Mobil Tabrak Kerumunan di Depan Sekolah di Chengdu, Tiongkok, Dikabarkan Lebih dari 10 Orang Tertabrak

EtIndonesia. Pada 20 April sore waktu Beijing, terjadi insiden mobil menabrak kerumunan di depan sebuah sekolah di Chengdu, Provinsi Sichuan. Kondisi di lokasi dilaporkan cukup parah. Warga setempat mengungkapkan bahwa pengemudi diduga nekat setelah mengalami penipuan dan tidak mendapat keadilan.

Video yang beredar di internet menunjukkan kejadian terjadi di sebuah bundaran jalan di Distrik Wenjiang, Chengdu. Sebuah mobil sedan putih diduga menabrak pejalan kaki dan pengendara sepeda listrik, lalu akhirnya berhenti di area taman bundaran. Beberapa orang terlihat tergeletak di pinggir jalan, sementara lainnya bersama sepeda listrik terpental ke area rumput dan semak-semak.

Seorang bayi kecil terlihat terbaring di pinggir jalan dengan darah mengalir dari kepala, dalam kondisi kritis. Ada juga siswa berseragam sekolah yang tergeletak di area hijau sambil mengerang kesakitan. Warga sekitar berusaha memberikan pertolongan.

Warganet setempat menyebut lokasi kejadian berada di dekat bundaran Klinik Liucheng, sementara yang lain mengatakan hanya di depan Klinik Yongquan terdapat bundaran seperti itu.

Menurut kesaksian warga, terdapat “tujuh hingga delapan orang dewasa” yang tergeletak, serta anak-anak, pelajar, bahkan bayi. Ada yang menyebut korban termuda “sekitar satu tahun”.

Laporan Lianhe Zaobao menyebut lokasi kejadian berada di persimpangan Jalan Huatu dan Jalan Huafeng, yang dalam radius 100 meter terdapat beberapa sekolah. Setelah kejadian, ambulans terlihat di lokasi dan di depan sekolah, sementara para siswa dari berbagai sekolah sedang pulang melewati area tersebut.

Dilaporkan pula bahwa mobil pelaku berhenti di taman bundaran, dan beberapa pria mendekati serta memarahi pengemudi. Namun pengemudi terlihat tenang dan tetap duduk di kursi tanpa memberikan respons.

Pada malam hari, pihak kepolisian Distrik Wenjiang, Chengdu, mengumumkan bahwa sekitar pukul 18:26 terjadi apa yang disebut sebagai “kecelakaan lalu lintas” di Jalan Huatu yang menyebabkan “5 orang terluka”. Pengemudi adalah pria bermarga Guo, berusia 38 tahun, yang telah diamankan di lokasi. Dugaan mengemudi dalam keadaan mabuk atau di bawah pengaruh narkoba telah disingkirkan.

Seorang korban bermarga Li mengatakan bahwa kendaraan tersebut melaju dari depan sekolah sambil menabrak orang-orang. Ia sendiri jatuh saat mengendarai sepeda listrik bersama anaknya.

 “Saya terluka, tangan saya patah, tapi anak saya tidak apa-apa. Seharusnya ada lima korban luka berat yang dibawa ke rumah sakit, tapi yang tertabrak lebih dari lima orang, mungkin lebih dari sepuluh. Katanya pria itu melakukan ‘balas dendam terhadap masyarakat’.”

Seorang warga lain juga mengatakan bahwa angka lima orang kemungkinan hanya korban luka berat, sementara korban luka ringan tidak dilaporkan. Ia menambahkan bahwa pelaku diduga menjadi korban penipuan sekitar 195.000 yuan. Karena uang tidak dikembalikan dan tuntutannya tidak ditindaklanjuti oleh pengadilan, ia sempat melakukan protes, namun dihalangi. Dalam kondisi marah, ia kemudian melakukan aksi tersebut.

Setelah kejadian, informasi terkait insiden ini dilaporkan ditekan. Video-video di media sosial dihapus, dan warga yang mengunggah informasi disebut mendapat peringatan dari polisi.

Seorang pembuat video yang sempat menanyakan kejadian di Jalan Huatu mengatakan:
“Barusan polisi menelepon dan menyuruh saya menghapus video. Banyak orang juga diminta menghapus. Sekarang tidak nyaman lagi membicarakan hal ini.”

Warga lain menyebut pelaku kemungkinan mengalami tekanan mental akibat masalah keuangan:  “Katanya dia ditipu sekitar 190 ribu yuan dan tidak bisa mendapatkan kembali uangnya. Mungkin saat itu dia mengalami tekanan mental dan akhirnya bertindak nekat. Sekarang mencari uang memang sulit.”

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dengan kondisi ekonomi Tiongkok yang memburuk, tekanan hidup masyarakat dan berbagai ketidakadilan sosial telah memicu meningkatnya kasus kekerasan acak.

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin/Disunting oleh Lin Qing – NTDTV.com

Trump dengan Humor Menyindir Xi Jinping Selama Wawancara, Militer AS Menerima Hadiah dari PKT untuk Iran 

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (21 April) dalam wawancara dengan CNBC menyinggung kapal kargo yang dicegat militer AS pada akhir pekan lalu dan diduga memiliki hubungan erat dengan PKT. Ia secara bercanda mengisyaratkan bahwa militer AS telah mendapatkan “hadiah” dari PKT untuk Iran, sekaligus menyindir pemimpin PKT, Xi Jinping.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan bahwa pada Senin (20 April), militer AS mencegat sebuah kapal yang membawa “hadiah” dari PKT untuk Iran. Meski tidak merinci isi “hadiah” itu, banyak pihak menduga berupa perlengkapan militer, termasuk bahan yang digunakan untuk produksi rudal balistik.

Trump berkata:  “Saya agak terkejut, karena saya punya hubungan yang baik dengan Xi, saya kira kami punya pemahaman bersama. Tapi tidak apa-apa, begitulah perang, bukan?”

Trump juga menjelaskan bahwa saat ini persediaan amunisi militer AS bahkan lebih banyak dibandingkan 4–5 minggu sebelumnya, sementara persenjataan rudal Iran sudah sangat menipis. Iran disebut berusaha memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memindahkan rudal ke berbagai wilayah, namun distribusi tersebut bergantung pada jembatan-jembatan penting yang sebagian telah dihancurkan.

Namun demikian, Trump menegaskan bahwa pemerintah Teheran menempatkan warga sipil untuk menjaga jembatan dan pembangkit listrik, sehingga menghancurkan fasilitas tersebut bukanlah pilihan yang diambilnya.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berharap Iran dapat kembali menjadi negara yang kuat dan besar. Untuk mewujudkannya, Iran harus mencapai kesepakatan dengan AS, meninggalkan kekerasan dan teror, serta kembali ke jalur yang benar sebagai negara yang sah.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak ingin kehilangan satu pun tentara Amerika. Hingga saat ini, dalam konflik dengan Iran, AS dilaporkan hanya kehilangan 13 personel militer, yang menurutnya menunjukkan keberhasilan operasi tersebut.

Reporter NTD Television, Ren Hao, melaporkan dari Washington, D.C.

Tanpa Serangan, Iran Bisa Runtuh? Strategi ‘Mencekik dari Luar’ Trump Bikin Dunia Tegang!”

EtIndonesia — Situasi geopolitik global kembali memanas setelah muncul tiga sinyal strategis yang dinilai tidak biasa dari Washington dan kawasan Timur Tengah. Ketiga perkembangan ini tidak hanya mencerminkan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga mengindikasikan adanya permainan strategi yang jauh lebih kompleks di balik layar.

Ancaman Terbuka terhadap Trump dan Ivanka

Sinyal pertama datang dari kelompok yang berafiliasi dengan Iran. Dalam sebuah pernyataan yang disebarkan melalui saluran yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah Iran, kelompok tersebut secara terbuka mengeluarkan ancaman ekstrem terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta putrinya, Ivanka Trump.

Pernyataan tersebut bahkan melampaui batas diplomatik dengan secara langsung menghasut aksi kekerasan di dalam wilayah Amerika Serikat. Langkah ini dipandang oleh para analis sebagai eskalasi serius yang berpotensi memicu respons keras dari Washington.

Bocoran Sensitif dari Pejabat Nuklir AS

Sinyal kedua muncul dari dalam tubuh pertahanan Amerika sendiri. Seorang pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas keamanan senjata nuklir di Departemen Pertahanan AS, Andrew Hagg, tertangkap kamera tersembunyi sedang membahas kemungkinan serangan militer terhadap Iran.

Namun yang menarik perhatian adalah kecepatan respons pemerintah. Dalam waktu kurang dari satu jam setelah rekaman tersebut dipublikasikan oleh tim jurnalis investigasi yang dipimpin James O’Keefe, pihak militer langsung mengumumkan penonaktifan Hagg.

Biasanya, proses seperti ini memerlukan waktu berhari-hari. Kecepatan yang tidak biasa ini memicu spekulasi bahwa insiden tersebut kemungkinan merupakan bagian dari operasi psikologis terencana untuk mengirim pesan tegas kepada Iran.

Perpanjangan Gencatan Senjata Tanpa Tenggat

Sinyal ketiga datang dari keputusan mengejutkan Donald Trump yang secara tiba-tiba mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran—tanpa menetapkan batas waktu yang jelas.

Langkah ini memicu berbagai interpretasi. Di satu sisi, publik melihatnya sebagai tanda pelunakan sikap. Namun, sejumlah analis menilai sebaliknya: ini adalah bentuk “jebakan hitung mundur” yang dirancang dengan sangat hati-hati.

Menurut analisis tersebut, tidak adanya tenggat waktu bisa berarti dua hal:

  • Trump telah memperkirakan titik runtuhnya kondisi internal Iran
  • Atau, Washington sedang menyiapkan operasi besar tanpa ingin memberi petunjuk waktu kepada Teheran

Kronologi 17 April: Awal Retaknya Kendali Internal Iran

Petunjuk penting muncul dari pernyataan terbaru Trump yang mengungkap bahwa empat hari sebelumnya—yakni pada 17 April 2026—Iran sempat berniat membuka kembali Selat Hormuz demi pemasukan hingga 500 juta dolar per hari.

Pada tanggal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang mengumumkan pembukaan Selat Hormuz untuk pelayaran komersial sebagai bagian dari upaya mendukung gencatan senjata di Lebanon.

Namun, kurang dari 24 jam kemudian, situasi berbalik drastis. Komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, mengambil alih keputusan dan mengumumkan penutupan total selat tersebut.

Peristiwa ini secara terang mengungkap perpecahan internal di Iran:

  • Pemerintahan sipil mulai menunjukkan tanda kompromi
  • Militer, khususnya Garda Revolusi, mengambil alih kendali strategis

Ekonomi Iran di Ambang Keruntuhan

Trump juga menyatakan bahwa ekonomi Iran saat ini berada dalam kondisi kritis. Laporan menyebutkan bahwa:

  • Aparat keamanan dan militer mulai mengalami keterlambatan gaji
  • Ketidakpuasan internal semakin terbuka
  • Pemerintahan sipil dan militer terpecah tajam

Media seperti Fox News bahkan mulai mengangkat kemungkinan adanya kudeta internal oleh Garda Revolusi terhadap pejabat sipil.

Tekanan Tanpa Serangan: Strategi “Mencekik dari Luar”

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek dari blokade ekonomi. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa serangan militer langsung, maka sekitar 26 April 2026, fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Khark diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimum.

Dampaknya sangat besar:

  • Produksi minyak harus dihentikan
  • Risiko kerusakan permanen pada struktur geologis
  • Kehilangan produksi 300.000–500.000 barel per hari
  • Kerugian tahunan hingga 15 miliar dolar

Dengan kata lain, tanpa menembakkan satu peluru pun, tekanan ekonomi saja sudah cukup untuk mendorong Iran menuju krisis internal serius.

Kehadiran Militer AS dan Dampak Global

Di tengah situasi ini, kapal induk USS George H. W. Bush diperkirakan akan tiba di perairan sekitar Iran dalam waktu tiga hari, memperkuat tekanan militer.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Di Eropa:

  • Maskapai Lufthansa mengumumkan pemangkasan hingga 20.000 penerbangan antara Mei–Oktober
  • Biaya bahan bakar melonjak, menambah lebih dari 100 euro per penumpang

Para pemimpin Eropa seperti Emmanuel Macron dan Olaf Scholz kini berada dalam posisi sulit: menekan Iran atau meminta AS meredakan situasi.

Isyarat Lebih Besar: Menuju Indo-Pasifik

Pengamat geopolitik Wu Jialong menilai bahwa strategi “memutus pasokan dan mengepung” ini bukan hanya ditujukan kepada Iran, tetapi juga sebagai simulasi untuk kawasan Indo-Pasifik, khususnya terhadap Tiongkok.

Bocoran CIA: Bayang-Bayang Intervensi Pemilu 2020

Di Washington, perkembangan mengejutkan lainnya muncul pada 22 April 2026, ketika jurnalis investigasi Catherine Herridge mengungkap dokumen pelapor internal CIA.

Dokumen tersebut menyebut bahwa:

  • Pada Pemilu AS 2020, terdapat indikasi intervensi dari Tiongkok
  • Informasi tersebut diduga disembunyikan oleh mantan Direktur CIA Gina Haspel
  • Data intelijen menunjukkan operasi tersebut bahkan melampaui skala intervensi Rusia

Mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn mendesak Departemen Kehakiman untuk segera melakukan penyelidikan.

Langkah Baru AS di Kawasan Karibia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan mulai mengambil langkah terhadap Kuba, yang dianggap sebagai salah satu basis pengaruh Tiongkok di kawasan Karibia.


Kesimpulan: Strategi Sunyi di Balik Ketegangan

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi bukan sekadar konflik biasa. Amerika Serikat tampaknya tengah menjalankan strategi multi-lapis:

  • Tekanan ekonomi tanpa serangan langsung
  • Operasi psikologis untuk menggoyang lawan
  • Pengujian model strategi untuk konflik global yang lebih besar

Dengan waktu yang terus berjalan menuju akhir April 2026, dunia kini menunggu: apakah ini akan berakhir pada meja perundingan, atau justru menjadi awal dari konflik yang lebih luas. (***)

Iran Bergejolak dari Dalam? Elite Dikabarkan Ditahan, AS Siap Hancurkan Segalanya!

EtIndonesia — Situasi geopolitik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya setelah munculnya serangkaian perkembangan dramatis yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya. Mulai dari dugaan konflik internal di tubuh pemerintahan Iran, tekanan ekonomi yang semakin mencekik, hingga insiden militer di laut lepas, seluruh indikator menunjukkan bahwa kawasan ini berada di ambang eskalasi besar.

Dugaan Kudeta Internal Iran Mengemuka

Pada 21 April 2026, seorang mantan pejabat energi Arab Saudi, Dr. Al-Malik—yang dikenal sebagai doktor teknik perminyakan dan pernah menjabat sebagai penasihat di Kementerian Energi Arab Saudi—mengungkapkan informasi mengejutkan. Ia menyatakan bahwa Presiden Iran, Ketua Parlemen, dan Menteri Luar Negeri Iran secara bersamaan telah ditempatkan dalam tahanan rumah oleh Garda Revolusi Iran.

Meski kebenaran informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen, kabar tersebut langsung memicu perhatian internasional. Hanya dalam waktu sekitar dua jam setelah informasi beredar, Donald Trump memberikan respons melalui platform Truth Social. Ia menyebut adanya “perpecahan serius” dalam pemerintahan Iran, dan mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah meminta Pakistan untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran sambil menunggu proposal resmi yang bersatu dari Teheran.

Namun, situasi semakin membingungkan ketika Dr. Al-Malik kemudian merilis pernyataan lanjutan yang justru bertolak belakang. Ia menyatakan bahwa tidak terjadi perpecahan internal, melainkan kendali penuh kini berada di tangan komandan Garda Revolusi bernama Vahidi—figur garis keras yang disebut menolak jalur diplomasi dan justru mendorong kelanjutan konflik militer.

Demonstrasi Kekuatan Militer Iran

Masih pada malam 21 April 2026, Garda Revolusi Iran secara terbuka memamerkan rudal balistik jarak menengah Khorramshahr-2 di Jalan Vali Asr, Teheran—jalan terpanjang di Timur Tengah. Rudal tersebut diketahui memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer, bahkan dapat mencapai sekitar 3.000 kilometer dengan hulu ledak ringan.

Demonstrasi ini secara jelas mengirimkan pesan strategis: seluruh kawasan Timur Tengah, termasuk Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, berada dalam jangkauan serangan Iran.

Reaksi publik pun bermunculan. Seorang pengguna media sosial bernama Brown menyatakan bahwa langkah Iran tersebut ibarat “memancing bahaya,” yang justru dapat memperkuat tekad Amerika Serikat dan Israel untuk mengambil tindakan militer yang lebih keras.

Peringatan Keras dari Washington dan Tel Aviv

Pada malam yang sama, setelah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa jika Iran gagal mengajukan proposal negosiasi yang terpadu, maka Amerika Serikat tidak akan ragu untuk menghancurkan infrastruktur strategis Iran, termasuk kepemimpinan negara tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya pada peringatan Hari Kemerdekaan di Yerusalem, menegaskan bahwa Israel berada dalam posisi militer terkuat sepanjang sejarahnya. Ia menyatakan bahwa Israel bersama Amerika Serikat memimpin upaya menghadapi apa yang disebut sebagai “poros kejahatan,” dengan Iran sebagai salah satu fokus utama.

Netanyahu juga menekankan bahwa gencatan senjata saat ini hanyalah jeda sementara, bukan solusi permanen. Israel, menurutnya, siap melanjutkan operasi militer kapan saja jika jalur diplomasi gagal.

Strategi “Mencekik Ekonomi” Iran

Meski serangan militer langsung belum dilancarkan, Amerika Serikat memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Pada 22 April 2026, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa tidak ada ruang kompromi dalam kebijakan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa fasilitas penyimpanan minyak Iran di Pulau Kharg hampir mencapai kapasitas penuh. Jika hal ini terjadi, maka ekspor minyak Iran—yang merupakan tulang punggung ekonomi negara—akan praktis terhenti total.

Langkah-langkah yang diambil Washington mencakup:

  • Pemblokiran jalur pelayaran internasional
  • Penghentian sistem pembayaran global terkait Iran
  • Pembatasan asuransi kapal tanker
  • Penindakan terhadap perdagangan minyak ilegal

Setiap pihak yang mencoba membantu Iran menjual minyak berisiko terkena sanksi berat.

Analisis dari JPMorgan menunjukkan bahwa jika kapasitas penyimpanan penuh, Iran terpaksa mengurangi produksi atau bahkan menutup sumur minyak. Dampaknya tidak hanya ekonomi jangka pendek, tetapi juga risiko teknis besar dalam menghidupkan kembali produksi di masa depan.

Sementara itu, laporan dari CNN menyebut bahwa Iran sempat meningkatkan ekspor minyak selama konflik berlangsung, mengindikasikan adanya celah dalam sistem sanksi. Namun kini, Amerika Serikat berupaya menutup seluruh celah tersebut secara menyeluruh.

Menanggapi ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, Trump menyebut hal itu sebagai retorika semata. Ia menilai Iran tidak akan berani mengambil langkah tersebut karena akan merugikan diri sendiri, mengingat nilai perdagangan harian di jalur tersebut mencapai sekitar 500 juta dolar.

Serangan Laut Tanpa Peringatan Picu Kekhawatiran Baru

Situasi semakin memanas pada 22 April 2026, ketika Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan insiden serius di perairan dekat Oman. Sebuah kapal kontainer diserang oleh kapal patroli Garda Revolusi Iran tanpa adanya peringatan radio sebelumnya.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan berat pada bagian anjungan kapal, meskipun seluruh awak dilaporkan selamat. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik, karena melibatkan serangan langsung terhadap kapal sipil di jalur perdagangan internasional.

Kesimpulan: Timur Tengah di Ambang Titik Kritis

Rangkaian peristiwa dalam dua hari terakhir—mulai dari dugaan konflik internal di Iran, demonstrasi kekuatan militer, tekanan ekonomi yang semakin ketat, hingga serangan laut tanpa peringatan—menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah berada di titik yang sangat rapuh.

Dengan gencatan senjata yang hanya bersifat sementara dan tekanan dari berbagai arah terus meningkat, dunia kini menghadapi kemungkinan nyata terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat. (***)

Punya Green Card pun Tak Menjamin Aman: AS Luncurkan Penyelidikan Besar-besaran atas Penipuan Imigrasi

EtIndonesia. Direktur U.S. Citizenship and Immigration Services, Joseph Edlow, baru-baru ini menyatakan bahwa USCIS telah “menyatakan perang total” terhadap penipuan imigrasi, dan akan meninjau ulang kasus-kasus green card, suaka, serta manfaat imigrasi lainnya yang disetujui pada masa pemerintahan Joe Biden.

Pada 19 April, dalam wawancara dengan One America News Network, Edlow mengatakan bahwa pemerintahan Donald Trump telah mempercepat penyelidikan terhadap penipuan imigrasi, dengan fokus pada individu yang masuk ke AS dalam beberapa tahun terakhir dan diduga melakukan kecurangan.

Dalam cuplikan wawancara yang dibagikan di platform X, ia memperingatkan:  “Bagi mereka yang sedang melakukan penipuan: hentikan sekarang juga, karena kami pada akhirnya akan menemukan kalian. Bahkan jika kalian merasa sudah lolos, kami tetap akan menelusuri kembali.”

Ia juga menulis bahwa USCIS akan membuka kembali dan meninjau ulang kasus-kasus lama yang disetujui pada masa pemerintahan sebelumnya, ketika pemeriksaan dinilai lebih longgar, dan kini akan dilakukan dengan standar yang lebih ketat.

“Para penipu dan pelaku kejahatan lainnya harus siap menanggung konsekuensinya,” ujar Edlow. “Prioritas utama kami adalah melindungi keselamatan rakyat Amerika. Menjaga keamanan Amerika adalah tugas kami—dan kami akan menjalankannya tanpa kompromi.”

Pada 21 April, Edlow kembali memperingatkan melalui platform X:  “Penipuan telah merasuki seluruh sistem imigrasi kami. Agen baru USCIS akan memastikan pelaku penipuan dihukum berat. Siapa pun yang melakukan penipuan tidak layak mendapatkan manfaat imigrasi maupun kewarganegaraan. Imigrasi ke Amerika adalah sebuah kehormatan, dan kami akan memastikan prosesnya berjalan secara legal dan sesuai aturan.”

Setelah kembali ke Gedung Putih, Presiden Trump memperketat kebijakan imigrasi dan memerintahkan peninjauan ulang terhadap kasus-kasus yang telah mendapatkan green card atau suaka.

Pada 27 November 2025, Edlow menyatakan di X bahwa, atas instruksi presiden, ia telah memerintahkan peninjauan menyeluruh dan ketat terhadap setiap green card yang diberikan kepada warga negara asing dari negara-negara terkait.

Dua hari kemudian, ia mengumumkan bahwa USCIS telah menangguhkan seluruh keputusan terkait permohonan suaka hingga dapat dipastikan bahwa setiap pemohon telah melalui proses penyaringan paling ketat. Ia menegaskan bahwa keselamatan rakyat Amerika tetap menjadi prioritas utama.

Pada Februari tahun ini, Edlow melaporkan kepada anggota Kongres bahwa sejak 20 Januari 2025, staf imigrasi telah menyerahkan hampir 33.000 laporan dugaan penipuan kepada unit Deteksi Penipuan dan Keamanan Nasional USCIS—meningkat 138% dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Dari lebih dari 21.000 kasus yang telah diselesaikan, sekitar 65% terbukti mengandung unsur penipuan.

Selain itu, petugas imigrasi juga melakukan inspeksi lapangan dan pemeriksaan latar belakang melalui media sosial untuk mengidentifikasi potensi risiko terkait keamanan nasional, keselamatan publik, penipuan, serta kecenderungan “anti-Amerika”.

Seiring meningkatnya intensitas pemeriksaan, kewenangan penegakan hukum USCIS juga diperluas. Pada September tahun lalu, pemerintah Trump mengesahkan aturan baru yang memungkinkan USCIS merekrut agen khusus untuk menjalankan tugas penangkapan.

Dalam pengumuman rekrutmen terbaru, para petugas ini disebut sebagai “Pembela Tanah Air” (Homeland Defenders).

USCIS, yang secara tradisional menangani persetujuan visa, green card, dan naturalisasi, kini juga telah membentuk divisi baru bernama “Direktorat Operasi Taktis” untuk mendukung program deportasi besar-besaran pemerintah.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui – NTDTV.com

Salju Tiba-Tiba Turun di Banyak Wilayah Shaanxi, Tiongkok,  Petani Menangis: “Tak Ada Jalan Hidup Lagi”

Sekitar dua minggu menjelang musim Lixia (awal musim panas, 5 Mei), beberapa wilayah di Provinsi Shaanxi seperti Baoji, Tongchuan, dan Xianyang tiba-tiba diguyur salju lebat. Para petani buah setempat mengeluhkan kerugian besar: “Tidak ada jalan hidup lagi.”

EtIndonesia. Pada 21 April pagi waktu Beijing, banyak daerah di Shaanxi mengalami hujan salju tebal. Kabupaten Xunyi, Changwu, serta Kota Binzhou di wilayah utara Xianyang mengalami penumpukan salju yang cukup signifikan.

Video yang diambil warga setempat menunjukkan beberapa wilayah tertutup lapisan salju tebal, membuat pemandangan berubah menjadi putih seperti musim dingin dalam semalam. Ada warga yang mengatakan, “Kemarin masih pakai kaus lengan pendek, hari ini sudah pakai jaket tebal.”

Sejumlah petani buah juga mengunggah video, mengatakan bahwa pohon apel baru saja berbunga, namun setelah hujan salju, bunga-bunga tersebut tidak bisa bertahan. Mereka khawatir panen apel tahun ini “gagal total”. Seorang petani perempuan bahkan terlihat berlutut dan bersujud ke langit, memohon agar salju tidak turun lagi, jika tidak para petani “tidak punya jalan hidup”.

April merupakan periode penting bagi pembungaan pohon buah dan pertumbuhan tanaman, di mana daya tahan terhadap dingin masih lemah. Salju atau embun beku pada masa ini dapat dengan mudah merusak kuncup bunga dan bibit muda. Jika terjadi pembekuan saat masa berbunga, tingkat keberhasilan berbuah pada tanaman seperti apel dan pir akan menurun drastis. Salju  April berpotensi menyebabkan penurunan signifikan pada hasil panen pangan dan tanaman ekonomi.

Badan Meteorologi Kota Xianyang pada 21 April pukul 10:13 mengeluarkan peringatan kuning untuk jalan licin akibat es. Diperkirakan dalam 24 jam ke depan, kondisi pembekuan jalan dapat memengaruhi lalu lintas, khususnya di wilayah Binzhou, Xunyi, Changwu, bagian utara Yongshou, bagian utara Chunhua, dan bagian utara Liquan.

Sementara itu, stasiun meteorologi Kota Binzhou juga mengeluarkan peringatan serupa pada pukul 08:47, menyatakan bahwa dalam 12 jam ke depan beberapa wilayah seperti Taiyu, Shuikou, Hanjia, dan Chengguan berpotensi mengalami pembekuan jalan. Selain itu, peringatan embun beku tingkat biru juga diberlakukan, dengan suhu minimum diperkirakan turun di bawah 0°C pada malam hari hingga dini hari berikutnya.

Di saat yang sama, kota Xi’an yang pekan lalu sempat mengalami suhu hingga 30°C kini diguyur hujan, dengan suhu turun drastis ke sekitar 10°C. (Hui)

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin/Disunting oleh Lin Qing – NTD

[Berita Terlarang] Indoktrinasi Pelajar : Partai Komunis Tiongkok Tanamkan Kebencian terhadap Falun Gong di Sekolah Seluruh Tiongkok 

EtIndonesia. Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong terus meningkat di daratan Tiongkok. Di berbagai sekolah di seluruh negeri, kampanye untuk mendiskreditkan dan mencemarkan Falun Gong terus dilakukan, dengan tujuan memperkuat indoktrinasi terhadap generasi muda. Para analis menilai langkah ini justru membuat masyarakat Tiongkok semakin melihat secara jelas hakikat rezim PKT.

Situs Minghui.org melaporkan pada 20 April bahwa sejak akhir tahun lalu, Komite Urusan Politik dan Hukum serta Dinas Pendidikan di Kota Baoding, Provinsi Hebei, telah meluncurkan kegiatan yang disebut “edukasi peringatan anti-aliran sesat” ke sekolah-sekolah. Program ini mencakup hampir 2.000 sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dengan materi yang bersifat wajib dan berskala besar.

Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong disebut terus meningkat di daratan Tiongkok (tangkapan layar)
Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong disebut terus meningkat di daratan Tiongkok (tangkapan layar)

Bentuk kegiatan antara lain memaksa siswa menonton video propaganda serta mengikuti diskusi. Sejumlah siswa mengungkapkan bahwa saat menonton film tersebut, mereka tidak diizinkan keluar, tidak boleh ke toilet, dan tidak boleh berbicara.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa sejak tahun lalu, sebuah “taman edukasi anti-aliran sesat” di Kabupaten Yuanshi, Hebei, menampilkan lebih dari 60 papan informasi. Isinya mencakup penjelekkan terhadap pendiri Falun Gong, kegiatan klarifikasi fakta oleh praktisi, serta contoh-contoh yang disebut sebagai rekayasa untuk menyalahkan Falun Gong. Termasuk di dalamnya narasi insiden “bakar diri di Tiananmen” yang telah lama dibuktikan sebagai rekayasa untuk mencemarkan Falun Gong.

Orang-orang berkumpul di sebuah taman di Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk berlatih Falun Gong pada tahun 1998, sebelum penganiayaan. Courtesy of Minghui.org

Fasilitas serupa juga dilaporkan ada di Desa Huang’erying Barat, Kabupaten Ningjin, Kota Xingtai.

Selain itu, menjelang “Hari Pendidikan Keamanan Nasional” pada 15 April, berbagai daerah seperti Shanxi, Shaanxi, Shandong, dan Guangdong juga mengadakan kegiatan serupa di instansi pemerintah dan sekolah.

Praktisi Falun Gong berpartisipasi dalam latihan kelompok di Guangzhou, provinsi Guangdong, Tiongkok, pada tahun 1998. minghui.org

Menurut sumber dalam negeri, kegiatan ini berada di bawah koordinasi kantor khusus pemerintah yang dikenal sebagai “Kantor 610”, bersama unit terkait di kepolisian dan kementerian pendidikan, dalam program tiga tahun “kampanye anti-aliran sesat ke sekolah” yang dimulai sejak 2021 dan mencakup universitas di seluruh negeri.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan seorang individu yang mengalami luka bakar parah dalam dugaan insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Seorang dosen perguruan tinggi di Tiongkok, Ny. Wang, menyatakan bahwa PKT terus menyebarkan kebohongan dan menggunakan fitnah untuk semakin menindas Falun Gong. Ia merinci kegiatan tersebut dilakukan baik secara daring maupun luring, termasuk melalui media sosial, kuis online, serta program langsung ke sekolah dan komunitas.

“Sejak 2021 kegiatan ini dilakukan di perguruan tinggi dan sekolah dasar hingga menengah di seluruh negeri, melalui WeChat, kuis online, serta kegiatan offline seperti masuk ke kampus, instansi, hingga pedesaan. Bahkan di beberapa tempat dibangun taman tematik khusus untuk memfitnah Falun Gong dan Shen Yun—semuanya penuh kebohongan. Pada dasarnya ini adalah bagian dari kejahatan genosida,” ujarnya.

Kantor 610, yang memprakarsai program ini, didirikan pada Juni 1999 khusus untuk menindas Falun Gong. Lembaga ini tersebar di seluruh Tiongkok dan memiliki kekuasaan yang melampaui lembaga hukum, serta selama bertahun-tahun memimpin penindasan terhadap praktisi Falun Gong, termasuk tindakan yang dikategorikan sebagai genosida.

Pada tahun 2001, Partai Komunis Tiongkok (PKT) merekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen dalam upaya untuk membalikkan opini publik terhadap praktik Falun Gong yang damai. ©Tangkapan Layar Video | False Fire
“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan salah satu orang yang diduga melakukan aksi bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Ia juga menyatakan bahwa penggunaan sumber daya negara untuk kampanye semacam itu dapat memicu kesadaran publik jika para orang tua mengetahui apa yang diajarkan kepada anak-anak mereka di sekolah.

“Sekarang ekonomi terus menurun dan kondisi fiskal semakin sulit, tetapi mereka tetap menggunakan dana negara untuk mendukung orang-orang ini dari atas ke bawah, khusus untuk menyebarkan kebencian dan membuat kebohongan. Jika orang tua siswa mengetahui bahwa anak-anak mereka di sekolah diindoktrinasi dengan kebencian melalui kebohongan oleh lembaga negara, bahkan dengan dana publik, masyarakat akan benar-benar melihat kejahatan PKT,” katanya.

Sejumlah pengamat berpendapat bahwa meningkatnya kampanye di sekolah menunjukkan kesulitan PKT dalam mempertahankan narasi penindasan terhadap Falun Gong.

Seorang komentator politik yang berbasis di Amerika Serikat, Lan Shu, mengatakan menyatakan bahwa meningkatnya upaya PKT untuk memfitnah Falun Gong di sekolah menunjukkan bahwa penindasan tersebut sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

“PKT akhirnya hanya bisa menggunakan cara ini, menjadikan hasutan terhadap siswa sebagai alatnya. Saya yakin semua yang dilakukan PKT ini sia-sia. Karena Falun Gong adalah kekuatan yang benar, kekuatan yang baik, dan tidak mungkin dimusnahkan. Upaya PKT menggunakan cara hasutan untuk melanjutkan penindasan pasti tidak akan berhasil,” katanya.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah praktik spiritual yang berpusat pada prinsip Sejati-Baik-Sabar. Diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an, praktik ini memperoleh popularitas luas, dengan jumlah praktisi mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade tersebut, menurut perkiraan resmi.

Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok, yang khawatir bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, memulai kampanye keras untuk memberantas praktik tersebut. Sejak saat itu, banyak orang mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, dan bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Namun demikian, para praktisi Falun Gong bukan hanya tidak runtuh dari penindasan brutal—mereka justru menguat dan terus berkembang lewat upaya damai dalam mengungkap fakta kebenaran. Kini, Falun Gong telah menjangkau 156 negara dan wilayah di seluruh dunia, serta menerima sekitar 13.000 penghargaan, surat dukungan, dan resolusi. Lebih jauh lagi, lebih dari 460 juta warga Tiongkok telah memilih mundur dari Partai Komunis beserta organisasi afiliasinya setelah memahami fakta yang sesungguhnya.

Penyuntingan/Wawancara/Li Yun – NTD

Rayakan Hari Bumi, Mercure Surabaya Grand Mirama Gelar Workshop Daur Ulang Tekstil Bersama 100 Pelajar

SURABAYA – Memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2026, Mercure Surabaya Grand Mirama menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dengan menggelar workshop daur ulang tekstil. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Tunas Hijau dan melibatkan 100 pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Surabaya.

