Sejumlah peternakan babi milik perusahaan besar di Tiongkok mengalami kesulitan keuangan hingga tidak mampu membayar gaji karyawan. Kelalaian dalam penerapan langkah-langkah pencegahan penyakit menyebabkan penyebaran wabah demam babi Afrika. Pada saat yang sama, peternakan-peternakan tersebut menjual babi dalam jumlah besar secara serentak, sehingga harga babi anjlok dan memicu gelombang penutupan peternakan di berbagai wilayah Tiongkok.
EtIndonesia.com Pada Oktober 2026, harga babi hidup di Tiongkok terus merosot. Harga rata-rata nasional turun hingga di bawah 5 yuan RMB per jin (sekitar 500 gram). Pada Maret hingga April lalu, harga rata-rata babi hidup di Tiongkok juga sempat jatuh ke kisaran 4 yuan per jin, mencatat level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala sebuah peternakan babi milik kelompok usaha besar di Provinsi Henan mengungkapkan bahwa banyak peternakan babi mengalami gelombang penutupan tahun ini. Sejumlah pemilik usaha melarikan diri. Gelombang penutupan pertama mencapai puncaknya pada April hingga Mei.
Setelah wabah demam babi Afrika merebak, sejumlah peternakan milik kelompok usaha besar juga terjangkit. Mereka terpaksa mengosongkan kandang dengan menjual atau memusnahkan seluruh babi dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan harga babi anjlok. Pada Oktober, gelombang penutupan peternakan babi yang kedua kembali terjadi.
“Sekarang banyak perusahaan besar sudah kehabisan uang dan tidak mampu membayar gaji. Gaji karyawan tertunggak. Kandang yang seharusnya didisinfeksi tidak di desinfeksi, dan yang seharusnya difumigasi juga tidak difumigasi. Akibatnya, peternakan mereka terjangkit wabah. Mereka tidak punya pilihan selain menjual babi. Mereka tidak ingin harga babi standar turun di bawah 5 yuan,” ujar Zhang, kepala peternakan babi di Henan.
Seorang karyawan rumah pemotongan hewan di Henan mengungkapkan bahwa peternakan milik kelompok usaha besar terus menjual babi dalam jumlah besar. Peternakan yang terjangkit wabah bisa mengosongkan kandang dengan mengeluarkan beberapa ribu ekor babi sekaligus. Rumah pemotongan hewan kewalahan menghadapi jumlah tersebut. Terkadang, babi yang diterima dalam satu hari pun tidak dapat disembelih seluruhnya selama beberapa hari.
Wang, seorang karyawan rumah pemotongan hewan di Henan, mengatakan, “Peternakan milik kelompok usaha besar sudah kehabisan uang, jadi mereka menjual babi. Akibatnya, babi mereka belum tumbuh besar ketika dijual. Sebagian besar babi yang dikeluarkan dari peternakan hanya berbobot 125 hingga 140 jin (sekitar 62,5–70 kilogram).”
“Bahkan, babi betina yang disiapkan untuk dijadikan indukan juga dijual. Mereka terus-menerus mengurangi jumlah induk babi. Banyak eksekutif, tenaga inti, dan pimpinan senior perusahaan peternakan besar mengundurkan diri pada September dan Oktober, terutama pada Oktober.”
Seorang peternak babi di Henan mengatakan bahwa tahun lalu terdapat 100 peternak babi di daerah setempat, tetapi sekarang hanya tersisa dua. Harga anak babi telah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, tetapi tidak ada yang berani beternak lagi.
Liu, seorang peternak babi di Henan, mengatakan, “Peternakan babi mengalami kerugian yang sangat besar. Banyak peternak sudah kehilangan kepercayaan dan tidak berani melanjutkan usaha. Baik anak babi maupun babi dewasa, semuanya dijual secara besar-besaran karena tidak ada uang. Pemasok tidak mau lagi memberikan jagung dan bungkil kedelai secara kredit. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Babi tidak mungkin dibiarkan kelaparan.”
Para peternak menilai bahwa kelebihan kapasitas produksi di peternakan skala besar dan wabah demam babi Afrika, merupakan penyebab utama lesunya harga babi. Menurut mereka, harga baru bisa pulih jika wabah mereda dan kapasitas produksi berkurang.
“Wabah saat ini merupakan faktor yang sangat, sangat penting. Perusahaan besar yang mengalami kesulitan keuangan menjual babi secara berlebihan, begitu pula peternakan berskala besar,” ujar Li, seorang peternak babi di Henan.
“Peternak kecil yang terkena wabah juga panik dan menjual babi mereka. Para pedagang babi terus menekan harga. Mereka hanya memberikan penawaran harga, tetapi tidak benar-benar datang ke peternakan untuk membeli babi,” tambahnya.
Laporan dan wawancara oleh Xiong Bin dan Huang Yuning, reporter NTD.


