Bangkalan, Madura — Di tangan yang terampil, sesuatu yang selama ini dianggap sederhana bahkan nyaris tak bernilai dapat berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di Bangkalan, Madura, serat daun agel yang dahulu lebih dikenal sebagai bahan tali, kini menjelma menjadi tas, aksesori, hingga berbagai kerajinan bernuansa etnik yang menembus pasar internasional.
Di balik perjalanan itu ada nama Faiqotul Himmah, perempuan asal Bangkalan yang memilih bertahan bersama para perajin lokal dan mengembangkan UMKM Daun Agel. Usaha yang berdiri sejak 2008 tersebut tidak sekadar mengejar penjualan. Di dalamnya terdapat cerita panjang tentang pemberdayaan perempuan, pemanfaatan bahan baku lokal, dan upaya mengubah keterampilan masyarakat menjadi sumber penghasilan.
Faiq mengenal dunia pemberdayaan masyarakat jauh sebelum mendirikan usaha Daun Agel. Saat bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional, ia mendampingi ibu-ibu pengungsi asal Sambas yang berada di Bangkalan. Pelatihan kerajinan diberikan sebagai salah satu cara membantu mereka menghilangkan trauma sekaligus memperoleh pendapatan tambahan.
“Awalnya saya mendampingi korban peristiwa Sambas (2007), dimana mereka tidak memiliki pekerjaan dan trauma.” Jelas Faiq kepada The Epoch Times saaat mengikuti pameran acara Fesyar 2026 di Surabaya yang diselenggarakan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur.
Ketika lembaga tempatnya bekerja berhenti beroperasi, Faiq menghadapi pilihan. Para ibu yang selama ini didampinginya masih memiliki keterampilan, tetapi tidak lagi memiliki tempat untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Mereka bahkan meminta Faiq tetap mendampingi.
Pada 2018, Faiq akhirnya memutuskan melanjutkan kegiatan tersebut secara mandiri. Keputusan itu kemudian berkembang menjadi sebuah usaha yang diberi nama Daun Agel.
Nama tersebut bukan tanpa alasan. Bahan utama produk berasal dari serat daun tanaman palem yang banyak ditemukan di wilayah Bangkalan. Di masyarakat, serat tersebut telah lama dimanfaatkan sebagai tali. Faiq melihat peluang yang berbeda: tali agel tidak harus berhenti sebagai kebutuhan sehari-hari. Dengan keterampilan merajut, bahan tersebut dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai estetika dan nilai jual lebih tinggi.
“Dari daun” kemudian menjadi identitas usaha. Bahan yang tumbuh di sekitar masyarakat diproses menjadi produk kerajinan yang membawa cerita daerah asalnya.
Proses produksinya pun masih mengandalkan keterampilan tangan. Berdasarkan wawancara, bahan mentah membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk diproses menjadi tali. Setelah itu, pembuatan sebuah tas dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga hari, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain.
Model produksi semacam ini membuat setiap produk memiliki karakter tersendiri. Tidak ada sekadar proses memasukkan bahan ke mesin dan menunggu hasil. Ada tangan perajin yang memilin, merajut, dan menyelesaikan setiap bagian produk.
Kekuatan utama Daun Agel justru terletak pada masyarakat yang berada di belakang proses tersebut. Dalam wawancara, Faiq menyebut sekitar 30 orang terlibat dalam pembuatan tali agel, sementara sekitar 25 orang lainnya mengerjakan proses merajut. Totalnya sekitar 55 perajin, yang mayoritas merupakan perempuan.
Pola pemberdayaan itu memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Para pencari bahan dan pembuat tali dapat memperoleh penghasilan dari hasil produksi yang mereka kumpulkan setiap pekan. Faiq menuturkan, ada perajin yang mampu menghasilkan sekitar tiga hingga empat kilogram tali dalam seminggu. Pendapatan tersebut kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari membeli beras, telur, hingga lauk.
Dengan demikian, perjalanan Daun Agel bukan hanya tentang sebuah tas yang berhasil dijual. Ada mata rantai ekonomi yang bergerak dari tanaman di lingkungan sekitar, pengumpul bahan, pembuat tali, perajin, hingga produk akhir yang sampai kepada konsumen.
Pendampingan Bank Indonesia
Perkembangan usaha juga tidak lepas dari pendampingan Bank Indonesia. Dalam wawancara, Faiq menyebut UMKM Daun Agel mendapatkan pendampingan berupa pelatihan manajerial, pembiayaan, pencatatan keuangan, serta pemanfaatan sistem secara daring. Ia juga menilai manfaat pendampingan bukan hanya datang dari pelatihan, tetapi dari keberlanjutan hubungan setelah menjadi binaan. Produk mereka tetap mendapat kesempatan mengikuti berbagai pameran.
Pendampingan semacam itu penting bagi usaha yang awalnya tumbuh dari keterampilan masyarakat. Kreativitas membuat produk dapat lahir, tetapi pengelolaan usaha, pencatatan keuangan, pemasaran, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi faktor penting agar usaha mampu bertahan.
Data dari Karya Kreatif Indonesia juga mencatat CV Daun Agel berdiri pada 2008 di Bangkalan dan memproduksi tas, dompet, topi, serta produk dekorasi rumah berbahan serat daun agel yang dipilin menjadi tali dan kemudian dirajut dengan tangan.
Tembus pasar internasional
Kini pasar Daun Agel tidak lagi berhenti di Bangkalan. Produk mereka telah menjangkau pasar luar negeri. Dalam wawancara, Faiq menyebut produk Daun Agel telah dikirim ke Jepang, Amerika Serikat, Swiss, hingga Bangkok, Thailand. Sejumlah pembeli bahkan datang langsung untuk melihat proses produksi dan kemudian memesan produk sesuai desain yang mereka inginkan.
Pasar internasional menjadi bukti bahwa produk berbahan alam tidak selalu identik dengan produk tradisional yang hanya diminati pasar lokal. Dengan desain dan pengolahan yang tepat, bahan lokal dapat masuk ke selera konsumen global. Pemberitaan mengenai Daun Agel juga mencatat bahwa produk berbahan tali agel telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Prancis, Singapura, dan negara lainnya.
Di sisi produksi, kapasitas para perajin juga menunjukkan perkembangan. Untuk tas berukuran sedang, kapasitas yang disebutkan Faiq mencapai sekitar 250 buah per bulan. Sementara tas berukuran lebih kecil dapat mencapai sekitar 300 buah per bulan. Jika pesanan meningkat, kemampuan produksi disesuaikan dengan tenggat dan kebutuhan pelanggan.
Perputaran ekonomi yang tercipta pun semakin besar. Faiq menyebut pendapatan usaha berada pada kisaran Rp50 juta per bulan dan pernah menembus Rp100 juta ketika mendapatkan kerja sama dengan pabrik besar yang mengekspor produk ke Amerika Serikat.
Kisah Daun Agel menunjukkan bahwa kekuatan UMKM tidak selalu berawal dari modal besar. Ia bisa lahir dari kepedulian, keterampilan, bahan baku yang tersedia di sekitar, dan keberanian membaca peluang.
Daun yang dahulu hanya dipandang sebagai bahan biasa kini memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang. Dari lingkungan Bangkalan, ia berpindah ke tangan para perajin, berubah menjadi tali, kemudian menjelma menjadi tas dan kerajinan bernilai ekonomi. Sebagian bahkan menyeberangi lautan menuju pasar dunia.
Pada akhirnya, Daun Agel bukan sekadar cerita tentang kerajinan. Ia adalah cerita tentang bagaimana perempuan diberdayakan, keterampilan dipertahankan, bahan lokal diberi nilai baru, dan sebuah usaha kecil perlahan membangun jalannya sendiri menuju pasar global.
Di antara jalinan serat agel yang sederhana itu, tersimpan satu pesan besar: ketika potensi lokal dikelola dengan kreativitas dan ketekunan, batas antara produk desa dan pasar dunia tidak lagi sejauh yang dibayangkan.


