Dalam beberapa hari terakhir, berbagai wilayah di Hainan dilanda hujan sangat deras. Curah hujan di Kota Wuzhishan memecahkan rekor historis. Banjir menggenangi jalan-jalan, kendaraan terendam, dan seorang lansia bahkan terseret arus di tengah jalan. Selama hujan deras berlangsung, sejumlah waduk membuka pintu air untuk melepaskan banjir, yang mana memperparah dampak banjir.
Pada Senin (14 September) waktu setempat, banjir melanda berbagai wilayah Hainan. Jalan-jalan berubah menjadi sungai dan seorang lansia terseret arus.
Warga setempat: “Pegang! Pegang! Aduh!”
EtIndonesia.com Dari 11 hingga 14 September, di lima kota dan kabupaten, termasuk Wuzhishan dan Lingshui, terdapat total 13 kecamatan yang mencatat curah hujan lebih dari 500 milimeter.
Di pusat Kota Wuzhishan, akumulasi curah hujan selama 24 jam mencapai 672 milimeter, mencatat curah hujan tertinggi di daerah tersebut sejak pencatatan meteorologi dimulai pada 1958. Banyak mobil terendam banjir, bahkan beberapa kendaraan terseret arus.
Warga setempat: “Itu mobilnya hanyut! Mobil itu hanyut!”
Tanah longsor juga terjadi di dekat sebuah sekolah. Hingga kini, kondisi korban jiwa maupun luka-luka belum diketahui.
Peralatan pasokan listrik setempat mengalami kerusakan, sementara jaringan gas di kawasan perkotaan serta sejumlah jaringan pasokan air di wilayah perkotaan dan pedesaan juga mengalami kerusakan.
Sejumlah warga mengatakan bahwa air dan listrik terputus di kawasan kota dan baterai ponsel mereka hampir habis. Rekaman lainnya memperlihatkan warga berdesakan sambil membawa ember di lokasi distribusi air darurat. Ada pula warga yang menarik-narik selang air sehingga situasi di lokasi menjadi kacau.
Menghadapi hujan deras yang jarang terjadi, pada Senin itu permukaan air di sejumlah waduk di berbagai wilayah Hainan naik dengan cepat dan mendekati batas kapasitas waduk. Sejumlah waduk di Wuzhishan, Wanning, Dongfang dan daerah lainnya membuka pintu air untuk melepaskan banjir, sehingga memperparah kondisi bencana.
Di Kota Dongfang, pada Senin, volume pelepasan air ditingkatkan. Debit aliran keluar dari Waduk Daguangba dan Waduk Gezhen bahkan ditingkatkan hingga maksimum 5.500 meter kubik per detik.
Pakar sumber daya air Wang Weiluo sebelumnya pernah mengatakan bahwa setiap kali terjadi banjir, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengharuskan keselamatan waduk menjadi prioritas utama. Karena takut harus bertanggung jawab, pihak yang bertugas sering kali melakukan pelepasan air tanpa peringatan sebelumnya.
Hingga kini, karena PKT secara konsisten menutupi fakta, kondisi sebenarnya serta jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut masih belum diketahui.
NTD, dilaporkan oleh Zhao Ziting.


