Gerakan protes nasional di Iran menghadapi penindasan brutal dari pihak berwenang. Sementara itu, berdasarkan informasi intelijen yang diterima Amerika Serikat, rezim Iran saat ini berada dalam kondisi paling rapuh sejak 1979. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran berminat untuk berunding.
Saat ini, kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln telah memasuki kawasan Timur Tengah yang berada di bawah yurisdiksi Komando Pusat AS, dan mampu melancarkan aksi militer dalam satu hingga dua hari.
EtIndonesia. Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa pada 8 Januari, di wilayah Teheran Barat, sekelompok pasukan keamanan menembaki para demonstran dari atap kantor polisi.
Sementara di kota Kerman, Iran tenggara, juga dilaporkan adanya pria bersenjata berseragam militer yang terus melepaskan tembakan di sepanjang jalan. Sejak pecahnya aksi protes besar-besaran pada akhir Desember tahun lalu, pemerintah Iran telah mengerahkan seluruh mesin negara untuk melakukan penindasan dengan kekerasan.
Seorang pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) urusan Iran pada 26 Januari menyatakan bahwa ia menerima laporan yang menyebutkan pasukan keamanan Iran membawa dan menahan banyak peserta demonstrasi yang sedang menjalani perawatan medis dari rumah sakit.
“Belakangan ini saya menerima banyak laporan bahwa pasukan keamanan, termasuk aparat berpakaian sipil, memasuki rumah sakit untuk mengidentifikasi para demonstran dan kemudian menahan mereka. Menurut saya, konsekuensi dari situasi ini adalah para demonstran yang terluka memilih untuk tidak mencari perawatan medis. Hal ini hampir pasti akan menyebabkan lebih banyak kematian serta korban luka yang seharusnya bisa diselamatkan,” kata Pelapor Khusus PBB untuk Iran, Mai Sato.
Menurut laporan media, Presiden AS Donald Trump telah menerima sejumlah analisis intelijen yang menunjukkan bahwa kondisi rezim Islam Iran saat ini merupakan yang paling rapuh sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Dinasti Pahlavi.
Dalam wawancara dengan Axios pada 26 Januari, Trump menyatakan bahwa Iran menunjukkan niat untuk bernegosiasi mengenai suatu kesepakatan. Ia mengatakan bahwa situasi Iran “berubah dengan sangat cepat”, karena Amerika Serikat telah mengerahkan “armada besar” ke wilayah sekitar Iran.
Komando Pusat AS juga mengonfirmasi pada tanggal 26 bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta beberapa kapal perusak berpeluru kendali telah memasuki wilayah Timur Tengah yang berada di bawah komando mereka.
Seorang pejabat anonim menyatakan bahwa jika Gedung Putih memerintahkan serangan terhadap Iran, kelompok tempur Lincoln dapat melancarkan operasi militer dalam waktu satu hingga dua hari.
Laporan gabungan oleh Chen Huimo dan Chen Lingzhi, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.
EtIndonesia. Hari ini, kami mengundang Du Wen, mantan akademisi hukum dari Mongolia Dalam, untuk berbincang dengan Anda mengenai berbagai kejanggalan di panggung politik Tiongkok setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli ditangkap.
Tamu khusus: Mantan akademisi hukum Mongolia Dalam, Du Wen Pembawa acara:Fu Yao
Du Wen: Tiongkok berada dalam kekacauan, militer dalam keheningan mematikan, PKT memperketat penjagaan media
Fu Yao:
Halo pemirsa, selamat datang di News Talk. Saya Fu Yao. Hari ini kami mengundang mantan akademisi hukum Mongolia Dalam, Tuan Du Wen, untuk membahas berbagai kejanggalan di politik PKT setelah Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli ditangkap.
Pertama-tama saya ingin bertanya, sebelumnya Anda menyebutkan bahwa ketika Zhang Youxia diumumkan sedang diselidiki, pihak PKT segera memerintahkan militer untuk menyerahkan perangkat komunikasi dan memulai pembelajaran politik. Apakah dalam dua hari terakhir Anda masih bisa menerima informasi dari dalam PKT?
Du Wen:
Tidak. Setelah itu, informasi benar-benar terputus. Waktu itu hanya sempat terputus sementara, lalu berhenti sama sekali. Ini cukup bisa dipercaya.
Para perwira tinggi PLA—mulai dari tingkat perwira muda seperti letnan dua ke atas—sebenarnya diizinkan memiliki dua ponsel. Satu adalah ponsel militer Huawei, disebut “ponsel internal militer”. Ponsel ini dibuat khusus oleh Huawei untuk PLA, baik chip maupun sistemnya benar-benar khusus dan berbeda dari sistem sipil. Ponsel ini sangat sulit digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak luar, dan disebut sebagai “mesin rahasia”. Ponsel ini selalu digunakan dan memang diizinkan.
Du Wen:
Ponsel lainnya adalah ponsel domestik (buatan dalam negeri) yang juga boleh dimiliki setiap orang dan harus didaftarkan. Tentu saja, banyak pejabat yang sebenarnya punya lebih dari satu.
Setelah kejadian itu, saya sempat terus berhubungan dengan mereka. Mereka semua sangat terkejut. Para perwira tingkat menengah—resimen dan divisi—justru mengetahui berita ini dari media, bukan dari saluran internal militer.
Saat mereka masih tertegun melihat berita, tiba-tiba siaran internal berbunyi, memerintahkan seluruh prajurit (kecuali yang bertugas) untuk masuk ke ruang pembelajaran politik. Setelah itu, semua ponsel dikumpulkan satu per satu. Sebelum menyerahkan ponsel, banyak yang sempat mengirim pesan singkat: “Hapus dulu, ponsel akan dikumpulkan.”
Sejak saat itu, komunikasi benar-benar terputus dan sampai sekarang belum pulih.
Du Wen:
Tentu saja, sebelumnya kami juga sangat berhati-hati dalam berkomunikasi, menggunakan cara-cara yang tidak mudah terdeteksi. Namun secara keseluruhan, situasi saat ini sangat tegang.
Saat itu, seluruh unit militer diperintahkan siaga di tempat, dilarang melakukan pergerakan pasukan. Karena itu, beberapa hari terakhir hampir tidak terlihat adanya pergerakan militer. Apalagi pasukan yang masuk Beijing—itu sangat sensitif.
Banyak “berita” di internet sekarang, sejujurnya, bukan berita sungguhan. Itu lebih merupakan bagian dari propaganda dan perang opini. Justru fakta sebenarnya adalah: tidak ada berita, atau sangat sedikit. Seluruh PLA kini berada dalam kondisi “dikunci”.
Fu Yao: Bolehkah saya bertanya, ketika Anda berhubungan dengan personel militer tersebut, apakah mereka menggunakan ponsel militer, ponsel domestik, atau bahkan membeli iPhone untuk penggunaan pribadi?
Du Wen: Fu Yao, ini topik yang sangat sensitif dan kompleks. Saya tidak bisa mengatakan satu kata pun lebih jauh. Karena memang ada kontak nyata, saya tidak berani bicara sembarangan. Yang pasti, ponsel internal militer tidak bisa digunakan untuk komunikasi luar. Saya pernah membongkarnya sendiri—saya masih menyimpan fotonya. Di dalamnya memang ada chip tambahan dan sistemnya benar-benar berbeda. Anda tahu, bahkan BTS di sekitar markas militer memiliki sistem penyaringan. Semua komunikasi harus terenkripsi, jika tidak akan langsung diputus. Ini sistem yang sangat rumit. Soal teknis Huawei dan detailnya, saya tidak bisa membahas. Ini bukan hal yang bisa didiskusikan sembarangan—kontak ceroboh sama dengan mencari mati.
Du Wen: Di asrama militer, prajurit tidak boleh menyimpan ponsel pribadi sembarangan. Pemeriksaan internal bisa dilakukan kapan saja. Jika ditemukan ponsel yang tidak terdaftar, masalahnya sangat serius. Ponsel domestik biasa juga diawasi. Misalnya, jika Anda memotret pangkalan militer atau kapal induk, sistem kamera akan langsung mengunggah data ke cloud dan memicu alarm otomatis. Namun tentu saja, saat berkomunikasi, orang-orang paham cara menghindarinya. Seperti pepatah: “satu kaki iblis, satu depa jalan”. PKT punya Tembok Api Besar, Falun Gong punya Freegate—logikanya sama. Yang penting adalah anti-pelacakan, komunikasi tanpa jejak, terenkripsi.
Fu Yao: Jadi sekarang Anda sudah tidak bisa berhubungan dengan mereka sama sekali?
Du Wen: Tidak. Sejak hari itu, tidak ada kontak lagi. Saya hanya bisa bertanya ke teman-teman sipil di Beijing—apakah ada kendaraan militer masuk kota, apakah ada konvoi lewat Jalan Tol Badaling dari Zhangjiakou. Hasilnya: pemeriksaan sangat ketat, bagasi dibuka, kolong mobil diperiksa, ada anjing pelacak dan pemeriksaan bahan peledak seperti di bandara. Tapi tidak terlihat tank atau pasukan di jalan. Situasi permukaan masyarakat masih normal. Teman-teman saya di Beijing sangat banyak, kalau ada tank di jalan pasti langsung terlihat. Sampai sekarang, memang tidak ada.
Du Wen: Yang lebih diperhatikan justru adalah reaksi internal. Banyak orang menunggu Zhang Youxia “bergerak”, karena dia sosok yang sangat berwibawa di militer. Tuduhan utamanya adalah “serius menginjak-injak sistem tanggung jawab ketua KMP.” Ini kata kunci penting. “Menginjak-injak” berarti wakil ketua merampas kekuasaan ketua, tidak mematuhi perintah ketua. Itulah maknanya.
Du Wen: Setelah dia ditangkap, mengapa seluruh militer harus siaga di tempat? Karena sekarang setiap tank dan kendaraan militer punya GPS dan bahkan bisa dimatikan dari jarak jauh. Beijing juga memperketat penjagaan media. Menurut teman-teman di sana, penjagaan di CCTV, Radio Nasional, dan media pusat lainnya meningkat jelas. Ini informasi yang cukup dapat dipercaya.
Fu Yao: Kalimat “serius menginjak-injak sistem tanggung jawab ketua KMP”, apakah ini berarti sudah ada penetapan politik yang sangat serius?
Du Wen: Betul. Ini adalah penetapan politik. Kasus sebelumnya—Xu Caihou, Guo Boxiong, Fang Fenghui—semuanya soal korupsi dan pelanggaran disiplin. Tapi ini berbeda. Ini berarti kudeta. Pesannya jelas: Zhang Youxia dianggap pengkhianat, pemecah belah, pelaku kudeta. Ini sinyal politik yang sangat keras kepada seluruh militer.
Fu Yao: Mengapa Xi Jinping memilih bertindak sekarang, padahal Zhang Youxia selama ini dianggap orang dekatnya?
Du Wen: Inilah psikologi seorang diktator. Xi Jinping kini sangat tidak aman. Zhang Youxia punya basis dan wibawa di militer. Pembersihan di Angkatan Roket dan Departemen Pengembangan Peralatan sebenarnya adalah pembersihan terhadap orang-orang Zhang. Ini pasti membuat Zhang tidak senang. Dalam pandangan Xi, itu sudah dianggap ketidaksetiaan. Xi menuntut kepatuhan mutlak seperti budak. Sedikit saja membantah, sudah dianggap “menginjak-injak sistem”.
Du Wen: Penangkapan itu dilakukan langsung di rapat, Xi datang bersama Cai Qi dan pasukan keamanan, lalu langsung membawa Zhang Youxia dan Liu Zhenli pergi. Para jenderal di lokasi dikabarkan ketakutan. Setelah itu, seluruh militer langsung masuk status siaga tingkat satu. Liu Zhenli menguasai hak mobilisasi pasukan. Jika dia tidak ditangkap bersamaan, Beijing bisa kacau.
Fu Yao: Apakah akan ada perlawanan dari pendukung Zhang Youxia?
Du Wen: Sulit. Komunikasi diputus, ponsel disita. Semua orang kini takut dan sibuk membersihkan diri, menulis surat kesetiaan, bahkan saling melaporkan. Namun kepatuhan lahiriah tidak berarti kepatuhan batin. Hati militer sudah tercerai-berai. Zhang Youxia adalah figur “abang besar” di militer. Xi Jinping dengan tindakan ini menghancurkan sisa kohesi militer. Sekarang banyak yang hanya berpura-pura bekerja, bahkan menunggu Xi Jinping jatuh. Kemarahan ini terpendam dan sangat berbahaya.
Fu Yao: Anda menyebut ini lebih serius daripada peristiwa 4 Juni. Mengapa?
Du Wen: Pada 4 Juni, konflik ada, tapi militer masih patuh pada Deng Xiaoping. Sekarang ini adalah konflik di tingkat tertinggi—ketua dan wakil ketua KMP. Zhang Youxia bukan Zhao Ziyang. Zhao tidak punya pasukan. Zhang punya pengaruh nyata. Ditambah ekonomi runtuh dan isolasi internasional, ini pertanda jalan buntu.
Du Wen: Tuduhan bocornya rahasia nuklir adalah “umpan balik informasi” PKT
Fu Yao: Bagaimana dengan laporan Wall Street Journal soal kebocoran rahasia nuklir?
Du Wen: Itu omong kosong. Ini taktik untuk “membusukkan” Zhang Youxia. Kalau cuma konflik politik, masih ada yang mendukungnya. Tapi kalau dicap pengkhianat dan mata-mata, tak ada yang berani membelanya. Zhang tidak kekurangan uang atau jabatan. Tidak ada motif. Ini pola lama PKT untuk membunuh karakter lawan.
Fu Yao: Apakah situasi “semua orang terancam” ini akan menggoyahkan perwira bawah?
Du Wen: Pasti. Sekarang di PLA yang paling populer bukan latihan militer, tapi “mandi” — membersihkan diri. Posting WeChat 10 tahun lalu pun diperiksa. Tekanan ini membuat perwira sangat muak. Tunjangan dipotong, kesejahteraan menurun. Xi Jinping memerintah dengan ketakutan, bukan wibawa. Begitu tekanan puncak melemah sedikit saja, seluruh sistem bisa runtuh seketika.
Du Wen: Tiongkok berada dalam kekacauan, apakah Zhang Youxia sebenarnya sudah menyiapkan rencana?
Fu Yao: Berbicara soal kondisi kesehatan, ini juga menjadi perhatian besar publik. Menurut Anda, apakah penangkapan ini ada kaitannya dengan kondisi fisik Xi Jinping, atau dengan pengaturan soal “penerus” kekuasaan?
Du Wen: Pasti ada kaitannya. Xi Jinping sekarang sudah berusia enam puluhan menuju tujuh puluhan. Dua tahun terakhir ini, semua orang bisa melihat kondisinya—sering tampak sangat lelah, bahkan gerakannya terlihat kaku. Yang paling dia takuti sekarang adalah: sebelum dia sempat mengatur suksesi, orang-orang di bawahnya yang memegang kendali militer justru lebih dulu mengosongkan kekuasaannya. Zhang Youxia seusia dengannya, tapi memiliki fondasi yang sangat kuat di militer. Xi Jinping pasti berpikir: kalau suatu hari nanti saya tiba-tiba tidak berdaya, lalu Zhang Youxia memberi satu perintah saja, siapa yang bisa menghentikannya? Apakah Cai Qi atau Li Qiang bisa menahan itu?
Du Wen: Karena itu, selama dia masih bernapas dan masih bisa bergerak, dia harus membersihkan semua orang yang berpotensi mengancam “warisan politik”-nya. Yang dia inginkan adalah sebuah lingkungan yang sepenuhnya terdiri dari “orang dalam”-nya sendiri. Tidak masalah mereka tidak cakap atau tidak punya kemampuan tempur, yang penting patuh. Ini adalah pola pikir khas seorang kaisar di ujung kekuasaan.
Fu Yao: Lalu bagaimana dengan Zhao Leji? Belakangan ini beredar rumor bahwa Zhao Leji juga terseret, bahkan disebut sedang diselidiki. Apakah ini terkait dengan badai di tubuh militer?
Du Wen: Situasi Zhao Leji cukup rumit. Zhao lama berakar di Shaanxi, dan Zhang Youxia juga orang Shaanxi—ini yang disebut “kelompok Shaanxi”. Di tingkat tertinggi PKT, politik kedaerahan dan politik faksi sangat kuat. Xi Jinping memang memakai orang Shaanxi, tapi dia sangat curiga. Dia merasa: kalian sesama orang Shaanxi ini terlalu dekat, apakah sedang membentuk lingkaran kecil?
Du Wen: Konon beberapa orang kepercayaan Zhao Leji, bahkan adiknya sendiri, sudah ditangkap. Ini menunjukkan Xi Jinping sedang “memotong pinggiran rok”—membersihkan jaringan di sekelilingnya. Menangkap Zhang Youxia berarti menggerakkan senjata (militer). Menyentuh Zhao Leji berarti menggerakkan pisau (sistem Komisi Disiplin). Ini menandakan Xi Jinping sekarang membuka perang di semua lini dan tidak lagi mempercayai siapa pun. Strategi menyerang ke segala arah ini sangat berbahaya, karena membuat semua kelompok birokrat berubah menjadi musuhnya.
Du Wen: Perlu dipahami, hubungan Xi Jinping dan Zhang Youxia bukan hubungan atasan–bawahan biasa. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, disebut “keturunan merah” dan “sekutu besi”. Jika hubungan seperti ini saja bisa hancur sampai titik ini, berarti kontrak politik internal PKT sudah sepenuhnya batal. Sekarang ini adalah pertarungan hidup dan mati secara telanjang.
Du Wen: Tiongkok dalam kekacauan, militer dalam keheningan mematikan
Fu Yao: Menurut Anda, dalam situasi seperti ini, bagaimana keadaan para pejabat tinggi di Zhongnanhai sekarang?
Du Wen: Keadaannya adalah “berpura-pura mati”. Semua orang sedang berakting. Dalam rapat, mereka berteriak slogan paling keras, menunjukkan sikap paling cepat. Tapi begitu kembali ke kantor, pintu langsung ditutup, tak berani bicara satu kata pun. Karena Anda tidak tahu apakah sekretaris Anda orang Cai Qi, tidak tahu apakah kantor Anda dipasangi alat penyadap. Sekarang ada pepatah populer di Beijing: “Banyak bertindak, banyak salah. Sedikit bertindak, sedikit salah. Tidak bertindak, tidak salah.” Semua ingin bertahan sampai akhir.
Du Wen: Tapi Xi Jinping tidak membiarkan orang “bertahan”. Dia menjalankan “pemeriksaan politik” dan “penelusuran mundur 20 tahun”. Bahkan yang sudah pensiun pun diseret kembali untuk disaring. Inilah mengapa situasinya lebih serius daripada 4 Juni. Setelah 4 Juni masih ada konsensus “pembangunan ekonomi”. Sekarang bahkan konsensus itu pun tidak ada—yang tersisa hanya ketakutan.
Apakah situasi Selat Taiwan akan berubah?
Fu Yao: Bagaimana dengan reaksi internasional, khususnya Amerika Serikat? Jika Zhang Youxia benar-benar ditangkap, apa dampaknya terhadap hubungan Tiongkok–AS dan situasi Selat Taiwan?
Du Wen: Inilah bagian paling berbahaya. Zhang Youxia memang keras, tapi dia adalah tentara profesional. Dia tahu perang berarti kematian, dan tahu kesenjangan antara PLA dan militer AS. Selama dia masih ada, setidaknya dia berfungsi sebagai “rem”. Jika diganti dengan sekelompok “jenderal politik” yang hanya pandai menjilat dan tidak paham militer, demi menyenangkan Xi Jinping, mereka bisa membuat keputusan yang sangat gegabah.
Du Wen: Xi Jinping sekarang tidak membutuhkan daya tempur, yang dia butuhkan adalah “rasa aman”. Tapi semakin dia membersihkan, semakin tidak aman dia merasa. Lingkaran setan ini bisa berujung pada perang eksternal untuk mengalihkan konflik internal. Jadi situasi Selat Taiwan bukan menjadi lebih tenang karena Zhang Youxia ditangkap, justru menjadi lebih tidak terduga karena militer kehilangan kendali rasional profesional.
Fu Yao: Anda menyebut istilah “Kim Jong-unisasi”. Apakah Xi Jinping sedang meniru model Korea Utara?
Du Wen: Betul. Dia mengejar kediktatoran absolut tanpa “kotoran” apa pun. Kim Jong-un dulu mengeksekusi pamannya sendiri, Jang Song-thaek, di depan umum. Mengapa? Untuk membangun teror: “yang patuh hidup, yang melawan mati”. Xi Jinping menangkap Zhang Youxia dengan logika yang sama. Zhang Youxia adalah “Jang Song-thaek”-nya Xi.
Du Wen: Begitu tokoh setingkat Zhang Youxia dibereskan, siapa lagi yang berani berbeda pendapat? Ini adalah perbudakan total. Xi ingin mengubah Tiongkok menjadi Korea Utara versi besar. Tapi dia lupa satu hal: Tiongkok bukan Korea Utara. Masyarakatnya pernah terhubung dengan dunia luar, ekonominya besar dan kompleks. Teror saja tidak cukup untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.
Du Wen: Karena itu, laporan Wall Street Journal soal kebocoran rahasia nuklir sangat mungkin merupakan “ekspor lalu impor balik”. Orang-orang di sekitar Xi atau tim propaganda luar negeri sengaja membocorkan informasi ini ke media AS. Media AS mengejar sensasi—“petinggi militer Tiongkok bocorkan rahasia nuklir” jelas berita besar. Lalu berita ini dipantulkan kembali ke dalam negeri dan ke tubuh militer—menjadi “bom atom politik”.
Du Wen: Akibatnya, siapa pun yang semula ingin membela Zhang Youxia langsung bungkam. Dalam budaya PKT, korupsi masih bisa dimaafkan, salah garis politik masih bisa dikritik, tapi “bersekongkol dengan musuh dan menjual negara” adalah dosa terbesar—hukuman mati di atas hukuman mati.
Fu Yao: Bagaimana sikap Amerika Serikat terhadap isu ini? Apakah mereka akan percaya?
Du Wen: Sistem intelijen AS bukan orang bodoh. Mereka pasti memverifikasi. Namun yang paling mereka perhatikan adalah sinyal “kekacauan”. Benar atau palsu, itu menunjukkan satu hal: pucuk pimpinan militer PKT runtuh. Ini berarti Tiongkok berada dalam fase yang sangat tidak stabil.
Du Wen: Itulah sebabnya AS belakangan sangat berhati-hati dalam penempatan militernya di Asia-Pasifik. Diktator yang merasa paling tidak aman justru paling berbahaya. Xi Jinping sekarang seperti landak yang ketakutan—semua durinya berdiri. Dia bukan hanya waspada terhadap Amerika, tapi lebih waspada terhadap orang rumahnya sendiri.
Fu Yao: Anda tadi menyebut Zhang Youxia pernah mengatakan “menyelamatkan partai dan negara”. Apa latar belakangnya?
Du Wen: Ini kabar yang saya dengar dari pertemuan kecil dan percakapan pribadi. Zhang Youxia dan kelompok “putra merah” ini sebenarnya punya ikatan emosional dengan PKT. Mereka merasa negeri ini dibangun oleh ayah-ayah mereka. Melihat Xi Jinping merusak ekonomi dan hubungan internasional, mereka sangat cemas.
Du Wen: Mereka percaya jika terus begini, partai akan runtuh dan negara akan hancur. Namun inti “menyelamatkan partai dan negara” sebenarnya adalah “menyelamatkan kekuasaan”—kembali ke kepemimpinan kolektif, bukan kultus individu. Masalahnya, bagi Xi Jinping, itu berarti merebut kekuasaannya. Inilah konflik yang tak bisa didamaikan.
Du Wen: Secara lahiriah ini soal korupsi atau kebocoran rahasia, tapi hakikatnya adalah konflik “melindungi Xi” atau “melindungi partai”. Xi memang mencapai puncak kekuasaan setelah menangkap Zhang Youxia, tapi ini adalah kekuatan yang “menggelembung palsu”. Sekarang dia menoleh ke sekeliling—siapa lagi yang bisa dia percayai?
Du Wen: Kecurigaan ini menular. Suasana Zhongnanhai sekarang seperti “Perang Dingin”. Xi bukan hanya menangkap Zhang Youxia, dia memutus rantai komando militer dan mencoba membangun sistem keamanan internal yang hanya loyal padanya. Semakin dia melakukan ini, profesionalisme dan daya tempur militer justru semakin runtuh.
Fu Yao: Jika militer hanya tersisa “kebenaran politik”, ia berubah menjadi pasukan penjaga partai—bahkan pasukan keluarga Xi. Bagaimana peran “ponsel Huawei militer” dalam badai ini?
Du Wen: Ponsel Huawei itu sebenarnya “borgol elektronik”. Xi mempromosikannya untuk pengawasan 24 jam terhadap jenderal: lokasi, komunikasi, bahkan dengan siapa Anda makan, semua tercatat. Itulah sebabnya setelah kejadian, ponsel langsung disita—untuk memeriksa siapa berhubungan dengan siapa, siapa berada di lokasi yang mencurigakan. Huawei di sini bukan sekadar perusahaan telekomunikasi, tapi cabang intelijen PKT. Banyak jenderal kini trauma terhadap perangkat dalam negeri—ini bukan alat, tapi alat pengintai.
