Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperbarui peringatan perjalanan untuk Tiongkok daratan, dengan menyatakan bahwa terdapat “risiko serius penahanan yang tidak semestinya” di Tiongkok. Berikut laporan selengkapnya bersama reporter NTD, Zhang Liang.
EtIndonesia.com Pada Senin (19/10/2026), Departemen Luar Negeri AS menambahkan penanda risiko Kategori D, yang berarti “penahanan yang tidak semestinya”, dalam peringatan perjalanan ke Tiongkok daratan. Pihak AS menilai bahwa otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) menimbulkan risiko serius berupa penegakan hukum sewenang-wenang, pemberlakuan larangan keluar dari negara secara sewenang-wenang, serta penahanan warga negara Amerika Serikat secara tidak semestinya.
Dokumen Departemen Luar Negeri AS menyebutkan bahwa undang-undang keamanan nasional, anti pengintaian, dan keamanan data yang diberlakukan PKT memberikan keleluasaan yang sangat besar kepada pejabatnya. Mereka dapat mengkategorikan berbagai dokumen, data, statistik, atau materi sebagai apa yang disebut “rahasia negara”, kemudian menggunakan alasan tersebut untuk menahan atau menginterogasi warga negara asing.
Aktivitas bisnis sehari-hari, penelitian, maupun penyampaian pendapat di ruang publik oleh warga negara Amerika Serikat juga menghadapi risiko.
Departemen Luar Negeri AS secara khusus menyebutkan bahwa kelompok-kelompok berikut berpotensi menjadi sasaran tindakan otoritas PKT:
- Warga negara Amerika Serikat keturunan Tionghoa.
- Warga AS yang terlibat dalam sengketa bisnis atau memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan AS yang terlibat dalam sengketa tersebut.
- Orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan aparat penegak hukum, militer, atau badan intelijen AS.
- Pelancong yang berpartisipasi dalam program yang didanai pemerintah AS.
- Orang-orang yang memiliki hubungan dengan pemerintah AS.
Organisasi hak asasi manusia Dui Hua Foundation memperkirakan bahwa PKT telah menahan setidaknya 200 warga negara Amerika Serikat dengan berbagai alasan.
Di antara mereka adalah Dr. Chen Youlin, seorang seismolog keturunan Tionghoa yang berkewarganegaraan AS. Pada November 2024, ia pergi ke Beijing untuk mengunjungi keluarganya, tetapi kemudian ditahan secara tidak semestinya oleh PKT.
Kasus lainnya adalah Min Zin, seorang peneliti politik Myanmar yang berkewarganegaraan AS. Pada Juni tahun ini, ia pergi ke Kunming untuk menghadiri seminar akademik, tetapi kemudian ditangkap secara ilegal.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa dalam pertemuan Trump–Xi di Washington pada September lalu, ia telah meminta Xi Jinping untuk membebaskan Min Zin dan tahanan politik lainnya.
Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa PKT juga menggunakan pembatasan terhadap kebebasan seseorang untuk meninggalkan negara tersebut, yang dikenal sebagai “larangan keluar dari negara” (exit ban), untuk memaksa orang-orang terkait berpartisipasi dalam penyelidikan PKT dan sebagainya. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya tawar Beijing dalam perundingan.
Saat ini, tingkat peringatan perjalanan Departemen Luar Negeri AS untuk Tiongkok daratan dan Hong Kong tidak berubah, yakni tetap berada pada Level 2, yang berarti warga AS disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, peringatan perjalanan untuk Makau tetap berada pada Level 3. Warga negara AS disarankan untuk “mempertimbangkan kembali” perjalanan ke Makau karena kemampuan wilayah tersebut dalam memberikan bantuan konsuler darurat terbatas.


