KPK Obok-obok Kasus Dugaan Korupsi APD Senilai Rp 3 Triliun Saat Pandemi COVID-19, BNPB : Dukung Penuh Seluruh Proses Penyelidikan
ETIndonesia- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghormati dan mendukung penuh seluruh proses penyidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) di awal pandemi Corona Virus Disease 19 (Covid-19) tahun 2020, senilai Rp 3,03 triliun yang sedang bergulir hingga Rabu (22/11).
“BNPB juga menyatakan akan mendukung proses hukum tersebut dalam menyediakan data dukung yang dibutuhkan oleh lembaga anti rasuah itu. Hal itu diwujudkan BNPB dengan menerima para penyidik KPK yang datang ke kantor Graha BNPB bulan Oktober 2023 lalu,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangan tertulisnya.
Sebagaimana diketahui, KPK saat ini sedang melaksanakan penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan APD untuk dokter dan tenaga kesehatan di fase awal pandemi Covid-19. Proses pengadaan APD ini dilaksanakan oleh Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI dengan menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB pada tahun 2020. Pada saat itu, penanganan Covid-19 dilakukan oleh Gugus Tugas (Gugas) Percepatan Penanganan Covid-19, yang dibentuk tanggal 13 Maret 2020 berdasarkan KEPPRES Nomor 7 Tahun 2020 dengan Kepala BNPB periode 2019-2021 sebagai Ketua Gugus Tugas.
Pada l 20 Juli 2020, berdasarkan Perpres Nomor 82 Tahun 2020, tugas lembaga ini kemudian dipindahkan dalam Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 pada Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi (KPCPEN).
Sesuai dengan namanya, KPCPEN mewadahi segala kebijakan termasuk di dalamnya aturan pendanaan bagi penanganan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 dan pemulihan ekonomi, serta tidak lagi menggunakan Dana Siap Pakai di BNPB. KPCPEN sendiri kemudian dibubarkan pada 5 Agustus 2023, saat pandemi Covid-19 telah berhasil dikendalikan. (asr)
Tim Gabungan Masih Berupaya Padamkan Api di Lereng Gunung Panderman, Kota Batu
KOTA BATU – Tim gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Panderman, Kota Batu, Jawa Timur, yang terjadi sejak Selasa (21/11) hingga Kamis (23/11). Sebanyak 50 personel diterjunkan guna memadamkan api secara manual serta dengan cara membuat sekat bakar.
Dari laporan yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, saat ini kebakaran sudah dapat dikendalikan meski masih terdapat titik api.
Petugas Pusdalops BPBD Kota Batu Maulana Purba mengatakan, pemadaman memang masih mengalami beberapa kendala seperti medan yang terjal dan titik api yang berada di lokasi sulit dijangkau. Kendati demikian, tim gabungan akan terus berupaya memadamkan dengan membagi kelompok ke tiga titik.
“Kendala kondisi medan yang terjal, serta material pohon Pinus yang ada getah karetnya sehingga membuat awet terbakar. Pemadaman dilanjutkan dengan pemberangkatan dari Pacuan Kuda mega Star, Desa Oro-Oro Ombo dan pos pendakian, tim dibagi menjadi tiga titik,” ungkap Maulana, saat dihubungi, Kamis (23/11) siang yang dirilis oleh Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Maulana mengatakan, kebakaran yang melanda lereng Gunung Penderman kali ini merupakan yang pertama sejak tahun 2019 atau yang pertama selama musim kemarau tahun ini. Ia juga memastikan penyebab kebakaran dikarenakan adanya sambaran petir yang mengenai pohon.
Data sementara per Kamis (23/11) diperkirakan luas lahan yang terbakar mencapai kurang lebih 17 hektar berada di petak 227 Blok Wajikan dan petak 213 seluas 12 hektar Blok Bon Klerek. Vegetasi yang terbakar, antara lain, berupa cemara dan ilalang.
Di samping itu, Pusdalops BPBD Kota Batu memastikan bahwa kebakaran hutan tersebut tidak berdampak kepada masyarakat karena lokasinya jauh dari permukiman.
“Tidak berdampak ke permukiman karena lokasinya jauh dari pemukiman warga,” pungkas Maulana. (Bnpb/asr)
Wabah “Pneumonia yang Belum Diketahui” Sedang Melanda Hebat dan Menyerang Anak-Anak Tiongkok
oleh Lin Yan
Selama 2 hari berturut-turut dalam minggu ini, sebuah lembaga yang memantau wabah penyakit global memperingatkan bahwa penyakit akibat “pneumonia yang belum diketahui” sedang menyebar luas di kalangan anak-anak Tiongkok.
Program Pengawasan Penyakit Berkembang (ProMED), sebuah database besar terkait pengawasan terhadap epidemiologi mengeluarkan peringatan pada Selasa (21 November), bahwa wabah “pneumonia yang belum diketahui” sedang menyebar luas di Tiongkok dan menyerang anak-anak.
Pada Rabu (22 November), lembaga tersebut kembali menyatakan bahwa berdasarkan laporan awal, wabah “pneumonia yang belum diketahui” yang sedang menyerang hebat di kalangan anak-anak Tiongkok itu berbeda dengan pneumonia mikoplasma.
ProMED adalah salah satu lembaga pertama yang mendeteksi wabah virus termasuk SARS, MERS dan COVID-19. Pada akhir Desember 2019, ProMed pertama kali memperingatkan dunia akan wabah COVID-19, dengan mengatakan bahwa penyakit pernafasan ini sedang melanda kota Wuhan, Tiongkok.
Para ilmuwan minggu ini kembali menyatakan keprihatinannya mengenai penyakit misterius “mirip pneumonia” yang menurut mereka yang membuat rumah sakit di Tiongkok dipenuhi oleh anak-anak yang sakit.
Rumah sakit anak-anak di banyak kota besar di Tiongkok, termasuk Beijing, Tianjin, Shenzhen, Jilin, Liaoning dan lainnya penuh sesak dengan pasien anak-anak. Bahkan untuk meminta perawat melepas jarum suntik usai infus pun perlu antri.
Pada Rabu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Beijing untuk memberikan lebih banyak data mengenai penyakit yang sedang menyebar luas ini. Juga menambahkan bahwa pihaknya tidak jelas apakah data tersebut terkait dengan peningkatan infeksi saluran pernafasan secara keseluruhan yang sebelumnya dilaporkan oleh otoritas Tiongkok atau hanya karena insiden tersendiri.
“Pneumonia yang belum diketahui” sedang menyebar di antara anak-anak Tiongkok
ProMED dalam sebuah catatan editorial yang diterbitkan pada Selasa menyebutkan bahwa laporan media mengenai epidemi di daratan Tiongkok menunjukkan bahwa di Tiongkok saat ini sedang mewabah penyakit radang paru-paru yang patogennya belum diketahui secara jelas.
Catatan editorial juga menyebutkan : Tidak jelas kapan persisnya wabah ini mulai menyebar, karena ini di luar kebiasaan jika banyak anak terkena dampaknya dalam waktu yang cukup singkat.
ProMED akan menunggu informasi lebih jelas mengenai penyebab dan cakupan penyakit ini dari otoritas Tiongkok.
Masih terlalu dini bagi kami untuk memprediksi apakah ini mungkin akan menjadi pandemi lagi, namun seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli virologi influenza yang bijaksana kepada saya, ‘Jam pandemi terus berjalan, hanya kita yang tidak tahu kapan ..’ Demikian tulis editor tersebut.
Laporan resmi Partai Komunis Tiongkok terus menyebutkan bahwa ini adalah gelombang pertama infeksi Mycoplasma pneumoniae setelah COVID-19.
ProMED pada Rabu merilis surat yang ditandatangani oleh Dr. Stephan Gibson. Surat tersebut menyatakan bahwa gelombang pneumonia pada anak-anak Tiongkok ini “konsisten dengan laporan pneumonia mikoplasma nasional yang dilaporkan oleh sumber berita Barat dan Tiongkok” dan “saat ini wabah ini telah berlangsung sedikitnya 2 bulan”.
“Pengalaman pribadi saya juga masih konsisten dengan laporan ini : banyak teman yang sakit, dengan gejala utama batuk, lesu, dan demam tinggi”, tulis Stephan Gibson.
“Dalam beberapa kasus yang saya ketahui, bahwa Azitromisin dan Doxycycline cukup efektif untuk meredakan gejala”, kata Gibson. Ia yakin gejala penyakit ini sesuai dengan pneumonia mikoplasma.
Editor ProMED menanggapi surat Gibson dan mempublikasikan temuan mereka yang berbeda. Pihak ProMED mengatakan bahwa mereka juga telah membaca laporan tentang wabah infeksi saluran pernapasan mikoplasma yang sedang melanda Tiongkok, “tetapi secara umum, batuk cenderung menjadi gejala yang menonjol (pneumonia mikoplasma) pada anak-anak yang berusia lebih besar dan orang dewasa, dan pada anak-anak yang usianya lebih muda mungkin gejala tersebut tidak menimbulkan batuk, tetapi mereka akan mengalami lebih banyak gejala pada saluran pernapasan atas, mual dan muntah”.
Editor ProMED mencatat : Laporan awal mengenai gelombang penyakit ini secara spesifik menyatakan ‘tidak ada batuk’ dan gejala utamanya adalah demam tinggi. Selain itu, kelainan radiografi digambarkan sebagai nodul paru, tetapi bukan infiltrat yang tidak merata yang paling sering terlihat pada penderita pneumonia mikoplasma. (sin)
Terjadinya Perjanjian Gencatan Senjata Sementara Israel-Hamas, Apakah Rencana PKT untuk Menghasut Amerika Serikat Telah Gagal?
Zhang Hong dan Luo Ya
Konflik Israel-Hamas telah memasuki minggu ketujuh, di bawah mediasi Amerika Serikat, Qatar, dan negara-negara lain, Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara yakni gencatan senjata selama empat hari dan pembebasan 50 orang sandera.
Para ahli telah menganalisis bahwa AS telah berhasil mengendalikan perang Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas, sementara Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah salah perhitungan dalam mencoba mendukung Rusia atau Hamas, dan PKT tidak mendapatkan keuntungan apa pun dan semakin terisolasi di ajang internasional.
Gencatan Senjata pertama dalam konflik Israel-Hamas
Pada 22 November, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pemerintah telah meloloskan perjanjian pembebasan sandera di mana Hamas akan membebaskan 50 wanita dan anak-anak dengan imbalan penangguhan pertempuran selama empat hari.
Pernyataan tersebut menyatakan bahwa untuk setiap 10 sandera tambahan yang dibebaskan, gencatan senjata akan diperpanjang sehari. Pernyataan itu tidak menyebutkan pembebasan tahanan Palestina sebagai imbalannya. Perjanjian tersebut menandai gencatan senjata pertama antara Israel dan Hamas dalam konflik tersebut.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Michael Herzog, mengatakan pada 22 November bahwa Israel “berharap dapat mengambil kembali sejumlah besar sandera dalam beberapa hari ke depan.”
Hamas melakukan serangan teroris mendadak terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 orang. Israel kemudian melancarkan serangan udara secara besar-besaran dan serangan darat di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, dan bersumpah untuk menghancurkan Hamas.
Beberapa hari sebelum perjanjian tersebut, Mark Regev, penasihat senior Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa harus ada perbedaan antara jeda dalam pertempuran selama pertukaran tawanan dan seruan beberapa negara untuk “gencatan senjata tanpa syarat di Israel”.
Regev berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian adalah dengan menyingkirkan Hamas dari Gaza, dan mereka yang mendukung gencatan senjata tanpa syarat pada dasarnya ingin Hamas tetap berkuasa.
Pada 20 November, Wang Yi, Menteri Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok, bertemu dengan delegasi gabungan “Menteri Luar Negeri Negara-negara Arab dan Islam” di Beijing. Mengenai krisis Gaza, Wang Yi menuntut gencatan senjata segera dan menyatakan bahwa Israel harus berhenti menyakiti rakyat Gaza. Ia juga menegaskan kembali bahwa “Solusi dua negara.”
Duta Besar Israel untuk Tiongkok Irit Ben-Abba menanggapi pada hari yang sama bahwa ia berharap banyak menteri luar negeri tidak membuat pernyataan apa pun mengenai gencatan senjata selama kunjungan mereka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tidak akan ada gencatan senjata sampai semua sandera yang ditahan oleh Hamas dibebaskan.

Pakar: Mungkin ada dukungan di belakang Hamas
Chen Kuide, pemimpin redaksi “China Review”, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa serangan teroris Hamas terhadap Israel sangat kejam dan tidak rasional. Mereka jelas mengetahui bahwa ada kesenjangan kekuatan yang sangat besar antara Israel dalam segala aspek, dan mereka pasti akan mendapat balasan, bahkan balas dendam karena dimusnahkan.
“Tetapi mereka (Hamas) hanya bisa melakukan ini, yang berarti bahwa kekuatan lain telah menjanjikan sesuatu kepada Hamas, atau menjanjikan keuntungan, atau bahkan menjanjikan Hamas untuk melakukan serangan brutal seperti itu. Jika mereka menghadapi serangan balik dan menghadapi bahaya, mereka (yang lain) pasukan) akan berdiri untuk mendukung Hamas dan berjuang bersamanya. Ada kemungkinan seperti itu.”
Ia yakin bahwa pihak yang paling diuntungkan dari konflik Israel-Palestina tentu saja Rusia. Konflik tersebut telah menjadikan perang Rusia-Ukraina sebagai fokus sekunder perhatian dunia, dan juga akan mengalihkan perhatian kekuatan Barat.
“Tentu saja, Tiongkok (PKT) juga dapat disebutkan, karena Tiongkok (PKT) juga terisolasi dan terkepung sampai batas tertentu seperti Rusia.” Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Barat menganggap kawasan Indo-Pasifik Asia Timur sebagai pusatnya. tujuan militer yang paling penting.
Pada 2 November, seorang pejabat senior Hamas mengkonfirmasi bahwa organisasi tersebut memiliki kontak dekat dengan Tiongkok dan Rusia, dan mengatakan bahwa Beijing telah mengirim utusan khusus ke Doha, ibu kota Qatar, untuk bertemu secara diam-diam dengan para pemimpin Hamas.
Dalam sebuah wawancara dengan media Lebanon “Spot Shot Video”, Ali Baraka, kepala hubungan luar negeri Hamas, secara langsung menyebutkan nama para pendukung Hamas, termasuk Korea Utara, Iran, Rusia dan Partai Komunis Tiongkok. Ia juga mengatakan bahwa Hamas akan mengirimkan delegasi untuk mengunjungi Beijing.
Iran, pendukung yang disebutkan oleh Baraka, adalah pendukung keuangan dan pemasok senjata di belakang Hamas. Namun Menteri Luar Negeri Iran telah menyatakan, “Sebagai tanggapan terhadap Amerika Serikat, kami menyatakan bahwa Iran tidak ingin perang meluas.”
Komentator politik saat ini, Chen Pokong mengatakan kepada Epoch Times bahwa “Iran tidak berani memasuki perang karena Iran takut pada Amerika Serikat, yang mengirim dua kelompok tempur kapal induk untuk menargetkan Iran sejak awal,” dan bahwa “Amerika Serikat juga telah mengirim diplomasi untuk menghalangi Iran dengan kegiatan pribadi, dan Iran telah memberi Amerika Serikat hampir Amerika Serikat bahwa mereka tidak akan memperluas perang di Timur Tengah.”