Fu Yao: Tentang “belajar politik”—menyerahkan ponsel, mendengar siaran—ini tampak absurd bagi militer modern. Apakah benar-benar efektif?
Du Wen: Bukan untuk mencuci otak. Itu disebut “pendisiplinan”. Ini adalah penghinaan kekuasaan—membuat jenderal dan perwira duduk seperti murid SD, menyerahkan ponsel, membaca slogan. Tujuannya menghancurkan harga diri agar patuh total. Tapi efek sampingnya adalah akumulasi kebencian ekstrem. Prajurit sejati merasa: kami membela negara, bukan menjadi budak keluarga.
Fu Yao: Apa yang akan menjadi “percikan api” itu? Krisis ekonomi atau kesalahan militer?
Du Wen: Bisa jadi kondisi kesehatan Xi Jinping. Atau kesalahan fatal dalam keputusan besar—Taiwan atau hubungan dengan AS. Sekarang di sekelilingnya hanya penjilat. Jika dia salah langkah, kekuatan penentang di militer bisa bangkit.
Du Wen: Ini adalah keruntuhan sistemik. Xi menangkap Zhang Youxia karena takut mati besok; setelah menangkapnya, dia justru makin tidak bisa tidur. Dia menyingkirkan orang terakhir yang mampu menahan militer. Kekuasaan seperti ini sangat rapuh.
“Keseimbangan teror” telah runtuh
Fu Yao: Apakah Anda mengatakan “keseimbangan teror” telah runtuh?
Du Wen: Ya. Dulu ada kesepakatan diam-diam: Anda jadi ketua, kami cari uang. Sekarang Xi menghancurkan semua mangkuk dan menyimpan nasi sendiri. Ini membuat semua orang tak bisa hidup. Pertarungan di Zhongnanhai kini bukan soal garis politik, tapi soal hidup dan mati.
Du Wen: Perhatikan satu detail: media militer terus-menerus menekankan “kesetiaan”. Semakin sering diteriakkan, semakin langka itu. Sekarang banyak “berwajah dua”: mulut teriak “menjaga inti”, hati menghitung—kalau Xi jatuh, ke mana harus berpihak?
Fu Yao: Bagaimana dampaknya bagi rakyat biasa? Kita melihat kekerasan sosial meningkat.
Du Wen: Guncangan di atas, penderitaan di bawah. Untuk mengamankan kekuasaan, Xi akan memperketat kontrol ekstrem: bukan hanya militer, tapi juga PNS dan guru—paspor disita. Negara dijadikan barak tertutup. Akibatnya ekonomi mati total. Saat rakyat kelaparan, saat keluarga prajurit tak bisa makan, krisis sesungguhnya akan tiba.
Du Wen: Xi sedang berlomba dengan waktu. Tapi sejarah membuktikan, rekayasa yang melawan sifat manusia dan hukum perkembangan selalu berakhir dengan kegagalan. Menangkap Zhang Youxia justru mempercepat keruntuhan itu.
Fu Yao: Terakhir, menurut Anda bagaimana akhir Zhang Youxia? Seperti Lin Biao atau Bo Xilai?
Du Wen: Lin Biao mati di pesawat, Bo Xilai dipenjara di Qincheng. Zhang Youxia kemungkinan ditahan lama dan diadili secara tertutup. Xi belum berani “menghilangkannya” karena jaringan Zhang terlalu luas. Namun karier politiknya sudah berakhir.
Du Wen: Yang penting bukan akhir Zhang Youxia, tapi akhir Xi Jinping. Xi telah mendorong dirinya ke sudut tanpa jalan mundur. Akhir para diktator biasanya disertai kekacauan dan pertumpahan darah—ini yang paling tidak kita inginkan sebagai orang Tiongkok, tapi harus kita hadapi.
Fu Yao: Terima kasih banyak kepada Tuan Du Wen atas analisis mendalam hari ini.
Du Wen: Terima kasih, Fu Yao. Terima kasih semuanya.
EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, suasana politik dan militer di Beijing hanya dapat dirangkum dengan dua kata: aneh dan ganjil. Di permukaan, segalanya tampak tenang dan terkendali. Namun jika ditelisik lebih dalam, gelombang bawah yang bergejolak justru semakin jelas terlihat.
Di satu sisi, Harian Pembebasan Tentara (PLA Daily)—corong resmi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)—selama tiga hari berturut-turut menampilkan pemberitaan yang terasa “tenang tanpa gelombang”, seolah-olah tidak ada peristiwa besar yang sedang berlangsung di jantung kekuasaan militer Tiongkok.
Namun di sisi lain, rangkaian peristiwa sejak 24 Januari 2026 justru mengindikasikan bahwa situasi internal rezim tengah berada dalam fase yang sangat sensitif.
Xi Jinping Muncul Kembali Setelah Enam Hari Menghilang
Pada 27 Januari 2026, Presiden Tiongkok sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Xi Jinping, akhirnya kembali muncul di hadapan publik setelah enam hari tidak terlihat sejak pengumuman penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia.
Xi tampil di Balai Agung Rakyat, Beijing, untuk menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo. Penampilan Xi langsung menjadi sorotan.
Dari rekaman video resmi, ekspresi wajah, intonasi bicara, dan logat Xi Jinping terlihat normal, tanpa tanda-tanda tekanan fisik maupun emosional. Dalam pertemuan tersebut, Xi bahkan tidak membaca catatan kecil—sebuah detail yang jarang terjadi dan mengindikasikan bahwa pertemuan ini kemungkinan telah dipersiapkan secara matang.
Isi pembicaraan pun terdengar familiar: Xi kembali mengajak perusahaan Finlandia untuk masuk dan berinvestasi di pasar Tiongkok, yang digambarkannya sebagai “samudra luas penuh peluang”.
Namun publik internasional sudah sangat memahami metafora ini. Banyak perusahaan asing—terutama dari Jepang—yang awalnya “berenang penuh harapan”, namun akhirnya kehabisan tenaga dan memilih mundur perlahan dari pasar Tiongkok.
Sindiran Warganet dan Kontras Diplomasi
Menariknya, perhatian warganet Tiongkok justru tertuju pada hal lain: iring-iringan kendaraan kenegaraan Perdana Menteri Finlandia yang dinilai sangat besar dan mewah.
Kolom komentar di media sosial langsung dipenuhi sindiran. Banyak netizen menyebut bahwa di Finlandia, sang perdana menteri dapat bepergian sendirian, namun di Tiongkok dia langsung merasakan “nikmatnya status elite berkuasa”.
Di permukaan, pertemuan Xi dengan tamu asing tampak berjalan normal dan stabil. Namun di balik layar, situasi di tubuh militer justru menunjukkan gejolak yang sama sekali berbeda.
PLA Daily: Dari Guntur ke Sunyi dalam Tiga Hari
Perubahan sikap PLA Daily dalam tiga hari terakhir menjadi indikator penting dinamika internal militer.
24 Januari 2026 Militer Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan CMC) diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum berat, dan telah resmi diselidiki.
25 Januari 2026 PLA Daily menerbitkan editorial bernada keras, membahas apa yang disebut sebagai “lima masalah besar” Zhang Youxia, dengan bahasa yang sarat ancaman politik.
26 Januari 2026 Halaman depan memuat artikel berjudul “Terus Meniupkan Terompet Serangan”, yang mengangkat kembali kisah-kisah eksekusi tokoh Partai akibat korupsi sejak puluhan tahun lalu—mulai dari Liu Qingshan dan Zhang Zishan, hingga perwira berjasa besar yang akhirnya dieksekusi mati.
Namun, artikel tersebut justru terasa “bertulang besar namun berdaging tipis”. Dia membahas koruptor masa lalu, memuji kampanye antikorupsi era kini, namun sama sekali tidak menyebut satu pun nama besar masa kini, termasuk Zhang Youxia atau Liu Zhenli.
Lebih janggal lagi, pada 27 Januari, PLA Daily tiba-tiba kembali ke pemberitaan normal, seolah-olah tidak pernah ada pengumuman besar pada 24 Januari. Kasus “lima masalah besar” pun menghilang begitu saja.
Dalam politik Tiongkok, perubahan sikap secepat ini sering kali mencerminkan tarik-ulur kekuasaan yang belum mencapai konsensus.
Tank Bergerak, Pasukan Muncul di Jalan Raya
Jika media militer tampak “bermain tai chi”, maka lapangan menunjukkan cerita berbeda.
Dalam dua hari terakhir, berbagai video dari dalam Tiongkok memperlihatkan aktivitas militer tidak biasa di banyak wilayah.
Yang paling mencolok adalah Grup Angkatan Darat ke-82 PLA, unit elite yang bertugas melindungi Beijing dan bermarkas di Baoding, Provinsi Hebei—penerus legendaris Grup ke-38 yang dikenal sebagai “Tentara Sepuluh Ribu Tahun”.
Unit ini terpantau melakukan konsentrasi besar-besaran kendaraan lapis baja dan tank, bahkan melintas di jalan raya umum, membentuk iring-iringan panjang—sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim dalam periode sensitif seperti ini.
Komentar Publik: Harapan dan Kegelisahan
Komentar warganet di bawah video-video tersebut bahkan lebih mengguncang dibanding pawai militernya sendiri.
Pada 26 Januari, China Youth Daily merilis video resmi latihan satu brigade penerbangan dari Grup ke-82.
Kolom komentarnya dipenuhi pesan-pesan seperti:
“Semoga PLA berdiri di pihak rakyat.”
“Tuntaskan misi.”
“Pikirkan masa depan generasi berikutnya.”
Bahasa seperti ini jarang muncul secara terbuka di ruang publik Tiongkok, dan menunjukkan kegelisahan sosial yang sedang meningkat.
Pergerakan Meluas ke Tianjin dan Selatan
Aktivitas militer tidak hanya terjadi di sekitar Beijing.
26 Januari 2026, sejumlah besar kendaraan militer terlihat di Distrik Wuqing, Tianjin, hanya sekitar 40–50 km dari pusat Beijing.
Di Xuzhou, Jiangsu, warga merekam sekelompok besar tentara bersenjata senapan mesin ringan berjalan di pusat kota.
Pergerakan serupa juga terpantau di Zhanjiang (Guangdong) dan beberapa lokasi di Fujian.
Hal ini terjadi meski beredar informasi bahwa unit-unit militer telah diperintahkan masuk status siaga tempur tingkat satu, menghentikan semua operasi, menyerahkan ponsel, dan menjalani pendidikan politik terpusat.
Keheningan Media Militer: Pesan yang Paling Keras
Yang paling mencolok justru adalah keheningan total media militer resmi.
Baik China Military Network maupun akun resmi Tentara Polisi Bersenjata sama sekali tidak menyinggung kejatuhan Zhang Youxia—tidak diposting, tidak dipin, seolah-olah peristiwa itu tidak pernah ada.
Dalam politik Tiongkok, diam sering kali merupakan jawaban paling keras.
Xi Muncul, Pesan Stabilitas, dan Hari-Hari Penentu
Dalam konteks ini, kemunculan Xi Jinping pada 27 Januari terasa lebih seperti pernyataan politik bahwa “situasi terkendali”, ditujukan untuk menenangkan publik domestik sekaligus meredam kegelisahan mitra internasional.
Namun, hari-hari ke depan akan sangat menentukan.
Jika pasukan kembali ke barak dan komando wilayah militer menyatakan loyalitas penuh kepada pusat, maka Xi kemungkinan masih memegang kendali.
Namun jika tank dan pasukan terus bergerak mendekati Beijing, maka konflik internal di Zhongnanhai berpotensi berubah dari pertarungan politik tertutup menjadi konfrontasi terbuka tanpa aturan.
Bagi dunia luar, ini bukan sekadar urusan domestik Tiongkok. Sejarah telah membuktikan, setiap guncangan besar di Beijing selalu berdampak global.
Dan seperti kepanikan dunia pada awal 2020, ada kalanya satu pusat kekuasaan yang goyah dapat membuat seluruh dunia ikut gemetar.
JAKARTA – Platform transportasi berbasis aplikasi, inDrive, secara resmi memperkenalkan layanan baru di luar sektor mobilitas: inDrive Ads, sebuah platform periklanan digital yang diintegrasikan langsung ke dalam aplikasi. Peluncuran ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan dan membangun ekosistem yang lebih berkelanjutan.
Platform iklan ini telah beroperasi di 20 negara dengan jangkauan ke mayoritas pengguna aktif bulanan inDrive. Sepanjang tahun 2026, inDrive menargetkan ekspansi layanan ini ke seluruh negara tempat mereka beroperasi.
Dukungan untuk Ekosistem dan Program Sosial Communication Manager inDrive, Wahyu Ramadhan, menyatakan bahwa inDrive Ads dirancang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dalam jangka panjang. “Selain untuk kebutuhan komersial, sebagian ruang iklan juga akan dialokasikan untuk program sosial dan inisiatif komunitas internal inDrive, sehingga pesan-pesan positif dapat tersampaikan dengan biaya yang lebih efisien,” jelasnya.
Respons Pasar dan Ruang Kolaborasi Baru Respons awal pasar dinilai positif, dengan permintaan dari pengiklan dilaporkan tumbuh dua kali lipat setiap bulannya. Beberapa sektor yang menunjukkan minat tinggi antara lain e-commerce, fashion, ritel, perbankan, dan layanan keuangan.
Platform ini juga berperan sebagai jembatan antara penyedia layanan keuangan (fintech) dan pengguna. Di Kolombia, kerja sama dengan fintech Monet telah menyalurkan lebih dari 1.200 pinjaman tunai melalui aplikasi inDrive. Pola serupa juga diterapkan di Filipina dan Meksiko dengan hasil yang signifikan.
Format dan Penempatan Iklan Iklan akan muncul dalam format banner multi-dimensi dengan grafis dan animasi, yang ditampilkan di berbagai halaman strategis dalam aplikasi, seperti halaman beranda, proses pemesanan, dan setelah perjalanan selesai. Sistem pengukuran performa yang transparan memungkinkan pengiklan memantau efektivitas kampanye secara real-time.
Strategi Jangka Panjang dan Prinsip Keadilan Founder & CEO inDrive, Arsen Tomsky, menekankan bahwa diversifikasi ke lini ber-margin tinggi seperti periklanan merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan layanan. “Langkah ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi kami untuk terus menyediakan layanan yang terjangkau dalam skala luas,” ungkap Tomsky.
Chief Growth Business Officer inDrive, Andries Smit, menambahkan bahwa prinsip keadilan dan kesetaraan akses tetap menjadi fondasi dalam pengembangan produk ini. “Kami ingin menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat dan merek untuk berpartisipasi secara setara, sesuai dengan prinsip yang selama ini membedakan platform kami,” tutur Smit.
Dengan lebih dari 8 miliar transaksi yang telah difasilitasi dan operasi di 48 negara, inDrive terus bertransformasi menuju SuperApp yang mengedepankan nilai keadilan, peluang, dan pemenuhan kebutuhan riil masyarakat.
Data resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, daratan Tiongkok mencatat 244 kasus rabies dengan 233 kematian, tingkat kematian melebihi 95%. Baik jumlah kasus maupun kematian mencapai angka tertinggi sejak tahun 2020, sehingga menarik perhatian luas.
Etindonesia. Menurut laporan media daratan Tiongkok, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (China CDC) merilis data yang menyebutkan bahwa sejak penerapan langkah pencegahan dan pengendalian rabies secara komprehensif pada tahun 2006, jumlah kasus rabies di Tiongkok sempat mencapai puncak 3.300 kasus pada tahun 2007, kemudian memasuki periode penurunan selama 16 tahun.
Namun, pada tahun 2024 terjadi kebangkitan kembali, meningkat lebih dari 30% dibanding tahun sebelumnya. Hingga tahun 2025, baik jumlah kasus maupun kematian melonjak tajam, meningkat sekitar 50% dibandingkan tahun 2024.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh tiga faktor utama.
Pertama, rendahnya tingkat imunisasi hewan.
Tingkat vaksinasi rabies pada anjing peliharaan di wilayah perkotaan hanya 69,1%, sementara pada kucing hanya 30,9%. Di daerah pedesaan dan terpencil, tingkat vaksinasi bahkan kurang dari 40%, jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa tingkat vaksinasi 70% dapat memutus rantai penularan.
Kedua, penanganan pasca-pajanan yang tidak standar.
Data CDC Tiongkok menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 40 juta orang di Tiongkok termasuk kelompok yang terpapar risiko rabies. Namun, saat ini tingkat vaksinasi rabies pasca-pajanan hanya sekitar 35%. Di antara pasien dengan pajanan tingkat III (gigitan berat), tingkat penggunaan imunoglobulin rabies hanya 36%.
Ketiga, celah manajemen dan faktor sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah hewan liar meningkat tajam. Pada tahun 2025, jumlah total anjing dan kucing di wilayah perkotaan mencapai 126 juta ekor, bertambah 2,21 juta ekor per tahun, dan fenomena penelantaran hewan semakin memperparah terbentuknya rantai penularan. Terutama di wilayah perbatasan antarprovinsi yang menjadi “wilayah tanpa pengelolaan”, tumpang tindih kewenangan antarinstansi menyebabkan lemahnya pengendalian.
Seorang blogger medis menulis dalam unggahannya: “Angka vaksinasi pasca-pajanan sebesar 35% sebenarnya sudah tergolong tinggi. Menurut data, dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok setiap tahun menggunakan lebih dari 50 juta dosis vaksin rabies, rata-rata sekitar 140 ribu dosis per hari. Jumlah penggunaan vaksin rabies ini menempati peringkat pertama di dunia dan menyumbang sekitar 80% dari total penggunaan vaksin rabies global.”
“Angka ini dicapai dalam kondisi ‘tingkat vaksinasi pasca-pajanan 35%’. Jika semua orang yang tergigit benar-benar divaksin, jumlahnya akan meningkat lebih dari dua kali lipat. Bisa dibayangkan berapa banyak orang yang setiap hari terluka akibat gigitan anjing.”
Ia juga menambahkan: “Bagi manusia, suntikan vaksin rabies setelah digigit anjing adalah pilihan yang terpaksa. Namun, ini adalah pendekatan yang terbalik. Seharusnya setiap pemilik anjing dengan baik memberikan vaksin rabies hewan kepada anjing peliharaannya dan mengelola serta mengendalikan anjing tersebut dengan benar, bukan justru mengalihkan risiko kepada orang-orang yang tidak bersalah.”
Menurut informasi publik, rabies adalah penyakit menular zoonosis yang disebabkan oleh virus rabies (RABV). Virus ini terutama menyerang sistem saraf pusat. Setelah penyakit ini muncul, pasien akan mengalami gejala seperti takut air, sensitif terhadap cahaya, dan takut angin. Hingga saat ini, belum ada terapi khusus yang efektif untuk penyakit ini, dan tingkat kematiannya mendekati 100%.
EtIndonesia. Kasus tumbangnya Jenderal Zhang Youxia dan Liu Zhenli memicu perhatian luas. Sejumlah analis di luar negeri menilai bahwa perebutan kekuasaan di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memasuki tahap sangat panas.
Dalam jangka pendek, hal ini diperkirakan akan menurunkan kemungkinan PKT melancarkan serangan militer terhadap Taiwan. Namun demikian, tidak dikesampingkan bahwa Xi Jinping—demi kepentingan kekuasaan—dapat salah menilai situasi, terjebak dalam “self-hypnosis”, lalu mengambil keputusan bodoh dan gegabah yang justru mendorong Selat Taiwan menuju konflik.
Zhang Youxia yang berusia 75 tahun berasal dari kalangan “generasi merah kedua”. Ayahnya, Zhang Zongxun, adalah jenderal berpangkat tinggi pada masa perebutan kekuasaan PKT.
Zhang Youxia pernah dua kali terlibat dalam perang perbatasan Tiongkok–Vietnam. Sementara Liu Zhenli yang berusia 61 tahun juga pernah mengikuti perang Vietnam. Keduanya memiliki pengalaman tempur nyata.
Sumber internal mengungkapkan bahwa salah satu alasan kunci tumbangnya Zhang Youxia adalah karena ia secara tegas menentang penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan dalam waktu dekat pada pertemuan internal.
Ia menilai bahwa sistem pertahanan Taiwan berada tepat di bawah Israel dan bahkan lebih kuat dibanding Ukraina. Selain itu, kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat, Jepang, Australia, serta aliansi Lima Mata (Five Eyes) sangat tinggi.
Jika perang berkepanjangan dan tidak segera dimenangkan, hal itu berpotensi memicu gejolak besar di dalam PKT sendiri. Sikap ini dipandang Xi Jinping sebagai “menggoyahkan moral militer”, dan menjadi pemicu utama pembersihan terhadap Zhang Youxia.
“Xi Jinping sekarang ingin melakukan apa yang disebut sebagai operasi militer terhadap Taiwan, tetapi dalam pelaksanaannya kemungkinan akan kekurangan orang-orang yang memiliki pengalaman tempur nyata. Hal ini tentu akan mempengaruhi tindakan militernya terhadap Taiwan, bahkan mempengaruhi keseluruhan persiapan militer,” kata peneliti Madya Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Zhong Zhidong.
Pejabat keamanan nasional yang memahami sistem militer dan politik Tiongkok menyebutkan bahwa penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan sama dengan mencabut “otak politik” dan “otak operasional” Tentara Pembebasan Rakyat.
Apalagi, posisi kepala staf sulit segera digantikan, sehingga dalam jangka pendek berpotensi menimbulkan terputusnya rantai komando dan kekacauan dalam operasi gabungan. Di wilayah berisiko tinggi seperti Selat Taiwan, risiko salah perhitungan pun meningkat.
“Dalam masalah ini, semua kemungkinan tetap terbuka. Perkembangan situasi terbaru menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan di dalam militer sangatlah sengit. Posisi Xi di dalam partai dan militer pasti akan sangat melemah. Ada kemungkinan ia bertindak nekat demi menunjukkan wibawa, tetapi kemungkinan yang lebih besar adalah Xi akan sibuk memperkuat posisinya di dalam militer dan menunda petualangan militer terhadap Taiwan,” kata ekonom Tionghoa-Amerika Wen Guanzhong.
Sementara itu, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Ziyun, menyatakan : “Pada dasarnya, perang di Selat Taiwan memang tidak mudah dan berisiko tinggi gagal. Bagi Xi Jinping yang sedang mengejar masa jabatan keempat, hal itu jelas tidak menguntungkan.”
“Kini setelah ia membersihkan para jenderal senior, kemampuan komando secara keseluruhan melemah, dan ke depan tidak ada figur matang yang siap digunakan. Karena itu, kemungkinan perang kembali menurun.”
Para pakar menilai bahwa meskipun tampak seolah Xi Jinping telah menguasai militer, posisinya sebenarnya sangat berbahaya.
“Sekilas Xi Jinping tampak memegang kendali atas militer, tetapi kenyataannya situasinya sangat berisiko. Pasukan yang tersisa seolah-olah telah didorong Xi ke sudut tembok. Apakah mereka akan nekat mengambil risiko besar, itu justru menjadi kekhawatiran utama Xi Jinping sendiri,” kata Su Ziyun.
Su Ziyun juga secara gamblang menyebutkan bahwa “laras senjata, kantong uang, alat kekerasan, dan alat propaganda” PKT kini sama-sama bermasalah—dan semua itu merupakan akibat dari Xi Jinping. Julukan yang diberikan rakyat kepadanya sebagai “akselerator utama” (yang mempercepat kehancuran) dinilai sangat tepat.
Laporan wawancara oleh wartawan NTDTV Tian Xin dan reporter khusus Luo Ya.
Pada Senin (26 Januari), banyak wilayah di Amerika Serikat kembali melewati malam musim dingin yang sangat dingin, dengan pemadaman listrik yang masih meluas. Badai musim dingin yang kuat ini tidak hanya membawa hujan salju dalam skala langka ke wilayah Timur Laut, tetapi juga melapisi sebagian wilayah Selatan dengan es tebal. Jumlah korban jiwa akibat gelombang dingin ini telah meningkat menjadi 29 orang.
EtIndonesia. Salju tebal menyebabkan lumpuhnya lalu lintas di sejumlah daerah, ribuan penerbangan dibatalkan, dan sekolah-sekolah ditutup secara massal.
Dari New York dan Massachusetts di wilayah Timur Laut hingga Texas dan North Carolina di Selatan, jalanan menjadi licin akibat es, dengan ketebalan salju mencapai lebih dari satu kaki.
Badan Meteorologi Nasional AS menyatakan, wilayah di utara Pittsburgh mencatat curah salju hingga 20 inci, serta menghadapi suhu dingin ekstrem dengan wind chill mencapai minus 25 derajat Fahrenheit dari Senin malam hingga Selasa (27/1).
Hujan es yang terjadi pada akhir pekan menyebabkan dahan pohon dan kabel listrik roboh, memicu pemadaman listrik besar-besaran di Mississippi bagian utara dan sebagian Tennessee. Hingga Senin malam, lebih dari 670.000 pelanggan di seluruh AS masih mengalami pemadaman listrik.
“Malam ini akan semakin dingin. Kayu bakar saya hampir habis, dan kami masih tidak bisa keluar. Sepertinya butuh satu hingga dua minggu untuk memulihkan listrik,” ujar penduduk Nashville, Lisa Patterson.
“Sebuah jalan selama badai musim dingin di Kota New York pada 25 Januari 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times”
Penduduk Nashville lainnya, Nathan Hoffner, berkata: “Siang hari masih bisa ditahan, tapi malam hari benar-benar berat. Pagi ini saat bangun, saya melihat napas saya berubah menjadi kabut putih. Saat tidur saya memakai banyak lapisan pakaian—dua celana, kaus kaki, hoodie, jaket, bahkan memakai syal di tempat tidur. Saya juga menutupi diri dengan sekitar delapan selimut baru bisa bertahan.”
Pejabat Mississippi memperingatkan bahwa karena ini merupakan badai es terparah dalam lebih dari 30 tahun terakhir, proses pembersihan kerusakan dan pemulihan listrik bisa memakan waktu satu minggu atau lebih.
Gubernur Mississippi Tate Reeves mengatakan: “Badai es sangat berbeda dibandingkan hampir semua jenis badai lainnya. Terutama setelah lapisan es terbentuk, meskipun hujan berhenti selama 48 jam, suhu belum tentu naik di atas titik beku, sehingga menimbulkan tantangan besar dalam pengerahan sumber daya.”
Menurut data FlightAware, hingga Senin sore sekitar 5.220 penerbangan di AS dibatalkan dan lebih dari 6.500 penerbangan mengalami penundaan. Sekitar 285 penerbangan yang dijadwalkan untuk Selasa telah dibatalkan lebih awal.
Badan Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan bahwa hujan salju, hujan es, dan jarak pandang rendah telah mengganggu bandara-bandara utama, termasuk Boston dan New York.
Di tengah sapuan badai musim dingin besar “Fern”, sebuah jet bisnis pribadi yang membawa 8 orang jatuh saat lepas landas pada Minggu malam (25 Januari) di Bandara Internasional Bangor, negara bagian Maine. Insiden ini menewaskan 7 orang, sementara satu awak pesawat selamat namun mengalami luka serius.
Gelombang dingin ini telah menyebabkan 29 kematian, termasuk dua orang akibat kecelakaan kendaraan penyapu salju di Massachusetts dan Ohio; kecelakaan kereta luncur di Arkansas dan Texas; seorang perempuan di Kansas yang ditemukan meninggal di salju; serta 8 kematian di luar ruangan yang ditemukan di New York City selama akhir pekan ekstrim dingin.
Laporan kematian lainnya mencakup 4 orang di Tennessee, masing-masing 3 orang di Louisiana dan Pennsylvania, 2 orang di Mississippi, serta masing-masing 1 orang di New Jersey dan South Carolina.
Menurut perkiraan AccuWeather, badai ini berpotensi menjadi bencana alam termahal sejak kebakaran hutan Los Angeles tahun 2025, dengan estimasi kerugian awal mencapai 105 hingga 115 miliar dolar AS.
Badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang dingin yang melanda dua pertiga wilayah Amerika Serikat tidak akan segera mereda.
Akhir pekan ini, sebagian wilayah Pantai Timur AS kemungkinan akan kembali menghadapi badai musim dingin lainnya, membuat daerah yang sudah tertutup salju dan es terus bertahan di bawah titik beku.
Laporan oleh jurnalis NTD, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat
EtIndonesia. Seorang pendeta di Florida menuai kecaman karena diduga menekan para pengikutnya untuk menyumbangkan 10.000 dolar dalam 90 detik demi kesempatan menjadi milioner.
Konon, Anda harus mengeluarkan uang untuk menghasilkan uang, dan tampaknya hal itu juga berlaku untuk mukjizat ilahi. Setidaknya menurut Dr. Todd Hall, seorang pendeta Kristen populer yang, selama kotbah kenabian ADR, meminta jemaatnya untuk memberikan sumbangan kilat sebesar 10.000 dolar hanya dalam 90 detik agar Tuhan dapat mengubah mereka menjadi milioner.
“Tuhan berkata, Aku ingin menjadikan seseorang milinoer, tetapi mereka harus menabur sepuluh ribu dolar. Dan mereka harus melakukannya dalam 90 detik,” kata Hall dalam kotbah tersebut. “Tulis ceknya! Jika Anda melakukan ini, Tuhan berkata Aku akan menjadikan Anda milioner. Saya berharap itu saya!”
Dr. Todd Hall, alias ‘The Praiseologist’, adalah pendiri Shabach Ministries of Praise, Inc., Gereja Shabach di Apopka, Florida, dan The Shabach Fellowship. Ia juga seorang pengusaha dan CEO Risky Productions dan TMH Enterprises sm.
Sebagai seorang pengusaha, kemampuan untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin adalah kualitas yang patut dicontoh, tetapi Hall menganggap dirinya sebagai seorang hamba Tuhan, sehingga banyak yang melihat aksi terbarunya sebagai tindakan yang menyinggung dan bersifat eksploitatif. Desakan permintaannya dan janji untuk menjadikan para donatur milioner melalui kehendak ilahi semata dimaksudkan untuk menekan jemaat agar merogoh kocek mereka.
Video klip tersebut, yang menjadi viral minggu lalu, menunjukkan The Praiseologist di depan layar digital besar yang menampilkan kode QR berlabel Tabur Benihmu, dengan seorang penampil yang digantung dengan kawat yang dirancang untuk memperkuat pesan ilahinya. Adegan tersebut telah memicu tuduhan manipulasi dan eksploitasi, yang telah menghantui Injil kemakmuran selama beberapa waktu. (yn)
EtIndonesia. Setelah gagal ujian masuk sekolah kedokteran dua kali, seorang pemuda di India memutuskan untuk memotong kakinya sendiri agar bisa diterima melalui jalur kuota disabilitas.
Seperti ratusan ribu pemuda India lainnya, Suraj Bhaskar, seorang pemuda ambisius berusia 20 tahun dari Uttar Pradesh, bermimpi menjadi dokter dan membanggakan keluarganya. Sayangnya, persaingan yang ketat membuat mimpi itu sulit dicapai, karena dia gagal ujian masuk sekolah kedokteran NEET dua kali. Namun dia tidak membiarkan hal itu menghentikannya.
Suraj dituduh melakukan tindakan mengejutkan untuk memastikan penerimaannya di sekolah kedokteran. Polisi menduga bahwa dia memotong kakinya sendiri dan membuatnya tampak seperti korban kekerasan hanya agar bisa masuk sekolah kedokteran melalui jalur kuota disabilitas. Hukum India mewajibkan kuota 5% untuk penyandang disabilitas (PwD) di lembaga pendidikan tinggi negeri dan yang dibantu pemerintah, termasuk perguruan tinggi kedokteran.
Tindakan pemuda itu terungkap setelah kakak laki-lakinya, Akash Bhaskar, memberi tahu polisi bahwa penyerang tak dikenal telah menyerang adiknya di Desa Khalilpur, membuatnya pingsan dengan kaki yang terputus. Kasus pun didaftarkan, dan polisi meluncurkan penyelidikan yang akhirnya menemukan banyak ketidakkonsistenan dalam cerita Suraj Bhaskar.
“Tersangka mencoba menyesatkan penyelidikan dengan cerita palsu, tetapi klaimnya tidak terbukti benar selama pemeriksaan dan pengujian bukti yang berkelanjutan,” kata juru bicara polisi kepada wartawan, menambahkan bahwa mereka memiliki alasan untuk percaya bahwa Suraj telah memotong kakinya sendiri.
Polisi menemukan buku harian milik Suraj di mana dia menulis: “Saya akan menjadi dokter MBBS pada tahun 2026,” dan memperoleh pernyataan dari pacarnya tentang obsesinya untuk masuk sekolah kedokteran. Mereka juga mengetahui bahwa dia telah mencoba mendapatkan dokumen terkait disabilitas beberapa bulan sebelumnya, tetapi gagal.
Menurut laporan medis, kaki Suraj telah dipotong dengan rapi, kemungkinan besar dengan mesin. Luka tersebut terlalu bersih untuk disebabkan oleh serangan pisau yang brutal. Jarum suntik yang ditemukan di ladang dekat tempat Suraj ditemukan juga menunjukkan bahwa dia telah menggunakan anestesi untuk membius kakinya sebelum melakukan amputasi.
“Korban berulang kali mengubah pernyataannya dan mencoba menyesatkan polisi,” kata seorang petugas polisi, menambahkan bahwa Suraj Bhaskar telah dikirim ke pusat trauma untuk perawatan yang lebih baik. Kakinya belum ditemukan.
Meskipun polisi yakin bahwa pria berusia 20 tahun itu memotong kakinya sendiri untuk masuk sekolah kedokteran tanpa harus lulus ujian NEET, tindakannya sangat mengejutkan sehingga tidak ada yang benar-benar tahu tindakan hukum apa yang dapat diambil terhadapnya. Jika rencananya untuk masuk sekolah kedokteran gagal, harus menjalani sisa hidupnya dengan satu kaki mungkin sudah cukup sebagai hukuman.(yn)
Fokus Hari Ini: Mengapa Zhang Youxia Melewatkan Kesempatan Emas? Zhongnanhai Kembali Memasuki Momen Paling Bergolak yang Situasinya Tidak Kalah dengan Insiden Lin Biao pada 13 September 1971. Xi Jinping Menguras Habis Darah Terakhir dari Partai Komunis Tiongkok!
Karena pada hari Sabtu (24 Januari), Zhang Youxia dan Liu Zhenli ditangkap pada hari yang sama. Yang satu adalah Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat, dan yang lainnya adalah Kepala Departemen Staf Gabungan, Komisi Militer Pusat. Keduanya adalah tokoh penting di militer Partai Komunis Tiongkok (PKT). Penangkapan mereka berarti hanya sisa 2 dari 7 orang pejabat tinggi kunci di militer PKT, yakni Xi Jinping sendiri yang menjabat sebagai Ketua Komisi Militer Pusat berpangkat tertinggi, dan Zhang Shengmin, yang dipromosikan menjadi Wakil Ketua Komisi Militer Pusat pada bulan Oktober tahun lalu.
Oleh karena itu, banyak orang percaya bahwa telah terjadi beberapa perubahan besar dalam tubuh PKT. Untuk membahas hal ini, bersama kita saat ini adalah Shi Shan, seorang profesional media dan pembawa acara yang fokus pada perubahan kekuasaan di Tiongkok daratan.
Selain itu, juga bersama saya (Fu Yao) seorang komentator dan analis politik dan ekonomi senior bernama Qin Peng.
Jadi, mari kita mendengarkan penjelasan dari Shi Shan atas apa yang ia lihat dalam peristiwa ini, serta dampak dan perubahan terbesarnya.
Shi Shan: Cukup jelas. Pertama, Kesimpulan yang kita peroleh yaitu, ini bukan kampanye anti-korupsi, bukan korupsi internal atau soal mutasi dan rotasi biasa. Ini terkait dengan perebutan kekuasaan. Jadi, seperti sebelumnya, termasuk Jenderal He Weidong dan Miao Hua, kejatuhan mereka juga bukan karena upaya pembasmian korupsi. Mereka semua itu berkecimpung dalam sistem PKT dan memahami betul bagaimana sifat dan metode anti-korupsi dan perebutan kekuasaan internal.
Kedua, ini secara langsung membuktikan bahwa hubungan Xi Jinping dengan militer sangat buruk. Setidaknya hubungannya dengan kelompok tokoh militer teknis dan profesional yang diwakili oleh Zhang Youxia dan Liu Zhenli sangat buruk. Orang-orang dulu mengatakan mereka memiliki hubungan yang baik, bahwa mereka seperti keluarga, teman masa kecil—saya katakan, hubungan itu tidak dapat dipertahankan secara politik.
Fu Yao: Semua orang tahu bahwa Zhang Youxia-lah orang yang membantu Xi Jinping naik tahta pada Kongres Nasional PKT ke-20.
Shi Shan: Tetapi ini tidak berlaku secara politik karena situasi dapat berubah.
Ketika menyangkut perebutan kekuasaan tertinggi, tidak ada hubungan yang dapat diandalkan. Coba tengok di Tiongkok kuno, saudara dan ayah saling membunuh, tidak peduli apakah teman sejak masa kecil atau bukan. Bagi penguasa, ia takut orang lain merebut kedudukannya, membagi kekuasaannya yang menyebabkan dia kehilangan kendali. Sedangkan bagi mereka yang berada di bawahnya, mereka memiliki dua motivasi:
yang pertama adalah keinginan—untuk menduduki posisi itu. Kedua, bahkan jika mereka tidak menginginkan posisi itu, timbul rasa takut—takut dicurigai, yang dapat menyebabkan ia berada dalam posisi bahaya, sehingga timbul upaya untuk mencegah. Dan begitu bertindak, kekuasaan tertinggi akan berpikir: “Apa yang sedang kalian coba lakukan?”, pemikiran ini justru menjadi pendorong kekuasaan tertinggi bertindak lebih cepat. Dalam sejarah, sudah ada banyak contoh serupa.
Fu Yao: Apa yang baru saja Anda katakan mengingatkan saya pada pengungkapan Mr. Du Wen, mantan pejabat Mongolia Dalam yang pernah mengatakan bahwa kali ini Zhang Youxia dan Liu Zhenli ingin “mendatangkan gebrakan” untuk melengserkan Xi Jinping, di mana rencana kudeta lebih awal “tercium” oleh Xi Jinping, sehingga ia mengambil tindakan mendahului dengan menangkap keduanya. Apakah kita bisa percaya dengan pernyataan tersebut?
Shi Shan: Kami tidak dapat mengomentari detail spesifiknya, tetapi dari situasi saat ini, tampaknya tidak besar kemungkinan sebuah kudeta hanya dilakukan oleh 1 atau 2 orang jenderal militer. Ini karena militer PKT berbeda dari militer negara lain atau militer kuno. Selain mengenai sistem komando militernya, juga perlu melibatkan sistem pengawasan politik. PKT selalu mengatakan “Partai yang mengendalikan senjata,” dan ini bukan hanya slogan. Struktur organisasinya dirancang sedemikian rupa, misalnya, instruktur politik diangkat hingga ke tingkat kompi.
Oleh karena itu, saya percaya bahwa sengketa kekuasaan antara Zhang Youxia, Liu Zhenli, dan Xi Jinping bukan sekadar masalah militer, melainkan perebutan kekuasaan politik internal. Jika kita ingin menelusurinya, skenario yang paling mungkin terjadi adalah selama Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok ke-18. Pada saat itu, Xi Jinping sengaja “menjauhkan diri dari sorotan publik” untuk sementara waktu karena alasan kesehatan, dan dibutuhkan mekanisme untuk mengoordinasikan pekerjaan. Zhang Youxia, yang mewakili militer, mengambil kesempatan untuk menyingkirkan semua orang yang tidak disukainya di dalam militer.
Fu Yao: Jadi, menurut Anda apakah rumor sebelumnya tentang aliansi Zhang Youxia dengan para tetua PKT justru mengkonfirmasi keaslian peristiwa ini?
Shi Shan: Ya, saya rasa begitu. Ketika Xi Jinping mencoba untuk mengembalikan kewibawaannya yang telah melorot, ia merasa sangat sulit. Kekuasaan adalah sesuatu yang mudah dilepaskan tetapi sulit direbut kembali. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya kecurigaan dan rasa tidak aman di antara mereka, yang pada akhirnya menyebabkan pengambilan tindakan.
Fu Yao: Pertanyaan lainnya adalah, siapa sebenarnya yang menangkap Zhang Youxia? Ada yang mengatakan Wang Xiaohong, bersama dengan Biro Layanan Khusus, Biro Keamanan Pusat, dan Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin. Apakah Zhang Shengmin, yang sekarang berkuasa penuh, benar-benar terlibat? Bagaimana pendapat Qin Peng?
Qin Peng: Saya percaya informasi terkini yang menunjukkan bahwa posibilitas dari keterlibatan Biro Layanan Khusus Wang Xiaohong, Biro Keamanan Pusat, dan Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin cukup tinggi. Karena kendali Zhang Youxia atas militer berbeda dari orang biasa. Dia telah memupuk pengaruhnya selama lebih dari 50 tahun, dimulai dari dirinya masih menjabat sebagai komandan kompi dalam Perang Vietnam pada tahun 1970-an, juga ayahnya adalah seorang jenderal di militer PKT. Infiltrasi militernya sangat dalam. Selama sepuluh tahun terakhir, ia terlibat langsung dalam promosi, evaluasi, dan komando personel militer.
Dalam keadaan seperti ini, mengirim personel militer untuk menangkapnya akan menyebabkan informasi mudah tercium. Untuk menjaga kerahasiaan, tentunya pasukan khusus yang lebih diandalkan. Ini agak mirip dengan situasi di era antara Mao Zedong dan Liu Shaoqi. Mr. Shi Shan percaya bahwa selama Sidang Pleno Ketiga, Zhang Youxia dan para tetua PKT cenderung menjadikan Xi Jinping sebagai figuritas, seperti halnya Mao Zedong saat mengundurkan diri usai menggerakkan Lompatan Jauh ke Depan. Namun, Liu Shaoqi dan para “pragmatisnya” pada saat itu melakukan kesalahan fatal: di satu sisi berusaha mempertahankan Partai, di sisi lain mereka secara bersamaan mendewakan Mao Zedong.
Hal yang sama terjadi kembali, di mana sistem masih mengidolakan Xi Jinping. Ini seperti Kaisar Kangxi menangkap Ao Bai, jenderal yang memegang kendali militer dan politik yang sangat besar, namun Kangxi hanya menyuruh beberapa pegulat muda untuk menangkapnya. Kesalahan yang dilakukan Zhang Youxia adalah ia percaya bahwa dengan militer di tangannya, tidak ada pihak lain yang bisa menyentuhnya, tetapi sebenarnya ini adalah ujian masalah keberanian.
Xi Jinping yang memegang kekuasaan nominal atas Partai, pemerintah, dan militer, dapat menginstruksikan penangkapan. Begitu perintah diturunkan, mereka yang berada di tingkat akar rumput hanya dapat belajar, menyerahkan telepon mereka, dan berjanji setia—tidak seorang pun yang dapat bergerak melawannya. Ini adalah taktik Revolusi Kebudayaan ala Maois.
Fu Yao: Cukup menyedihkan, seorang Zhang Youxia yang sejak masa kecil telah bersahabat dengan Xi Jinping dengan ikatan keluarga yang dekat, menemani Xi Jinping meniti sampai ke puncak karier, saat ini harus disingkirkan. Apakah ini berarti “kartu bebas hukuman” bagi generasi kedua pejabat tinggi sudah tidak berlaku?
Shi Shan: Politik memang seperti ini. Bagaimana Zhang Youxia dan Liu Zhenli digulingkan? Seperti yang dikatakan Qin Peng, itu tidak memerlukan perbandingan kekuatan militer. Kudeta sepanjang sejarah Tiongkok tidak pernah memerlukan perbandingan kekuatan militer, sejarah sudah banyak memberikan contoh.
Tetapi sampai seluruh personel militer diperintahkan untuk mengikuti kajian, hal ini menunjukkan bahwa konflik telah meningkat sampai ke titik ekstremnya. Saya duga, skenario yang paling mungkin adalah: kedua jenderal itu dijebak dalam ruang pertemuan, setelah itu tiba-tiba muncul orang-orang dari koridor dan langsung menangkap mereka. Sebuah kejadian mirip penangkapan lewat Jamuan Makan di Hongmen pada 206 SM di Gerbang Angsa.
Fu Yao: Apa dampaknya terhadap prestise Xi Jinping? Banyak orang membandingkannya dengan Insiden Lin Biao.
Shi Shan: Setelah Insiden Lin Biao, prestise Mao Zedong anjlok, tetapi selama Mao masih hidup, tidak ada yang berani menyentuhnya. Hanya saja prestise Mao jauh melampaui Xi Jinping. Mao pernah memimpin pasukan keluar dari tumpukan mayat. Sekarang, militer diam-diam menertawakan Xi Jinping karena ia tidak pernah masuk militer, tidak pernah memegang senjata sehingga selalu “meleset dari sasaran.”
Sekarang, hampir setiap lapisan masyarakat mengkritik Xi Jinping, tetapi mereka tidak berani melakukannya secara terbuka. Sebelumnya, tidak ada orang yang berani menulis “Turunkan Mao Zedong” di dinding toilet, tetapi sekarang di internet, julukan seperti “Winnie the Pooh” dan “Baozi” muncul di mana-mana.
Qin Peng: Keputusan Xi Jinping menginstruksikan personel militer untuk mengikuti kajian, mempelajari pemikiran Xi justru membuktikan ketakutannya akan kudeta militer, dan menyadari bahwa sebenarnya ia tidak memiliki kendali penuh atas militer.
Fu Yao: Akankah terjadi kudeta militer atau “penyimpangan” di masa depan?
Shi Shan: Kecuali ada kondisi eksternal, seperti perang. Jika saat ini menyerang Taiwan, dan peluru diberikan kepada tentara, dan pesawat membawa rudal bisa saja terbang menuju Beijing alih-alih Taiwan, maka sulit untuk dilukiskan. Jadi Xi malahan lebih ragu untuk menyerang Taiwan. Maka Taiwan saat ini lebih aman.
Qin Peng: Tetapi dia akan terus memprovokasi untuk mengalihkan perhatian. Editorial surat kabar militer mengatakan bahwa kejahatan Zhang Youxia adalah “menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab Ketua Komisi Militer Pusat,” yang lebih serius daripada kasus Miao Hua dan He Weidong. “Menginjak-injak” berarti penghinaan dan serangan.
Fu Yao: Melihat kembali seluruh proses, bagaimana menurut Anda, apakah Zhang Youxia ingin merebut kekuasaan? Atau lebih untuk menyelamatkan diri?
Shi Shan: Saya pikir ia lebih cenderung untuk menyelamatkan dirinya. Pembersihan yang dilakukan Xi Jinping dimulai dari faksi Jiang Zemin dan langsung menuju para sekutunya yang telah ia promosikan, akhirnya mencapai sekutu dekat Zhang Youxia seperti Li Shangfu, dan bahkan melibatkan korupsi di Kementerian Peralatan. Xi Jinping dikenal karena berhati dingin, jarang memberikan bantuan kepada orang lain, bahkan berkecenderungan untuk mendepak mereka yang telah memenuhi tujuannya.
Zhang Youxia telah mengembangkan kekuasaannya di militer selama bertahun-tahun, menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Xi ingin He Weidong mengendalikan Zhang, tetapi gagal. Xi ingin menggunakan kampanye anti-korupsi untuk melemahkan wibawa Zhang, bahkan mempertimbangkan untuk menyingkirkannya. Pernah untuk suatu waktu Zhang Youxia tampak sangat turun semangatnya, sampai tidak menggunakan seragam atau dasinya saat menghadiri pertemuan. Itu tanda-tanda menjelang ia digeser. Kemudian, ia menggunakan kesehatan Xi yang menurun untuk melancarkan serangan balik, tetapi ia tidak berambisi untuk menggantikan Xi. Ini mungkin mencerminkan kepribadiannya, atau mungkin terkait dengan usianya. (sin/asr)
EtIndonesia. Ada seekor rubah yang suatu hari berjalan-jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba, di hadapannya muncul sebuah kebun anggur yang sangat besar. Buah-buah anggur bergelantungan lebat, masing-masing tampak ranum dan menggoda, membuat air liurnya menetes.
Kebun anggur itu dikelilingi pagar besi. Rubah mencoba menyelinap masuk melalui celah pagar, tetapi tubuhnya terlalu gemuk untuk bisa melewatinya. Maka rubah pun memutuskan untuk menurunkan berat badan agar tubuhnya menjadi lebih ramping.
Dia menahan lapar di luar kebun selama tiga hari tiga malam. Benar saja, usahanya tidak sia-sia—tubuhnya menjadi lebih kurus, dan akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kebun anggur.
Begitu berada di dalam, rubah pun berpesta pora. Anggur-anggur itu benar-benar manis dan harum!
Dia makan dengan lahap, menikmati setiap suapan.
Entah sudah berapa lama dia makan, hingga akhirnya rasa puas menyelimuti dirinya.
Namun saat dia hendak keluar dari kebun, dia menyadari bahwa tubuhnya kembali gemuk karena terlalu banyak makan. Dia pun tidak bisa lagi melewati celah pagar. Tak ada pilihan lain, rubah itu kembali berpuasa di dalam kebun selama tiga hari tiga malam, sampai tubuhnya kembali ramping seperti semula, barulah dia bisa keluar.
Setelah kembali ke dunia luar, rubah menatap kebun anggur itu dan menghela napas: “Masuk dengan perut kosong, keluar juga dengan perut kosong. Benar-benar sibuk sia-sia.”
Awalnya, saya pun mengira cerita ini ingin mengatakan bahwa manusia datang ke dunia sendirian dan pergi juga sendirian—pada akhirnya bukankah semuanya hanya kesibukan yang sia-sia?
Namun sang pencerita berkata: melihat sebuah masalah harus melihat intinya.
Cerita ini, seperti kehidupan, justru terletak pada bagian tengahnya. Lihatlah—betapa bahagianya rubah itu saat berada di dalam kebun anggur!
“Sekalipun hidup ini pada akhirnya kosong, biarlah kekosongan itu terisi penuh. Meski hidup berakhir sebagai kesibukan yang sia-sia, tetaplah sibuk dengan bahagia.”
Renungan / Hikmah Cerita
“Meski hidup berakhir sia-sia, tetaplah sibuk dengan bahagia”—sebuah pemikiran yang begitu optimistis dan penuh energi positif.
Sejak kecil, kisah rubah dan anggur sering dipahami sebagai simbol kesia-siaan. Namun kita kerap melupakan kebahagiaan dalam prosesnya.
