Kasus COVID-19 di Hong Kong Meningkat, Rumah Sakit Umum dalam Keadaan Darurat Hingga UGD Penuh

oleh Lan Caixiang

Kasus COVID-19 di Hong Kong  meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan hampir 10.000 orang lebih terinfeksi setiap hari. Bahkan, departemen gawat darurat rumah sakit umum dipenuhi dengan antrian panjang pasien yang menunggu perawatan. Dengan dimulainya liburan May Day, jumlah pengunjung dari daratan Tiongkok  ke Hong Kong telah meningkat, yang kemungkinan besar akan mempercepat penyebaran epidemi di kedua tempat tersebut.

Pada 29 April, hari pertama liburan May Day, Sekretaris Medis dan Kesehatan Hong Kong, Lo Chung-mau , mengumumkan di televisi tentang situasi terbaru COVID-19: jumlah infeksi Coronavirus baru di Hong Kong sekarang telah meningkat sekitar 40% dibandingkan dengan minggu sebelumnya, dan diperkirakan hampir 10.000 kasus dikonfirmasi setiap hari, melebihi gelombang musim panas pada akhir Agustus 2022.

Otoritas Rumah Sakit Hong Kong juga mengonfirmasi bahwa jumlah kehadiran UGD di rumah sakit umum melebihi 6.000 per hari selama beberapa hari, meningkat menjadi 6.255 pada  28 April, dengan lebih dari 1.100 di antaranya dipindahkan ke bangsal medis melalui departemen UGD. Ada laporan bahwa waktu tunggu di UGD di banyak rumah sakit melebihi lima jam.

Meski begitu,  Lo Chung-mau percaya bahwa Hong Kong belum mencapai puncak musim flu, meskipun faktanya musim flu telah mencapai puncaknya pada awal bulan ini. 

Menurut pengalaman sebelumnya, dibutuhkan waktu rata-rata 12 hingga 16 minggu untuk meredakan flu. Penasihat ahli Pemerintah Hong Kong,  Ivan Fan-ngai Hung  juga percaya bahwa puncak influenza dan COVID-19 diperkirakan akan memakan waktu 7 hingga 8 minggu.

Peningkatan COVID-19 di Hong Kong Menggemakan Kasus di Daratan Tiongkok

Hari pertama liburan May Day di Hong Kong dilaporkan telah melihat keramaian di tempat-tempat wisata dan pusat kota. Industri pariwisata bahkan memperkirakan bahwa lebih dari 600.000 wisatawan dari Tiongkok  akan mengunjungi Hong Kong dalam tiga hari.

Peringatan terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC)  Tiongkok mengklaim bahwa jumlah infeksi virus corona baru di Tiongkok berfluktuasi, dengan tingkat tes asam nukleat positif untuk virus corona baru di Tiongkok tetap berada di atas 1% sejak April.

Baru-baru ini, berita telah menyebar di masyarakat bahwa rumah sakit di Shanghai, Beijing, Hangzhou dan Guangzhou sekali lagi mengalami klaster pasien baru yang positif virus corona.

CDC mengeluarkan peringatan pada  28 April, meminta masyarakat untuk terus melakukan tindakan pencegahan terhadap infeksi New Coronavirus dan mengurangi risiko infeksi selama periode May Day.

Peringatan resmi tersebut  memicu kekhawatiran bahwa Partai Komunis menutupi epidemi untuk melindungi ekonomi, sehingga menyebarkan virus ke seluruh negeri saat orang-orang bepergian pada hari libur panjang. (Hui)

Jalan Komersial Foxconn di Zhengzhou Mati Suri karena Perusahaan-perusahaan Asing Meninggalkan Tiongkok

Luo Tingting – NTD

Seiring dengan perusahaan asing yang mempercepat penarikan diri mereka, jumlah karyawan di Foxconn di Zhengzhou telah menurun drastis, dengan area asrama untuk lebih dari 100.000 orang dihancurkan, jalan-jalan komersial kosong dan banyak toko tutup, dan menjadi mati suri.

Kota Baru Yucang, yang terletak di pelabuhan penerbangan Zhengzhou, merupakan area pertama yang menerima karyawan Foxconn di Zhengzhou dan dipandang sebagai salah satu barometer operasional Foxconn Zhengzhou Park.

Namun dengan beralihnya kapasitas produksi ponsel Apple ke India, tenaga kerja Foxconn Zhengzhou telah berkurang secara drastis dan Kota Baru Yucang menjadi kosong.

China Business News melaporkan bahwa pada 13 April, reporter melihat sebuah jalan komersial yang kosong di Kota Baru Yu Kang, hampir tidak ada seorang pun yang terlihat. Sebagian besar toko-toko di kedua sisinya ditutup dan digantungkan dengan informasi tentang penyewaan dan transfer.

Pada puncaknya,  Zhengzhou Foxconn memiliki 300.000 karyawan. Feng Jian, operator gudang yang  bekerja di Foxconn selama hampir 10 tahun, mengatakan bahwa di masa lalu, hampir 100.000 orang pernah tinggal dan bekerja di Kota Baru Yucang, dengan toko-toko, warung internet, supermarket, serta KTV dan hotel, yang tersebar di jalan-jalan komersial. Di dua jalan komersial sepanjang sekitar 1000 meter, terdapat lebih dari 100 toko dengan berbagai ukuran, terutama hotel dan restoran.

Selain Kota Baru Yukang, kawasan pelabuhan juga dibangun sejumlah kawasan asrama seperti Apartemen Tiancheng, Xinrong, Gangcheng, Yuhong, Huahong, Shanding, dan Fuxin. Dengan berkurangnya pekerja, Kota Baru Yukang yang jauh dari kota seringkali “tidak ada orang”.

Video yang diambil oleh netizen menunjukkan bahwa asrama ratusan ribu orang di Kota Baru Yukang dihancurkan, dan semua toko di jalan ditutup. Langkah Foxconn berdampak besar pada ekonomi sekitarnya, dan sekarang “orang-orang telah meninggalkan gedung-gedung yang kosong”.

“Sekarang hanya tersisa dari setengah jumlah orang dibandingkan sebelumnya,” kata Qian Jun, yang bekerja di sekitar departemen Foxconn, mengatakan kepada China Business News . Ia menuturkan bahwa setelah beberapa kapasitas produksi ponsel Apple dipindahkan ke India dan tempat lain, permintaan akan tenaga kerja lokal berkurang.

Qian Jun mengatakan bahwa di masa lalu, pabrik pengecoran Foxconn di India sangat kecil dan kebanyakan membuat ponsel Xiaomi. Dalam beberapa tahun terakhir, perluasan pabrik India semakin meningkat, dan kini mulai memproduksi ponsel Apple dengan basis OEM. Foxconn telah mengirimkan beberapa kepala departemen dari Zhengzhou, Shenzhen, Taiwan dan tempat lain untuk merekrut dan melatih pekerja di India.

Konsekuensi paling langsung dari hilangnya pesanan Apple adalah berkurangnya jumlah karyawan di asrama Foxconn’s Zhengzhou. Banyak karyawan yang bekerja di Foxconn mengatakan bahwa hanya ada 60.000 hingga 70.000 karyawan yang masih bekerja di tempat tersebut.

Menurut sebuah laporan oleh firma riset pasar Counterpoint, proporsi iPhone “buatan India” di dunia semakin meningkat. Pada tahun 2020, iPhone buatan India hanya menyumbang 1,3% dari produksi global, yang meningkat menjadi 4% pada tahun 2022 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 7% tahun ini.

Bloomberg News melaporkan pada 13 April bahwa orang-orang yang mengetahui detailnya menunjukkan bahwa Apple telah mempercepat perluasan produksi di pasar di luar Tiongkok.Tahun lalu, Apple merakit iPhone senilai lebih dari US$7 miliar di India dan melipatgandakan produksinya. Sebelum tahun 2025, proporsi produksi India dapat meningkat menjadi 1/4 dari produksi global.

Menurut sebuah laporan oleh The Wall Street Journal pada 4 Maret, perusahaan pengecoran Apple, Hon Hai Group, secara signifikan memperluas kapasitas produksinya di India, berencana  meningkatkan produksi tahunan iPhone menjadi 20 juta unit pada akhir tahun 2024 dan melipatgandakan jumlahnya. karyawan menjadi 100.000 orang.

Hon Hai Group juga mempertimbangkan untuk membangun pabrik baru di India. Reuters melaporkan bahwa Apple sedang dalam pembicaraan dengan produsen elektronik yang berbasis di Taiwan Pegatron untuk membangun pabrik di India dengan tujuan merakit iPhone terbaru, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Insiden grup Zhengzhou Foxconn mendorong rantai industri Apple untuk menarik diri dari China

Alasan mengapa Hon Hai Group dengan cepat mengalihkan kapasitas produksinya ke India diduga terkait dengan eksodus dan protes karyawan Zhengzhou Foxconn tahun lalu, yang  mengurangi kapasitas produksi Zhengzhou Foxconn dan menyebabkan keuntungan Apple pada kuartal keempat ponsel rusak parah. Oleh karena itu, Apple memberitahukan  rantai industri agar pindah ke India dan

Pada 19 Maret, sebuah video diunggah di Internet. Sejumlah besar karyawan Foxconn di Zhengzhou bersiap untuk dievakuasi dengan barang bawaan mereka. Beberapa dipindahkan ke Taman Jinan, beberapa pergi ke Wuhan, dan beberapa pergi ke India. Dan lainnya, mengurus prosedur pengunduran diri.

Wanita yang merekam video tersebut berkata, “Zhengzhou Foxconn telah mulai mengevakuasi karyawan, dan giliran saya untuk angkatan berikutnya.”

Selain Zhengzhou Foxconn, Shenzhen Foxconn dan Chengdu Foxconn juga melaporkan pembongkaran jalur produksi dan memecat pekerja sementara. Beberapa karyawan Foxconn mengatakan bahwa Foxconn India akan memperluas perekrutannya hingga 200.000 orang, dan Foxconn di Tiongkok  secara alami akan memberhentikan sejumlah besar karyawan. Beberapa netizen daratan mengatakan sepertinya mereka harus beradaptasi dengan kehidupan bekerja di Asia Tenggara di masa depan.

Zhengzhou Foxconn hanyalah sebuah mikrokosmos dari apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan asing di Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan Partai Komunis Tiongkok yang memusatkan perhatian pada epidemi mulai Nol COVID hingga lockdown dan memperketat kontrol atas modal telah memaksa banyak perusahaan asing keluar dari Tiongkok dengan kecepatan yang tinggi, sehingga membuat ekonomi Tiongkok jatuh ke dalam resesi. (Hui)

Usai Lebaran 2023,  1,8 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek, Meningkat 45,56% Dari Lalu Lintas Normal

ETIndonesia- PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 1.835.043 kendaraan kembali ke wilayah Jabotabek pada H1 s.d H+7 Hari Raya Idul Fitri 1444 H/Lebaran 2023 yang jatuh pada periode Sabtu-Minggu (22-30 April 2023) atau selama 9 hari. 

Angka tersebut merupakan angka kumulatif arus lalu lintas (lalin) dari empat Gerbang Tol (GT) Utama, yaitu GT Cikupa (dari arah Merak), GT Ciawi (dari arah Puncak), dan GT Cikampek Utama (dari arah Trans Jawa) dan GT Kalihurip Utama (dari arah Bandung).

Dikutip dari siaran pers Jasa Marga, total volume lalin yang kembali ke wilayah Jabotabek ini meningkat 45,56% jika dibandingkan lalin normal dengan total 1.260.693 kendaraan. Jika dibandingkan dengan periode Lebaran 2022, total volume lalin ini meningkat 3,93% dengan total 1.765.622 kendaraan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan prediksi volume lalin Lebaran 2023 pada periode yang sama, total volume lalin tersebut lebih rendah sebesar 10,7% dengan total 2.054.973 kendaraan.

Untuk distribusi lalu lintas kembali ke Jabotabek dari tiga arah yaitu dengan mayoritas sebanyak 1.038.875 kendaraan (56,61%) dari arah Timur (Trans Jawa dan Bandung), 446.629 kendaraan (24,34%) dari arah Barat (Merak), dan 349.539 kendaraan (19,05%) dari arah Selatan (Puncak). Adapun rincian distribusi lalin sebagai berikut:

ARAH TIMUR (TRANS JAWA & BANDUNG)


– Lalin kembali ke Jabotabek dari arah Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama Jalan Tol Jakarta-Cikampek, dengan jumlah 628.653 kendaraan, meningkat sebesar 129,85% dari lalin normal.
– Lalin kembali ke Jabotabek dari arah Bandung melalui GT Kalihurip Utama Jalan Tol Cipularang, dengan jumlah 410.222 kendaraan, meningkat sebesar 41,71% dari lalin normal.
Total lalin kembali ke Jabotabek dari arah Trans Jawa dan Bandung melalui kedua GT tersebut adalah sebanyak 1.038.875 kendaraan, meningkat 84,53% dari lalin normal.

ARAH BARAT (MERAK)


Lalin kembali ke Jabotabek dari arah Merak melalui GT Cikupa Jalan Tol Tangerang-Merak adalah sebanyak 446.629 kendaraan, meningkat sebesar 12,86% dari lalin normal.

ARAH SELATAN (PUNCAK)


Sementara itu, jumlah kendaraan yang kembali ke Jabotabek dari arah Puncak melalui GT Ciawi Jalan Tol Jagorawi sebanyak 349.539 kendaraan, meningkat sebesar 15,76% dari lalin normal.

Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana menambahkan, jumlah kendaraan yang telah kembali ke Jabotabek tersebut telah mencapai 89,3% dari prediksi arus balik sebesar 2 juta kendaraan pada periode H1 s.d H+8 Hari Raya Idul Fitri 1444 H di empat gerbang tol utama yang telah disebutkan sebelumnya.

“Dengan melihat realisasi dari H1 hingga H+7 yang dibandingkan dengan prediksi arus balik pada periode H1 s.d H+8 tersebut, masih ada 10,7% atau sekitar 219.929 kendaraan yang belum kembali ke Jabotabek,” ujar Lisye. (asr)

Dubes Tiongkok untuk Prancis Kembali Membuat Eropa Meradang, Begini Penanganan Krisis Diplomatik Beijing

0

Yang Wei

21 April lalu, Dubes RRT (Republik Rakyat Tiongkok) untuk Prancis yakni Lu Shaye kembali berulah dengan melontarkan kata-kata tidak pantas, padahal di tengah situasi yang sensitif, ia kembali menyulut krisis diplomatik antara Beijing dengan Eropa. Hingga konferensi pers rutin Kemenlu RRT pada 24 April lalu, baru diberikan penjelasan, tapi menghindari masalah status Krimea. Xi Jinping, Wang Yi, dan Qin Gang menampakkan diri bersamaan di hari yang sama, tapi tidak memberikan komentar.

Pernyataan Apa Saja Yang Diocehkan Sang Dubes?

Lu Shaye, Dubes RRT untuk Prancis ketika pada 21 April lalu diwawancarai oleh stasiun TV Prancis LCI, dari topik Perang Rusia-Ukraina, pembawa acara mengemukakan pertanyaan terkait status kepemilikan Krimea, Dubes Lu menyebutkan, “Sejak awal Krimea adalah milik Rusia”, yang diberikan oleh pemimpin mantan Uni Soviet dulu yakni Nikita Khrushchev kepada Ukraina. Pembawa acara memotong perkataan tersebut, “Menurut undang-undang internasional, Krimea adalah milik Ukraina”. Lu Shaye menimpali, “Negara-negara bekas Uni Soviet dulu tidak memiliki status aktual, karena tidak ada kesepakatan internasional yang mengakui status kedaulatan mereka.” Pernyataan Lu Shaye itu pun sontak memicu gelombang kecaman.

Keesokan hari pada 22 April, Vadym Omelchenko, Dubes Ukraina untuk Prancis berkata, “Pengetahuan geografi Lu jelas bermasalah. Jika tidak, pernyataan semacam itu telah bertentangan dengan pernyataan sikap resmi pemerintah RRT mengenai ‘upaya mengembalikan perdamaian Ukraina berdasarkan hukum internasional serta tujuan dan prinsip dalam Piagam PBB’.”

Dubes Ukraina juga mengatakan, “Lain kali untuk memperluasnya sebaiknya ajukan pertanyaan ‘siapa yang memiliki Vladivostok?’. Disini tidak ada istilah abu-abu. Krimea adalah milik Ukraina.” Perkataan ini sepertinya menyiratkan bahwa seorang almarhum mantan pemimpin PKT telah memberikan Vladivostok kepada Rusia. 

Kemenlu Latvia telah memanggil perwakilan otoritas Kedubes RRT, dan meminta penjelasannya. Kemenlu Estonia juga memanggil Dubes RRT untuk Estonia, dan meminta klarifikasi atas hal ini, serta mengkritik pernyataan Lu Shaye itu “tidak bisa diterima dengan alasan apapun”. Menlu Lithuania yakni Gabrielius Landsbergis berkata, “Jika ada orang-orang yang masih ingin mengetahui mengapa negara-negara Baltik tidak percaya Beijing ‘akan menengahi perdamaian di Ukraina’, disini ada seorang Dubes RRT yang berpendapat, Krimea adalah milik Rusia, dan perbatasan negara kami tidak ada dasar hukumnya.” Ia juga mengatakan, pernyataan Lu membuktikan bahwa keputusan Lithuania mundur dari kerangka kerjasama “17+1” yang diprakarsai oleh Beijing dua tahun lalu itu merupakan keputusan yang “tepat waktu dan benar.”

Kemenlu Moldova menyatakan, “Kami merasa sangat terkejut atas pernyataan Dubes RRT yang meragukan kedaulatan negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1991 itu. Saling menghormati keutuhan wilayah kedaulatan adalah kunci keutuhan hubungan antara Moldova dengan RRT selama ini.”

Pada tengah malam 22 April lalu, Kemenlu Prancis merasa “khawatir” akan pernyataan oleh Lu Shaye tersebut, dan meminta Beijing memberikan klarifikasi. Pada 23 April, Prancis mengeluarkan pernyataan sebagai berikut, ‘mendukung penuh’ seluruh negara sekutu yang terkena dampak, dan menyebutkan bahwa negara-negara tersebut telah meraih kemerdekaannya ‘setelah melalui tekanan selama beberapa dekade’; “termasuk perbatasan Krimea yang telah mendapat pengakuan masyarakat internasional pada 1991, termasuk juga RRT.”

Pada 23 April, sebanyak 80 orang anggota parlemen Eropa telah mengeluarkan pernyataan bersama, dan menyerukan pemerintah Prancis agar menetapkan Lu Shaye sebagai “orang yang tidak diterima (persona on grata)”. Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Josep Borrell menyatakan, pernyataan Lu Shaye yang meragukan kedaulatan negara bekas Uni Soviet adalah “tidak bisa diterima”. Sementara itu Jerman membantah pernyataan Lu Shaye, dengan mengatakan bahwa “kedaulatan dan hak keutuhan wilayah negara-negara yang muncul pasca runtuhnya Uni Soviet itu adalah tidak dapat diganggu gugat”. Hubungan diplomatik RRT dengan Eropa sedang berada pada parit pemisah yang krusial, Lu Shaye telah menyodok keranjang besar, selama dua hari berturut-turut RRT tetap bungkam, seharusnya karena mereka sedang menantikan keputusan dari atas, menangani krisis semacam ini selalu menjadi kelemahan PKT.

PKT Ralat Lu Shaye Tapi Menghindari Masalah Krimea

Pada 24 April dalam konferensi pers Kemenlu RRT, mayoritas pertanyaan adalah seputar pernyataan Lu Shaye. Juru bicara Mao Ning menjawab, “Sikap terhadap masalah terkait tidak ada perubahan”; “Setelah Uni Soviet runtuh, RRT adalah salah satu negara yang paling awal membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara tersebut”; “pihak RRT menghormati status kedaulatan negara-negara Republik Kesatuan Soviet pasca keruntuhan negara Uni Soviet”. 

Akan tetapi, Mao Ning tidak mengklarifikasi masalah Krimea. Dia hanya menyebutkan, “Terkait masalah Ukraina, sikap pihak RRT sangat jelas, senantiasa bersama dengan masyarakat internasional, berkontribusi mendorong penyelesaikan krisis Ukraina secara politik”. Banyak wartawan mempertanyakan masalah Krimea, namun Mao Ning terus mengulang jawaban yang samar; serta mengatakan “pernyataan saya tersebut adalah mewakili sikap resmi pemerintah RRT.” Lalu ada wartawan menanyakan pihak Kedubes RRT untuk Prancis telah menghapus pernyataan Lu Shaye dari situs resmi Kedubes RRT, nampaknya Mao Ning berbohong dengan menjawab “tidak tahu”.

Mao Ning telah meralat sebagian pernyataan Lu Shaye. Setelah itu juru bicara Kedubes RRT untuk Prancis menyebutkan, “Pernyataan Lu Shaye bukanlah pernyataan kebijakan resmi, melainkan hanya menyampaikan pandangan pribadinya dalam suatu acara debat di televisi”; namun mereka tetap menghindari masalah Krimea.

Jika PKT menilai Lu Shaye tidak pantas menyandang jabatannya, seharusnya ia dicopot dan diganti; tetapi sepertinya Beijing tidak melakukan hal itu. Kemungkinan PKT hendak memperkecil masalah besar itu, dan sepertinya tidak menyadari betapa seriusnya permasalahan ini, menangani krisis dengan cara semacam ini terlalu menyederhanakan masalah.

Lu Shaye Telah Memutus “Diplomatik Kepala Negara” RRT & Prancis

Konten wawancara Lu Shaye pada 21 April lalu, telah dihapus dari situs resmi Kedubes RRT untuk Prancis, konten yang terbaru adalah naskah wawancara khusus Lu Shaye terkait kunjungan Macron ke Tiongkok pada 18 April 2023 lalu.

Tak sedikit yang telah diinvestasikan pemimpin PKT pada Presiden Prancis tersebut, mungkin awalnya mengira dengan membuka sebuah celah di kubu Barat, bisa berharap Prancis dapat membantu meredakan ketegangan hubungan antara RRT dengan Eropa, tetapi ternyata semua itu telah dikacaukan oleh Lu Shaye.

Komentar presiden Prancis (dalam kunjungannya di Tiongkok) juga menuai kontroversi di dalam negeri. Menlu Prancis pada Konferensi Menlu G7 sepaham dengan negara lain. Pada 21 April lalu, kapal fregat AL Prancis yakni Prairial dikonfirmasi telah berlayar melintasi Selat Taiwan.

Lu Shaye mengakui, “Sejumlah warga Prancis dan Eropa sulit menerima pernyataan sikap Presiden Macron”. Ia juga menilai, “Ini juga dari sisi lain menjelaskan bahwa otonomi strategis Eropa masih harus menempuh jalan yang sulit dan panjang”; Eropa seharusnya “mempertahankan otonomi strategis dan mewujudkan kemandirian, jika tidak Eropa tidak akan dapat mengendalikan nasibnya sendiri.”

Dari sini bisa dilihat, pernyataan Lu Shaye pada 21 April lalu bukanlah suatu kesalahan atau selip lidah, mungkin ia merasa dirinya malah berjasa, di tengah rasa bangga diri terungkap pernyataan yang sebenarnya dari dalam hatinya. Ekspresi Lu Shaye bukan sekedar kebodohan diplomatik, ia telah mengungkapkan seluruh isi pernyataan secara internal dari para petinggi PKT.

Di saat hubungan RRT dan Eropa sedang dalam masa sensitif, seharusnya Lu Shaye berhati-hati, dan sebisa mungkin menetralisir suara penolakan, tetapi akibatnya justru menciptakan konflik yang lebih runyam. Wakil Dirut Yayasan Riset Strategis Prancis (Fondation pour la Recherche Stratégique, FRS) yakni Bruno Tertrais menyatakan, “Jika saya adalah pemerintah Beijing, maka Lu akan dipulangkan ke negaranya dengan penerbangan berikutnya.” Tidak diketahui apakah PKT akan segera memulangkan Lu atau tidak, pemimpin PKT mungkin tidak mau kehilangan muka untuk kedua kalinya, tapi kemungkinan harus terus membayar untuk masalah ini.

Peneliti senior China Institute di University of Alberta Margaret McCuaig-Johnston berkata, “Dubes Lu adalah seorang pejabat diplomatik yang sangat tidak menguasai diplomasi”; “Ia sangat arogan, selalu menekan, dan selalu diakhiri dengan komentar yang bersifat ultimatum, serta menyebarkan ketakutan diplomatik.”

Lu Shaye tahun ini berusia 59 tahun, mungkin masih ingin berkarir lebih tinggi, sehingga terus menerus mengeluarkan pernyataan yang di luar kebiasaan, atau mungkin hendak mencari perhatian dari pemimpin PKT, tapi kali ini keranjang yang disodoknya terlalu besar. Penanganan krisis diplomatik PKT terlihat begitu payah, gejolak diplomatik yang ditimbulkannya sepertinya tidak akan lenyap semudah itu. (sud)

Majalah Jerman Memecat Editor yang Melakukan “Wawancara” Melalui AI dengan Michael Schumacher

Reuters

Penerbit majalah Jerman yang menjalankan “wawancara” dengan Michael Schumacher yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan telah memecat editor dan meminta maaf kepada keluarga besar Formula Satu.

Juara dunia tujuh kali Schumacher, kini berusia 54 tahun, tidak terlihat di depan umum sejak ia mengalami cedera otak serius dalam kecelakaan ski pada liburan keluarga di Pegunungan Alpen Prancis pada Desember 2013.

Keluarganya mengatakan minggu ini bahwa mereka sedang merencanakan tindakan hukum terhadap majalah mingguan Die Aktuelle, yang dimiliki oleh grup media Funke yang berbasis di Essen.

Funke  meminta  maaf  dalam  sebuah pernyataan di situs web mereka.

“Artikel hambar dan menyesatkan ini seharusnya tidak pernah muncul. Itu sama sekali tidak memenuhi standar jurnalisme yang kami — dan pembaca kami — harapkan dari penerbit seperti Funke,” kata direktur pelaksana majalah Funke, Bianca Pohlmann.

Sebagai hasil dari publikasi artikel ini, konsekuensi personel langsung akan diberlakukan.

“Pemimpin redaksi Die Aktuelle, Anne Hoffmann, yang telah memegang tanggung jawab jurnalistik untuk surat kabar tersebut sejak 2009, akan dibebaskan dari tugasnya mulai hari ini.”

Edisi terbaru Die Aktuelle menampilkan sampul depan dengan gambar Schumacher yang tersenyum dan tajuk utama menjanjikan “Michael Schumacher, Wawancara Pertama”.

Strapline itu menambahkan: “Kedengarannya sangat nyata.”

Di balik itu, terungkap bahwa “kutipan wawancara” telah diproduksi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence – AI).

Keluarga Schumacher menjaga privasi ketat tentang kondisi mantan pembalap tersebut, dengan akses terbatas hanya untuk orang-orang terdekatnya.

“Kami tinggal bersama  di  rumah. Kami melakukan terapi. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk membuat Michael lebih baik dan memastikan dia nyaman, serta membuatnya merasakan keluarga kami, ikatan kami,” kata Corinna Schumacher dalam film dokumenter Netflix 2021.

“Kami mencoba melanjutkan sebagai keluarga, seperti yang Michael suka dan masih lakukan. Dan kami melanjutkan hidup kami.” (hui)

Kematian Mendadak Moonbin “Astro” Sebabkan Media Asing Menaruh Perhatian pada Industri Idola Korea

ZHONG YOUCHUN

Moonbin, anggota boy grup Korea “ASTRO” berusia 25 tahun, dilaporkan meninggal di rumah pada 19 April. Agensinya, Fantagio mengeluarkan pernyataan pada dini hari 20 April, dikonfirmasi bahwa Moon Bin meninggal dunia. Berita tersebut mengejutkan semua lapisan masyarakat, dan juga memicu pengawasan media asing terhadap industri idola Korea Selatan.

Pada 21 April, BBC menerbitkan sebuah artikel yang mengejutkan: “Kematian bintang musik pop Korea (K-pop) Moonbin mengejutkan penggemar  musik di seluruh dunia, dan sekali lagi menyoroti tekanan yang dihadapi para penghibur ini. Hal-hal yang ada di bawah lampu sorot.”

Artikel itu mengatakan, “Meskipun penyebab pasti kematian nya masih dalam penyelidikan, polisi mengatakan bahwa Moon- bin ‘tampaknya telah bunuh diri’.” 

Menurut sebuah laporan oleh stasiun TV Korea Selatan, Seoul Broadcasting (SBS), dugaan bahwa Moon Bin bunuh diri telah meluas. Pada awal April, Moonbin mengungkapkan bahwa dia dalam keadaan yang buruk dan meminta maaf kepada penggemar, tetapi dia mengatakan pada saat itu bahwa dia sedang berusaha untuk menemukan kebahagiaan.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh BBC pada  21 April mencantumkan sejumlah kasus kematian para bintang Korea: Awal bulan ini, aktor berusia 26 tahun Jung Chae-yull ditemukan tewas di rumahnya. Aktor Yoo Joo-eun, 27, meninggal Agustus tahun lalu. Sulli, mantan anggota girl grup “f(x)”, meninggal pada 2019 di usia 25 tahun setelah mengalami perundungan siber yang berkepanjangan. Sahabatnya, sesama bintang K-pop, Goo Hara, ditemukan tewas di rumahnya sebulan kemudian.

“Tidak semua insiden ini terdaftar sebagai bunuh diri, tetapi kematian Moon Bin sekali lagi meningkatkan pengawasan dunia luar terhadap industri hiburan Korea yang sangat kompetitif.” Sembari menegaskan hal ini, penulis juga mengutip koresponden majalah Asia Billboard, Rob Schwartz berkata: “Menjadi bintang di Korea berarti Anda harus menanggung lebih banyak tekanan daripada bintang pop Eropa dan Amerika.”

Artikel tersebut menunjukkan: “Korea Selatan dikenal dengan budaya persaingan dengan intensitas sangat tinggi, dan juga memiliki tingkat bunuh diri remaja tertinggi di antara negara-negara maju. Meskipun tingkat bunuh diri secara keseluruhan menurun, jumlah kasus bunuh diri di usia 20-an justru meningkat.”

Menurut laporan, bintang penghibur adalah profesi paling populer di kalangan anak  muda di Korea Selatan. Menurut survei sampel yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Korea pada 2021, aktor, model, dan penyanyi termasuk dalam 10 besar karier impian siswa sekolah dasar. Menjadi bintang K-pop, di sisi lain, biasanya melibatkan periode pelatihan yang melelahkan dan panjang, sebagian besar terputus dari teman dan rekan selama bertahun-tahun.

Sebagai contoh, artikel tersebut mengatakan bahwa meskipun Moon Bin sudah menjadi aktor cilik dalam drama Korea populer Boys Before Flowers ketika dia berusia 11 tahun, dia masih harus menjalani pelatihan selama 8 tahun sebelum dia bisa debut sebagai anggota grup idola “ASTRO”. Adik perempuan Moon Bin, Moon Sua, juga merupakan anggota girl grup “Billlie”. Dia juga memiliki 12 tahun persiapan sebelum debutnya. Penulis menunjukkan bahwa setelah banyak putaran penyaringan intensif, hanya sejumlah kecil peserta trainee yang berhasil naik ke panggung. Dan yang menanti mereka setelahnya adalah industri yang sudah memiliki terlalu banyak bintang.

Selain itu, Rob Schwartz juga mengungkapkan: “Kontrol perusahaan manajemen artis dan budaya lingkaran penggemar adalah dua sumber utama tekanan pada bintang Korea.”

Pertama, pendatang baru di Korea terikat oleh apa yang disebut “kontrak budak”. Sebaliknya, itu adalah perjanjian eksklusivitas jangka panjang yang membuat artis tidak memiliki kendali atas jadwal atau kompensasi finansial mereka. Meskipun ada beberapa kasus dalam beberapa tahun terakhir bintang K-pop memenangkan tuntutan hukum dan keluar dari kontrak yang tidak masuk akal, Schwartz percaya bahwa hubungan antara kedua pihak tidak berubah secara mendasar.

Kedua, fandom yang diperbanyak dengan aktifnya media sosial Korea Selatan terkadang menjadi pedang bermata dua. Schwartz berkata, “Dibandingkan dengan negara lain, Korea Selatan memiliki standar moral yang sangat ketat untuk selebriti.” Di sisi lain, setiap gerakan selebritas diawasi. “Penggemar menempatkan artis di bawah mikroskop.” Begitu ada sedikit penyimpangan dalam perkataan dan perbuatan sang bintang, dia akan diserang habis- habisan dan merasakan banyak tekanan, yang akan menyebabkan masalah kesehatan mental. (zzr)

Polisi Wanita Tiongkok Didakwa di AS, Dituduh Berlatih di Kanada

Gao Yunlin dan Mei Xue – NTD

Sebuah investigasi baru  mengungkapkan bahwa salah satu polisi wanita  Tiongkok yang didakwa di Amerika Serikat baru-baru ini telah menerima pelatihan polisi di Kanada.

Pada  17 April, Amerika Serikat mendakwa 34 petugas polisi  Tiongkok karena diduga berpartisipasi dalam penumpasan transnasional. Para terdakwa termasuk Chen Zhichen, seorang warga negara Tiongkok berusia 26 tahun yang merupakan seorang perwira polisi di Biro Pertama Kementerian Keamanan Publik Tiongkok.

Baru-baru ini, penyelidikan oleh situs Kanada Found in Translation menemukan bahwa informasi yang diposting di saluran WeChat resmi Universitas Keamanan Publik Rakyat Tiongkok pada Desember 2017 mengungkapkan bahwa Chen Zhichen telah menerima pelatihan polisi di Justice Institute of British Columbia.

Universitas Keamanan Publik dikendalikan langsung oleh Kementerian Keamanan Publik Tiongkok. Chen Zhichen telah menjadi mahasiswa  sejak  2015.

Kolaborasi antara Akademi Kanada dan rezim otoriter memicu kontroversi. Para kritikus mengatakan bahwa Tiongkok mungkin menggunakannya untuk mempromosikan pengaruh asing dan menekan hak asasi manusia, dan  negara-negara Barat harus sadar akan sifat Partai Komunis Tiongkok.

Sheng Xue, pemimpin redaksi majalah “China Spring”: “Partai Komunis Tiongkok, apakah itu militer, angkatan bersenjata, atau polisi, itu sendiri adalah sebuah institusi dan alat untuk menindas rakyat. Sebagai negara demokratis, hal ini membantu Partai Komunis Tiongkok untuk melakukan pelatihan semacam ini, dan membantu Partai Komunis Tiongkok untuk menindas rakyat.

Komentator urusan terkini Kanada, Feng Zhiqiang: “Tidak ada cara bagi orang Barat untuk memahami rezim partai Komunis Tiongkok yang jahat, yang telah tumbuh lebih besar dengan mengabaikan niat baik dunia Barat.

Baru-baru ini, seruan untuk Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA) telah mendapatkan momentum di Kanada. (hui)

Tumbuhan Bisa “Bernyanyi”? Peneliti Menemukan Tanaman dapat Membuat Kebisingan dengan Frekuensi Tinggi

The Epoch Times

Hans Halbig selalu bernyanyi untuk tanaman tomat di rumah kacanya. Tetangga saya berusia 85 tahun itu memiliki firasat bahwa bernyanyi dapat membantu tanaman tomatnya tumbuh. Apa yang mungkin tidak diketahui Hans adalah bahwa tanamannya mungkin juga mengeluarkan suara untuknya. 

Bukti  menunjukkan   prospek   sebelumnya bahwa nyanyian manusia melepaskan CO2 yang dibutuhkan tanaman sembari memancarkan getaran yang merangsang pertumbuhan tanaman. Tetapi penelitian baru sekarang menjamin bahwa tanaman dapat mengeluarkan suara, dan suara itu membawa informasi tentang kondisi tanaman.

Pandangan Hans ternyata tidak terlalu jauh dari kenyataan.

Baru-baru ini, untuk pertama kalinya, para ilmuwan di Universitas Tel Aviv telah merekam dan menganalisis suara-suara khas yang dibuat oleh berbagai spesies tanaman— termasuk tanaman tomat—dan mengungkapkan bahwa suara-suara tersebut sesuai dengan tingkat stres subjek.

Tumbuhan terekam membuat “klik” bernada tinggi, yang terdengar seperti pop- corn meletus, dan meskipun volume suara itu hampir sama dengan ucapan manusia, frekuensinya terlalu tinggi untuk didengar telinga manusia.

“Dari penelitian sebelumnya kita mengetahui bahwa vibrometer yang dipasang pada tumbuhan merekam getaran, tetapi apakah getaran ini juga menjadi gelombang suara di udara—suara yang dapat direkam dari jarak jauh?” tanya Profesor Lilach Hadany dari School of Plant Sciences and Food Security.

Tomat tumbuh di rumah kaca (Valery Rybakow/Shutterstock); (Inset) (L-R) Peneliti Universitas Tel Aviv Profesor Yossi Yovel dan Profesor Lilach Hadany. (Sumber dari Universitas Tel Aviv)

“Studi kami menjawab pertanyaan ini, yang telah diperdebatkan oleh para peneliti selama bertahun-tahun.”

Tim peneliti yang dipimpin oleh Hadany menerbitkan makalah mereka di jurnal Cell. Para  peneliti  menulis: “Kami menemukan bahwa tanaman biasanya mengeluarkan suara ketika sedang stres, dan bahwa setiap tanaman dan setiap jenis stres dikaitkan dengan suara yang dapat diidentifikasi secara spesifik. Meskipun tidak terdengar oleh telinga manusia, suara yang dipancarkan tanaman mungkin dapat didengar oleh berbagai hewan, seperti kelelawar, tikus, dan serangga.”

Tahap pertama penelitian melibatkan tanaman yang ditempatkan di kotak akustik di ruang bawah tanah yang tenang tanpa kebisingan latar belakang. Berfokus terutama pada tanaman tomat dan tembakau, mereka memasang mikrofon ultrasound sekitar 10 sentimeter dari masing-masing tanaman dan merekam suara pada frekuensi berkisar antara 20-250 kilohertz—frekuensi tertinggi yang dapat dideteksi oleh telinga manusia adalah 16 kilohertz. Gandum, kaktus jagung, dan bit juga diuji.

Tanaman mengalami perlakuan yang berbeda: Beberapa dari mereka tidak disiram dalam lima hari; batang yang lain telah dipotong; sementara kelompok ketiga tetap tidak tersentuh. Eksperimen akan menguji apakah mereka mengeluarkan suara dan apakah suara itu dipengaruhi oleh perlakuan mereka. 

“Rekaman kami menunjukkan bahwa tumbuhan dalam percobaan kami mengeluarkan suara pada frekuensi 40-80 kilohertz,” tulis para penulis. 

Peneliti Universitas Tel Aviv memeriksa data suara yang direkam dari tanaman. (Sumber dari Universitas Tel Aviv)

“Tanaman tanpa tekanan rata-rata mengeluarkan kurang dari satu suara per jam, sementara tanaman yang stres, baik yang mengalami dehidrasi maupun cedera, memancarkan lusinan suara setiap jam.”

Rekaman yang dikumpulkan dianalisis oleh algoritma AI pembelajaran mesin yang dikembangkan secara khusus, yang berhasil membedakan antara berbagai tanaman dan jenis serta tingkat stres yang mereka alami.

Tanaman kemudian dipindahkan ke rumah kaca yang memiliki banyak kebisingan latar belakang, namun algoritme mampu membedakan suara dengan akurasi 81 persen. Tanaman mengalami proses  dehidrasi    sementara suaranya dipantau. Eksperimen menentukan bahwa jumlah suara meningkat ketika tingkat stres tanaman meningkat tetapi berkurang setelah mencapai puncaknya.

“Penemuan ini dapat dimanfaatkan untuk  memantau  tanaman terhadap kelembaban  dan  penyakit,”  tulis para  peneliti.  

Ini  berpotensi   menghemat   “hingga 50 persen dari pengeluaran air dan  meningkatkan  hasil”.  Studi lebih lanjut dapat menanyakan: Mekanisme apa yang ada di balik suara tersebut dan apakah tumbuhan lain dapat mendengarnya juga.

“Temuan kami menunjukkan bahwa dunia di sekitar kita penuh dengan suara tumbuhan, dan suara ini mengandung informasi—misalnya tentang kelangkaan air atau cedera,” kata Hadany. 

“Kami berasumsi bahwa di alam, suara yang dipancarkan tanaman terdeteksi oleh makhluk di dekatnya, seperti kelelawar, hewan pengerat, berbagai serangga, dan mungkin juga tanaman lain—yang dapat mendengar frekuensi tinggi dan memperoleh informasi yang relevan. Kami percaya bahwa manusia juga dapat memanfaatkan informasi ini, dengan alat yang tepat—seperti sensor yang memberi tahu petani saat tanaman perlu disiram. Rupanya, ladang bunga yang indah bisa menjadi tempat yang agak bising. Hanya saja kita tidak bisa mendengar suaranya.”

Tukang kebun tetangga saya, Hans mungkin akan senang mendengarnya. (osc)

Apa yang Diinginkan Elon Musk? Hentikan AI tapi Justru Kembangkan Sendiri

Econ Vision

Baru-baru ini, berita tentang Musk kembali mencuat ke puncak pencarian tertinggi, alasannya, seperti diketahui pada 29 Maret lalu Musk sempat menggalang ribuan petisi untuk menandatangani surat terbuka, dan menghimbau khalayak ramai agar menghentikan pengembangan AI, dengan mengatakan bahwa AI dapat membahayakan umat manusia.

Namun, menurut catatan bisnis di negara bagian Nevada, AS, sudah sejak 9 Maret lalu Musk telah mendirikan perusahaan yang diberi nama X.AI. itulah sebabnya lantas ada sejumlah komentar meragukan bahwa Musk betul-betul bermuka dua, di mulut mengatakan menghentikan pengembangan AI, tetapi ia sendiri diam-diam telah ikut ambil bagian dalam Perang AI.

Ada yang mengatakan, karena melihat ChatGPT begitu top, maka itu Musk hendak menyainginya, lalu, apakah Musk benar-benar gemas dan begitu menginginkan sebagian porsi dari bisnis ini? Atau di balik muka duanya itu, terdapat idealisme Musk yang lebih besar? 

Menurut berita di beberapa media massa, Musk adalah satu-satunya direktur di perusahaan tersebut, sekretaris perusahaan adalah mantan banker Morgan Stanley yang mengatur kekayaan Musk yakni Jared Birchall. Perusahaan swasta ini telah menjual 100 juta lembar sahamnya, tentu saja saham tersebut tidak diperjual-belikan di bursa efek, melainkan berupa investasi individu pribadi.

Di samping itu, ada juga berita yang menyebutkan, dalam beberapa bulan terakhir Musk terus merekrut programmer AI, hingga Maret lalu, sudah ada dua programmer dari divisi AI DeepMind di bawah naungan Google yang direkrutnya, juga telah dibeli sekitar 10.000 unit GPU, yakni prosesor grafis, yang mutlak harus ada dalam komputasi AI.

Sebelumnya, Musk telah berulang kali mengatakan betapa berbahayanya AI, apalagi setelah melihat ChatGPT go public, ia bahkan mendeskripsikan “ChatGPT begitu mengerikan, tak lama lagi umat manusia akan mengalami AI yang begitu kuat hingga mencapai taraf membahayakan”, setelah melontarkan kecemasan itu, menyusul pada akhir Maret lalu ia menggalang lebih dari 1.300 pemimpin teknologi berikut para penelitinya, dan menulis sebuah surat terbuka, berharap agar semua laboratorium AI menghentikan sementara pengembangan canggih yang sedang dilakukan, alasannya adalah, perlengkapan AI mungkin “akan menimbulkan bahaya yang sangat mendalam bagi masyarakat dan umat manusia”.

Musk juga mengatakan di Twitter, “OpenAI telah berpacu ke arah yang berlawanan dengan niat awal ketika didirikan bersama saya.” Namun semua orang mengetahui bahwa Musk sendiri juga merupakan salah seorang pendiri OpenAI, jadi apa yang diperlihatkan Musk dari awal sampai akhir, setidaknya bila dilihat dari permukaan, adalah hal yang sangat bertolak belakang, serta hal ini sangat membingungkan, apakah Musk benar-benar orang yang “bermuka dua”? Yang dilakukan berbeda dengan yang dikatakannya? Setelah menyuruh orang lain untuk mundur, tapi dia sendiri malah hendak maju?

Niat Awal Mendirikan OpenAI

Musk dikenal suka bertindak sekehendak hatinya, jadi kita hanya bisa menebak jalan pikirannya berdasarkan informasi yang beredar di luar. Sebetulnya, apakah niat awal Musk saat mendirikan OpenAI?

Dari informasi yang telah diketahui, sejak awal Musk telah menyadari bahwa AI akan menjadi ancaman terbesar bagi keberadaan umat manusia, ia menilai pada saat Google mengembangkan program AI yang disebut DeepMind itu, tidak memperhatikan faktor keamanan pada AI, jadi pada 2015 bersama dengan Altman didirikanlah OpenAI, tujuannya adalah menciptakan sebuah “organisasi nirlaba yang mengembangkan teknologi AI dengan cara yang paling memungkinkan untuk mensejahterakan umat manusia”.

Akan tetapi, 3 tahun kemudian yakni pada 2018, Musk meninggalkan OpenAI, dengan alasan mobil Tesla juga sedang mengembangkan teknologi AI, ia mengkhawatirkan akan timbul konflik kepentingan dengan OpenAI. Pada 2019, OpenAI mengumumkan didirikannya anak perusahaan bernama OpenAI LP yang bertujuan mencari keuntungan, menyusul kemudian Microsoft pun berinvestasi pada OpenAI.

Musk mengatakan, pada awalnya OpenAI adalah sebuah organisasi nirlaba sumber terbuka (open source, red.), tapi sekarang OpenAI telah menjadi pengkodean sumber tertutup, dan bertujuan mencari keuntungan, sudah sangat bertolak belakang dengan niat awalnya mendirikan OpenAI. Bila demikian halnya, pada awal ketika mendirikan OpenAI, seperti yang dikatakannya, Musk khawatir AI menjadi terlalu besar dan kuat, sehingga menjadi ancaman bagi umat manusia, oleh sebab itu ia hendak memahami AI, dan memikirkan cara untuk dapat mengendalikan AI.

Seperti diketahui, pada November tahun lalu telah diluncurkan ChatGPT 3.5 dan program ini telah memperlihatkan kemampuan penghasil bahasa yang sangat kuat, membuat dunia sangat terkejut karenanya, dan dengan sangat cepat, hanya 4 bulan kemudian, yakni pada Maret lalu, OpenAI kembali meluncurkan ChatGPT 4, versi yang telah di-upgrade ini telah melintasi keterbatasan bidang tunggal dan banyak model, mampu merealisasikan misi multi-moda, membuat efektivitas penghasil AI dapat melintasi bidang, tapi perkembangan yang begitu cepat itu, juga membuat banyak tokoh teknologi merasa khawatir.

Pada 29 Maret, Musk bersama lebih dari 1.300 orang eksekutif dan peneliti, di antaranya termasuk pakar top di bidang AI sekaligus peraih penghargaan Turing Award yakni Yoshua Bengio, bersama-sama menandatangani sepucuk surat terbuka, yang menghimbau agar dihentikan sementara penelitian AI, dihentikan sementara AI yang memiliki kemampuan lebih kuat daripada ChatGPT 4, dan menyatakan harus “dihentikan setidaknya 6 bulan”.

Dalam surat terbuka ini dikatakan: “Selama beberapa bulan terakhir ini, laboratorium AI telah terjerumus ke dalam suatu kompetisi yang telah kehilangan kendali, dalam mengembangkan dan menempatkan pemikiran digital yang semakin besar dan kuat, tidak seorang pun — bahkan orang yang menciptakan AI itu sendiri — dapat memahami, memprediksi atau bisa diandalkan untuk mengendalikannya.”

Dan kekhawatiran mereka, bukannya tidak beralasan, kita semua sudah melihat, baru-baru ini telah muncul serangkaian peristiwa foto palsu dan berita palsu.

Lelucon AI Menghasilkan Foto Palsu

Orang sering mengatakan “foto tidak berbohong” (pictures don’t lie, red.), tetapi sekarang hal itu belum tentu benar, karena banyak foto yang membuktikan suatu fakta itu sendiri adalah kebohongan.

Bulan lalu, begitu muncul berita tentang mantan Presiden Trump digugat, di internet telah beredar banyak foto Trump ditangkap oleh polisi New York, seperti foto yang memperlihatkan Trump sedang berlari terengah-engah di depan, sementara polisi mengejarnya dari belakang, ada juga foto Trump sedang dikeroyok oleh polisi New York, ditangkap dan lain sebagainya.

Namun faktanya, foto-foto itu adalah palsu, yang ternyata dihasilkan dengan cara diedit dengan menggunakan teknologi AI. Foto-foto tersebut adalah ulah seorang wartawan independen Inggris. Wartawan iseng itu mengatakan, ketika ia mendapat informasi bahwa Trump kemungkinan akan ditangkap, digunakannya alat gambar AI dengan memasukkan sejumlah kata kunci, dengan konten “Trump terjerembab saat ditangkap, tampilan laporan berita”. Lalu, foto-foto yang dihasilkan secara imajinasi itu disebarkannya lewat media sosial. 

Hanya dalam tempo dua hari, konten tersebut telah dilihat lebih dari 5 juta kali, dan banyak orang tertipu olehnya. Para pengguna saat meneruskannya, bahkan menambahkan sendiri kata-kata seperti “Breaking News: Trump Ditangkap di Manhattan”, “Heboh! Trump Ditangkap dan Ditahan di Penjara Federal”, dan lain sebagainya.

Ini adalah suatu peristiwa manipulasi AI yang sangat tipikal, juga sangat membuka wawasan banyak orang, selain menjadi lebih memahami “teknik ilusi” AI, semua orang juga melihatnya, di media sosial berbahasa Mandarin juga ramai dibahas, karena baru-baru ini bermunculan banyak sekali foto era 1980-an dan 1990-an hasil editan AI, dalam foto-foto itu, ada sekumpulan orang berkerumun melihat Iron Man, atau ada juga foto beberapa warga desa yang dengan santai dan ceria merangkul mahluk alien dan berfoto bersama, apalagi setiap detil pada gambar terlihat begitu nyata, membuat banyak orang yang tertipu setelah melihatnya, merasa malu akan ketidak-tahuan dirinya. Ini juga membuat banyak orang merasa khawatir, di masa mendatang apakah masih ada sejarah yang “nyata”, karena terlalu mudah bagi AI untuk mengubah apapun yang telah ada. Terutama atas sejumlah berita palsu, mungkin akan terkena pengaruh kekuasaan politik, memengaruhi pemahaman masyarakat secara diam-diam tanpa disadari, bahkan mendistorsi pandangan moral manusia.

Sejak dulu rumor atau isu selalu ada, tetapi sekarang merekayasa sebuah rumor yang menyerupai kenyataan telah menjadi begitu mudahnya, cukup beberapa kata di komputer, mengetuk beberapa tombol, maka sudah dapat dibuatkan foto, suara, dan film, yang cukup untuk mengacaukan keadaan, kemiripannya dan kemampuannya mengacaukan pemahaman masyarakat telah mencapai tahapan yang belum pernah ada sebelumnya.

Sedangkan untuk mengidentifikasi kebenaran atau kepalsuan dari konten tersebut, sejumlah tim ilmuwan, juga telah mulai mengembangkan teknologi yang dapat mendeteksi informasi yang dihasilkan dengan rekayasa AI, atau dengan kata lain, mengendalikan AI dengan AI.

Sebagai contoh, untuk mengetahui apakah seorang siswa menggunakan ChatGPT dalam mengerjakan tugas atau menulis tesisnya, ada beberapa perangkat yang dapat melakukannya, misalnya OpenAI Text Classifier, OpenAI GPT-2 Output Detector Deo, ada pula DetectGPT yang dirancang oleh Stanford University. Akan tetapi, perangkat-perangkat tersebut saat ini masih belum begitu akurat, lagi pula kecepatan pengembangan peranti lunak tersebut sama sekali tidak mampu mengejar kecepatan perkembangan AI.

Seorang peneliti dari The Carnegie Council for Ethics in International Affairs yakni Arthur Holland Michel telah mengemukakan, dari sudut pandang kebijakan, dia sendiri tidak bisa memastikan apakah masyarakat di berbagai lapisan telah siap menghadapi informasi palsu semacam ini, yang dirasakannya adalah, harus secara tuntas menghentikan kondisi semacam ini, juga dibutuhkan terobosan teknologi yang tidak terbayangkan hingga saat ini.

Ia khawatir, rekayasa seperti ini mungkin akan berkembang hingga ke orang biasa, misalnya, membuat foto palsu yang dapat merugikan mantan rekan kerja atau kolega, kondisi seperti ini bagaimana bisa dikendalikan?

Tujuan Didirikannya X.AI

Kembali ke Musk, Musk pernah beberapa kali menyinggung soal AI, pada World Government Summit 2023 ia mengatakan, ChatGPT telah membuktikan AI telah meraih perkembangan yang sulit dipercaya, tetapi ini telah menjadi suatu peristiwa yang seharusnya dikhawatirkan oleh manusia. Ia menegaskan, AI adalah salah satu risiko terbesar yang mengancam peradaban manusia di masa mendatang.

Musk berpendapat, masyarakat membutuhkan pengawasan tingkat keamanan AI, segala teknologi yang terpikirkan oleh kita ada kemungkinan akan mengancam umat manusia, seperti pesawat, mobil atau obat-obatan, dewasa ini sudah ada lembaga pengawas yang memantau tingkat keamanannya terhadap publik, ia merasa manusia seharusnya juga melakukan pengawasan serupa terhadap AI. Ia beranggapan bahaya yang ditimbulkan AI jauh melampaui mobil, pesawat, atau obat-obatan. Musk berkata, walaupun melakukan hal ini dapat sedikit memperlambat perkembangan AI, tetapi ini adalah sesuatu yang baik.

Kita bisa melihat, setiap pernyataan dan tindakan Musk, yang sejak awal hingga akhir selalu sejalan, dengan kata lain pada saat memahami manfaat AI terhadap manusia, sekaligus juga mencemaskan bencana yang akan ditimbulkan AI terhadap umat manusia, jadi Musk mendirikan perusahaan X.AI ini mungkin dikarenakan adanya dua tujuan:

Yang pertama adalah mengembangkan AI, untuk berkompetisi dengan OpenAI, serta tidak membiarkan OpenAI membesar seorang diri, dan memonopoli pasar. Tujuan kedua adalah, juga point yang paling penting, adalah lewat panduan dan pengendalian yang aktif, memastikan teknologi AI dapat mendatangkan manfaat terbesar bagi umat manusia, di saat yang sama juga secara optimal meminimalisir risiko dan bahayanya.

Mitos Terhadap “X”

Perlu diketahui, perusahaan yang didirikan oleh Musk ini adalah X.AI, lagi-lagi ada huruf X, sepertinya Musk sangat menggandrungi huruf X ini. Bisa dilihat, belum lama ini Twitter Inc. telah berganti nama menjadi X Corp. dan induk perusahaan dari X Corp adalah X Holdings Corp. Selain itu Musk juga memiliki perusahaan lain bernama X.com, yaitu bank online yang didirikan oleh Musk pada 1999, dan pada 2000 merger dengan kompetitor Confinity dan berubah nama menjadi PayPal, lalu pada 2002 setelah eBay membeli PayPal, Musk menjadi tidak ada hubungan lagi dengan PayPal. Akan tetapi pada 2017, ia membeli kembali nama domain “X.com” dari PayPal. Dan, perusahaan teknologi dirgantara milik Musk adalah SpaceX, salah satu varian Tesla adalah Model X, dan lain-lain, sepertinya ia selalu membawa ikatan emosionalnya terhadap huruf “X”.

X pada dasarnya memiliki beberapa makna antara lain “masa depan, misteri, mengasyikkan, penuh petualangan, sesuatu yang baru” dan lain sebagainya, dan ketika Musk menjadikan X sebagai huruf yang mewakili dirinya, huruf X ini sendiri sepertinya telah disematkan dengan keunikan karakter Musk yang tiada duanya itu. Dengan semangat eksplorasi dan kesadarannya terhadap urgensi, dalam jalur perkembangan teknologi AI yang dijelajahi oleh umat manusia, lagi-lagi kemungkinan ia dapat mendatangkan masa kejayaan tertentu bagi dunia kita ini.

Peringatan 24 Tahun Permohonan Damai “25 April” Digelar di Seluruh Kanada

NTD Kanada

Pada  25 April 2023, para praktisi Falun Gong atau Falun dafa di seluruh Kanada secara berturut-turut mengadakan rapat umum dan pawai untuk memperingati 24 tahun seruan permohonan Damai 25 April 1999 di Beijing. 

Susan, juru bicara Himpunan Falun Dafa di Vancouver, Kanada berkata : “Kami memperingati keberanian dan martabat para praktisi Falun Gong di Tiongkok, yang terus secara aktif dan damai mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan nyawa orang lain.”

Sun Wenli, yang menyaksikan petisi “25 April” berkata: “Kami semua merasakan hal yang sama pada saat itu, mereka mengungkapkan latihan ini sangat bagus, jadi kami sangat ingin mengekspresikan hati kami. (Kami semua berdiri dengan tenang di pinggir lapangan, dan kami sangat menyadari).”

Yue Zhongsheng, seorang praktisi Falun Gong di Vancouver, Kanada berkata: “Ini adalah sejenis kebaikan, kekuatan damai, kekuatan yang bermanfaat dan tidak berbahaya bagi seluruh dunia.”

Li Zhili, seorang praktisi Falun Gong di Montreal, Kanada: “Dampak dari perilaku ini sangat bersejarah.”

Yue Zhongsheng: “Hari ini saya harus datang ke Konsulat Tiongkok untuk memperingati 25 April dan menyatakan protes keras saya terhadap penganiayaan PKT terhadap Falun Gong. Pada 3 April, praktisi Falun Gong lainnya dianiaya hingga meninggal dunia.”

Selama 24 tahun terakhir, semangat anti-penganiayaan yang damai dan rasional dari Falun Gong telah membangkitkan hati nurani lebih banyak orang.

Zhu Chuanhe, seorang warga Tionghoa di Kanada berkata : “Mereka menggunakan nyawa dan darah mereka untuk mempertahankan kelanjutan peradaban Tiongkok, dan semangat “Sejati, Baik, dan Sabar” adalah satu-satunya harapan bagi kelanjutan bangsa Tiongkok.”

Zhen orang Hong Kong yang tinggal di Kanada berkata : Saya berharap gagasan Falun Gong tentang “Sejati, Baik, dan Sabar” akan menyadarkan semua manusia.

Li Zhili: “Latihan dan tindakan para praktisi Falun Gong akan menjadi contoh bagi orang-orang di masa depan tentang bagaimana menghadapi kejahatan dengan kebaikan.

Lebih banyak orang telah bergabung dalam mendukung aksi anti-penganiayaan Falun Gong, dan mereka berharap semangat “Sejati, Baik, Sabar” akan tersebar ke seluruh dunia.

Susan: “Kami juga meminta pemerintah Kanada untuk meminta PKT menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong.”

Zhu Chuanhe: “Saya harap Dafa dapat menyebar luas dan menyebar ke hati setiap orang, sehingga bangsa Tionghoa kita dapat bangkit kembali, dan bangsa Tionghoa dapat menjadi besar kembali.”

Trung Hieu, seorang praktisi Falun Gong Vietnam: “Biarkan semua orang tahu bahwa Falun Dafa indah, dan semakin banyak orang bisa berlatih.”

Falun Gong, juga disebut Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual Tiongkok yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral berdasarkan prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini pertama kali diajarkan di depan umum oleh Master Li Hongzhi di Tiongkok pada tahun 1992.

Pada tahun 1990-an, jumlah praktisi Falun Gong di Tiongkok tumbuh dengan cepat karena manfaatnya bagi kesehatan. Namun, pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mulai menganiaya para praktisi Falun Gong karena keyakinan mereka.

Pada awal tahun 1999, polisi PKT di kota Tianjin menangkap 45 orang praktisi Falun Gong yang memprotes sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah majalah yang memfitnah Falun Gong secara tidak adil.

Para praktisi mencoba menjelaskan masalah ini kepada pihak berwenang, dan polisi mengarahkan mereka ke kantor yang berbeda hingga berakhir di kantor pemerintah Zhongnanhai Beijing pada 25 April 1999. 

Para praktisi memohon tiga hal: lingkungan yang bebas untuk mempraktekkan keyakinan mereka, pembebasan 45 praktisi yang ditahan di kota Tianjin pada saat itu, dan agar semua buku Falun Gong menjadi legal di Tiongkok.

Pada saat itu, diperkirakan 70 hingga 100 juta orang di Tiongkok berlatih Falun Gong. Sekitar 10.000 praktisi Falun Gong dari seluruh daratan Tiongkok berkumpul di luar Zhongnanhai untuk mengajukan banding.

Media di seluruh dunia memuji mereka atas perilaku berani dan kedamaian mereka. Peristiwa tersebut telah diperingati setiap tahun sejak saat itu oleh para praktisi Falun Gong di luar negeri.

Rongji Zhu, yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri, berbicara dengan beberapa perwakilan yang dipilih dari para pengunjuk rasa dan mencapai kesepakatan damai, dan 10.000 praktisi dibubarkan. Namun, pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, kemudian memulai penganiayaan ilegal untuk mencoba membasmi Falun Gong.

Penganiayaan telah berlangsung sejak saat itu. Para praktisi di seluruh Tiongkok telah dipenjara, dilecehkan, dan dibunuh karena keyakinan mereka. (hui)

Dunia Hitam Memangsa “Selebriti” Abby Choi

0

Current Affairs People

Cai Tianfeng (Pin Yin 蔡天鳳. Bahasa Kanton/Hongkong: Abby Choi Tin-fung), seorang “selebriti Hong Kong” dengan asal-usul misterius, datangnya tidak lumrah serta berpulang dengan mengenaskan dan meninggalkan sebuah kasus mutilasi yang menghebohkan. Dia ibaratnya sebuah mimpi, mimpi indah dari seekor burung pipit berubah menjadi burung Hong (phoenix), pada akhirnya ternyata adalah mimpi buruk burung gagak (Dunia Hitam) yang memangsa burung phoenix.

Meskipun polisi Hong Kong dengan cepat membongkar kasus tersebut, dan banyak tersangka yang ditangkap. Namun, kasus ganjil nan tidak normal ini menjadi semakin membingungkan dan penuh keanehan karena seiring dengan jumlah pengungkapan dari berbagai sisi itu memang semakin meningkat, tetapi juga semakin meragukan. Kasus Abby dimutilasi bagaikan sebuah drama ketegangan thriller, yang tidak hanya populer di media berbahasa Tionghoa, bahkan bintang Hollywood pun menaruh perhatian.

Ketika sesuatu keanehan terjadi, pasti ada siluman dibaliknya, keluarga mantan suami Abby, yang bernama Alex Kwong Kong-chi (鄺港智), seperti segerombolan burung “gagak hitam” yang melahapnya. Tetapi meskipun telah menangkap beberapa “gagak” yang membunuhnya, orang-orang masih saja tidak percaya bahwa kasusnya begitu cepat berakhir, dan merasakan masih ada lebih banyak kabut hitam di balik kasus tersebut.

Keluarga Alex mungkin hanya beberapa hantu kecil yang dibiarkan menampakkan diri di depan umum, siluman yang lebih besar dan lebih ganas masih bersembunyi di “sarang penyamun”. Kasus Abby Choi sejak awal hingga akhir adalah siluman ini yang berulah dan menyelimutinya dengan tabir hitam yang pekat.

Kotak Sihir Hitam: Seorang Gadis Miskin Berubah Menjadi “Sosialita terkenal”

Abby Choi ditinggalkan oleh orang tuanya sejak masih kecil dan tinggal bersama kakek neneknya di To Kwa Wan, latar belakangnya tidak sebaik warga pada umumnya. Baru saja menginjak dewasa pada usia 18 tahun, dia sudah hamil sebelum menikah dan kawin dengan Alex, seorang pengangguran.

Ibu Abby bernama Cheung Yin-fa (Mandarin/Pin Yin: 張燕花Zhang Yanhua), umumnya dikenal sebagai “Kakak Kelima”, bercerai setelah melahirkan Abby Choi karena suaminya kecanduan judi. Ayah tiri Abby adalah Choi Co-sang (蔡楚生), yang pernah mengelola restoran efisien, berbisnis dengan grup wisata dari Daratan Tiongkok, dengan harga menu yang cukup murah, dan masih harus memberikan komisi pada para pemandu wisata, jadi ia bukan dari kalangan atas. Setelah ibu Abby menikah lagi, dia melahirkan dua saudara perempuan tiri, dan dua putri kandung ayah tirinya juga bukan “sosialita terkenal”.

Sebelum Abby menikah dengan keluarga Alex Kwong, dia menjalani kehidupan yang sangat miskin, yang sangat berbeda jauh dengan sosok sosialita terkenal yang diberitakan oleh media belakangan ini.

(Kiri) Sosialita Hong Kong Abby Choi, 28, dibunuh. (IG Abby Choi). (Kanan) Pada 24 Februari 2023, penyelidik berada di TKP untuk mengumpulkan bukti. (Big Mak/The Epoch Times)

Apa yang disebut majalah mode Prancis “Fashion L’OFFICIEL” yang mempromosikannya sebagai “ikon gaya (style icon)” sebenarnya adalah produk dari kerja sama hak cipta antara majalah “Fashion” di Daratan Tiongkok dengan grup penerbitan Garou Prancis “L’OFFICIEL”, serta unit yang kompeten adalah China Silk Group, jadi jelasnya ini adalah majalah dalam negeri yang resminya diekspor dengan merek asing namun dipasarkan di dalam negeri, dan hanya diterbitkan di Daratan Tiongkok – Hong Kong – Makau – Taiwan. Tinggi badan Abby Choi hanya 1,55 meter, dengan perawakan tubuh yang kurus kecil, sesungguhnya tidak sesuai menjadi model. 

Seorang gadis miskin tanpa bakat luar biasa atau latar belakang keluarga mentereng, yang berada di lapisan bawah masyarakat, dalam semalam berubah menjadi “sosialita terkenal” yang modis, dan dipenuhi dengan merek tersohor, laiknya mempertontonkan trik sulap yang mengubah status seseorang dalam sekejap. Jelas-jelas ada seseorang yang sengaja mengemasnya untuk memberinya panggung.

Apa yang mengubah Abby Choi dari seorang manusia biasa dalam semalam menjadi “sosialita terkenal nan kaya”? Selain harus mengeluarkan uang untuk membeli “panggung”, juga membutuhkan “trap tangga menuju panggung”, dan hanya dengan menikahi “keluarga kaya yang terpandang” baru dapat menyelesaikan masalah logika ini.

Pada 2016, dengan selebriti Hong Kong Bob Lam Shing Bun sebagai pembawa acara, di malam pernikahan keduanya, Abby dipersunting oleh keluarga kaya dan menikah dengan Chris, putra Tam Chap-kwan, pendiri jaringan restoran Tamjai Yunnan Mixian. Sudah selayaknya dia memulai kehidupan laiknya orang “kaya” sejati, yakni: tinggal di rumah mewah, mengendarai mobil sport, mengenakan perhiasan emas/perak ke tempat-tempat kelas atas, serta sepanggung dengan selebritas politik dan bisnis.

Menjelang bencana itu terjadi, dia sempat memborong seluruh tempat duduk di bioskop saat pemutaran perdana film amal “The Legend of Qiao Feng” yang dibintangi oleh Donnie Yen, dan berfoto bersama Donnie Yen, Direktur Keamanan Hong Kong, Chris Tang Ping-keung dan lainnya di panggung yang sama. Selain itu, dia kerap memposting foto dirinya bersama sejumlah selebritas di media sosial, termasuk istri Aaron Kwok, Moka Fang. Adapun flexing tentang barang-barang mewahnya seperti tas-tas mahal bermerek terkenal, itu adalah kejadian sehari-hari.

Setahun setelah perceraian Abby Choi, keluarga Tam menyelenggarakan pernikahan akbar dan menerima kehadirannya di keluarga tersebut dengan status memiliki dua anak, yang mengherankan adalah pernikahan Abby dengan Chris belum terdaftar dan belum menerima sertifikat dari catatan sipil, aset ekonomi keduanya juga independen dan dikelola secara independen.

Setelah kasus mutilasi terungkap, pernikahan besar-besaran itu seolah menjadi tabir asap dalam pertunjukan sulap yang secara menakjubkan mengubah status seorang manusia biasa menjadi sosialita terkenal.

Sandiwara tabir hitam: “Gadis Bermasalah” tiba-tiba Kaya Mendadak

Seseorang yang mengaku sebagai mantan teman Abby yang bernama “Nyonya Bao” mengaku telah memperoleh otorisasi dari keluarga Tam dan sering diwawancarai oleh media. Namun ” Nyonya Bao” ini bersembunyi sedalam misteri, dan tidak meninggalkan suara atau gambar. Banyak berita dan pengungkapan media berasal dari Nyonya Bao ini, tetapi ketika dia benar-benar dibutuhkan untuk tampil bersaksi, alih-alih tampil ke publik, sebaliknya dia malah menghapus sejumlah foto dan komentar.

Baik “Nyonya Bao” dan ibu Abby, sama-sama mengungkapkan bahwa Abby, Chris dan mantan suaminya Alex Kwong adalah teman sekelas, malah Abby dan Chris belajar di sekolah internasional yang sama ketika dia berusia 10 tahun. Namun, menurut penuturan dari sumber orang dalam, Abby sewaktu menginjak bangku SMP, dia bersekolah di Kowloon Tong School (Seksi Menengah), sedangkan si Alex Kwong bersekolah di SMP Chen Shuqu Memorial Middle School, dua sekolah yang letaknya cukup berjauhan. Abby Choi memiliki reputasi buruk di antara teman-teman sekelasnya, dia memiliki catatan berkelahi dan surat peringatan dari pihak sekolah, dia adalah “gadis bermasalah” yang dihindari semua orang.

Dalam video pernikahan Abby Choi dan Chris yang beredar di Internet, Chris menceritakan bagaimana mereka bertemu dan berkenalan di jalan, sama sekali tidak menyebut pernah sebagai teman sekelas. “Nyonya Bao” dan “kakak kelima” jelas berbohong, dan dengan sengaja merilis berita palsu.

Abby membeli beberapa unit rumah seharga puluhan miliar rupiah, dan untuk satu unit rumah mewah di Bukit Kadoorie seharga 72,3 juta (137 miliar rupiah, kurs per 25/04) di atas-namakan ayah mantan suaminya, Kwong Kau (鄺球), bahkan pembayarannya dilakukan oleh Abby secara tunai sekaligus. Dia memiliki kekayaan bersih pribadi lebih dari HK$100 juta (190 miliar rupiah). Dari mana Abby mendapatkan uangnya? Ada cukup banyak media yang menggoreng dan membawa arah angin, yang menyebutkan bahwa keluarga orang tua Abby Choi sangat kaya, dan hal ini tidak benar.

Apakah itu selama masa hidup atau setelah kematian Abby, orang-orang ini senantiasa bekerja sama untuk mempertahankan dengan mulus citra Abby Choi sebagai “keluarga kaya” dan “selebritis”, yang membuatnya tampak royal dan mewah.

Abby Choi lebih seperti kanopi yang digelar dan ditampilkan oleh keluarga Choi, keluarga Kwong dan keluarga Tam secara bersama-sama, mengenai sosok “gadis bermasalah” di masa lalu bukanlah miliknya, melainkan berupa kisah yang tersembunyi di balik tirai hitam yang tidak boleh diketahui oleh publik.

Pernikahan, pembicaraan dan hubungan yang serba hitam

Hubungan antara keluarga Kwong, Choi dan Tam jauh lebih rumit dari yang dibayangkan kebanyakan orang. Ketika pemakaman Abby Choi, reaksi dari tiga keluarga itu bukannya kesedihan dan kemarahan, malahan seperti telah mengetahui apa yang terjadi dan berpura-pura menunjukkan kepanikan untuk menutupi kebenaran.

Apa tujuan dari kesediaan keluarga Tam, mertua Abby terakhir, merelakan putranya menikahi wanita berstatus kawin dengan dua anak? Pernikahan Abby Choi dengan keluarga Tam menyembunyikan rahasia yang tidak diketahui orang.

Orang tua dari keluarga Tam dapat bergaul akrab dengan orang tua dari keluarga Kwong dan terlihat sering bepergian bersama; kedua suami acap kali berkumpul bersama; pasca perceraian, Abby masih memiliki hubungan dekat dengan keluarga mantan suaminya, tidak hanya membeli rumah mewah seharga lebih dari HKD 70 juta dan diatas namakan ayah mantan suaminya, juga mendaftarkan perusahaan bersama dengan saudara laki-laki mantan suami serta memintanya untuk menjadi sopir pribadi. Setelah Abby dibunuh, Kwong Kau mengaku melakukan percakapan dengan suami Abby saat ini, Chris. Ia berkata, “Jika keluarga Tam mengingkari janji mereka, maka akan berakhir mati bersama.” Sebelumnya, keluarga Kwong telah mengundang tim pengacara ngetop, dan Kwong Kau pernah mengirim pesan ke keluarga Tam, berharap keluarga Tam bisa membantu membayar biaya pengacara, dan kesemuanya ini penuh dengan keanehan.

Media Hong Kong pernah mengungkapkan bahwa mantan suami Abby pernah menggunakan seks untuk menipu uang seorang pria gay. Ada juga desas-desus bahwa mantan dan suami Abby adalah pasangan gay.

Konon, rumah mewah yang dibeli Abby sebenarnya dibeli oleh keluarga Tam yakni mertua Abby dengan harga lebih tinggi dari harga pasar.

Ada orang dalam yang mengungkapkan bahwa ketiga keluarga tersebut sebenarnya berbisnis bank bawah tanah. Alasan mengapa Abby Choi bisa menikah dengan keluarga kaya seperti keluarga Tam tidak hanya untuk melanjutkan garis keturunan keluarga, tetapi yang paling penting adalah untuk dapat mengemasnya sebagai “selebritis”, demi membantu keluarga Tam melakukan pencucian uang dalam jumlah besar. Tanpa adanya keuntungan yang besar, ketiga keluarga ini tidak mungkin berkumpul secara tidak normal. Dua keluarga Tam dan Choi bahkan tidak mendapatkan akte pernikahan, hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan risiko yang tidak terduga di kemudian hari.

Ketiga keluarga tersebut mungkin merupakan mitra yang memainkan peran berbeda dalam bisnis, pada 2020, keluarga Kwong mendirikan dua perusahaan cangkang di Daratan Tiongkok, tetapi modal yang disetor adalah nol, keluarga Kwong mungkin bertanggung jawab untuk menerima orderan dari Tiongkok, sementara itu keluarga Tam bertanggung jawab atas operasi di Hong Kong. Abby Choi adalah anggota penting dari poros operasi bersama tiga keluarga, sedangkan dalang pendanaan di balik layar masih menjadi misteri.

Cahaya kelam mengabaikan ketidaknormalan polisi Hong Kong

Kepolisian Hong Kong pernah dijuluki sebagai “korps terbaik di Asia”, tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini kualitas polisi Hong Kong menurun, ada kecenderungan menjadi bagian dari Departemen Keamanan Publik di daratan. Dalam kasus multilasi mayat Abby ini, perilaku polisi Hong Kong juga sangat tidak normal, dan menunjukkan dua ekstremitas.

Setelah kejadian tersebut, polisi Hong Kong berinisiatif untuk mendeteksi dan menangkap orang yang dicurigai dengan sangat cepat, serta bekerja sama lintas selat dalam menangkap Lam Shun dan Irene Pun Hau-yin juga sangat efisien. Untuk menemukan tubuh dan anggota badan Abby, polisi Hong Kong mengobrak-abrik ribuan ton sampah, dan juga mengirim “hantu air” menyelam ke dasar sungai untuk mencari. Namun hal-hal tersebut hanya berputar-putar di permukaan kasus saja, tidak berani menyentuh dan berpura-pura bisu tuli dalam melacak sumber uang milik dalang hitam di balik layar yang relatif mudah. 

Mantan suami Abby Choi, Alex Kwong Kong-chi dicari pada 2015 karena mengabaikan uang jaminan atas tuduhan penipuan, tetapi anehnya selama pencarian itu ia dapat bepergian dengan bebas bolak-balik antara Tiongkok dan Hong Kong selama delapan tahun terakhir. Dia bahkan berani secara mencolok menghadiri pemutaran perdana film amal yang didanai oleh Abby, berada di panggung yang sama dengan Sekretaris Keamanan Hong Kong Chris Tang Ping-keung dan Komisaris Polisi Hong Kong Raymond Siu Chak-yee.

Ayah Alex yakni Kwong Kau, adalah seorang sersan polisi di Kepolisian Hong Kong bertahun-tahun yang lalu, tetapi ia mengundurkan diri dari kepolisian karena dicurigai terlibat dalam kasus pemerkosaan, kasus kriminal yang begitu buruk tidak dituntut, dan pada akhirnya malah seperti dipetieskan. Sebelum pembunuhan Abby, pihak kepolisian tidak pernah menangkap buronan Alex Kwong, hal ini membuat orang ragu apakah pihak kepolisian terlibat dalam perlindungan gangster.

Uang Haram, Sarang Penyamun dan Siluman Tua Sulit Terdeteksi

Sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sebuah laporan dari Bank Sentral RRT secara terbuka telah mengungkapkan bahwa Hong Kong dan Makau adalah daerah transit utama bagi pejabat korup dari Daratan Tiongkok untuk mencuci uang dan melarikan diri. Dalam 3 tahun terakhir, devisa sejumlah 2 triliun dolar AS (29.872 triliun rupiah) dari daratan Tiongkok telah raib, diantaranya apakah juga terlibat dalam pencucian uang? Masyarakat selalu meyakini bahwa di balik kasus Abby Choi terlibat suatu kelompok pencucian uang besar dari Tiongkok dan Hong Kong. Keluarga Choi, keluarga Kwong dan keluarga Tam kemungkinan besar merupakan suatu bagian dari sindikat tersebut, mereka tengah mencuci uang untuk “pejabat dan oligarki” dari daratan. Abby Choi, seorang “sosialita beken” yang menjadi kedok bagi kelompok pencucian uang, sangat mungkin menjadi korban dari konflik kepentingan antara berbagai pihak pencuci uang tersebut.

Ada berbagai cara dalam pencucian uang, restoran, toko barang mewah, tempat perjudian dan hiburan, transaksi real estat dan lain-lain, semuanya ini sangat mudah menjadi tempat pencucian uang.

Tamjai Yunnan Mixian milik keluarga Tam telah diakuisisi oleh Marugame Seimen Jepang, tapi realitanya telah diakuisisi oleh perusahaan Tiongkok, Marugame Seimen hanyalah papan nama untuk mendukung fasad, faktanya pemegang saham utama sebenarnya adalah Ji Qi, pendiri Hotel Huazhu, yang memegang 63% saham. Ji Qi juga merupakan tokoh penting di bidang permodalan di Tiongkok. Setelah keluarga Tam menjual sahamnya, konon mereka mengubah bisnisnya menjadi bank lokal independen.

Lam Shun, tersangka yang terlibat dalam kasus tersebut, adalah mantan asisten artis Hong Kong Ronald Cheng Chung-kei. Lam Shun mengklaim bahwa “Direktur medali emas” Hong Kong Paco Wong Pak Ko adalah “mentornya”, dan Paco Wong adalah mantan direktur utama Yeah Yeah Group (sebelum 2022 bernama: Sun Entertainment Culture Limited) di Hong Kong. Bos besar Sun Entertainment Culture Limited adalah Alvin Chau Cheok-wa (Pin yin: Zhou Zhuohua), dijuluki “Hua si Pencuci Beras”, yang telah dijatuhi hukuman 18 tahun penjara oleh RRT. Alvin didakwa dengan 289 tuduhan dengan tuduhan utama: pencucian uang. Alvin adalah “sarung tangan putih (boneka; seseorang atau organisasi yang secara diam-diam dikendalikan oleh orang lain)” dari Zeng Qinghong, tokoh faksi Jiang Zemin.

Irene, tersangka ketujuh yang ditangkap, adalah pacar Alex Kwong. Setelah kejadian itu, dia dicurigai mengenalkan penanggung jawab perusahaan kapal pesiar kepada Kwong dalam upaya untuk membantu Kwong melarikan diri. Ayah Irene, Pan Luanbin, adalah gangster “Raja Pistol Ganda” di Hong Kong tempo dulu, dan dia juga mencuci uang untuk orang lain.

Seperti kata pepatah, semua gagak (gangster) di dunia adalah hitam, Alex Kwong dibelit kasus masih dapat melakukan perjalanan antara Tiongkok dan Hong Kong tanpa hambatan ; Abby Choi dapat memiliki begitu banyak uang untuk membeli properti, memberi sponsor, serta membeli barang mewah super mahal; Abby Choi dapat mengatur media menggerakkan trend demi mendukung pengemasannya, selebritas politik dan bisnis memberinya ruang platform, serta di balik hal-hal ini ada “orang besar” yang bekerja di belakang layar dan menskenario. Sumber yang layak dipercaya menyebutkan bahwa banyak media telah menerima perintah dari atasan untuk tidak menggali lebih jauh dalam melaporkan kasus Abby Choi.

Kemungkinan pencucian uang telah menyentuh kepentingan mendasar dari banyak tokoh besar. Tidak masalah jika hanya menangkap beberapa keroco saja, tetapi sarang penyamun tidak boleh diekspos, apalagi dedengkot siluman tua lebih-lebih tak boleh menampakkan diri. Ada alasan untuk percaya bahwa kasus Abby Choi melibatkan terlalu banyak kalangan dunia hitam, dan jika sarang penyamun tidak dibasmi, maka kebenaran dari kasus yang diselimuti kegelapan itu sulit untuk menemukan momentum habis gelap terbitlah terang. (lin)

Banyak WN Tiongkok Nekat Melarikan Diri ke AS Karena Hidup di Dalam Negeri Semakin Sulit

 oleh Chen Yue

Belakangan ini semakin banyak penduduk Tiongkok yang ingin melarikan diri dari Tiongkok, terutama setelah merebaknya epidemi COVID-19. Sebagian dari mereka berharap bisa masuk ke Amerika Serikat dengan menempuh jalan setapak melintasi Amerika Selatan menuju perbatasan antara Meksiko dengan AS. Apa alasan yang mendorong mereka tidak segan-segan melewati gunung, hutan dan sungai yang berbahaya demi mencari kehidupan baru di Amerika Serikat ? Mari kita ikuti laporan berikut.

Baru-baru ini, satu kelompok yang terdiri dari ratusan orang warga negara Tiongkok melakukan perjalanan melintasi Amerika Latin dengan berjalan kaki menuju perbatasan antara Meksiko dengan Texas, AS. Mereka berbaris di sepanjang pagar, menunggu giliran untuk diperiksa oleh agen Patroli Perbatasan AS.

Perjalanan yang berat dan panjang ini telah membuat semuanya kelelahan, namun senyuman lega dan harapan yang menghiasi wajah mereka.

Salah seorang warga Tiongkok mengatakan : “Saya merasa lega dan bisa bernafas lebih nyaman, ini jarang terjadi. Orang-orang di sini, polisi di sini, semuanya sangat ramah dan bersahabat. Inilah Amerika yang ada dalam pikiran saya”.

