Finlandia dan Swedia mengatakan Kamis (25 September) bahwa jet tempur kedua negara untuk pertama kalinya melakukan operasi bersama beberapa hari sebelumnya untuk mencegat dan mengidentifikasi sejumlah pesawat militer Rusia di wilayah udara internasional di atas Teluk Finlandia.
EtIndonesia.com Angkatan Udara Finlandia mengatakan bahwa pada Kamis (25/9), jet tempur kedua negara yang berada dalam status siaga cepat dikerahkan secara darurat. Mereka melacak pesawat militer Rusia di atas Teluk Finlandia dan memastikan identitas pesawat-pesawat tersebut. Ini juga merupakan pertama kalinya angkatan udara Finlandia dan Swedia bersama-sama menjalankan misi semacam ini.
European News Channel (Euronews) mengutip sumber militer Finlandia yang mengatakan bahwa pesawat militer Rusia tersebut mencakup sebuah pesawat angkut Tu-134, serta jet tempur MiG-31 dan Su-30.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan bahwa operasi tersebut menunjukkan mekanisme respons cepat yang dibangun bersama oleh kedua negara mulai berfungsi. Mekanisme tersebut memungkinkan kedua negara bersama-sama memantau dan melindungi wilayah udara masing-masing.
Ia mengatakan, kawasan Baltik belum pernah serentan sekarang, tetapi juga belum pernah mendapatkan perlindungan sekuat saat ini.
Finlandia dan Swedia selama bertahun-tahun tidak bergabung dengan aliansi militer. Setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina, kedua negara secara berturut-turut bergabung dengan NATO. Kini, lima negara Nordik—Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia—semuanya telah menjadi anggota NATO. Kerja sama mereka dalam pemantauan wilayah udara, respons cepat jet tempur, dan pertahanan juga semakin meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden terjadi berturut-turut di sekitar kawasan Laut Baltik, termasuk gangguan jaringan pipa gas alam, insiden wilayah udara, dan aktivitas drone. Negara-negara di kawasan tersebut terus mempertahankan kewaspadaan.
Badan Intelijen Pertahanan Denmark juga memperingatkan pada Kamis bahwa risiko Rusia melancarkan serangan militer terbatas terhadap satu atau beberapa negara NATO yang berdekatan saat ini masih rendah, tetapi sedang meningkat.
Badan intelijen Denmark juga menilai bahwa Rusia kemungkinan akan meningkatkan operasi hibrida terhadap negara-negara Barat, termasuk sabotase terhadap perusahaan pertahanan, jalur kereta api yang mengangkut peralatan militer, serta serangan siber yang mengganggu fasilitas dan infrastruktur penting masyarakat. (***)


