EtIndonesia.com Situasi di Lebanon selatan kembali memanas setelah militer Israel mengumumkan telah membersihkan jaringan fasilitas bawah tanah Hizbullah di kawasan strategis Punggungan Ali al-Taher. Hanya beberapa hari setelah pengumuman tersebut, serangkaian serangan drone, baku tembak jarak dekat, hingga gelombang serangan udara kembali terjadi, menunjukkan bahwa perebutan kawasan ini belum benar-benar berakhir.
Pada 3 September 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan operasi untuk membersihkan dua kompleks bawah tanah Hizbullah di Punggungan Ali al-Taher, Lebanon selatan. Menurut militer Israel, pasukannya memasuki jaringan terowongan tersebut setelah operasi pengepungan yang berlangsung cukup lama. Sejumlah anggota Hizbullah disebut tewas, sementara lainnya meninggalkan kompleks tersebut.
Ali al-Taher bukan sekadar kawasan perbukitan biasa. Punggungan yang memiliki ketinggian sekitar 600 meter itu berada di dekat Nabatieh dan menghadap sejumlah wilayah penting di Lebanon selatan. Lokasinya memberikan keuntungan geografis karena memungkinkan pihak yang menguasainya mengawasi daerah di sekitarnya.
Lebih penting lagi, di bawah kawasan tersebut diyakini terdapat jaringan terowongan, pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata Hizbullah yang dibangun selama bertahun-tahun. Reuters melaporkan bahwa Ali al-Taher telah menjadi salah satu titik paling diperebutkan dalam konflik Israel-Hizbullah.
Karena itu, keberhasilan Israel memasuki dan membersihkan kompleks bawah tanah tersebut mempunyai arti strategis yang cukup besar. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada 4 September 2026 mengatakan bahwa pasukannya telah mengusir atau menyingkirkan anggota Hizbullah dari jaringan terowongan di bawah punggungan tersebut. Meski demikian, sejauh mana Israel benar-benar menguasai seluruh kawasan masih menjadi perdebatan. Seorang pejabat militer Lebanon mengatakan bahwa Israel menguasai akses dari sisi selatan dan mengawasi bagian lain menggunakan drone, tetapi kedalaman kontrol pasukan Israel terhadap keseluruhan kompleks belum sepenuhnya jelas.
Hizbullah ternyata tidak tinggal diam.
Dalam beberapa hari setelah operasi tersebut, kelompok itu kembali menggunakan drone bermuatan bahan peledak untuk menyerang posisi pasukan Israel di kawasan yang diklaim Israel sebagai zona keamanan.
Salah satu eskalasi paling serius terjadi pada 6 September 2026. Militer Israel mengatakan Hizbullah meluncurkan dua drone bermuatan bahan peledak ke arah pasukannya yang beroperasi di kawasan Ali al-Taher. Menurut Israel, serangan tersebut tidak menimbulkan korban di pihak IDF. Salah satu drone dilaporkan berhasil dicegat.
Israel kemudian memberikan respons dalam skala jauh lebih besar.
Angkatan Udara Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah lokasi di Lebanon selatan. Sasaran yang disebut oleh IDF antara lain gudang penyimpanan senjata, bangunan yang digunakan untuk merencanakan dan mengarahkan serangan, serta sebuah pusat komando Hizbullah yang menurut Israel beroperasi di bangunan bekas rumah sakit.
Namun serangan tersebut juga menimbulkan korban di Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon kemudian melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dalam rangkaian serangan Israel pada 6 September. Korban tersebar di beberapa lokasi di Lebanon selatan, sementara sejumlah orang lainnya mengalami luka-luka. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan tersebut dan menyebut perkembangan itu sebagai eskalasi berbahaya.
Dengan demikian, bentrokan di sekitar Ali al-Taher tidak lagi terbatas pada perebutan terowongan bawah tanah. Konflik dengan cepat berkembang menjadi pertukaran serangan drone dan serangan udara di wilayah Lebanon selatan yang lebih luas.
Situasi semakin serius sehari kemudian.
Pada 7 September 2026, pasukan pengintai Brigade Golani Israel melakukan penyisiran di sekitar Kastel Beaufort, sebuah benteng bersejarah di Lebanon selatan yang terletak hanya beberapa kilometer dari Ali al-Taher.
Ketika pasukan Israel melakukan pemeriksaan di kawasan tersebut, seorang anggota Hizbullah yang bersembunyi di dalam sebuah bangunan tiba-tiba melepaskan tembakan.
Dua tentara Israel dari unit pengintai Brigade Golani mengalami luka ringan.
Pasukan Israel segera membalas tembakan. Menurut IDF, baku tembak kemudian disertai tembakan artileri ke arah bangunan tempat penembak tersebut berlindung. Anggota Hizbullah itu akhirnya tewas.
Setelah insiden tersebut, Israel memperluas serangannya terhadap sasaran Hizbullah lainnya di Lebanon selatan, termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan pusat komando.
Insiden di Beaufort menjadi perkembangan penting karena memperlihatkan perubahan pola pertempuran. Jika sebelumnya sebagian besar konfrontasi berlangsung melalui serangan udara, artileri, rudal dan drone, kali ini terjadi kontak langsung menggunakan senjata ringan antara pasukan Israel dan anggota Hizbullah.
Artinya, meskipun Israel telah mengumumkan keberhasilan membersihkan jaringan bawah tanah utama di Ali al-Taher, kemampuan Hizbullah untuk melakukan serangan di kawasan sekitarnya belum sepenuhnya hilang.
Ali al-Taher sendiri memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar daripada ukuran wilayahnya.
Kawasan tersebut berada sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel dan menjadi titik pengamatan penting menuju wilayah Lebanon selatan. Selama bertahun-tahun, Hizbullah diduga membangun infrastruktur militer bawah tanah di kawasan ini.
Karena itu, kehilangan akses terhadap Ali al-Taher berpotensi mengganggu jaringan logistik, komando, pengamatan dan pergerakan Hizbullah di Lebanon selatan.
Namun Hizbullah berusaha mengecilkan arti strategis kehilangan kawasan tersebut. Wakil Ketua Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Qamati, pada 4 September 2026 menyatakan bahwa Israel membesar-besarkan pentingnya Ali al-Taher. Meski demikian, analisis Institute for the Study of War menilai kawasan tersebut memang merupakan aset militer penting bagi Hizbullah dan jaringan terowongannya dilaporkan dibangun selama sekitar dua dekade.
Di tengah pertempuran terbuka tersebut, muncul pula laporan dan klaim mengenai aktivitas intelijen Israel terhadap jaringan komando Hizbullah.
Salah satu klaim yang beredar menyebut bahwa pada 6 September 2026, sejumlah tokoh Hizbullah mengadakan pertemuan untuk membahas operasi lanjutan terhadap Israel. Lokasi pertemuan itu disebut berhasil dilacak intelijen Israel sebelum Angkatan Udara Israel melancarkan serangan menggunakan persenjataan berpemandu presisi.
Namun hingga kini, belum terdapat konfirmasi independen yang cukup kuat mengenai klaim bahwa Mossad secara khusus menemukan pertemuan tersebut ataupun bahwa sejumlah pemimpin senior Hizbullah tewas di dalamnya. Laporan terverifikasi mengenai serangan Israel pada 6 September lebih jelas menyebut sasaran berupa gudang senjata, infrastruktur militer dan pusat komando Hizbullah. Karena itu, informasi mengenai operasi rahasia tersebut masih harus diperlakukan sebagai klaim yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Yang sudah jelas, perkembangan antara 3 hingga 7 September 2026 menunjukkan bahwa Ali al-Taher telah berubah menjadi salah satu pusat konfrontasi paling penting di Lebanon selatan.
Israel mengklaim telah merebut kendali operasional dan membersihkan jaringan terowongan Hizbullah. Hizbullah, sebaliknya, terus menunjukkan bahwa kelompok tersebut masih mampu melancarkan drone dan melakukan serangan langsung terhadap pasukan Israel.
Pertempuran di Kastel Beaufort semakin memperlihatkan bahwa konflik belum selesai hanya karena salah satu fasilitas bawah tanah berhasil dikuasai.
Kini persoalan yang lebih besar adalah apa yang akan terjadi setelah Ali al-Taher.
Apabila Israel mempertahankan posisi militernya dan terus memperluas operasi terhadap jaringan Hizbullah di Lebanon selatan, bentrokan lokal dapat berkembang menjadi pertempuran yang lebih luas. Sebaliknya, setiap serangan baru Hizbullah terhadap pasukan Israel berpotensi memicu gelombang serangan udara balasan dengan skala yang semakin besar.
Dengan kata lain, perebutan Ali al-Taher mungkin telah memasuki babak baru, tetapi pertempuran untuk menentukan siapa yang akan menguasai medan strategis Lebanon selatan tampaknya masih jauh dari selesai. (***)


