Tiga Imigran Baru Iran Curi Rahasia Google, Terancam Hukuman hingga 150 Tahun Penjara

EtIndonesia. Departemen Kehakiman Amerika Serikat baru-baru ini mendakwa tiga insinyur Silicon Valley. Mereka dituduh mencuri rahasia dagang dari perusahaan teknologi kelas atas seperti Google, lalu mentransfer data rahasia tersebut ke Iran dan lokasi lain yang tidak berwenang. Ketiganya merupakan imigran baru asal Iran dan terancam hukuman maksimal hingga 150 tahun penjara.

Menurut pernyataan Departemen Kehakiman Amerika Serikat, ketiga terdakwa adalah:

  • Samaneh Ghandali, 41 tahun
  • Suaminya, Mohammad Javad Khosravi, 40 tahun
  • Adik perempuannya, Sorour Ghandali, 32 tahun

Dua bersaudari tersebut pernah bekerja di Google, sementara Khosravi bekerja di perusahaan teknologi lain.

Mereka didakwa atas 13 dakwaan “bersekongkol mencuri rahasia dagang” dan “percobaan pencurian rahasia dagang”. Jika terbukti bersalah, mereka dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 130 tahun. 

Selain itu, mereka juga didakwa “menghalangi proses peradilan” dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara. Para terdakwa juga berpotensi dikenai denda hingga 250.000 dolar AS.

Jaksa federal San Francisco, Craig Missakian, menyatakan dalam rilisnya:  “Kami akan terus berada di garis depan dalam melindungi inovasi Amerika Serikat, dan secara aktif menuntut mereka yang mencuri teknologi canggih dan sensitif demi keuntungan tidak sah atau untuk melayani negara-negara yang bermusuhan.” (Hui)

Reporter New Tang Dynasty Television: An Qi, Yu Wei — laporan gabungan

Kebahagiaan Tersembunyi dalam “Ketidaktahuan”

EtIndonesia. Ada dua orang yang tercebur ke laut. Yang satu memiliki penglihatan sangat tajam, sementara yang lain rabun jauh. Mereka berdua berjuang di tengah laut yang luas, dan tak lama kemudian mulai kehabisan tenaga.

Tiba-tiba, orang yang penglihatannya tajam melihat sesuatu di kejauhan—sebuah perahu kecil yang tampak mengapung ke arah mereka. Orang yang rabun pun samar-samar melihat bayangan itu.

Mereka pun kembali bersemangat dan berenang sekuat tenaga menuju “perahu” tersebut.

Namun di tengah perjalanan, orang yang bermata tajam berhenti. Dia sudah melihat dengan jelas bahwa itu bukanlah perahu, melainkan hanya sepotong kayu lapuk.

Sementara itu, si rabun tidak mengetahui kenyataan tersebut. Dia terus berenang dengan sisa tenaganya. Ketika akhirnya dia sampai dan menyadari bahwa benda itu hanyalah kayu lapuk, ternyata jaraknya ke tepi pantai sudah tidak jauh lagi.

Orang yang melihat terlalu jelas itu akhirnya kehilangan nyawanya di air. Sedangkan orang yang rabun justru selamat dan memperoleh kehidupan baru.

Ada pula dua orang pasien kanker.

Yang satu pendengarannya sangat tajam. Dia tanpa sengaja mendengar percakapan dokter yang mengatakan bahwa mereka mungkin hanya memiliki waktu tiga bulan untuk hidup.

Sejak saat itu, dia murung setiap hari. Belum sampai tiga bulan, dia sudah meninggal.

Sementara pasien yang lain pendengarannya kurang baik. Jangankan menguping percakapan dokter, bahkan jika diberi tahu secara langsung pun dia belum tentu mendengar dengan jelas.

Aneh tapi nyata, dia tidak hanya melewati tiga bulan itu. Hingga dua tahun kemudian, dia masih hidup dengan baik.

Di Amerika Serikat, ada dua perusahaan dengan ukuran yang sama. Presidennya masing-masing bernama Robert dan Steve.

Robert adalah orang yang sangat pandai berhitung dan merencanakan. Dia selalu melihat jauh ke depan. Karena telah memprediksi krisis keuangan Amerika tahun 2008, dia memutuskan untuk membubarkan perusahaannya lebih awal. Setidaknya, dengan begitu dia dan para karyawannya masih memiliki sisa dana untuk bertahan hidup. Jika tidak, menurut perhitungannya, mereka pasti akan terlilit utang.

Dia menganalisis bahwa pada tahun 2008, sekitar 30% perusahaan di Amerika akan bangkrut. Dan perusahaan kecil seperti miliknya, hampir pasti termasuk dalam 30% tersebut.

Sebaliknya, Steve bukanlah orang yang pandai berhitung. Bahkan banyak yang menganggapnya agak naif.

Dengan polos dia percaya bahwa masa depan tidak pernah bisa diprediksi. Sekalipun rencana paling sempurna diletakkan di hadapannya, dia tetap tidak sepenuhnya percaya, karena masa depan belum benar-benar terjadi.

Dia hanya berpikir sederhana: selama perusahaannya masih bisa bertahan satu hari lagi, maka dia akan terus mempertahankannya.

Hasilnya? Perusahaannya justru secara ajaib berhasil melewati badai krisis keuangan global tersebut.

Pada akhirnya, orang yang terlalu pandai menghitung membubarkan perusahaannya. Sedangkan orang yang tidak terlalu pandai berhitung justru membuat perusahaannya berkembang lebih pesat dari sebelumnya.

Dalam hidup, banyak hal yang tidak kita ketahui justru lebih baik daripada yang kita ketahui. Kadang, tidak terlalu peka lebih baik daripada terlalu peka. Tidak terlalu cerdas dalam perhitungan justru lebih baik daripada terlalu cermat.

Inilah yang sering disebut orang sebagai “indahnya sedikit kebodohan”.

Sesungguhnya, hidup memang tidak pernah sepenuhnya jelas. Banyak kebahagiaan dan sukacita tersembunyi dalam ruang-ruang ketidaktahuan itu. Begitu kita terlalu sadar dan terlalu jelas melihat segalanya, bisa jadi kebahagiaan pun ikut menghilang seperti asap yang tertiup angin.

Hikmah Cerita

Terlalu melihat segala sesuatu dengan sangat jelas dan sangat tajam, dari sudut tertentu, justru bisa membuat kita kehilangan kesempatan—bahkan kehilangan rasa bahagia.

Kadang, tidak terlalu memahami sisi gelap dunia justru merupakan bentuk kebahagiaan tersendiri.

Namun tentu saja, hidup tidak sesederhana itu. Banyak pula contoh di mana pandangan jauh ke depan dan kejernihan berpikir justru mencegah bencana dan kerugian.

Tetapi ada satu hal yang patut kita renungkan: “Masa depan tidak pernah bisa sepenuhnya diprediksi. Bahkan rencana paling sempurna pun belum tentu menjadi kenyataan, karena masa depan belum benar-benar datang.”

Masa depan adalah sesuatu yang tak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Mereka yang berani mengambil risiko mungkin akan menuai hasil yang lebih besar—tetapi juga bisa saja bersinar sesaat seperti kembang api, lalu lenyap ditelan zaman.

Maka mungkin, kebijaksanaan bukan tentang menjadi terlalu cerdas atau terlalu polos. Melainkan tentang tahu kapan harus melihat dengan jelas, dan kapan cukup membiarkan hidup berjalan apa adanya.(jhn/yn)

Penangkapan Zhang Youxia : Tuduhan Berubah? Dikabarkan dari Masalah Politik Menjadi Jual-Beli Jabatan

EtIndonesia. Kasus Zhang Youxia terus berkembang. Menurut laporan The Epoch Times, sumber yang dekat dengan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengungkapkan bahwa pihak berwenang berencana mengalihkan dasar penuntutan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli ke arah “jual-beli jabatan”.

Dibandingkan dengan pernyataan resmi sebelumnya—yakni “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat”—pendekatan ini pada dasarnya mengubah persoalan politik menjadi perkara pidana. Secara prosedural, jalur ini dinilai lebih mudah ditempuh, yang berarti pertarungan kekuasaan sesungguhnya dikemas ulang sebagai isu pemberantasan korupsi.

Sejak pengumuman resmi bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli menjalani penyelidikan, telah genap sebulan berlalu. Hingga kini, belum ada informasi publik yang berwenang untuk mengonfirmasi apakah Zhang Youxia telah ditangkap secara resmi. Namun, beragam versi kabar telah beredar di kalangan publik dan media luar negeri.

Menurut sumber tersebut, fokus penanganan tengah bergeser dari “penetapan politik” ke “jalur pidana”. Di satu sisi, keduanya dituduh selama lebih dari satu dekade memanfaatkan kekuasaan dan pengaruh pribadi untuk menjual jabatan demi keuntungan finansial, melibatkan beberapa matra militer dengan nilai uang yang sangat besar. Di sisi lain, praktik “jual-beli jabatan” itu dinaikkan menjadi isu “berkelompok/berfaksi”—sebuah masalah organisasi dan jaringan kekuasaan yang paling sensitif dalam internal PKT.

Sumber itu menambahkan, otoritas berencana menjadikan “jual-beli jabatan” sebagai tuduhan utama, alih-alih secara terbuka menekankan dakwaan “merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat”. Penanganan berlapis ini pada praktiknya memisahkan pembersihan politik dari proses yudisial.

Sebagai perbandingan, pada akhir Januari 2026, PLA Daily pernah memuat tajuk rencana yang secara terbuka menyebut Zhang Youxia dan Liu Zhenli “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat”, serta menekankan perlunya “membersihkan akar persoalan dari sisi politik”. 

Dalam konteks PKT, tuduhan “merusak sistem ketua” jelas jauh lebih berat daripada pelanggaran disiplin atau hukum biasa—ia berada pada level politik yang sangat tinggi. Kini, jika garis utama dakwaan dialihkan ke “jual-beli jabatan dan suap”, maka masalah politik itu efektif dipindahkan ke jalur antikorupsi.

Cendekiawan independen Tiongkok Huang Bin menilai bahwa praktik jual-beli jabatan bukan hal baru di dalam sistem. Membeli pangkat di militer lalu menjualnya kembali untuk membangun jaringan kepentingan bukan rahasia. Jika masalah seperti itu sudah lama ada namun baru ditangani secara terpusat pada waktu ini, katanya, jelas menunjukkan pertarungan kekuasaan. Ia juga mendengar bahwa otoritas memang cenderung menangani Zhang Youxia dari sudut korupsi. Bagi pejabat tinggi, bentuk “korupsi” yang paling utama ya jual-beli jabatan—tak banyak “komoditas” lain yang bisa dijual.

Seorang pengacara bermarga Zhang dari Guangdong berpendapat, hukum pidana Tiongkok telah lama menghapus kejahatan politik seperti “kejahatan kontra-revolusioner”. Karena itu, penanganan tokoh politik kerap memakai tuduhan non-politik seperti suap—standar pembuktiannya jelas, ruang operasinya luas, dan relatif mudah diputus. Ia mencontohkan kasus Bo Xilai, yang diputus bersalah berdasarkan dakwaan suap puluhan juta yuan.

Akademisi militer asal Xiamen Liu Quan yang memahami penelusuran balik dan jaringan relasi di militer, menambahkan bahwa Sidang Rakyat Nasional akan segera digelar. 

Kasus Zhang Youxia–Liu Zhenli melibatkan jejaring luas; tidak realistis merapikan seluruh jaringan itu dalam waktu singkat. Penelusuran balik (retrospective probe) sulit didorong karena promosi berlangsung berlapis-lapis—sekali ditarik ke bawah, efeknya menyentuh banyak pihak. Pada akhirnya, penyelidikan jaringan besar bisa saja menguap, tetapi tokoh kunci tidak akan mudah dilepas. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Penjaga Pantai Kuba Tembak Mati 4 Orang di Kapal Cepat Berplat Nomor AS 

EtIndonesia. Penjaga pantai Kuba mengatakan pada hari Rabu (25/2) bahwa mereka menembak mati empat orang dan melukai enam lainnya yang bepergian dengan kapal cepat berplat nomor AS selama baku tembak di dekat pantainya, memicu sumber ketegangan baru dengan Washington.

Havana tidak mengungkapkan kewarganegaraan para penumpang di kapal berplat nomor Florida tersebut maupun alasan kapal itu mendekati pulau yang dikelola negara komunis tersebut, yang berada di bawah sanksi ketat AS.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan Washington sedang mencari fakta sendiri tentang penembakan tersebut dan akan “menanggapi sesuai dengan itu.”

“Kami tidak akan mendasarkan kesimpulan kami pada apa yang telah mereka (Kuba) katakan kepada kami, dan saya sangat yakin bahwa kami akan mengetahui cerita lengkap tentang apa yang terjadi di sini,” kata Rubio kepada wartawan saat melakukan perjalanan ke negara Karibia, St. Kitts dan Nevis.

“Saat kami mengumpulkan lebih banyak informasi, maka kami akan siap untuk menanggapi sesuai dengan itu,” katanya.

Di Washington, Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan Gedung Putih sedang “memantau” situasi tersebut dan “semoga tidak seburuk yang kita khawatirkan.”

Vance menambahkan bahwa dia telah diberi pengarahan oleh Rubio, yang sedang menghadiri KTT Komunitas Karibia, tetapi “kita tidak mengetahui banyak detail.”

Jaksa Agung Florida, yang terletak hanya 100 mil (160 kilometer) dari Kuba di seberang Selat Florida, memerintahkan penyelidikan atas pembunuhan tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Kuba mengatakan penjaga pantai menemukan kapal AS “ilegal”, nomor registrasi FL7726SH, satu mil laut dari Pulau Cayo Falcones di lepas pantai utara Kuba.

Saat kapal penjaga pantai mendekat, “tembakan dilepaskan dari perahu cepat ilegal,” melukai komandan kapal Kuba, kata kementerian tersebut.

“Akibat bentrokan tersebut, pada saat laporan ini dibuat, di pihak asing, empat penyerang tewas dan enam lainnya terluka,” kata kementerian tersebut, menambahkan bahwa para korban luka telah dievakuasi dan menerima bantuan medis.

Kementerian tersebut tidak menyebutkan asal pasti kapal tersebut.

Pemerintah Kuba sering melaporkan pelanggaran oleh kapal cepat dari Amerika Serikat ke perairan teritorialnya.

Kementerian dalam negeri mengatakan masih menyelidiki insiden tersebut dan tetap berkomitmen untuk melindungi perairan Kuba.

Penyelundupan manusia

Insiden pelanggaran sering terkait dengan penyelundupan manusia ke Amerika Serikat atau perdagangan narkoba, dan termasuk pengejaran, baku tembak, dan serangan bersenjata terhadap penjaga perbatasan.

Kekurangan makanan dan obat-obatan serta pemadaman listrik harian mendorong eksodus dari pulau itu dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak yang menuju ke Florida selatan, yang telah menerima gelombang migrasi Kuba sejak tahun 1960-an.

Penembakan pada hari Rabu terjadi ketika Washington melonggarkan pengepungan minyak virtual terhadap pulau itu yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Januari setelah AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro dari Venezuela.

Sebelum penggulingan Maduro oleh pasukan AS pada 3 Januari, Kuba bergantung pada Venezuela, yang dulunya merupakan produsen minyak utama, untuk sekitar setengah dari kebutuhan bahan bakarnya.

Menghadapi protes dari para pemimpin Karibia, yang khawatir bahwa kekurangan minyak bagi 9,6 juta warga Kuba akan menyebabkan perekonomian runtuh, Washington mengatakan akan mengizinkan pengiriman minyak Venezuela untuk “penggunaan komersial dan kemanusiaan.”

Pengumuman itu disampaikan selama KTT negara-negara Karibia yang dihadiri oleh Rubio, seorang Kuba-Amerika yang telah menghabiskan karirnya berharap untuk menggulingkan pemerintahan Havana.

Departemen Keuangan mengatakan minyak Venezuela harus melalui bisnis swasta dan bukan pemerintah Kuba atau aparat militer yang mengendalikan sebagian besar perekonomian pulau itu.

Blokade minyak AS yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan telah membawa ekonomi Kuba yang sudah rapuh, yang telah berada di bawah embargo perdagangan AS sejak tak lama setelah revolusi Fidel Castro tahun 1959, ke ambang kehancuran.

Pada hari Selasa, Meksiko mengirimkan dua kapal militer yang membawa hampir 2.200 ton bantuan ke pulau itu — pengiriman bantuan kedua dalam waktu kurang dari sebulan.

Kanada juga mengumumkan bantuan sebesar 5,8 juta dolar pada hari Rabu. (yn)

Jika Kamu Masih Hidup, Ingatlah Bahwa Ibu Mencintaimu

EtIndonesia. Ini adalah salah satu kisah paling mengharukan dari gempa bumi yang baru-baru ini terjadi di Tiongkok daratan.

Saat tim penyelamat menemukan dirinya, dia sudah meninggal dunia. Dia tewas tertimpa bangunan yang runtuh. Dari celah-celah puing, terlihat posisi tubuhnya saat meninggal: kedua lututnya berlutut, bagian atas tubuhnya membungkuk ke depan, kedua tangannya bertumpu ke tanah menopang tubuhnya. Posisi itu mirip seperti orang zaman dahulu yang sedang melakukan sembah sujud. Namun tubuhnya telah berubah bentuk karena tertindih reruntuhan, tampak memilukan dan sedikit menggetarkan hati.

Petugas penyelamat menyelusupkan tangan melalui celah puing-puing untuk memastikan kondisinya. Dia memang sudah tiada. Mereka berteriak beberapa kali ke arah dalam reruntuhan, memukul-mukul batu bata dengan linggis, berharap ada jawaban. Namun tak ada satu pun suara balasan.

Ketika tim mulai bergerak menuju bangunan berikutnya, ketua tim penyelamat tiba-tiba berbalik dan berlari kembali sambil berteriak: “Cepat ke sini!”

Dia kembali ke tubuh wanita itu dan dengan susah payah memasukkan tangannya ke bawah tubuh sang ibu, meraba-raba sesuatu. 

Beberapa detik kemudian dia berteriak lantang: “Ada seseorang! Ada bayi! Masih hidup!”

Dengan usaha penuh kehati-hatian, para penyelamat membersihkan puing-puing yang menutupi tubuh sang ibu. Di bawah tubuhnya, terbaring seorang bayi kecil yang dibungkus selimut merah bermotif bunga kuning. Usianya kira-kira tiga atau empat bulan. Karena tubuh ibunya melindunginya sepenuhnya, bayi itu tidak mengalami luka sedikit pun.

Saat digendong keluar, bayi itu masih tertidur lelap. Wajahnya yang tenang dan polos membuat semua orang yang berada di lokasi merasakan kehangatan yang luar biasa di tengah suasana duka.

Dokter yang ikut dalam tim segera membuka selimut untuk melakukan pemeriksaan. Saat itulah dia menemukan sebuah ponsel yang terselip di dalam selimut bayi. Secara refleks dia melihat layar ponsel tersebut.

Di sana tertulis sebuah pesan yang sudah disiapkan:“Anakku tersayang, jika kamu masih hidup, ingatlah bahwa Ibu mencintaimu.”

Dokter yang sudah terbiasa menyaksikan perpisahan hidup dan mati pun tak mampu menahan air mata pada saat itu. Ponsel itu kemudian diteruskan dari tangan ke tangan. Setiap orang yang membaca pesan tersebut tak kuasa menahan tangis.

Ketika seorang teman menceritakan kisah ini kepadaku, aku—seorang pria—menangis. Rekan-rekan kerjaku pun ikut menangis.

Renungan

Cinta orangtua adalah bentuk pengorbanan paling tulus di dunia. Mereka rela menanggung penderitaan sendiri demi memastikan anaknya selamat. Hanya dengan satu kalimat singkat, sang ibu telah menyampaikan cinta dan ketidakrelaannya berpisah yang begitu dalam.

Kelak ketika sang anak tumbuh dewasa dan membaca kisah ini, dia pasti akan merasakan seolah-olah ibunya selalu berada di sisinya—menjaga dan mencintainya tanpa batas.(jhn/yn)

Diplomasi di Ambang Kegagalan: Armada Kelima Bergerak, Khamenei Menghilang

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial pada pekan terakhir Februari 2026. Di satu sisi, jalur diplomasi masih dibuka melalui perundingan nuklir di Jenewa. Namun di sisi lain, pengerahan militer dan retorika keras dari Washington menunjukkan bahwa situasi berada di ambang eskalasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 23 Februari 2026 kembali menegaskan sikap tegas Washington terhadap program nuklir Iran. Dalam pidatonya, dia menyatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat memiliki “garis merah” yang tidak dapat dilanggar: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang putaran ketiga perundingan nuklir AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss.

Perundingan Jenewa: Tawaran Kompromi atau Jalan Buntu?

Menjelang perundingan tersebut, Iran mengklaim telah menyelesaikan proposal baru yang disebut telah ditandatangani langsung oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Proposal ini, menurut sejumlah sumber diplomatik regional, memuat beberapa konsesi signifikan.

Berdasarkan bocoran diplomat Arab yang mengetahui detail pembicaraan, Iran disebut bersedia:

  • Menurunkan tingkat pengayaan uranium dari 60 persen menjadi sekitar 3,6 persen, mendekati batas yang disepakati dalam Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA).
  • Menangguhkan kegiatan pengayaan uranium untuk jangka waktu tujuh tahun.

Namun, Washington dilaporkan menginginkan komitmen yang lebih panjang dan lebih ketat, yakni moratorium minimal sepuluh tahun, serta perjanjian yang tidak memiliki batas waktu otomatis (sunset clause).

Presiden Trump menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama. Meski demikian, dia juga secara terbuka menyatakan bahwa opsi militer tetap tersedia apabila pembicaraan gagal membuahkan hasil.

Wakil Presiden JD Vance bahkan menyebut perundingan kali ini sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran untuk menghindari konsekuensi yang lebih serius.

Sinyal Militer: Armada Kelima Tinggalkan Pelabuhan

Di tengah upaya diplomasi, indikator militer menunjukkan kesiapsiagaan yang tidak biasa.

Citra satelit yang beredar pada 24 Februari 2026 memperlihatkan kapal-kapal utama Armada Kelima Angkatan Laut AS yang sebelumnya berlabuh di Bahrain telah meninggalkan pelabuhan. Pergerakan ini memicu berbagai spekulasi, meskipun Pentagon belum memberikan pernyataan resmi mengenai tujuan operasi tersebut.

Armada Kelima bertanggung jawab atas wilayah Teluk Persia, Laut Arab, dan sebagian Samudra Hindia—kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan Iran. Dalam konteks diplomasi yang tegang, pergerakan armada ini dinilai sebagai sinyal tekanan strategis.

Sementara itu, sumber internal di Teheran menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei berada di kompleks terowongan bawah tanah yang dirancang untuk perlindungan darurat. Informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun mencerminkan tingkat kewaspadaan tinggi di dalam negeri Iran.

Insiden Laut Karibia: Baku Tembak Kuba–AS, 25 Februari 2026

Ketegangan internasional tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Pada 25 Februari 2026, insiden bersenjata terjadi di perairan dekat Kuba.

Penjaga pantai Kuba dilaporkan menembaki sebuah kapal cepat yang terdaftar di negara bagian Florida, Amerika Serikat. Akibat insiden tersebut:

  • Empat orang dilaporkan tewas
  • Enam lainnya mengalami luka-luka

Pemerintah Kuba menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan setelah penumpang kapal lebih dulu melepaskan tembakan ke arah aparat. Namun hingga kini, detail kronologi kejadian masih dalam tahap penyelidikan.

Anggota DPR dari Florida, Carlos Giménez, segera mendesak investigasi menyeluruh. Dia meminta otoritas federal memastikan apakah korban merupakan warga negara Amerika Serikat atau penduduk tetap sah.

Insiden ini terjadi bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio ke kawasan Karibia pada hari yang sama. Waktu kejadian yang beririsan dengan agenda diplomatik tersebut memunculkan spekulasi bahwa peristiwa ini dapat memperkeruh situasi regional.

Dua Front Ketegangan, Satu Pekan Penentuan

Periode 23–26 Februari 2026 menjadi titik kritis dalam dinamika geopolitik global.

Di Jenewa, masa depan perundingan nuklir AS–Iran berada di ujung tanduk. Kegagalan diplomasi berpotensi membuka babak baru konfrontasi di Timur Tengah, dengan implikasi besar terhadap stabilitas kawasan, harga energi global, dan keamanan internasional.

Di sisi lain, insiden di Karibia menambah kompleksitas hubungan Washington dengan negara-negara di belahan barat.

Dalam situasi seperti ini, dunia menanti apakah jalur diplomasi masih mampu meredam eskalasi—atau justru hanya menjadi jeda singkat sebelum babak ketegangan berikutnya dimulai.

Beredar Artikel Daring: Robot Semakin Menyerupai Manusia, Sementara Rakyat Biasa Tiongkok Semakin Menyerupai Hewan Beban

Di Gala Festival Musim Semi CCTV Partai Komunis Tiongkok (PKT), robot-robot tampil menari dan melakukan salto dalam jumlah besar. Konon, satu kursi robot di panggung Gala saja bisa bernilai ratusan juta yuan. Namun di saat yang sama, karena kondisi ekonomi memburuk, rakyat menghadapi kesulitan hidup—terutama banyak buruh migran yang bekerja keras sepanjang tahun tetapi tidak mampu mendapatkan kembali upah mereka. 

Seorang netizen Tiongkok daratan menulis artikel satir: robot makin mirip manusia, sementara manusia sungguhan makin berubah menjadi “niu ma” (sapi-kuda, istilah slang untuk pekerja yang dieksploitasi).

EtIndonesia. Pada 16 Februari, akun publik WeChat bernama Li Yuchen menerbitkan artikel berjudul “Robot Gala Sekeren Apa pun, Apa Hubungannya dengan Kami Para ‘Sapi-Kuda’?” Artikel itu menyebutkan bahwa pada malam Tahun Baru Imlek 2026, empat perusahaan robot tampil berkelompok di Gala CCTV. Jika kondisi robot di Gala dibandingkan dengan nasib orang biasa, akan terlihat kontras berikut:

  • Robot melakukan salto, presisi sendi hingga tingkat milimeter; kurir antar-makanan terlambat beberapa menit saja langsung dipotong upah.
  • Robot tidak takut dingin, tetap bekerja di cuaca beku; para lansia di desa-desa Hebei tidak mampu menyalakan pemanas saat musim dingin.
  • Robot bisa diperjualbelikan secara bebas dengan harga jelas; perempuan di sebuah kabupaten X diperlakukan seperti “perempuan berantai” atau “ditampung”.
  • Robot rusak, ada insinyur datang memperbaiki; paru-paru penambang yang rusak akibat penyakit paru (pneumokoniosis), tak ada yang “memperbaiki”.
  • Robot memiliki sertifikat kepemilikan, buku perawatan, dan layanan purna jual; 84 juta pekerja dalam bentuk pekerjaan baru bahkan menganggap satu kontrak kerja sebagai kemewahan.

Artikel tersebut menyatakan bahwa secara nasional ada lebih dari 84 juta pekerja dalam bentuk pekerjaan baru—kurir antar-makanan, kurir paket, dan pengemudi transportasi daring. Banyak di antara mereka terpapar risiko lalu lintas dan keausan fisik dalam jangka panjang. Sistem hanya peduli apakah mereka terlambat atau tidak. 

Menurut pengakuan para kurir, keterlambatan beberapa menit saja berujung potongan upah; satu keluhan pelanggan bisa memotong lebih besar. Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, respons pertama platform adalah memastikan apakah pesanan sudah terkirim.

Artikel itu mengkritik klaim pemerintah soal penanganan “tunggakan upah”: satu slot robot Gala bernilai ratusan juta yuan, sementara tunggakan upah buruh migran—meski ada operasi khusus setiap tahun—tak pernah benar-benar terselesaikan.

Artikel tersebut mempertanyakan: setiap malam Tahun Baru Imlek, Gala menampilkan kepada Anda, “Betapa hebatnya kami”—5G, AI, komputasi kuantum, robot humanoid, teknologi inti yang diklaim mandiri dan terkendali. Tetapi, “kemajuan-kemajuan ini, apa hubungannya dengan Anda?”

Di bagian penutup, artikel menulis:  “Robot makin lincah, para pekerja makin terperangkap dalam algoritma. Teknologi makin maju, nasib orang biasa justru makin primitif. Di atas panggung, manusia dan mesin menari bersama; di bawah panggung, manusia bahkan kalah dari mesin.”

“Pada Gala 2026, robot makin mirip manusia—bisa menari, berbicara, merasakan emosi, dan dirawat dengan baik. Lalu manusia? Bisa berlari, bisa mengangkut beban; rusak tinggal diganti, tak ada yang peduli. Jadi, sebenarnya robot yang menjadi manusia, atau manusianya yang berubah menjadi ‘sapi-kuda’?” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Formasi Jet Tempur AS Memasuki Laut Kuning, Mendekati Zona Identifikasi Pertahanan Udara Tiongkok 

Pada hari kedua Tahun Baru Imlek, belasan jet tempur militer Amerika Serikat dalam satu formasi secara tidak biasa terbang ke Laut Kuning, mendekati zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Partai Komunis Tiongkok (PKT), memicu ketegangan dan saling berhadapan antara pesawat AS dan Tiongkok. Sejumlah analis menilai, lokasi kejadian yang relatif dekat dengan Beijing mengindikasikan langkah tekanan maksimal dari pihak AS terhadap PKT.

EtIndonesia. Pada 24 Februari, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT Mao Ning menanggapi pertanyaan media terkait insiden saling berhadapan pada 18 Februari, dengan menyatakan bahwa militer Tiongkok telah “memantau dan merespons sepanjang waktu” aktivitas pesawat militer AS. Pernyataan tersebut kembali memicu perhatian publik terhadap insiden ini.

Sebelumnya, media Korea Selatan mengutip sumber militer setempat yang melaporkan bahwa pada 18 Februari (hari kedua Tahun Baru Imlek Tiongkok), lebih dari sepuluh jet tempur F-16 milik pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan lepas landas dari Pangkalan Udara Osan di Kota Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi.

Pesawat-pesawat tersebut melakukan latihan tunggal di wilayah udara internasional di atas Laut Kuning, dan sempat memasuki area di antara KADIZ (Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korea Selatan) dan CADIZ (zona identifikasi versi PKT), yakni wilayah yang tidak tumpang tindih antara kedua zona tersebut.

Ketika jet tempur AS mendekati zona identifikasi PKT, Angkatan Udara Tiongkok juga mengerahkan pesawat tempur. Kedua pihak sempat berhadapan, namun tidak ada pesawat yang memasuki zona identifikasi pihak lawan. Ketegangan ini berlangsung dari 18 Februari hingga 19 Februari dini hari.

Media Korea Selatan menyebutkan bahwa latihan tunggal pasukan AS di dekat zona identifikasi PKT tergolong jarang, dan maksud untuk menekan Beijing dinilai sangat jelas.

Media Partai PKT, Global Times, pada 20 Februari mengutip analisis pakar militer Song Zhongping yang menyatakan bahwa berdasarkan informasi dari Korea Selatan dan Tiongkok, aktivitas kali ini berlangsung di perairan barat Semenanjung Korea, yakni wilayah Laut Kuning, tempat masing-masing pihak menetapkan zona identifikasi pertahanan udara.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya pasukan AS jarang melakukan aktivitas militer di wilayah tersebut. Biasanya, tujuan kegiatan semacam ini ada dua: pertama, pengintaian dan pemantauan jarak dekat; kedua, memberikan tekanan strategis untuk mempertahankan efek deterensi militer.

Pembawa acara dan komentator politik Jiang Feng juga menyoroti dalam program medianya bahwa belasan jet tempur AS kali ini mendekati kawasan inti Tiongkok. Jika rudal diluncurkan, katanya, hanya butuh beberapa menit untuk mencapai Beijing. Hal ini jelas merupakan “tekanan maksimal” terhadap PKT dengan efek intimidasi yang kuat. Ia memperkirakan Zhongnanhai akan sangat terkejut, sehingga memicu respons tegang pesawat AS–Tiongkok.

PKT pada 2013 telah menetapkan dan mengumumkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara Laut Tiongkok Timur, namun karena cakupannya terlalu luas dan tumpang tindih dengan zona milik Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, kebijakan tersebut menuai banyak protes. Hingga kini, PKT belum secara terbuka mengumumkan penetapan zona identifikasi pertahanan udara di Laut Kuning maupun Laut Tiongkok  Selatan.

Berbatasan langsung dengan Laut Kuning, Laut Bohai merupakan perairan internal Tiongkok. Jika benar seperti yang disebut Global Times bahwa PKT telah menetapkan zona identifikasi di wilayah Laut Kuning di sisi barat Semenanjung Korea, maka area udara yang tidak tumpang tindih antara zona Korea Selatan dan Tiongkok di atas Laut Kuning kemungkinan merupakan “garis terdepan” bagi jet tempur AS untuk mendekati Beijing.

Menurut praktik umum, setiap pesawat yang memasuki zona identifikasi pertahanan udara suatu negara wajib melapor terlebih dahulu kepada otoritas negara terkait. (Hui)

Viral “Angsa Bergoyang” Sambil Ikut Irama Musik, Ada yang Menawar Lebih dari Rp 20 Juta tapi Ditolak 

Baru-baru ini, seekor “angsa bergoyang” di Anhui, Tiongkok  menjadi viral. Angsa tersebut bisa mengayunkan leher ke kiri dan kanan mengikuti irama musik untuk menghindari lemparan gelang dari pengunjung. Ada orang yang bersedia membayar 10.000 yuan atau Rp 24 juta untuk membeli angsa itu, namun ditolak oleh pemilik lapak. Warganet pun bercanda: “Ini bukan angsa, ini pohon uang berjalan.”

EtIndonesia. Video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa selama perayaan Tahun Baru Imlek, sebuah lapak permainan lempar gelang untuk mendapatkan angsa di Anhui menarik perhatian banyak wisatawan karena seekor angsa ‘bergoyang mengikuti musik’.

Terlihat angsa besar itu duduk di atas bangku, menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan seiring alunan musik, dengan sangat tepat menghindari gelang yang dilempar. Di dada angsa tersebut tergantung sebuah papan bertuliskan:
“Jika berhasil mengait angsa, hadiah 100 yuan per lemparan. Angsa tidak diberikan. Terima kasih atas kerja samanya!”

Video angsa “bergoyang mengikuti musik” ini langsung meledak di dunia maya. Angsa tersebut pun menjadi angsa selebritas internet, dan para netizen ramai-ramai bercanda:
“Ini bukan angsa, ini benar-benar mesin pencetak uang.”

“Angsa penggeleng kepala: tanpa aku, lapak ini sudah bangkrut sejak lama.”

Seorang blogger Tiongkok bernama 虎哥別鬧 (Hu Ge, jangan ribut) tahun lalu juga pernah bertemu seekor “angsa bergoyang”. Saat itu, pemilik lapak menantangnya:
“Jangan banyak omong. Kalau hari ini kamu bisa mengait angsa ini, seluruh lapak ini aku serahkan padamu.”

Hu Ge langsung menerima tantangan dan membeli gelang untuk mencoba mengait angsa tersebut. Tak disangka, si pemilik lapak dengan santai berkata, “Tunggu sebentar, belum mulai. Saya putar musik dulu.”

“Putar musik?” Hu Ge sempat bingung. Begitu lagu 讓我們一起搖擺/mari kita bergoyang bersama diputar, angsa yang tadinya duduk diam di kursi langsung mulai menggelengkan lehernya mengikuti irama, tampak sangat menikmati musik itu.

Hu Ge pun dibuat tak berkutik—bagaimana cara mengaitnya?
“Angsa bermusik ini benar-benar sulit dihadapi!”

Di kolom komentar video Hu Ge, banyak netizen ikut bercanda:
“Begitu musik mulai dan kepala angsa ikut bergoyang, aku langsung tertawa.”
“Ini bukan angsa, ini partner bisnis.”

Seorang blogger lain juga pernah bertemu angsa bergoyang yang lebih kocak lagi. Angsa itu bukan hanya menggelengkan kepala untuk menghindari gelang, tetapi juga menunduk pura-pura mati, lalu melempar gelang yang sudah mengenai tubuhnya. Sang blogger pun tak berdaya dan mengeluh, “Seumur hidup juga tidak akan bisa mengaitnya!”

Menurut penuturan Hu Ge, sebagian angsa memang secara alami bisa menggelengkan kepala—satu dari ribuan atau bahkan puluhan ribu ekor. Ada pula yang merupakan “angsa bergoyang hasil pelatihan”. Sejak kecil, angsa-angsa ini dibiasakan mendengar musik atau digoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan tangan, hingga akhirnya membentuk kebiasaan.

Hu Ge juga mengatakan bahwa ada pedagang yang membeli angsa dari pelatih khusus. Untuk angsa yang sudah terlatih seperti ini, meskipun ada orang yang bersedia membayar beberapa ribu yuan, bahkan hingga 10.000 yuan, pemilik lapak tetap tidak mau menjualnya. Alasannya, nilai ekonomi potensial dari seekor “angsa bergoyang” jauh melebihi 10.000 yuan.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor penanggung jawab: Wen Hui

Letakkan Samudra di Dalam Hatimu

EtIndonesia. Suatu hari, sebuah danau memandang ke arah lautan yang terbentang tidak jauh darinya. 

Dengan nada penasaran dia bertanya: “Wahai, saudaraku! Seberapa luas sebenarnya dirimu?”

Lautan hanya tersenyum, tanpa menjawab.

“Apakah luasmu setengah dari luas diriku?” tanya danau lagi.

Lautan tetap tersenyum, lalu mengangguk pelan.

Danau itu kembali bertanya: “Sebenarnya seberapa besar kamu? Jangan-jangan luasmu sekitar tujuh puluh persen dari luas diriku? Kalau begitu, berarti kamu memang cukup besar juga ya!”

Lautan tetap tersenyum dengan rendah hati.

Danau mulai gelisah, lalu berkata: “Hei! Melihat sikapmu yang begitu percaya diri… jangan-jangan kamu… lebih besar dariku?”

Saat itu, sungai yang mengalir di dekat mereka angkat bicara.

“Lautan itu seratus kali lebih luas darimu!”

“Apa?! Tidak mungkin! Tidak mungkin!” seru danau terkejut. Dia terdiam, tak mampu berkata-kata, hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Sungai pun melanjutkan dengan tegas: “Tidak ada yang mustahil. Setiap kali kami melewatimu dan ingin singgah sebentar, kamu selalu menolak. Tapi lihatlah lautan—ratusan sungai, bahkan ribuan anak sungai datang kepadanya, dan semuanya diterima dengan terbuka. Wajar saja jika dia menjadi begitu luas!”

Akhirnya danau itu mengerti.

Ternyata, luasnya hati seseoranglah yang menentukan besarnya pencapaiannya.

Dalam kehidupan yang penuh dengan interaksi dan hubungan yang rumit, sudahkah kita menempatkan “sebuah samudra” di dalam hati kita?

Mari kita belajar:

Belajar menerima pendapat orang lain, tanpa menolaknya hanya karena rasa sombong atau justru karena rendah diri.

Belajar menerima perbedaan karakter orang lain. Kita mampu menjalin persahabatan dengan mereka yang berbudi dan berbakat, sekaligus membimbing mereka yang tersesat agar kembali ke jalan yang benar.

Belajar menerima kritik. Kita bisa mendengarkan pujian yang menyenangkan, tetapi juga berani menerima kata-kata yang terasa pahit di telinga.

Belajar untuk tidak membentuk kelompok-kelompok eksklusif. Kita boleh memiliki sahabat yang sehati dan sejalan, tetapi jangan sampai terjebak dalam persekongkolan demi kepentingan pribadi.

Seseorang yang mampu bersikap “menerima dalam segala hal” ibarat memiliki sebuah harta karun. Dia mampu menghimpun berbagai gagasan, mengumpulkan dukungan, membangun reputasi, dan memperluas wawasannya.

Jika dengan bersikap demikian orang lain merasa nyaman bersama kita, dan pada saat yang sama kualitas diri kita pun semakin meningkat, bukankah itu sesuatu yang patut diperjuangkan?

Letakkanlah sebuah samudra di dalam hatimu.

Dengan dada yang lapang dan jiwa yang luas dalam memperlakukan sesama, kamu pun bisa menjadi pribadi besar—meski tetap hidup sebagai orang yang sederhana.

Hikmah Cerita

Kerendahan hati dan sikap toleran adalah bentuk kebijaksanaan. Ia membuat seseorang tidak mudah bersaing secara egois, tidak serakah, mampu bersikap bijak dalam bergaul, serta memiliki pandangan yang jauh lebih luas terhadap kehidupan.(jhn/yn)

Eksklusif Epoch Times: Mata-mata Pembelot Ungkap Cara Mengidentifikasi Agen PKT

Dalam beberapa tahun terakhir, infiltrasi PKT (Partai Komunis Tiongkok) di kancah internasional terjadi hampir di mana-mana. Bahkan bagi para pembangkang yang tinggal di luar negeri, sebagian tetap sulit lolos dari pengawasan. Seorang mantan personel intelijen nasional PKT mengungkapkan bahwa meskipun sangat sulit mendeteksi mata-mata Beijing di Amerika Serikat dan Kanada, tetap ada sejumlah petunjuk yang dapat digunakan untuk mengenali identitas mereka yang sebenarnya.

EtIndonesia. Seorang mantan agen Kementerian Keamanan Publik PKT yang membelot ke Australia pada 2023, menggunakan nama samaran “Eric”, mengungkap bahwa selama menjalankan tugas penyamaran, ia bertanggung jawab memantau para pembangkang di luar negeri.

Menurut laporan The Epoch Times edisi bahasa Inggris pada Senin (23 Februari), Eric mengatakan bahwa memastikan apakah seseorang terlibat dalam aktivitas spionase luar negeri untuk PKT “sangatlah sulit”. Bahkan badan intelijen profesional pun harus mengerahkan banyak sumber daya untuk melakukannya.

Namun, ia menekankan bahwa sistem intelijen negara otoriter memiliki “cacat dan kelemahan bawaan” yang “tidak dapat sepenuhnya diatasi” oleh para agen penyamaran. Celah inilah yang dapat dimanfaatkan oleh para pembangkang di luar negeri untuk melakukan identifikasi.

Eric menjelaskan bahwa salah satu cara menilai apakah seseorang adalah agen PKT adalah melihat apakah ia mampu mengambil keputusan secara mandiri dan tegas. Dalam isu-isu tertentu, mata-mata harus meminta instruksi dari atasan, sehingga mereka sering kali hanya memberikan jawaban samar atau janji lisan terlebih dahulu. 

Selain itu, agen yang penyamarannya kurang rapi dapat terlihat gugup atau berbicara berbelit-belit saat berdialog. Namun, mengenali tanda-tanda ini sangat bergantung pada pengalaman dan intuisi pribadi.

Terkait infiltrasi PKT di masyarakat internasional, Eric menyebut Kanada sebagai salah satu “target utama” Beijing. Alasannya antara lain kebijakan imigrasi Kanada yang relatif longgar, kemampuan kontraintelijen yang lebih lemah dibandingkan Amerika Serikat, serta status Kanada sebagai anggota aliansi intelijen penting Five Eyes, yang sangat ingin ditembus oleh PKT.

Faktanya, pakar isu Tiongkok Charles Burton pernah menyatakan bahwa jumlah diplomat PKT yang ditempatkan di Kanada mencapai 176 orang.

Eric menambahkan bahwa bukan hanya pemerintah pusat PKT, tetapi juga seluruh departemen kepolisian tingkat provinsi yang mengirim personel ke luar negeri. Jika semua pihak yang bekerja sama dengan PKT dihitung, jumlah orang yang bekerja untuk Beijing di Kanada kemungkinan melampaui seribu orang.

Di sisi lain, baru-baru ini sebuah perusahaan investasi pertambangan asal Amerika Serikat, Cove Capital, memperoleh proyek mineral strategis bernilai miliaran dolar di Asia Tengah. Proyek tersebut mencakup pengembangan tambang tungsten (wolfram) terbesar yang belum dieksploitasi di dunia, berlokasi di Kazakhstan.

Proyek ini mendapat dukungan awal dari dua lembaga pembiayaan pemerintah Amerika Serikat dengan total nilai mencapai 1,6 miliar dolar AS. Sebagai imbalannya, perusahaan tersebut akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pemerintah dan sektor komersial AS.

Langkah ini juga dipandang sebagai bagian penting dari upaya Amerika Serikat untuk memperluas pengaruh dan membentuk aliansi mineral baru, menyusul pembatasan ekspor tanah jarang oleh PKT.

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi, dari Amerika Serikat.

ARTOTEL TS Suites Surabaya Gelar Buka Puasa dan Santunan untuk Anak Panti Asuhan di Tengah Galeri Seni

Surabaya, 19 Februari 2026 – Menyemarakkan bulan Ramadan dengan berbagi kebahagiaan, ARTOTEL TS Suites Surabaya mengadakan acara buka bersama dan santunan bagi anak-anak Panti Asuhan Yayasan Al Ikhlas. Bertempat di Art Space hotel yang dipenuhi lukisan, kegiatan ini menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan bagi 23 anak beserta dua pendamping.

Acara yang berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026, dari pukul 16.00 hingga 19.00 WIB ini diawali dengan sambutan dari Akfian Rado Gusti, Executive Assistant Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memberikan kebahagiaan sekaligus mempererat hubungan hotel dengan masyarakat sekitar.

Sebanyak 50 karyawan hotel turut berpartisipasi aktif dalam acara ini. Beragam permainan interaktif dan kuis digelar di Art Space, menciptakan suasana yang meriah. Anak-anak tampak antusias berlomba menjawab pertanyaan untuk mendapatkan hadiah.

Ari Anggraeni Mayadewi, Human Resource Manager ARTOTEL TS Suites Surabaya, menuturkan, “Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi adik-adik panti sekaligus menumbuhkan rasa empati dan kebersamaan di antara seluruh tim. Kami berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen hotel kepada masyarakat.”

Kegiatan juga diisi dengan kultum oleh Ustadz Sujayat yang mengajak peserta meningkatkan ibadah dan semangat berbagi di bulan Ramadan. Acara ditutup dengan buka puasa bersama, pembagian bingkisan, dan sesi foto bersama sebagai kenangan manis.

Melalui kegiatan ini, ARTOTEL TS Suites Surabaya berkomitmen untuk terus menumbuhkan semangat berbagi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Surabaya.

Efek Halo (Halo Effect)

EtIndonesia. Seseorang yang digonggong anjing belum tentu pencuri. Orang yang berjanggut panjang belum tentu seniman. Namun ketika kita sudah memiliki prasangka, kita mudah “merendahkan” orang lain hanya berdasarkan kesan awal.

Efek Halo

Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita sering memakai “kacamata prasangka”. Kita memasukkan seseorang ke dalam sebuah “kotak”, lalu menilai seluruh perilakunya berdasarkan kotak itu:

“Dia orang baik.” 

“Dia orang jahat.”

“Sepertinya dia selingkuh.”

 “Dia pasti pelit.”

Bahkan sering kali kita memproyeksikan pikiran kita sendiri kepada orang lain, sehingga jauh menyimpang dari fakta sebenarnya.

Mungkin kamu pernah mendengar kisah ini.

Dua wanita duduk di meja yang sama sedang minum. Salah satu meletakkan payungnya di samping meja. Yang lain, setelah selesai minum, tanpa sadar mengambil payung itu dan pergi.

Pemilik payung berteriak : “Hei! Itu payung saya!”

Wanita itu tersipu malu dan meminta maaf karena salah mengambil.

Peristiwa itu membuatnya sadar dia memang belum membeli payung. Dia pun membeli dua—satu untuk dirinya, satu untuk anaknya.

Dalam perjalanan pulang, kebetulan dia kembali duduk di bus yang sama dengan wanita tadi.

Wanita itu melihat dua payung di tangannya dan berkata sinis : “Wah, hari ini hasilmu lumayan juga ya!”

Mengkotakkan Manusia

Dalam menilai orang, kita cenderung membagi menjadi dua kelompok: “baik” atau “buruk”.

Jika seseorang memberi kesan pertama yang baik, maka apa pun yang dia lakukan akan ditafsirkan secara positif.

Sebaliknya, jika dia sudah dicap buruk, maka semua tindakannya akan ditafsirkan negatif.

Inilah yang disebut Efek Halo.

Istilah ini menggambarkan seperti lingkaran cahaya di sekitar bulan. Ketika kita melihat bulan, kita juga melihat lingkaran cahaya di sekelilingnya.

Begitu kesan pertama terbentuk, kita otomatis mengaitkan semua perilaku orang tersebut dengan kesan awal itu.

Betapa Aneh Prasangka

Ada kisah lain.

Seorang pemuda Yahudi duduk satu gerbong dengan seorang Yahudi tua.

“Pak, sekarang jam berapa?” tanya pemuda itu.

Orang tua itu diam saja.

“Pak, boleh tahu sekarang jam berapa?” tetap tak dijawab.

Akhirnya orang tua itu berkata: “Anak muda, ini stasiun terakhir. Saya tidak mengenalmu. Jika saya menjawab pertanyaanmu, menurut tradisi kami, saya harus mengundangmu ke rumah. Kamu tampan, dan saya punya anak perempuan yang cantik. Kalian mungkin jatuh cinta, menikah… Lalu mengapa saya harus punya menantu yang bahkan tak mampu membeli jam tangan?”

Itulah logika prasangka—menghubungkan hal kecil dengan kesimpulan besar yang belum tentu benar.

Stereotip yang Kita Simpan

Hampir setiap menit, kita membuat penilaian berdasarkan pengalaman dan informasi masa lalu.

