EtIndonesia.com Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS. Sebelumnya, dalam serangkaian serangan udara besar-besaran oleh militer AS, sejumlah tanker minyak Iran terbakar dan kemudian tenggelam.
Serangan Udara AS Semalam Hantam Iran, 5 Tanker Minyak Tenggelam dan Dilalap Api
Sebelumnya, AS dan Iran melancarkan operasi serangan balasan maritim terbesar terhadap sektor pelayaran sejak perang antara kedua negara berlangsung selama enam bulan.
Militer AS membombardir Iran sepanjang malam dan menghancurkan lima tanker minyak Iran. Militer AS juga merilis video yang memperlihatkan kapal-kapal tersebut terbakar sebelum akhirnya tenggelam.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap dua serangan Garda Revolusi Iran dalam dua hari terakhir, yang meluncurkan rudal ke arah sebuah kapal perang AS. Meski demikian, militer AS berhasil menghindari serangan yang ditujukan Iran, tetap melanjutkan misi patroli, dan tidak ada personel AS yang terluka.
Menurut laporan terkait, kapal-kapal yang dihancurkan tersebut termasuk supertanker berukuran sangat besar milik National Iranian Tanker Company (NITC) yang sedang dalam kondisi tanpa muatan, dengan total lima tanker minyak Iran menjadi sasaran.
Lembaga pelacakan kapal TankerTrackers menyatakan bahwa sejak Mei 2019, kelima tanker tersebut secara kumulatif telah mengangkut sekitar 45 juta barel minyak mentah dan produk minyak olahan Iran untuk diekspor.
TankerTrackers kemudian mengatakan bahwa setelah militer AS menyelesaikan serangan tersebut, sebuah kapal tanker pengangkut gas minyak cair (LPG) yang terkait dengan Iran dan belum dikenai sanksi AS ditarik menjauh dari wilayah yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara.
“Iran terus berusaha menyerang kapal-kapal Angkatan Laut AS. Setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan tanker minyak,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 8 September 2026.
Pada Kamis pagi, Komando Pusat AS juga mengeluarkan pernyataan untuk membantah klaim Garda Revolusi Iran yang menyatakan telah mengenai dua kapal perusak AS. CENTCOM menegaskan bahwa seluruh upaya serangan Iran berakhir dengan kegagalan.
Setelah militer AS melancarkan serangan besar terhadap tanker-tanker minyak Iran, Iran menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Fox News bahwa serangan tersebut tidak berhasil dan seluruh personel militer AS di Yordania berada dalam kondisi aman.
The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa China atau Rusia mungkin membantu Iran memperkirakan lokasi kapal-kapal perang AS sebelum Iran meluncurkan rudal. Rincian mengenai hal tersebut masih perlu diverifikasi.
Pelayaran di Teluk Persia Diserang, 1 Tewas dan 1 Hilang di Lepas Pantai Dubai
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya mengeluarkan peringatan bahwa ketika pertempuran udara kembali pecah, sejumlah kapal komersial di bagian utara Teluk Persia dan Teluk Oman terkena serangan “disabling fire” atau tembakan yang menyebabkan kapal tidak dapat beroperasi dan kehilangan tenaga.
Di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab, sebuah tanker minyak diserang oleh benda yang tidak diketahui, sehingga badan kapal mengalami kemiringan.
Di wilayah perairan Irak, tanker New Andros, yang berbendera Panama dan membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak Irak, juga terkena serangan drone dan terbakar.
Sementara itu, di lepas pantai Dubai, tanker produk minyak Hercules Star diduga terlibat dalam sebuah insiden. Laporan menyebutkan bahwa seorang anggota awak kapal tewas dan seorang pelaut dinyatakan hilang.
Dokumen Rahasia Ungkap Iran Bentuk Jaringan Baru untuk Menjual Minyak yang Terkena Sanksi
Menurut dokumen dan sumber yang diperoleh media oposisi Iran International, Kementerian Perminyakan Iran telah membentuk jaringan perdagangan minyak baru dan menunjuk lima perantara utama untuk menjual jutaan barel minyak mentah Iran yang terkena sanksi.
Dokumen tersebut serta keterangan dari dua sumber di Kementerian Perminyakan mengarah kepada Mohammad Javad Bavand, mantan pejabat intelijen Garda Revolusi Iran. Ia ditunjuk untuk mengawasi transaksi minyak dan menjadi tokoh utama dalam pengaturan baru tersebut.
Dokumen rahasia mengungkap bahwa meskipun para anggota jaringan tersebut sebelumnya gagal mengembalikan pendapatan minyak senilai miliaran dolar, pemerintah Iran tetap memberikan diskon yang tidak biasa sebesar US$8,5 per barel, serta fasilitas pembayaran secara kredit.
Iran International menganalisis bahwa hal tersebut menunjukkan bahwa struktur militer dan intelijen Iran memiliki kendali yang mendalam atas penjualan minyak untuk menghindari sanksi. Hal itu juga memperlihatkan persoalan serius terkait penyaluran kepentingan pribadi dan pengembalian dana di dalam rezim Teheran.
Reporter NTD Wang Ziyi, dirangkum dari berbagai sumber.


