EtIndonesia.com Sebuah misteri yang selama hampir dua dekade menyelimuti program nuklir Suriah akhirnya mulai terungkap.
Pada 7 September 2026 di Wina, Austria, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional atau IAEA, Rafael Mariano Grossi, mengungkapkan bahwa fasilitas rahasia yang dibangun Suriah di kawasan Deir ez-Zor pada masa pemerintahan Bashar al-Assad memang merupakan sebuah reaktor nuklir yang belum pernah dideklarasikan kepada badan pengawas nuklir PBB tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, reaktor itu ternyata sudah hampir selesai ketika dihancurkan Israel pada September 2007.
Grossi mengatakan desain fasilitas tersebut sangat efisien untuk menghasilkan material fisil yang berpotensi digunakan dalam pembuatan senjata nuklir. Namun, IAEA tetap berhati-hati dan tidak menyimpulkan secara definitif bahwa pemerintahan Assad telah mengambil keputusan politik untuk membuat bom atom. Yang dapat dipastikan adalah karakteristik teknis fasilitas tersebut menimbulkan risiko proliferasi yang sangat serius.
Temuan terbaru ini menjadi semakin penting setelah penyelidikan IAEA menemukan sekitar 73 ton metrik logam uranium alam di Suriah. Material tersebut ditemukan di sebuah lokasi yang berkaitan dengan fasilitas Deir ez-Zor dan baru diungkapkan kepada IAEA oleh pemerintahan Suriah yang baru.
Sekitar 55 ton dari total material tersebut telah berbentuk batang bahan bakar nuklir. Dengan kata lain, ini bukan sekadar tumpukan bijih uranium mentah yang baru dikeluarkan dari tanah. Sebagian besar material telah melalui proses manufaktur untuk dipersiapkan sebagai bahan bakar reaktor. IAEA juga mengidentifikasi keberadaan kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan bahan bakar nuklir di Suriah.
Saat ini, seluruh material nuklir yang ditemukan tersebut telah ditempatkan di bawah langkah pengawasan dan pengamanan IAEA.
Penyelidikan Baru Setelah Jatuhnya Assad
Terobosan dalam penyelidikan ini baru dapat dilakukan setelah pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.
Pemerintahan Suriah yang baru kemudian membuka akses lebih luas kepada IAEA untuk menyelidiki berbagai lokasi yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kecurigaan internasional.
Pada 17–18 Agustus 2026, Grossi bersama tim senior IAEA melakukan kunjungan ke Suriah. Mereka mengunjungi lokasi Deir ez-Zor serta lokasi lain yang berkaitan dengan material nuklir yang baru diidentifikasi.
IAEA menyebut perkembangan tersebut sebagai kemajuan paling signifikan sejauh ini dalam upaya menyelesaikan persoalan nuklir Suriah yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya.
Kemudian, pada 29 Agustus 2026, para inspektur kembali mengunjungi lokasi Deir ez-Zor untuk memantau proses penggalian. Dari struktur yang berhasil ditemukan, IAEA menyatakan bahwa infrastruktur pendingin di lokasi tersebut konsisten dengan infrastruktur sebuah reaktor nuklir.
Temuan itu memberikan bukti tambahan terhadap kesimpulan yang selama bertahun-tahun diperdebatkan: bangunan misterius yang dihancurkan Israel pada 2007 memang merupakan reaktor nuklir yang sedang dibangun.
Kembali ke Malam 6 September 2007
Untuk memahami pentingnya temuan ini, kita harus kembali hampir dua dekade ke masa ketika fasilitas tersebut masih berdiri.
Intelijen Israel telah mengawasi sebuah bangunan berbentuk persegi di wilayah gurun Deir ez-Zor. Israel meyakini Suriah sedang membangun reaktor nuklir dengan bantuan Korea Utara dan fasilitas tersebut tinggal beberapa bulan lagi sebelum dapat diaktifkan.
Persoalan terbesar bagi Israel saat itu adalah waktu.
Jika serangan dilakukan setelah bahan bakar nuklir dimasukkan dan reaktor mulai beroperasi, penghancuran fasilitas tersebut dapat meningkatkan risiko kontaminasi radioaktif.
Akhirnya, pada malam 5 menuju 6 September 2007, pesawat-pesawat tempur Israel memasuki wilayah udara Suriah.
Operasi tersebut kemudian dikenal luas sebagai Operation Orchard, sementara militer Israel menyebutnya Operation Outside the Box.
Pesawat F-15 dan F-16 Israel menghantam fasilitas Al-Kibar di kawasan Deir ez-Zor hingga tidak dapat beroperasi.
Namun setelah serangan tersebut, terjadi sesuatu yang tidak biasa.
Israel memilih bungkam.
Pemerintahan Bashar al-Assad juga tidak memberikan tanggapan terbuka yang sebanding dengan skala kejadian tersebut. Suriah selama bertahun-tahun menyangkal bahwa fasilitas yang dihancurkan merupakan reaktor nuklir.
Israel mempertahankan kerahasiaan operasi itu selama lebih dari satu dekade. Baru pada 21 Maret 2018, setelah sensor militer dicabut, Israel secara resmi mengakui bahwa angkatan udaranya memang menghancurkan fasilitas tersebut pada 2007.
Mengapa 73 Ton Uranium Menjadi Temuan Penting?
Temuan sekitar 73 ton uranium alam sekarang memberikan konteks baru terhadap serangan tersebut.
Uranium alam yang ditemukan IAEA bukan berarti Suriah memiliki 73 ton bahan siap pakai untuk bom nuklir. Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Material tersebut tidak dapat begitu saja dimasukkan ke dalam sebuah bom atom.
Namun desain reaktor Suriah menjadi sumber kekhawatiran karena reaktor semacam itu dapat menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar dan kemudian menghasilkan plutonium melalui proses iradiasi serta pemrosesan lebih lanjut.
Grossi menjelaskan bahwa reaktor tersebut merupakan tipe yang sangat efisien dalam menghasilkan material fisil yang dapat dimanfaatkan untuk senjata nuklir. Reaktor itu juga disebut sudah “hampir selesai” ketika dihancurkan.
Karakteristik fasilitas Deir ez-Zor sejak lama dinilai memiliki kemiripan dengan reaktor Korea Utara, sementara Israel menyatakan proyek tersebut dibangun dengan bantuan Pyongyang.
Dengan demikian, Suriah secara teori tidak perlu terlebih dahulu membangun fasilitas pengayaan uranium berskala besar untuk mengoperasikan reaktor tersebut.
Bagaimana Jika Reaktor Itu Tidak Dihancurkan?
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan sejarah yang sulit diabaikan.
Bagaimana jika Israel tidak menghancurkan fasilitas tersebut pada September 2007?
Hanya sekitar empat tahun kemudian, pada 2011, Suriah terjerumus ke dalam perang saudara yang kemudian berkembang menjadi salah satu konflik paling kompleks dan menghancurkan di Timur Tengah.
Dalam beberapa tahun berikutnya, berbagai kelompok bersenjata menguasai wilayah luas di Suriah timur.
Pada 2014, ISIS memperluas kekuasaannya di Provinsi Deir ez-Zor dan kawasan sekitarnya.
Seandainya sebuah reaktor nuklir yang sudah beroperasi beserta material nuklir terkait masih berada di kawasan tersebut ketika negara Suriah mulai terfragmentasi, situasinya tentu akan menimbulkan risiko keamanan yang jauh lebih besar.
Namun perlu digarisbawahi: ini merupakan skenario kontrafaktual, bukan bukti bahwa ISIS benar-benar akan memperoleh senjata nuklir. Uranium alam dan bahan bakar reaktor tidak otomatis dapat diubah menjadi bom. Dibutuhkan fasilitas, teknologi, keahlian, serta proses tambahan yang sangat kompleks.
Meski demikian, keberadaan material nuklir dalam jumlah besar di tengah perang saudara tetap akan menjadi persoalan keamanan internasional yang sangat serius.
Kasus Suriah Kembali Memicu Perdebatan Besar
Temuan IAEA pada 2026 juga menghidupkan kembali perdebatan mengenai strategi serangan preventif terhadap fasilitas nuklir.
Israel sebelumnya menghancurkan reaktor Osirak di Irak pada 7 Juni 1981. Puluhan tahun kemudian, pada 13 Juni 2025, Israel memulai serangan besar terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran, yang kemudian diikuti serangan Amerika Serikat terhadap Fordow, Natanz dan Isfahan pada 22 Juni 2025.
Operasi-operasi semacam ini selalu menimbulkan kontroversi.
Para pendukungnya berpendapat bahwa serangan militer dapat mencegah sebuah negara memperoleh kemampuan nuklir yang berbahaya sebelum terlambat. Sebaliknya, para pengkritik memperingatkan bahwa tindakan preventif dapat melanggar hukum internasional, memicu perang regional, serta justru mendorong suatu negara mempercepat program senjata nuklir secara lebih tersembunyi.
Kasus Suriah kini memberikan bahan baru bagi kedua sisi perdebatan tersebut.
Di satu sisi, temuan IAEA memperkuat kesimpulan bahwa fasilitas yang dihancurkan Israel pada 2007 memang merupakan reaktor nuklir rahasia yang hampir selesai.
Namun di sisi lain, IAEA hingga kini belum menyatakan bahwa Suriah telah memiliki senjata nuklir atau secara definitif telah memutuskan untuk memproduksinya.
Yang telah dikonfirmasi adalah sesuatu yang tetap sangat serius: pemerintahan Suriah sebelumnya membangun reaktor nuklir, memproduksi bahan bakarnya, memiliki kegiatan dan fasilitas nuklir yang berkaitan dengannya, tetapi tidak melaporkan semua itu kepada IAEA sebagaimana diwajibkan.
Hampir 19 tahun setelah serangan misterius di gurun Deir ez-Zor, potongan-potongan teka-teki itu akhirnya mulai tersusun.
Dan penemuan sekitar 73 ton uranium alam, bersama bukti infrastruktur reaktor dan fasilitas pembuatan bahan bakar, menunjukkan bahwa apa yang tersembunyi di balik bangunan berbentuk persegi di gurun Suriah pada 2007 ternyata jauh lebih serius daripada yang selama bertahun-tahun diklaim pemerintahan Bashar al-Assad. (***)