“Akan menjadi kekecewaan besar bagi Partai Komunis Tiongkok jika Timur Tengah tidak mampu membayar dengan perang besar,” katanya.
ANALISIS: Partai Komunis Tiongkok Berharap AS Harus Mengerahkan Pasukan ke Timur Tengah
Pada 14 November, juru bicara Departemen Pertahanan AS Sabrina Singer mengatakan bahwa konflik Israel-Hamas tidak meluas ke negara-negara tetangga dan pencegahan militer AS di Timur Tengah berhasil, “Kami memiliki kehadiran militer yang sangat kuat di wilayah tersebut” dan “mengirimkan pesan pencegahan yang sangat kuat. “
Kapal induk AS USS Ford (CVN 78) tetap berada di Mediterania Timur, terutama untuk mencegah Hizbullah Lebanon dan Suriah; USS Eisenhower (CVN 69) telah bergerak lebih dekat ke Teluk Persia, terutama untuk mencegah Iran; dan kapal serbu amfibi USS Bataan (LHD 5) dan SHIELD berada di Laut Merah, terutama untuk mencegah organisasi al-Houthi.

Komentator politik Chen Pokong menyebutkan PKT sebenarnya berharap Amerika Serikat mengirimkan pasukannya ke Timur Tengah, sehingga Amerika Serikat tidak dapat berbuat apa-apa selain bergantung pada bantuan PKT.” Namun diyakini, “Sejauh ini, dapat dikatakan bahwa Amerika Serikat adalah pemenangnya, namun mereka yang memprovokasi kedua perang ini adalah pecundang.”
“Jika PKT ingin mendukung Rusia atau Hamas, itu juga merupakan kesalahan perhitungan. PKT tidak mendapatkan keuntungan dan semakin terisolasi secara internasional.”
Pada saat yang sama, jenderal tertinggi AS menyatakan bahwa dua perang yang terjadi saat ini tidak mempengaruhi kemampuan militer AS untuk melawan komunisme.
Pada 10 November, Jenderal Charles Brown, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menyatakan bahwa perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas tidak berdampak pada pasukan militer AS di Indo-Pasifik, oleh karena itu tidak akan menghalangi kemampuan militer AS untuk melakukan serangan. menghadapi PKT.
Ia menegaskan, “Semua kemampuan yang dimiliki AS di kawasan Asia-Pasifik berada di bawah komando Komando Indo-Pasifik – AS belum menggunakan kekuatan tersebut.”:
Kelompok Serangan Kapal Induk USS Carl Vinson, Kelompok Serangan Kapal Induk USS Ronald Reagan, dan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang menggelar latihan militer di Laut Filipina dari 4 hingga 8 November.
Analisis: Partai Komunis Tiongkok Tidak Dapat Menemukan Banyak Manfaat di Timur Tengah Setelah Perang
Dalam konflik Israel-Hamas, Amerika Serikat telah menjadi penengah antar negara untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah. Pada awal November, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken bertemu secara diplomatis dengan para pemimpin negara-negara besar Timur Tengah. Ia mengatakan bahwa suara umum yang ia dengar adalah “perlunya keterlibatan dan kepemimpinan Amerika Serikat,” dan bahwa “setiap negara yang diajak bicara meminta kepemimpinan diplomatik AS dalam upaya membuat kemajuan dalam berbagai aspek krisis ini.”
Pada tanggal 2 November, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan paket bantuan senilai 14,3 miliar dolar AS untuk Israel, yang menunjukkan dukungan AS yang kuat untuk Israel.
Namun, sejak pecahnya konflik Israel-Hamas, Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya mengajukan “proposal perdamaian” abstrak tanpa memikul tanggung jawab apa pun untuk mencapai perdamaian, dan sangat mendukung Hamas, tidak mau mengutuk serangan teroris yang dilakukannya.
Pada 20 November, sebuah delegasi yang terdiri dari “para menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam” mengunjungi Beijing untuk menengahi konflik Israel-Hamas. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi sekali lagi mengulangi retorika diplomatik yang hampa dalam mempromosikan “perdamaian”, menyatakan bahwa solusi untuk konflik Israel-Palestina terletak pada implementasi “solusi dua negara”, dan menyalahkan Israel atas pemindahan paksa warga sipil dari Gaza. Namun, tidak ada kecaman terhadap Hamas, yang bertanggung jawab atas serangan teroris dan bercokol di Gaza.

Chen Pokong mengatakan, “Solusi dua negara diusung oleh banyak negara di seluruh dunia, dan PKT hanya mengulanginya. PKT mengulangi posisi sepihak, dan apa yang sebenarnya dikatakannya adalah berpihak pada Hamas.
“AS juga mendukung orang-orang Arab untuk memiliki wilayah mereka, otonomi mereka, dan bahkan hak untuk menjadi negara. AS juga menganjurkan agar negara-negara Arab hidup damai dengan Israel, sehingga dunia masih melihat bahwa AS adalah harapan bagi perdamaian dan demokrasi.”
Chen Pokong juga mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok berpura-pura mendukung orang-orang Muslim di luar perbatasannya, dunia Arab atau Palestina; sementara itu, mereka mengadopsi penganiayaan kejam dan metode ekstrem terhadap orang-orang Muslim di dalam negerinya sendiri. Kedua posisi ini saling bertentangan dan tidak dapat dibenarkan sama sekali.
“Jadi sangat jelas sekali jika masyarakat internasional memilih berpihak, dan sebagian besar negara di Timur Tengah, bahkan sebagian besar negara Arab, masih berada di pihak Amerika Serikat. Partai Komunis Tiongkok tidak dapat banyak manfaat di Timur Tengah setelah perang.”
Barat menyadari bahwa Partai Komunis Tiongkok adalah musuh utama
Saat ini, Pasukan Pertahanan Israel memperluas cakupan operasi militer mereka di Gaza. Militer Israel mengatakan bahwa tujuan dari penyerangan ke Kota Gaza, khususnya rumah sakit Shifa, adalah untuk membasmi kepemimpinan Hamas. IDF menggunakan robot-robot pembawa kamera untuk memerangi Hamas di jaringan terowongan bawah tanah.
Jika Hamas tersingkir di Gaza, Chen Kuide yakin lanskap dunia akan berubah, namun “masih ada beberapa variabel di tengah-tengahnya, ini tidak akan mencapai hasil secara cepat, ini akan berlangsung cukup lama. Namun demikian, trennya masih lebih menguntungkan bagi dunia bebas secara keseluruhan.”
Akan ada periode bolak-balik serta bernegosiasi satu sama lain.

Chen Kuide menjelaskan, “Bahkan dalam perang Rusia-Ukraina, mungkin ada keadaan darurat seperti Hamas-Israel yang mengalihkan perhatian dunia. Kemungkinan ini terjadi dikarenakan bagaimanapun juga, Tiongkok, Rusia dan Korea Utara, pada umumnya, mereka masih memiliki sumber daya dan kekuatan untuk membuat masalah.”
“Jika mereka melihat bahwa situasi mereka semakin buruk, mereka akan menimbulkan masalah dan mengalihkan perhatian dunia, seperti insiden 9/11 yang telah lama menyelamatkan PKT. Jadi, semua hal yang terjadi tidak bisa dianggap enteng,” tambahnya.
Bagi Chen Pokong, apalagi sekarang, negara-negara barat tahu betul bahwa PKT adalah musuh utama, dan Agar PKT stabil, mereka mengkhawatirkan PKT bersekutu dengan Rusia, Xi Jinping bersekutu dengan Putin, atau terus berperang di Timur Tengah, dan terus membuat kekacauan di dunia.” Sampai di sini, Negara-negara Barat sangat jelas bahwa musuh terbesar jangka panjang yang sebenarnya adalah kelompok PKT yang bercokol di Beijing, sehingga berbagai front, aliansi militer, aliansi ilmu pengetahuan dan teknologi hingga aliansi ekonomi, tujuan akhir dan sasaran terbesarnya tetaplah menargetkan rezim PKT di Beijing.” (Hui)
Jepang Kutuk Peluncuran Satelit Mata-mata Korea Utara, Kapal Induk AS Tiba di Pelabuhan Busan
Korea Utara pada Selasa (21 November) menginformasikan bahwa mereka akan melakukan uji coba peluncuran satelit mata-mata untuk ketiga kalinya. Perdana Menteri Jepang mengutuk keras provokasi Korea Utara. Di hari yang sama, kelompok penyerang Kapal Induk USS Carl Vinson juga tiba di Pelabuhan Busan, Korea Selatan, sebagai alat pencegah
Chen Yue – NTD
Penjaga Pantai Jepang menerima pemberitahuan dari Korea Utara pada Selasa 21 November bahwa Korea Utara akan meluncurkan satelit mata-mata ke arah Laut Kuning dan Laut Tiongkok Timur mulai tengah malam pada 22 November hingga tengah malam pada 30 November.
Penjaga Pantai Jepang telah mengeluarkan peringatan navigasi kepada kapal-kapal di perairan terdekat untuk mengingatkan kapal agar berhati-hati terhadap benda yang jatuh.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengecam keras tindakan berbahaya Korea Utara dan menyatakan bahwa ia akan melakukan yang terbaik untuk mengumpulkan informasi relevan tentang peluncuran satelit Korea Utara. Pada saat yang sama membuat persiapan yang sesuai untuk menghadapi kemungkinan situasi yang tidak terduga.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berkata: “Untuk menghadapi keadaan darurat, kapal Aegis Pasukan Bela Diri dan pasukan pertahanan rudal PAC-3 Okinawa telah melakukan persiapan yang diperlukan.”
Kishida Fumio juga meminta kerja sama dengan sekutunya, Amerika Serikat dan Korea Selatan, untuk bersama-sama menghalangi Korea Utara melakukan aktivitas terkait ancaman nuklir.
Di hari yang sama, kapal induk bertenaga nuklir USS Carl Vinson tiba di Pelabuhan Busan, Korea Selatan. Laksamana Muda Angkatan Laut Korea Selatan Kim Ji-hoon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kedatangan “Carl Vinson” menunjukkan postur pertahanan bersama yang kuat dari aliansi Korea Selatan-AS dan kemauan kuat untuk melawan ancaman rudal nuklir Korea Utara.
Korea Utara berusaha meluncurkan satelit mata-mata militer dua kali pada tanggal 31 Mei dan 24 Agustus lalu, namun keduanya berakhir dengan kegagalan. (Hui)
Kelompok Pro-Komunis Menyerang dan Mengeluarkan Ancaman Pembunuhan Sebelum Pameran Anti-Komunis di Flushing, New York
Han Fei
Seorang pria Tionghoa dengan kejam menyerang aktivis pro-demokrasi di depan pameran anti-komunis di Flushing, New York, Amerika Serikat pada Minggu (19 November) siang, Aktivis pro-demokrasi mengecam insiden tersebut dan meyakini bahwa Konsulat Tiongkok berada di balik insiden tersebut.
Seorang penyerang berteriak: “Binatang!”
Penonton: “Jangan memukul! Kamu tidak boleh memukul!”
Penyerang: “XX (sumpah serapah kotor), akan kubunuh kamu!”
Menyusul serangan pro-komunis terhadap aktivis pro-demokrasi di San Francisco dan berbagai bentrokan antara kedua belah pihak. Pada Minggu lalu juga terjadi insiden lain terjadi di depan Perpustakaan Flushing, di mana kelompok pro-komunis menyerang aktivis pro-demokrasi.
Pada 19 November siang, seorang pria Tionghoa dengan kejam menyerang Yang Shisong yang anti-komunis dan mengeluarkan ancaman pembunuhan di depan pameran anti-komunis. Yang Shisong jatuh ke lantai setelah diserang, mulutnya penuh darah, setelah memanggil polisi, dia lalu dikirim ke rumah sakit untuk perawatan dan telah dipulangkan.

Relawan dan korban “Aliansi Keadilan Kristen” Yang Shisong berkata : “Orang ini adalah pemilik rumah kami sebelumnya. Dia melihat slogan dan tanda anti-komunis di rumah kami, dan dia mengancam kami. Mengambil keuntungan dari kami adalah anti-komunis, dan dia mengira kami takut, jadi dia membuat keributan di tempat kami, menimbulkan masalah dan menghancurkan tempat kami.”
Setiap Minggu, “Aliansi Keadilan Kristen” mengadakan “Pameran Foto Akuntansi untuk Seratus Tahun Kejahatan Terhadap Kemanusiaan yang Dilakukan PKT” di depan Perpustakaan Flushing, mengungkap kejahatan PKT yang telah berusia seabad, menarik banyak orang yang lewat untuk berhenti dan menonton, tetapi juga menarik perhatian kekuatan pro-komunis.

Beberapa orang anti-komunis yang hadir percaya bahwa konsulat Tiongkok berada di balik provokasi dan masalah orang ini, dan mereka harus menyelidiki apakah dia mempunyai latar belakang sebagai agen PKT.
Di luar lokasi APEC pada Kamis, 16 November, pengacara Chen Chuangchuang, seorang aktivis pro-demokrasi yang baru saja disemprot semprotan merica oleh orang-orang pro-komunis karena memprotes PKT juga mengutuk tindakan tersebut.
Chen Chuangchuang, pengacara dan CEO Komite Nasional Partai Demokrat Tiongkok: “Intinya adalah infiltrasi luar negeri dan penindasan transnasional yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok. Jika pemerintah, masyarakat, dan masyarakat di dunia bebas tidak waspada terhadap hal ini, maka mereka kemungkinan besar akan menghadapi dilema.”
Yang Shisong menyerukan kepada kelompok anti-komunis untuk berdiri dengan berani dan menolak penganiayaan transnasional yang dilakukan oleh PKT dalam menghadapi ancaman dari PKT.
Relawan & korban “Aliansi Keadilan Kristen” Yang Shisong berkata : “Saya tidak akan takut dengan hal-hal jahat seperti ini yang terkait dengan Partai Komunis. Saya akan melawan mereka sampai akhir. Saya berharap di masa depan di Amerika Serikat “Apakah itu di New York atau kota-kota lain, orang-orang yang anti-komunis tidak boleh takut kepada orang-orang yang pro-komunis, dan jangan takut kepada mereka dalam kerangka hukum Amerika Serikat.”
Departemen Kepolisian Kota New York telah turun tangan dalam kasus ini dan sedang dalam proses mengumpulkan bukti. (Hui)
Kerja Sama Dalam Pemberantasan Bentuk Baru Kejahatan Transnasional Melalui Kerja Sama Secara Langsung, Mendukung Partisipasi Taiwan dalam INTERPOL
oleh Chou Yew-woei
Menyusul merebaknya pandemi COVID-19, banyak orang kehilangan pekerjaan karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga berujung pada keterbatasan serta kesulitan finansial. Masa sulit tersebut membuat peluang kerja yang menarik apa pun akan sulit ditolak. Namun, hal yang tak bisa dihindari bagi mereka yang bekerja di luar negeri adalah risiko menjadi sasaran perdagangan manusia, yang merupakan kejahatan transnasional baru dan mengancam masyarakat global.
Adapun beberapa jenis praktik ini sering kali muncul dalam kasus-kasus terbaru terkait kejahatan transnasional, sebagai contoh: “Suatu malam, saat saya merenung tentang orang yang saya cintai yang sedang bekerja di luar negeri, saya menerima pesan singkat darinya. Dia berbicara tentang betapa menyenangkan dan asiknya bekerja di sana dan berharap saya bisa bergabung dengannya. Dia pun berkata bahwa kita dapat meraih masa depan yang lebih cerah bersama-sama.” Apakah contoh seperti ini lazim kita dengar?
Penipuan adalah jenis kejahatan dengan sejarah yang panjang, yang telah hadir seiring dengan perkembangan bahasa dan peradaban manusia. Di era modern ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kejahatan kuno ini dimensi baru, serta menciptakan ancaman yang tak terhitung jumlahnya terhadap keamanan global. Seperti yang dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal INTERPOL, Jürgen Stock, pentingnya kerja sama polisi internasional yang kuat semakin diperlukan dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan transnasional baru, seperti perdagangan manusia dan penipuan.
Organisasi kriminal saat ini beroperasi dalam model yang sangat terorganisir, bahkan mirip dengan perusahaan yang memiliki pembagian kerja komprehensif, pertukaran informasi efektif, pembelajaran antar-sesama efisien, serta kolusi dan keterlibatan semua pihak. Maka dari itu, untuk melawan kejahatan transnasional, lembaga penegak hukum di seluruh dunia harus bersatu dan berkolaborasi. Tidak boleh ada negara yang dikesampingkan, termasuk Taiwan, karena hal itu akan memberi kesempatan atau celah kepada para penjahat untuk beroperasi. Sebagai upaya yang sejalan dengan misi INTERPOL, yaitu untuk memastikan dan mendorong kerja sama antarotoritas penegak hukum di seluruh dunia, otoritas penegak hukum Taiwan mengambil inisiatif untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka di seluruh dunia dalam upaya memerangi kejahatan. Tujuanya adalah untuk mengurangi kesenjangan dalam jaringan keamanan global dan berkontribusi pada penciptaan dunia yang lebih aman.
Mengacu pada rekam jejak keamanan publik yang luar biasa, penyertaan Taiwan dalam upaya memerangi kejahatan transnasional harus diterapkan
Sebagai sebuah negara dengan perekonomian yang cukup signifikan, Taiwan berada di peringkat ke-21 dalam perkembangan ekonomi dan peringkat ke-17 sebagai eksportir terbesar di dunia. Taiwan juga berfungsi sebagai jembatan vital antara Timur Laut dan Asia Tenggara, serta menjadi pusat utama pergerakan orang, barang, dan investasi.
Menurut hasil survei tahunan Expat Insider 2023, Taiwan meraih peringkat ke-5 sebagai tempat terbaik bagi para ekspatriat, berkat keindahan alamnya, keramahan penduduknya, serta perkembangan ekonomi yang pesat dan sistem kesehatannya yang maju.
Tak hanya itu, kualitas hidup di Taiwan juga berada pada peringkat ke-2 secara global, mengungguli negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Australia, dan Thailand.
Selain itu, dalam Laporan Kebahagiaan Dunia PBB tahun 2023 dengan mengukur tingkat kebahagiaan di 137 negara, Taiwan menduduki peringkat ke-4 di Asia. Tidak hanya itu, menurut peringkat keamanan dan tingkat kejahatan yang dirilis oleh situs database Numbeo tahun 2023, Taiwan menduduki peringkat ke-3 dalam hal keamanan dari 142 negara yang dievaluasi, dan memiliki tingkat kejahatan yang sangat rendah, bahkan melampaui sebagian besar negara-negara Asia lainnya.
Dalam rangka mengakui upaya konsisten Taiwan melawan perdagangan manusia, selama 14 tahun terakhir Departemen Luar Negeri AS telah memberikan predikat Tingkat 1 kepada Taiwan, mengalahkan lebih dari 180 negara di seluruh dunia. Pemerintah AS juga melaporkan bahwa, meskipun terdampak oleh pandemi, Taiwan tetap berkolaborasi dengan sektor swasta untuk menekan perdagangan manusia dan tantangan sejenis lainnya.
Namun, Taiwan tidak hanya berhenti di sana dalam mengatasi masalah-masalah ini. Melainkan, Taiwan terus menunjukkan prestasi gemilangnya dalam menjaga keamanan masyarakatnya, di tengah maraknya tipe-tipe baru kejahatan transnasional yang terus bermunculan.
Oleh karena itu, dengan bergabung dalam jaringan INTERPOL dan menjalin kerja sama dengan lembaga penegak hukum global, semua pihak dapat bersama-sama berperan dalam memerangi kejahatan lintas batas ini.

Peran Vital Taiwan dalam Keselamatan dan Keutuhan INTERPOL
Organisasi internasional memiliki peran penting dalam tata kelola global. Ikut serta dalam organisasi-organisasi ini adalah cara Taiwan untuk menjalin hubungan dengan dunia, memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya, seperti pengaruh implisit, dan memberikan kontribusi bagi komunitas global.
Namun sayangnya, Taiwan telah dibatasi untuk berpartisipasi dalam INTERPOL selama lebih dari tiga dekade, yang berakar dari masalah politik.
Di era globalisasi dan peningkatan kejahatan lintas batas, hal-hal pembatasan ini menjadi semakin mengkhawatirkan. Paspor Taiwan, yang memiliki akses bebas visa ke 145 negara dan wilayah, kini menjadi sasaran utama para penjahat transnasional sehingga tak bisa lagi dihiraukan.
Kemampuan Taiwan dalam menjalankan pemeriksaan keamanan perbatasan dan melawan kejahatan transnasional, termasuk terorisme dan perdagangan manusia, terbatas karena akses yang minim terhadap intelijen kriminal secara langsung yang umumnya dibagikan melalui sistem I-24/7 INTERPOL dan juga kurangnya akses ke basis data dari dokumen perjalanan yang dicuri ataupun hilang. Keterlibatan Taiwan dalam INTERPOL yang selama ini dikecualikan memiliki arti bahwa pertukaran data informasi intelijen yang sangat penting sering kali sudah kadaluarsa dan tidak akurat. Selain itu, dibatasinya Taiwan untuk berpartisipasi dalam pertemuan, kegiatan, dan pelatihan yang diselenggarakan oleh INTERPOL telah menciptakan kesenjangan yang signifikan dalam jaringan global keamanan dan anti-terorisme.
Taiwan Sebagai Referensi Pengalaman Bermanfaat dan Kesiapan Untuk Aktif Berkolaborasi Dengan INTERPOL
Pada tahun 2022, polisi Taiwan menemukan beberapa jenis perdagangan manusia yang mengejutkan di Kamboja dan Myanmar. Sindikat kejahatan yang terorganisir dengan baik ini beroperasi di bawah model perusahaan dan menggunakan platform daring untuk merekrut orang dari seluruh dunia dengan menawarkan peluang kerja menarik di luar negeri.
Para korban yang tergiur dengan janji manis dan palsu tersebut malah disekap, dipaksa bekerja di pusat-panggilan (call center) penipuan, dan menjadi sasaran berbagai bentuk perlakuan kejam seperti pemukulan, penyiksaan listrik, pemberian obat-obatan terlarang, dan kekerasan seksual. Semua hal itu dilakukan untuk memaksa mereka terlibat dalam aktivitas ilegal, termasuk penipuan transnasional, pencucian uang kripto, serta perdagangan narkoba dan manusia.
Sayangnya, laporan polisi Taiwan kepada INTERPOL tidak membuahkan hasil nyata. Sebagai gantinya, Taiwan harus mengandalkan bantuan polisi dari negara-negara mitra untuk berbagi informasi intelijen dan bekerja sama dalam penyelidikan. Untuk mengatasi situasi ini, Taiwan juga membentuk tim anti penipuan lintas pemerintah nasional yang bertujuan untuk melakukan operasi pencegahan, penyelamatan, serta penyelidikan yang intensif untuk menghentikan lebih banyak warga Taiwan menjadi korban atau bagian dari penipuan. Alhasil, sampai dengan bulan Juli 2023, 478 korban telah berhasil diselamatkan.
Berita tentang situasi ini telah menarik perhatian dunia internasional, dan kepolisian di Eropa, AS, Asia Tenggara, dan negara-negara lainnya di mana mereka memberikan tingkat kewasapadaan lanjut akan ancaman kejahatan baru ini yang melibatkan korban dari berbagai negara. Dengan demikian, menggabungkan sumber daya internasional dan melakukan penyelidikan secara kolaboratif, akan mendorong semua pihak mampu menegakkan hukum dan mengatasi masalah keamanan global ini.
Dalam Menyadari Urgensi Keamanan Global, Pentingnya Dukungan Untuk Partisipasi Taiwan Dalam INTERPOL
Pada tahun 1984, ketika Tiongkok mengajukan permohonan untuk bergabung dengan INTERPOL, mereka memutuskan untuk menerapkan persyaratan yang bertentangan dengan semangat Konstitusi INTERPOL. Mereka merampas hak dan status keanggotaan Taiwan, dan selalu menyebut “masalah politik” sebagai alasan untuk menghalangi partisipasi Taiwan dalam INTERPOL secara efektif. Hal ini tidak hanya merusak upaya pencegahan kejahatan dan pertukaran intelijen, tetapi juga menghambat kemampuan Taiwan dalam memerangi kejahatan transnasional.
Namun, kita tidak harus terjebak dalam pandangan negatif bahwa sejarah hanya tentang kejahatan dan bencana. Karenanya, kami ingin mengajak semua pihak untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam Sidang Umum tahunan INTERPOL sebagai pengamat.
Dengan begitu, otoritas kepolisian Taiwan akan memiliki kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, pertemuan, dan pelatihan, berinteraksi dengan negara-negara lain, dan mengatasi kendala dalam pertukaran intelijen terkait kejahatan transnasional. Ini adalah masalah yang berkaitan dengan keamanan global, dan saatnya kita semua menyatukan suara bersama. Mari kita sertakan Taiwan dan INTERPOL bekerja sama. Berikut link video INTERPOL tahun ini⬇️
- Komisaris Biro Investigasi Kriminal Republic of Tiongkok (Taiwan)





















