Banjir Akibat Topan Rumbia di Kota Tiongkok Diperburuk oleh Kesalahan Pemerintah

Banjir yang meluas akibat hujan Topan Rumbia dan angin kencang telah menghancurkan daerah penghasil sayur terbesar di Tiongkok dan rumah bagi pasar grosir terbesar di negara tersebut, dan penduduk setempat menyalahkan kesalahan perhitungan buatan manusia sehingga membuat kerusakan lebih buruk.

Setelah melakukan pendaratan di Shanghai pada 17 Agustus, badai bergerak melalui bagian timur Tiongkok, yang mempengaruhi provinsi Zhejiang, Jiangsu, Anhui, Shandong, dan Hubei. Shandong sangat terpukul, dengan 13 kota di zona bencana. Setidaknya 24 orang tewas, menurut corong resmi rezim Tiongkok, People’s Daily.

Di Kota Shouguang, Provinsi Shandong, penduduk marah karena pihak berwenang mengalirkan air dari tiga waduk ke sungai setempat selama periode badai, yang memperparah banjir.

Banjir telah menghancurkan banyak mata pencaharian para warga. Penduduk memposting foto dan video ke media sosial tentang kondisi di Shouguang, menunjukkan pertanian sayuran sepenuhnya terendam dan bangkai hewan mengambang di air. Postingan yang dengan cepat telah dihapus oleh sensor internet.

Warga turun ke media sosial untuk mengadukan keputusan pihak berwenang karena mengalirkan air waduk di hilir Sungai Mi dekat Shouguang. Satu posting online menunjukkan dokumen resmi pemerintah yang mengumumkan bahwa air dari tiga waduk akan dialirkan mulai dari pagi 19 Agustus pagi sampai 21 Agustus sekitar jam 6:15 sore waktu setempat.

Warga menerima berita tersebut pada 19 Agustus dan diberitahu untuk mengevakuasi daerah tersebut. Pada saat itu, sudah terlambat untuk melakukan sesuatu tentang harta benda atau hewan ternak mereka. Sementara itu, setelah badai, pihak berwenang gagal mengirim misi penyelamatan dan penduduk lokal dibiarkan berjuang sendiri untuk menghadapi akibatnya, menurut posting netizen.

Media lokal diam tentang masalah ini. Tidak sampai 22 Agustus Weifang Evening News, sebuah koran lokal, membahas banjir tersebut di pos Sina Weibo.

Beijing News, sebuah surat kabar yang bermarkas di ibukota, telah melaporkan tentang keparahan banjir di beberapa desa kecil dan kota kecil, seperti Shangkou dan Kouzi. Seorang penduduk desa, Li dari Desa Kouzi Baru, mengatakan ia telah kehilangan lebih dari 10.000 babi yang dimilikinya. Desa itu terletak di tepi Sungai Mi, dan terendam sekitar tiga meter oleh aliran sungai, menurut Beijing News.

Para netizen menyebut bencana tersebut sebagai bencana buatan manusia, karena keputusan pihak berwenang terhadap waduk tersebut.

Seorang netizen bernama “Jaly” menulis bahwa di masa lalu, ketika kota mengalami kekeringan, pihak berwenang tidak akan mengalirkan air dari salah satu waduk, yang dinamai Qingzhou, kecuali warga membayar air. “Sekarang waduk sudah penuh, Anda hanya membiarkan Shouguang tahu dengan pengumuman bahwa Anda akan mengalirkan air? Apakah Anda tahu berapa banyak orang yang tinggal di desa-desa dekat sungai harus mengungsi di tengah malam?”

Pada 23 Agustus, pemerintah Kota Weifang, Shouguang berada di bawah pemerintahannya, mengadakan konferensi pers untuk menangani insiden tersebut.

Zhou Shouzong, direktur Kantor Pengendalian Banjir dan Pengendalian Kekeringan Weifang, membela keputusan tersebut, mengatakan bahwa perlu untuk mengalirkan air, menurut laporan oleh Hong Kong Economic Times.

“Jika kita tidak membuang air, itu akan menjadi ancaman serius terhadap keselamatan waduk, dan bahkan akan meningkatkan risiko bendungan runtuh. Itu akan mengancam kehidupan jutaan penduduk yang tinggal di daerah hilir sungai,” katanya.

Seorang staf departemen pemeliharaan air Shouguang mengatakan kepada Hong Kong Economic Times bahwa dia “tidak berpikir” bahwa tingkat air akan setinggi perkiraan mereka dan mencapai tingkat air yang begitu tinggi berkaitan dengan pelepasan air waduk.

Pada 23 Agustus, perairan telah surut secara signifikan, tetapi jalan-jalan dipenuhi lumpur.

Harga sayuran di Shouguang sudah naik sebagai akibat dari banjir, termasuk untuk ketumbar, bayam, dan mentimun, para netizen juga melaporkan. Mereka khawatir bahwa sejak Shouguang memasok banyak wilayah Tiongkok dengan sayuran, banjir baru-baru ini akan menyebabkan kenaikan harga di seluruh negeri. (ran)