“Saya berangkat dari Provinsi Hubei menuju Hong Kong, lalu terbang dari Hong Kong ke Thailand, setelah itu terbang dari Thailand ke Turki, lalu terbang ke Ekuador, kemudian ke Amerika Serikat melalui Amerika Selatan”.

Sebagian besar dari mereka masuk dari Ekuador, melintasi jalan setapak di hutan antara Kolombia dengan Panama yang akhirnya mencapai perbatasan Meksiko – AS. Meskipun mereka telah melewati segala macam kesulitan dan bahaya, bahkan menghadapi ujian hidup dan mati, mereka tetap tidak menyerah, malahan semakin banyak orang yang bergabung.

Pengacara yang mewakili imigrasi ilegal warga negara Tiongkok mengatakan : “Demi menempuh kehidupan yang lebih baik. Pemerintah komunis Tiongkok menerapkan kebijakan pencegahan epidemi yang ekstrem, semuanya disegel, termasuk rumah, bisnis, dan seluruh negara. Orang tidak bisa dipaksa tinggal dalam rumah untuk terus menatap tembok sepanjang hari. Mereka harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. KPR dan KPM harus dibayar, perut perlu diisi, karena kesempatan itu tidak ada di Tiongkok”.

Menurut analisis pakar, PKT menerapkan blokade selama epidemi, sedangkan untuk memperoleh visa Amerika Serikat sangat sulit, sehingga warga sipil Tiongkok terpaksa mengambil risiko masuk AS melalui jalur setapak, pokoknya bisa melarikan diri secepat mungkin.

Eric Finch, Direktur Strategi Imigrasi “Boundless Immigration” yang berbasis di Kota Seattle mengatakan : “Epidemi di Tiongkok paling serius, meskipun pembatasan di sebagian besar dunia telah dicabut, tetapi pembatasan terhadap perjalanan keluar dan masuk Tiongkok masih diberlakukan.”

Sebagian dari warga negara Tiongkok yang ingin masuk AS ini juga beragama Kristen, mereka mengatakan bahwa mereka datang ke Amerika Serikat untuk menghindari penganiayaan kebebasan berkeyakinan oleh rezim Beijing.

Eric Finch mengatakan : “Tentunya kita semua ingin hidup di dunia yang sempurna. Anda tahu, mengenali mereka sebagai pengungsi dan imigran, lalu melakukannya dengan cara yang aman dan tertib untuk memfasilitasi perjalanan mereka ke Amerika Serikat.”

Menurut data yang ada pada Kementerian Kehakiman AS, bahwa tingkat keberhasilan dari pencari suaka dari Tiongkok di pengadilan imigrasi AS mencapai 58%.

Menurut statistik Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, bahwa dalam enam bulan sejak bulan Oktober 2022, WN Tiongkok yang ditangkap di perbatasan AS – Meksiko telah mencapai rekor tertingginya yakni 6.500 orang. (sin)

Lagi Ngetrend Anti-Perang di Internet Tiongkok : Pokoknya Tidak Saya Maupun Putra Putri Ikut Berperang !

oleh Xue Fei

Meskipun Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus mengintimidasi Taiwan dan berulang kali melakukan latihan militer di sekitar pulau, baru-baru ini banyak netizen Tiongkok memposting uneg-uneg mereka mengenai jika berperang dengan Taiwan. Banyak netizen berpendapat : “Jika negara ingin berperang, Mereka pasti akan menolak untuk ikut, bahkan tidak akan membiarkan putra putri mereka ikut berperang”. Sebaliknya, mereka berharap pemerintah dapat mengirim para pejabat PKT yang umumnya kaya, para pegawai negeri yang masuk kelompok kepentingan ini ke medan perang.

Baru-baru ini, seorang netizen daratan Tiongkok memposting pesan yang berbunyi : “Jika terjadi perang, saya tidak akan ikut, dan saya juga tidak akan membiarkan putra putri saya ikut. Saya adalah warga sipil kalangan bawah, yang di masa damai tidak ada satu pun pihak yang mengingat kita, tetapi pada saat kesulitan justru teringat. Katanya ketika negara dalam kesulitan, semua orang harus ikut bertanggung jawab. Tetapi ketika ada pembagian kesejahteraan dan mendapatkan perlakuan yang nikmat dari negara, mengapa tidak mengingat kita, tidak memperlakukan yang sama ? Biarlah orang lain yang ikut jika mereka mau. Pokoknya, saya tidak dan tidak akan membiarkan anak-anak saya ikut berperang !”

Postingan netizen ini dengan cepat menjadi populer, di-posting ulang dan disukai di banyak portal daratan, dan mendapat simpati dari banyak netizen.

Ada netizen yang mengomentari : “Saya juga tidak mau ikut, warga kalangan bawah tidak berkewajiban untuk berjuang ‘mati-matian’ demi pemodal !”

“Saya tidak bakal ikut, tolong digantikan saja oleh putra putri dari para kader pimpinan negara, mereka itu yang gen merahnya lebih unggul !”

“Putra putri dan istri pejabat tinggi semuanya kabur ke Amerika Serikat, mengapa saya yang harus mempertaruhkan nyawa”.

Ada netizen yang komentarnya menggelitik : Untuk potong ayam saja saya tidak berani, bagaimana harus membunuh orang (musuh) ? Selain itu, saya masih terbebani berat oleh kewajiban membayar angsuran KPM dan KPR, dan belum pernah menikmati pembagian kesejahteraan dari negara. Untuk itu, saya menghimbau agar diadakan decoupling antara modal dengan kepentingan.

Ada juga netizen yang menyarankan : Pakar dan profesor yang “lebih banyak ide” yang ikut berperang. Ada juga yang menyarakan agar para selebritas internet, para pamong praja, pejabat PKT yang korup, warga sipil yang kaya, yang sudah diasuransi jiwanya yang dikirim ke medan perang.

Lebih banyak komentar mengarah ke : “Siapa yang banyak memperoleh manfaat dari negara, dia yang harus berpartisipasi aktif dalam perang”. “Siapa yang bersedia menerima bagian dari kesulitan jika tidak pernah menerima bagian dari kesenangan ?”

Ada juga netizen yang menulis komentarnya dengan mengambil contoh Inggris dan Amerika Serikat : “Misalnya, bangsawan di Inggris yang baik status mau pun moralitasnya lebih tinggi daripada warga sipil. Slogan para bangsawan adalah : ‘Kehormatan di atas segalanya’. Dalam Perang mereka terus bergerak maju tidak takut mati. Oleh karena itu tingkat kematian dan luka perwira bangsawan Inggris lebih tinggi daripada tentara biasa.”

“Lihat saja putra Presiden Amerika Serikat juga menjadi teladan. Presiden Roosevelt memiliki 4 orang putra. Meskipun putranya ada yang menentang pembunuhan dan ada yang gagal memenuhi pemeriksaan medis, tetapi mereka semua secara sadar melamar untuk ikut berjuang di garis depan perang dan semua benar-benar berada di medan pertempuran. Mereka menggunakan tindakan untuk memperoleh pangkat dan kehormatan militer. Bahkan Elliott Roosevelt. putra kedua Presiden Roosevelt yang menerbangkan lebih dari 300 misi tempurnya, dan 2 kali mengalami cedera, akhirnya memperoleh penghargaan dari militer AS berupa Distinguished Flying Cross”.

“Dari sini terlihat bahwa para pemimpin negara asing telah memainkan peran yang patut dicontoh. Mereka tidak hanya bergabung dengan tentara selama perang berkobar, tetapi juga pergi ke garis depan, menyerbu dalam pertempuran, dan bertempur dengan musuh dengan taruhan nyawa”, komentar yang ditulis oleh netizen yang berbeda.

Singkatnya, sangat sedikit para netizen yang menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam perang ! Menanggapi fenomena ini, sebuah artikel self-media Tiongkok coba membedelnya dengan menyebutkan bahwa ada beberapa alasan yang mendukung munculnya fenomena ini.

Pertama. Akibat para petugas pengelola dari dinas pertanian di pedesaan, para pamong praja, bahkan polisi lalu lintas dan pakar yang bertindak sewenang-wenang sehingga meninggalkan kesan negatif di benak masyarakat. Para petugas pengelola dari dinas pertanian di pedesaan baru-baru ini paling tidak telah menyakiti 60% warga negara Tiongkok, atau bahkan lebih. Padahal total populasi Tiongkok menurut otoritas adalah 1,4 miliar, dengan proporsi petani yang 41%. Jadi hampir 500 juta jiwa orang tinggal di daerah pedesaan, dan lebih dari 600 juta ton biji-bijian diproduksi setiap tahunnya.

Kedua. Kesenjangan antara kaya dan miskin semakin melebar. Padahal awalnya sudah ada kesepakatan yaitu mereka yang kaya terlebih dahulu wajib bertindak sebagai motor penggerak bagi rakyat agar bisa mencapai kemakmuran (ucapan Teng Xiaoping). Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, mereka selain tidak memenuhi kewajibannya, malahan menjadi kapitalis jahat yang memeras rakyat. Terlebih lagi, apa yang disebut media arus utama resmi PKT justru menutup mata terhadap hal ini, sebaliknya, mereka sering melontarkan janji-janji bual yang membuat orang merasa jijik.

Ketiga. Sejumlah orang kaya mengalihkan harta kekayaannya ke luar negeri, mereka selain mengkhianati niat aslinya juga hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tidak mau berkontribusi kepada masyarakat, sehingga membuat benci banyak orang.

Keempat. Penyalahgunaan kekuasaan publik. Setelah PKT merebut kekuasaan, pejabat pemerintah menggunakan kekuasaan di tangan mereka untuk menguntungkan kroni mereka, mengakibatkan pengucilan dan penindasan bakat. Misalnya: Zhou Dashao, Li Xianling, “Beijí nianyu”, Sekretaris Li dari Henan, dan lain-lain. 

Nyatanya, sikap di atas itu sudah pernah muncul bertahun-tahun yang lalu saat sebuah jaringan portal terkenal Tiongkok melakukan survei mengenai “Berapa banyak simpanan uang yang ingin Anda sumbangkan ke ibu pertiwi jika meletus perang (dengan AS) ?” Tanpa diduga, jawaban para responden berikut ini malahan mendukung Amerika Serikat.

Beberapa netizen mengaku bersedia menyumbang dana buat Amerika Serikat. Ada yang bersedia menjadi petunjuk jalan bagi militer AS. “Saya bersedia menjadi informan bagi tentara AS”, tulisnya. Beberapa netizen mengungkapkan kerinduan mereka terhadap Amerika Serikat.

Ada pula netizen yang berkomentar : Kami ini bukan payung, yang dibawa keluar saat hari hujan, tetapi dilemparkan ke sudut saat hari cerah. Saat berperang, biarkan orang-orang yang berstatus khusus itu yang diperintahkan ke garis depan pertempuran untuk menyerbu musuh. Biarkan para pegawai negeri yang membayar biayanya ! (sin)

Kemegahan Senjata dan Baju Zirah Sang Ksatria

0

MICHELLE PLASTRIK

Jauh sebelum franchise film “Night at the Museum”, The Metropolitan Museum of Art membuat film “ksatria di museum” Hollywood yang dinamis berjudul “A Visit to the Armor Galleries”. Film tersebut dirilis pada tahun 1924 sebagai bagian dari program untuk membuat koleksi senjata dan baju zirah spektakuler mereka menjadi hidup untuk pendidikan publik. 

Adegan yang mempesona termasuk baju zirah abad pertengahan yang meninggalkan “pelindung kotak kaca”nya untuk menjawab keingintahuan pengunjung, seorang kesatria berbaju zirah lengkap di atas kuda berlari kencang melalui Central Park dengan Kastil Belvedere di latar belakang, dan para kurator mengenakan pakaiannya sendiri mulai dari helm hingga sabaton, untuk sebuah pertarungan pedang dan joust (kontes olahraga abad pertengahan di mana dua lawan menunggang kuda bertarung dengan tombak). Ada catatan tentang aktor Hollywood, Douglas Fairbanks Sr., yang terkenal dengan film bisu petualang, terkesan dengan film tersebut.

Koleksi Ronald Lauder

Pencinta materi petualang saat ini adalah pengusaha, kolektor, dan dermawan Ronald Lauder. Koleksi seni pribadi Ronald yang luas dan beragam dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia, menceritakan dalam sebuah wawancara dengan Artnet News, bahwa dia telah terpesona oleh departemen persenjataan and baju zirah di museum The Met sejak dia masih remaja.

“Saya akan menghabiskan waktu berjam-jam di [museum] Met, membayangkan kisah para ksatria, raja, dan pangeran. Belakangan, saya menyadari bahwa senjata dan baju zirah memiliki keindahan tersendiri, yang mewakili patung terbaik abad ke-15 dan ke-16.”

Sejak itu Ronald telah mengumpulkan koleksi senjata dan baju zirahnya yang luar biasa, dan telah menjanjikan 91 koleksinya kepada museum The Met. Beberapa diantaranya pernah dipajang dalam pameran “Koleksi Ronald S. Lauder”, di Neue Galerie New York, yang ditutup pada 20 Maret 2023 lalu.

Arms and Armor Department at the Metropolitan Museum of Art, New York City. (Diego Grandi/Shutterstock)

Untuk menghormati peringatan 20 tahun museum yang ia dirikan (terletak di bekas rumah besar Vanderbilt di Upper East Side), Ronald memamerkan 500 karya dari koleksinya. Pameran tersebut mencakup benda-benda beragam seperti mahakarya patung Yunani dan Romawi, lukisan tanah emas Italia abad ke-13 dan ke-14, benda-benda untuk Kunstkammer (kabinet keingintahuan), karya seni Austria dan Jerman modern, serta memorabilia dari film favoritnya, “ Casablanca”.

Ronald terkenal dengan manifesto pengumpulannya bahwa ada tiga kategori seni: dari yang mengesankan hingga yang menakjubkan. Dia hanya mengumpulkan dari kategori yang terakhir. Pameran ini memang dipenuhi dengan superlatif dan tablo yang memesona, seperti pajangan senjata dan baju zirah yang dikuratori di ruang berpanel kayu di lantai dua museum. 

