Netanyahu Diam-diam ke UEA Temui MBZ Hingga 600 Posisi Hizbullah Dihancurkan, Pangkalan Houthi Dibombardir

EtIndonesia.com Situasi keamanan di Timur Tengah kembali menunjukkan perkembangan serius. Dalam waktu yang hampir bersamaan, operasi militer Israel di Lebanon selatan, meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang didukung pemerintah Yaman, serta kunjungan mendadak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Uni Emirat Arab memperlihatkan bagaimana beberapa titik konflik di kawasan tersebut semakin saling berkaitan.

Pada Senin, 28 September 2026, militer Israel mengumumkan bahwa pasukan dari Brigade Cadangan ke-55 telah menyelesaikan operasi berskala besar di kawasan Desa Al-Mansouri atau Mansouri, Lebanon selatan.

Menurut pernyataan resmi militer Israel, pasukan tersebut beroperasi di bawah Divisi ke-91 dan bekerja sama dengan unit teknik tempur elite Yahalom. Selama operasi berlangsung, Israel mengklaim telah menghancurkan lebih dari 600 infrastruktur yang dikaitkan dengan Hizbullah, termasuk delapan jalur bawah tanah atau terowongan. Pasukan Israel juga mengaku menemukan puluhan peluncur roket yang ditinggalkan di kawasan tersebut.

Israel menyatakan operasi itu bertujuan mencegah Hizbullah membangun kembali jaringan militernya di wilayah yang disebut Israel sebagai zona keamanan di Lebanon selatan.

Salah satu temuan yang disoroti Israel adalah sebuah jalur bawah tanah yang disebut berada di dalam sebuah rumah sipil di Mansouri. Militer Israel mengatakan terowongan tersebut kemudian dihancurkan.

Namun, angka mengenai jumlah fasilitas yang dihancurkan merupakan klaim militer Israel dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Perkembangan ini tetap penting karena menunjukkan bahwa meskipun perhatian internasional dalam beberapa pekan terakhir banyak tertuju pada Iran, Selat Hormuz, dan Yaman, front Lebanon belum sepenuhnya mereda.

Operasi tersebut juga memperlihatkan bahwa Israel masih memandang kemampuan Hizbullah untuk kembali membangun infrastruktur di Lebanon selatan sebagai ancaman keamanan yang harus dicegah.

Netanyahu Diam-Diam Terbang ke Abu Dhabi

Pada saat operasi di Lebanon berlangsung, muncul perkembangan diplomatik yang tidak kalah menarik.

Pada Minggu, 27 September 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan perjalanan yang sebelumnya tidak diumumkan ke Abu Dhabi dan bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Seorang pejabat senior Israel mengonfirmasi kunjungan Netanyahu tersebut. Pemerintah Uni Emirat Arab kemudian juga mengonfirmasi pertemuan itu melalui kantor berita resminya pada 28 September.

Menurut laporan resmi UEA, kedua pemimpin membahas hubungan bilateral Israel–Uni Emirat Arab serta berbagai perkembangan regional. Iran juga dilaporkan menjadi salah satu persoalan penting dalam pembicaraan tersebut. Reuters melaporkan pertemuan itu berlangsung selama beberapa jam, di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional.

Pertemuan ini menjadi penting karena Israel dan Uni Emirat Arab telah mengembangkan hubungan diplomatik sejak normalisasi hubungan melalui Abraham Accords pada 2020.

Dalam kondisi normal, kunjungan seorang perdana menteri Israel ke Abu Dhabi mungkin akan dipandang terutama sebagai agenda diplomatik. Namun kali ini konteksnya jauh lebih sensitif.

Kunjungan Netanyahu berlangsung ketika ketegangan yang melibatkan Iran dan sejumlah kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran sedang meningkat. Pada saat yang sama, Houthi di Yaman kembali terlibat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan regional, termasuk dari Arab Saudi.

Dengan demikian, pembicaraan Netanyahu dan Mohamed bin Zayed berlangsung di tengah perubahan cepat dalam peta keamanan Timur Tengah.

Arab Saudi dan Houthi Kembali Bertukar Serangan

Front Yaman menjadi salah satu kawasan yang mengalami peningkatan pertempuran paling nyata.

Pada Minggu, 27 September 2026, Houthi menyatakan pesawat tempur Arab Saudi telah melancarkan 26 serangan udara di lima provinsi Yaman dalam periode 24 jam. Klaim tersebut muncul ketika pasukan pemerintah Yaman meningkatkan operasi terhadap posisi Houthi di sejumlah garis depan.

Pertempuran ini merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas setelah Houthi kembali meningkatkan aktivitas militernya dan mencoba merebut sejumlah kawasan strategis.

Kawasan sekitar Taiz menjadi salah satu titik terpanas.

Pada 27 September 2026, pesawat tempur pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap Pangkalan Militer Al-Estegbal di Al-Huban, sebelah timur Kota Taiz.

Menurut dua pejabat pemerintah Yaman yang dikutip Arab News, operasi tersebut merupakan salah satu serangan udara terbesar terhadap Houthi di kawasan Taiz. Sasaran utamanya adalah konsentrasi pasukan Houthi, kendaraan militer, persenjataan, serta gudang amunisi yang berada di kompleks pangkalan tersebut.

Rekaman yang beredar dari kawasan itu memperlihatkan asap dalam jumlah besar membubung dari kompleks pangkalan setelah serangan.

Beberapa ledakan susulan juga terlihat. Ledakan sekunder tersebut diduga berasal dari amunisi atau persenjataan yang tersimpan di dalam fasilitas dan kemudian ikut meledak setelah serangan awal.

Pejabat pemerintah Yaman mengatakan sejumlah besar anggota Houthi diyakini tewas atau terluka, termasuk beberapa komandan lapangan senior. Namun jumlah korban tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Operasi itu memiliki arti strategis yang lebih luas.

Menurut pejabat militer Yaman, penghancuran konsentrasi pasukan dan peralatan Houthi di Al-Huban diharapkan dapat mengurangi kemampuan kelompok tersebut mengirim bala bantuan ke garis depan sekaligus membuka peluang bagi pasukan pemerintah untuk meningkatkan tekanan di wilayah timur Taiz.

Pertempuran Menuju Bab el-Mandeb

Taiz memiliki arti strategis karena pertempuran di wilayah tersebut berkaitan langsung dengan jalur menuju kawasan Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi telah meningkatkan tekanan terhadap pasukan pemerintah Yaman di kawasan pegunungan yang menghadap jalur strategis tersebut.

Pada 23 September, misalnya, pasukan yang berpihak kepada pemerintah Yaman dilaporkan berhasil menahan sebuah pergerakan Houthi yang bertujuan mengganggu jalur komunikasi darat antara Taiz dan Aden.

Karena itu, pertempuran di Yaman saat ini bukan hanya persoalan perebutan desa atau pegunungan.

Jika salah satu pihak berhasil menguasai posisi-posisi strategis di sekitar Bab el-Mandeb, dampaknya dapat menjalar langsung terhadap keamanan pelayaran internasional, distribusi energi, dan perdagangan antara Asia, Timur Tengah, serta Eropa.

Situasi menjadi semakin rumit karena Houthi masih melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara Riyadh kembali meningkatkan tekanan militernya terhadap kelompok tersebut. Pertukaran serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Yaman yang sempat relatif mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 dapat kembali berkembang menjadi perang berskala lebih besar.

Tiga Front, Satu Krisis Regional

Jika seluruh perkembangan pada 27–28 September 2026 dilihat secara bersamaan, terlihat tiga front utama yang bergerak hampir bersamaan.

Di utara, Israel berusaha menghancurkan dan mencegah pembangunan kembali infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan.

Di selatan Semenanjung Arab, Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman meningkatkan operasi terhadap Houthi, sementara kelompok tersebut terus berusaha mempertahankan sekaligus memperluas posisi strategisnya.

Di jalur diplomatik, Netanyahu melakukan kunjungan yang sebelumnya tidak diumumkan ke Abu Dhabi untuk bertemu Mohamed bin Zayed ketika Iran menjadi salah satu persoalan utama keamanan kawasan.

Ketiga perkembangan tersebut memiliki satu benang merah: Iran dan jaringan kekuatan regional yang berhubungan dengan Teheran tetap menjadi salah satu pusat perhitungan strategis negara-negara di kawasan.

Namun perkembangan berikutnya masih sulit dipastikan.

Yang jelas, menjelang akhir September 2026, Timur Tengah menghadapi situasi di mana operasi militer di Lebanon, pertempuran di Yaman, keamanan jalur pelayaran Laut Merah, serta persaingan Israel–Iran tidak lagi dapat dilihat sebagai krisis yang sepenuhnya terpisah.

Satu perubahan besar pada salah satu front berpotensi memengaruhi front lainnya.

Dan di tengah meningkatnya operasi militer serta diplomasi tertutup antara para pemimpin kawasan, pertanyaan terbesarnya sekarang adalah apakah langkah-langkah tersebut akan menghasilkan keseimbangan baru—atau justru membuka babak eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah. (***)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti Annie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiri Walker Larson Si...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine