EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang semakin serius. Perhatian Washington kini tertuju pada sebuah fasilitas bawah tanah Iran yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, atau Kuh-e Kolang Gaz La, sebuah kompleks yang dibangun jauh di bawah pegunungan dekat fasilitas nuklir Natanz.
Pada 9 September 2026, Center for Strategic and International Studies atau CSIS menerbitkan analisis citra satelit terbaru yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan aktivitas pembangunan di Pickaxe Mountain sepanjang tahun 2026. Analisis terhadap citra selama enam tahun menunjukkan bahwa aktivitas di kompleks tersebut tampaknya mulai bergeser dari tahap penggalian besar-besaran menuju kemungkinan pembangunan bagian dalam fasilitas, sementara penguatan struktur dan akses di permukaan terus berlangsung.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena Pickaxe Mountain bukanlah fasilitas bawah tanah biasa. Lokasinya berada sekitar dua kilometer dari kompleks nuklir Natanz, salah satu pusat utama program pengayaan uranium Iran. Pembangunan kompleks bawah tanah ini diketahui dimulai pada musim gugur 2020, setelah sebuah fasilitas perakitan sentrifugal canggih di Natanz hancur akibat ledakan. Iran ketika itu mengatakan bahwa fasilitas bawah tanah baru akan digunakan untuk menggantikan bangunan tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, skala dan kedalaman pembangunan menimbulkan pertanyaan mengenai fungsi akhir fasilitas tersebut.
Pembangunan Memasuki Tahap Baru
Analisis CSIS yang diterbitkan 9 September menggunakan berbagai sumber citra satelit, termasuk gambar beresolusi tinggi yang diambil pada 9 Juli dan 9 Agustus 2026.
Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas kendaraan dan pembangunan jalan di Pickaxe Mountain pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode mana pun sejak fasilitas itu mulai dibangun.
Sejumlah perubahan terlihat jelas, mulai dari peninggian dan penguatan akses portal terowongan, pembangunan serta pengaspalan jaringan jalan internal, penguatan kawasan sekitar pintu masuk, hingga perataan dan pemindahan material hasil penggalian.
Pola tersebut membuat para analis menilai bahwa proyek kemungkinan telah bergeser dari aktivitas penggalian utama menuju pembangunan internal.
Namun terdapat satu hal penting yang perlu ditekankan.
Sampai sekarang belum ada bukti terbuka yang dapat memastikan bahwa Pickaxe Mountain telah digunakan untuk memperkaya uranium.
CSIS mengatakan citra yang tersedia tidak dapat membuktikan ataupun membantah laporan intelijen Israel yang menyebut Iran telah memindahkan sentrifugal atau komponen sentrifugal ke dalam kompleks tersebut.
Bahkan, aktivitas yang terlihat saat ini—termasuk tidak adanya peningkatan pola keamanan internal tertentu dan minimnya kendaraan nonkonstruksi—menunjukkan bahwa fasilitas itu kemungkinan belum siap menjalankan kegiatan pengayaan uranium, apabila memang itulah tujuan akhirnya.
Dengan kata lain, kekhawatiran terbesar Washington bukan semata-mata mengenai apa yang sedang dilakukan Iran di sana sekarang, melainkan mengenai apa yang dapat dilakukan Iran setelah fasilitas tersebut selesai dibangun.
Mengapa Pickaxe Mountain Begitu Sulit Dihancurkan?
Masalah terbesar bagi Amerika Serikat adalah kedalaman dan struktur geologis fasilitas tersebut.
Pickaxe Mountain merupakan kompleks yang dibangun jauh di bawah lapisan batuan granit. Kedalaman persis fasilitas tidak diketahui secara terbuka karena inspektur internasional belum pernah memperoleh akses ke bagian dalamnya.
Karakteristik inilah yang membuat fasilitas tersebut menjadi tantangan luar biasa bagi perencana militer Amerika.
Bahkan GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, salah satu bom penghancur bunker konvensional terbesar yang dimiliki Amerika Serikat, dinilai belum tentu mampu menghancurkan keseluruhan kompleks secara permanen.
CSIS memperingatkan bahwa serangan militer mungkin dapat merusak atau menonaktifkan fasilitas tersebut untuk sementara waktu, tetapi menghancurkannya secara menyeluruh akan jauh lebih sulit.
Dalam skenario lain, Amerika Serikat tidak harus menembus seluruh gunung secara langsung. Titik-titik vital seperti pintu masuk terowongan, sistem ventilasi, jaringan listrik dan infrastruktur pendukung dapat menjadi sasaran untuk membuat fasilitas tidak dapat digunakan. Namun strategi semacam itu belum tentu menghancurkan bagian utama kompleks yang tersembunyi jauh di bawah gunung.
Amerika Diam-Diam Mempersiapkan Jawaban
Di sinilah muncul perkembangan lain yang tidak kalah penting.
Menurut informasi yang dilaporkan pada 9 September 2026, hanya beberapa hari sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari, Defense Threat Reduction Agency Amerika Serikat menyetujui kontrak darurat senilai sekitar 1,2 juta dolar AS untuk memperbaiki sebuah fasilitas pengujian bawah tanah khusus di White Sands Missile Range, New Mexico.
Tujuannya adalah mempersiapkan fasilitas tersebut untuk pengujian dengan amunisi nyata terhadap ancaman yang berkembang dengan cepat. Sejumlah sumber mengatakan pengujian yang direncanakan berkaitan dengan upaya mencari cara menyerang fasilitas Iran yang terkubur sangat dalam.
Citra satelit dilaporkan memperlihatkan aktivitas penggalian dan kendaraan di lokasi White Sands mulai sekitar pertengahan Februari hingga Maret 2026.
Namun rincian proyek tersebut sangat sensitif.
Belum dapat dipastikan secara terbuka apakah pengujian akhirnya benar-benar dilaksanakan ataupun kemampuan persis apa yang diuji. Karena itu, terlalu dini menyimpulkan bahwa Amerika Serikat sekarang sudah memiliki senjata baru yang dijamin mampu menghancurkan Pickaxe Mountain.
Yang dapat dikatakan adalah bahwa Pentagon memang sedang memikirkan secara serius persoalan fasilitas bawah tanah yang terkubur sangat dalam.
Angkatan Udara AS juga diketahui sedang mengembangkan generasi berikutnya dari senjata penetrator untuk menggantikan kemampuan penghancur bunker yang tersedia sekarang. Pekerjaan prototipe awal program tersebut telah dimulai sejak September 2025.
Pickaxe Mountain Masuk Perhitungan Militer AS
Ancaman terhadap kompleks itu juga bukan lagi sekadar spekulasi para analis.
Pada 4 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa AS mungkin akan menyerang Pickaxe Mountain dalam waktu dekat.
Kemudian pada 10 September 2026, Trump kembali memperingatkan Iran setelah muncul laporan mengenai aktivitas terbaru di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa Washington mengetahui adanya kegiatan di Pickaxe Mountain dan kembali membuka kemungkinan serangan apabila Iran melanjutkan aktivitas yang dianggap mengancam.
Sebelumnya, pada 21 Juli 2026, Trump bahkan telah mengatakan bahwa kawasan tersebut kemungkinan akan diserang dengan kekuatan besar. Pernyataan itu muncul ketika Pickaxe Mountain semakin dipandang sebagai salah satu bagian tersisa dari infrastruktur nuklir Iran yang paling sulit dijangkau.
Artinya, Pickaxe Mountain kini bukan lagi sekadar proyek konstruksi Iran yang dipantau melalui satelit.
Fasilitas tersebut telah berkembang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konfrontasi nuklir dan militer antara Washington dan Teheran.
Pertarungan Teknologi di Bawah Gunung
Situasi ini pada akhirnya memperlihatkan sebuah perlombaan yang tidak biasa.
Di satu sisi, Iran berusaha membangun infrastruktur yang semakin dalam, semakin keras, dan semakin sulit dijangkau serangan udara.
Di sisi lain, Amerika Serikat berusaha meningkatkan kemampuan untuk menembus atau setidaknya melumpuhkan fasilitas bawah tanah semacam itu.
Pickaxe Mountain berada tepat di tengah perlombaan tersebut.
Namun masih terdapat perbedaan besar antara mampu menyerang dan mampu menghancurkan secara permanen.
Sebuah serangan dapat meruntuhkan pintu masuk, memutus listrik, menghancurkan sistem ventilasi atau menghambat operasional selama berbulan-bulan. Tetapi apabila ruang utama fasilitas berada ratusan kaki di bawah granit, bagian terpenting kompleks mungkin tetap bertahan.
Karena itulah analisis CSIS juga memperingatkan bahwa serangan berulang terhadap infrastruktur nuklir Iran bukan solusi yang dapat dipertahankan tanpa batas waktu. Pada akhirnya, persoalan mengenai kegiatan nuklir di fasilitas seperti Pickaxe Mountain membutuhkan mekanisme verifikasi yang mampu memastikan apa yang sebenarnya berada di dalam kompleks tersebut.
Untuk saat ini, satu hal sudah terlihat jelas.
Pickaxe Mountain telah berubah menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam konfrontasi Amerika Serikat dan Iran.
Peningkatan pembangunan sepanjang 2026, dugaan kemungkinan pemindahan sentrifugal, kedalaman fasilitas di bawah lapisan granit, pengembangan kemampuan penghancur bunker Amerika, serta ancaman terbuka Trump telah menciptakan situasi yang sangat sensitif.
Jika Washington memperoleh bukti bahwa kompleks tersebut mulai digunakan untuk pengayaan uranium atau aktivitas nuklir yang dianggap mengancam, tekanan untuk mengambil tindakan militer dapat meningkat tajam.
Sebaliknya, apabila Amerika Serikat benar-benar menyerang Pickaxe Mountain, persoalannya bukan hanya apakah bom dapat menembus gunung tersebut.
Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah apa yang akan dilakukan Iran setelahnya, dan seberapa jauh konflik kedua negara akan berkembang.
Dengan pembangunan yang masih berlangsung dan Washington terus mengawasi setiap aktivitas di kawasan tersebut, Pickaxe Mountain kini menjadi simbol dari perlombaan baru: Iran berusaha membangun fasilitas nuklir semakin jauh ke dalam bumi, sementara Amerika Serikat berusaha menciptakan kemampuan yang dapat menjangkaunya. (***)