Bertempat di Hongkong Room, Mercure Surabaya Grand Mirama, para peserta diajak mengolah kaos bekas menjadi tas belanja ramah lingkungan yang dapat digunakan kembali dalam aktivitas sehari-hari. Tak hanya itu, sisa potongan kain yang biasanya terbuang juga dimanfaatkan menjadi gantungan kunci unik. Proses pembuatan yang sederhana membuat kegiatan ini mudah diikuti anak-anak serta dapat dipraktikkan kembali di rumah atau sekolah.

Edukasi 3R secara Praktis dan Menyenangkan

Workshop ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap isu limbah tekstil yang semakin meningkat, sekaligus upaya edukasi kepada generasi muda agar lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah secara kreatif dan berkelanjutan. Dengan konsep edukatif dan interaktif, para peserta memahami bahwa barang bekas masih memiliki nilai guna jika diolah dengan tepat.

Sugito Adhi selaku Cluster General Manager Mercure Surabaya Grand Mirama dan Grand Mercure Malang Mirama menyatakan:”Melalui peringatan Hari Bumi Sedunia ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya seremonial, tetapi juga memberikan edukasi aplikatif. Mendaur ulang atau menggunakan kembali barang-barang yang dimiliki adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja untuk mengurangi limbah. Kami berharap pengalaman ini dapat menginspirasi anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Antusiasme Tinggi dan Kreativitas Tanpa Batas

Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana workshop dipenuhi semangat para peserta. Mereka aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari memotong kain hingga merangkai dan menyelesaikan produk daur ulang sendiri. Tak sedikit peserta yang menunjukkan kreativitas tinggi dengan menghasilkan tas dan gantungan kunci berdesain unik.

Zamroni, Presiden Tunas Hijau, menambahkan: “Kami percaya bahwa edukasi lingkungan harus dimulai dari anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami. Workshop ini membuktikan bahwa proses belajar bisa dilakukan secara kreatif sekaligus memberikan solusi nyata terhadap permasalahan limbah. Harapannya, ini menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk lebih mencintai bumi dan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.”

Komitmen Berkelanjutan Mercure Surabaya Grand Mirama

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan konsep reduce, reuse, dan recycle (3R) secara praktis. Sebagai bagian dari jaringan hotel global yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Mercure Surabaya Grand Mirama secara konsisten menghadirkan berbagai program pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan energi dan air, pengurangan limbah plastik, hingga kegiatan sosial berbasis lingkungan.

Bahan Baku Rudal Tiongkok Dikirim ke Iran? Militer AS Melepaskan Tembakan untuk Mencegat Kapal Kargo 

Kapal kontainer “Touska” yang berbendera Iran dan berlayar dari Tiongkok menuju pelabuhan Iran, pada 19 April dicegat dan ditembaki oleh kapal perusak Angkatan Laut AS setelah menolak mematuhi perintah blokade. Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa kapal tersebut kemungkinan membawa barang “dual-use” (sipil-militer) yang oleh Washington dianggap dapat digunakan untuk keperluan militer.

EtIndonesia. United States Central Command (CENTCOM) pada 19 April menyatakan bahwa kapal perusak rudal USS Spruance (DDG-111) mencegat kapal “Touska” di Laut Arab bagian utara.

Hingga kini, militer AS belum mengungkap apakah ditemukan muatan tertentu di kapal tersebut. Namun, menurut laporan Reuters pada Senin (20 April) yang mengutip sumber keamanan maritim, “Touska” kemungkinan membawa barang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.

 “Sejak awal, kapal Touska mematikan sistem identifikasi dan berusaha menghindari kapal perang AS, ini menunjukkan besar kemungkinan muatannya bermasalah. Dalam kondisi Iran diblokade, ekspor minyaknya terhambat, sementara mereka membutuhkan banyak komponen dan bahan baku untuk memperkuat produksi rudal atau drone,” ujar peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi. 

Penasihat senior organisasi United Against Nuclear Iran dan mantan perwira Angkatan Laut AS, Charlie Brown, mengatakan bahwa upaya kapal tersebut menerobos blokade menunjukkan bahwa muatannya “bernilai tinggi bagi Iran” dan “layak dipertaruhkan”.

Peneliti lain, Hsieh Pei-hsueh, menambahkan bahwa muatan kapal kemungkinan bersifat sangat sensitif dan tidak mudah digantikan, sehingga Iran bersedia mengambil risiko besar. Ia juga menilai tindakan militer AS akan menimbulkan efek jera dan meningkatkan biaya bagi Iran untuk memperoleh material penting.

Militer Iran menyatakan bahwa kapal tersebut berangkat dari Tiongkok. Berdasarkan data pelayaran, “Touska” pernah singgah di Pelabuhan Gaolan, Zhuhai, untuk memuat barang. Pelabuhan ini dikenal sebagai pusat bongkar muat bahan kimia, termasuk natrium perklorat—prekursor penting untuk bahan bakar roket padat yang dibutuhkan dalam program rudal Iran.

Menurut laporan The Wall Street Journal, kapal “Touska” dimiliki oleh anak perusahaan dari perusahaan pelayaran milik negara Iran Islamic Republic of Iran Shipping Lines, yaitu ROD (Rahbaran Omid Darya), yang rutin berlayar antara Tiongkok dan Iran. Dua kapal lain dari perusahaan yang sama pada 2025 juga pernah mengangkut sekitar 1.000 ton bahan untuk propelan rudal jarak menengah Iran dari Tiongkok.

Seluruh armada perusahaan tersebut diketahui berupaya menghindari sanksi AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan perdagangan antara Iran dan negara lain.

Laporan The Washington Post juga menyebut bahwa pada Maret lalu, dua kapal IRISL lainnya, “Shabdis” dan “Barzin”, berangkat dari Pelabuhan Gaolan menuju Iran dengan muatan penuh. Sejak awal tahun ini, lebih dari sepuluh kapal IRISL telah mengunjungi pelabuhan tersebut.

Hsieh Pei-hsueh menilai bahwa frekuensi kunjungan tersebut sudah melampaui skala kasus individual, dan mencerminkan peran Tiongkok dalam konflik AS–Iran. Ia menyebut bahwa karena pelabuhan tersebut berada di bawah yurisdiksi Tiongkok, pihak berwenang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghentikan pengiriman, namun tidak melakukannya.

Setelah kapal “Touska” disita oleh militer AS, pemimpin Tiongkok Xi Jinping melakukan percakapan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, menyatakan bahwa Tiongkok mendukung gencatan senjata segera dan jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka.

Shen Mingshi menilai bahwa komunikasi tersebut juga terkait kepentingan energi, karena jika Iran terus diblokade, Tiongkok perlu mencari pasokan minyak dari negara lain. Selain itu, Arab Saudi merupakan salah satu negara penting dalam upaya diplomasi kawasan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT, Guo Jiakun, pada 20 April menyatakan keprihatinan atas tindakan AS yang mencegat kapal tersebut. Namun ketika ditanya mengenai muatan kapal, ia tidak memberikan jawaban. (hui)

Disunting oleh Shang Yan – NTDTV.com; Wawancara oleh Chang Chun; Pasca-produksi oleh Gao Yu

Latihan Militer Gabungan AS–Filipina dan 7 Negara dengan 17.000 Tentara, Tekanan Militer Terpadu terhadap PKT Meningkat

Amerika Serikat dan Filipina menggelar latihan militer gabungan tahunan berskala besar dengan nama “Balikatan” (Bahu Membahu), yang mencatat rekor terbesar sepanjang sejarah. Jepang untuk pertama kalinya mengirimkan pasukan dalam jumlah besar. 

Para analis menilai, sebelumnya latihan ini lebih berfokus pada kerja sama bilateral, namun kini “partisipasi resmi” Pasukan Bela Diri Jepang menandai terbentuknya kerangka keamanan trilateral. Sementara itu, pihak Tiongkok menyatakan bahwa pengikatan keamanan semacam itu hanya akan membawa dampak balik, namun akademisi menilai pernyataan tersebut merupakan distorsi—negara lain justru sedang melakukan langkah pencegahan.

EtIndonesia. Latihan multilateral “Balikatan” yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat dan Filipina berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei, dengan fokus di perairan sekitar Laut Tiongkok Selatan. Selain AS, Filipina, dan Jepang, terdapat total 7 negara peserta serta 17 negara pengamat, dengan lebih dari 17.000 personel—menjadi yang terbesar dalam sejarah.

Peningkatan skala dan kompleksitas latihan, ditambah keterlibatan mendalam Jepang, mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika geopolitik kawasan Asia-Pasifik. Latihan ini tidak lagi sekadar rutinitas bilateral, melainkan berkembang menjadi kerja sama multilateral yang lebih realistis dan terintegrasi secara strategis.