“Pebisnis itu licik.”
“Wanita itu pengemudi buruk.”
“Pria itu tidak bersih.”
“Orang Yahudi pelit.”
“Orang Amerika romantis.”

Begitu stereotip tertanam, kita memakai kacamata itu untuk menilai orang lain.

Jika seorang wanita melihat pria membawa bunga, dia mungkin berpikir:  “Wah, romantis sekali.”

Namun pria lain mungkin berpikir:  “Pasti ada masalah besar yang sedang terjadi.”

Ada pula cerita tentang seseorang yang baru tiba di Amerika.

Suatu pagi dia melihat orang kulit putih duduk santai di taman. Dia berpikir: “Orang Amerika hidupnya enak dan kaya.”

Tak lama kemudian dia melihat orang kulit hitam duduk santai di sisi lain taman. Dia berpikir: “Masalah pengangguran di sini pasti parah.”

Padahal mungkin keduanya sama-sama sedang menikmati hari libur.

Ada perumpamaan lain:

Saat berjalan di malam hari dan melihat sebuah jendela yang menyala, ada yang berkata : “Pasti seorang ibu sedang berdoa untuk anaknya.”  Ada pula yang berkata: “Ah, pasti ada perselingkuhan di sana.”

Prasangka adalah anak dari ketidaktahuan.

Begitu seseorang memiliki “bias”, dia akan melihat manusia secara menyimpang dan meremehkan.

Kebanyakan orang tidak sepenuhnya mengenal kita. Dan kita pun tidak sepenuhnya mengenal mereka. Karena itu, kita tidak seharusnya mudah menghakimi orang lain. Dan juga tidak perlu terlalu peduli pada penilaian orang lain.

Karena siapa pun bisa salah memasang kancing pertama, bukan?

Renungan

Prasangka adalah kelemahan yang hampir dimiliki setiap orang.

Itulah sebabnya orang tua sering berkata:  “Berilah kesan pertama yang baik. Itu akan mempermudah segalanya.”

Terutama dalam pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang—penjualan, pelayanan, komunikasi—kesan pertama sangat menentukan.

Membaca kisah seperti ini bukan hanya untuk menilai orang lain, tetapi untuk mengoreksi diri sendiri.

Kita belajar bahwa manusia sering keliru karena prasangka.

Dan di sisi lain, kita juga belajar bahwa jika kita mampu memberikan kesan pertama yang baik, menjaga sikap, dan konsisten, maka hubungan akan berkembang dengan lebih mudah.

Dalam dunia bisnis atau pelayanan, relasi yang baik sering kali mempermudah tercapainya hasil.

Namun yang lebih penting dari itu, kita belajar untuk melihat manusia sebagai manusia—bukan sebagai label.(jhn/yn)

Empat Tahun Perang Rusia–Ukraina: Dua Juta Korban di Balik Perang Atrisi Ekstrem

EtIndonesia. Tanggal 24 Februari 2026 menandai empat tahun sejak perang Rusia–Ukraina meletus secara penuh. Di seluruh Ukraina, warga mengheningkan cipta untuk mengenang besarnya korban jiwa dan tak terhitung keluarga yang hancur. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk pertama kalinya memperlihatkan kepada publik kantor kerjanya di dalam bunker bawah tanah, serta bersumpah mempertahankan kemerdekaan negara. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menuding Barat memprovokasi melalui perang, dan Rusia kembali melontarkan peringatan nuklir. Kapan perang yang mengguncang seluruh Eropa ini akan berakhir, masih belum diketahui.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy:  “Hari ini adalah peringatan empat tahun sejak Putin melancarkan apa yang ia sebut pengepungan Kyiv selama tiga hari.”

Pada hari peringatan empat tahun pecahnya perang Rusia–Ukraina, Presiden Zelenskyy untuk pertama kalinya memperlihatkan kepada publik bagian dalam kantor kerjanya di bunker. Empat tahun lalu pada hari yang sama, pasukan Rusia melancarkan serangan mendadak ke Kyiv, berupaya menjatuhkan pemerintahan Ukraina dengan cepat dalam hitungan hari. Namun kenyataannya, operasi awal Rusia gagal, dan sejak itu perang berubah menjadi ajang adu teknologi dan kehendak—sebuah perang atrisi ekstrem antara Rusia dan Ukraina.

Zelenskyy berkata :  “Menengok kembali awal invasi dan merefleksikan hari ini, kita sepenuhnya beralasan mengatakan: kita telah mempertahankan kemerdekaan kita, dan kita tidak kehilangan status kenegaraan kita.”

Pukul 09.00 pagi, warga Ukraina di mana pun berada berhenti sejenak selama satu menit untuk mengheningkan cipta, mengenang mereka yang gugur dalam perang.

Ayah Piven adalah seorang tentara Ukraina. Menurut penuturannya, sang ayah mengorbankan diri dalam sebuah operasi evakuasi demi menyelamatkan rekan-rekannya.

Putri tentara Ukraina yang gugur, Valeriia Piven:  “Dia pergi pada hari pertama perang pecah. Aku sangat merindukannya.”

Menurut perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), hingga akhir 2025 total korban tentara dari kedua pihak dalam perang Rusia–Ukraina mencapai sekitar 1,8 hingga 2 juta orang. Di antaranya, jumlah tentara Rusia yang tewas mencapai sekitar 325.000 orang, sementara di pihak Ukraina terdapat sekitar 100.000 hingga 140.000 tentara yang gugur, serta sekitar 15.000 warga sipil Ukraina yang meninggal.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte:   “Hari ini dan setiap hari, kami mengenang penderitaan yang dialami Ukraina. NATO sejak awal berdiri bersama Ukraina. Hari ini kami berdiri bersama Anda, dan ke depan dalam menghadapi tantangan, kami juga akan tetap berdiri bersama Anda.”

Pada hari peringatan tersebut, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Finlandia Alexander Stubb, dan sejumlah pemimpin negara lainnya secara langsung mengunjungi Kyiv untuk menyatakan dukungan kepada Ukraina.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen berkata:  “Pertama, Uni Eropa menyediakan pinjaman sebesar 90 miliar euro untuk Ukraina, yang kami sebut ‘pinjaman landak baja’. Apapun yang terjadi, kami akan memenuhi kewajiban pinjaman tersebut.”

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan:  “Kita harus sangat jelas: perang ini hanya akan berakhir ketika Putin menyadari bahwa ia tidak dapat menang. Karena itu, kita harus meningkatkan tekanan terhadap Rusia.”

Dalam pidatonya pada Selasa (24 Februari), Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Ukraina, dengan bantuan badan intelijen Barat, berupaya merusak proses perdamaian, termasuk dengan mengancam pipa-pipa energi Rusia.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan yang menuduh Inggris dan Prancis bersiap secara rahasia memasok komponen serta teknologi senjata nuklir ke Ukraina, dan memperingatkan risiko bentrokan langsung antar negara pemilik senjata nuklir serta konsekuensi serius yang mungkin ditimbulkannya.

Seorang pejabat pertahanan Inggris mengatakan kepada The Kyiv Independent bahwa pernyataan Moskow sama sekali tidak berdasar. Ia menilai hal itu sebagai langkah “nekat” Putin pada momen peringatan empat tahun, untuk mengalihkan perhatian publik dari kegagalan perang Rusia.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing