AS Hantam Radar dan Ranjau Iran, Lalu 40 Kapal Tembus Selat Hormuz—Operasi Besar Terungkap!

EtIndonesia.com Ketegangan di Selat Hormuz kembali memasuki babak baru. Setelah selama berminggu-minggu Iran menggunakan ancaman penutupan jalur strategis tersebut sebagai salah satu instrumen tekanan terbesarnya terhadap Amerika Serikat dan perekonomian dunia, Washington kini mengklaim telah berhasil membalikkan keadaan.

Beberapa pekan sebelumnya, Teheran berulang kali menegaskan bahwa Selat Hormuz dapat ditutup apabila tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran terus meningkat. Ancaman itu bukan perkara kecil.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum perang Amerika Serikat-Iran pecah pada 2026, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Karena itu, gangguan terhadap pelayaran di Hormuz dengan cepat memengaruhi pasar energi internasional.

Namun memasuki awal September 2026, Amerika Serikat menyatakan situasinya mulai berubah drastis.

Pada Selasa, 1 September 2026, militer Amerika Serikat dilaporkan mengawal sekitar 40 kapal komersial melewati Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut secara keseluruhan disebut membawa sekitar 18 juta barel minyak, menjadikannya salah satu operasi pengawalan terbesar sejak perang berlangsung.

Informasi tersebut kemudian diberitakan pada 2–3 September 2026, dengan mengutip pejabat Amerika Serikat yang mengetahui operasi tersebut.

Jika angka itu akurat, volume minyak yang berhasil diseberangkan dalam satu hari memang sudah mendekati tingkat lalu lintas minyak sebelum perang.

Namun angka pemerintah Amerika Serikat tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Data pelacakan kapal independen yang dikutip sejumlah media menunjukkan jumlah kapal yang terpantau melintasi kawasan itu lebih rendah dibandingkan angka yang disampaikan Washington. Perbedaan tersebut antara lain dapat terjadi karena metode penghitungan, kapal yang mematikan sistem identifikasi otomatis, serta perbedaan definisi mengenai kapal yang dianggap telah “melewati” selat.

Dengan demikian, klaim bahwa Selat Hormuz telah sepenuhnya kembali normal masih terlalu dini.

Yang lebih jelas adalah Amerika Serikat kini berusaha menunjukkan bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan seperti sebelumnya untuk menghentikan seluruh lalu lintas komersial di kawasan tersebut.

Serangan AS Menargetkan Kemampuan Iran di Hormuz

Perubahan situasi ini tidak terjadi begitu saja.

Pada 1 September 2026, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM melancarkan gelombang baru serangan terhadap berbagai sasaran Iran. Operasi tersebut diarahkan terutama pada kemampuan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC yang dinilai dapat digunakan untuk mengganggu kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Sasaran yang dilaporkan terkena serangan mencakup sistem pertahanan udara, radar, fasilitas komunikasi, instalasi maritim serta kemampuan yang berkaitan dengan pemasangan ranjau laut.

Dengan kata lain, Washington tidak hanya berusaha menghancurkan senjata ofensif Iran, tetapi juga melemahkan infrastruktur yang memungkinkan Teheran mengawasi dan mengendalikan pergerakan kapal di kawasan Teluk.

Iran sendiri tidak tinggal diam.

Ketika operasi pengawalan kapal berlangsung, pasukan Iran tetap berusaha memberikan tekanan terhadap aktivitas maritim yang didukung Amerika Serikat. Pertempuran antara kedua pihak kembali meningkat pada 1 dan 2 September, termasuk penggunaan rudal dan drone.

Meski demikian, Amerika Serikat terus menjalankan operasi pengawalan.

Situasi tersebut menciptakan keadaan yang sangat berbeda dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Jika sebelumnya ancaman Iran adalah menutup Selat Hormuz bagi lawannya, Washington sekarang justru berusaha menerapkan tekanan terbalik: kapal internasional tetap diberi jalur untuk melintas, sedangkan aktivitas pelayaran yang dianggap mendukung Iran menjadi sasaran blokade.

86 Kapal Diperintahkan Berbalik

Perkembangan lain diumumkan pada 2 September 2026.

Menurut data yang dikaitkan dengan CENTCOM, Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah mengalihkan atau memerintahkan 86 kapal komersial untuk berbalik arah.

Tiga kapal lainnya dilaporkan dibuat tidak mampu melanjutkan perjalanan setelah menolak mematuhi instruksi, sementara dua kapal komersial dinaiki dan diperiksa oleh pasukan Amerika Serikat.

Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana pertarungan memperebutkan Selat Hormuz kini tidak lagi hanya berbentuk pertempuran rudal dan drone.

Yang sedang diperebutkan adalah kemampuan menentukan siapa yang boleh melintas, kapal mana yang harus berhenti, dan minyak milik siapa yang dapat mencapai pasar internasional.

Bagi Iran, kondisi tersebut sangat berbahaya.

Ancaman menutup Hormuz sejak awal dirancang sebagai senjata ekonomi. Logikanya sederhana: apabila ekspor minyak Iran dihentikan dan perekonomian negara itu ditekan, Teheran dapat membalas dengan mengganggu arus energi negara-negara Teluk sehingga dampaknya ikut dirasakan dunia.

Tetapi apabila Amerika Serikat mampu mempertahankan pelayaran negara lain sambil pada saat bersamaan membatasi perdagangan Iran, strategi tersebut justru dapat berbalik menghantam Teheran.

Meski begitu, menyebut Selat Hormuz telah sepenuhnya “dikuasai” Amerika Serikat juga belum dapat dianggap sebagai kesimpulan final. Iran masih memiliki kemampuan rudal, drone dan ranjau laut, sementara pertempuran di kawasan tersebut masih berlangsung.

Trump Mulai Bicara “Selat Trump”

Di tengah perkembangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang langsung menarik perhatian.

Pada 3 September 2026, Trump mengusulkan secara retoris agar Selat Hormuz diganti namanya menjadi “Trump Strait” atau “Selat Trump”, setelah berulang kali mengklaim Amerika Serikat kini memegang kendali atas jalur strategis tersebut.

Pernyataan itu jelas bukan penggantian nama secara resmi. Lebih tepatnya, komentar tersebut menjadi bagian dari gaya komunikasi politik Trump yang menggunakan sindiran, provokasi dan klaim kemenangan untuk memberikan tekanan psikologis kepada lawannya.

Iran sendiri menolak klaim Washington bahwa Amerika Serikat telah memperoleh kendali penuh atas Hormuz.

Pada saat bersamaan, Trump juga menyerang pemberitaan mengenai kemungkinan pembukaan kembali negosiasi Washington-Teheran.

Trump membantah laporan yang menyebut pemerintahannya sedang berusaha memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Ia mengatakan dirinya justru menyukai posisi Amerika Serikat saat ini dan mengklaim Washington telah memperoleh “hampir sepenuhnya” kendali atas Selat Hormuz.

Trump kemudian menambahkan bahwa perekonomian Iran berada dalam kondisi sangat buruk.

Pernyataannya menjadi semakin tajam ketika ia secara terbuka mempertanyakan kapan rakyat Iran akan bangkit melawan pemerintah mereka.

Ucapan tersebut menunjukkan bahwa tekanan Washington saat ini tampaknya tidak hanya diarahkan kepada kemampuan militer Iran.

Amerika Serikat berusaha menggabungkan serangan militer, blokade maritim, tekanan ekonomi dan perang psikologis untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan di Teheran.

Hormuz Kini Menjadi Pusat Pertarungan Strategis

Perkembangan pada awal September 2026 menunjukkan bahwa Selat Hormuz telah berubah menjadi pusat pertarungan strategis Amerika Serikat dan Iran.

Washington berusaha mempertahankan aliran energi internasional sambil memperketat blokade terhadap Iran. Teheran, sebaliknya, berusaha mempertahankan kemampuan untuk membuat jalur tersebut terlalu berbahaya bagi pelayaran apabila tekanan Amerika Serikat terus meningkat.

Operasi pengawalan sekitar 40 kapal yang membawa sekitar 18 juta barel minyak pada 1 September menjadi kemenangan simbolis penting bagi Washington. Namun angka tersebut masih diperdebatkan karena data pelacakan kapal independen tidak sepenuhnya sesuai dengan klaim pemerintah Amerika Serikat.

Karena itu, kesimpulan bahwa Hormuz telah kembali sepenuhnya seperti sebelum perang masih harus dipandang dengan hati-hati.

Yang dapat dikatakan dengan lebih pasti adalah keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut sedang mengalami perubahan.

Iran sebelumnya menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz untuk memperingatkan bahwa perang terhadapnya akan menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi seluruh dunia.

Kini Amerika Serikat mencoba membalikkan strategi itu.

Washington ingin membuktikan bahwa minyak negara-negara Teluk tetap dapat keluar, perdagangan internasional tetap dapat berjalan, tetapi kapal dan ekspor yang berkaitan dengan Iran justru semakin sulit bergerak.

Jika strategi tersebut berhasil dipertahankan dalam jangka panjang, maka salah satu kartu tekanan ekonomi terkuat Teheran dapat kehilangan sebagian besar kekuatannya.

Namun perang belum selesai.

Selama Iran masih memiliki kemampuan menyerang kapal menggunakan rudal, drone maupun ranjau laut, Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam konflik ini.

Dan di jalur laut sempit yang setiap harinya menentukan nasib jutaan barel minyak tersebut, pertarungan yang sedang berlangsung bukan sekadar mengenai siapa yang memiliki kapal perang paling kuat.

Pertarungan sesungguhnya adalah mengenai siapa yang mampu menentukan aturan pelayaran di salah satu jalur energi terpenting di dunia. (***)

INSPIRASI ERABARU

Jangan Sembarangan Bersihkan Telinga! Serumen Ternyata Punya Manfaat Penting bagi Kesehatan

Serumen telinga ternyata memiliki peran yang jauh lebih penting dalam melindungi telinga daripada yang mungkin Anda sadari. Emma Suttie Serumen telinga memang lengket dan sedikit menjijikkan—kebanyakan...

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Buku Fisik

Oleh Ila Bonczek Ila meraih gelar Sarjana dari College of Agriculture and Life Sciences, Cornell University. Ia tinggal di Garden State, tempat ia telah menanam...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine