Trump Mulai Kepung Iran! Ribuan Kiriman Tiongkok Terungkap, 6 Juta Barel Minyak Disita

EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Di tengah perang yang belum berakhir, Washington kini tidak hanya meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui operasi militer dan sanksi ekonomi, tetapi juga menyoroti hubungan Iran dengan Tiongkok.

Perkembangan terbaru muncul menjelang dan selama pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington pada 24 September 2026. Iran menjadi salah satu isu yang dibahas kedua pemimpin, di samping perdagangan, kecerdasan buatan dan Taiwan.

Perhatian Washington terhadap Beijing semakin besar setelah muncul laporan mengenai pengiriman komponen berteknologi ganda atau dual-use dari Tiongkok ke Iran.

Sekitar 1.300 Pengiriman dari Tiongkok ke Iran

Berdasarkan laporan yang mengutip data bea cukai Iran, sekitar 1.300 pengiriman komponen berteknologi ganda dari Tiongkok tercatat masuk ke Kementerian Pertahanan Iran sepanjang 1 Januari hingga akhir Juni 2026.

Barang-barang tersebut bukan berarti 1.300 pengiriman senjata jadi. Sebagian merupakan komponen yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Barang yang tercatat antara lain perangkat GPS, motor listrik, komponen mesin pesawat, serta perangkat elektronik yang berpotensi digunakan dalam produksi drone dan sistem pemandu rudal.

Salah satu pengiriman bahkan dilaporkan tiba di Teheran pada hari ketika Amerika Serikat dan Iran mencapai gencatan senjata sementara pada Juni 2026, ketika Beijing secara terbuka mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Dua hari kemudian, lebih dari selusin pengiriman tambahan dilaporkan tiba dengan membawa komponen yang dapat digunakan untuk drone senilai lebih dari 6 juta dolar AS.

Perhatian juga tertuju kepada Mahan Air, maskapai Iran yang telah dikenai sanksi Amerika Serikat. Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa frekuensi penerbangan Mahan Air dari Beijing, Shanghai dan Guangzhou menuju Teheran meningkat tajam setelah perang berlangsung.

Pada awal Maret 2026, frekuensinya sekitar empat penerbangan per minggu. Menjelang akhir April, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 27 penerbangan per minggu.

Laporan tersebut memperkuat kekhawatiran Washington bahwa hubungan perdagangan Tiongkok-Iran dapat membantu Teheran mempertahankan kemampuan militernya di tengah sanksi dan pembatasan jalur perdagangan laut.

Namun perlu ditekankan, keberadaan komponen dual-use tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh barang tersebut digunakan untuk persenjataan. Sejumlah tudingan lain dalam naskah sumber—termasuk klaim mengenai penyediaan citra satelit untuk serangan terhadap tentara Amerika serta upaya pengiriman peluncur rudal antikapal melalui Belarus—juga belum dapat diverifikasi secara independen dari sumber tepercaya yang tersedia.

Iran Masuk Agenda Pertemuan Trump–Xi

Persoalan Iran kemudian menjadi salah satu isu dalam pertemuan Trump dan Xi di Gedung Putih pada Kamis, 24 September 2026.

Trump ingin Beijing menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Teheran untuk membantu meredakan perang dan mendorong penyelesaian konflik. Sementara Xi kembali menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan perselisihan melalui dialog.

Xi mengatakan Tiongkok berharap Washington dan Teheran dapat kembali ke jalur perundingan serta mencapai kesepakatan komprehensif, termasuk mengenai persoalan nuklir.

Situasi ini memperlihatkan posisi rumit Beijing. Di satu sisi, Tiongkok ingin memainkan peran diplomatik dalam konflik Iran. Di sisi lain, hubungan ekonomi Tiongkok dengan Iran tetap menjadi sumber perselisihan dengan Washington.

Tekanan Ekonomi AS Semakin Keras

Sementara jalur diplomasi terus berjalan, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan pada 24 September 2026 bahwa kampanye tekanan Washington telah memberikan dampak besar terhadap penerbangan internasional Iran.

Menurut klaim Bessent, sekitar 80 hingga 90 persen penerbangan internasional Iran telah berhenti beroperasi akibat tekanan dan ancaman sanksi Amerika.

Bessent bahkan mempertanyakan bagaimana delegasi Iran yang sedang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York nantinya dapat kembali ke Iran.

Namun angka 80 hingga 90 persen tersebut merupakan klaim pemerintah AS. Laporan lain menunjukkan bahwa meskipun terjadi pembatalan penerbangan secara luas, beberapa rute internasional Iran masih tetap beroperasi.

Washington sebelumnya memperluas tekanan terhadap industri penerbangan Iran dengan mengancam perusahaan, bandara, penyedia bahan bakar dan penyedia layanan lain yang membantu maskapai Iran dengan sanksi sekunder. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 23 September 2026.

Menurut Bessent, tekanan terhadap Iran dapat menghasilkan beberapa kemungkinan: munculnya perpecahan dalam pemerintahan, meningkatnya tekanan domestik terhadap penguasa Iran, atau kembalinya Teheran ke meja perundingan.

Pernyataan mengenai kemungkinan perubahan politik di Iran tersebut merupakan pandangan Bessent, bukan kepastian mengenai perkembangan internal Iran.

Hampir Enam Juta Barel Minyak Iran Disita

Tekanan terhadap Teheran juga berlangsung di sektor energi.

Pada 24 September 2026, data pelacakan kapal menunjukkan tiga kapal tanker yang terkait dengan Iran dan telah disita Amerika Serikat sedang melintasi Samudra Atlantik dengan membawa total hampir enam juta barel minyak mentah Iran.

TankerTrackers memperkirakan nilai minyak tersebut mendekati 600 juta dolar AS dan menyebut kapal-kapal itu bergerak menuju Amerika Serikat. Salah satunya adalah tanker Majestic X, yang membawa sekitar 1,88 juta barel minyak.

Penyitaan minyak dalam jumlah sebesar itu memberikan tekanan tambahan terhadap sumber pendapatan Iran pada saat pemerintah di Teheran juga harus menghadapi perang, pembatasan perdagangan, serta gangguan terhadap sektor penerbangan.

Pertempuran di Sistan dan Baluchestan

Tekanan terhadap pemerintah Iran juga datang dari dalam negeri.

Pada 24 September 2026, bentrokan bersenjata dilaporkan terjadi di wilayah Saravan, Provinsi Sistan dan Baluchestan, dekat perbatasan Iran dengan Pakistan.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Brigadir Jenderal Hossein Zarifi, seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC dan kepala pangkalan Shahid Sajjad di Saravan, tewas dalam operasi melawan kelompok bersenjata.

Pemerintah Iran menggambarkan kelompok tersebut sebagai kelompok militan yang mendapat dukungan dari pihak luar. Namun klaim bahwa kelompok bersenjata di wilayah itu secara langsung menjalankan operasi atas perintah Amerika Serikat atau Israel belum didukung bukti independen yang memadai.

Karena itu, perkembangan di Sistan dan Baluchestan perlu dibedakan antara fakta mengenai terjadinya bentrokan dan kematian komandan IRGC dengan tudingan mengenai siapa yang berada di belakang kelompok bersenjata tersebut.

Diplomasi dan Tekanan Berjalan Bersamaan

Situasi menjadi semakin kompleks karena tekanan ekonomi dan militer berlangsung bersamaan dengan diplomasi.

Pada 23 September 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara di Sidang Majelis Umum PBB di New York. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat, tetapi tetap membuka kemungkinan penyelesaian melalui perundingan.

Pezeshkian mengatakan Iran siap berdialog, tetapi menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman penggunaan kekuatan.

Dengan demikian, akhir September 2026 memperlihatkan pertarungan yang berlangsung di beberapa front sekaligus.

Amerika Serikat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, mempersempit akses penerbangan internasional dan menyita minyak Iran. Pada saat bersamaan, Washington berusaha mendorong Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran.

Tiongkok, sementara itu, menyerukan diplomasi tetapi tetap menghadapi pertanyaan mengenai hubungan ekonomi dan pengiriman komponen dual-use ke Iran.

Di dalam Iran sendiri, pemerintah menghadapi perang eksternal sekaligus bentrokan bersenjata di wilayah tenggara.

Semua perkembangan tersebut membuat satu pertanyaan besar tetap terbuka: apakah tekanan ekonomi dan militer yang semakin kuat akan membawa Iran kembali menuju sebuah kesepakatan, atau justru membuat konflik memasuki babak baru yang lebih berbahaya? 

INSPIRASI ERABARU

Harmoni Langit dan Bumi: Bagaimana Lima Unsur Menghubungkan Alam, Musim, dan Kesehatan

Di Tiongkok kuno, filosofi “langit, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan” telah menjadi pedoman untuk menjaga kesehatan selama ribuan tahun. “Empat musim dan yin-yang...

Perlambat Makan, Nikmati Hidangan Anda Sebaik-baiknya

Shoba RajamaniAnda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine