Efek Halo (Halo Effect)

EtIndonesia. Seseorang yang digonggong anjing belum tentu pencuri. Orang yang berjanggut panjang belum tentu seniman. Namun ketika kita sudah memiliki prasangka, kita mudah “merendahkan” orang lain hanya berdasarkan kesan awal.

Efek Halo

Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita sering memakai “kacamata prasangka”. Kita memasukkan seseorang ke dalam sebuah “kotak”, lalu menilai seluruh perilakunya berdasarkan kotak itu:

“Dia orang baik.” 

“Dia orang jahat.”

“Sepertinya dia selingkuh.”

 “Dia pasti pelit.”

Bahkan sering kali kita memproyeksikan pikiran kita sendiri kepada orang lain, sehingga jauh menyimpang dari fakta sebenarnya.

Mungkin kamu pernah mendengar kisah ini.

Dua wanita duduk di meja yang sama sedang minum. Salah satu meletakkan payungnya di samping meja. Yang lain, setelah selesai minum, tanpa sadar mengambil payung itu dan pergi.

Pemilik payung berteriak : “Hei! Itu payung saya!”

Wanita itu tersipu malu dan meminta maaf karena salah mengambil.

Peristiwa itu membuatnya sadar dia memang belum membeli payung. Dia pun membeli dua—satu untuk dirinya, satu untuk anaknya.

Dalam perjalanan pulang, kebetulan dia kembali duduk di bus yang sama dengan wanita tadi.

Wanita itu melihat dua payung di tangannya dan berkata sinis : “Wah, hari ini hasilmu lumayan juga ya!”

Mengkotakkan Manusia

Dalam menilai orang, kita cenderung membagi menjadi dua kelompok: “baik” atau “buruk”.

Jika seseorang memberi kesan pertama yang baik, maka apa pun yang dia lakukan akan ditafsirkan secara positif.

Sebaliknya, jika dia sudah dicap buruk, maka semua tindakannya akan ditafsirkan negatif.

Inilah yang disebut Efek Halo.

Istilah ini menggambarkan seperti lingkaran cahaya di sekitar bulan. Ketika kita melihat bulan, kita juga melihat lingkaran cahaya di sekelilingnya.

Begitu kesan pertama terbentuk, kita otomatis mengaitkan semua perilaku orang tersebut dengan kesan awal itu.

Betapa Aneh Prasangka

Ada kisah lain.

Seorang pemuda Yahudi duduk satu gerbong dengan seorang Yahudi tua.

“Pak, sekarang jam berapa?” tanya pemuda itu.

Orang tua itu diam saja.

“Pak, boleh tahu sekarang jam berapa?” tetap tak dijawab.

Akhirnya orang tua itu berkata: “Anak muda, ini stasiun terakhir. Saya tidak mengenalmu. Jika saya menjawab pertanyaanmu, menurut tradisi kami, saya harus mengundangmu ke rumah. Kamu tampan, dan saya punya anak perempuan yang cantik. Kalian mungkin jatuh cinta, menikah… Lalu mengapa saya harus punya menantu yang bahkan tak mampu membeli jam tangan?”

Itulah logika prasangka—menghubungkan hal kecil dengan kesimpulan besar yang belum tentu benar.

Stereotip yang Kita Simpan

Hampir setiap menit, kita membuat penilaian berdasarkan pengalaman dan informasi masa lalu.

“Pebisnis itu licik.”
“Wanita itu pengemudi buruk.”
“Pria itu tidak bersih.”
“Orang Yahudi pelit.”
“Orang Amerika romantis.”

Begitu stereotip tertanam, kita memakai kacamata itu untuk menilai orang lain.

Jika seorang wanita melihat pria membawa bunga, dia mungkin berpikir:  “Wah, romantis sekali.”

Namun pria lain mungkin berpikir:  “Pasti ada masalah besar yang sedang terjadi.”

Ada pula cerita tentang seseorang yang baru tiba di Amerika.

Suatu pagi dia melihat orang kulit putih duduk santai di taman. Dia berpikir: “Orang Amerika hidupnya enak dan kaya.”

Tak lama kemudian dia melihat orang kulit hitam duduk santai di sisi lain taman. Dia berpikir: “Masalah pengangguran di sini pasti parah.”

Padahal mungkin keduanya sama-sama sedang menikmati hari libur.

Ada perumpamaan lain:

Saat berjalan di malam hari dan melihat sebuah jendela yang menyala, ada yang berkata : “Pasti seorang ibu sedang berdoa untuk anaknya.”  Ada pula yang berkata: “Ah, pasti ada perselingkuhan di sana.”

Prasangka adalah anak dari ketidaktahuan.

Begitu seseorang memiliki “bias”, dia akan melihat manusia secara menyimpang dan meremehkan.

Kebanyakan orang tidak sepenuhnya mengenal kita. Dan kita pun tidak sepenuhnya mengenal mereka. Karena itu, kita tidak seharusnya mudah menghakimi orang lain. Dan juga tidak perlu terlalu peduli pada penilaian orang lain.

Karena siapa pun bisa salah memasang kancing pertama, bukan?

Renungan

Prasangka adalah kelemahan yang hampir dimiliki setiap orang.

Itulah sebabnya orang tua sering berkata:  “Berilah kesan pertama yang baik. Itu akan mempermudah segalanya.”

Terutama dalam pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang—penjualan, pelayanan, komunikasi—kesan pertama sangat menentukan.

Membaca kisah seperti ini bukan hanya untuk menilai orang lain, tetapi untuk mengoreksi diri sendiri.

Kita belajar bahwa manusia sering keliru karena prasangka.

Dan di sisi lain, kita juga belajar bahwa jika kita mampu memberikan kesan pertama yang baik, menjaga sikap, dan konsisten, maka hubungan akan berkembang dengan lebih mudah.

Dalam dunia bisnis atau pelayanan, relasi yang baik sering kali mempermudah tercapainya hasil.

Namun yang lebih penting dari itu, kita belajar untuk melihat manusia sebagai manusia—bukan sebagai label.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine