Yesus dan Sabun

EtIndonesia. Ada dua orang yang sedang berjalan bersama. Yang satu adalah seorang penginjil, dan yang satunya lagi adalah seorang pembuat sabun.

Sepanjang perjalanan, sang pembuat sabun berbicara tanpa henti, sementara sang penginjil hanya mendengarkan dengan tenang.

Pembuat sabun itu berkata:  “Coba katakan padaku, apa gunanya gereja? Apa gunanya khotbahmu? Apa gunanya Alkitab? Hidup manusia penuh masalah—ada yang mencuri, saling membunuh, saling membenci. Gereja sudah ada lebih dari dua ribu tahun, khotbah dan pembacaan Alkitab juga sudah berlangsung selama itu, tetapi dunia tidak menjadi lebih baik. Manusia tetap sama saja—tetap berebut, mencuri, membunuh, dan saling membenci.”

Penginjil itu tidak membantah apa pun. Dia hanya mendengarkan.

Tak lama kemudian, mereka melewati sebuah tempat di mana banyak anak kecil sedang bermain di lumpur.

Penginjil itu lalu berkata kepada pembuat sabun: “Kamu bilang sabun bisa membersihkan manusia? Aku tidak percaya. Lihat anak-anak itu, betapa kotor mereka. Apa gunanya sabun? Sabun sudah ada ribuan tahun. Bahkan ketika sabun ada di mana-mana, anak-anak ini tetap saja kotor oleh lumpur.”

Pembuat sabun itu menjawab : “Pendeta, sabun tidak akan berguna kecuali orang mau mengambil dan menggunakannya.”

“Benar sekali!” kata penginjil itu. “Sabun dengan sendirinya tidak bisa membersihkan siapa pun, kecuali orang mau memakainya. Prinsip ini sama dengan ajaran Yesus. Ajaran Yesus tidak bisa mengubah manusia, kecuali manusia mau mempraktikkan apa yang Dia ajarkan.”

Sikap yang berubah akan mengubah kebiasaan. Kebiasaan yang berubah akan mengubah karakter. Karakter yang berubah akan mengubah jalan hidup.

Renungan

Kisah singkat ini menyampaikan satu pesan yang sederhana namun mendalam: jika ingin ditolong, seseorang harus terlebih dahulu mau menolong dirinya sendiri. Tanpa kemauan dari dalam, sekuat apa pun bantuan dari luar, semuanya akan sia-sia.

Seperti sabun yang mampu membersihkan kotoran—jika tidak diambil, tidak digosokkan, dan tidak digunakan, ia tak akan pernah membuat tubuh menjadi bersih. (jhn/yn)

Donald Trump Mengancam Akan Memblokir Pembukaan Jembatan Baru Michigan-Kanada

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengancam akan memblokir pembangunan jembatan baru yang menghubungkan AS dan Kanada, dengan alasan permusuhan negara tersebut terhadap AS dan hubungannya dengan Tiongkok, menurut unggahan Trump di Truth Social.

Jembatan Internasional Gordie Howe, yang dijadwalkan dibuka pada awal 2026, direncanakan menjadi satu-satunya jembatan yang memungkinkan lalu lintas pejalan kaki dan sepeda antara Detroit, Michigan, dan Windsor, Ontario.

Namun, Trump telah mempertaruhkan masa depan proyek tersebut, karena marah dengan pemerintahan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

“Saya tidak akan mengizinkan jembatan ini dibuka sampai Amerika Serikat sepenuhnya diberi kompensasi atas semua yang telah kami berikan kepada mereka, dan juga, yang penting, Kanada memperlakukan Amerika Serikat dengan adil dan hormat yang pantas kami dapatkan,” tulis Trump pada Senin malam di Truth Social.

Dia juga menambahkan bahwa negosiasi mengenai proyek tersebut akan segera dimulai, dan bersikeras bahwa AS harus memiliki, mungkin setidaknya setengah dari aset ini.

Pembangunan jembatan di atas Sungai Detroit, yang dinamai menurut nama mendiang pemain hoki legendaris Kanada, Gordie Howe, dimulai pada tahun 2018 dan telah didanai oleh entitas yang dikendalikan pemerintah Kanada yang bertanggung jawab untuk mengoperasikan, memelihara, dan merehabilitasi jembatan selama 36 tahun ke depan.

Dalam unggahannya, Trump juga menyinggung keputusan Ottawa untuk menghapus minuman keras Amerika, seperti bourbon, dari toko minuman keras yang dikelola pemerintah sebagai tanggapan atas ancamannya yang berulang kali untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS.

Klaim Trump terhadap Kanada terkait Tiongkok

Dalam unggahannya yang penuh amarah, pemimpin AS itu juga menyinggung kesepakatan baru-baru ini antara Perdana Menteri Kanada, Mark Carney dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping untuk membuka Kanada bagi impor kendaraan listrik Tiongkok. Trump menulis bahwa kesepakatan itu akan menghancurkan Kanada.

Pemerintahan AS berpendapat bahwa kesepakatan Kanada dengan Tiongkok melemahkan posisi tawar Kanada dengan Washington, yang mendorong Trump untuk mengancam tarif 100% pada semua impor Kanada jika Carney menindaklanjutinya.

Namun, pemimpin Kanada membantah spekulasi bahwa negaranya sedang menegosiasikan kesepakatan perdagangan bebas dengan Beijing, dan mengakui bahwa langkah tersebut akan membahayakan hubungan perdagangan dengan AS. (yn)

Zona Aman Rusia Runtuh: Serangan Ukraina Merembes ke Energi, Logistik, dan Rudal Strategis

EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1446, dengan dinamika pertempuran yang kian kompleks dan eskalatif. Dalam beberapa hari terakhir, serangan dan counter-strike tidak lagi hanya terjadi di garis depan pertempuran, tetapi mulai menyasar wilayah strategis Rusia secara signifikan — menandai fase baru dalam strategi militer Kyiv.

Ukraina Tingkatkan Serangan Balasan, Wilayah Belakang Rusia Dihantam

Sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026, pasukan Ukraina dilaporkan meningkatkan serangan balasan secara luas, tidak hanya di garis depan, tetapi juga ke wilayah belakang Rusia. Serangan rudal dan drone telah menarget fasilitas penting di berbagai kota Rusia, termasuk Belgorod dan Bryansk Oblast, yang berdekatan dengan perbatasan Ukraina. Menurut laporan pejabat regional Rusia, serangan ini menyebabkan pemadaman listrik luas dan kerusakan infrastruktur energi di beberapa wilayah, ketika sistem kelistrikan terguncang akibat serangan balasan Ukraina terhadap fasilitas energi dan gardu listrik.

Selain itu, serangan Ukraina dilaporkan telah menyentuh wilayah permukiman di Leningrad Oblast, menyebabkan beberapa gardu listrik mati dan sejumlah kawasan menjadi gelap gulita. Serangan udara serta penggunaan roket presisi menjadi bagian dari kampanye yang lebih luas untuk mengganggu logistik dan pasokan energi Rusia.

Menurut timeline perang terbaru, SBU (badan keamanan Ukraina) juga melancarkan serangan drone terhadap fasilitas industri di Tver Oblast, yang terkait dengan produksi bahan bakar rudal. Hal ini menunjukkan bahwa target Kyiv melampaui posisi militer langsung — menyasar infrastruktur yang mendukung kemampuan perang Rusia.

Zona Laut Hitam dan Serangan Pelabuhan Strategis

Di Laut Hitam, kekuatan Ukraina juga menunjukkan kemampuan serangan berjangkauan jauh. Drone laut dan kapal tak berawak menghantam pelabuhan penting di Novorossiysk, salah satu pelabuhan kunci bagi ekspor minyak Rusia. Insiden ini menunjukkan bahwa ancaman Ukraina terhadap jalur energi dan logistik strategis Rusia tidak lagi bersifat temporer tetapi berpotensi berkelanjutan, menimbulkan tekanan signifikan terhadap mobilitas dan ekspor minyak Moskow.

Fasilitas Energi & Logistik Rusak — Kekuatan Militer Rusia Tertekan

Target yang dipukul Ukraina tidak hanya fasilitas listrik kecil, tetapi juga depot minyak dan garasi penyimpanan logistik di wilayah Rusia seperti Saratov dan Astrakhan Oblast. Laporan intelijen menyatakan ada kerusakan serius pada fasilitas perawatan rudal balistik jarak menengah di selatan Rusia, yang berpotensi berdampak terhadap kemampuan logistik dan kesiapan peralatan perang Rusia.

Lebih dari itu, daftar sasaran tambahan yang dirilis Ukraina mencakup:

  • gudang persediaan militer,
  • titik konsentrasi pasukan,
  • pusat kendali operasi drone,
  • dan sistem peluncur roket ganda.

Strategi ini menunjukkan kampanye sistematis untuk melemahkan jaringan logistik serta kemampuan serangan Rusia dari belakang garis front. Serangan yang intensif ini menggambarkan perubahan taktik Kyiv dari bertahan menjadi memperluas tekanan ofensif terhadap fasilitas strategis lawan.

Pertempuran Garis Depan: Sengit namun Tanpa Terobosan Signifikan

Meski Ukraina meningkatkan serangan ke wilayah belakang Rusia, pertempuran di garis depan tetap berlangsung sengit namun stabil tanpa kemajuan besar dari kedua belah pihak. Unit-unit di Donetsk, Luhansk, serta sepanjang front timur terus saling bertukar serangan, dengan korban dan kerusakan terus terjadi tetapi tidak cukup untuk mengubah peta kontrol wilayah secara signifikan pada tanggal ini.

Ekonomi Ukraina Tumbuh & Ketahanan Fiskal Terjaga

Dalam dinamika perang berkepanjangan ini, ketahanan ekonomi Ukraina justru menunjukkan tanda-tanda positif. Pada 6 Februari 2026, Kementerian Keuangan Ukraina menetapkan telah menandatangani hibah senilai 690,8 juta dolar bersama Bank Dunia, yang berasal dari aset Rusia yang dibekukan serta kontribusi dari Jepang dan Kanada. Dana ini langsung dialokasikan untuk anggaran negara, antara lain untuk pensiun, bantuan sosial, dan subsidi perumahan — yang sangat penting bagi stabilitas sosial di tengah perang.

