Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Trump Menolak! Rudal Houthi Kembali Mengarah ke Saudi

EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat menentukan. Di tengah upaya diplomatik untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan, Iran mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian pertempuran regional. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih sangat panjang.

Pada 26 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya telah menolak proposal Iran tersebut. Pernyataan itu muncul setelah sebelumnya pejabat Iran mengatakan Teheran masih menunggu respons resmi Washington atas usulan yang disampaikan melalui jalur diplomatik.

Proposal itu sendiri sebenarnya telah menjadi bagian dari pembicaraan antara perwakilan Amerika Serikat dan Iran di New York beberapa hari sebelumnya. Reuters melaporkan pada 24 September 2026 bahwa kedua pihak sedang menjajaki skema bertahap untuk keluar dari konflik. Salah satu elemen terpentingnya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran, sementara Amerika Serikat akan mengurangi tekanan dan mengakhiri blokade ekonominya terhadap Iran.

Selat Hormuz menjadi salah satu pusat persoalan karena jalur laut sempit tersebut merupakan koridor strategis bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini tidak hanya berdampak terhadap Iran dan negara-negara Teluk, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi internasional.

Iran Menawarkan Skema Bertahap

Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, proposal Iran pada dasarnya menawarkan mekanisme bertahap.

Teheran menginginkan Washington terlebih dahulu mengurangi tekanan terhadap Iran, mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan menunjukkan kesediaan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik. Sebagai bagian dari proses itu, kedua negara kemudian dapat menentukan jadwal pembicaraan lanjutan.

Iran menawarkan bahwa apabila kesepakatan dapat dicapai, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu sekitar tujuh hari dan pertempuran dapat dihentikan. Pembicaraan berikutnya kemudian dapat diperluas menuju persoalan yang jauh lebih sulit, termasuk program nuklir Iran.

Dengan demikian, proposal tersebut pada dasarnya merupakan pertukaran konsesi secara bertahap.

Amerika Serikat diminta mengurangi tekanan ekonomi dan militernya, sementara Iran menawarkan pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz dan penghentian pertempuran. Setelah itu, kedua pihak diharapkan memasuki perundingan mengenai persoalan jangka panjang.

Namun, justru pada titik inilah perbedaan besar kembali terlihat.

Pada 26 September 2026, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya menolak proposal tersebut. Ia juga menuntut agar Iran segera membuka Selat Hormuz. Pernyataan Trump sekaligus memperjelas bahwa Washington belum menerima mekanisme pertukaran yang ditawarkan Teheran.

Sebelumnya, The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Trump menolak proposal gencatan senjata Iran. Laporan itu menggambarkan pemerintah Amerika Serikat masih mempertimbangkan berbagai pilihan diplomatik, ekonomi, dan militer dalam menghadapi Teheran.

Masalah Nuklir Tetap Menjadi Hambatan Besar

Bahkan apabila kedua negara akhirnya dapat menemukan titik temu mengenai Selat Hormuz, persoalan yang jauh lebih sulit masih menunggu: program nuklir Iran.

Posisi kedua negara mengenai masalah ini belum sepenuhnya bertemu.

Teheran selama ini mempertahankan klaim bahwa Iran memiliki hak untuk menjalankan program pengayaan uranium untuk kepentingan damai. Sementara itu, pemerintahan Trump menempatkan persoalan nuklir sebagai salah satu tuntutan utama dalam hubungannya dengan Iran.

Inilah yang membuat persoalan Selat Hormuz dan gencatan senjata tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari sengketa nuklir.

Secara teoritis, kedua negara mungkin dapat mencapai pengaturan sementara mengenai jalur pelayaran, blokade, atau penghentian pertempuran. Namun, tanpa kompromi mengenai program nuklir, kesepakatan jangka panjang akan jauh lebih sulit dicapai.

Situasi tersebut juga menjelaskan mengapa setiap proposal perdamaian sejauh ini menghadapi begitu banyak hambatan.

Rudal Houthi Kembali Mengarah ke Arab Saudi

Ketika jalur diplomatik Amerika Serikat dan Iran menghadapi kebuntuan baru, situasi militer di kawasan justru kembali memanas.

Pada 26 September 2026, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan sistem pertahanannya telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman.

Menurut keterangan koalisi, dua drone diarahkan menuju kawasan Riyadh, sedangkan dua rudal balistik menargetkan Khamis Mushait, kota di barat daya Arab Saudi yang menjadi lokasi fasilitas militer penting.

Serangan tersebut memperlihatkan bahwa sekalipun pembicaraan diplomatik mengenai konflik Iran terus berlangsung, eskalasi di kawasan belum berhenti.

Konflik Houthi dan Arab Saudi juga telah berkembang menjadi salah satu front penting dalam ketegangan regional. Serangan rudal dan drone terhadap wilayah Saudi dibalas dengan operasi militer terhadap sasaran Houthi di Yaman.

Menurut laporan Euronews yang mengutip data Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 122.000 orang telah mengungsi akibat eskalasi konflik di Yaman. PBB juga mencatat ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka antara awal Agustus hingga pertengahan September 2026.

Dengan kata lain, dampak konflik kini tidak hanya terlihat dalam persaingan militer antarpemerintah dan kelompok bersenjata, tetapi juga semakin dirasakan masyarakat sipil.

Iran Ikut Dibahas dalam Pertemuan Trump–Xi

Di tengah situasi tersebut, persoalan Iran ternyata juga masuk dalam agenda hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Presiden Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu di Gedung Putih pada 24 September 2026, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat.

Menurut lembar fakta Gedung Putih mengenai hasil pertemuan tersebut, kedua pemimpin membicarakan sejumlah persoalan internasional, termasuk Iran, Rusia, dan Korea Utara. Dalam isu Iran, kedua pihak disebut sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan bahwa tidak ada negara atau institusi yang boleh mengenakan pungutan terhadap jalur perairan internasional.

Iran menjadi isu penting dalam hubungan Washington dan Beijing karena Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi dan energi yang besar di kawasan tersebut. Beijing juga tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran ketika Washington berusaha meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Karena itu, pembicaraan Trump dan Xi menunjukkan bahwa konflik Iran telah berkembang jauh melampaui hubungan bilateral Washington–Teheran.

Timur Tengah Memasuki Titik Kritis

Perkembangan pada 24 hingga 26 September 2026 memperlihatkan dua arah yang berjalan secara bersamaan.

Di satu sisi, saluran diplomatik masih terbuka. Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian pertempuran sebagai bagian dari kesepakatan bertahap.

Namun di sisi lain, Trump telah menyatakan menolak proposal tersebut dalam bentuk yang diajukan Iran. Pada saat yang sama, perbedaan mengenai program nuklir belum terselesaikan, sementara serangan Houthi terhadap Arab Saudi terus berlanjut.

Artinya, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup, tetapi kesenjangan antara tuntutan Washington dan Teheran masih sangat lebar.

Selat Hormuz kini berada di pusat perselisihan tersebut. Bagi Iran, pembukaan kembali jalur itu dapat menjadi bagian dari pertukaran konsesi dengan Amerika Serikat. Bagi Washington, pembukaan jalur pelayaran tidak ingin dikaitkan dengan syarat-syarat yang dianggap terlalu menguntungkan Teheran.

Sementara para diplomat berusaha mencari formula kompromi, rudal dan drone masih terbang di kawasan.

Dan selama tiga persoalan utama—Selat Hormuz, tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, serta program nuklir Teheran—belum menemukan titik temu, Timur Tengah tampaknya masih akan menghadapi periode ketidakpastian yang tinggi. (***)

INSPIRASI ERABARU

Harmoni Langit dan Bumi: Bagaimana Lima Unsur Menghubungkan Alam, Musim, dan Kesehatan

Di Tiongkok kuno, filosofi “langit, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan” telah menjadi pedoman untuk menjaga kesehatan selama ribuan tahun. “Empat musim dan yin-yang...

Perlambat Makan, Nikmati Hidangan Anda Sebaik-baiknya

Shoba RajamaniAnda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine