EtIndonesia. Sepuluh orang, termasuk pelaku penembakan, tewas dan setidaknya 25 orang luka-luka dalam penembakan di sebuah sekolah di British Columbia, Kanada, pada hari selasa, kata polisi.
Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP) mengatakan tersangka, yang diidentifikasi sebagai seorang wanita berpakaian gaun dengan rambut cokelat dalam peringatan sebelumnya, telah ditemukan tewas di dalam lingkungan sekolah dengan luka yang diyakini sebagai luka yang ditimbulkan sendiri.
Enam orang ditemukan tewas di sekolah, satu orang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit dan dua orang ditemukan tewas di sebuah rumah di komunitas tersebut, kata polisi. Dua orang diterbangkan ke rumah sakit dengan luka serius atau mengancam jiwa.
Polisi Tumbler Ridge mengeluarkan peringatan pukul 14.00 setelah kejadian sekitar pukul 13.20 waktu setempat di Sekolah Menengah Tumbler Ridge, menggambarkan tersangka sebagai seorang wanita berpakaian gaun dengan rambut cokelat, menurut Globe and Mail. Warga diminta untuk berlindung di tempat, mengunci pintu mereka dan tidak keluar rumah. Perintah untuk tetap berada di dalam rumah dicabut sekitar lima jam kemudian, memungkinkan orang-orang untuk kembali ke aktivitas sehari-hari mereka.
Polisi terus memastikan apakah ada tersangka kedua yang terlibat dan jumlah korban yang mungkin ada. Di Kota Tumbler Ridge yang berpenduduk sekitar 2.400 jiwa, sumber daya polisi tambahan dikerahkan dari daerah tetangga. Sekolah akan tetap tutup minggu ini.
Kepala Inspektur Distrik Utara RCMP, Ken Floyd, mengatakan sekitar 100 orang, termasuk staf dan siswa, telah dievakuasi dengan aman dari sekolah. Dia menambahkan bahwa polisi masih belum memahami motif penembakan tersebut.
“Kami memiliki berbagai lapisan dukungan yang datang untuk siswa kami, untuk guru kami, untuk komunitas kami di Tumbler Ridge,” kata Floyd.
Kemudian, seorang siswa kelas 9 mengatakan kepada Global News bahwa dia harus bersembunyi di lemari di ruang kelas bersama anak-anak lain selama insiden tersebut.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengatakan dalam sebuah pernyataan di media sosial bahwa dia sangat terpukul oleh penembakan di Tumbler Ridge.
“Saya turut berduka cita bersama warga Kanada yang hidupnya telah berubah secara permanen hari ini, dan bersyukur atas keberanian dan pengorbanan para petugas tanggap darurat yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi sesama warga,” tulisnya.
Larry Neufeld, anggota legislatif untuk Peace River South, mengatakan kepada wartawan di gedung legislatif bahwa “kelebihan” sumber daya, termasuk dukungan RCMP dan ambulans, telah dikirim ke komunitas tersebut.
“Pikiran saya bersama para siswa, keluarga, pendidik, dan seluruh komunitas Tumbler Ridge. Ini adalah kota kecil yang erat, dan dampak dari peristiwa seperti ini dirasakan oleh semua orang,” katanya dalam sebuah unggahan di media sosial.
Perdana Menteri British Columbia, David Eby, menjamin semua dukungan pemerintah yang mungkin diberikan kepada komunitas tersebut.
“Hati kami berada di Tumbler Ridge malam ini bersama keluarga mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai,” demikian bunyi unggahannya.
Situs web pemerintah provinsi mencantumkan Sekolah Menengah Tumbler Ridge memiliki 175 siswa dari Kelas 7 hingga 12.
Pemerintah Kanada telah menanggapi penembakan massal sebelumnya dengan langkah-langkah pengendalian senjata, termasuk larangan yang baru-baru ini diperluas terhadap semua senjata yang dianggap sebagai senjata serbu. Penembakan pada hari Selasa adalah pembantaian paling mematikan di Kanada sejak tahun 2020, ketika seorang pria bersenjata di Nova Scotia menewaskan 13 orang dan membakar bangunan yang menewaskan sembilan orang lainnya. (yn)
EtIndonessia. Seorang pengusaha kaya, menjelang masa pensiunnya, memanggil ketiga putranya dan berkata: “Aku ingin memilih satu di antara kalian yang paling memiliki naluri bisnis untuk mewarisi usahaku. Sekarang, masing-masing akan kuberi sepuluh ribu. Siapa yang mampu menggunakan uang ini untuk mengisi sebuah rumah kosong hingga penuh, dialah yang akan mendapatkan seluruh hartaku.”
Putra sulung membeli sebuah pohon besar dengan rimbun daun, lalu menyeretnya masuk ke rumah kosong itu hingga memenuhi sebagian besar ruangan.
Putra kedua membeli setumpuk rumput dan mengisinya ke dalam rumah kosong tersebut, yang juga menempati hampir seluruh ruang.
Putra bungsu hanya menghabiskan dua puluh lima rupiah untuk membeli sebuah lilin.
Ketika malam tiba, fia mengajak ayahnya masuk ke rumah kosong itu, menyalakan lilin tersebut, lalu berkata : “Ayah, coba lihat—adakah sudut ruangan ini yang tidak tersinari oleh cahaya lilin?”
Sang ayah sangat puas melihatnya, dan akhirnya menyerahkan seluruh usahanya kepada putra bungsu.
Ada pula sebuah restoran yang sangat ramai dan selalu dipenuhi pelanggan. Pemiliknya yang sudah lanjut usia ingin pensiun, lalu memanggil tiga orang manajernya.
Dia bertanya kepada manajer pertama: “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”
Manajer pertama berpikir sejenak, lalu menjawab: “Ayam lebih dulu.”
Pemilik restoran kemudian bertanya kepada manajer kedua: “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”
Dengan penuh keyakinan, manajer kedua menjawab: “Telur lebih dulu.”
Lalu pemilik restoran memanggil manajer ketiga dan menanyakan pertanyaan yang sama : “Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”
Manajer ketiga menjawab dengan serius : “Jika pelanggan memesan ayam lebih dulu, maka ayam yang lebih dulu. Jika pelanggan memesan telur lebih dulu, maka telur yang lebih dulu.”
Pemilik restoran tersenyum, dan langsung mengangkat manajer ketiga sebagai direktur utama.
Ketika kita terlalu terpaku pada tampilan luar, terbiasa dengan pola pikir lama, dan tak mampu keluar dari kebiasaan untuk membuka jalan baru, mengapa tidak mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda—menambahkan sedikit kreativitas pada cara berpikir yang sudah mengakar?
Hikmah Cerita
Dalam kisah pertama, jawaban si bungsu—mengisi ruang dengan cahaya lilin—adalah bentuk kecerdikan yang sederhana namun mendalam. Namun yang paling mengesankan bagi saya justru kisah kedua.
Saat dihadapkan pada pertanyaan yang tampak seperti teka-teki tanpa jawaban pasti, jawaban manajer ketiga: “Pelanggan memesan apa lebih dulu, itulah yang lebih dulu,” adalah jawaban paling tepat.
Karena dalam industri yang menjunjung tinggi pelayanan, kebutuhan pelangganlah jawaban yang benar.(jhn/yn)
Fondue cokelat adalah hidangan penutup paling mudah di dunia untuk dibuat—hanya dengan 4 bahan, dan bisa dibuat menggunakan microwave!
Jennifer Segal
Fondue cokelat bukan hanya dessert romantis untuk orang dewasa; ini juga merupakan hidangan penutup keluarga yang sempurna. Tidak ada yang menandingi semangkuk cokelat leleh yang dikelilingi oleh biskuit dan marshmallow untuk membuat anak-anak yang biasanya menghabiskan hidangan dengan cepat tetap betah duduk lama di meja makan.
Selain itu, fondue cokelat juga kebetulan merupakan salah satu hidangan termudah untuk disiapkan—cukup empat bahan, dan bisa dibuat di microwave!
Untuk pendamping fondue cokelat, pilihannya nyaris tak terbatas. Kami menyukai biscotti almond, shortbread atau biskuit Eropa (cari merek Petit Lu atau Walker’s di bagian biskuit premium supermarket), stroberi, potongan pound cake, pretzel stik, madeleine, biskuit graham, dan marshmallow.
Bahan yang Dibutuhkan untuk Membuat Fondue Cokelat
Krim kental (heavy cream): Menambah kekayaan rasa dan tekstur lembut pada fondue.
Cokelat semimanis (semisweet chocolate): Pilihan terbaik untuk fondue karena rasanya seimbang—tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. Cokelat pahit (bittersweet) bisa digunakan sebagai pengganti.
Gula: Sedikit gula membantu memaniskan fondue dan menonjolkan rasa cokelat.
Mentega: Memberikan tekstur lembut dan rasa yang lebih kaya.
Langkah-Langkah Pembuatan
Masukkan cokelat, krim, mentega, dan gula ke dalam mangkuk ukuran sedang yang aman untuk microwave. Masak di microwave dengan daya sedang (50 persen) selama 1½ menit. Keluarkan dan aduk.
Masak kembali dengan daya sedang hingga cokelat meleleh sekitar tiga perempat bagian, selama 30–60 detik. Aduk hingga panas sisa di mangkuk melelehkan sisa cokelat sepenuhnya. (Jika perlu, masukkan kembali ke microwave selama beberapa detik.)
Pindahkan campuran ke dalam panci fondue atau mangkuk, lalu sajikan dengan aneka bahan pencelup.
Fondue Cokelat
Porsi: 4 Waktu Persiapan: 5 menit Waktu Memasak: 5 menit Total Waktu: 10 menit
Bahan:
1 cangkir krim kental (heavy cream)
225 gram cokelat semimanis, dicincang halus
1 sendok makan gula
1 sendok makan mentega tawar
Cara Membuat: Masukkan krim, cokelat, gula, dan mentega ke dalam mangkuk sedang yang aman untuk microwave. Masak di microwave dengan daya sedang (50 persen) selama 1½ menit, keluarkan dan aduk. Masak kembali dengan daya sedang hingga cokelat meleleh sekitar tiga perempat bagian, selama 30–60 detik. Aduk hingga panas sisa di mangkuk melelehkan seluruh cokelat. (Jika perlu, masukkan kembali ke microwave selama beberapa detik.) Pindahkan ke panci fondue atau mangkuk dan sajikan dengan aneka bahan pencelup.
Catatan
Sebaiknya fondue diaduk sesekali agar tidak gosong. Jika tidak disajikan dalam panci fondue, Anda bisa menghangatkannya kembali dengan microwave dalam waktu singkat menggunakan daya sedang.
Informasi gizi hanya untuk campuran cokelat; tidak termasuk bahan apa pun yang dicelupkan ke dalam cokelat.
Catatan Penyesuaian Bebas Gluten: Sepengetahuan penulis, semua bahan yang digunakan dalam resep ini bebas gluten atau tersedia luas dalam versi bebas gluten. Namun, gluten tersembunyi dapat ditemukan dalam banyak makanan. Jika Anda menjalani diet bebas gluten atau memasak untuk seseorang dengan alergi gluten, selalu periksa label bahan untuk memastikan semuanya benar-benar bebas gluten.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di OnceUponaChef.com. Ikuti di Instagram.
Pembaca yang Terhormat: Kami ingin mendengar pendapat Anda. Topik apa yang ingin Anda baca? Silakan kirim masukan dan tips Anda ke [email protected].
Dari kepercayaan kesehatan tradisional hingga kualitas air, kebiasaan minum air panas di Tiongkok berakar pada perpaduan budaya, sejarah, dan pertimbangan praktis.
Sejak usia dini, orang Tiongkok diajarkan untuk tidak pernah meminum air “mentah”, yakni air yang belum direbus. Seiring waktu, keyakinan bahwa “minum air yang tidak direbus dapat mengganggu perut” tertanam kuat dalam masyarakat Tiongkok. Namun, di luar Tiongkok, kebiasaan minum sangat bervariasi. Di Eropa dan Amerika Utara, es ditambahkan ke hampir semua minuman. Ibu-ibu yang baru melahirkan di rumah sakit sering kali diberi segelas besar air es tak lama setelah persalinan.
Di Korea Selatan dan Jepang, air es rutin disajikan bersama makanan, sementara di sebagian besar Asia Tenggara, menemukan air hangat justru bisa menjadi hal yang cukup sulit. Lalu, mengapa begitu banyak negara lain lebih menyukai air dingin, sementara orang Tiongkok terbiasa minum air panas atau hangat?
Mengapa Tiongkok lebih menyukai air hangat
Dalam banyak budaya Barat, minum air es dipandang sebagai cara untuk “mendinginkan” tubuh setelah mengonsumsi makanan berat. Pola makan Barat cenderung kaya akan daging sapi, daging domba, bacon, keju, mentega, serta konsumsi susu harian—makanan yang sangat kaya dan tinggi kalori.
Dalam pemikiran tradisional Tiongkok, makanan-makanan tersebut diyakini menghasilkan panas internal berlebih. Mengonsumsinya dalam jumlah besar dianggap dapat membuat tubuh terasa terlalu panas atau tidak seimbang. Dari sudut pandang ini, minum air dingin membantu menetralkan panas internal tersebut, sehingga memadukan makanan berat dengan minuman dingin terasa alami dan masuk akal.
Sebaliknya, pola makan tradisional Tiongkok lebih menekankan pada biji-bijian dan pati, yang dipercaya memberi tubuh konstitusi yang relatif “lebih sejuk”. Dalam kerangka pemikiran ini, minum air dingin dianggap dapat mengiritasi sistem pencernaan dan menurunkan suhu organ-organ dalam.
Air hangat, sebaliknya, dipandang lebih lembut bagi tubuh. Karena suhunya lebih mendekati suhu tubuh manusia, energi yang dibutuhkan untuk memprosesnya lebih sedikit. Hal ini diyakini dapat mengurangi beban pada sistem pencernaan serta membantu menjaga keseimbangan dan kenyamanan tubuh secara keseluruhan.
Kualitas air keran memainkan peran besar
Perbedaan kebiasaan minum juga sangat berkaitan dengan kualitas dan regulasi air keran. Di Amerika Serikat, misalnya, standar air minum dibagi menjadi kategori primer dan sekunder. Standar primer, yang menentukan apakah air aman untuk diminum langsung dari keran, diberlakukan secara hukum, sehingga semua sistem air publik wajib mematuhinya.
Di Tiongkok, standar pengujian air keran jauh lebih longgar. Sebagai contoh, ambang batas konsentrasi trikloroetilena yang diizinkan lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan di Amerika Serikat. Akibatnya, relatif sedikit orang yang merasa nyaman meminum air keran secara langsung, sehingga kebiasaan lama merebus air sebelum diminum terus dipertahankan.
Bagaimana kebiasaan ini berakar
Secara historis, minum air panas bukanlah kebiasaan umum di Tiongkok. Merebus air membutuhkan lebih banyak bahan bakar dibandingkan memasak makanan, sehingga tidak praktis bagi rumah tangga biasa. Hanya keluarga kaya yang mampu menjaga air tetap panas sepanjang hari.
Pada masa Dinasti Song dan Yuan, sebagian besar keluarga hanya merebus air saat memasak. Air biasa diminum sepanjang tahun, dan air rebusan umumnya disediakan hanya untuk orang lanjut usia atau mereka yang sakit.
Hal ini berubah drastis pada abad ke-20. Pada tahun 1934, pemerintahan Nasionalis di bawah Chiang Kai-shek dan Soong Mei-ling meluncurkan Gerakan Kehidupan Baru, sebuah kampanye nasional yang bertujuan membentuk ulang perilaku sehari-hari. Gerakan ini secara kuat mempromosikan kebiasaan minum air rebusan sebagai langkah kesehatan masyarakat untuk mengurangi penyakit bakteri akibat air yang tidak direbus.
Setelah tahun 1949, kampanye serupa dihidupkan kembali dan diperluas. Seiring waktu, minum air rebusan diasosiasikan dengan kebersihan, penghematan, dan kesehatan yang baik—dan akhirnya berkembang menjadi kebiasaan budaya yang sangat mengakar.
Apakah merebus air sudah cukup?
Air minum yang tidak aman bertanggung jawab atas setidaknya 20 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, sehingga pencemaran air kerap dijuluki sebagai salah satu “pembunuh nomor satu di dunia.” Sebagai respons, pemerintah di berbagai negara telah berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan kualitas air.
Sistem air keran nasional Tiongkok baru terbentuk secara awal pada tahun 1975, dan perkembangannya tertinggal dibandingkan pertumbuhan industri yang sangat pesat. Akibatnya, kekhawatiran terhadap keamanan air pun bergeser dari penyakit menular ke pencemaran industri, termasuk logam berat dan polutan kimia. Saat ini, diperkirakan 67,5 persen sumber air di Tiongkok tergolong tercemar berat.
Meskipun merebus air efektif untuk membunuh bakteri dan patogen, metode ini tidak mampu menghilangkan logam berat maupun polutan organik. Bagi rumah tangga yang menginginkan air minum yang benar-benar aman, memasang penyaring air rumah tangga menjadi salah satu solusi paling sederhana dan efektif. Penyaring modern di titik penggunaan dapat menghilangkan kontaminan, memperbaiki rasa air, dan menyediakan air yang lebih aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang.
Ketika umat manusia menoleh ke belakang menelusuri bentangan panjang sejarahnya sendiri, satu pola yang mengusik terus berulang muncul. Peristiwa-peristiwa tertentu tampak begitu tidak mungkin, dan berulang dengan frekuensi yang sedemikian rupa, sehingga sulit untuk menjelaskannya semata-mata sebagai kebetulan belaka.
Di antara fenomena-fenomena tersebut, sedikit yang setahan lama dan seprovokatif apa yang oleh filsuf Jerman Karl Jaspers sebut sebagai “Zaman Aksial”.
Zaman Aksial secara umum merujuk pada periode antara sekitar 800 SM hingga 200 SM, sebuah masa ketika beberapa peradaban besar dunia mengalami transformasi intelektual dan spiritual yang mendalam. Di wilayah-wilayah yang terpisah oleh gurun, pegunungan, dan samudra—Tiongkok, India, Persia, kawasan Levant, dan Yunani—perkembangan yang sangat mirip terjadi dalam rentang sejarah yang sama. Sistem-sistem pemikiran baru muncul. Kerangka etika mendasar dirumuskan. Tradisi keagamaan dan filsafat yang bertahan lama mulai terbentuk.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah tertulis, manusia di berbagai peradaban yang berjauhan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa tentang moralitas, eksistensi, pemerintahan, dan hakikat diri.
Waktu yang ganjil
Yang membuat pertemuan ini mencolok bukan hanya isinya, tetapi juga waktunya. Pada zaman tanpa transportasi cepat, tanpa komunikasi global, dan tanpa pertukaran budaya dalam skala berarti, peradaban-peradaban ini berkembang di sepanjang jalur intelektual yang sejajar, seolah-olah tidak saling mengetahui keberadaan satu sama lain.
Setiap kali sebuah peradaban mendekati ambang kritis—entah berupa kebangkitan, keretakan, atau transformasi mendasar—muncullah sosok-sosok dengan pengaruh luar biasa. Para bijak, filsuf, nabi, dan tokoh pencerah muncul hampir secara bersamaan di berbagai belahan dunia, meninggalkan teks dan ajaran yang membentuk kesadaran manusia selama ribuan tahun.
Confucius (Image: Adobe Stock)
Di Tiongkok, Laozi dan Kongzi (Konfusius) lahir dalam era sejarah yang sama. Catatan Sejarah Agung bahkan menuturkan bahwa Konfusius pernah berkonsultasi dengan Laozi mengenai ritual. Yang satu mendirikan Daoisme, yang lain Konfusianisme. Sun Zi, penulis Seni Perang, juga berasal dari generasi yang sama.
Di anak benua India, Siddhartha Gautama—Sang Buddha— lahir pada masa yang hampir bersamaan, secara tradisional disebut hanya sedikit lebih tua dari Konfusius. Ajarannya melahirkan Buddhisme, sebuah tradisi yang kemudian menyebar ke seluruh Asia dan melampauinya.
Di Yunani, Sokrates lahir hanya beberapa dekade setelah Konfusius, dan melalui dialog, penyelidikan, serta penalaran etis, ia meletakkan fondasi filsafat Barat.
Para filsuf Yunani Kuno dan Tiongkok memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. (Gambar: pixabay / CC0 1.0)
Sementara itu, di kalangan bangsa Ibrani, penyusunan dan penyuntingan akhir teks-teks kunci Alkitab Ibrani terjadi dalam rentang sejarah yang sama, membentuk tulang punggung moral dan spiritual dari tradisi keagamaan Barat di kemudian hari.
Setiap peradaban, dengan bahasa dan konteksnya masing-masing, menghasilkan karya-karya yang kemudian dianggap kanonik—teks-teks yang mendefinisikan nilai, merumuskan pertanyaan metafisika, dan membangun identitas budaya yang bertahan lama.
“Zaman Aksial”
Dalam kajian Barat, pertemuan ini dikenal sebagai Zaman Aksial. Dalam tradisi intelektual Tiongkok, periode ini kadang disebut sebagai “Era Klasik”, masa ketika teks-teks dasar disusun dan dilestarikan sebagai penopang budaya.
Kemunculan paralel karya-karya semacam itu di jarak geografis yang sangat jauh memunculkan pertanyaan yang tak terelakkan: apakah perkembangan ini hanyalah akumulasi besar dari kebetulan, ataukah mencerminkan irama yang lebih dalam yang tertanam dalam sejarah manusia itu sendiri?
Yang tak kalah mencolok adalah bahwa sinkronisasi semacam ini tidak berhenti pada zaman kuno.
Ketika Qin Shi Huang menyatukan Tiongkok dan mengakhiri kekacauan Zaman Negara-Negara Berperang, anak benua India menyaksikan konsolidasi yang sangat mirip. Kaisar Ashoka bangkit ke tampuk kekuasaan, menaklukkan kerajaan-kerajaan pesaing dan membangun sebuah imperium yang, dari segi skala dan ambisi, menyaingi penyatuan Tiongkok oleh Qin.
Berabad-abad kemudian, ketika Kaisar Wu dari Han memperluas wilayah Tiongkok dan menegaskan otoritas kekaisaran, dunia Romawi mengalami transformasinya sendiri. Ekspansi wilayah Roma dan konsolidasi institusionalnya membentuk kawasan Mediterania menjadi satu sistem kekaisaran terpadu.
Bahkan tonggak-tonggak simbolis dalam sejarah spiritual tampak selaras secara ganjil. Periode yang secara tradisional dikaitkan dengan kelahiran Yesus bertepatan erat dengan masa ketika Buddhisme mulai ditransmisikan secara formal ke Tiongkok, menandai momen penting dalam kehidupan spiritual Asia Timur.
Pola yang berlanjut
Pola ini juga berlanjut dalam masa-masa keruntuhan. Ketika Tiongkok memasuki kekacauan periode Jin Timur dan Enam Belas Negara, menghadapi gelombang invasi dari utara dan fragmentasi internal, Kekaisaran Romawi Barat mengalami disintegrasinya sendiri di bawah tekanan invasi yang disebut barbar. Timur dan Barat sama-sama mengalami pengikisan tatanan kekaisaran dan guncangan dunia yang telah mapan.
Kemudian, kebangkitan Dinasti Tang di Tiongkok bertepatan dengan ekspansi pesat Kekaisaran Arab, masing-masing membangun sistem pemerintahan, budaya, dan perdagangan yang luas di ujung-ujung Eurasia yang berlawanan.
Pada masa peralihan dari Dinasti Yuan ke Ming, Tiongkok memasuki zaman keemasan lukisan kaum literati dan sastra drama. Pada saat yang sama, Eropa mengalami Renaisans, yang melahirkan ledakan seni, sastra, dan pemikiran humanis. Beberapa novel klasik besar Tiongkok muncul atau mencapai puncak pengaruhnya pada periode ini, sementara di Barat, tokoh-tokoh seperti Shakespeare membentuk ulang kanon sastra. Menariknya, Shakespeare dan Tang Xianzu adalah sezaman persis, masing-masing meninggalkan karya yang hingga kini mendefinisikan tradisi teater dalam budaya mereka.
Berulangnya kesejajaran semacam ini memunculkan pertanyaan yang serius dan sulit: ketika peristiwa-peristiwa transformatif terjadi di satu bagian dunia, mengapa perubahan serupa begitu sering muncul di tempat lain, seakan saling mencerminkan?
Fenomena ini tidak dapat direduksi menjadi faktor geografis, maupun dengan mudah disingkirkan sebagai kebetulan. Ia mengisyaratkan kemungkinan bahwa peradaban manusia, meskipun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh dan batas-batas budaya, mungkin sedang merespons tekanan, keterbatasan, dan peluang yang sama—yang melekat pada kondisi manusia itu sendiri.
Saat menutup halaman-halaman sejarah, muncul rasa takzim. Simetri yang tampak dalam kebangkitan dan transformasi peradaban—baik dalam momen pencerahan spiritual, konsolidasi kekaisaran, kemajuan seni, maupun keruntuhan sistemik—menantang gagasan bahwa sejarah bergerak sebagai rangkaian kecelakaan yang terpisah-pisah.
Sebaliknya, hal itu mengundang perenungan apakah sejarah manusia mengikuti irama yang lebih dalam, sebuah ritme global yang dibentuk oleh pengalaman kolektif, ambang psikologis, dan batas-batas organisasi sosial. Timur dan Barat, meskipun berbeda dalam budaya dan keyakinan, mungkin terikat oleh pola-pola yang melampaui geografi—terbentang pada tahap-tahap yang berbeda, namun dengan keselarasan yang mencolok.
Entah ditafsirkan sebagai ritme sejarah, psikologi kolektif, atau sesuatu yang masih berada di luar pemahaman kita, Zaman Aksial dan gaungnya mengingatkan bahwa peradaban mungkin tidak bergerak secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu kisah besar umat manusia yang saling terhubung.
Menurut kalender lunar, tahun Bing Wu 2026 hingga Ding Wei 2027 dikenal sebagai “Tahun Kuda Api atau Kuda Merah dan Kambing Api atau Kambing Merah”, yang mana konon hanya terjadi sekali dalam 60 tahun.
Dalam tradisi ilmu takdir, kitab ramalan kuno, serta nubuat rakyat, beredar anggapan bahwa “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” akan membawa bencana besar yang bersifat epochal.
Dari mana asal-usul istilah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah” ini? Apakah benar ada bukti nyata tentang “satu bencana besar setiap 60 tahun”?
Makna “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah”
Pertama-tama, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” dalam sistem penanggalan Gan-Zhi Tiongkok?
Yang dimaksud adalah tahun Bing Wu (丙午) dan tahun Ding Wei (丁未), dengan shio masing-masing Kuda dan Kambing.
Dalam sepuluh batang langit (Tian Gan), Bing melambangkan api Yang yang merah, panas, dan dahsyat. Ketika tahun Bing bertemu cabang bumi Wu (Kuda)—yang juga berelemen api—terjadi kondisi api di atas api, sehingga disebut Tahun Kuda Merah, membentuk medan energi ledakan dan transformasi besar.
Sementara itu, Ding melambangkan api Yin yang lebih lembut namun mudah dipengaruhi lingkungan. Ketika Ding bertemu cabang bumi Wei (Kambing) yang berelemen tanah, terbentuk Tahun Kambing Merah, dengan kondisi api kuat dan tanah kering, menciptakan medan energi hambatan, tarik-menarik, ujian, serta perubahan.
Dalam satu siklus enam puluh tahun (satu Jiazi) kalender Gan-Zhi, “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” pasti muncul sekali. Jika demikian, dalam ribuan tahun pergantian dinasti, jumlah kemunculannya tentu tidak sedikit. Apakah benar setiap kali selalu terjadi “bencana Kuda Merah dan Kambing Merah”?
Ilustrasi (Gemini AI)
Asal-usul Istilah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah”
Pada akhir Dinasti Song Utara, pada masa pemerintahan Kaisar Huizong (era Zhenghe), terjadi bencana di dalam istana. Kaisar memerintahkan pemanggilan Zhang Jixian, seorang Taois tingkat tinggi dari aliran Tianshi Dao, untuk mengadakan ritual penolak bala.
Saat itu, Zhang Jixian secara rahasia melaporkan kepada kaisar adanya “malapetaka Kambing Merah dan Kuda Merah”, yang merujuk pada peristiwa besar yang kelak dikenal sebagai “Bencana Jingkang”.
Pada akhir Dinasti Song Selatan, seorang pejabat setia bernama Chai Wang (1212–1280) melakukan kajian mendalam terhadap berbagai bencana yang terjadi pada tahun Bingwu dan Dingwei. Chai Wang, nama kehormatan Zhongshan, bergelar Qiutang dan Guitian, setelah runtuhnya Dinasti Song ia menyebut dirinya “pejabat sisa Dinasti Song”.
Ia berasal dari rakyat biasa; leluhur ketujuhnya adalah seorang sarjana terpuji dari Quzhou. Pada masa Kaisar Lizong (era Jiaxi), ia mendapat izin khusus mengikuti ujian negara dan diangkat dalam administrasi pusat.
Pada hari pertama tahun Bingwu, tahun keenam era Chunyou, terjadi gerhana matahari. Dalam budaya Tiongkok kuno, gerhana matahari selalu dianggap sebagai pertanda langit akan datangnya bencana bagi raja dan negara. Peristiwa gerhana yang bertepatan dengan Tahun Baru ini membuat Chai Wang sangat gelisah akan masa depan negara.
Ia lalu menelusuri berbagai catatan sejarah, menyusun karya “Bing Ding Guijian” (Cermin Penyu Bing-Ding) dalam sepuluh jilid, dan menyerahkannya kepada kaisar pada pertengahan bulan tersebut. Dalam memorialnya ia menulis:
“Sepanjang sejarah, masa damai selalu lebih sedikit dibanding masa kekacauan; sekalipun raja bijaksana dan pejabat setia, kereta di depan terbalik, kereta di belakang hendaknya mengambil pelajaran.”
Dari sini tampak bahwa tujuan buku ini mirip dengan “Zizhi Tongjian” karya Sima Guang. Karya “Bing Ding Guijian” kemudian dimasukkan ke dalam Siku Quanshu pada Dinasti Qing.
Dalam buku tersebut, Chai Wang merangkum fenomena sejarah yang disebut “malapetaka Bing-Ding” (yakni Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah), dengan harapan agar kaisar menjadikannya pelajaran dari sejarah.
Contoh Nyata: Bencana Jingkang
Pelajaran terbesar yang dihadapi Dinasti Song Selatan adalah kehancuran Dinasti Song Utara dalam “Bencana Jingkang”, yang memang terjadi pada Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah.
Ini adalah bencana kehancuran negara yang “tak sanggup diucapkan para pejabat, dan tak sanggup didengar para kaisar.”
Pada tahun Jingkang pertama hingga kedua (1126–1127), pasukan Jin menyerbu. Pada hari pertama bulan keempat tahun Jingkang kedua, Kaisar Qinzong dan Huizong, beserta permaisuri, putra mahkota, dan rombongan istana ditawan dan dibawa ke utara.
Pejabat istana, selir, kasim, pengrajin, seniman, hingga seluruh harta, emas, buku, dan arsip kerajaan dijarah habis. Runtuhnya Dinasti Song Utara merupakan contoh klasik Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah, yang oleh Chai Wang disebut sebagai “malapetaka Bing-Ding.”
Apakah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah” Terbukti?
Apakah malapetaka Bing-Ding hanya terbatas pada Bencana Jingkang?
Chai Wang melakukan kajian sejarah yang sangat ketat. Ia pertama-tama menelusuri catatan resmi, namun tidak menemukan penjelasan sistematis. Maka ia menelusuri berbagai sumber sejarah, dan menemukan bahwa sejak Zaman Negara-Negara Berperang hingga Dinasti Qin, Han, sampai Lima Dinasti—dari tahun ke-52 pemerintahan Raja Zhaoxiang Qin hingga tahun ke-12 Tianfu Dinasti Han Akhir (255 SM–947 M)—terdapat 21 kali peristiwa yang terjadi pada tahun Bingwu dan Dingwei.
Dalam setiap periode tersebut, bencana dan perubahan besar tak terhitung jumlahnya, dan masing-masing selalu disertai peristiwa sejarah besar: kekacauan politik, invasi asing, bencana besar, reformasi sosial, hingga runtuhnya dinasti.
Temuan berbasis sejarah inilah yang menjadi dasar nyata bagi konsep Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah, bukan sekadar legenda rakyat.
Bagaimana Menghadapi Bencana Bing-Ding?
Dalam “Bing Ding Guijian”, Chai Wang tidak hanya membahas penyebab perubahan, tetapi lebih menekankan cara meredam dan mengatasinya. Ia menyimpulkan:
“Mencari kehendak langit di langit, tidak sebaik mencarinya dalam diri sendiri; mencari takdir lewat hitungan, tidak sebaik mencarinya lewat prinsip.”
Ketika menghadapi bencana alam dan malapetaka buatan manusia, bagaimana cara melewati ujian tersebut? Jawabannya adalah selaras dengan hukum langit dan introspeksi diri.
Ia menegaskan bahwa perubahan jalan langit berakar pada perubahan perilaku manusia. Jika ingin mengatasi kesulitan dengan ramalan dan perhitungan semata tanpa memperbaiki moral dan tindakan, maka hasilnya tetap sia-sia.
Sebagaimana diingatkan Laozi dalam Dao De Jing: “Jalan Langit tidak berpihak, tetapi selalu bersama orang yang berbuat baik.”
Sumber:Bing Ding Guijian, Sejarah Dinasti Song, Kunxue Jiwen, Xuan Pin Lu, Siku Quanshu Tiyao
Kemenangan tersebut memberi Takaichi mandat kuat untuk mendorong langkah-langkah perbaikan ekonomi Jepang, termasuk pemotongan pajak dan peningkatan kesiapan militer.
EtIndonesia. Indeks Nikkei 225 mencetak rekor pada 9 Februari setelah partai Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengamankan mayoritas super dua pertiga dalam pemilihan parlemen.
Menurut situs resmi Nikkei 225, rata-rata penutupan berada di 56.363,94, naik 2.110,26 poin atau 3,89 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 57.337,07. Harian Nikkei menyebut angka penutupan tersebut sebagai rekor tertinggi baru.
Lembaga penyiaran publik Jepang, NHK, mengutip hasil penghitungan suara yang menunjukkan Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi meraih 316 dari 456 kursi di majelis rendah. Ini merupakan rekor sejak LDP didirikan pada 1955 dan melampaui capaian 300 kursi yang diraih Perdana Menteri Yasuhiro Nakasone pada 1986.
Jika digabungkan dengan 36 kursi dari sekutu LDP—Partai Inovasi Jepang—koalisi berkuasa menguasai 352 kursi, atau sekitar tiga perempat dari total kursi parlemen.
Kemenangan ini memberi Takaichi mandat kuat untuk mendorong kebijakan pemulihan ekonomi Jepang, termasuk pemotongan pajak dan peningkatan kesiapan militer. Namun, ia menegaskan bahwa rencana stimulusnya tidak akan membebani keuangan negara—sebuah isu yang sensitif bagi pasar mengingat Jepang memiliki beban utang terbesar di dunia.
Nagahama Toshihiro, kepala ekonom eksekutif di Dai-Ichi Life Research Institute, mengatakan investor terkejut dengan hasil pemilu tersebut.
“Melihat kontrak berjangka Nikkei menyentuh sekitar 58.000 saat pembukaan, ini jelas kejutan positif yang cukup besar,” ujarnya.
Loo Masahiko, ahli strategi pendapatan tetap senior di State Street, menilai hasil ini “mengurangi ketidakpastian politik dan memperkuat narasi luas bahwa ‘Jepang kembali bangkit.’” “Fokus investor kini meluas melampaui pemenang awal dari ‘perdagangan Takaichi’ seperti eksportir, sektor siklikal, keuangan, dan pertahanan,” katanya.
“Ini bukan sekadar pemerintahan yang stabil—yang mulai terlihat adalah prospek pemerintahan jangka panjang,” ujar Ide Shingo, kepala ahli strategi saham di NLI Research Institute.
“Saya tidak yakin kenaikannya akan terus secepat ini. Jika langsung melesat ke 60.000, itu akan terasa berlebihan.”
Ide merujuk pada rata-rata saham Nikkei, seraya menambahkan bahwa indeks tersebut pada akhirnya bisa “menetap” di kisaran 56.000.
Langkah pertama perdana menteri adalah menunjuk kembali kabinetnya. Ia juga akan menyiapkan rancangan anggaran untuk mendanai langkah-langkah ekonomi guna mengatasi stagnasi upah dan kenaikan biaya hidup ketika majelis rendah kembali bersidang pada pertengahan Februari.
Takaichi juga berjanji meningkatkan anggaran pertahanan Jepang dan mencabut larangan ekspor senjata. Kebijakan lainnya mencakup pengetatan imigrasi dan pembatasan jumlah penduduk asing.
Takaichi Berterima Kasih kepada Trump
Menjelang pemilu 8 Februari, Presiden Donald Trump mengunggah pesan dukungan untuk Takaichi di Truth Social, menulis, “Merupakan kehormatan bagi saya untuk memberikan dukungan penuh dan total kepadanya, serta pada apa yang diwakili koalisi terhormat yang dipimpinnya.”
Trump mengucapkan selamat kepada Takaichi atas kemenangannya pada 8 Februari melalui media sosial: “Saya mendoakan kesuksesan besar bagi Anda dalam meloloskan agenda konservatif Peace Through Strength. Rakyat Jepang yang luar biasa, yang memberikan suara dengan antusiasme tinggi, akan selalu mendapat dukungan kuat dari saya.”
Pada 9 Februari, Takaichi menyampaikan terima kasih kepada Trump atas dukungannya. Dalam unggahan di X, ia menulis bahwa dirinya menantikan kunjungan ke Gedung Putih pada musim semi dan melanjutkan penguatan aliansi Jepang–Amerika Serikat.
“Aliansi dan persahabatan kami dengan Amerika Serikat dibangun atas kepercayaan mendalam serta kerja sama yang erat dan kuat. Potensi aliansi kita tak terbatas,” tulisnya.
“Mari kita bekerja bersama untuk memastikan aliansi ini terus membawa perdamaian dan kemakmuran bagi kedua negara kita—dan seterusnya.”
The Associated Press dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini.
EtIndonesia. Pengadilan Singapura menyatakan seorang pria berusia 97 tahun sehat secara mental, setelah putranya berusaha mencegahnya menikahi seorang wanita yang telah dia kencani selama beberapa dekade.
Tokoh utama dalam kisah aneh ini, yang namanya belum diungkapkan oleh media, menikah pada tahun 1950 dan memiliki tiga putra dengan istrinya.
Pada tahun 1971, dia mulai berselingkuh dengan sekretarisnya dan bahkan memiliki anak lagi dengannya. Istrinya dilaporkan mengetahui tentang selingkuhannya, tetapi tetap berada di sisinya hingga kematiannya pada tahun 2014.
Dua tahun kemudian, pria itu membawa selingkuhannya untuk tinggal bersamanya, tetapi konflik dengan keluarganya mencapai titik puncak pada tahun 2021, ketika dia mengumumkan rencana untuk menikahi wanita tersebut.
Setelah mendengar kabar bahwa ayahnya yang sudah lanjut usia berencana untuk menikah lagi, putra keduanya mengajukan petisi ke pengadilan keluarga, meminta agar ayahnya dinyatakan tidak cakap secara hukum. Dia menuduh bahwa akibat jatuh pada tahun 2017, ayahnya menderita demensia, tidak lagi mampu mengambil keputusan, dan dimanipulasi oleh kekasihnya.
Pria lanjut usia tersebut, yang memiliki perusahaan kimia yang didirikan pada tahun 1960-an, mengubah surat wasiatnya untuk mengecualikan putra keduanya dan cucunya, dan mengajukan gugatan balik menuntut pengembalian 3,8 juta SGD dan aset perusahaan. Dia juga mencoba mengusir cucunya dari rumahnya sebagai pembalasan atas gugatan tersebut.
Bukti medis menunjukkan bahwa pria lanjut usia tersebut menunjukkan penurunan kognitif ringan dan kehilangan ingatan jangka pendek karena usia, tetapi tetap sepenuhnya mampu mengambil keputusan mengenai pernikahan dan harta benda. Rekaman audio menunjukkan bahwa dia jernih dan sepenuhnya menyadari tindakannya.
Hakim Shobha Nair juga menunjukkan bahwa terlepas dari klaimnya tentang demensia pria berusia 97 tahun itu, putranya tetap menyetujui pengangkatan ayahnya sebagai CEO perusahaan pada tahun 2019, dua tahun setelah mengalami jatuh yang diduga membuatnya tidak mampu mengambil keputusan.
Pengadilan menolak gugatan putra kedua, menambahkan bahwa pria berusia 97 tahun itu telah menjalin hubungan dengan wanita yang sama selama 50 tahun, dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa wanita tersebut menipu atau mengeksploitasinya untuk merebut asetnya.
Putra kedua pria itu telah mengajukan banding, sehingga pria berusia 97 tahun itu masih harus menunggu beberapa waktu untuk menikah lagi.(yn)
Surabaya, 9 Februari 2026 — Dalam rangkaian acara Beauty Revolution yang digelar 9–16 Februari 2026, Profira Clinic resmi meluncurkan inovasi terbaru di bidang perawatan kulit: Proligio X. Perawatan non-invasif ini diklaim sebagai generasi terbaru pengencangan dan peremajaan kulit dengan teknologi Monopolar RF Dual Mode, yang menjanjikan hasil lebih optimal, nyaman, dan tahan lama.
Proligio X merupakan penyempurnaan dari teknologi monopolar radiofrequency (RF) sebelumnya, dengan kemampuan penetrasi energi yang lebih dalam dan stabil. Melalui penghantaran energi panas yang presisi hingga lapisan kulit terdalam, teknologi ini tidak hanya mengencangkan kulit, tetapi juga mendorong produksi kolagen secara alami—kunci utama kulit tetap elastis dan awet muda.
Keunggulan yang Membawa Perbedaan
Berbeda dengan perawatan sejenis di generasi sebelumnya, Proligio X menawarkan sejumlah peningkatan signifikan:
Energi lebih presisi dan stabil untuk hasil yang merata dan bertahan lama.
Sistem pendingin yang lebih canggih menjaga kenyamanan kulit selama sesi berlangsung.
Tingkat kenyamanan tinggi dengan kontrol panas yang lebih baik.
Efektif untuk wajah dan tubuh, dengan waktu perawatan singkat dan downtime minimal.
Yang paling menarik, teknologi ini dilengkapi dengan Dual Mode Operation:
G-Mode (Gliding) untuk pemanasan lembut di lapisan kulit atas.
X-Mode (Focused) yang mengonsentrasikan energi lebih kuat ke lapisan kulit dalam.
Kombinasi keduanya memaksimalkan efek lifting, pengencangan, dan perbaikan tekstur kulit dalam jangka panjang—bahkan di area sensitif seperti sekitar mata.
Dukungan Ahli dan Komitmen Inovasi
Dr. Agnes Wongsosaputro, Dipl. AAAM, selaku perwakilan Profira Clinic, menyatakan, “Proligio X hadir dengan pendekatan yang lebih mendalam, baik secara teknologi maupun hasil. Energi yang bekerja hingga lapisan dalam tidak hanya mengencangkan, tetapi juga merangsang kolagen secara optimal, sehingga hasilnya lebih natural dan tahan lama.”
Peluncuran ini, menurutnya, sejalan dengan komitmen Profira Clinic untuk terus menghadirkan solusi perawatan kulit berbasis medis yang aman, inovatif, dan sesuai perkembangan terkini dunia estetika global.
Sebagai bagian dari Beauty Revolution Sale, Profira menawarkan promo spesial Proligio X hingga 16 Februari 2026, serta berbagai penawaran menarik lainnya seperti diskon hingga 99%, paket bundling, hingga penawaran eksklusif bagi mahasiswa.
Sebuah Langkah Maju dalam Dunia Estetika
Kehadiran Proligio X bukan sekadar tambahan portofolio layanan, melainkan bukti bahwa perkembangan teknologi kecantikan kini semakin personal, aman, dan berorientasi pada hasil berkelanjutan. Bagi masyarakat yang menginginkan perawatan kulit yang efektif tanpa prosedur invasif, Proligio X menawarkan harapan baru—dengan sentuhan teknologi yang elegan dan hasil yang terukur.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui konsultasi langsung di seluruh cabang Profira Clinic atau melalui kanal komunikasi resmi mereka.
EtIndonesia. Seorang mahasiswa jurusan musik melangkah masuk ke ruang latihan. Di atas piano tergeletak sebuah partitur baru.
“Sulitnya luar biasa…” gumamnya pelan.
Dia membalik-balik lembaran partitur itu, dan tiba-tiba kepercayaan dirinya dalam bermain piano terasa jatuh ke titik terendah—seakan terkikis habis.
Sudah tiga bulan berlalu sejak dia mengikuti bimbingan profesor barunya. Dia benar-benar tidak mengerti, mengapa sang profesor seolah sengaja “menyiksanya” dengan cara seperti ini.
Dengan susah payah dia menguatkan diri, lalu mulai bertarung menggunakan sepuluh jarinya—berjuang, berjuang, dan terus berjuang—hingga suara piano menenggelamkan langkah kaki sang profesor yang mendekat dari luar ruang latihan.
Profesor pembimbing itu adalah seorang maestro piano yang sangat terkenal.
Pada hari pertama mengajar, dia menyerahkan sebuah partitur kepada murid barunya.
“Coba mainkan,” katanya singkat.
Tingkat kesulitannya cukup tinggi. Sang murid memainkannya dengan kaku, tersendat-sendat, dan penuh kesalahan.
“Masih belum matang. Pulanglah dan berlatih dengan sungguh-sungguh,” pesan profesor itu di akhir kelas.
Murid tersebut berlatih selama seminggu penuh. Saat pertemuan minggu kedua, dia sudah bersiap memainkan tugasnya. Namun tak disangka, profesor justru memberikan partitur baru—yang tingkat kesulitannya lebih tinggi lagi.
“Coba mainkan,” katanya lagi.
Tugas minggu lalu sama sekali tidak dibahas. Murid itu kembali bergulat dengan teknik yang jauh lebih sulit.
Minggu ketiga, partitur yang lebih sulit lagi muncul. Situasinya pun berulang.
Setiap kali masuk kelas, murid itu selalu “dikalahkan” oleh partitur baru. Dia membawanya pulang untuk berlatih, lalu kembali ke kelas hanya untuk menghadapi tantangan yang tingkat kesulitannya berlipat ganda. Dia sama sekali tidak merasakan kemajuan, seolah latihan minggu sebelumnya tak ada gunanya.
Rasa gelisah, frustrasi, dan putus asa semakin menumpuk.
Suatu hari, profesor masuk ke ruang latihan.
Murid itu tak sanggup lagi menahan perasaannya. Dia harus mempertanyakan, mengapa selama tiga bulan ini dia terus-menerus ditekan dan disiksa secara mental.
Profesor tidak langsung berbicara. dia mengambil partitur pertama—yang paling awal—lalu menyerahkannya kepada murid itu.
“Mainkan,” katanya sambil menatap muridnya dengan pandangan tegas.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi.
Bahkan murid itu sendiri terkejut. Dia mampu memainkan karya tersebut dengan begitu indah, begitu matang, dan begitu sempurna.
Profesor lalu memintanya memainkan partitur minggu kedua. Hasilnya tetap sama—penampilan yang sangat tinggi mutunya.
Usai bermain, murid itu terpaku menatap sang maestro, tak mampu berkata apa-apa.
Profesor itu berkata perlahan: “Jika aku membiarkanmu terus bermain pada bagian yang paling kamu kuasai, mungkin sampai sekarang kamu masih berkutat pada partitur pertama itu. Kamu tidak mungkin mencapai kemampuan seperti hari ini.”
Manusia memang cenderung nyaman menampilkan hal-hal yang sudah dikuasai dan dikenal.
Namun jika kita mau menoleh ke belakang dan menelaah dengan saksama, kita akan tersadar: bukankah tantangan pekerjaan yang datang bertubi-tubi, tekanan lingkungan yang terus meningkat, tanpa kita sadari justru telah membentuk berbagai kemampuan yang kita miliki hari ini? Karena sesungguhnya, manusia memiliki potensi yang tak terbatas.
Di Amerika Serikat, perusahaan General Electric pernah memiliki kisah serupa:
Seorang manajer dipromosikan menjadi wakil presiden karena kinerjanya yang luar biasa. Namun setelah dua bulan lebih, dia langsung dicopot dari jabatannya. Dengan marah, dia menemui Jack Welch, sang CEO, untuk mengajukan protes.
Welch dengan tenang berkata: “Kinerjamu memang sama giatnya seperti saat kamu masih menjadi manajer. Tapi kamu lupa, sekarang kamu adalah wakil presiden.”
Orang yang benar-benar sukses adalah mereka yang mampu terus menyesuaikan kebiasaan dan pola pikirnya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan lebih sulit. Jika hanya terpaku pada bayang-bayang keberhasilan masa lalu, enggan berubah, dan terus menampilkan apa yang dianggap sebagai “keahlian utama”, maka pada akhirnya seseorang bisa tersingkir oleh zaman.
Pemahaman ini membuat kita lebih siap—bahkan lebih rela—menyambut tantangan yang pasti akan terus datang di masa depan.
Semoga kisah ini menyadarkan kita akan pentingnya terus bertumbuh, dan juga memberi semangat bagi siapa pun yang sedang berjuang untuk maju.
Renungan
Manusia cenderung hidup nyaman di wilayah yang sudah dikenalnya. Jika menemukan sesuatu yang disukai, dia bisa menekuninya tanpa kenal lelah.
Setelah membaca kisah ini, saya teringat perkataan seorang teman: “Banyak orang berhasil bukan karena ingin sukses, tetapi karena keadaan memaksa mereka untuk tidak boleh gagal.”
Bahkan tokoh dalam cerita ini pun “dipaksa” sang profesor hingga akhirnya berhasil.
Tentu saja, dorongan dari luar hanyalah pemicu. Kekuatan sejati tetap berasal dari dalam diri—dari rasa tanggung jawab dan kesadaran akan misi hidup. Tanpa tanggung jawab, sekeras apa pun dorongan dari luar, seseorang tetap tidak akan bergerak.
Malas adalah sifat alami manusia. Berjuang dan bertumbuh adalah misinya.
EtIndonesia. Komando Selatan militer AS mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan kinetik terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik Timur pada hari Senin, 9 Februari.
Serangan tersebut mengakibatkan kematian dua orang di atas kapal; satu orang dilaporkan masih hidup dan saat ini menjadi subjek operasi pencarian dan penyelamatan yang dipimpin oleh Penjaga Pantai AS.
Militer mengklaim bahwa kapal tersebut diduga terlibat dalam perdagangan narkoba, tanpa memberikan bukti pendukung apa pun.
“Pada 9 Februari, atas arahan komandan #SOUTHCOM Jenderal Francis L. Donovan, Satuan Tugas Gabungan Southern Spear melakukan serangan kinetik mematikan terhadap sebuah kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris yang Ditunjuk,” demikian bunyi unggahan dari komando selatan militer AS.
On Feb. 9, at the direction of #SOUTHCOM commander Gen. Francis L. Donovan, Joint Task Force Southern Spear conducted a lethal kinetic strike on a vessel operated by Designated Terrorist Organizations. Intelligence confirmed the vessel was transiting along known narco-trafficking… pic.twitter.com/fa5vppjcCy
Serangan-serangan terbaru ini menjadikan total serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di Pasifik menjadi tiga sejak penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada dini hari tanggal 3 Januari.
Menurut laporan NYT, AS kini telah melakukan total 38 serangan terhadap 39 kapal di Samudra Pasifik dan Karibia sejak September, termasuk serangan terbaru pada hari Senin, yang menewaskan sedikitnya 130 orang.
Serangan terbaru terhadap kapal yang diduga membawa narkoba tersebut diotorisasi oleh Jenderal Francis L. Donovan, seorang Marinir yang menjadi kepala US SOUTHCOM pekan lalu.
Serangan militer AS di Pasifik di bawah pengawasan hukum
Serangan-serangan tersebut telah menarik perhatian yang signifikan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Para ahli hukum dan militer menyebut penyerangan dan pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil tak bersenjata di perairan internasional sebagai tindakan ilegal. Hal ini terlepas dari dugaan keterlibatan mereka dalam kegiatan kriminal.
Serangan 2 September, yang menandai dimulainya serangkaian “pembunuhan di luar hukum” di perairan internasional, telah menarik perhatian kedua partai dari Kongres AS, khususnya karena sifat “serangan ganda” tersebut.
Pada akhir tahun 2025, Kongres AS memblokir 25 persen anggaran perjalanan Menteri Perang Pete Hegseth hingga dirilisnya rekaman video serangan 2 September yang belum diedit..
Sementara Kongres AS memperdebatkan legalitas operasi tersebut, kampanye militer terus meluas. (yn)
Hipertiroidisme pada kucing menyerang lebih dari 10 persen kucing berusia di atas 10 tahun dan kini menjadi penyakit endokrin paling umum pada kucing.
Lee Pickett
Tanya: Kucing senior kami menderita hipertiroidisme. Seberapa umum penyakit ini, dan apa penyebabnya?
Jawab:
Hipertiroidisme disebabkan oleh tumor jinak pada dua kelenjar tiroid yang terletak di leher kucing. Tumor tersebut menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah berlebihan, yang kemudian mempengaruhi seluruh sistem tubuh.
Hipertiroidisme pada kucing menyerang lebih dari 10 persen kucing berusia di atas 10 tahun dan kini menjadi penyakit endokrin paling umum pada kucing. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1979, dan prevalensinya terus meningkat.
Banyak faktor berperan dalam perkembangan penyakit ini, antara lain:
Usia. Hipertiroidisme paling sering terjadi pada kucing usia lanjut.
Genetik. Ras Siam, Himalaya, Persia, dan Burma memiliki risiko rendah. Karena itu, kucing yang terkena kemungkinan memiliki kecenderungan genetik.
Pola makan. Hormon tiroid mengandung yodium, dan makanan dengan kadar yodium yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dikaitkan dengan hipertiroidisme. Penyakit ini juga lebih umum pada kucing yang mengonsumsi makanan kaleng berbahan ikan atau diet yang mengandung banyak isoflavon kedelai atau selenium.
Wadah makanan. Kucing yang diberi makanan kaleng memiliki risiko dua hingga lima kali lebih tinggi terkena hipertiroidisme dibandingkan kucing yang makan makanan kering. Banyak kaleng makanan hewan, terutama kaleng dengan tutup tarik, dilapisi bisfenol A (BPA), yang dapat berdampak buruk pada kelenjar tiroid. Di negara-negara yang tidak mengizinkan penggunaan bahan kimia ini, hipertiroidisme pada kucing jarang ditemukan. Meski demikian, sekitar 25 persen kucing hipertiroid tidak pernah mengonsumsi makanan kaleng.
Bahan kimia lingkungan.
Paparan zat penghambat api, pengharum ruangan, pestisida, dan herbisida dikaitkan dengan hipertiroidisme. Kucing berisiko tinggi karena mereka menghabiskan banyak waktu beristirahat di karpet dan furnitur berlapis kain—yang sering diberi bahan penghambat api—dan menelan zat-zat tersebut saat menjilati bulunya. Penelitian menunjukkan bahwa kucing hipertiroid memiliki kadar darah polybrominated diphenyl ethers (PBDE) serta perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl substances (PFAS)—yang dikenal sebagai “bahan kimia abadi”—lebih tinggi dibandingkan kucing yang sehat.
Penelitian juga membuktikan bahwa vaksinasi serta obat pencegah kutu dan caplak komersial tidak terkait dengan perkembangan hipertiroidisme.
Tanya: Hidung dan bantalan kaki Hunter, anjing springer spaniel tua kami, tampak kering, berkerak, dan menebal, meskipun ia tidak terlihat terganggu. Haruskah kami khawatir?
Jawab: Setiap perubahan pada tubuh Hunter sebaiknya diperiksa oleh dokter hewan. Anda mungkin mengetahui bahwa ia mengalami kondisi yang disebut hiperkeratosis.
Gangguan ini terjadi ketika keratin menumpuk secara berlebihan pada kulit hidung dan/atau bantalan kaki. Keratin adalah protein berserat yang membentuk kulit, rambut, kuku, dan bantalan kaki, serta berfungsi memberi perlindungan dan penopang.
Pada kulit hidung—yang disebut planum nasale—kekeringan dapat diperparah oleh berkurangnya sekresi cairan dari kelenjar hidung kecil tepat di bagian dalam hidung. Kelenjar ini berfungsi melembapkan kulit hidung dan bagian dalam hidung.
Hiperkeratosis paling sering menyerang anjing usia menengah hingga lanjut. Kondisi ini dapat terjadi pada semua ras, tetapi paling umum pada basset hound, beagle, boxer, bulldog, cocker spaniel, Labrador retriever, dan springer spaniel.
Jika kulit hidung dan bantalan kaki Hunter hanya kering, Anda tidak perlu melakukan apa pun. Jika tampilannya mengganggu, Anda dapat mengoleskan propilen glikol, salep Kerasal, minyak ikan, vitamin E, petroleum jelly, pelembap tanpa pewangi, atau Bag Balm. Jika penumpukan keratin pada bantalan kakinya berlebihan, keratin tersebut dapat dipangkas dengan gunting atau dihaluskan menggunakan pengikir kuku.
Kadang-kadang, kulit hidung dan bantalan kaki anjing menjadi sangat kering hingga terbentuk retakan dalam. Jika retakan tersebut berdarah, menimbulkan nyeri, atau terinfeksi, Hunter perlu segera dibawa ke dokter hewan.
Pembaca yang terhormat: Kami ingin mendengar dari Anda. Topik apa yang ingin Anda baca? Silakan kirimkan masukan Anda.
Lee Pickett, VMD, berpraktik di bidang kedokteran hewan untuk hewan peliharaan di North Carolina. Hubungi melalui AskTheVet.pet. Hak cipta 2026 Lee Pickett, VMD. Didistribusikan oleh Creators.com.
EtIndonesia. Seorang pemuda sedang berbelanja di sebuah supermarket. Dia menyadari bahwa ada seorang nenek bertubuh kecil dan kurus yang terus berjalan di belakangnya. Saat dia berhenti, nenek itu ikut berhenti.
Bahkan, nenek itu mulai menatapnya dengan saksama.
Akhirnya, nenek tersebut mendahuluinya dan ketika berada di depan kasir, dia menoleh dan menyapanya: “Aku harap aku tidak membuatmu merasa tidak nyaman. Wajahmu sangat mirip dengan putraku yang telah meninggal.”
“Oh, tidak apa-apa,” jawab si pemuda dengan penuh simpati.
“Aku tahu permintaanku ini agak tidak pantas, tetapi jika sebelum aku keluar dari supermarket ini kamu mau memanggilku dengan sebutan ‘Ibu’ dan berkata ‘sampai jumpa’, aku akan sangat bahagia.”
Nenek itu lalu menyelesaikan pembayarannya.
Saat dia hendak melangkah keluar dari supermarket, si pemuda pun memanggil dengan lantang: “Ibu, sampai jumpa.”
Nenek itu melambaikan tangan dan tersenyum hangat sebagai balasan.
Si pemuda merasa senang karena telah membuat hari seorang nenek asing menjadi lebih bahagia.
Kemudian tibalah giliran si pemuda membayar belanjaannya.
Kasir berkata : “Totalnya empat ribu tiga ratus lima puluh dolar.”
“Bagaimana bisa sebanyak itu? Saya hanya membeli lima barang,” protesnya terkejut.
“Benar, tetapi ibu Anda tadi mengatakan bahwa Anda juga akan membayarkan belanjaannya,” ” jawab kasir.
Apakah cerita ini membuat Anda terharu? Atau justru tertawa terbahak-bahak?
Ini adalah kisah berbagi pengalaman penipuan yang pernah terjadi di Amerika.
Hikmah Cerita
Saat pertama membaca kisah ini, saya sempat mengira ini adalah cerita yang menyentuh hati. Perasaan mulai dibawa ke suasana haru, namun tiba-tiba cerita berakhir dengan penutup yang benar-benar di luar dugaan. Emosi pun berubah dari hangat, menjadi tersentuh, lalu terkejut, beralih ke tertawa, dan akhirnya berakhir pada rasa tidak nyaman.
Di tengah maraknya penipuan, orang-orang menjadi semakin takut untuk tertipu, bahkan takut untuk menolong. Kehilangan uang mungkin masih bisa diterima, tetapi dalam kasus yang lebih serius, seseorang bisa kehilangan reputasi, bahkan nyawa. Akibatnya, banyak orang menjadi ragu untuk membantu mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan.
Jangan pernah menggunakan ketulusan dan kebaikan hati orang lain demi kepentingan pribadi. Kebaikan akan kembali, begitu pula keburukan. Setiap orang pasti akan berada pada saat membutuhkan bantuan orang lain. Jika suatu hari kepercayaan di antara sesama benar-benar hilang, maka kita sendiri—atau keluarga kita—yang pada akhirnya akan menanggung akibatnya.
Metode penipuan terus berkembang dan semakin sulit dikenali. Karena itu, tetaplah waspada dalam kehidupan sehari-hari. Jika menemukan indikasi penipuan, segera hubungi pihak berwenang yang terkait. (jhn/yn)
EtIndonesia. Anggota militer AS menahan kapal tanker lain dari apa yang disebut armada bayangan Rusia, Aquila II, menurut unggahan Pentagon di X.
Detail Operasi
Menurut pernyataan tersebut, Aquila II melanggar karantina yang diberlakukan pada kapal-kapal yang dikenai sanksi di Karibia. Kapal tersebut mencoba melarikan diri, dan pasukan AS mengejarnya dari Laut Karibia ke Samudra Hindia.
Semalam, militer AS melakukan inspeksi, pencegahan maritim, dan penggeledahan kapal di Samudra Hindia. Operasi tersebut dilakukan tanpa insiden.
Pentagon Mengeluarkan Peringatan Keras
Departemen Perang AS menekankan bahwa tidak ada negara lain yang dapat menegakkan kehendaknya di mana pun di dunia dengan cara yang sama seperti Amerika Serikat.
“Ketika Departemen Perang mengatakan karantina, kami sungguh-sungguh. Melalui darat, udara, atau laut, Angkatan Bersenjata kami akan menemukan Anda dan menegakkan keadilan. Anda akan kehabisan bahan bakar jauh sebelum Anda dapat melarikan diri dari kami,” kata pernyataan itu.
Kapal Tanker Aquila II
Menurut Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR), Aquila II adalah bagian dari armada bayangan Rusia dan berafiliasi dengan Sunne Co Limited, sebuah perusahaan yang dikenai sanksi AS.
Kapal tanker tersebut aktif terlibat dalam mengekspor minyak Rusia yang dikenai sanksi dari pelabuhan di Laut Hitam dan Laut Baltik.
Pada tahun 2025, sanksi terhadap kapal tersebut diberlakukan secara bersamaan oleh Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Kanada, Swiss, dan Ukraina.
Pada Januari 2026, kapal tanker tersebut menjadi salah satu kapal yang secara terbuka melanggar blokade laut Venezuela yang diberlakukan AS di bawah Operasi Southern Spear. Untuk mengangkut minyak Venezuela dan menghindari pengejaran, kapal tersebut menggunakan nama samaran, Cape Balder.
Pada 9 Januari, Penjaga Pantai AS menahan kapal tanker Olina. Kapal itu juga merupakan bagian dari armada bayangan dan khusus mengekspor minyak Rusia yang dikenai sanksi ke Tiongkok, India, dan Turki, sambil menyembunyikan benderanya, termasuk dengan menyamar sebagai kapal yang terdaftar di Timor Timur. (yn)