Selain itu, pada 7 Februari 2026, Bank Sentral Ukraina mengumumkan bahwa cadangan devisa mencapai 57,7 miliar dolar, angka tertinggi dalam sejarah negara tersebut. Peningkatan cadangan ini memberikan bantalan penting bagi sistem moneter Ukraina, sementara nilai tukar dan sistem pensiun tetap terjaga meski tekanan perang berlangsung.

Pertahanan ekonomi ini dinilai para analis sebagai faktor krusial dalam mempertahankan ketahanan nasional jangka panjang — tidak hanya meriam di medan perang, tetapi juga dukungan fiskal dan sosial yang kuat.

(Catatan: informasi ekonomi ini merupakan bagian dari perkembangan 6–7 Februari 2026 yang dilaporkan pejabat Ukraina.)

Uni Eropa Luncurkan Sanksi ke-20 terhadap Rusia

Secara paralel dengan perkembangan militer, Uni Eropa (UE) secara resmi memperkenalkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia pada 6 Februari 2026 menjelang peringatan empat tahun invasi. Paket ini mencakup langkah-langkah signifikan:

  • pelarangan total layanan pengapalan minyak Rusia (bukan sekadar pembatasan harga),
  • penambahan 43 kapal lagi dalam daftar sanksi, membawa total kapal yang terkena pembatasan ke sekitar 640 unit,
  • larangan ekspor teknologi tinggi, logam tertentu, bahan kimia, dan peralatan strategis,
  • serta sanksi terhadap 20 bank Rusia dan sejumlah entitas kripto.

Langkah ini dirancang untuk mempersempit ruang ekonomi Moskow, memotong pendapatan dari energi yang menjadi tulang punggung anggaran pertahanan Rusia, dan menekan sektor-sektor yang menjadi titik rentan dalam keuangan serta perdagangan Rusia.

Paket ini diperkirakan mulai berlaku secara penuh pada sekitar 24 Februari 2026, bertepatan dengan menandai empat tahun sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai.

Dampak Global: Rusia Terdesak hingga Amerika Latin

Dampak perang bukan hanya terbatas di Eropa dan garis depan. Pada 6 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengakui bahwa perusahaan Rusia tengah menghadapi tekanan keras hingga dipaksa keluar dari Venezuela, sebuah mitra geopolitik penting di Amerika Latin. Tepercaya bahwa aset Rusia senilai sekitar 19 miliar dolar di sana terancam hilang, perkembangan ini menggambarkan bagaimana kebijakan global, khususnya tekanan dari Amerika Serikat, telah mengikis salah satu pijakan strategis Rusia di luar kawasan Eropa.

Hal ini menunjukkan dampak sanksi dan tekanan geopolitik tidak hanya pada kekuatan militer dan ekonomi Rusia di wilayah perang, tetapi juga terhadap hubungan strategis global hingga benua lain.

Kesimpulan Akhir — 7 Februari 2026

Perang Rusia–Ukraina memasuki fase yang tidak hanya bersifat militer di garis depan, tetapi juga ekonomi, logistik, dan geopolitik global. Ukraina menunjukkan kapasitas ofensif yang lebih luas terhadap target strategis di belakang garis pertahanan Rusia, sementara tekanan sanksi dari Uni Eropa dan mitra internasional terus mendesak kekuatan ekonomi Moskow. Bersamaan dengan itu, ketahanan ekonomi Ukraina menunjukkan sinyal stabilitas yang semakin kuat di tengah cobaan konflik berkepanjangan.

Perkembangan terbaru ini menandai era baru dalam konflik yang sudah memasuki tahun ke-empat — perang yang kini bukan hanya soal pertempuran di medan, tetapi juga soal daya tahan ekonomi, diplomasi, dan dukungan internasional yang berkelanjutan.

Viral di Medsos Tiongkok : Nenek 83 Tahun di Shandong Tak Mampu Beli Daging, Hanya Sajikan Mi Vegetarian untuk Tamu

Baru-baru ini, seorang nenek berusia 83 tahun di Provinsi Shandong memasakkan semangkuk mi tanpa telur dan daging untuk seorang blogger perjalanan. Pengakuan sang nenek bahwa ia “tidak mampu membeli daging” menyentuh hati tak terhitung banyaknya warganet.

EtIndonesia. Pada 6 Februari, blogger Tiongkok bernama “Yimengshan Dian Liang Wanli” mengunggah sebuah video. Saat berwisata di kawasan Pegunungan Yimeng, ia berpapasan dengan seorang nenek yang sedang bekerja di ladang, lalu menyapanya.

Dengan ramah, sang nenek berkata kepada blogger tersebut, “Lapar ya? Kalau lapar, mampir ke rumah makan sedikit. Kalau haus, pulang ke rumah minum air.”

Nenek itu mengatakan rumahnya tidak jauh dari ladang, lalu mengajak blogger tersebut ke rumahnya untuk makan. Dalam perjalanan pulang, blogger bertanya, “Bibi, di rumah ada makanan enak apa?”

Sambil tersenyum, nenek itu menjawab, “Ada sayur, ada jianbing (panekuk khas), juga ada mi.”

Nenek tersebut mengatakan usianya sudah 83 tahun. Suaminya telah meninggal, dan anak laki-lakinya juga sudah tiada. Dalam video terlihat rumah tempat tinggal nenek itu sangat sederhana: sebuah rumah tanah yang rendah, pintu kayu yang sudah rusak, lantai tanah tanpa semen. Di dalam rumah tidak ada peralatan listrik apa pun, hanya beberapa lemari kayu dan kursi kayu sederhana.

Tungku masaknya berada di dalam rumah, juga terbuat dari bata tanah. Di dalam kuali besi masih tersisa sayur kol dan lobak yang sebelumnya dimakan nenek tersebut. Ia mengeluarkan sayur itu, lalu memasakkan mi untuk sang blogger.

Nenek itu mengeluarkan sebotol minyak kacang dari lemari dan mengatakan bahwa minyak tersebut dibuat dari kacang tanah yang ia tanam sendiri dua tahun lalu. Ia menyendokkan sedikit minyak ke dalam kuali, lalu memasukkan segenggam mi kering.

Blogger itu sengaja bercanda, “Bibi, tambahkan telur ya.”

Dengan nada meminta maaf, nenek itu berkata, “Tidak ada telur, ayamnya tidak bertelur lagi. Cuacanya dingin, jadi tidak bertelur.”

Blogger itu lalu bertanya lagi, “Ada daging? Tambahkan sedikit daging boleh?”

Nenek itu langsung menjawab, “Aduh, tidak ada. Saya tidak mampu membeli daging, hehe.”

Setelah mi matang, nenek itu menyajikan semangkuk besar mi kepada blogger dan berkata, “Sudah sore, makanlah yang banyak.”

Sambil menyantap mi tanpa lauk, blogger itu berkata, “Enak sekali.”

Dengan penuh kasih, nenek itu berkata, “Usiamu sedang masa banyak makan. Makan dengan cabai ini, saya yang mengasinkannya sendiri. Kalau nanti lapar dan lewat sini lagi, datanglah cari saya, saya masakkan makanan untukmu.”

Saat hendak pergi, nenek itu juga membungkuskan sekantong makanan untuk dibawa blogger tersebut di perjalanan.

Blogger itu mengucapkan terima kasih atas jamuan sang nenek. Nenek itu berkata, “Tak perlu terima kasih.” Lalu ia menambahkan dengan mata berkaca-kaca, “Waktu anak saya masih hidup, setiap hari saya masakkan untuknya… kalau teringat itu, saya jadi sedih.”

Setelah meninggalkan rumah nenek tersebut, blogger itu pergi ke pasar dan membeli satu kotak besar telur serta sepotong besar daging, lalu secara khusus kembali untuk memberikannya kepada sang nenek.

Melihat itu, nenek tersebut tampak kebingungan dan enggan menerimanya. Blogger itu berkata, “Ini telur, bisa dimakan sampai tahun depan saat cuaca hangat dan ayam mulai bertelur lagi. Ini daging.”

Nenek itu tetap menolak, namun blogger berkata, “Ini hadiah untuk Anda,” lalu pergi. Nenek itu membawa kantong berisi daging tersebut dan mengantarnya sampai ke luar gerbang.

Seorang nenek 83 tahun di Shandong, yang tinggal di rumah tanah kosong tanpa perabot, tidak memiliki telur untuk dimakan dan tidak mampu membeli daging, namun tetap memasakkan semangkuk mi sederhana untuk seorang blogger yang sama sekali tidak dikenalnya. Itu adalah jamuan terbaik yang bisa ia berikan sesuai dengan kemampuannya.

Video ini meraih lebih dari 200 ribu tanda suka di platform Douyin. Banyak warganet di Tiongkok daratan merasa terenyuh:

“GDP Shandong setinggi ini, kenapa masih banyak lansia seperti ini? Ada apa sebenarnya?”

“Saya juga dari Yiyuan. Nenek itu di mana? Saya ingin membeli sesuatu dan mengantarkannya.”

Video ini juga memicu perbincangan hangat di platform X. Banyak warganet Tionghoa di luar negeri berkomentar, “Ini membuat saya menangis. Asal-usul keluarga saya juga dari Mengyin, Shandong, daerah basis revolusi. Tak disangka kehidupan mereka sekarang masih seperti ini…”

“Inilah sosialisme.”

 “Kehidupan di bawah rezim tirani PKT sungguh menyedihkan.”

“Sangat menyayat hati! Semoga nenek itu bisa merayakan Tahun Baru dengan baik!”

“Inilah aib nasional.”

(Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor penanggung jawab: Wen Hui)

Pengemis Berpenghasilan 100 Ribu Yuan per Tahun Ini Memberiku Pelajaran yang Mengejutkan

EtIndonesia. Aku keluar dari pusat perbelanjaan Maoye sambil menenteng celana Levi’s yang baru kubeli, lalu berdiri di depan pintu masuk menunggu seorang teman.

Seorang pengemis profesional memperhatikanku, lalu dengan sangat terlatih dan tepat sasaran, dia berhenti tepat di hadapanku. Dari pertemuan singkat itulah, terjadilah kisah yang benar-benar mengguncang pikiranku—seperti mengikuti sebuah kelas studi kasus riset pasar yang hidup. Demi setia pada maksud sang pengemis, aku berusaha mengulang kata-katanya berdasarkan ingatanku.

“Pak… tolonglah, beri sedikit.”

Karena sedang tidak ada kegiatan, aku merogoh saku dan melemparkan sekeping koin, lalu mulai mengobrol dengannya. Pengemis itu ternyata sangat pandai berbicara.

“Aku hanya mengemis di sekitar Huaqiangbei. Kamu tahu? Sekilas aku sudah bisa menilaimu. Belanja Levi’s di Maoye, pasti orang yang tak segan mengeluarkan uang…”

“Wah, kamu paham juga,” kataku terkejut.

“Jadi pengemis pun harus pakai cara ilmiah,” jawabnya santai.

Aku tertegun dan bertanya dengan penuh minat: “Cara ilmiah seperti apa?”

“Coba kamu perhatikan, apa bedaku dengan pengemis lain?”

Aku menelitinya: rambutnya berantakan, bajunya compang-camping, tangannya kurus—tapi semuanya tidak kotor.

Dia memotong pikiranku: “Kebanyakan orang merasa jijik pada pengemis. Tapi aku tahu kamu tidak jijik padaku. Itu terlihat jelas. Dan itulah kelebihanku dibanding pengemis lain.”

Aku mengangguk. Benar juga—kalau tidak, mana mungkin aku mau mengobrol dengannya.

“Aku paham analisis SWOT: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Dibanding pesaingku, kelebihanku adalah tidak membuat orang merasa risih. Peluang dan ancaman itu faktor eksternal—misalnya jumlah penduduk Shenzhen yang besar, atau kebijakan penertiban kota.”

“Aku juga melakukan perhitungan yang cukup presisi. Di sini, arus manusia per hari puluhan ribu. Orang miskin banyak, tapi orang kaya lebih banyak. Secara teori, kalau aku minta satu yuan pada setiap orang, sebulan bisa dapat 300 ribu. Tapi tentu tidak semua orang memberi, dan aku juga tak mungkin menjangkau semua orang. Karena itu, aku harus menentukan mana target pelanggan, mana pelanggan potensial.”

Dia melanjutkan dengan serius: “Di wilayah Huaqiangbei, target pelangganku sekitar 30% dari total orang lewat, dengan tingkat keberhasilan 70%. Pelanggan potensial sekitar 20%, tingkat keberhasilan 50%. Sisanya 50% aku abaikan—tak ada waktu untuk berjudi pada mereka.”

“Lalu bagaimana kamu mendefinisikan pelangganmu?” tanyaku penasaran.

“Pertama, target utama. Pria muda sepertimu—punya dasar ekonomi dan biasanya dermawan. Pasangan kekasih juga termasuk target, karena demi menjaga gengsi di depan lawan jenis, mereka cenderung memberi.  Kedua, gadis cantik yang sendirian aku anggap pelanggan potensial—mereka takut diganggu, jadi sering memilih ‘membayar agar aman’.

Kedua kelompok ini usianya antara 20–30 tahun. Terlalu muda belum punya uang. Terlalu tua biasanya sudah menikah, keuangan dipegang istri—kelompok ini tak ada harapan, malah ingin minta uang dariku.”

“Kalau begitu, berapa penghasilanmu per hari?” tanyaku lagi.

“Senin sampai Jumat agak sepi, sekitar 200 yuan. Akhir pekan bisa sampai 400–500 yuan.”

“Sebanyak itu?”

 Melihat keraguanku, dia langsung menghitungkan untukku.

“Aku bekerja 8 jam sehari, dari jam 11 siang sampai 7 malam. Waktu satu kali mengemis sekitar 5 detik. Dengan waktu berjalan dan mencari target, rata-rata satu menit satu kali, dapat 1 yuan. Dalam 8 jam sekitar 480 yuan. Dikalikan tingkat keberhasilan rata-rata 60%, hasilnya hampir 300 yuan.”

“Yang paling penting, jangan menempel dan mengejar orang. Kalau gagal, aku langsung berhenti. Kalau dia mau memberi, dari awal sudah memberi. Memaksa hanya membuang waktu. Lebih baik cari target berikutnya.”

Luar biasa! Pengemis ini benar-benar tak bisa dipandang sebelah mata—lebih mirip direktur pemasaran senior.

“Lanjutkan,” kataku makin tertarik.

“Banyak orang bilang jadi pengemis itu bergantung pada nasib. Aku tidak setuju. Contohnya begini: di depan toko wanita, ada pria tampan dan gadis cantik. Kamu pilih yang mana untuk dimintai uang?”

Aku berpikir sejenak: “Tidak tahu.”

“Harus ke pria. Di samping wanita cantik, dia malu kalau tidak memberi. Kalau ke gadisnya, dia bisa pura-pura takut dan menjauh.”

“Contoh lain. Di depan Coco Park, ada tiga orang: gadis muda dengan tas belanja, sepasang kekasih sedang makan es krim, dan pria rapi membawa tas laptop. Aku butuh tiga detik untuk memutuskan—aku langsung ke gadis yang membawa tas belanja. Dia pasti punya uang receh.”

Masuk akal. Aku semakin terpukau.

“Jadi aku selalu bilang, pengetahuan menentukan segalanya.”

Aku sudah sering mendengar kalimat itu dari para CEO—ini pertama kalinya aku mendengarnya dari seorang pengemis.

“Harus mengemis dengan cara ilmiah. Tidur di jembatan penyeberangan mana bisa dapat uang? Orang yang lewat semuanya terburu-buru. Harus membekali diri dengan ilmu. Belajar membuat orang jadi pintar. Orang pintar yang terus belajar akan jadi talenta. Abad ke-21 paling butuh apa? Talenta!”

“Pernah ada orang memberi 50 yuan dan memintaku berteriak ‘An Hong, aku merindukanmu’ 100 kali. Aku hitung, satu teriakan 5 detik—setara satu kali mengemis, tapi bayaran cuma 0,5 yuan. Jadi aku tolak.”

“Di Shenzhen, pengemis biasa sebulan dapat 1.000–2.000 yuan. Dari seratus ribu pengemis, mungkin cuma sepuluh orang yang bisa dapat lebih dari 10.000 sebulan. Aku salah satu dari sepuluh itu—dan sangat stabil.”

Hebat. Aku benar-benar kagum.

“Aku sering bilang, aku pengemis yang bahagia. Mereka pikir aku bahagia karena penghasilanku besar. Salah. Justru karena aku punya sikap positif dan bahagia, aku bisa menghasilkan lebih banyak.”

“Mengemis adalah pekerjaanku. Aku menikmati pekerjaanku. Saat hujan dan orang sedikit, pengemis lain mengeluh atau tidur. Jangan begitu. Nikmati keindahan kota ini. Setelah pulang kerja, jalan-jalan malam bersama istri dan anak—itulah hidup.”

“Kamu punya istri dan anak?” tanyaku terkejut.

“Istriku ibu rumah tangga, anakku sekolah dasar. Aku punya rumah KPR di Futian—10 tahun cicilan, tinggal 6 tahun lagi lunas. Aku ingin anakku kuliah pemasaran, lalu meneruskan jejak ayahnya—jadi pengemis yang lebih hebat.”

“Aku dulu bekerja di perusahaan IT besar sebagai perencana pemasaran, lalu jadi manajer. Gaji 5.000 yuan. Tapi cicilan laptop saja 2.000 per bulan—hidup tersiksa. Aku sadar tak akan maju. Jadi aku berhenti, dan memilih jadi pengemis berkualitas tinggi.”

Mendengarnya, aku berkata dengan penuh emosi:  “Kalau begitu… maukah kamu menerimaku sebagai murid?”

Renungan

Judul kisah ini langsung membangkitkan rasa penasaran: pengemis dengan penghasilan tahunan 100 ribu yuan (± Rp. 2.4 miliar) —jumlah yang bagi banyak orang sudah tergolong mapan. Setelah membacanya, satu perasaan yang tersisa hanyalah kekaguman.

Kisah ini menunjukkan bahwa cara berpikir orang sukses berbeda dari kebanyakan orang. Mereka tahu cara mengumpulkan informasi penting, menganalisis peluang dengan probabilitas tertinggi, lalu mengerahkan seluruh tenaga. Modal utama untuk itu adalah pengetahuan.

Belajar memberi kita pengetahuan. Pengetahuan memberi kita kemampuan menilai.
Dan kemampuan itulah yang pada akhirnya mengubah nasib.(jhn/yn)

[Berita Terlarang] Presiden Panama Menanggapi Tiongkok : Menolak Paksaan Asing

Mahkamah Agung Panama baru-baru ini memutuskan untuk mencabut hak konsesi pengelolaan pelabuhan di kedua ujung Terusan Panama yang dimiliki oleh CK Hutchison Holdings asal Hong Kong. Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengancam Panama bahwa pencabutan kontrak pelabuhan tersebut akan membuat Panama “membayar harga yang mahal”. 

Menanggapi hal ini, Presiden Panama José Raúl Mulino menegaskan bahwa ke depan, hak konsesi pelabuhan tidak akan lagi diberikan hanya kepada satu perusahaan saja. Ia menekankan bahwa Panama menjunjung tinggi supremasi hukum dan menghormati independensi peradilan, serta tidak menerima ancaman dari negara mana pun.

EtIndonesia. Menanggapi hak konsesi pelabuhan yang dipegang oleh CK Hutchison, Presiden Panama Mulino pada 5 Februari menyampaikan pernyataan keras yang mengejutkan dunia internasional.

Mulino dengan tegas menyatakan bahwa hak pengelolaan dua pelabuhan yang berada di gerbang strategis Terusan Panama “tidak akan pernah lagi” diberikan kepada satu perusahaan tunggal, serta menegaskan bahwa putusan pengadilan bersifat final dan mengikat.

Sikap keras Mulino ini tidak hanya mematahkan tradisi lama Panama yang selama ini menjaga “keseimbangan pragmatis” antara Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi juga secara langsung menantang garis merah Beijing.

“Sejak Presiden AS Donald Trump menjabat pada 2025, ia berulang kali mengancam akan mengambil kembali Terusan Panama, bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan cara militer. Alasannya adalah karena pengaruh Tiongkok telah meresap dan mengancam keamanan militer AS. Di benua Amerika, Panama berada langsung di ‘halaman belakang’ AS dan berdampak langsung pada keamanan nasional AS,” kata Wakil peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Hsieh Pei-hsueh.

“Tekanan ekstrem dari pemerintah AS ini memaksa pemerintah Panama untuk memilih antara berada di bawah kendali militer dan ekonomi AS, atau secara aktif menyingkirkan pengaruh Tiongkok. Karena itu, sikap Panama kali ini juga dapat dipandang sebagai bentuk penyampaian loyalitas kepada Amerika Serikat,” tambahnya. 

Pemicu badai ini adalah putusan Mahkamah Agung Panama pada akhir Januari, yang menyatakan bahwa hak konsesi anak perusahaan CK Hutchison di kedua ujung Terusan Panama—Pelabuhan Balboa dan Pelabuhan Cristóbal—bersifat inkonstitusional dan tidak sah.

Opini publik mempertanyakan mengapa Panama memilih momen ini untuk mengambil sikap yang nyaris “memutus hubungan” dengan Beijing. Di baliknya, ini bukan sekadar sengketa hukum, melainkan sebuah “pertempuran mempertahankan kelangsungan hidup” di bawah tekanan ekstrem.

Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi, mengatakan:
“Pertama, ini belum tentu sepenuhnya pilihan Panama sendiri, melainkan karena dukungan Amerika Serikat di belakangnya sehingga Panama memiliki kepercayaan diri. Kedua, jika Panama tidak bersikap tegas dan terus berlarut-larut dengan Tiongkok, itu justru akan merugikan Panama. Memang Panama mungkin akan kehilangan sebagian investasi Tiongkok, tetapi melihat pola investasi Tiongkok belakangan ini, biasanya justru membangun jebakan utang dan belum tentu menguntungkan negara penerima.”

Para analis menilai bahwa sikap pemerintah Mulino yang “tidak memperpanjang kontrak dan tidak berkompromi” dengan CK Hutchison pada hakikatnya merupakan langkah pembatasan kerugian strategis. Meski Panama mungkin kehilangan sebagian pasar Tiongkok atau menghadapi pendinginan hubungan diplomatik, dibandingkan risiko diambil alih sepenuhnya oleh Amerika Serikat, harga tersebut dianggap layak dibayar.

Shen Mingshi menambahkan:  “Panama sangat dekat dengan Amerika Serikat dan sangat jauh dari Tiongkok. Tekanan dari AS jauh lebih nyata dirasakan. Namun Panama juga tidak bisa sepenuhnya berpihak ke AS sambil mengucapkan kata-kata keras kepada Tiongkok. Melalui cara ini, Panama merespons sekaligus memberi tahu Tiongkok tentang posisinya saat ini, dan juga menunjukkan bahwa soal Terusan Panama sudah tidak mungkin lagi dibalikkan.”

Bloomberg mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut bahwa otoritas PKT telah meminta perusahaan milik negara untuk sementara menghentikan pembicaraan proyek baru dengan Panama.

Selain itu, perusahaan pelayaran diminta mengevaluasi pengalihan rute, dan otoritas bea cukai diperintahkan memperketat pemeriksaan terhadap impor dari Panama seperti pisang dan kopi. PKT memperingatkan Panama bahwa mereka akan membayar “harga yang mahal” atas putusan Mahkamah Agung tersebut.

Menanggapi ancaman itu, Presiden Mulino menegaskan:  “Panama adalah negara yang bermartabat dan tidak akan pernah membiarkan dirinya diancam oleh negara mana pun.”

Hsieh Pei-hsueh mengatakan:  “Panama secara resmi keluar dari Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok pada Februari 2025. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Mulino secara strategis telah menetapkan arah dan tidak lagi khawatir menyinggung Beijing.” 

“Selain itu, ini juga menjadi kesempatan untuk ‘membersihkan rumah sendiri’, karena kontrak pelabuhan Panama dengan Tiongkok sejak ditandatangani pada 1997 terus dikritik di dalam negeri karena kurang transparan dan sarat kepentingan.” 

“Presiden Mulino kali ini berupaya mempertahankan citra independensi peradilan Panama, dengan menegaskan bahwa Panama adalah negara hukum, bukan negara yang tunduk pada tekanan pemerintah asing.”

Para analis menilai bahwa perubahan arah Panama merupakan cerminan klasik dari perjuangan negara kecil untuk bertahan hidup di tengah pertarungan kekuatan besar. 

Dari sebelumnya “berhubungan baik dengan kedua pihak” hingga kini “memilih posisi”, pengaruh ekonomi Beijing memang besar, tetapi dalam hal keamanan, Tiongkok sulit memberikan jaminan setara yang dibutuhkan Panama di kawasan benua Amerika.

Editor: Huang Yimei  Wawancara: Chang Chun  Pascaproduksi: Zhong Yuan – NTD

[Berita Terlarang] AS Membongkar Penggunaan Teknologi oleh Tiongkok untuk Menutupi Uji Coba Nuklir Rahasia

Perjanjian pembatasan penempatan rudal dan hulu ledak nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia telah berakhir. Amerika Serikat kini berupaya mencapai perjanjian pengendalian senjata trilateral dengan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Para pakar menilai bahwa terlepas dari tercapai atau tidaknya perjanjian nuklir baru, penguatan “kemampuan pencegah nuklir” AS akan memberikan tekanan besar terhadap PKT.

EtIndonesia. Perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) antara Amerika Serikat dan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari. Pada  6 Februari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menulis di platform penerbitan Substack milik Departemen Luar Negeri AS bahwa: “Pertama, pengendalian senjata tidak lagi menjadi isu bilateral antara Amerika Serikat dan Rusia. Seperti yang telah dijelaskan Presiden, negara-negara lain juga memiliki tanggung jawab untuk membantu memastikan stabilitas strategis, dan tanggung jawab Tiongkok adalah yang paling utama.”

Rubio menekankan bahwa sejak Perjanjian New START mulai berlaku, PKT telah dengan cepat memperluas persenjataan nuklirnya, sehingga model lama pengendalian senjata yang hanya berbasis perjanjian bilateral AS–Rusia menjadi usang dan tidak relevan. Sejak tahun 2020, persediaan senjata nuklir PKT telah meningkat dari sekitar 200 unit menjadi lebih dari 600 unit.

Rubio menegaskan bahwa Rusia dan Tiongkok “tidak seharusnya berharap Amerika Serikat akan tinggal diam dan membiarkan mereka menghindari kewajiban serta memperluas kekuatan nuklirnya.”

Pembawa acara kolom militer “Mark Space-Time”, Mark, mengatakan bahwa pada puncak Perang Dingin, jumlah hulu ledak nuklir AS dan Uni Soviet masing-masing pernah melampaui 10.000 unit, dan saat itu belum ada sistem pertahanan anti-rudal. Di bawah tekanan yang sangat mengerikan tersebut, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan untuk membatasi jumlah senjata nuklir.

 “Ketika pembatasan senjata pemusnah massal berskala besar itu dilakukan, PKT tidak dimasukkan, karena saat itu PKT masih sangat lemah dan baik AS maupun Uni Soviet tidak memandangnya penting. Tetapi sekarang, PKT sedang bangkit dan berkembang pesat, terutama dalam bidang senjata nuklir, dan berupaya mengejar ketertinggalan dari AS dan Rusia,” katanya. 

Mark menambahkan bahwa pemerintahan Trump menyadari PKT dapat mengembangkan senjata nuklir tanpa kendala, sehingga AS ingin memasukkan PKT ke dalam perjanjian pembatasan tersebut. Jika PKT tidak bergabung, AS akan mencabut pembatasan atas kekuatan nuklirnya sendiri. Pada saat itu, kekuatan nuklir AS dapat meningkat beberapa kali lipat, dan sasaran utama hulu ledak nuklir AS kemungkinan akan bergeser dari Rusia ke Tiongkok.

Pakar strategi militer Taiwan Su Tzu-yun menunjukkan bahwa saat ini AS masih menyimpan sekitar 6.000 hulu ledak nuklir yang dibangun pada era Perang Dingin. Jika AS memperbarui atau merekondisi hulu ledak yang teknologinya telah usang atau melampaui masa simpan, maka kemampuan pencegah nuklir AS dapat dipastikan, sekaligus mencegah PKT melakukan serangan pendahuluan.

Su Tzu-yun mengatakan:  “Pencegahan berasal dari tiga ‘C’. Pertama, Capability (kemampuan); kedua, Credibility (kredibilitas)—Anda harus punya kemampuan agar kredibel; dan ketiga, Communication (komunikasi). Jika PKT yakin bahwa AS memiliki kemampuan yang cukup dan kredibilitas untuk melakukan serangan balasan, barulah dialog nuklir dapat dilakukan.”

Pada 5 Februari, Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas G. DiNanno menyatakan dalam Konferensi Perundingan Perlucutan Senjata PBB bahwa Rusia dan Tiongkok telah melakukan uji coba nuklir, melanggar komitmen masing-masing untuk menghentikan uji coba nuklir dengan daya ledak tertentu.

DiNanno mengatakan:  “Hari ini saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat mengetahui Tiongkok telah melakukan uji ledakan nuklir, termasuk persiapan untuk uji coba dengan daya ledak yang ditentukan hingga ratusan ton.”

Ia menyatakan bahwa PKT “berupaya menutupi uji coba nuklir dengan menyembunyikan ledakan, karena mereka menyadari bahwa uji tersebut melanggar komitmen pelarangan uji coba.”

Menurut DiNanno, PKT menggunakan teknik yang disebut ‘decoupling’, yang dapat mengurangi efektivitas pemantauan seismik, untuk menyamarkan uji coba tersebut. Salah satu uji nuklir dengan daya ledak tertentu dilakukan pada 22 Juni 2020 menggunakan metode ini.

Su Tzu-yun menambahkan:  “Negara-negara otoriter telah mengubah senjata nuklir dari alat pencegah menjadi alat tawar-menawar politik. Perang Rusia–Ukraina adalah contoh khas. Karena Rusia memiliki 6.000 hulu ledak nuklir, negara-negara NATO hanya berani memberikan senjata kepada Ukraina tanpa mengirim pasukan. PKT juga ingin meningkatkan kemampuan nuklirnya untuk menakut-nakuti negara lain secara politik agar enggan membantu pertahanan Taiwan.”

Mark menunjukkan bahwa saat ini PKT belum sepenuhnya memiliki kemampuan serangan nuklir tiga dimensi. Mereka dapat meluncurkan rudal balistik dari kapal selam dan darat, tetapi belum memiliki pembom strategis besar yang mampu meluncurkan senjata nuklir dari udara. Hal ini masih jauh tertinggal dibandingkan AS dan Rusia.

Mark mengatakan:  “Bagi PKT, ambisi untuk mendominasi dunia—terutama di tengah ekspansi besar kekuatan militernya—membuat senjata nuklir harus menjadi salah satu kekuatan utama. Jika ingin mendominasi dunia tanpa memiliki jumlah senjata nuklir yang cukup, ambisi itu akan sulit terwujud.”

Mark juga menyebutkan bahwa AS saat ini memiliki sekitar 1.500 hulu ledak nuklir yang siap digunakan. Setelah tidak lagi terikat oleh perjanjian tersebut, AS dapat dengan cepat mengerahkan lebih banyak senjata nuklir, yang akan memberikan tekanan besar bagi PKT yang tengah berupaya melakukan ekspansi.

Editor: Song Feng  Wawancara: Chang Chun  Pasca-produksi: Tony

[Berita Terlarang] Ditemukan Kejanggalan dalam Kegiatan Tahunan Komisi Militer PKT, Para Ahli Menganalisis Tren Baru

Menjelang Tahun Baru Imlek, Partai Komunis Tiongkok (PKT) sesuai kebiasaan mengadakan kegiatan慰問 (kunjungan dan penghormatan) kepada para kader senior militer. Namun, informasi terbuka menunjukkan bahwa jumlah pejabat militer aktif maupun mantan anggota Komisi Militer Pusat (KMP) yang hadir dalam kegiatan tersebut berkurang secara signifikan. Para pengamat menilai, siapa yang selanjutnya akan dipromosikan menjadi jenderal penuh (bintang empat) dan masuk ke KMP akan menjadi indikator penting untuk mengamati arah politik Beijing.

EtIndonesia. Pada 6 Februari, KMP PKT menggelar acara “Pertunjukan Seni Menyambut Tahun Baru Imlek untuk Menghormati Kader Senior Militer yang Bertugas di Beijing” di Teater Nasional Tiongkok, Beijing.

Berdasarkan tayangan di lokasi, yang duduk satu baris dengan pemimpin PKT sekaligus Ketua KMP Xi Jinping dan Wakil Ketua KMP Zhang Shengmin hanya terdapat enam tokoh militer senior, yaitu mantan Wakil Ketua KMP Cao Gangchuan dan Fan Changlong, serta mantan anggota KMP Chen Bingde, Li Jinai, Zhao Keshi, dan Wu Shengli.

Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Mingshi, mengatakan:
“Yang mendampingi Xi Jinping berjabat tangan hanya Zhang Shengmin seorang. Siapa pun bisa melihat bahwa Komisi Militer Pusat saat ini memang berada dalam kondisi ‘kosong’ atau ‘hampa’.”

Dibandingkan dua tahun sebelumnya, jumlah anggota KMP aktif dan nonaktif yang menemani Xi menonton pertunjukan tersebut menurun tajam. Pada tahun 2024 tercatat 13 orang, sedangkan tahun 2025 sebanyak 10 orang.

Komisi Militer Pusat PKT periode ke-20 yang dibentuk pada Oktober 2022 terdiri dari Xi Jinping, Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan He Weidong, serta anggota Li Shangfu, Liu Zhenli, Miao Hua, dan Zhang Shengmin.

Di antara mereka, Li Shangfu, He Weidong, dan Miao Hua telah lebih dulu tumbang satu per satu.

Sementara itu, Zhang Youxia dan Liu Zhenli pada 24 Januari 2026 diumumkan sedang diselidiki atas dugaan pelanggaran hukum dan disiplin. Karena peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba dan prosedurnya dianggap tidak lazim, dunia luar mencurigai adanya kudeta internal di PKT serta ketidakstabilan politik.

Salah satu tuduhan resmi terhadap keduanya adalah apa yang disebut sebagai “merusak secara serius sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat”. Dalam laporan media resmi PKT mengenai pertunjukan seni tersebut, juga diselipkan narasi bahwa para kader senior militer “mendukung sistem tanggung jawab ketua KMP”.

Shen Mingshi mengatakan:  “PKT biasanya membicarakan apa yang justru mereka kekurangan. Penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli oleh Xi Jinping kali ini bukan saja tidak disetujui dalam rapat perluasan Politbiro, bahkan juga tidak disetujui oleh Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional. Ini menunjukkan bahwa di internal PKT saat ini—baik dalam opini internal maupun di kalangan militer—sebenarnya terdapat banyak pandangan yang berbeda mengenai masalah ini.”

Komentator politik yang bermukim di AS, Tang Jingyuan, juga menyebutkan bahwa pertunjukan seni bukanlah rapat resmi, sehingga kecil kemungkinan para kader senior akan secara kolektif menyatakan dukungan seragam terhadap “sistem tanggung jawab ketua KMP”. Karena itu, laporan semacam ini lebih menyerupai upaya Departemen Propaganda untuk menyuntikkan dukungan moral bagi Xi Jinping secara sengaja.

Tang Jingyuan mengatakan:  “Xi Jinping pada akhirnya menguasai Departemen Propaganda, menguasai pena dan opini publik. Di tangan Cai Qi, kesempatan seperti ini bisa dimanfaatkan untuk terus membangun ilusi bahwa Xi Jinping telah menguasai keadaan sepenuhnya dan kembali menjadi satu-satunya pusat kekuasaan.”

Hal lain yang patut dicermati, dari tayangan di lokasi terlihat adanya prajurit muda yang mengenakan earphone di tengah-tengah para kader senior, memantau dengan ketat setiap orang, menciptakan suasana penuh kewaspadaan seolah menghadapi ancaman dari segala arah.

Tak lama setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli diumumkan secara resmi, pada 30 Januari Politbiro PKT menggelar rapat. Pada 4 Februari, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional bahkan secara mendadak “menambahkan” agenda rapat darurat. Langkah ini dicurigai sebagai upaya Xi Jinping untuk mencabut status mereka sebagai anggota Kongres Rakyat Nasional, guna “melegalkan” kasus tersebut di internal partai. Namun, pengumuman resmi dari kedua rapat tersebut akhirnya tidak menyebutkan kasus Zhang Youxia sama sekali.

Selain itu, jajaran tinggi partai, pemerintahan, dan militer PKT juga tidak menunjukkan gelombang pernyataan kolektif dukungan terhadap apa yang disebut “keputusan Komite Sentral”, seperti yang pernah terjadi pada kasus Guo Boxiong dan lainnya di masa lalu.

Tang Jingyuan menilai:  “Xi Jinping saat ini sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Meskipun penangkapan Zhang Youxia memberinya sedikit keuntungan, pertarungan kekuasaan antara Xi dan faksi anti-Xi tetap berlangsung sengit.”

Data menunjukkan bahwa setelah Kongres Nasional PKT ke-20, terdapat 42 jenderal aktif berpangkat bintang empat. Dari jumlah tersebut, 15 orang telah tumbang, 23 orang dicopot atau menghilang, dan kini hanya empat orang yang masih menjalankan tugas secara normal: Zhang Shengmin, Menteri Pertahanan Dong Jun, Panglima Wilayah Timur Yang Zhibin, dan Panglima Wilayah Tengah Han Shengyan.

Tang Jingyuan mengatakan:  “Fokus terbesar berikutnya dalam militer tentu saja adalah siapa yang akan dipromosikan menjadi jenderal penuh. Apakah mereka berasal dari faksi Xi atau dari faksi lain, ini sangat krusial. Karena siapa pun yang naik menjadi jenderal penuh berarti telah melangkah ke tahap penting untuk kemungkinan masuk ke Komisi Militer Pusat di masa depan.”

Pada 5 Februari, Beijing juga menggelar Forum Militer-Politik Ibu Kota tahunan. Dari tayangan di lokasi, terlihat tujuh jenderal bintang dua (letnan jenderal) dari pihak militer hadir, namun tidak satu pun jenderal bintang empat yang terlihat hadir.

Editor: Li Qian  Wawancara: Luo Ya  Pascaproduksi: Gao Yu – NTD

B-52 Mendarat, F-22 Ditarik, C-17 Membanjir — Apa yang Sebenarnya Disiapkan AS?

EtIndonesia. Hanya berselang satu hari setelah perundingan tidak langsung Amerika Serikat–Iran di Muscat, ibu kota Oman, tanda-tanda eskalasi militer AS di Timur Tengah justru meningkat tajam. Data pergerakan militer yang terungkap pada 7–8 Februari menunjukkan bahwa Washington tidak sepenuhnya menggantungkan nasib krisis ini pada jalur diplomasi.

Gelombang Angkut Strategis AS Menuju Timur Tengah

Pada 8 Februari, akun platform X bernama Neutral Strike mengungkap bahwa pada 7 Februari, 11 pesawat angkut strategis C-17 Globemaster milik Angkatan Udara AS lepas landas dari berbagai pangkalan militer di daratan Amerika Serikat dan terbang langsung menuju pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Muatan pesawat-pesawat tersebut bukan bantuan kemanusiaan, melainkan komponen sistem pertahanan udara dan amunisi. Para analis militer menilai konfigurasi ini sebagai postur persiapan perang, bukan persiapan lanjutan perundingan. Pengiriman sistem pertahanan udara dan stok amunisi dalam jumlah besar umumnya hanya dilakukan ketika risiko konflik bersenjata dinilai tinggi dan mendesak.

Pembom B-52 Diperbanyak di Qatar

Pada hari yang sama, sejumlah akun intelijen sumber terbuka di X melaporkan bahwa pembom strategis B-52 Stratofortress milik militer AS telah tiba atau diperbanyak di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Beberapa unit B-52 dilaporkan mendarat pada 7 Februari, memperkuat kehadiran udara strategis AS di kawasan Teluk.

Kehadiran B-52—platform pengebom jarak jauh yang mampu membawa senjata konvensional maupun nuklir—merupakan langkah militer konvensional yang bergerak cepat, sekaligus berfungsi sebagai pesan pencegah strategis kepada Iran dan aktor regional lainnya.

Latar Belakang: Perundingan Tidak Langsung di Oman

Sebelumnya, pada 6 Februari, Amerika Serikat dan Iran menggelar perundingan tidak langsung selama beberapa jam di Muscat. Pertemuan tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al-Busaidi.

Delegasi AS dinilai sangat tidak lazim karena mencakup:

  • Utusan Khusus Gedung Putih, Steve Witkoff
  • Menantu Presiden AS, Jared Kushner
  • Panglima Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper

Kehadiran Panglima CENTCOM dalam forum diplomatik memperkuat kesan bahwa perundingan ini berlangsung di bawah bayang-bayang opsi militer yang nyata.

Usai pertemuan, Donald Trump menyatakan secara terbuka di atas Air Force One bahwa pembicaraan “berjalan baik”, Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan”, dan putaran lanjutan akan digelar pada awal pekan berikutnya.

Penolakan Iran atas Penghentian Pengayaan Uranium

Namun, hampir bersamaan dengan pernyataan optimistis tersebut, muncul informasi kunci dari Teheran. Iran menegaskan menolak tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri.

Seorang diplomat regional yang menerima pengarahan langsung dari Teheran pada Jumat, 6 Februari, menyebutkan bahwa:

  • Iran tidak bersedia berkompromi atas hak pengayaan uranium
  • Namun bersedia membahas tingkat dan kemurnian pengayaan
  • Bahkan terbuka pada wacana kerja sama atau aliansi regional

Diplomat itu menambahkan bahwa delegasi AS tampaknya memahami posisi Iran dan menunjukkan fleksibilitas terbatas, meski belum menyentuh inti perbedaan strategis.

Lima Tuntutan Utama AS vs Dua Garis Merah Iran

Menurut berbagai sumber diplomatik, pemerintahan Trump mengajukan lima tuntutan utama kepada Iran:

  1. Penghapusan total program nuklir Iran
  2. Penghentian penuh pengayaan uranium dan pemindahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya
  3. Pembatasan jangkauan rudal hingga maksimal 300 km
  4. Pembubaran jaringan yang disebut “Poros Syiah”
  5. Penerimaan pengawasan internasional yang ketat dan menyeluruh

Sebaliknya, Iran menetapkan dua garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan:

  • Hak untuk melakukan pengayaan uranium
  • Program rudal balistik

Dengan konfigurasi ini, ruang tumpang tindih di meja perundingan nyaris tidak ada.

Pengerahan Udara Skala Besar: Indikasi Pra-Perang

Hingga Sabtu, 8 Februari, tercatat 112 pesawat angkut C-17 AS telah tiba atau sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah, dengan tambahan 17–18 penerbangan masih aktif di udara. Para analis menyebut ini bukan penguatan biasa, melainkan pengerahan pra-perang yang sistematis dan berkelanjutan.

Indikasi lain muncul ketika jet tempur siluman F-22 Raptor tiba-tiba ditarik dari ajang pertunjukan udara Super Night Flight. Penjelasan resmi hanya menyebutkan: tempo operasi meningkat, F-22 dialihkan untuk tugas tempur.

Pola Operasi dan Peran F-22

Mengacu pada pola operasi militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, skema saat ini dinilai telah disiapkan secara matang. Dalam skenario tersebut, F-22 bukan pembom utama, melainkan gelombang pertama yang bertugas:

  • Menyapu ancaman udara
  • Mengawal pembom siluman B-2
  • Memancing dan menekan sistem pertahanan udara Iran agar aktif
  • Mengumpulkan data sensor dan data-link untuk serangan lanjutan

Dengan kata lain, F-22 berperan sebagai “pembersih langit” sebelum fase serangan terstruktur dimulai.

Armada Laut AS dan Kunjungan ke Kapal Induk

Di laut, kekuatan AS di kawasan mencakup USS Abraham Lincoln, USS Roosevelt, sejumlah destroyer kelas Arleigh Burke, serta berbagai platform peluncur rudal jelajah.

Pada 8 Februari, Witkoff dan Kushner, didampingi Panglima CENTCOM, menaiki USS Abraham Lincoln. Kunjungan ini berlangsung di puncak pengerahan pasca-perundingan, mengirim sinyal keras bahwa opsi militer telah siap jika diplomasi gagal.

Respons Iran: Rudal Balistik dan Penangkalan Aktif

Dari pihak Iran, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Udara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menempatkan rudal balistik Khorramshahr-4 di pangkalan bawah tanah baru. Rudal tersebut memiliki:

  • Jangkauan hingga 2.000 km
  • Hulu ledak 1.500 kg
  • Akurasi sekitar 30 meter
  • Kecepatan Mach 16 di luar atmosfer dan Mach 8 di dalam atmosfer

Iran menyebutnya sebagai senjata kunci dalam strategi penangkalan aktif.

Israel Dorong Kesepakatan Lebih Keras

Sementara itu, Israel mendorong kesepakatan nuklir yang jauh lebih ketat. Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengunjungi Washington pada 11 Februari untuk bertemu Presiden Trump. Fokus pembahasan adalah perundingan AS–Iran yang kembali dimediasi Oman.

Israel menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup:

  • Pembatasan ketat program rudal balistik Iran
  • Penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional

Namun, secara realistis, peluang Iran menerima syarat ini sangat kecil. Bagi Teheran, rudal balistik adalah pilar utama penangkal konvensional, bukan alat tawar-menawar.

Peringatan Evakuasi dan Titik Kritis Kawasan

Menjelang perundingan lanjutan, pemerintah AS kembali mengeluarkan peringatan keamanan, mendesak warganya segera meninggalkan Iran dan tidak mengandalkan evakuasi pemerintah, melainkan menyiapkan jalur darat menuju Armenia atau Turki. Dalam praktik diplomasi, langkah ini dipandang sebagai prosedur standar menjelang konflik bersenjata, bukan sekadar retorika.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah AS dan Iran akan berunding, melainkan apakah perang akan langsung pecah jika perundingan gagal. Pembom telah siaga, kapal induk sudah berada di posisi, dan rudal telah dikeluarkan dari gudang—Timur Tengah benar-benar mendekati titik kritisnya.

Karena Terlalu Banyak Pilihan, Kita Justru Melewatkan Harta yang Ada di Dekat Kita

EtIndonesia. Manusia, karena memiliki pilihan, sering kali justru melanggar aturan hidupnya sendiri.

Di tengah sistem ekonomi modern yang makmur, kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan—dalam urusan orang, peristiwa, maupun benda. Karena pilihan terlalu banyak, kebiasaan ragu-ragu dan bimbang pun menjadi hal yang umum bagi kebanyakan orang.

Saat kamu melihat meja sebelah memesan hidangan yang berbeda, mungkin kamu mulai bertanya-tanya: apakah makanan mereka lebih enak?

Akhirnya, setiap kali membuka menu dengan deretan nama masakan yang panjang, kamu kembali diliputi kebimbangan.

Ketika melihat teman atau rekan hidupnya tampak lebih baik, kamu mungkin mulai meragukan diri sendiri: apakah aku salah memilih bidang? Salah masuk perusahaan?

Akibatnya, hati menjadi tidak fokus, bekerja setengah-setengah, dan hasilnya pun makin menurun.

Saat berjalan-jalan dan melihat wanita cantik, kamu mungkin mulai bertanya: apakah aku salah menikah? Salah memilih pasangan?  

Pulang ke rumah pun wajah jadi masam—bagaimana mungkin hubungan bisa tetap harmonis?

Karena pilihan semakin banyak, kita justru semakin mudah tersesat dan tak lagi tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.

Suatu kali, saya pernah menangani konseling sepasang suami istri. Di tengah proses, saya bertanya kepada sang suami:  “Jika seumur hidup kamu hanya boleh membeli satu mobil yang kamu sukai dan tidak boleh menggantinya, bagaimana kamu akan merawat mobil itu?”

Dengan antusias dia menjawab: “Saya akan pakai oli terbaik, servis tepat waktu, sering mencuci mobil, dan merawatnya sebaik mungkin…”

Saya mengangguk sambil tersenyum mendengarkan penjelasannya yang panjang. Lalu saya bertanya lagi:  “Kalau seumur hidup kamu hanya boleh menikahi satu istri dan tidak bisa menggantinya, bagaimana kamu akan memperlakukannya?”

Wajah sang suami langsung memerah. Dia merangkul istrinya, lalu menjabat tangan saya sambil berkata:  “Saya tahu jawabannya sekarang.”

Dalam sekejap, cara dia memandang istrinya pun berubah.

Kadang-kadang, tidak memiliki pilihan justru lebih baik daripada memiliki terlalu banyak pilihan.

Hari ini, bagaimana kamu ingin kembali memandang pekerjaanmu? Pasangan hidupmu?

Jika tidak ada pilihan hidup hanyalah rangkaian momen-momen yang terpisah.

Namun melalui ingatan dan imajinasi, makna-makna bermunculan—menghilang dan hadir silih berganti—memberi kita pembebasan dan penghiburan.

Hargailah orang-orang di sekitarmu…

“Orang-orang yang diam-diam berkorban untuk kita sering kali justru tidak kita hargai.
Karena adanya pilihan, kita malah melewatkan harta paling berharga yang ada di dekat kita.”

Renungan

Hidup dijalani melalui pilihan yang tak pernah berhenti. Selama mampu, entah itu dalam hal penggunaan, makanan, pakaian, pekerjaan, bahkan pasangan hidup—setiap orang tentu berharap bisa memilih yang paling cocok, paling memuaskan, dan paling disukai.

Namun itu sejatinya hanyalah sebuah ilusi yang tak mungkin terwujud sepenuhnya. Karena pada fase usia, waktu, dan lingkungan yang berbeda, standar “cocok”, “suka”, dan “puas” pun berubah. Pada satu masa, orang, peristiwa, dan benda tertentu mungkin terasa paling tepat. Namun seiring waktu berlalu dan cara pandang bergeser, nilai-nilai pun ikut berubah.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang mudah berubah—dan sering kali membuat keputusan hanya berdasarkan perasaan sesaat.(jhn/yn)

Sinyal Perang Tak Terbantahkan: Rudal, THAAD, dan Ancaman Israel–Iran

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan sejumlah sekutunya secara serentak memperkuat sistem pertahanan udara serta pengerahan militer di berbagai titik strategis kawasan. Langkah ini terjadi di tengah eskalasi retorika dan ancaman terbuka antara Israel dan Iran, yang memicu kekhawatiran meluasnya konflik regional.

AS Rampungkan Penempatan Sistem Pertahanan di 20 Pangkalan

Berdasarkan laporan gabungan media internasional, pada pekan pertama Februari 2026, Amerika Serikat telah menyelesaikan penempatan sistem pertahanan rudal di sekitar 20 pangkalan militernya yang tersebar di Timur Tengah. Sistem utama yang dikerahkan mencakup Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang dirancang untuk mencegat rudal balistik serta ancaman udara di ketinggian menengah hingga tinggi.

Pengerahan ini dipandang sebagai langkah defensif strategis untuk menghadapi meningkatnya risiko serangan rudal balistik dan drone, seiring memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran dalam beberapa bulan terakhir.

Inggris Ikut Tingkatkan Kekuatan Udara

Di saat yang sama, Inggris turut meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Pada awal Februari 2026, London mengirimkan sejumlah jet tempur F-35, disertai dua pesawat pengisi bahan bakar di udara, guna memperpanjang daya jelajah dan daya tahan operasi udara pasukan Barat di Timur Tengah. Langkah ini menegaskan bahwa sekutu Amerika juga bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer.

Israel Tetapkan “Garis Merah” terhadap Rudal Iran

Dari pihak Israel, peringatan disampaikan dengan nada yang semakin tegas. Pejabat pertahanan Israel dilaporkan telah memberi tahu Washington bahwa apabila program rudal balistik Iran melampaui apa yang disebut Yerusalem sebagai “garis merah keamanan nasional”, maka Israel tidak menutup kemungkinan melakukan serangan sepihak terhadap fasilitas terkait Iran—bahkan tanpa menunggu koordinasi penuh dengan Amerika Serikat.

Sinyal ini memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran Israel terhadap kemampuan serangan jarak jauh Iran, yang dinilai semakin mendekati level ancaman eksistensial.

Isu Rekonstruksi Markas Mossad

Di ranah informasi publik, beredar laporan di dunia maya bahwa pemerintah Israel diduga telah mengalokasikan sekitar 300 juta dolar AS untuk membangun kembali markas besar Mossad yang disebut-sebut rusak akibat serangan rudal Iran dalam konflik singkat selama 12 hari pada tahun 2025. Dana tersebut juga dilaporkan digunakan untuk pemasangan sistem pertahanan udara tambahan di lokasi strategis itu. Hingga kini, informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Israel.

Netanyahu Bawa Intelijen Iran ke Washington

Menurut laporan Channel 12 Israel pada Senin, 10 Februari 2026, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan membagikan intelijen terbaru terkait Iran kepada Presiden Donald Trump dalam kunjungannya ke Washington.

Sumber yang mengetahui agenda tersebut menyebutkan bahwa materi intelijen mencakup:

  • perkembangan program nuklir Iran,
  • kemajuan program rudal balistik,
  • dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok ekstremis regional,
  • serta tindakan represif rezim Iran terhadap demonstrasi domestik.

Ancaman Terbuka dari Parlemen Iran

Dari Teheran, eskalasi verbal juga meningkat. Seorang anggota parlemen Iran, Nabavian, dalam pernyataan terbuka pada awal Februari 2026, memperingatkan bahwa jika Presiden Trump atau pihak Amerika Serikat melakukan “satu langkah keliru”, maka 3.000 hingga 4.000 tentara AS berpotensi menjadi korban.

Dia mengklaim Iran telah menyiapkan strategi multi-lapis, meliputi:

  • peluncuran rudal balistik dan drone ke pangkalan AS di Timur Tengah dalam waktu singkat,
  • aktivasi jaringan proksi regional untuk mengalihkan fokus militer,
  • serta operasi siber guna mengganggu logistik dan sistem komando lawan.

Ancaman Selat Hormuz dan Dampak Global

Media internasional juga menyoroti peringatan lama Iran terkait kemungkinan pemblokiran Selat Hormuz. Gangguan di jalur vital ini—yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia—diperkirakan dapat mendorong harga minyak global melonjak hingga di atas 200 dolar AS per barel, memicu guncangan besar pada pasar energi dan ekonomi global.

Dugaan Bantuan Finansial Rusia ke Iran

Sementara itu, sejumlah media Eropa mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Rusia diduga telah mentransfer dana bernilai miliaran dolar AS ke Iran dalam beberapa waktu terakhir untuk membantu meredakan krisis likuiditas dolar. Langkah ini disebut bertujuan melemahkan dampak sanksi finansial Amerika Serikat serta menstabilkan kondisi ekonomi domestik Iran.

Negara Teluk Izinkan Operasi THAAD

Dalam perkembangan regional lainnya, Arab Saudi dan Qatar dilaporkan secara resmi mengizinkan Amerika Serikat mengoperasikan sistem THAAD dari wilayah mereka. Keputusan yang diumumkan pada awal Februari 2026 ini dipandang sebagai sinyal kuat meningkatnya koordinasi keamanan antara negara-negara Teluk dan Washington dalam menghadapi ancaman rudal balistik.

Analisis Militer: Operasi Gabungan AS–Israel

Mantan jenderal Amerika Serikat, Jack Keane, dalam analisisnya menyatakan bahwa pengerahan militer saat ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, memaksimalkan pertahanan terhadap potensi serangan drone dan rudal Iran. Kedua, memastikan kesiapan ofensif untuk melumpuhkan infrastruktur utama yang menopang rezim Iran—mulai dari kepemimpinan sipil dan militer, Garda Revolusi Islam, hingga lembaga-lembaga penindasan lainnya.

Keane menegaskan bahwa sistem pertahanan udara Iran harus dinetralisir agar Amerika Serikat dan Israel memiliki kebebasan penuh beroperasi di wilayah udara Iran. Ia menyebut skenario ini sebagai operasi gabungan AS–Israel, dengan waktu pelaksanaan bergantung pada kesiapan sumber daya tambahan. Menurutnya, kondisi saat ini merupakan peluang historis yang telah dicari selama puluhan tahun untuk membentuk ulang tatanan keamanan dan mencapai stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.

Berhubungan Antar Manusia Tak Perlu Rumit

EtIndonesia. A dan B adalah teman sekelas. Saat masih kuliah, hubungan mereka sangat akrab. Setelah lulus, keduanya menempuh jalan hidup masing-masing—mendirikan usaha dan berkeluarga.

Usaha A berkembang pesat. Pada masa kejayaannya, perusahaannya memiliki ratusan karyawan. Setiap hari A begitu sibuk hingga perlahan ia kehilangan kontak dengan teman-teman lama. Sesekali B ingin menelepon sekadar menanyakan kabar, tetapi yang mengangkat selalu sekretaris, sehingga lama-kelamaan B pun berhenti mencoba.

Kabar tentang A hanya B dengar dari mulut ke mulut.

Ketika kondisi ekonomi memburuk, perusahaan B yang berskala kecil tetap bertahan karena dijalankan dengan hati-hati dan stabil. Usahanya tidak terlalu terdampak.

Keadaan A justru sebaliknya. Setelah mencapai puncak kesuksesan, A terbiasa mengejar gengsi dan prestise. Perusahaannya tampak gemilang di luar, namun sesungguhnya bertumpu pada pinjaman bank. Beberapa kali arus kas macet, para pemasok enggan memberi kelonggaran, gaji karyawan pun berbulan-bulan tertunda. Akhirnya, perusahaan itu runtuh, dan A terjerat utang hingga puluhan miliar.

Suatu hari, saat B hendak menemui klien, dia berpapasan dengan A di jalan. Wajah A tampak letih. B sudah mendengar kabar tentang nasib temannya itu, dan tanpa ragu dia mengajak A makan siang.

B mengemudikan mobil ke kawasan dekat kampus lama mereka, berhenti di sebuah warung kecil di gang sempit yang tampak biasa saja. Dia memesan dua mangkuk mie soun tiram, tahu kecap, dan sayuran rebus.

A terkejut. Dia tak menyangka B mengajaknya makan di tempat sesederhana itu. Dalam hatinya muncul rasa tak nyaman—apakah karena melihatnya jatuh, B jadi malas menjamunya? Atau takut dia akan meminjam uang, sehingga sengaja berpura-pura pas-pasan?

Saat pesanan dihidangkan, B berkata: “Kamu masih ingat? Sepuluh tahun lalu, waktu kita kuliah di sini, kamu paling suka mie soun tiram di tempat ini. Katamu ususnya bersih dan tiramnya segar. Dulu kita tak punya uang, hanya mampu makan mie soun. Bahkan lauk kecil pun terasa mewah. Aku pikir kamu pasti sudah lama tidak makan mie soun tiram. Aku sendiri masih sering ke sini, sekalian mengenang masa muda…”

A tak sepenuhnya mengerti maksud B. Namun kenangan itu memang nyata—dia dulu sangat menyukai mie soun tiram di warung ini. Entah sejak kapan eia tak pernah kembali. Tak disangka, warung kecil itu masih berdiri, dan rasanya tetap lezat—bahkan tak kalah dengan hidangan mahal seperti sup sirip hiu.

Melihat A menikmati makanannya, B pun berkata: “Perusahaanku kecil, jelas tak sebanding dengan apa yang pernah kamu bangun. Tapi sekarang situasinya memang sulit. Kalau kamu tidak keberatan, datanglah bekerja bersamaku dulu. Nanti, kalau ada kesempatan, kamu bisa memulai usaha lagi. Atau kalau mau, kita berdua bekerja sama terus—apa pun boleh.”

A tak pernah menyangka B akan mengulurkan tangan secepat dan setulus itu. Matanya berkaca-kaca. Hampir sepuluh tahun tak berhubungan, namun persahabatan B tak berubah sedikit pun—seperti rasa mie soun tiram itu.

Untuk menyembunyikan gejolak perasaannya, A sengaja mengangkat mangkuk dan menyesap kuahnya dalam-dalam.

Saat meletakkan mangkuk, dia berkata:  “Terima kasih sudah membawaku makan mie soun tiram. Aku kira banyak hal sudah berubah. Ternyata masih ada rasa yang tetap bertahan lama.”

Terkadang kita merasa orang lain telah berubah, padahal sesungguhnya kitalah yang berubah.
Dan terkadang kita merasa segalanya telah berubah, padahal yang berubah hanyalah diri kita sendiri.

Hikmah Cerita

Persahabatan sering kali merenggang seiring bertambahnya usia—masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, hingga tanpa sadar berjalan menjauh. Suatu hari, kenangan masa lalu tiba-tiba muncul, dan ada dorongan untuk kembali menghubungi. Namun keraguan pun datang: takut tak lagi dikenang, takut di ujung telepon sudah tak ada tempat untuk kita.

Takdir pertemuan sering kali lahir dari satu niat kecil… dan juga sering lenyap karena satu keraguan. (jhn/yn)

“Jika Diserang, Semua Pangkalan AS Jadi Target” : Ancaman Iran Picu Alarm Perang Regional

EtIndonesia. Menurut laporan The Jerusalem Post edisi mingguan, dua sumber yang memahami langsung dinamika di balik layar mengungkapkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah menyampaikan pesan resmi kepada Iran. Washington berharap delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dapat membawa substansi pembahasan yang nyata pada pertemuan lanjutan, sekaligus menunjukkan kesiapan untuk berkompromi, khususnya terkait isu nuklir dan persoalan strategis lain.

Sikap Tegas Teheran: Pengayaan Uranium Tak Bisa Dihentikan

Pada hari yang sama, Araghchi menegaskan secara terbuka bahwa Iran tidak akan pernah menerima tuntutan penghentian total aktivitas pengayaan uranium. Dia menekankan bahwa fokus pembahasan seharusnya berada pada skenario kelanjutan dan pengaturan pengayaan, bukan pada pelarangan menyeluruh.

Araghchi juga memastikan bahwa isu rudal balistik serta jaringan proksi regional Iran tidak termasuk dalam agenda perundingan saat ini. Dia menyatakan Teheran tidak gentar terhadap pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan, seraya mengakui rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap keseriusan Washington dalam menjalani putaran perundingan terbaru.

Lebih jauh, Araghchi memperingatkan bahwa setiap serangan militer AS ke wilayah Iran akan dibalas, dengan menjadikan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai target serangan balasan.

Video Ancaman dan Uji Coba Rudal Iran

Seiring pernyataan tersebut, media Iran secara serentak merilis video bernada ancaman. Dalam salah satu tayangan, Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi diperlihatkan berada dalam bidikan senjata, dengan bendera Amerika Serikat tepat di pusat teropong, sebagai simbol ancaman langsung.

Pada Minggu, 8 Februari 2026, Garda Revolusi Iran melaksanakan uji coba rudal di Provinsi Semnan, sekaligus menerbitkan NOTAM (Notice to Air Missions) untuk memperingatkan pesawat sipil dan militer agar menghindari wilayah tersebut.

Tak hanya itu, IRGC juga merilis video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan skenario kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, ditenggelamkan dalam serangan berskala besar—sebuah pesan psikologis yang ditujukan langsung ke Washington.

Respons AS: Kunjungan ke USS Abraham Lincoln

Di tengah eskalasi ini, kepala perunding AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner mengunggah pernyataan di media sosial bahwa mereka telah mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln yang saat ini beroperasi di Laut Arab.

Witkoff menulis bahwa USS Lincoln dan gugus tempurnya bertugas menjaga stabilitas keamanan regional sekaligus memperkuat pesan Presiden Trump bahwa perdamaian hanya dapat diraih melalui kekuatan nyata.

Aktivitas Militer dan Intelijen yang Memicu Spekulasi

Pada periode yang sama, beredar informasi daring yang menyebutkan data Flightradar24 mendeteksi pesawat intai maritim P-8 Poseidon milik militer AS memasuki wilayah udara Iran. Hingga laporan ini disusun, Angkatan Udara Iran tidak melakukan intersepsi, dan sistem pertahanan udara Iran juga belum menunjukkan respons terbuka.

Masih pada 8 Februari 2026, yang bertepatan dengan Hari Angkatan Udara Iran, Ali Khamenei secara mendadak membatalkan pidato resmi dan tidak menghadiri upacara peringatan, memicu spekulasi luas di dalam dan luar negeri mengenai kondisi internal Iran.

Sementara itu, laporan terpisah menyebutkan bahwa pesawat angkut strategis AS C-17A Globemaster III dan MC-130 Super Hercules—yang lazim digunakan untuk mendukung operasi pasukan khusus—telah mendarat di lokasi rahasia di Turkmenistan, negara yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Teheran. Selain itu, pesawat militer AS yang berbasis di Jerman dilaporkan bergerak menuju Azerbaijan dan Armenia, dua negara yang berbatasan langsung dengan Iran.

Israel Naikkan Kesiagaan, Netanyahu ke Washington

Pada Minggu, 8 Februari 2026, Israel menggelar rapat kabinet keamanan tingkat tinggi. Para menteri diberi pengarahan bahwa posisi resmi Israel adalah: setiap perundingan dengan Iran harus mencakup pencegahan kepemilikan senjata nuklir, pembatasan pengembangan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap jaringan ekstremisme regional.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar menegaskan bahwa rezim paling ekstrem di dunia yang berupaya memiliki senjata nuklir paling berbahaya merupakan ancaman langsung bagi perdamaian kawasan dan global.

Dokumen resmi yang dibagikan menjelang rapat kabinet menyoroti rekam jejak Iran yang dinilai tidak dapat dipercaya, serta menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap kedaulatan Israel atau keselamatan warganya akan dibalas dengan kekuatan militer penuh.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertolak ke Gedung Putih pada Selasa, 10 Februari 2026, untuk bertemu Presiden Trump. Isu rudal balistik Iran dan arsitektur keamanan regional diperkirakan menjadi agenda utama.

Sinyal dari Media dan Pengamat Militer AS

Media Channel 14 melaporkan dugaan bahwa Iran secara diam-diam memindahkan peluncur rudal ke wilayah timur guna mempersulit penghancurannya jika perang terbuka pecah.

Sementara itu, analis strategi senior Fox News sekaligus mantan jenderal bintang empat Angkatan Darat AS, Jack Keane, menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya mempertimbangkan opsi militer saat rezim, ekonomi, dan kekuatan militer Iran berada pada titik terlemahnya.

Keane menilai bahwa meskipun Presiden Trump masih membuka pintu perundingan, Teheran terus menyesatkan dunia internasional terkait ambisi nuklirnya. Menurutnya, Trump menghadapi peluang historis untuk menciptakan kondisi runtuhnya rezim Iran—yang dapat menjadi warisan politik besar sekaligus mengubah peta keamanan Timur Tengah. Dia juga berpendapat bahwa kesepakatan apa pun dengan rezim saat ini tidak akan benar-benar menguntungkan rakyat Iran, karena hanya memperpanjang usia pemerintahan Khamenei.

Penindasan Internal dan Gelombang Protes Diaspora

Di dalam negeri Iran, Fars News Agency melaporkan bahwa pada 8 Februari 2026, pasukan keamanan menangkap sedikitnya empat tokoh reformis senior yang dituduh merencanakan penggulingan rezim Islam.

Pada hari yang sama, Narges Mohammadi, peraih Nobel Perdamaian, dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan bersekongkol membahayakan keamanan nasional, ditambah 1,5 tahun atas tuduhan propaganda anti-pemerintah. Mohammadi diketahui melakukan mogok makan sejak 2 Februari, dan tiga hari sebelumnya dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi kesehatannya memburuk.

Di luar negeri, warga Iran di Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi di Times Square, New York, menyatakan dukungan terbuka terhadap revolusi nasional Iran. Aksi serupa juga berlangsung di Montreal, Kanada, meski suhu ekstrem mencapai minus 22 derajat Celsius.

Seorang demonstran menyatakan: “Jika saudara-saudara kami mampu bertahan di bawah penindasan paling brutal dari rezim Khamenei dan Garda Revolusi Iran, maka dingin seperti ini bukanlah apa-apa.”

Kesimpulan:
Rangkaian pernyataan keras, uji coba militer, pergerakan pasukan, serta tekanan politik internal dan eksternal menunjukkan bahwa krisis AS–Iran kini berada di titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir. Perundingan yang rapuh berjalan berdampingan dengan eskalasi militer nyata, membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian besar.

Hasil Sementara Pemilu Thailand 2026, Pj PM Anutin Menyatakan Kemenangan

EtIndonesia. Hingga pukul 00.00 waktu setempat Thailand pada 9 Februari, Partai Bhumjaithai terus memimpin dengan keunggulan besar, meraih 195 kursi dari total 500 kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Partai oposisi, People’s Party (Partai Rakyat), memperoleh 114 kursi.

Pj Perdana Menteri Thailand sekaligus kandidat dari Partai Bhumjaithai, Anutin Charnvirakul, pada malam 8 Februari mengumumkan kemenangan di kantor pusat partainya.

Anutin Charnvirakul mengatakan:  “Kemenangan Partai Bhumjaithai adalah kemenangan seluruh rakyat Thailand. Terlepas dari apakah Anda memilih Bhumjaithai atau tidak, kami akan mengerahkan seluruh upaya untuk melayani rakyat Thailand.”

Kandidat perdana menteri dari People’s Party, Natthaphong Ruengpanyawut, pada  8 Februari mengakui bahwa berdasarkan hasil pemilu saat ini, People’s Party tidak dapat menjadi partai terbesar.

Partai Bhumjaithai yang dipimpin oleh Anutin mendapat dukungan dari kalangan konservatif pro-monarki Thailand. Dalam wawancara dengan media, Anutin menyatakan bahwa “nasionalisme adalah jiwa Partai Bhumjaithai”. 

Menanggapi pertanyaan mengenai partai mana yang akan diajak bekerja sama untuk membentuk pemerintahan koalisi, Anutin mengatakan bahwa Partai Bhumjaithai akan menunggu hasil resmi pemilu terlebih dahulu sebelum mengundang partai lain untuk bergabung dalam pemerintahan koalisi.

Pemilu kali ini berlangsung di tengah situasi politik Thailand yang tidak stabil. Dalam kurun waktu tiga tahun, negara tersebut telah mengganti tiga perdana menteri. Sebelumnya, konflik perbatasan dengan Kamboja menyebabkan 149 orang tewas, dan kedua negara saat ini mempertahankan perjanjian gencatan senjata yang rapuh.

Akibat ketidakstabilan politik dan kurangnya reformasi struktural, perekonomian Thailand mengalami stagnasi dan inflasi tinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemilih dan investor asing. People’s Party mengusung agenda perubahan menyeluruh terhadap status quo dan bersaing ketat dengan Partai Bhumjaithai yang berhaluan konservatif.

Saat ini proses penghitungan suara masih terus berlangsung, dan hasil resmi pemilu diperkirakan akan diumumkan dalam waktu 60 hari setelah pemungutan suara.

Laporan gabungan oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Jin Shi.