“Latihan yang melibatkan AS, Filipina, dan Jepang jelas ditujukan kepada Tiongkok. Jika terjadi konflik di Laut Tiongkok Selatan atau Selat Taiwan, tujuan utama mereka adalah menunjukkan kemampuan dan tekad untuk menahan ekspansi militer partai komunis Tiongkok,” kata Mantan dekan Akademi Politik Perang Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, Yu Zongji.

Militer Filipina menyebutkan bahwa selama latihan, Pasukan Bela Diri Jepang akan menggunakan kapal bekas sebagai target untuk uji coba rudal anti-kapal tipe 88 berbasis darat. Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, juga hadir untuk meninjau dan berkoordinasi di lokasi.

 “Ini pertama kalinya Jepang ikut serta dengan kekuatan militer penuh. Sebelumnya hanya sebagai pengamat. Kali ini mereka mengerahkan kapal perusak helikopter JS Ise (DDH-182), yang menyerupai kapal induk ringan. Kehadiran menteri pertahanan juga menunjukkan meningkatnya perhatian Jepang terhadap jalur laut penting di rantai pulau pertama,” kata Direktur Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun. 

Ia menambahkan bahwa keterlibatan resmi Jepang menandai terbentuknya kerangka keamanan trilateral AS–Jepang–Filipina.

Su Tzu-yun menjelaskan tiga makna utama:
Pertama, secara strategis membentuk “pengepungan” terhadap PKT, yang menjadi tren di kalangan negara demokratis.
Kedua, membantah anggapan bahwa militer AS kekurangan kekuatan, karena di tengah konflik lain, AS masih mampu memimpin latihan besar ini.
Ketiga, meskipun negara-negara memiliki perbedaan dalam isu ekonomi seperti tarif, mereka tetap bersatu dalam isu keamanan.

Yu Zongji menambahkan bahwa partisipasi aktif Jepang menunjukkan komitmen nyata dalam kerja sama pertahanan bersama dengan AS dan Filipina, serta mencerminkan kebangkitan kekuatan militernya.

Jepang juga mengirim kapal perang dalam latihan ini. Kapal perusak “Ikazuchi” melintasi Selat Taiwan pada 17 April, sementara kapal helikopter JS Ise (DDH-182) dengan bobot hampir 20.000 ton berlayar melalui perairan timur Taiwan. 

Langkah ini memicu ketidakpuasan dari Tiongkok, yang kemudian pada 19 April mengirim kapal perusak rudal dan fregat menuju Samudra Pasifik melalui perairan sekitar Jepang.

Yu Zongji menyatakan bahwa meskipun Jepang dibatasi oleh konstitusi damai, langkah ini mencerminkan kesiapan menghadapi potensi konflik regional, serta menunjukkan bahwa Pasukan Bela Diri Jepang kini semakin berperan layaknya angkatan bersenjata nasional penuh.

Menanggapi hal ini, pihak Tiongkok menyatakan bahwa penguatan aliansi keamanan hanya akan membawa konsekuensi buruk bagi pihak yang terlibat.

Namun, Su Tzu-yun menilai bahwa pernyataan tersebut adalah pengaburan fakta:  “Negara-negara lain sebenarnya sedang melakukan langkah pencegahan. Sebaliknya, Tiongkok yang memperluas kekuatan lautnya, berusaha keluar dari rantai pulau pertama, dan justru ‘bermain api’.”

Ia juga menyebut beberapa langkah terbaru Tiongkok, termasuk pembatasan wilayah udara di Laut Kuning dan Laut Tiongkok Timur, pengiriman kapal perang setelah kapal Jepang melintasi Selat Taiwan, serta pengerahan kapal induk Liaoning aircraft carrier ke Laut Tiongkok Selatan bersamaan dengan latihan Balikatan.

Para pengamat menilai latihan ini menunjukkan pergeseran strategi militer dari “pertahanan titik” menuju “integrasi jaringan”. 

Bagi Filipina, ini menandai peralihan dari fokus kontra-terorisme ke pertahanan teritorial; bagi AS, ini merupakan bagian dari integrasi kekuatan sekutu dalam strategi Indo-Pasifik; sementara bagi Jepang, ini langkah penting menuju normalisasi strategi keamanan nasional dan perluasan pengaruh ke selatan.

Seiring semakin eratnya kerjasama keamanan Jepang dan Filipina, PKT kini menghadapi tekanan militer terpadu dari Laut Tiongkok Timur, Selat Taiwan, hingga Laut Tiongkok Selatan.

Disunting oleh Huang Yimei; Wawancara oleh Luo Ya; Pasca-produksi oleh Tony – NTDTV

Praktisi Falun Gong di Wuhan Diculik Sesaat Setelah Bebas, Keluarga Serukan Pembebasan

EtIndonesia. Mari kita simak perkembangan isu HAM di Tiongkok. Seorang praktisi Falun Gong dari Distrik Jiang’an, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Hou Milla, telah menyelesaikan masa hukuman penjaranya pada 19 April. Suami dan pengacaranya datang ke penjara untuk menjemput, namun pejabat dari kantor “pemeliharaan stabilitas” setempat diduga menipu keluarga, menculik Hou Milla, lalu langsung membawanya ke fasilitas “cuci otak”. Keluarga menyerukan perhatian publik dan menuntut otoritas Wuhan segera membebaskannya.

Menurut sumber lokal bernama samaran Li Hua, pada 19 April pagi, suami Hou Milla dan pengacaranya pergi ke Penjara Wanita Provinsi Hubei untuk menjemputnya. Sekitar pukul 09.00 pagi, mereka melihat Hou Milla berada di pintu kecil area pembebasan, sedang menjalani prosedur administrasi.

Saat itu, dua pria berpakaian sipil yang mengaku sebagai petugas penjara menghalangi keluarga dan pengacara untuk mendekat, serta meminta mereka menunggu di gerbang utama. Keluarga mempercayai mereka, namun setelah tiba di gerbang utama, mereka melihat Hou Milla dinaikkan ke sebuah mobil putih di dekat pintu kecil tersebut.

Li Hua (nama samaran) mengatakan:  “Bagian dalam mobil itu tertutup pelat besi sepenuhnya, tanpa jendela. Hou Milla dimasukkan ke dalamnya. Saat sampai di gerbang, mobil itu tidak berhenti sama sekali dan tidak berniat menurunkan orang, langsung hendak pergi.”

Setelah menyadari telah ditipu, keluarga berusaha menghalangi mobil tersebut. Pengacara bahkan berdiri di depan kendaraan untuk mencegahnya pergi.

Li Hua menambahkan:  “Kami menghalangi mobil itu selama lebih dari sepuluh menit. Petugas penjara di dalamnya mencoba menarik kami agar tidak menghalangi kendaraan.”

Menurut Li Hua, pada badan mobil putih tersebut tertulis “patroli terpadu”. Ia menyebut bahwa sebenarnya ini adalah operasi gabungan dari kantor keamanan distrik Jiang’an, termasuk komite urusan politik dan hukum, yang bersama-sama menculik Hou Milla.

Ia menegaskan:  “(Hou Milla) seharusnya dibebaskan hari itu dan pulang bersama keluarga. Tidak ada identitas resmi atau dasar hukum apa pun untuk membawa pergi seseorang seperti itu. Ini sepenuhnya ilegal.”

Menurut laporan, Hou Milla ditangkap pada 19 April 2018 oleh aparat keamanan Wuhan karena berlatih Falun Gong. Penangkapan dilakukan oleh unit keamanan domestik biro keamanan publik Wuhan serta aparat dari Distrik Hongshan. 

Bersamaan dengan itu, suaminya Hong Weisheng, saudara perempuannya Hou Aila, dan praktisi lain Rao Xiaoping juga ditangkap.

Pada Mei 2019, Pengadilan Distrik Hongshan menjatuhkan hukuman: Hong Weisheng 10 tahun, Hou Milla 8 tahun, Hou Aila 8 tahun, dan Rao Xiaoping 7 tahun penjara.

Pada 11 November tahun yang sama, World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong memasukkan kasus ini ke dalam daftar penyelidikan.

Seorang pengacara daratan Tiongkok dengan nama samaran Chen Ming menyatakan bahwa tindakan otoritas Wuhan sangat melanggar hukum.


“Mereka bukan polisi, tidak memiliki kewenangan penegakan hukum, apalagi prosedur pemanggilan yang sah. Tindakan seperti ini sepenuhnya merupakan penculikan. Tidak hanya ilegal, tetapi juga merupakan tindak kriminal, bahkan seperti tindakan preman,”katanya. 

Menurut Li Hua, saudari Hou Milla, Hou Aila, dijadwalkan akan dibebaskan pada 13 Mei. Keluarga sangat khawatir apakah ia dapat pulang dengan aman, dan menyerukan perhatian publik terhadap situasi ini.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah praktik spiritual yang diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an. Praktik ini mengajarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Pada tahun 1999, PKT melancarkan penganiayaan yang keras terhadap para praktisi Falun Gong, menggunakan kampanye propaganda untuk menggambarkan para pengikut yang damai sebagai musuh negara dalam waktu singkat. Pada  20 Juli dini hari tahun itu, penangkapan massal dilakukan, dan ribuan orang dikirim ke kamp kerja paksa berdasarkan hukum Tiongkok saat itu yang memungkinkan “pendidikan ulang” melalui kerja paksa selama tiga hingga lima tahun tanpa pengadilan atau vonis.

Penganiayaan tersebut terus berlangsung tanpa henti, dan mencakup penahanan sewenang-wenang terhadap tahanan hati nurani, kerja paksa, penyiksaan, pencucian otak, serta bahkan pengambilan organ secara paksa dari orang yang masih hidup.

Kasus-kasus terhadap tahanan hati nurani oleh PKT sering kali dilakukan secara rahasia, sehingga informasi yang tersedia biasanya terpisah-pisah dan tidak lengkap.

Reporter Televisi NTD, Hong Ning dan Huang Yuning melaporkan.

Represi PKT Menembus Batas Negara, Kanada Didesak Bertindak Tegas dan Adili Pihak yang Bertanggungjawab  

Baru-baru ini, berbagai kota di Kanada menggelar sidang dengar pendapat dan forum yang mengungkap dugaan intimidasi, pengawasan, serta pelecehan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di wilayah tersebut. Sejumlah saksi memberikan kesaksian dan secara terbuka mengecam, serta mendesak pemerintah untuk segera membuat undang-undang guna menghentikan praktik tersebut.

EtIndonesia. Parlemen Kanada pada Senin (20 April) mengadakan sidang bertajuk “Dampak Global Represi Lintas Negara”. Perwakilan dari kelompok Falun Gong diundang untuk bersaksi, mengungkap ancaman bom terhadap pertunjukan Shen Yun Performing Arts di luar negeri yang diduga terkait PKT.

 “Dalam dua tahun terakhir, (PKT) menggunakan kombinasi disinformasi, perang hukum, serta ancaman bom palsu terhadap Shen Yun dan Falun Gong. Hanya di Kanada saja, dalam dua tahun terjadi 20 ancaman bom dan penembakan palsu, sementara secara global terdapat lebih dari 270 ancaman kekerasan. Tahun ini, targetnya bahkan meluas ke para pemimpin Kanada,” kata Koordinator nasional Himpunan Falun Dafa Kanada, Grace Wollensak. 

Pada 20 April 2026 sore, Subkomite Hak Asasi Manusia Internasional Parlemen Kanada (SDIR) mengadakan sidang dengar pendapat bertajuk “Dampak Global Penindasan Transnasional” dan menyiarkannya secara langsung kepada publik melalui internet. Para saksi yang hadir antara lain peneliti senior dari Macdonald-Laurier Institute (MLI) Marcus Kolga (paling kanan), koordinator nasional Himpunan Falun Dafa Kanada Grace Wollensak (tengah), peneliti senior Dr. Maria Cheung (kedua dari kiri), direktur eksekutif Komite Tibet Kanada Sherap Therchin (kedua dari kanan), serta wakil ketua World Uyghur Congress Zumretay Arkin (paling kiri), dan lainnya. (Cuplikan layar internet)

Peneliti senior Maria Cheung mengatakan:  “Bagi Kanada, membatalkan pertunjukan tanpa memahami campur tangan asing dan represi lintas negara adalah sinyal yang sangat berbahaya—itu sama saja dengan tunduk pada rezim komunis.”

Para peserta menekankan bahwa selama 27 tahun, PKT telah melakukan represi lintas negara secara menyeluruh terhadap komunitas Falun Gong di seluruh dunia, dengan disinformasi sebagai metode utamanya. Selain itu, perwakilan dari berbagai kelompok lain juga menyampaikan tuduhan serupa.

Wakil Ketua World Uyghur Congress, Zumretay Arkin, menyatakan:  “Salah satu metode paling kejam adalah menjadikan anggota keluarga sebagai sandera, melalui penahanan atau ancaman terhadap kerabat untuk membungkam para aktivis di luar negeri.”

Direktur eksekutif Canada Tibet Committee, Sherap Therchin, mengatakan:  “Hal ini mempengaruhi cara kami bekerja dan berkomunikasi, serta membuat perjalanan internasional kami semakin sulit.”

Ketua organisasi Vancouver Society in Support of Democratic Movement, Edmond Leung, menambahkan:  “Para pembangkang Hong Kong bahkan diberi harga buronan. Meski kami berada di negara yang seharusnya bebas, kami tetap khawatir akan pembalasan dari PKT.”

Para perwakilan dan pakar menyerukan agar Kanada segera menerapkan undang-undang pendaftaran agen asing serta menuntut pertanggungjawaban pihak terkait.

Pakar senior isu Tiongkok dan mantan diplomat untuk Tiongkok, Charles Burton, menyatakan:
“Kita harus menegakkan hukum secara tegas untuk melawan campur tangan asing. Polisi harus menangani kasus yang melibatkan agen PKT dengan lebih serius.”

Grace Wollensak juga menyerukan:  “(Pemerintah) harus meminta lembaga keamanan menyelidiki ancaman (bom) semacam ini sebagai bentuk campur tangan asing, menuntut pelakunya, serta melatih aparat garis depan untuk mengenali praktik represi lintas negara. Perlu dibuat undang-undang khusus yang secara jelas menetapkan represi lintas negara sebagai tindak pidana tersendiri. Campur tangan terarah PKT terhadap warga dan institusi Kanada harus dihentikan.”

Laporan Biro Televisi NTD Vancouver

Wapres AS J.D. Vance Batalkan Perundingan, Trump Perpanjang Gencatan Senjata — Situasi Timur Tengah Kembali Memanas

Pada Selasa (21/4), menurut laporan sejumlah media AS, karena pihak Iran belum memberikan tanggapan atas syarat dari Amerika Serikat, Wakil Presiden J. D. Vance mengumumkan pembatalan perundingan dengan Iran. Tak lama kemudian, Presiden Donald Trump menyatakan perpanjangan masa gencatan senjata, sekaligus memerintahkan militer untuk tetap mempertahankan blokade dan siaga penuh. Saat ini, harga minyak dunia melonjak mendekati angka 100 dolar, dan dunia menyoroti pertarungan diplomatik “menit-menit terakhir” ini.

EtIndonesia. Pada Selasa (21/4), Gedung Putih menggelar rapat kebijakan untuk membahas situasi Iran. Pada sore hari, muncul kabar bahwa Vance membatalkan rencana keberangkatannya ke Pakistan untuk perundingan yang dijadwalkan malam itu, karena Iran tidak merespons posisi negosiasi terbaru dari AS.

Di saat yang sama, media semi-resmi yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa otoritas Iran memutuskan untuk tidak menghadiri perundingan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.

Pihak Iran menyatakan bahwa sebelum Amerika mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan menunjukkan prospek kesepakatan yang dapat diterima, Teheran tidak berniat ikut serta dalam negosiasi.

Dalam laporannya, Tasnim juga mengutip pernyataan keras dari Garda Revolusi yang menyebut Iran telah menyiapkan “kejutan” untuk Amerika.

Pengamat menilai hal ini menandakan bahwa putaran kedua perundingan AS-Iran resmi gagal. Dengan batas waktu gencatan senjata yang semakin dekat, perhatian dunia kini tertuju pada kemungkinan apakah AS akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Namun, pada Selasa malam, situasi kembali berubah. Presiden Trump secara tiba-tiba mengumumkan perpanjangan gencatan senjata.

Ia menyatakan bahwa, mengingat adanya perpecahan serius di dalam pemerintahan Iran, serta atas permintaan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, maka serangan militer terhadap Iran akan ditangguhkan hingga para pemimpin Iran mencapai kesepakatan internal dan dapat mengajukan proposal yang terpadu.

Trump mengumumkan bahwa masa gencatan senjata yang semula berakhir Rabu malam diperpanjang. Ia juga memerintahkan militer untuk tetap mempertahankan blokade dan kesiapan tempur.

Selain itu, Pentagon mengkonfirmasi bahwa pada Selasa pagi, militer AS mencegat sebuah kapal tanker minyak bernama “Tiffany” di kawasan Indo-Pasifik dan melakukan inspeksi. Kapal tersebut sebelumnya dikenai sanksi karena bekerja sama dengan Iran. Ini merupakan pertama kalinya militer AS melakukan tindakan semacam itu di luar kawasan Timur Tengah.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Skandal Besar Guncang Inggris: Dubes untuk AS Diduga Terlibat Jaringan Pengaruh Tiongkok, Posisi PM Keir Starmer Terancam

EtIndonesia. Baru-baru ini, dunia politik Inggris diguncang skandal besar. Mantan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson, diungkap media memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan jaringan politik dan bisnis Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia juga dituduh pernah membantu infiltrasi modal Tiongkok ke industri strategis Inggris. Lebih kontroversial lagi, saat diangkat, ia disebut tidak lolos pemeriksaan keamanan tingkat tertinggi, namun tetap ditunjuk oleh Perdana Menteri Keir Starmer. Skandal ini langsung mengguncang posisi Starmer.

