Trump Keluarkan Perintah Keras: Kendalikan Selat Hormuz, Siapa Pun Menebar Ranjau Akan Ditenggelamkan

EtIndonesia. Sebagai bagian dari operasi blokade terhadap Iran, militer AS pada Rabu (22 April) mencegat kapal tanker kedua yang mengangkut minyak dari Iran di Samudra Hindia. Presiden Donald Trump pada Kamis menyatakan bahwa militer AS kini sepenuhnya mengendalikan Strait of Hormuz, serta telah mengeluarkan perintah tegas: setiap kapal Iran yang menebar ranjau akan langsung ditenggelamkan untuk menghilangkan ancaman tersebut.

Pada saat yang sama, kelompok tempur kapal induk ketiga AS, yakni USS George H.W. Bush, telah tiba di kawasan Timur Tengah, membuat situasi semakin tegang.

Militer AS menyatakan siap menaiki kapal tanker “Majestic X”.  Pentagon pada Kamis (23 April) mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut telah dicegat dan diperiksa di perairan Samudra Hindia.

Menurut laporan Associated Press, kapal tanker super besar itu sedang mengangkut minyak dari Iran menuju Tiongkok. Ini merupakan kapal kedua dalam beberapa hari terakhir yang dicegat AS di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia karena terkait perdagangan minyak Iran.

Seorang jurnalis asing menjelaskan bahwa kapal tersebut sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS dan diduga bagian dari “armada bayangan” Iran, yang digunakan untuk mengekspor minyak mentah yang terkena sanksi ke pasar Asia, khususnya Tiongkok.

Kapal tanker super Iran lainnya, “Dorena”, juga dicegat saat mencoba menembus blokade.

Trump menyatakan, “Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Tanpa persetujuan Angkatan Laut AS, tidak ada kapal yang boleh keluar masuk. Selat ini ‘ditutup rapat’ sampai Iran mencapai kesepakatan!”

Di sisi lain, Iran merilis video yang menunjukkan Islamic Revolutionary Guard Corps sebelumnya menyita dua kapal kontainer internasional. Rekaman memperlihatkan personel bersenjata bertopeng menaiki kapal menggunakan tangga. Namun, pengamat menilai video tersebut memiliki unsur propaganda karena diambil dari berbagai sudut kamera.

Sumber menyebutkan sekitar 40 awak berada di kapal yang disita, dan kedua kapal telah dibawa ke pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan.

Selain itu, IRGC dilaporkan menggunakan kapal nelayan yang dimodifikasi dan kapal cepat untuk secara diam-diam menempatkan ranjau laut, baik tipe kontak maupun sensor, di Selat Hormuz.

Trump kemudian mengumumkan telah memberi wewenang kepada Angkatan Laut AS untuk tanpa ragu menenggelamkan kapal apa pun yang menebar ranjau di Selat Hormuz, tanpa memandang ukuran kapal. Ia juga memerintahkan peningkatan upaya pembersihan ranjau hingga tiga kali lipat.

Analis pelayaran menyebutkan bahwa pembersihan ranjau merupakan syarat utama agar kapal dapat kembali melintasi jalur strategis tersebut. Berbagai metode dapat digunakan, termasuk helikopter, kapal tempur pesisir, drone laut, bahkan lumba-lumba terlatih.

Pada hari yang sama, wakil ketua parlemen Iran mengklaim bahwa Teheran telah menerima pembayaran pertama biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, namun tidak mengungkap pihak pembayar maupun jumlahnya. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa kapal yang membayar biaya tersebut kepada Iran tidak akan luput dari tindakan.

Dengan kedatangan kapal induk USS George H.W. Bush di kawasan, analis menilai hal ini tidak hanya memperkuat blokade laut AS, tetapi juga memberikan dukungan kekuatan militer yang lebih besar jika Washington memutuskan untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Israel Tiba-tiba Nyatakan Perang! Menhan Israel Katz : Target Sudah Dikunci, Tinggal Tunggu Perintah Trump

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Kamis (23 April) secara tiba-tiba menyatakan bahwa militer Israel telah siap sepenuhnya. Mereka hanya menunggu satu sinyal dari Presiden AS Donald Trump untuk segera melancarkan serangan. Ia menegaskan bahwa serangan kali ini akan berbeda dari sebelumnya, dengan dampak yang menghancurkan terhadap titik paling sensitif dari rezim Iran.

Israel juga memperingatkan bahwa serangan ini dapat mengguncang fondasi kekuasaan Iran dan bahkan berpotensi menyebabkan runtuhnya rezim tersebut. Menanggapi hal ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa Teheran juga telah siap untuk berperang.

Sementara itu, menurut laporan Channel 12 Israel, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dikabarkan telah mengundurkan diri dari tim negosiasi dan tidak lagi memimpin pembicaraan dengan Amerika Serikat. Hal ini dianggap sebagai indikasi meningkatnya konflik kekuasaan di tingkat tinggi Iran.

Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa jika mendapat “lampu hijau” dari Trump, militer Israel akan melancarkan serangan yang jauh lebih mematikan dan destruktif dibanding sebelumnya, dengan tujuan menghancurkan target-target paling vital di Teheran serta melemahkan fondasi kekuasaan yang dipimpin oleh Ali Khamenei.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, media semi-resmi Iran Mehr News Agency melaporkan bahwa Teheran kembali mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh.

Meski kedua pihak belum menyebutkan waktu pasti dimulainya serangan, suasana menjelang konflik besar semakin terasa di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, laporan Channel 12 juga menyebut bahwa pengunduran diri Ghalibaf dipicu oleh meningkatnya campur tangan IRGC dalam proses negosiasi, yang menyebabkan perpecahan internal. Namun, informasi ini belum mendapat konfirmasi resmi.

Presiden Trump mengatakan, “(Iran) bahkan tidak tahu siapa yang memimpin negara mereka. Mereka berada dalam kekacauan, jadi kami memberi mereka sedikit kesempatan untuk menyelesaikan situasi tersebut.”

Laporan oleh Ren Hao, Washington DC.

Beredar Laporan Seorang Pria Lanjut Usia Menggergaji Palang Parkir Mall Setelah Tunggakan Gajinya Tak Kunjung Dibayar Lunas 

EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan seorang pria lanjut usia di Hailar, Mongolia Dalam, berkali-kali menggergaji palang parkir sebuah pusat perbelanjaan menjadi viral. Beredar kabar bahwa mal tersebut menunggak hutang dalam jumlah besar kepadanya. Meski sudah memenangkan gugatan di pengadilan, ia tidak kunjung menerima pembayaran, sehingga melakukan aksi tersebut sebagai bentuk protes.

Sejak April, video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan seorang kakek di Hailar beberapa kali datang dengan kursi roda ke bawah gedung Guomao Home Furnishing Mall. Ia menggunakan gergaji untuk memotong palang parkir di pintu keluar, lalu mengarahkan kendaraan untuk lewat, sehingga pengendara bisa menikmati “parkir gratis”. Palang yang telah dipotong kadang ia tinggalkan di lokasi, kadang dibawa pergi.

Video lain menunjukkan bahwa jumlah palang yang telah dipotong mencapai 9 buah. Rekaman lanjutan bahkan menyebut jumlahnya telah bertambah menjadi lebih dari 40.

Ada video yang menyebutkan bahwa awalnya ia menggunakan kunci pas untuk melepas palang. Setelah pihak mal mengelas palang tersebut ke tiang, ia beralih menggunakan gergaji.

Menurut informasi yang beredar, warga sekitar dan para pengendara mendukung aksinya. Jika ada palang baru dipasang, mereka akan memberitahu sang kakek secara online, dan ia disebut dapat tiba dalam waktu 10 menit untuk kembali membongkarnya.

Video lain juga memperlihatkan bahwa pihak mal akhirnya terpaksa menggunakan tali sebagai pengganti palang untuk tetap menarik biaya parkir.

Mengenai alasan aksinya, beredar kabar bahwa mal tersebut menunggak hutang hingga ratusan ribu yuan kepada sang kakek. Meski ia telah memenangkan kasus di pengadilan, pihak mal disebut menolak membayar. Karena kesulitan mencari keadilan dan diduga mendapat tekanan, ia akhirnya memilih cara ini untuk menuntut haknya.

Dalam video juga terlihat tulisan tangan berisi slogan protes seperti “tidak punya rumah” di pintu masuk mal, meskipun belum dipastikan apakah itu dibuat oleh kakek tersebut.

Hingga kini, hanya para pengguna media sosial yang menyuarakan dukungan terhadapnya, sementara media resmi belum melaporkan kejadian ini. Banyak warganet berpendapat bahwa meskipun klaim utang belum terkonfirmasi, sikap pihak mal yang tidak memberikan tanggapan terbuka maupun tindakan tegas terhadap sang kakek menimbulkan dugaan bahwa mereka berada di pihak yang bersalah. 

Sumber : ntdtv.com

Armada Iran Dihantam, Tapi Serangan Balik Menggila: Kapal Disita, Drone Ditembak, Ada Ledakan di Kota-Kota? 

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas meski gencatan senjata secara resmi telah diperpanjang. Serangkaian insiden militer yang terjadi pada 22 April 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata selesai, bahkan berpotensi memasuki fase yang lebih kompleks.

Angkatan Laut Iran Terpukul, Namun Taktik Asimetris Masih Kuat

Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang memahami evaluasi intelijen mengungkapkan kepada CBS News bahwa operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel telah berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut konvensional Iran.

Namun demikian, ancaman belum sepenuhnya hilang. Angkatan laut milik Garda Revolusi Iran—yang memang dirancang untuk perang asimetris—dilaporkan masih mempertahankan sekitar 60% kekuatannya, terutama dalam bentuk kapal cepat bersenjata ringan.

Kapal-kapal ini dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi, jejak radar rendah, serta fleksibilitas tinggi untuk disebarkan maupun disembunyikan di berbagai lokasi, termasuk pangkalan pesisir, pulau kecil, hingga fasilitas bawah tanah.

Media pro-Israel bahkan menyebut armada ini sebagai “armada kawanan lebah”, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai ratusan hingga ribuan unit.

Serangan di Selat Hormuz: Jalur Energi Dunia Terancam

Pada hari yang sama, 22 April, ketegangan meningkat tajam di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia.

Angkatan laut Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki tiga kapal dagang yang hendak keluar dari selat tersebut, dan berhasil menyita dua di antaranya. Sementara itu, citra satelit menunjukkan sekitar 33 kapal serang cepat Iran kembali ke pangkalan di pesisir utara dalam formasi rapat, menandakan adanya koordinasi militer yang terstruktur.

Aksi ini mempertegas bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur energi global, meskipun kekuatan konvensionalnya telah terpukul.

Gencatan Senjata Dipertanyakan, Serangan Proksi Terus Terjadi

Ironisnya, insiden ini terjadi hanya sehari setelah Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun di lapangan, situasi berkata lain. Media Kurdistan melaporkan bahwa milisi Irak yang didukung Iran mencoba melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak.

Pada malam 22 April 2026, di wilayah udara Soran, Irak timur laut, jet tempur koalisi pimpinan AS berhasil menembak jatuh drone kamikaze Iran. Ledakan keras terdengar oleh warga setempat, meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Serangan lain yang terjadi pada hari yang sama menargetkan kelompok oposisi Kurdi Iran, melibatkan sedikitnya empat drone dan menyebabkan 3 hingga 5 orang mengalami luka-luka.

Peristiwa ini semakin memperkuat dugaan bahwa Iran tetap mengandalkan jaringan proksi untuk melanjutkan tekanan militer, meskipun secara formal terikat dalam kesepakatan gencatan senjata.

Blokade Jadi Senjata Utama Amerika

Dalam wawancara pada hari Rabu, 23 April 2026, Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak terburu-buru mengakhiri konflik dan tidak menetapkan batas waktu operasi.

Ia juga membantah bahwa tekanan politik domestik, termasuk pemilu, memengaruhi keputusan militernya.

Trump menekankan bahwa blokade ekonomi merupakan strategi yang jauh lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung. Menurutnya, Iran telah terbiasa menghadapi pemboman, namun sangat rentan terhadap tekanan ekonomi.

Ia bahkan memperingatkan bahwa jika sumur minyak Iran ditutup, kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen.

Secara teknis, penghentian produksi minyak dapat menyebabkan penurunan tekanan bawah tanah secara drastis. Hal ini memungkinkan air masuk ke dalam reservoir dan menyumbat jalur minyak. Selain itu, kandungan lilin dan sedimen dalam minyak dapat mengeras, membuat sumur sulit—bahkan mustahil—untuk diaktifkan kembali.

Operasi Global: Kapal Iran Dicegat di Berbagai Perairan

Tekanan terhadap Iran tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Pada 22 April 2026, militer AS dilaporkan mencegat sedikitnya tiga kapal yang terkait Iran di perairan sekitar India, Malaysia, dan Sri Lanka, serta memaksa mereka untuk mengubah arah.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengungkapkan bahwa sejak operasi blokade dimulai, sebanyak 31 kapal telah dipaksa kembali ke pelabuhan Iran.

Untuk mendukung operasi ini, Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari:

  • 10.000 personel militer
  • 100+ pesawat tempur
  • 17 kapal perang
  • Satu kelompok tempur kapal induk

Langkah ini menunjukkan skala tekanan militer dan ekonomi yang sangat besar terhadap Iran.

Ledakan Misterius Guncang Lima Kota Besar Iran

Di tengah situasi yang sudah tegang, peristiwa misterius terjadi pada malam 22 April 2026.

Lima kota besar Iran—Teheran, Qom, Isfahan, Karaj, dan Chitgar—dilaporkan mengalami ledakan besar hampir secara bersamaan.

Menariknya, tidak ada klaim serangan dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait insiden ini.

Pemerintah Iran kemudian menyatakan bahwa suara ledakan tersebut berasal dari aktivasi sistem pertahanan udara dalam rangka latihan militer. Namun, penjelasan ini justru memicu keraguan publik.

Banyak warga mempertanyakan bagaimana latihan militer bisa menghasilkan ledakan sebesar itu, sementara sebagian lainnya menyindir efektivitas sistem pertahanan udara Iran.

Ketegangan Masih Jauh dari Akhir

Rangkaian peristiwa pada 22–23 April 2026 memperlihatkan satu hal yang jelas: meskipun gencatan senjata telah diperpanjang, konflik di Timur Tengah masih berlangsung di bawah permukaan.

Serangan proksi, gangguan jalur energi global, operasi militer lintas wilayah, hingga ledakan misterius di dalam negeri Iran menunjukkan bahwa ketegangan belum mereda—justru semakin kompleks.

Pertanyaan besar kini muncul di panggung internasional:
Apakah ini hanya fase sementara sebelum eskalasi besar berikutnya, atau justru awal dari konflik jangka panjang yang lebih sulit dikendalikan? (***)

Malam Mencekam di Teheran! Ledakan, Rudal, dan Drone Jadi Sinyal Perang Baru

EtIndonesia — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali menunjukkan eskalasi serius dalam kurun waktu 22 hingga dini hari 23 April 2026. Sejumlah insiden militer, pernyataan politik, serta pergerakan strategis pasukan Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang ada saat ini berada dalam kondisi rapuh dan berpotensi pecah sewaktu-waktu.


Drone Kamikaze Iran Dicegat di Langit Irak

Pada 22 April 2026, menurut kesaksian sejumlah saksi mata, jet tempur Amerika Serikat berhasil mencegat drone kamikaze yang diduga milik Iran di atas wilayah Erbil, kawasan Kurdistan Irak.

Pencegatan tersebut memicu ledakan di udara yang terlihat jelas dari daratan. Warga setempat melaporkan setidaknya dua kali operasi intersepsi, dengan kilatan api yang cukup terang di langit malam.

Sejumlah laporan awal menyebutkan bahwa drone tersebut kemungkinan diluncurkan oleh milisi Irak yang didukung Iran. Para analis menilai aksi ini sebagai indikasi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata, sekaligus sinyal bahwa konflik tidak sepenuhnya mereda.


Trump: Tidak Terburu-buru, Tapi Tekanan Terus Ditingkatkan

Dalam perkembangan terpisah pada hari yang sama, Presiden AS, Donald Trump, menanggapi spekulasi mengenai batas waktu negosiasi dengan Iran dalam wawancara telepon yang dilaporkan oleh Fox News.

Trump menegaskan bahwa:

  • Tidak ada batas waktu 3–5 hari seperti yang diberitakan media
  • Proses negosiasi tidak berada di bawah tekanan waktu
  • Tujuan utama adalah mencapai kesepakatan terbaik, bukan tercepat

Namun, di sisi lain, ia menekankan bahwa blokade militer terhadap Iran jauh lebih efektif dibandingkan serangan langsung, karena mampu memberikan tekanan ekonomi yang signifikan.


AS Kerahkan Puluhan Pesawat ke Timur Tengah

Masih pada 22 April 2026, berbagai laporan militer mengungkapkan bahwa:

  • Puluhan pesawat angkut dan tanker pengisian bahan bakar AS bergerak menuju Timur Tengah
  • Sejumlah pesawat telah mendarat di Israel
  • Aktivitas ini menunjukkan kesiapan penuh militer AS menghadapi kemungkinan eskalasi konflik

Para analis menilai langkah ini sebagai bentuk mobilisasi strategis, bukan sekadar rotasi pasukan biasa.


Reza Pahlavi Serukan Perubahan dari Dalam Iran

Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik, tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, mengeluarkan pernyataan yang mengguncang.

Ia menyatakan bahwa:

Jika tiba waktunya untuk menyerukan perubahan besar, ia akan melakukannya langsung dari dalam Iran, bahkan siap mempertaruhkan nyawanya.

Pernyataan ini dengan cepat menyebar di kalangan oposisi dan dianggap sebagai tantangan terbuka terhadap rezim Iran saat ini, sekaligus memperkuat sinyal adanya potensi gejolak internal.


Blokade Selat Hormuz Picu Kerugian Besar

Melalui platform Truth Social, Trump pada 22 April 2026 mengklaim bahwa:

  • Blokade Selat Hormuz menyebabkan Iran kehilangan hingga 500 juta dolar AS per hari
  • Pemerintah Iran menghadapi tekanan finansial serius
  • Aparat keamanan dilaporkan mulai mengalami keterlambatan pembayaran gaji

Trump juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali untuk mencegah krisis yang lebih dalam.


Ledakan dan Aktivasi Pertahanan Udara di Teheran

Situasi semakin memanas ketika pada malam 22 April hingga dini hari 23 April 2026, sejumlah wilayah di Teheran dilaporkan mengalami aktivitas militer intensif.

Menurut laporan media internasional Iran:

  • Ledakan keras terdengar di wilayah timur laut Teheran, termasuk Pardis dan Bumehen
  • Sistem pertahanan udara diaktifkan secara besar-besaran
  • Wilayah barat Teheran juga mengalami aktivitas anti-udara intensif

Warga melaporkan:

  • Suara tembakan anti-udara
  • Kilatan cahaya di langit
  • Objek terbang yang menyerupai rudal atau pesawat tempur

Latihan atau Ancaman Nyata?

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran mengenai insiden tersebut.

Beberapa kemungkinan yang berkembang:

  • Uji respons sistem pertahanan udara Iran
  • Operasi pengintaian atau tekanan terbatas oleh pihak luar, termasuk dugaan keterlibatan Israel
  • Respons terhadap ancaman nyata dari target tak dikenal

Meski demikian, belum ada laporan mengenai eskalasi konflik besar. Aktivitas masih dikategorikan sebagai operasi pertahanan lokal dengan intensitas terbatas.


AS Keluarkan Peringatan Evakuasi dari Lebanon

Di front lain, pada 22 April 2026, Kedutaan Besar AS di Beirut mengeluarkan imbauan mendesak kepada seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Lebanon.

Pernyataan resmi menyebutkan:

  • Situasi keamanan sangat kompleks dan tidak stabil
  • Kondisi dapat berubah secara cepat tanpa peringatan
  • Warga yang tetap tinggal harus siap menghadapi situasi darurat, termasuk ancaman amunisi yang belum meledak

Langkah ini menambah indikasi bahwa kawasan Timur Tengah sedang memasuki fase ketidakpastian tinggi.


Kesimpulan: Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Rangkaian peristiwa pada 22–23 April 2026 menunjukkan bahwa:

  • Gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlangsung, tetapi sangat rapuh
  • Aktivitas militer di berbagai titik justru meningkat
  • Tekanan ekonomi, politik, dan militer terus diperkuat secara bersamaan

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar:
Apakah kawasan Timur Tengah benar-benar menuju perdamaian, atau justru sedang berada di ambang konflik yang lebih luas?

Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan dalam waktu dekat. (***)

[Berita Terlarang] Kunjungan Luar Negeri Presiden Taiwan Lai Ching-te Terhambat, AS dan Jepang Kecam Penyalahgunaan Sistem Penerbangan Sipil Tiongkok

EtIndonesia. Presiden Taiwan Lai Ching-te semula dijadwalkan berkunjung ke negara Afrika Eswatini pada 22 April. Namun sebelum keberangkatan, ia mengumumkan pembatalan perjalanan karena rute penerbangan harus melintasi tiga negara Afrika lainnya yang mana, di bawah tekanan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mencabut izin lintas udaranya.

Para analis menyebut langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan menilai Beijing berupaya melakukan “pengepungan dari udara” untuk semakin mengisolasi Taiwan.

Pada 22 April, Kemenlu AS menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut, mengecam tekanan yang dilakukan PKT terhadap negara-negara terkait untuk mencabut izin penerbangan. Pihak AS juga menilai tindakan ini sebagai penyalahgunaan sistem penerbangan sipil internasional yang dapat mengancam perdamaian dan kemakmuran global.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Voice of America bahwa wilayah informasi penerbangan (Flight Information Region/FIR) yang dikelola negara-negara tersebut seharusnya hanya digunakan untuk menjamin keselamatan penerbangan, bukan dijadikan alat politik oleh Beijing.

Juru bicara tersebut juga menambahkan bahwa kejadian ini menunjukkan Beijing terus melakukan tekanan dan intimidasi terhadap Taiwan serta para pendukungnya di seluruh dunia.

Terhambatnya kunjungan Lai Ching-te juga mendapat perhatian luas di Jepang. Sejumlah tokoh politik Jepang dalam beberapa hari terakhir menyuarakan kritik terhadap PKT yang dinilai menggunakan tekanan diplomatik untuk mempengaruhi keputusan negara ketiga, serta menyatakan dukungan terhadap Taiwan.

Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers rutin pada 23 April menegaskan bahwa menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional, dan semua negara terkait harus menjalankannya secara transparan. (Hui)

Sumber : ntdtv.com

AS Mencegat Kapal Tanker Iran hingga ke Asia, Analis: Selat Malaka Jadi Fokus Baru

EtIndonesia. Blokade laut yang dilakukan militer Amerika Serikat terhadap Iran kini semakin meluas hingga ke perairan Asia. Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mencegat sedikitnya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, serta memaksa kapal-kapal tersebut mengubah haluan. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Pada saat yang sama, masa gencatan senjata sementara tampaknya belum benar-benar berjalan. Ketegangan antara AS dan Iran kini semakin bergeser ke wilayah laut, dengan eskalasi yang terus meningkat.

Menurut sumber, kapal tanker yang ditahan termasuk kapal besar “Deep Sea”, yang diketahui mengangkut sebagian minyak mentah dan terakhir terdeteksi sinyalnya seminggu lalu di lepas pantai Malaysia.

Kapal lain, “Seven”, juga terpantau membawa sekitar 650 ribu barel minyak mentah, dengan lokasi terakhir yang sama di perairan Malaysia.

Selain itu, kapal tanker super besar “Dorena” yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, dicegat tiga hari lalu di lepas pantai India selatan.

Meskipun AS dan Iran sedang berada dalam masa gencatan senjata sementara, militer AS tidak hanya terus memblokade pelabuhan Iran, tetapi juga memperluas operasi hingga kawasan Indo-Pasifik. Presiden Trump pada Kamis menyatakan bahwa blokade lebih efektif daripada pemboman dalam memberikan efek jera terhadap Iran.

Sejak blokade terhadap pelabuhan Iran diberlakukan, sebanyak 31 kapal telah diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.

Langkah ini dinilai sebagai upaya kuat untuk memutus sumber pendanaan utama rezim Iran, sekaligus menghentikan jalur pembelian minyak ilegal oleh Tiongkok.

Analis politik Li Linyi mengatakan bahwa tindakan AS yang mencegat kapal tanker Iran di seluruh dunia memiliki tujuan yang sangat jelas. Lebih dari 90% minyak Iran dijual ke Tiongkok, sehingga operasi ini pada dasarnya bertujuan untuk memutus aliran tersebut. Ia juga menambahkan bahwa tanpa pembelian minyak oleh Tiongkok, rezim Iran kemungkinan tidak akan mampu bertahan hingga saat ini.

Para analis juga menilai bahwa operasi militer AS kemungkinan akan meluas ke jalur pelayaran penting seperti Selat Malaka.

Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok, Liu Yinquan, menyatakan bahwa mengendalikan Selat Hormuz saja tidak cukup, karena sebagian besar minyak telah keluar dari wilayah tersebut. Minyak dapat diangkut melalui pesisir Iran, Pakistan, dan India menuju laut lepas. Jika Selat Malaka dikendalikan, maka minyak tersebut tidak akan bisa mencapai Tiongkok. Ini dinilai sebagai langkah kunci untuk memutus jalur pertukaran minyak Iran dengan senjata dan bahan strategis.

Selama masa sanksi AS, Iran dan Tiongkok telah lama melakukan perdagangan minyak melalui “armada bayangan”, dengan rute utama melewati Selat Malaka. Saat ini dilaporkan sekitar 140 juta barel minyak Iran tertahan di laut di luar area blokade.

Liu Yinquan menambahkan, dampaknya terhadap Tiongkok akan sangat besar karena pasokan minyak bisa menjadi ketat, yang juga dapat mempengaruhi strategi Tiongkok terhadap Taiwan. Sementara itu, jika minyak Iran tidak dapat dijual, sumur-sumur minyaknya bisa dihentikan produksinya dan berpotensi rusak permanen.

Pengamat lain juga mencatat bahwa sejak pemerintahan Trump menekan Venezuela, AS tampaknya telah menyesuaikan strategi globalnya dengan fokus melemahkan basis geopolitik Tiongkok di luar negeri, sebagai bagian dari upaya pembendungan yang lebih luas. (Hui)

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, New Tang Dynasty Television.

Trump: “Blokade Lebih Efektif Daripada Pemboman” — Strategi terhadap Iran Beralih ke Tekanan Ekonomi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak terburu-buru mencapai kesepakatan nuklir, serta menegaskan bahwa “blokade lebih efektif daripada pemboman dalam menakut-nakuti Iran.” Di tengah perpaduan langkah militer dan diplomatik, muncul pertanyaan apakah strategi AS terhadap Iran sedang mengalami perubahan mendasar. Pendekatan yang berfokus pada tekanan ekonomi ini—seberapa efektif dan berapa lama dapat bertahan—menjadi perhatian berbagai pihak.

EtIndonesia. Pada Rabu (22 April), dalam wawancara dengan Fox News, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak tergesa-gesa mengakhiri konfrontasi dengan Iran, dan secara blak-blakan menyebut bahwa “blokade lebih membuat Iran takut dibandingkan pemboman.” Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus strategi AS sedang bergeser dari serangan militer tradisional menuju tekanan ekonomi jangka panjang.

Trump juga membantah adanya “perpanjangan gencatan senjata selama 3 hingga 5 hari” dan menegaskan bahwa belum ada jadwal berakhirnya konflik. 

Menanggapi anggapan bahwa ia ingin segera mengakhiri perang karena tekanan pemilu paruh waktu, Trump menolak hal tersebut dan menyatakan bahwa kebijakannya lebih menekankan ketahanan strategis daripada pertimbangan politik jangka pendek.

Dalam hal operasi militer, United States Central Command mengkonfirmasi bahwa blokade terhadap pelabuhan dan jalur pelayaran Iran telah memasuki minggu kedua, dengan total 33 kapal dipaksa berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.

Para analis menyebut bahwa blokade dianggap lebih memiliki daya gentar karena bersifat “mematikan secara perlahan.” Berbeda dengan pemboman yang memberikan kerusakan jangka pendek, blokade secara langsung memutus jalur ekspor minyak Iran—sumber utama ekonominya.

Komentator politik Lan Shu menyatakan bahwa dengan memblokade selat, AS secara efektif dapat memutus sekitar 90% sumber pendapatan Iran. Ia juga menilai bahwa Trump memilih pendekatan ini karena melihat adanya perpecahan internal di Iran. Jika tekanan militer terlalu kuat, justru dapat mempersatukan faksi-faksi di dalam negeri. Dengan memperlambat tempo konflik, AS dapat mengamati apakah perpecahan internal tersebut akan semakin dalam.

Menurut laporan The Wall Street Journal, penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu sekitar 10 hari saja, Iran bisa menghadapi krisis penyimpanan minyak mentah, sehingga terpaksa menutup sumur minyak. Jika sumur tersebut berhenti beroperasi, sebagian mungkin sulit untuk diaktifkan kembali, yang akan menyebabkan kerugian struktural jangka panjang.

Di sisi lain, blokade ini juga menargetkan ekspor minyak Iran ke luar negeri, terutama ke pasar Tiongkok. United Against Nuclear Iran menyebutkan bahwa sejumlah kapal telah mengubah rute atau membatalkan singgah di pelabuhan, yang menunjukkan bahwa blokade mulai memberikan efek gentar awal dan menekan pemerintah Iran untuk mempertimbangkan kembali negosiasi.

Pengamat menilai langkah Trump ini sebagai bentuk “tekanan maksimum 2.0”, yaitu menggunakan biaya militer yang lebih rendah untuk menghasilkan tekanan ekonomi yang lebih besar serta meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi, dengan memanfaatkan waktu untuk mengakumulasi keunggulan dan memaksa lawan berkompromi.

Namun, apakah strategi ini benar-benar efektif masih bergantung pada dua faktor kunci: pertama, kemampuan Iran dalam menahan tekanan ekonomi; kedua, tingkat kerja sama komunitas internasional—terutama pasar energi dan para pembeli utama minyak. (Hui)

Laporan oleh Yi Xin dan Qiu Yue, New Tang Dynasty Television.

15 Departemen Pemerintahan Tiongkok Menerbitkan Dokumen untuk Meningkatkan Angka Kelahiran; Analisis: Kemungkinan Besar Tidak Efektif

Tingkat kelahiran di Tiongkok terus mengalami pertumbuhan negatif selama bertahun-tahun, sehingga pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali meningkatkan kebijakan pro-kelahiran. 

Baru-baru ini, 15 departemen partai dan pemerintah bersama-sama mengeluarkan sebuah dokumen, yang mencakup layanan perjodohan, dukungan perumahan, hingga subsidi pengasuhan anak untuk meningkatkan keinginan kaum muda menikah dan memiliki anak. Namun, para analis menilai bahwa tanpa penyelesaian tekanan ekonomi dan masalah struktural sosial, kebijakan semacam ini kemungkinan sulit berhasil.

EtIndonesia. Pada April 2026, Administrasi Siber Tiongkok, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional, Kementerian Pendidikan, Kementerian Keuangan, dan total 15 lembaga lainnya bersama-sama menerbitkan sebuah “opini” kebijakan. Dokumen tersebut menyebutkan perlunya intervensi kebijakan “rantai penuh” untuk mendorong pembangunan kota ramah pemuda serta memperkuat pembinaan nilai-nilai pernikahan.

Dokumen itu juga menekankan penyempurnaan sistem layanan perkenalan dan perjodohan, mendorong nilai pernikahan, serta memperkenalkan kebijakan dukungan kelahiran seperti subsidi pengasuhan anak.

Selain itu, diusulkan pula penciptaan lingkungan ramah kelahiran, termasuk pembangunan “rumah sakit ramah kelahiran” dan “rumah sakit ramah anak”, serta menjamin anak-anak pekerja migran di kota mendapatkan akses pendidikan yang setara.

Para analis menilai, harapan PKT pada kebijakan ini untuk meningkatkan angka kelahiran mencerminkan semakin kuatnya tren “tidak menikah, tidak punya anak, dan pasrah (tang ping)” di kalangan anak muda. Penyusutan populasi telah mulai berdampak pada ekonomi dan struktur sosial.

Kepala Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di luar negeri, Wu Shaoping, mengatakan bahwa penyusutan populasi yang cepat dapat memicu efek domino berbagai masalah sosial: berkurangnya tenaga kerja, meningkatnya beban pensiun, kekurangan talenta muda, menurunnya daya konsumsi masyarakat, serta perlambatan ekonomi secara keseluruhan.

Wakil ketua Federasi untuk Demokrasi di Tiongkok sekaligus juru bicara Pena Independen Tiongkok, Sheng Xue, menyatakan bahwa tujuan utama kebijakan baru ini jelas untuk meningkatkan jumlah penduduk.

Sheng Xue mengatakan, sejak akhir 1970-an hingga 2003, kebijakan satu anak telah menyebabkan berkurangnya ratusan juta kelahiran secara artifisial. Pemerintah sendiri mengakui bahwa kebijakan keluarga berencana selama hampir 40 tahun membuat lebih dari 400 juta bayi tidak lahir.

Ia juga mengkritik bahwa kini pemerintah berbalik menggunakan pendekatan administratif dan sistemik di berbagai bidang—politik, ekonomi, budaya, dan sosial—untuk mendorong peningkatan populasi. Menurutnya, jumlah kematian selama masa pandemi masih menjadi tanda tanya besar karena data resmi dinilai tidak transparan.

Selain itu, upaya pemerintah mendorong kelahiran juga dikaitkan dengan dampak pandemi selama tiga tahun, di mana meski data resmi ditekan, berbagai rekaman menunjukkan lonjakan kematian dan antrean panjang di krematorium.

Sheng Xue juga menyinggung berbagai faktor lain yang menurutnya berkontribusi terhadap berkurangnya populasi, termasuk meningkatnya insiden kekerasan sosial dan tekanan dari kekuasaan negara, sehingga sulit mengetahui angka pasti jumlah korban.

Ia menambahkan bahwa kekurangan tenaga usia produktif kini semakin nyata, sementara penuaan populasi juga semakin serius. Di sisi lain, banyak anak muda menganggur, perusahaan dan pabrik tutup, dan banyak orang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin meningkatkan populasi, seharusnya terlebih dahulu memastikan kesejahteraan masyarakat yang ada. Tanpa pekerjaan dan pendapatan yang memadai, sulit bagi generasi muda untuk menikah dan memiliki anak, meskipun ada subsidi.

Wu Shaoping juga meragukan implementasi kebijakan baru ini. Ia menilai bahwa kebijakan kesejahteraan yang diumumkan sebelumnya sering kali hanya berhenti di tingkat dokumen dan tidak benar-benar dilaksanakan, apalagi membutuhkan dukungan anggaran yang besar.

Ia menambahkan bahwa dengan kondisi ekonomi domestik yang lemah—baik investasi maupun konsumsi—serta tekanan tambahan dari krisis energi, banyak daerah mengalami penurunan pendapatan fiskal, sehingga mempertanyakan sumber dana untuk menjalankan kebijakan tersebut.

Tingkat kelahiran di Tiongkok telah menurun selama bertahun-tahun. Program insentif kelahiran dan subsidi pengasuhan anak yang sebelumnya diluncurkan di berbagai daerah bahkan telah dihentikan atau ditarik kembali pada tahun 2025.

Para analis menyimpulkan bahwa meskipun pemerintah mencoba mendorong kebijakan sistematis lintas departemen untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran, efektivitasnya tetap terbatas karena tekanan ekonomi, perubahan nilai sosial, dan lemahnya pelaksanaan kebijakan.

Disunting/Diwawancarai oleh Li Yun – NTD

[Berita Terlarang] Beijing Intensif Gelar Forum dengan Perusahaan Swasta, Coba Dongkrak Ekonomi

Permintaan domestik di Tiongkok terus melemah, sementara tekanan pada konsumsi dan investasi semakin besar, menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong pemulihan, otoritas Tiongkok kembali menggelar forum dengan perusahaan swasta. Perluasan permintaan domestik menjadi topik utama, dengan harapan perusahaan swasta meningkatkan investasi dan mempertahankan tenaga kerja guna meredakan tekanan pengangguran. Namun analis menilai, selama kecenderungan “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, sektor swasta akan tetap berhati-hati dalam berinvestasi.

EtIndonesia. Demi memacu ekonomi, National Development and Reform Commission (NDRC) secara intensif mengadakan forum dengan perusahaan swasta. Sejak Maret, ini merupakan pertemuan ketiga, dan pada 20 April kembali digelar dengan fokus pada peningkatan permintaan domestik.

Peserta forum kali ini mencakup pimpinan perusahaan dari berbagai sektor seperti material logam, kendaraan energi baru, layanan kawasan industri, sumber daya mineral, dan tekstil. NDRC menyatakan ingin mendengar pandangan perusahaan mengenai kondisi ekonomi saat ini serta cara menghadapi perubahan lingkungan eksternal yang kompleks.

Profesor dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian, mengatakan bahwa frekuensi tinggi pertemuan ini menunjukkan situasi ekonomi Tiongkok semakin serius. Ia menilai pemerintah yang mengandalkan BUMN dan peran negara dalam mendorong ekonomi tampak tidak cukup efektif, sehingga kembali mencari dukungan dari sektor swasta.

Kolumnis Wang He menyebutkan tiga akar masalah lemahnya permintaan domestik: pertama, rendahnya proporsi pendapatan disposabel masyarakat dalam PDB; kedua, kesenjangan kekayaan yang besar; dan ketiga, meningkatnya utang rumah tangga, terutama dari kredit perumahan. Hal-hal ini membuat permintaan domestik menjadi kendala utama bagi pertumbuhan ekonomi.

Ia menambahkan, sejak 2022 pemerintah telah mengeluarkan ratusan kebijakan untuk mendukung sektor swasta, tetapi tidak membuahkan hasil. Menurutnya, yang dibutuhkan pelaku usaha bukan sekadar insentif sementara, melainkan pengakuan atas hak-hak mereka serta kepastian posisi dalam sistem ekonomi.

Pemerintah juga menekankan konsep “kekuatan produktif baru”, mendorong perusahaan swasta untuk berinvestasi dalam sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, dan energi baru, guna menembus pembatasan teknologi Barat dan mencari sumber pertumbuhan baru.

Namun, Wang He menilai kebijakan seperti integrasi militer-sipil justru membuat perusahaan swasta enggan terlibat, karena mereka dipandang sebagai pihak yang perlu diawasi. Faktor ideologi yang mengakar dalam sistem dianggap menjadi hambatan terbesar yang sulit diubah.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang regulasi terhadap sektor pendidikan, internet, dan properti telah berdampak besar pada lapangan kerja, terutama bagi kaum muda. Jumlah lulusan universitas pada 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi, sementara tingkat pengangguran juga meningkat, menunjukkan pasar tenaga kerja sudah jenuh.

Wang He juga menyoroti bahwa kebijakan ekonomi terbaru bahkan menggunakan instrumen hukum yang dianggap membebani sektor swasta. Tahun lalu, investasi di Tiongkok mengalami kontraksi langka, baik dari perusahaan domestik maupun investasi asing, dan tren ini berlanjut hingga tahun ini, mencerminkan menurunnya kepercayaan pelaku usaha.

Meskipun frekuensi forum meningkat, lemahnya sistem jaminan sosial membuat masyarakat enggan berbelanja, sehingga forum semacam ini tidak langsung meningkatkan daya beli. Di sisi lain, pelaku usaha lebih mengutamakan kepastian hukum dan stabilitas kebijakan dibandingkan janji-janji verbal.

Selama pola “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, perusahaan swasta cenderung tetap menunggu dan melihat sebelum mengambil keputusan investasi.

Pengamat Xie Tian menambahkan bahwa pemerintah berharap sektor swasta menjadi motor inovasi dan pertumbuhan, namun pelaku usaha enggan berpartisipasi karena risiko tinggi dan ketidakpastian pengembalian investasi. Ia bahkan menyebut sebagian kebijakan sebagai upaya “memanen” dari sektor swasta.

Pemerintah berharap forum-forum ini dapat mengirim sinyal dukungan kepada sektor swasta, memperbaiki ekspektasi pasar, dan memulihkan kepercayaan. Namun para analis menilai, krisis kepercayaan yang bersifat sistemik tidak dapat diselesaikan hanya dengan pertemuan semacam ini.

Diedit oleh Huang Yimei; Diwawancarai oleh Yi Ru – NTD

Blokade Total Iran Dimulai! Kapal Ditenggelamkan, Serangan Besar Tinggal Menunggu Waktu!

EtIndonesia. Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Pada 24 April 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang menandai eskalasi baru dalam konflik dengan Iran.

Dalam sejumlah unggahan terbarunya, Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah diperintahkan untuk menenggelamkan dan menghancurkan kapal apa pun di Selat Hormuz yang dianggap tidak aman dari ancaman ranjau laut. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini berlaku tanpa pengecualian—bahkan kapal kecil sekalipun tidak akan dibiarkan lolos.

Di saat yang sama, kapal penyapu ranjau militer AS mulai melakukan operasi pembersihan intensif di wilayah tersebut. Langkah ini dinilai sebagai indikasi bahwa perintah “hancurkan kapal Iran saat terlihat” telah mulai dijalankan secara nyata di lapangan.


Pernyataan Tegas Trump: “Kita Punya Waktu, Iran Tidak”

Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan beberapa poin penting yang mencerminkan strategi Washington:

  • Kesepakatan dengan Iran hanya akan dilakukan jika sepenuhnya menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya
  • Ia tidak terburu-buru mengakhiri konflik, dengan menegaskan: “kita punya waktu, Iran tidak”
  • Blokade terhadap Iran disebut sangat ketat, bahkan diklaim telah melumpuhkan kekuatan militer dan kepemimpinan negara tersebut
  • Trump juga mengancam akan menghabisi pihak-pihak yang menolak kesepakatan, dan siap kembali ke jalur militer untuk menyelesaikan konflik

Pernyataan ini mempertegas bahwa pendekatan AS saat ini adalah kombinasi tekanan militer dan diplomasi keras.


Kekacauan Internal Iran dan Bayang-Bayang Serangan Besar

Di tengah tekanan eksternal, Iran juga disebut tengah menghadapi dinamika internal yang tidak stabil. Laporan menyebutkan bahwa Ketua Parlemen Iran sempat dikabarkan keluar dari tim negosiasi—meski kemudian dibantah.

Namun, banyak analis menilai bahwa semakin keras bantahan yang muncul, justru memperlihatkan adanya ketegangan di dalam struktur kekuasaan Iran.

Sementara itu, media The Times of Israel melaporkan bahwa setelah tenggat gencatan senjata berakhir, Israel telah menyiapkan serangan militer besar-besaran yang bahkan disebut akan melampaui skala serangan sebelumnya oleh Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Israel disebut telah menetapkan tiga target utama:

  • Infrastruktur energi Iran
  • Fondasi ekonomi negara
  • Pimpinan politik dan militer Iran

Serangan ini diperkirakan akan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan mematikan.


Selat Hormuz Jadi Kunci: Trump Tolak Pembukaan Jalur

Dalam wawancara di Gedung Putih, Trump mengungkapkan bahwa Iran sebenarnya telah menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun tawaran tersebut ditolak.

Alasannya cukup strategis:
Jika selat dibuka, Iran berpotensi memperoleh hingga 500 juta dolar AS per hari dari aktivitas ekspor minyak.

Trump menegaskan:

  • Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga kesepakatan tercapai
  • Jika negosiasi gagal, serangan lanjutan akan dilakukan
  • Infrastruktur minyak Iran menjadi target potensial penghancuran

Ia bahkan menyebut kondisi internal Iran saat ini “kacau”, dan mempertanyakan siapa yang benar-benar memegang kendali pemerintahan.


Tiga Kapal Induk AS Berkumpul, Sinyal Kesiapan Tempur Maksimal

Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa kapal induk USS George H. W. Bush (CVN-77) telah memasuki kawasan Timur Tengah.

Kapal ini akan bergabung dengan:

  • USS Gerald R. Ford (CVN-78) di Laut Merah
  • USS Abraham Lincoln (CVN-72) di Laut Arab

Kehadiran tiga kapal induk secara bersamaan merupakan sinyal kuat bahwa militer AS berada dalam kesiapan tempur penuh, sekaligus menjalankan strategi “berperang sambil bernegosiasi”.


Indikasi Serangan Besar: Aktivitas Militer Meningkat Drastis

Sejumlah indikator menunjukkan eskalasi yang tidak biasa:

  • Lebih dari 850 penerbangan logistik militer AS dilakukan sejak gencatan senjata
  • Sebelum konflik, jumlahnya hanya sekitar 540 penerbangan
  • Inggris juga telah menyiapkan penyelam militer untuk operasi pembersihan ranjau

Para analis menilai bahwa pola ini biasanya menjadi tahap awal sebelum operasi militer besar dimulai.


Blokade Meluas hingga Indo-Pasifik

Langkah AS tidak hanya terbatas di Timur Tengah. Militer Amerika juga dilaporkan menyita kapal tanker Iran yang sedang menuju pelabuhan di Tiongkok.

Ini menjadi kasus pertama di mana kapal yang secara jelas ditujukan ke Tiongkok berhasil dicegat.

Langkah ini menunjukkan bahwa:

  • Blokade terhadap Iran kini meluas ke kawasan Indo-Pasifik
  • AS berupaya memutus aliran dana dan dukungan eksternal terhadap Iran
  • Tiongkok mulai terseret dalam dinamika konflik secara tidak langsung

AS Perluas Tekanan: Sanksi terhadap Jaringan Penipuan Global

Pada hari yang sama, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap seorang senator Kamboja yang diduga mengendalikan jaringan penipuan internasional.

Sebanyak 28 individu dan entitas turut dikenai sanksi karena diduga terlibat dalam penipuan berskala besar yang menargetkan warga Amerika, termasuk melalui:

  • Penipuan investasi
  • Modus hubungan asmara (romance scam)
  • Platform kripto palsu

Pemerintah AS menegaskan akan menggunakan seluruh instrumen hukum—mulai dari penyitaan aset hingga tuntutan pidana—untuk membongkar jaringan ini.


Kesimpulan: Dunia Menunggu Titik Ledak Berikutnya

Dengan meningkatnya tekanan militer, blokade ekonomi, serta manuver diplomasi keras, situasi di Selat Hormuz kini berada di titik kritis.

Kehadiran tiga kapal induk AS, peningkatan aktivitas militer, serta ancaman serangan besar dari Israel menunjukkan bahwa konflik ini bisa berubah menjadi perang terbuka dalam waktu singkat—terutama jika jalur negosiasi benar-benar gagal.

Dunia kini menanti:
Apakah ini akan berakhir di meja perundingan… atau justru menjadi awal dari konflik yang jauh lebih besar?  (***)

Lampu Hijau Serangan? Israel Menunggu, AS Sudah Kepung Iran dari Segala Arah!

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Di tengah klaim gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda: kekuatan militer AS di sekitar Iran terus meningkat secara signifikan, memicu kekhawatiran bahwa konflik besar bisa meletus kapan saja.


Pengerahan Militer AS Melonjak Drastis

Pada 23 April 2026, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkapkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel saat ini tengah menunggu “lampu hijau” dari Amerika Serikat untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.

Ia menegaskan bahwa operasi berikutnya tidak akan seperti sebelumnya. Serangan itu, menurutnya, akan jauh lebih mematikan dan difokuskan pada titik-titik paling sensitif milik Iran.

Di hari yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan bahwa kapal induk USS George H.W. Bush telah memasuki Samudra Hindia dan resmi berada di bawah wilayah operasional mereka.

Laporan dari CNN yang mengutip pejabat AS menyebutkan, dengan tambahan tersebut, jumlah kapal perang AS di sekitar Iran kini mencapai 26 unit.


Distribusi Kekuatan: Tiga Kapal Induk Siap Tempur

Dari total 26 kapal tersebut:

  • 19 kapal ditempatkan di kawasan Timur Tengah
  • 7 kapal berada di Samudra Hindia

Di kawasan Timur Tengah, kekuatan ini mencakup:

  • Kapal induk USS Abraham Lincoln
  • Kapal induk USS Gerald R. Ford
  • Sejumlah kapal perusak
  • Dua kapal tempur pesisir
  • Satu unit pasukan amfibi siaga

Dengan bergabungnya USS George H.W. Bush, kini terdapat tiga kapal induk Amerika Serikat yang beroperasi secara bersamaan di sekitar Iran—sebuah konfigurasi militer yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dibandingkan dengan situasi pada 13 April 2026, saat blokade dimulai, jumlah kapal AS hanya 15 unit. Dalam waktu sekitar 10 hari, jumlah itu melonjak menjadi 26—bertambah 11 kapal, peningkatan yang sangat signifikan.


Gencatan Senjata Dimanfaatkan untuk Persiapan Perang

Para analis militer menilai bahwa langkah ini bukan sekadar penguatan defensif. Amerika Serikat dinilai sedang mempersiapkan berbagai skenario, mulai dari mempertahankan blokade hingga melancarkan operasi militer besar jika negosiasi gagal.

CENTCOM juga mengungkapkan bahwa sejak blokade laut terhadap Iran diberlakukan di wilayah selatan, mereka telah mencegat 33 kapal yang mencoba memasuki perairan Iran—naik dari angka sebelumnya sebanyak 31 kapal.

Sementara itu, laporan dari The Washington Post menyebutkan bahwa militer AS justru memanfaatkan masa gencatan senjata untuk melakukan pengisian ulang logistik dan perombakan besar-besaran terhadap kapal perang dan pesawat tempur mereka di kawasan Timur Tengah.

Artinya, bagi Washington, gencatan senjata bukanlah masa istirahat—melainkan jeda taktis untuk memperkuat kesiapan tempur.


Pernyataan Trump Picu Kekhawatiran Global

Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan senjata nuklir untuk menghadapi Iran.

Menurutnya, kekuatan senjata konvensional saja sudah cukup untuk menghancurkan negara tersebut. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran luas di tingkat global terkait arah konflik ke depan.

Trump juga memberikan pesan tegas kepada Iran agar tidak salah menilai situasi dan menganggap Amerika tidak akan bertindak.


Iran Perkuat Selat Hormuz, Krisis Internal Memburuk

Masih pada 23 April 2026, televisi nasional Iran menayangkan rekaman yang menunjukkan Garda Revolusi memperkuat kontrol di Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak dunia.

Menanggapi hal tersebut, Trump meremehkan ancaman dari kapal-kapal kecil Iran, namun tetap menegaskan bahwa jika Iran menolak kesepakatan, maka opsi militer akan diambil.

Di sisi lain, Iran juga dilaporkan menghadapi krisis internal. Ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengumumkan pengunduran dirinya dari peran diplomatik, dengan alasan adanya intervensi berlebihan dari Garda Revolusi.

Ghalibaf sebelumnya merupakan tokoh penting dalam negosiasi rahasia dengan AS serta mediasi melalui Pakistan. Pengunduran dirinya dianggap sebagai sinyal adanya perpecahan serius di internal pemerintahan Iran.


AS Sita Kapal Tanker Menuju Tiongkok

Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan AS mengumumkan keberhasilan mereka mencegat kapal tanker minyak bernama Majestic X di Samudra Hindia.

Kapal berbendera Guinea tersebut diduga menyelundupkan minyak Iran dan diketahui berada di antara Sri Lanka dan Indonesia, dengan tujuan akhir Pelabuhan Zhoushan di Zhejiang, Tiongkok.

Kapal ini sebelumnya bernama Phoenix dan telah dikenai sanksi sejak 2024 oleh Departemen Keuangan AS karena melanggar embargo terhadap Iran.

Washington menegaskan bahwa perairan internasional tidak dapat dijadikan tempat berlindung bagi pihak yang melanggar sanksi, dan operasi penegakan hukum akan terus dilakukan secara global.


Situasi di Ujung Tanduk

Dengan total 26 kapal perang dan 3 kapal induk yang kini dikerahkan di sekitar Iran, skala kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan ini tergolong luar biasa dan jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah kebuntuan negosiasi, krisis internal Iran, serta tekanan militer yang terus meningkat, satu pertanyaan besar kini menggantung:

Berapa lama gencatan senjata ini benar-benar bisa bertahan—sebelum berubah menjadi konflik terbuka berskala besar?  (***)

Pria di Guangdong, Tiongkok Menyerang Secara Acak di Jalan Raya, Banyak Korban Terjatuh, Ada yang Tewas

EtIndonesia. Terjadi insiden penyerangan acak dengan senjata tajam di Zhongyuan Leisure Plaza, Kabupaten Boluo, Kota Huizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok pada 22 April 2026 pagi. 

Menurut keterangan warga setempat, seorang pria menusuk lima orang secara beruntun, menyebabkan satu orang tewas dan empat lainnya mengalami luka berat.

Reporter mengkonfirmasi kejadian ini melalui warga lokal. Disebutkan bahwa pihak berwenang menutup informasi terkait, sehingga hampir tidak ada berita yang bisa ditemukan secara online, kecuali beberapa diskusi di kolom komentar.

Seorang pelajar setempat, Xiaoyan (nama samaran), mengatakan kejadian terjadi sekitar pukul 09.00 pagi. Kakak dari temannya kebetulan melewati lokasi saat dalam perjalanan kerja dan menyaksikan kejadian tersebut.

“Ada empat atau lima orang yang diserang, satu atau dua orang meninggal. Pelaku melarikan diri dengan sepeda motor,” katanya. 

Sumber lain juga mengungkapkan bahwa pelaku menusuk lima orang, satu tewas dan empat luka berat, sementara kondisi korban luka belum diketahui pasti. Setelah melakukan penyerangan, pelaku dengan santai melarikan diri menggunakan sepeda motor. Hingga kini belum jelas apakah pelaku telah ditangkap, karena otoritas setempat segera menutup lokasi kejadian dan dengan cepat menghapus video-video yang direkam warga.

Seorang pelajar lain, Fang Yong (nama samaran), juga membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan salah satu temannya tinggal dekat lokasi, dan karena belum ada kepastian apakah pelaku sudah ditangkap, temannya merasa takut dan tidak berani keluar rumah.

Seorang netizen menyebut: “Seorang lansia tewas, dua wanita dan satu pria juga menjadi korban, ada yang mengalami putus tangan dan kaki.”

Dalam tangkapan layar percakapan online, disebutkan bahwa pelaku adalah pria bertubuh sedang dengan tinggi sekitar 175–180 cm, mengenakan kaos hitam, dan membawa tas kain hitam (diduga berisi senjata). Ia menyerang beberapa orang yang sedang beraktivitas di taman, lalu segera melarikan diri dengan ojek motor.

Video yang beredar menunjukkan seorang pria tergeletak tidak bergerak. Seorang wanita lansia mengalami luka parah di leher, darah mengalir deras, sempat kejang di tanah, lalu duduk sebentar sebelum kembali terjatuh dan tidak bergerak.

Saat ini, jalan-jalan di sekitar lokasi telah ditutup oleh polisi.

Mengenai motif pelaku, Xiaoyan mengatakan: “Sepertinya karena kalah berjudi, emosinya tidak stabil.”

Fang Yong menambahkan: “Ada yang bilang karena kalah main kartu, ada juga yang menyebut alasan lain. Kemungkinan besar pelaku adalah orang dengan kondisi mental tidak stabil dan temperamen buruk, sehingga melakukan tindakan ekstrem.”

Ia juga menyebutkan bahwa beberapa hari sebelumnya, insiden serupa terjadi di depan sebuah hotel di Boluo, di mana pelaku sudah ditangkap. Disebutkan pelaku baru keluar dari penjara dan melakukan aksi balas dendam terhadap masyarakat, melukai empat orang. Namun, meski kata kunci terkait dapat ditemukan di platform video, rekaman kejadian tersebut telah dihapus.

Dipublikasikan ulang dari epochtimes.com

Personel Militer dan Polisi Tidak Menerima Gaji Mereka! Iran Tak Mampu Menahan Blokade Berat AS 

EtIndonesia. Meskipun gencatan senjata diperpanjang, ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat. Pada Rabu (22 April), Korps Garda Revolusi Islam menembaki beberapa kapal dagang dan menyita kapal, sementara pihak AS terus memperketat blokade laut dan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kondisi keuangan Iran sedang runtuh, bahkan militer dan polisi mengeluhkan tidak menerima gaji.

Trump pada saat-saat terakhir mengumumkan perpanjangan masa gencatan senjata, untuk sementara mencegah pecahnya kembali perang antara AS dan Iran. Namun, konflik terkait blokade di Selat Hormuz justru semakin memanas.

Pada Rabu, Garda Revolusi menembaki tiga kapal dagang. Di antaranya, kapal kargo berbendera Yunani “Epaminondas” mengalami kerusakan parah pada ruang kendali; sementara kapal kontainer “Francesca” diserang saat menunggu masuk ke Teluk Oman.

Sumber menyebutkan bahwa kedua kapal tersebut sempat mematikan transponder, diduga mencoba melintasi Selat Hormuz secara diam-diam.

Garda Revolusi menuduh kapal-kapal tersebut melanggar aturan. Saat ini keduanya telah disita dan dibawa ke perairan Iran. Kapal lain yang diserang, “Euphoria”, masih tertahan di lokasi.

Pihak Iran menyatakan bahwa blokade laut AS tidak berbeda dengan serangan militer, dan mereka harus merespons dengan kekuatan militer. Iran juga memperingatkan bahwa blokade menjadi hambatan utama dalam perundingan damai.

Para analis menilai hal ini menunjukkan bahwa Teheran sangat tertekan oleh blokade menyeluruh dari militer AS, karena kondisi mereka semakin sulit bertahan.

“Kami sedang mempersenjatai ulang, memperbarui perlengkapan, dan menyesuaikan taktik,” kata Komandan Komando Pusat AS. 

Komando Pusat Amerika Serikat pada Rabu sore mengonfirmasi bahwa sebagai bagian dari blokade terhadap Iran, militer AS telah memerintahkan 29 kapal untuk berbalik arah.

Pada hari yang sama, Trump menulis bahwa keuangan Iran sedang runtuh. Ia menyebut Iran sangat membutuhkan pembukaan kembali Selat Hormuz karena kekurangan dana, dengan kerugian mencapai 500 juta dolar per hari, sementara militer dan polisi mengeluhkan tidak menerima gaji.

Menteri Keuangan AS juga menyatakan bahwa fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Khark—pusat energi utama Iran—akan penuh dalam beberapa hari, dan sumur minyak Iran yang rentan terpaksa harus dihentikan. Pembatasan perdagangan laut secara langsung memukul sumber pendapatan utama rezim tersebut.

Setelah putaran baru perundingan AS–Iran terhenti, muncul laporan bahwa negara-negara mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir melakukan upaya diplomatik darurat pada Rabu untuk menghidupkan kembali proses dialog. Diharapkan AS dan Iran dapat kembali bertemu paling cepat pada Jumat (24 April).

Seorang jurnalis asing, Philip Crowther, menyatakan bahwa demi menyambut kemungkinan kedatangan dua delegasi penting, ibu kota Pakistan, Islamabad, masih mempertahankan pengamanan ketat—menunjukkan adanya optimisme bahwa putaran kedua perundingan AS–Iran masih mungkin digelar di sana.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Perlawanan Sipil di Iran Meningkat, Para Negosiator Dilaporkan Diculik; Trump dan Pihak Lain Berupaya Menyusun Rencana Terpadu

EtIndonesia. Di tengah kekhawatiran publik terhadap masa depan perundingan AS–Iran, media Amerika Serikat mengungkap bahwa terhambatnya putaran kedua perundingan terutama disebabkan oleh perpecahan kekuasaan yang serius di dalam Iran. Korps Garda Revolusi Islam dilaporkan menyandera delegasi negosiasi.

Meski situasi kacau, analis menilai bahwa perundingan belum sepenuhnya gagal. Hal ini karena kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk dapat memaksa semua pihak kembali ke meja perundingan.

Presiden Donald Trump pada Selasa (21 April) mengumumkan bahwa, mengingat perpecahan serius dalam pemerintahan Iran, pihak AS memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata hingga Iran dapat mengajukan proposal negosiasi yang terpadu.

Namun, televisi Iran pada Rabu (22 April) menyatakan bahwa Teheran belum memberikan tanggapan atas usulan perpanjangan tersebut.

Berbagai sumber menunjukkan bahwa gagalnya perundingan disebabkan oleh perpecahan dalam struktur kekuasaan Iran. Kelompok garis keras yang diwakili Garda Revolusi berkonflik terbuka dengan pemerintah sipil.

Pembawa acara Fox News, Jesse Watters, mengungkapkan bahwa sebelum perundingan dimulai, Garda Revolusi telah menahan delegasi, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang semuanya dilaporkan berada dalam tahanan rumah.

Tanda-tanda situasi ini sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Pada Jumat lalu, setelah Menteri Luar Negeri Araghchi mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, Garda Revolusi tidak hanya menolak menjalankan kebijakan tersebut, tetapi juga secara terbuka mengkritiknya—menunjukkan ketegangan serius antara militer dan pemerintah.

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa terdapat perpecahan total antara tim negosiasi Iran dan pihak militer. Kedua pihak bahkan tidak dapat mengakses pemimpin tertinggi, yang juga tidak merespons tuntutan dari mana pun.

Sumber lain menyebutkan bahwa Trump tidak akan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Pemerintahan Trump menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih ada. Menurut laporan New York Post, Trump pada Rabu menyatakan bahwa putaran kedua perundingan dengan Iran “mungkin” dapat digelar paling cepat pada Jumat (24 April).

Komentator politik Li Linyi mengatakan bahwa kedua pihak saat ini masih saling menguji kekuatan. Jika Garda Revolusi bersedia membuat kompromi tertentu, peluang kesepakatan tetap ada. Ia juga menambahkan bahwa tekanan dari AS sangat besar, tidak hanya berupa ancaman serangan terhadap fasilitas Iran, tetapi juga kemungkinan menargetkan kelompok garis keras dalam rezim.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran apakah dalam kondisi kekuasaan yang terpecah di Teheran saat ini masih ada figur yang memiliki otoritas cukup untuk mengambil keputusan final. Sementara itu, kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk juga menjadi tantangan besar.

Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.