SURABAYA — Indonesia adalah negeri yang berada di atas cincin api. Ratusan gunung api tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan belakangan ini aktivitas beberapa di antaranya sedang meningkat. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 6 September 2026 mencatat lima gunung api berstatus Level III Siaga, 22 gunung Level II Waspada, dan 42 gunung Level I Normal.
Lalu, apa bedanya keempat level itu? Dan apa yang harus dilakukan masyarakat ketika gunung di sekitar mulai menunjukkan peningkatan aktivitas?
Empat Level Status Gunung Api
Ahli Vulkanologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar, menjelaskan bahwa keempat tingkatan status gunung api—Normal, Waspada, Siaga, dan Awas—bukan sekadar penanda akan terjadi letusan. “Status gunung api normal, waspada, siaga, hingga awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan,” terang Haris.
Level I – Normal
Ini adalah kondisi paling aman. Aktivitas vulkanik sangat rendah atau tidak ada gejala berbahaya. Gunung tidak menunjukkan perubahan aktivitas secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik yang signifikan.
Level II – Waspada
Pada level ini, pengamatan visual dan instrumental mulai memperlihatkan peningkatan aktivitas. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.
Level III – Siaga
Ini adalah satu tingkat di bawah Awas. Aktivitas gunung sudah menunjukkan peningkatan yang lebih jelas berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental. Masyarakat harus mematuhi rekomendasi resmi terkait kawasan rawan bencana dan menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu.
Level IV – Awas
Ini adalah status tertinggi yang menunjukkan adanya ancaman erupsi besar. Jika status sudah mencapai Awas, masyarakat di sekitar kawasan gunung perlu mempersiapkan diri untuk melakukan evakuasi.
Informasi Resmi Bisa Diakses Lewat MAGMA Indonesia
Pemerintah melalui PVMBG telah menyediakan sistem informasi terpadu melalui platform MAGMA Indonesia (magma.esdm.go.id). Platform digital ini menyajikan laporan aktivitas seluruh gunung api di Indonesia yang diperbarui secara berkala.
Masyarakat bisa melihat peta Indonesia dengan ikon gunung yang memiliki warna berbeda: hijau (Normal), kuning (Waspada), oranye (Siaga), dan merah (Awas). Informasi ini bisa diakses melalui situs web maupun aplikasi di ponsel.
“Pada level Waspada dan Siaga, masyarakat dapat menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu. Pembatasan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik yang dapat terjadi mengikuti karakter erupsi,” saran Haris.
Bahaya Abu Vulkanik: Dari Kesehatan hingga Penerbangan
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material mikro tajam ini sangat berbahaya bagi saluran pernapasan manusia, serta dapat menggores kaca jika terjadi gesekan pada permukaan. Sebaran abu juga dapat mengurangi jarak pandang hingga berpotensi mengganggu mesin pesawat yang membahayakan penerbangan.
Jika terjadi hujan abu, penggunaan lensa kontak sangat dilarang dan wajib diganti dengan kacamata pelindung (goggles). Masyarakat juga dianjurkan menggunakan respirator partikulat seperti N95, KN95, atau FFP2 dengan ukuran yang pas dan terpasang rapat. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup dan celahnya disumbat menggunakan kain lembab untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah.
Bahaya abu vulkanik bagi penerbangan bukanlah sekadar potensi. Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 menembus awan abu Gunung Galunggung di ketinggian 37.000 kaki. Abu yang masuk ke mesin meleleh lalu mengeras menyumbat turbin, membuat keempat mesin mati total. Pesawat sempat melayang tanpa tenaga sebelum akhirnya mendarat darurat dengan selamat di Halim Perdanakusuma. Insiden inilah yang mendorong dibentuknya Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC), sebuah pusat pemantauan abu vulkanik yang kini menjadi rujukan internasional.
Jangan Mudah Percaya Hoaks
Di tengah tingginya aktivitas vulkanik, masyarakat diimbau untuk menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh kabar bohong (hoaks). “Saat ini sering beredar ramalan tidak berdasar di media sosial, padahal secara ilmiah tidak ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi,” tegas Haris.
Bangun Budaya Mitigasi
Untuk jangka panjang, Haris menganjurkan pemerintah serta instansi terkait untuk memperkuat edukasi kebencanaan sebelum aktivitas meningkat. “Budaya mitigasi harus dibangun melalui pemahaman terhadap proses alam dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Haris.
Mitigasi juga perlu dilakukan melalui pemetaan risiko, penyiapan jalur evakuasi, serta penguatan komunikasi kebencanaan. Koordinasi lintas sektor juga menjadi keharusan, melibatkan PVMBG selaku pemantau aktivitas gunung api, BMKG untuk analisis arah angin dan cuaca, serta Kementerian Perhubungan untuk pengaturan jalur penerbangan.
Dengan pemahaman yang baik terhadap status gunung dan langkah mitigasi yang tepat, masyarakat dapat lebih siap menghadapi aktivitas vulkanik. Kesiapsiagaan membantu mengurangi dampak ketika erupsi terjadi. Aktivitas vulkanik dapat dihadapi melalui kewaspadaan, kepatuhan terhadap rekomendasi, dan pemanfaatan informasi resmi yang tersedia.
Fakta Cepat Status Gunung Api di Indonesia (per 6 September 2026)
| Level | Status | Jumlah |
|---|---|---|
| I | Normal | 42 gunung |
| II | Waspada | 22 gunung |
| III | Siaga | 5 gunung |
| IV | Awas | 0 gunung |
Sumber: MAGMA Indonesia/PVMBG
Tips Saat Terjadi Hujan Abu
- Gunakan masker N95, KN95, atau FFP2 dan kacamata pelindung
- Tutup pintu, jendela, dan ventilasi, sumbat celah dengan kain lembab
- Lindungi sumber air dan makanan dari kontaminasi abu
- Kurangi penggunaan kendaraan saat abu turun
- Patuhi rekomendasi dan batas aman yang ditetapkan PVMBG
- Cek informasi resmi melalui MAGMA Indonesia atau kanal PVMBG