Perisai bersejarah digantung seperti lukisan di dinding, segala macam senjata dan helm bersinar dalam pengelompokan yang dinamis secara visual, dan baju zirah penuh hiasan berdiri menarik perhatian.

Keintiman ruangan memberikan kesempatan untuk melihat dengan cermat dan kurasi kreatifnya membantu penonton menghargai bagaimana pembuat baju zirah ini tidak hanya pengrajin yang bagus, tetapi juga seniman yang inovatif. Satu yang menjadi sorotan adalah 1550 Field Armor, kemungkinan dibuat untuk Heinrich V, Duke of Brunswick-Wolfenbüttel, dan dibuat dengan indah. Baju zirah lapangan yang dibuat untuk penggunaan fungsional dan, dalam hal ini, juga memiliki kualitas estetika yang tinggi.

‘Ksatria Terakhir’

Pameran ini membangkitkan ingatan pada pameran tahun 2019–2020 di The Met, “The Last Knight: The Art, Armor, and Ambition of Maximilian I” (Ksatria Terakhir: Seni, Baju Besi, dan Ambisi Maximilian I), di mana Ronald Lauder adalah pemberi pinjaman koleksinya. Seperti yang dijelaskan The Met dalam  ikhtisar  pameran itu, baju zirah Eropa pada abad ke15 dan ke-16 sangat penting, memainkan peran dalam ambisi politik, strategi, dan cita-cita kesatria.

Pameran Met menyatukan senjata dan baju zirah dari istana Kaisar  Maximilian I  (1459–1519) bersama lukisan, patung,  permadani, dan manuskrip.

Peluang untuk melihat contoh fisik baju zirah di samping karya seni yang menampilkan benda-benda ini dapat sangat meningkatkan pengalaman menonton selanjutnya. Sorotan mencolok dari pameran “The Last Knight” adalah lukisan yang merupakan bagian dari koleksi permanen The Met yang berjudul “Saint Maurice”, karya pelukis maestro era Renaisans Jerman, Lucas Cranach the Elder dan bengkelnya. Saint Maurice adalah seorang komandan legiun Romawi, yang berasal dari Afrika Utara dan menjadi martir pada tahun 280 M atau 300 M. Pada abad ke-13 di Jerman, ia mulai digambarkan dalam karya seni sebagai orang kulit hitam.

Dalam lukisan Lucas Cranach, santo Kristen awal digambarkan secara anakronistik mengenakan baju zirah lapangan awal abad ke-16. The Met mencatat bahwa “shading dan artikulasi bentuk baju zirah ditangani secara sensitif” oleh sang seniman. Baju zirah dalam karya seni tersebut, pada kenyataannya, dianggap didasarkan pada yang dikenakan oleh cucu Kaisar Maximilian I, Charles V, ketika ia dimahkotai pada tahun 1520. Pedang yang dipegang Saint Maurice mungkin merupakan pedang seremonial yang dipersembahkan oleh paus kepada Maximilian. Lukisan ini adalah contoh yang menggetarkan hati tentang bagaimana senjata dan baju zirah dapat memainkan peran strategis dalam mengomunikasikan simbolisme sebuah karya seni.

Museum dan kolektor sering membeli senjata dan baju besi dari para dealer swasta. Salah satu kolektor tersebut adalah pemilik galeri Inggris, Peter Finer, yang baru-baru ini memamerkan “The Winter Show” tahunan ke-69, sebuah pameran seni, barang antik, dan desain terkemuka yang diadakan setiap  Januari di New York City. 

Di pameran tersebut, ada baju zirah lapangan “Maximilian” panjang tiga perempat bergalur awal yang luar biasa. Galeri tersebut mencatat bahwa perlindungan kuat Kaisar Maximilian terhadap pembuat senjata memengaruhi desain dan produksi mereka sedemikian rupa sehingga “namanya identik dengan baju besi bergalur di awal abad ke-16” dan berkontribusi pada periode ini sebagai puncak kebangkitan ksatria yang ideal.

Gagasan tentang keberanian ideal ini berlanjut hingga hari ini dengan kolektor seperti Ronald Lauder memajang dan me- nyumbangkan karya seni bersejarah. Seperti yang dikatakan Ronald dalam sebuah wawancara, “Mendukung museum dan institusi budaya telah menjadi fokus utama saya. Saya menganggap diri saya sebagai penjaga sementara dari karya-karya dalam koleksi saya, yang pada akhirnya menjadi milik publik.” (jen)

Michelle Plastrik adalah penasihat seni yang tinggal di New York City. Dia menulis tentang berbagai topik, termasuk sejarah seni, pasar seni, museum, pameran seni, dan pameran khusus

“Little House on the Prairie” Rumah dan Keluarga Belajar dari Keluarga Ingalls

Menjembatani kesenjangan dan mengembalikan tradisi Iman, rumah, dan komunitas yang tak lekang oleh waktu

JEFF MINICK

Pada Maret 1974, “Little House on the Prairie” ditayangkan perdana di televisi jaringan. Berdasarkan buku anak-anak karya Laura Ingalls Wilder, serial dramatis ini ditayangkan selama sembilan tahun, meraih empat Emmy dan 16 nominasi, dan tetap menjadi salah satu acara paling sukses dalam sejarah pertelevisian. Terlepas dari usianya, “Little House” tetap populer di kalangan penonton hingga saat ini.

Sebagian besar daya tarik itu pasti berkaitan dengan akting bagus Michael Landon sebagai Pa Ingalls dan Karen Grassle sebagai Ma, dan dengan Melissa Gilbert, Melissa Sue Anderson, dan Rachel Lindsay Greenbush berperan sebagai putri-putri mereka, Laura, Mary, dan Carrie. Didasarkan pada novel, alur cerita dan dialognya solid, dan sinematografi serta musiknya menarik.

Banyak penonton pasti tertarik juga dengan kebajikan yang digambarkan dalam kisah-kisah ini. Mereka mengalami nostalgia masa lalu yang tidak pernah mereka jalani, masa ketika hidup lebih sederhana, atau setidaknya lebih mendasar, dan jalinan moralitas yang sama mengalir melalui jalinan  budaya.  Mereka tidak perlu ingin kembali ke usia itu, komunikasi yang lambat, tetapi berharap hidup mereka mirip dengan kehidupan Charles dan Caroline Ingalls, ketiga putri mereka, dan beberapa karakter lain di acara ini.

Kisah dimulai

Mengikuti pilot film berdurasi penuh, episode satu dari serial “Little House” menemukan keluarga Ingalls yang baru tiba di tepi Plum Creek dan siap membongkar gerobak tertutup mereka. Charles mendapatkan pekerjaan di pabrik di kota terdekat Walnut Grove dengan imbalan kayu untuk membangun rumah. Karena tidak memiliki bajak dan benih, dia mengambil pekerjaan lain juga dengan Tuan O’Neil yang keras kepala. Setelah tulang rusuknya patah saat piknik keluarga, Charles tidak dapat bekerja, dan O’Neil datang untuk mengambil dua lembu yang dijanjikan Charles jika dia gagal menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa warga kota datang membantu Charles, menyelesaikan pekerjaannya, dan keluarga Ingalls sekarang dapat bebas menanam tanaman mereka.

Dalam satu episode itu adalah contoh dari semua hadiah — keluarga yang erat, komunitas yang mendukung — yang begitu dirindukan banyak orang pada hari ini. Tapi mungkinkah kita bisa belajar dari “Little House” bagaimana menciptakan hal-hal itu dan mewujudkan keinginan kita?

Mari kita naik kereta tertutup kita sendiri, melakukan perjalanan ke masa lalu, dan mencari tahu.

Keluarga

Ketika Charles menyadari bahwa dengan bekerja begitu banyak dia mengabaikan keluarganya dan menjadi kesal dengan anak-anak, dia mengajak Caroline dan gadis-gadis itu piknik. Ketika dia jatuh dari pohon dan tulang rusuknya patah, Caroline menggantikannya membajak ladang sementara gadis-gadis, yang sudah melakukan pekerjaan rumah dan menjaga Carrie kecil, mengerjakan tugas memasak dan rumah tangga.

Inilah  sebuah  keluarga  yang  bekerja bersama,  menyediakan  hiburan  untuk mereka sendiri—mendengar biola Pa, membaca Alkitab, dan mendongeng, serta bergabung saat keadaan menjadi sulit. Dalam satu episode, Charles pada satu titik mengatakan dia seharusnya tidak pernah mengambil Caroline dari keluarganya di Minnesota.

 “Keluarga saya adalah tempat Anda berada,” kata Caroline, menggemakan Ruth dari tulisan suci: “Ke mana Anda pergi, saya akan pergi, dan di mana Anda tinggal, saya akan tinggal.”

Saat  ini,  penekanan  pada  keluarga itu telah hilang. Jajak pendapat Pew Research Center baru-baru ini menunjukkan bahwa sementara sejumlah besar orang tua memprioritaskan pendidikan dan kepuasan karier anak-anak mereka, hanya sekitar 20 persen yang mengajar- kan kepada anak-anak mereka bahwa pernikahan dan keluarga itu penting dalam kehidupan.

Menonton episode ini, kita mungkin bertanya pada diri sendiri: Seberapa pentingkah keluarga dalam hidup saya sendiri?

Jika kita tidak memiliki keluarga di bawah atap kita, maka kita dapat bertanya: Adakah cara agar saya dapat memperbaiki hubungan saya dengan anggota keluarga saya, atau membangun kembali hubungan dengan kerabat yang telah meninggal?

Rumah

Berbaring di tempat tidur di loteng yang dibangun untuk mereka oleh ayah mereka, Laura berkata, “Saya pikir rumah adalah kata yang paling menyenangkan.” Laura benar. Kata rumah memiliki keajaiban di dalamnya, seperti halnya rumah itu sendiri. Bagi banyak dari kita, rumah adalah kotak kenangan, kumpuan harta karun, yang masing-masing mengingatkan kita tentang siapa diri kita dan di mana kita pernah berada. Ada rumah boneka yang dimainkan oleh putri kita ketika mereka di taman kanak-kanak, rak buku yang dibangun oleh ayah kita, meja yang diberikan oleh pasangan kita ketika kita pertama kali menikah.

Di kisah Ingalls tinggal di gubuk tanah, dan di episode pertama, mereka tinggal untuk sementara waktu di sebuah rumah yang digali di sisi bukit. Kedua tempat itu adalah rumah bagi mereka karena mereka membuatnya begitu, dan hal yang sama berlaku untuk kita. Apakah alamat kita adalah apartemen di Chicago atau rumah mewah di Newport, Rhode Island, tempat tinggal kita adalah rumah jika kita mengisinya dengan cinta, benda berharga, dan kenangan.

Teman dan komunitas

Ketika Pa Ingalls dengan tulang rusuknya yang patah terhuyung-huyung bekerja untuk Tuan O’Neil untuk menyelesaikan kontraknya dan mendapatkan kembali lembunya, dia segera ambruk mengangkat karung gandum yang berat. Meskipun dia baru di kota ini, orang- orang menghormatinya sebagai pekerja keras dan jujur, dan beberapa dari mereka segera maju dan menyelesaikan pekerjaan untuknya. Di akhir episode, narator kita, Laura memberi tahu, “Pa berkata dia senang kami datang untuk tinggal di tepi Plum Creek karena di sini dia memanen tanaman yang dia tidak tahu siapa yang tanam: panen teman.”

Bahwa komunitas seperti itu lebih mudah dicapai pada zaman itu, daripada sekarang adalah suatu hal yang sulit. Orang-orang menggosok siku berbelanja di toko yang sama, menghibur diri me- reka sendiri di pesta dansa, menghadiri gereja yang sama, dan saling membantu, jika tidak ada alasan lain selain itu adalah hal yang harus dilakukan untuk tetangga.

Tugas kita lebih sulit. Cara-cara modern kita—mobil, televisi dan komputer, pekerjaan dan jadwal sibuk, dan banyak lagi—menempatkan kita jauh dari kota-kota kecil dan desa-desa pada  1880- an, atau bahkan dari lingkungan di kota-kota besar pada waktu itu. Kita jarang mengenal satu sama lain seperti mereka. Di lingkungan saya sendiri, misalnya meskipun hampir setiap  rumah  memiliki teras depan, kebanyakan orang tetap tinggal di dalam atau duduk di geladak yang menghadap ke halaman belakang mereka. Ketika saya berada di beranda, saya selalu melambaikan tangan kepada orang yang lewat dengan mobil mereka, tetapi saya tidak tahu nama mereka atau apa pun tentang mereka.

Terserah kita

Jika kita menginginkan hal-hal yang kita lihat di “Little House on the Prairie”— keluarga yang erat, rumah yang di ubah menjadi rumah, tetangga dan teman yang kita kenal dan percayai—kita harus bekerja untuk mereka. Jika kita ingin memperkuat keluarga kita, kita mungkin harus berhenti berprestasi di kantor (yang biasanya kita harus menghabiskan waktu bekerja) dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasangan dan anak-anak kita. Jika Caroline Ingalls dapat menyapu lantai tanah dari sebuah rumah tanah, mengeluarkan beberapa barang berharga yang dibawa dari Minnesota, dan menyebut tempat itu sebagai rumah, kita pasti dapat membuat rumah kita sendiri layak dengan nama yang sama. Dan meskipun membuat  atau  menemukan  komunitas itu sulit, ada banyak cara untuk memulai: bergabung dengan gereja atau organisasi lokal, mempelajari nama juru tulis yang menelepon belanjaan kita, dan memperlakukan mereka yang kita temui sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Kita memiliki kemewahan yang hampir tidak dapat dibayangkan oleh nenek moyang baru-baru ini:  kendaraan  dengan pengatur suhu yang dapat melintasi kota dalam hitungan jam daripada hari, perawatan kesehatan yang mencegah begitu banyak penyakit dan kematian pada usia itu, kemampuan untuk memegang perangkat di telapak tangan, tangan kita dan berkomunikasi dengan dunia.

Tetapi mereka memiliki beberapa hal yang kurang dimiliki di budaya kita. Dengan mengadopsi sikap mereka yang dapat melakukan dan mandiri, kita dapat, jika kita mau, memperkuat hal-hal penting dari keluarga, rumah, dan masyarakat di masa lalu.(awp)