Informasi terbaru menyebutkan bahwa sebelum penunjukan pada 2024, Mandelson tidak lolos pemeriksaan keamanan tertinggi pemerintah Inggris. Lembaga pemeriksa juga memiliki kekhawatiran serius terkait hubungannya dengan jaringan politik dan bisnis PKT.

Mandelson pernah mendirikan perusahaan konsultan Global Counsel, yang telah lama membangun relasi mendalam di dunia politik dan bisnis Tiongkok. Ia bahkan pernah bertemu dengan pemimpin PKT.

Penyelidikan menunjukkan bahwa perusahaannya pernah membantu perusahaan bermodal Tiongkok, Canyon Bridge Capital Partners, untuk masuk ke perusahaan semikonduktor Inggris Imagination Technologies. Selain itu, ia juga disebut membantu WuXi AppTec yang memiliki dugaan keterkaitan dengan militer PKT. Hal ini memicu tuduhan bahwa kepentingan bisnis telah mengorbankan keamanan nasional.

Yang lebih memicu kontroversi, meskipun tidak lolos pemeriksaan keamanan, Starmer tetap menunjuk Mandelson sebagai duta besar untuk AS pada akhir  tahun 2024.

Publik mempertanyakan apakah pemerintah Inggris sengaja mengabaikan risiko keamanan nasional. Starmer sendiri menegaskan bahwa ia tidak mengetahui hal tersebut, dan menyalahkan pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri.

Pada 16 April, seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Inggris, Mark Sedwill, diberhentikan secara mendadak. Dalam kesaksiannya di parlemen pada Selasa (21 April), ia secara langsung mengarahkan kritik ke kantor perdana menteri.

 “Yang ingin saya sampaikan adalah, meskipun saat itu ada tekanan, Kementerian Luar Negeri tetap mengikuti semua prosedur secara ketat. Sejujurnya, berdasarkan pemahaman saya, ada pihak dalam pemerintahan yang menganggap prosedur tersebut tidak perlu diikuti,” katanya. 

Ia juga mengungkapkan bahwa saat dirinya mulai menjabat pada Januari 2025, penunjukan Mandelson sudah selesai dilakukan.

Seorang analis politik menyebut bahwa dari keseluruhan sidang dengar pendapat, terlihat bahwa pejabat tersebut dijadikan kambing hitam atas keputusan buruk Starmer.

Sementara itu, wakil pemimpin redaksi The House Magazine mengatakan bahwa kesaksian yang diberikan sangat mengejutkan, dan mengindikasikan adanya pola dalam memobilisasi pegawai negeri untuk menguntungkan orang-orang dekat Partai Buruh.

Pada Selasa, berbagai media utama Inggris menempatkan isu ini di halaman depan. Di tengah tekanan publik yang meningkat, Starmer dijadwalkan menghadapi interpelasi di parlemen.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Saat Hitungan Jam Menuju Perang: 970 Pon Uranium Iran Picu Ancaman ‘Zaman Batu’ dari Trump!

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang berakhirnya masa gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu terakhir. Alih-alih mereda, situasi justru menunjukkan eskalasi signifikan, baik di jalur diplomatik maupun militer.

Tenggat Gencatan Senjata Kian Dekat, Ancaman Terbuka dari Trump

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa peluang untuk memperpanjang gencatan senjata hampir tidak ada apabila tidak tercapai kesepakatan sebelum tenggat waktu berakhir pada 22 April 2026. Ia juga memastikan bahwa kebijakan blokade terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan.

Dalam sejumlah pernyataan publiknya, Trump kembali menekankan sikap keras Washington terhadap program nuklir Iran. Ia menyatakan bahwa Iran “tidak boleh dan tidak akan pernah” memiliki senjata nuklir. Bahkan, ia kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Barack Obama sebagai “kesepakatan terburuk”.

Lebih jauh, Trump mengklaim bahwa blokade yang dilakukan AS telah menyebabkan kerugian ekonomi Iran hingga 500 juta dolar AS per hari. Ia juga mengeluarkan peringatan tegas: jika gencatan senjata runtuh, maka infrastruktur vital Iran seperti pembangkit listrik dan jembatan dapat menjadi target serangan militer.

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Trump mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi terhadap kebuntuan yang terjadi. Namun, ia tetap siap untuk melanjutkan operasi militer jika situasi menuntut.


Iran Menolak Tekanan: “Bukan Meja Negosiasi, Tapi Meja Penyerahan”

Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik keras terhadap pendekatan Washington. Melalui pernyataan publik, ia menuduh Amerika Serikat berupaya mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan diri”.

Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan militer maupun ekonomi. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam dua minggu terakhir, Iran telah mempersiapkan langkah-langkah strategis baru di medan konflik.

Pernyataan ini mencerminkan sikap tegas Teheran yang menolak kompromi dalam kondisi yang dianggap merugikan kedaulatan nasional.


Pergeseran Kekuasaan di Iran: Garda Revolusi Ambil Alih

Analis militer Zhou Ziding menilai bahwa saat ini tengah terjadi perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran. Menurutnya, Garda Revolusi Iran secara bertahap mengambil alih kendali atas kebijakan militer dan negosiasi.

Kelompok moderat, termasuk Menteri Luar Negeri Iran, disebut semakin tersisih dari proses pengambilan keputusan. Dalam kondisi ini, keputusan strategis utama berada di tangan lingkaran kekuasaan tertinggi.

Zhou juga menekankan bahwa sejumlah isu krusial—seperti program nuklir, klausul “sunset”, serta konflik proksi di Timur Tengah—masih belum menemukan titik temu. Hal ini membuat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin kecil.


Skenario Serangan Iran: Target Energi dan Jalur Pelayaran

Pengamat politik Shi Tao mengungkapkan bahwa pernyataan keras Ghalibaf bukan sekadar retorika eksternal, melainkan juga bentuk tekanan internal.

Ia menyebut bahwa Garda Revolusi telah menyiapkan tiga skenario target strategis, yaitu:

  • Jalur pipa minyak di Arab Saudi
  • Fasilitas energi di Uni Emirat Arab
  • Jalur pelayaran di Laut Merah melalui dukungan terhadap kelompok Houthi

Langkah ini dinilai sebagai kartu tawar militer yang dapat digunakan Iran untuk meningkatkan posisi dalam negosiasi.


Peran Misterius JD Vance: Diplomasi atau Strategi Militer?

Ketidakjelasan posisi Wakil Presiden AS, JD Vance, turut menambah ketidakpastian. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa ia masih berada di Washington, menunggu perkembangan dari pihak Iran.

Namun, menurut Shi Tao, ada kemungkinan bahwa Vance sebenarnya telah berada di lokasi strategis, seperti pangkalan militer AS di sekitar Pakistan, untuk menunggu momentum tertentu.

Ia menilai bahwa kebuntuan yang terjadi saat ini bukanlah stagnasi, melainkan sebuah adu kekuatan penuh tekanan, di mana kedua pihak berusaha menunjukkan dominasi sebelum mencapai titik kompromi.


Insiden Kapal “Tosca”: Konflik Meluas ke Laut

Di tengah ketegangan tersebut, insiden militer kembali terjadi di laut. Militer AS mencegat kapal kargo Iran bernama “Tosca”, yang dilaporkan berangkat dari Tiongkok.

Kapal tersebut menolak mematuhi perintah blokade dan akhirnya dihentikan dengan tembakan. Amerika Serikat mencurigai bahwa kapal tersebut membawa material dual-use, termasuk komponen rudal dan bahan baku propelan roket.

Analis Li Muyang mengungkapkan bahwa kapal tersebut sebelumnya sempat berlabuh di Zhuhai dan diduga mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) untuk menyamarkan aktivitas pengangkutan bahan kimia seperti perklorat—komponen penting dalam bahan bakar rudal.

Iran merespons dengan ancaman balasan. Bahkan, media setempat mengklaim bahwa drone telah digunakan untuk menyerang kapal perang AS, meskipun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.


Dampak Global: Bayang-Bayang Tekanan terhadap Tiongkok

Jika dugaan keterlibatan rantai pasokan dari Tiongkok terbukti, maka situasi ini berpotensi memperluas konflik ke ranah geopolitik global.

Amerika Serikat dapat menggunakan temuan tersebut sebagai dasar untuk meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok, terutama dalam konteks perdagangan, keamanan, dan hubungan internasional.


Kesimpulan: Menuju Perdamaian atau Eskalasi Besar?

Menjelang berakhirnya gencatan senjata pada 22 April 2026, situasi antara Amerika Serikat dan Iran justru semakin tidak menentu.

Diplomasi yang mandek, ancaman militer terbuka, serta insiden di lapangan menunjukkan bahwa konflik ini telah memasuki fase kritis.

Alih-alih menuju perdamaian, dunia kini menyaksikan pertarungan tekanan antara dua kekuatan besar, yang hasil akhirnya masih sulit diprediksi—apakah akan berujung pada kesepakatan, atau justru membuka babak baru konflik yang lebih luas. (***)