKT

Pada 3 September, Amerika Serikat dan Australia mengumumkan akan bersama-sama mengucurkan sekitar US$580 juta atau Rp 10,22 Triliun untuk membantu negara-negara kepulauan Pasifik memperkuat sektor energi, infrastruktur, dan keamanan maritim. Menghadapi pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang terus meluas di kawasan Pasifik, AS dan Australia juga meningkatkan dukungan mereka untuk menyeimbangkan pengaruh regional Beijing.

EtIndonesia.com  Forum Kepulauan Pasifik (Pacific Islands Forum) ke-55 digelar di Palau, salah satu negara di kawasan Pasifik. Beberapa hari lalu, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau mengumumkan dalam forum tersebut bahwa Amerika Serikat akan memberikan lebih dari US$150 juta kepada negara-negara kepulauan Pasifik.

 Dari jumlah tersebut, US$60 juta dialokasikan untuk keamanan energi, guna membantu negara-negara kepulauan memperbesar kapasitas penyimpanan bahan bakar dan menjaga kestabilan jaringan listrik.

Departemen Luar Negeri AS pada 3 September menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, pemerintah AS memprioritaskan diplomasi komersial dan sedang menyesuaikan kembali program bantuan luar negerinya di kawasan Pasifik.

Australia hari ini juga mengumumkan akan menggelontorkan US$430 juta untuk mendukung inisiatif keamanan maritim yang dipimpin oleh negara-negara Pasifik serta memberantas perdagangan narkoba ilegal yang semakin serius.

“Hari ini saya mengumumkan bahwa Australia akan menyediakan paket bantuan senilai US$430 juta. Paket ini mencakup berbagai langkah, seperti memperkuat pengawasan udara dan memberikan lebih banyak pelatihan bagi kepolisian di kawasan,” ujar Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. 

Selain itu, Taiwan juga diundang untuk menghadiri Forum Kepulauan Pasifik tahun ini. Utusan khusus PKT untuk urusan negara-negara kepulauan Pasifik, Qian Bo, mengeluarkan ancaman terkait hal tersebut dan memperingatkan bahwa tindakan itu “pasti akan memiliki konsekuensi.”

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memberikan tanggapan tegas. Ia mengatakan bahwa negara-negara kepulauan Pasifik memiliki hak untuk menentukan sendiri urusan regional mereka. Ia juga mengecam uji coba rudal balistik antarbenua oleh PKT di perairan Pasifik pada Juli.

“Terkait uji coba rudal balistik oleh Tiongkok, kami sudah menyatakan dengan sangat jelas bahwa hal itu tidak dapat diterima. Ini bukan tindakan seorang teman, melainkan tindakan provokatif dan tidak pantas,” ujarnya. 

Menteri Luar Negeri Republik Tiongkok (Taiwan), Lin Chia-lung, juga membalas pernyataan utusan PKT tersebut. Ia mengatakan bahwa ketika seseorang diundang ke sebuah pesta, ia seharusnya menghormati pengaturan yang dibuat oleh tuan rumah. Namun, menurutnya, setiap kali PKT menghadiri sebuah “pesta”, PKT justru menganggap dirinya sebagai tuan rumah dan merusak seluruh suasana pesta.

“PKT akan terus menuntut lebih banyak jika diberi kesempatan. Karena itu, ada hal-hal yang merupakan garis batas kita. Kita harus memberi tahu PKT bahwa mereka harus mematuhi tatanan internasional yang berdasarkan aturan,” ujarnya. 

Laporan: Xiao Chang, NTDTV

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine