EtIndonesia.com Pada 15 September, sebuah video yang memperlihatkan para mahasiswi di sebuah universitas di Nanjing harus mengantri panjang selama lebih dari satu jam untuk mandi pada malam hari membuat banyak warganet terkejut: Apakah fasilitas penunjang di universitas-universitas Tiongkok memang begitu buruk?
Seorang mahasiswi di Nanjing merekam video di luar kamar mandi asrama kampus:
Mahasiswi: “Ya ampun, antriannya panjang sekali! Astaga, ini pasti ada ratusan orang.”
Rekaman tersebut memperlihatkan para mahasiswi yang menunggu untuk mandi berbaris panjang di koridor di luar kamar mandi, hingga ujung antrian tidak terlihat. Para mahasiswi membawa baskom kecil yang berisi perlengkapan mandi dan pakaian. Sebagian berdiri menunggu, sementara yang lain bahkan duduk di lantai sambil bermain ponsel.
中國南京一所大學,女生晚上洗澡要排長隊,至少等一個小時才能有位置洗澡。不知道別的國家大學是否也有這樣奇葩的現象🧐 pic.twitter.com/l79jMYXGfO
— ying tang (@yingtan04410735) September 16, 2026
Mahasiswi yang mengunggah video tersebut mengatakan:
“Setiap hari, antri untuk mandi paling tidak satu jam.”
Video tersebut memicu perdebatan di internet. Banyak warganet mengaku terkejut:
“Saya kira hanya anak-anak kami di SMA yang mengalami hal seperti ini. Di universitas juga begitu?”
“Di beberapa universitas malah lebih parah daripada di SMA.”
“Pantas anak perempuan saya bilang bahwa yang menakutkan dari pelatihan militer bukanlah latihannya, tetapi harus antri untuk mandi.”
“Universitas mana ini? Ungkapkan saja supaya orang lain bisa menghindarinya.”
“Mahasiswa Tiongkok memang seperti ini. Coba bandingkan dengan asrama mahasiswa asing. Mereka punya kamar mandi pribadi, lengkap dengan pemanas air dan AC.”
江蘇一所大學,女生洗澡也得排長隊。 pic.twitter.com/LmU6HS5rId
— ying tang (@yingtan04410735) September 16, 2026
Seorang warganet juga membagikan pengalaman saat masih kuliah:
“Beli saja beberapa termos air panas. Ambil air panas dan bawa kembali ke asrama untuk mandi. Dulu, waktu saya kuliah, memang begitulah caranya.”
Bukan hanya universitas di Nanjing yang memperlihatkan kondisi seperti ini. Video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan bahwa di sebuah universitas di Jiangsu, para mahasiswi juga harus mengantri panjang di luar kamar mandi. Bahkan, mereka harus menunggu di luar ruangan. Pada musim dingin, para mahasiswi terlihat berdiri di jalan kecil di dalam kampus sambil membawa keranjang, tas, dan perlengkapan lainnya.
9月13日,有网友发视频称,山西医科大学中都校区的學生宿舍,上床下桌组合沒有配备攀爬梯子,新生不得不自己买梯子,一個梯子售价200元,被质疑“太暴利”。 pic.twitter.com/a0N5OHPGzO
— ying tang (@yingtan04410735) September 16, 2026
Bukan hanya fasilitas untuk mandi yang dinilai tidak memadai. Bahkan perlengkapan tempat tidur di asrama juga membuat orang tercengang.
Pada 13 September, seorang orang tua mahasiswa mengunggah video yang mengungkap bahwa asrama mahasiswa baru di Kampus Zhongdu, Shanxi Medical University, menggunakan tempat tidur bertingkat dengan meja di bawahnya, tetapi tidak dilengkapi tangga untuk naik ke tempat tidur. Banyak mahasiswa baru yang masuk kuliah terpaksa membeli tangga sendiri agar dapat naik ke tempat tidur. Tanpa tangga, mereka tidak dapat tidur di tempat tidur bagian atas.
Yang lebih sulit diterima, menurut orang tua mahasiswa tersebut, harga tangga itu mencapai 200 yuan (sekitar Rp470 ribu) per buah, dan ia mengeluhkan bahwa harganya “terlalu menguntungkan pihak penjual”.
Seorang lulusan universitas tersebut mengatakan bahwa beberapa angkatan sebelumnya juga tidak mendapatkan tangga. Ada mahasiswa yang selama bertahun-tahun kuliah harus memanjat ke tempat tidur tanpa menggunakan tangga.
Di kolom komentar, banyak warganet mengkritik pihak universitas:
“Tempat tidur bertingkat dengan meja di bawahnya tidak dilengkapi tangga, lalu mahasiswa baru disuruh mengeluarkan 200 yuan untuk membelinya sendiri. Desain seperti ini benar-benar tidak masuk akal.”
“Masalahnya bukan soal mengeluarkan uang. Yang sangat tidak masuk akal adalah tempat tidur bertingkat itu tidak dilengkapi tangga. Kalau tengah malam masih mengantuk lalu bangun untuk ke toilet, orang bisa jatuh dan mengalami cedera parah. Ini menyangkut masalah keselamatan.”
Dilaporkan oleh Luo Tingting / Editor: Wenhui