Hidup pun demikian. Banyak orang berjuang tanpa henti demi mimpi dan kesuksesan. Mungkin hanya segelintir yang benar-benar mencapainya. Namun terlepas dari berhasil atau tidak, saat seseorang mengejar mimpinya, hidupnya sedang bercahaya.
Cahaya itulah yang menuliskan kenangan paling berharga dalam perjalanan hidup—kenangan yang membuat hidup terasa penuh, bermakna, dan layak dijalani.(jhn/yn)
Selama beberapa hari ada sekitar 3.000 orang selebriti politik dan bisnis dunia berkumpul di Kota Davos, Swiss untuk mengikuti Forum Ekonomi Dunia. Di antara mereka termasuk lebih dari 60 orang kepala negara dan pemerintahan, dan hampir 850 orang merupakan CEO dan ketua perusahaan terkemuka dunia.
Namun terlepas dari jumlah tokoh elit yang menghadiri forum di Davos, hanya ada satu protagonis: Presiden AS Trump, yang setiap gerakannya langsung memengaruhi dunia. Menurut saya, kehadiran Trump di Davos lebih bertujuan untuk “merusak acara”, yakni menanggalkan topeng globalisme.
Trump Mengguncang Davos
Meskipun penerbangan Trump ke Davos pada awalnya mengalami hambatan, tetapi ia tetap tiba tepat waktu di lokasi Forum Ekonomi Dunia yang diakui banyak orang sebagai markas besar globalisme. Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang ini tanpa hentinya mengkritik Trump. Sekarang Trump telah tiba di hadapan mereka.
Trump tiba di lokasi forum dengan menggunakan helikopter “Marine One”. Para penyelenggara telah menggelar karpet merah yang panjang untuk menyambutnya, dan mereka yang sebelumnya mengkritik Trump berbaris untuk berjabat tangan dan berfoto dengannya. Ini adalah politik realis: terlepas dari keengganan mereka, tetapi tidak seorang pun dapat mengabaikan kekuatan sejati ini dari tokoh yang dengan lantang menyatakan “America First” dan membantah pernyataan tersebut.
Berbicara tentang para elit di Davos, rasanya perlu kita tengok sejenak “humor gelap” yang terjadi di luar arena forum. Dalam dua hari terakhir, lebih dari 1.000 unit jet pribadi telah diparkir di kota kecil ini, membawa dua hingga tiga ribu orang elit yang dengan suara lantang membahas isu-isu seperti perubahan iklim dan menyelamatkan planet ini.
Di satu sisi, mereka dengan sungguh-sungguh memberi tahu orang-orang di seluruh dunia: kurangi pemanasan ruangan musim dingin ini, usahakan suhu ruangan di 13°C untuk menghindari kedinginan dan pemborosan energi. Kurangi makan daging, lebih baik mengonsumsi daging nabati. Jangan mengendarai mobil berbahan bakar bensin, naik sepeda saja. Sementara itu, rata-rata tiga atau empat orang bersama terbang ke Davos dengan jet-jet pribadi, yang mengeluarkan ribuan ton karbon dioksida.
Trump memang hadir secara khusus untuk menghadapi para munafik ini. Ia tidak hanya ingin membongkar “panggung” globalisme dan perubahan iklim, tetapi juga datang untuk memungut “jasa perlindungan” yang perlu mereka bayar.
Langkah Brilian Menaklukkan Greenland Tanpa Biaya dan Membungkam Denmark
Forum Ekonomi Dunia tahun ini berlangsung di Davos, Swiss dari 19 hingga 23 Januari 2026, tetapi Trump hanya menghabiskan 2 hari di sana, yaitu 21 dan 22 Januari. Namun, dalam dua hari tersebut, Trump mencapai dua peristiwa besar yang secara fundamental mengubah strategi dan geopolitik global.
Tepat di hari kedatangannya, berita paling mengejutkan muncul: Trump secara pribadi mengumumkan bahwa berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara dirinya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, konsensus tentang kerangka kerja untuk perjanjian masa depan Greenland termasuk wilayah Arktik telah tercapai. Ketika rencana ini diimplementasikan, baik AS dan semua anggota NATO akan mendapatkan manfaat yang signifikan.
Berdasarkan pemahaman ini, maka Trump memutuskan untuk menunda sanksi tarif yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026. Ada pun konsultasi mengenai hal-hal yang terkait rencana pertahanan strategis “Golden Dome” AS dengan pihak Greenland saat ini sedang berlangsung. Dan informasi lebih lanjut akan dirilis seiring berjalannya negosiasi.
Dunia luar menduga bahwa Trump akan menggunakan taktik “tekanan maksimal” dan “menetapkan target tinggi kendati sadar pencapaiannya di tingkat moderat.” Tetapi tidak satu pun menyangka bahwa Trump akan melakukan langkah brilian seperti ini. Dunia luar awalnya mengira Trump harus menghabiskan triliunan dolar untuk mengakuisisi Greenland, tetapi pada akhirnya ia dapat mencapai prestasi luar biasa dengan tanpa mengeluarkan sepeser pun.
Menurut laporan beberapa media Barat, Trump tidak hanya mengamankan Greenland tetapi juga mendapatkan kendali atas wilayah Arktik. Trump menyatakan bahwa “konsensus yang tercapai mengenai kerangka perjanjian di masa mendatang” itu mencakup hingga 6 poin: Pertama, Amerika Serikat akan memperoleh kendali atas beberapa “petak tanah kecil” di Greenland untuk membangun sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan pangkalan militer AS yang terkait.
Penulis memperkirakan bahwa pada akhirnya AS dapat memperoleh beberapa bidang tanah di sepanjang pantai utara Greenland untuk membangun pangkalan militernya.
Poin kuncinya adalah Trump menyatakan bahwa ia telah memperoleh tanah di Greenland, tetapi rumor sebelumnya yang terkait Trump bersedia membayar USD 700 miliar untuk mengakuisisi Greenland kini tidak lagi diperlukan. Cara yang dimainkan Trump ialah, Trump hanya peduli pada substansi, sepanjang Denmark masih ingin mempertahankan kedaulatan demi harga diri, maka tanah diperoleh tidak melalui akuisisi. Oleh sebab itu tidak perlu membayar.
Beberapa orang mungkin menganggap berisiko jika tidak melalui akuisisi, bukankah pemilik tanah bisa mengambilnya kembali? Poin kuncinya adalah: perjanjian tersebut ditetapkan dengan “tanpa batas waktu,” artinya Amerika Serikat dapat secara permanen berpijak di wilayah Arktik Greenland, untuk memperoleh akses ke seluruh Lingkaran Arktik.
Lebih lanjut, AS juga mendapatkan hak mengeksploitasi sumber daya alam di Greenland. Klausul penting lainnya dalam kerangka perjanjian 6 poin ialah bahwa perjanjian ini bertujuan untuk memblokir pengaruh Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di Greenland.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan AS tanpa mengeluarkan biaya apa pun, yang perlu dilakukan Trump hanyalah mengumumkan bahwa sanksi tarif terhadap 8 negara Eropa, yang semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026, kini ditangguhkan untuk sementara. Sekarang semua orang seharusnya mengerti soal lihainya “seni bernegosiasi” Trump, bukan?
Pada hari pertamanya di Davos, Trump mengamankan dukungan NATO untuk masalah Greenland. Jika analisis saya masih bersifat personal, maka Polymarket, sebuah platform pasar prediksi terdesentralisasi yang terkenal dengan rekam jejak yang terbukti dalam memprediksi peristiwa besar dunia, pada 22 Januari telah mengeluarkan prediksi terbarunya: Probabilitas AS memperoleh Greenland pada tahun 2026 telah meroket dari 12% sebulan yang lalu menjadi 55% hanya dalam satu hari!
Trump tiba di Davos pada hari Rabu (21 Januari), setelah mendarat ia langsung menyampaikan pidato panjang yang berlangsung lebih dari satu jam dengan penuh semangat. Bergegas pergi ke ruang konferensi pers, kemudian menghadiri pertemuan terpisah dengan para pemimpin dunia. Forum Davos praktis menjadi panggung pertunjukan pribadi Trump. Menariknya, beberapa “bom” yang ia lontarkan langsung memporakporandakan tatanan geopolitik lama.
Selama kunjungannya ke Davos, Trump mengangkat kembali uneg-uneg lama terhadap Denmark, yang mengklaim kedaulatan atas Greenland, dengan blak-blakan menyatakan bahwa saat Perang Dunia II berlangsung, Denmark hanya melawan tentara Hitler selama 6 jam sebelum menyerah kepada Jerman.
Maksud Trump jelas: Bagaimana mungkin negara yang bahkan tidak mampu melindungi dirinya sendiri mengklaim mampu membela Greenland? Trump secara blak-blakan menusuk ego Eropa yang rapuh: Jika apa yang disebut “kedaulatan dan martabat” menjadi kerentanan di bawah rudal strategis PKT dan Rusia, maka dalam menghadapi kesenjangan kekuatan absolut dan kelangsungan hidup nasional, hal itu dapat menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap keamanan global.
Dalam pidatonya, Trump juga mengungkapkan fakta sejarah bahwa selama Perang Dunia II, militer AS membela Greenland dan mengembalikannya kepada Denmark setelah perang dengan tanpa syarat.
Trump Mempermalukan PKT, Kantong Jenazah Wuhan dan Senjata PKT & Rusia Tak Berfungsi
Pengungkapan yang paling menarik datang dari penyebutan Trump tentang tidak berfungsinya senjata baru buatan PKT dan Rusia di Venezuela. Terdapat rumor bahwa Venezuela telah menggunakan sistem pertahanan buatan Rusia dan PKT, yang konon mampu mengunci target pesawat tempur AS. Namun apa yang terjadi? Trump menceritakan kisah kejadian itu seolah lelucon di Forum Davos.
Di Davos, Trump dengan langsung menuju intinya mengatakan kepada para hadirin bahwa negara-negara Barat harus menyadari bahwa “Eropa mampu melindungi dirinya sendiri” itu tidak lebih dari sebuah ilusi. Presiden Finlandia, yang baru saja menyatakan di forum tersebut bahwa Eropa tidak membutuhkan perlindungan Amerika Serikat, dengan cepat mengubah pernyataannya dalam waktu 11 menit ketika didesak oleh pertanyaan wartawan. Realitas adalah tamparan keras di wajahnya.
Mungkin rasa malu dan kesalahan Presiden Finlandia itulah yang membuat Sekretaris Jenderal NATO yang berada di dekatnya pun tak tahan lagi untuk berbicara terus terang dan bijaksana, sekaligus memberi kesempatan kepada para pemimpin Barat untuk berpikir secara mendalam.
Faktanya, Trump bukanlah satu-satunya orang yang muak dengan kemunafikan negara-negara Eropa. Bahkan Presiden Ukraina Zelensky, yang sering mengadakan pertemuan dengan mereka, juga tidak dapat mentolerirnya lagi. Di Forum Davos pada 21 Januari, Zelensky secara tidak biasa mengkritik negara-negara Eropa yang lain di mulut dan lain di hati.
Mungkin pernyataan Trump yang tajam dan “ratapan historis” Sekretaris Jenderal NATO itu telah membawa refleksi yang lebih serius bagi para pejabat Barat. Kanselir Jerman, yang sebelumnya mengkritik Trump, mulai merenungkan tindakannya sendiri, bahkan ia membenarkan bahwa “Jerman dan Eropa telah menyia-nyiakan potensi mereka,” yang sama saja dengan mengakui kegagalan dari sistem Uni Eropa.
Jika kritik Trump terhadap negara-negara Barat yang hanya berbicara tentang kebenaran politik tetapi tidak mengambil tindakan konkret, maka ketika membahas alasan kemunduran ekonomi AS di masa lalu, Trump menyebutkan untuk pertama kalinya bahwa pada tahap awal pandemi COVID-19, satelit AS menangkap gambar berupa kantong-kantong yang berisi jenazah berada di mana-mana di Kota Wuhan, Tiongkok.
Trump Membentuk Dewan Perdamaian untuk Menggantikan PBB
Setelah menyelesaikan masalah Greenland, pada hari keduanya di Davos, Trump secara resmi membentuk Dewan Perdamaian, sebuah organisasi internasional besar yang, menurut pandangan, di kemudian hari bisa jadi menggantikan fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada 22 Januari, terjadi perubahan besar dalam lanskap politik global dengan munculnya Dewan Perdamaian. Ini adalah upaya Trump untuk “meruntuhkan dan membangun kembali” sistem tata kelola global yang ada. Dari mana Dewan Perdamaian ini berasal? Ternyata Trump telah lama tidak puas dengan sifat “boros, tidak efisien, dan hanya banyak bicara” dari lembaga multilateral tradisional seperti PBB dan NATO. Dalam konflik di seluruh dunia, terutama di Jalur Gaza, birokrat PBB sering mengeluarkan pernyataan yang keras, tetapi tidak berkelanjutan.
Oleh karena itu, sebuah rencana berani terbentuk dalam benak Trump, yaitu untuk membangun platform yang “efisien dan pragmatis”. Bentuk awal dewan ini muncul dalam beberapa pertemuan pribadi yang diadakannya dengan para pemimpin dari Timur Tengah dan Eropa Timur.
Logika inti Trump adalah bahwa kedamaian tidak dapat diperoleh dengan mengemis, melainkan sesuatu yang harus “dinegosiasikan” melalui kemampuan, dan terlebih lagi, sesuatu yang harus dipaksakan keberadaannya. Ia ingin membentuk lingkaran para pemimpin yang berorientasi terhadap tindakan, bukan omongan, dengan mem-bypass PBB dan mengambil keputusan secara langsung.
Trump menggunakan Forum Ekonomi Dunia sebagai platform untuk “menobatkan” Dewan Perdamaian. Saat ini, sekitar 35 negara telah setuju untuk bergabung. Pada pertemuan perdana, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengkritik para pemimpin dunia yang hanya membaca teks yang ada lalu terlibat dalam omong kosong tentang perdamaian.
Dewan Perdamaian tidak memiliki kepresidenan bergilir dan hak veto seperti lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Anggaran dasarnya sangat lugas: ketua tunggalnya adalah Trump. Ketua memiliki hak veto absolut dan bahkan dapat mengeluarkan resolusi tanpa berkonsultasi dengan komite. Lebih lanjut, masa jabatan ketua tidak dibatasi oleh masa jabatan presiden AS, tetapi merupakan penunjukan seumur hidup, dan hanya dapat diganti dengan persetujuan bulat dari komite eksekutif jika terjadi pengunduran diri sukarela atau ketidakmampuan. Singkatnya, ketua Dewan Perdamaian adalah posisi di mana Trump masih dapat memberikan pengaruh signifikan setelah mundur dari jabatan presiden AS.
Trump merancang struktur tiga tingkat yang hierarkis dan mengutamakan efisiensi, sepenuhnya memisahkan pengambilan keputusan politik, administrasi luar negeri, dan pelaksanaan di lapangan.
Badan pengambilan keputusan di Dewan Perdamaian ini terdiri dari kepala negara dari negara-negara yang diundang (saat ini 59 negara berpartisipasi). Mereka bertanggung jawab untuk meninjau kerangka kerja keseluruhan, anggaran, dan tujuan jangka panjang.
Keanggotaan awal gratis untuk tiga tahun pertama, tetapi untuk mendapatkan keanggotaan tetap, diperlukan menyetor “biaya keanggotaan” lebih dari USD 1 miliar. Ini adalah logika bisnis Trump, yaitu perlu membayar jika ingin memiliki suara di panggung dunia. Tingkat eksekutif, atau komite eksekutif, pada dasarnya adalah otak dari seluruh organisasi. Komite ini ditunjuk secara pribadi oleh Trump dan saat ini termasuk Menteri Luar Negeri AS Rubio, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dan Presiden Bank Dunia dan lainnya. Tingkat ketiga adalah tingkat implementasi, Komite Eksekutif Gaza, yang bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana tersebut.
Yang mengejutkan, Presiden Rusia V. Putin juga termasuk yang diundang. Ketika ditanya oleh seorang reporter mengapa ia diundang meskipun ada kekhawatiran tentang potensi invasi ke Greenland, Trump memberikan jawaban yang lugas: “Saya ingin semua negara terlibat.” Ini adalah diplomasi khas Trump—menarik masuk musuh ke dalam aturan permainannya.
Dewan tersebut saat ini secara resmi dibentuk untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah, khususnya konflik Gaza, tetapi pada intinya, ini adalah “ruangan baru buat menangani urusan dunia” yang berpusat pada AS (atau lebih tepatnya, Trump sendiri) dengan mengabaikan sistem multilateral tradisional. (sin/asr)
Suatu hari, di sebuah alun-alun di Kota Taipei, Taiwan, diadakan acara penggalangan dana oleh sebuah organisasi amal. Saya datang menghadirinya, dan setelah acara selesai, saya berjalan-jalan di sekitar lokasi.
“Bapak Liu, ya?” sapa seorang pegawai toko kerajinan tangan yang mengenali saya. Dia memiringkan kepalanya sambil menunjuk saya. “Saya tahu! Bapak datang untuk menghadiri acara penggalangan dana itu.”
“Kamu juga tahu ada acara penggalangan dana di alun-alun?” tanya saya heran.
“Tentu saja! Saya juga sempat ke sana dan ikut menyumbang,” katanya sambil mengeluarkan bukti donasi. Dia lalu mengajak saya melihat-lihat barang dagangannya. “Pak Liu, beli satu ya. Saya beri harga khusus.”
Saya pun membeli satu tanpa menawar, dengan keyakinan bahwa harganya pasti wajar.
Namun baru beberapa langkah pergi, saya melihat toko kerajinan lain. Di etalasenya terpajang barang yang persis sama, tetapi harganya hanya tiga perempat dari harga yang baru saja saya bayar.
Kisah Kedua
Suatu kali, saya membeli buah di sebuah kios. Pemiliknya tidak ada, hanya ada seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun yang menjaga kios.
“Dik, dari dua jenis pir ini, yang mana lebih bagus?” tanya saya.
“Yang kanan!” jawabnya spontan sambil menunjuk, tanpa ragu.
Tak lama kemudian, sang pemilik kios datang dan menyapa saya.
Saya pun bertanya lagi: “Pak, menurut Anda saya sebaiknya membeli pir yang mana?”
“Yang kiri, tentu saja!” jawabnya cepat sambil menunjuk.
Saya tertawa kecil: “Tapi tadi adik ini bilang yang kanan lebih bagus.”
“Ting! Ini Pak Liu, teman baik! Kalau bicara harus jujur!” Tanpa peringatan, sang ayah menampar anak itu.
Baik. Cerita sudah selesai.
Sekarang kamu katakan:
Siapa yang baik? Siapa yang jahat? Siapa yang benar? Siapa yang salah?
Begitulah watak manusia—sering kali tidak ada benar dan salah yang mutlak.
Seperti kata komposer besar Wang Luobin: “Ketika seseorang memotretmu dengan kamera yang sedikit miring ke kanan, di foto itu kamu menjadi ‘kiri’. Ketika kameranya sedikit miring ke kiri, di foto itu kamu menjadi ‘kanan’.”
Kita menonton tayangan korban bencana di televisi, lalu menitikkan air mata. Ketika nomor rekening donasi muncul di layar, kita buru-buru mencatatnya dan menelepon untuk menyumbang. Kita ikut retret, pengajian, kebaktian, meditasi, atau pengakuan dosa.
Namun keesokan paginya, saat kita masuk kantor—yang harus diperebutkan tetap diperebutkan, yang harus dipertengkarkan tetap dipertengkarkan; iri hati, keserakahan, dan ego kembali muncul.
Seberapa banyak sebenarnya kita berubah? Bukankah pegawai toko kerajinan dalam kisah pertama juga demikian?
Lalu kisah kedua. Jika kamu berada di posisi saya—kamu akan percaya anak itu, atau percaya ayahnya?
Apa pun pilihanmu, tetap menyedihkan.
Jika kamu percaya anak itu, kamu bersedih karena dia berkata jujur tetapi justru dipukul, dan ayahnya berbohong di hadapannya. Jika kamu percaya ayahnya, kamu tetap bersedih—karena anak itu belajar kebohongan sejak kecil.
Mengapa anak sekecil itu sudah belajar berbohong? Siapa yang mengajarinya?
Pertanyaannya adalah: saat kita mendidik anak-anak, bukankah kita sering melakukan kesalahan yang sama?
Sesungguhnya, kita semua berada dalam siklus yang terus berulang. Tidak seorang pun tahu berapa kali dalam hidupnya ia akan melewati surga dan berapa kali ia akan jatuh ke neraka.
Bukankah demikian? Mengapa harus menunggu mati untuk masuk surga atau neraka?
Jika surga dan neraka memang ada, seharusnya kita berkata: “Orang yang selama hidupnya hatinya sering berada di surga, setelah mati mungkin juga akan menuju surga; orang yang selama hidupnya hatinya dipenuhi ‘setan’, setelah mati mungkin akan menuju neraka.”
Sesungguhnya, sepanjang hidup ini kita terus bergulat di dalam hati.
Kita hidup di neraka sambil memimpikan surga; kita hidup di surga sambil membayangkan neraka; dan lebih jauh lagi— kita hidup di surga, tetapi mendorong orang lain jatuh ke neraka.
Renungan / Hikmah Cerita
“Keras kepada orang lain, lunak kepada diri sendiri”—itulah wajah manusia.
Beberapa kisah di atas menggambarkan kesalahan yang paling sering terjadi dalam watak manusia. Dari kedua cerita, yang paling menggetarkan hati adalah kisah kedua: penjual buah.
Anak-anak adalah harapan masa depan. Sejak kecil, mereka meniru cara berpikir dan bertindak generasi sebelumnya. Berkata jujur—dipukul. Berbohong—justru dipuji.
Nilai-nilai pun terdistorsi sejak dini. Dan ketika mereka dewasa, cara mereka menghadapi masalah pun akan berangkat dari kepentingan dan keuntungan, bukan kebenaran.(jhn/yn)
EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dan kini memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Pada 26 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka mengungkapkan bahwa sejak dia memerintahkan pengerahan armada besar ke perairan dekat Iran, pihak Teheran telah berulang kali menghubungi Washington untuk mencoba membuka jalur kesepakatan.
Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa meskipun pintu diplomasi belum sepenuhnya ditutup, negosiasi hanya akan dilakukan dengan syarat-syarat tertentu. Hingga kini, tidak ada indikasi jelas bahwa Iran bersedia menerima prasyarat tersebut.
Di tengah kebuntuan diplomatik, opsi militer di Washington justru semakin menguat.
Dua Opsi Utama Trump terhadap Iran
Menurut sumber-sumber pemerintahan dan intelijen yang dikutip sejumlah media Barat, Presiden Trump saat ini tengah mempertimbangkan dua skenario utama untuk menekan Teheran:
1. Blokade Laut Total terhadap Ekspor Minyak Iran
Opsi pertama adalah blokade maritim guna menghentikan sepenuhnya ekspor minyak Iran. Strategi ini menyerupai pendekatan yang sebelumnya diterapkan terhadap Venezuela—tekanan ekonomi dilakukan secara bertahap hingga negara sasaran mengalami cekikan energi dan finansial total.
Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan perekonomian Iran tanpa harus langsung memicu perang terbuka, namun tetap membawa risiko eskalasi regional yang besar.
2. Serangan Presisi terhadap Pucuk Pimpinan Iran
Opsi kedua adalah serangan presisi terhadap kepemimpinan tertinggi Iran, yang dalam istilah militer dikenal sebagai operasi decapitation strike atau “pemenggalan kepala”.
Mantan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dalam wawancara dengan Channel 12 Israel pada 26 Januari, secara terbuka menyatakan bahwa jika Amerika Serikat mengambil langkah militer terhadap Iran, Israel harus memilih momen yang tepat untuk ikut terlibat.
“Kita perlu menyingkirkan Khamenei dan kepemimpinan Iran,” tegas Gallant.
Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa Israel tengah bersiap menjadi bagian dari skenario militer yang lebih luas.
Militer AS dalam Posisi Siap Tempur
Hingga 27 Januari 2026, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah mencapai posisi operasional yang telah ditentukan di kawasan tanggung jawab CENTCOM. Sejumlah laporan intelijen yang diterima Gedung Putih menyebutkan bahwa kepemimpinan Iran berada dalam kondisi paling rapuh sejak Revolusi Iran 1979.
Sumber militer menyebutkan bahwa jika perintah diberikan, serangan militer AS dapat dilancarkan dalam waktu satu hingga dua hari.
Pada hari yang sama, militer AS secara resmi mengumumkan bahwa CENTCOM akan menggelar latihan udara berskala besar di Timur Tengah selama beberapa hari ke depan. Latihan ini berfokus pada:
Penyebaran cepat pasukan udara
Dispersal aset militer
Dukungan tempur udara terpadu
Sejumlah analis menilai latihan tersebut berpotensi menjadi kamuflase operasional, dan tidak menutup kemungkinan berubah menjadi operasi tempur nyata dalam waktu singkat.
Ledakan di Pangkalan Militer Parchin
Situasi semakin genting setelah Iran mengonfirmasi terjadinya ledakan di fasilitas militer Parchin, sekitar 30 kilometer tenggara Teheran, pada 27 Januari.
Pangkalan Parchin merupakan lokasi strategis yang selama ini dikenal sebagai pusat:
Penelitian industri militer Iran
Uji amunisi berat
Pengujian bahan peledak dan senyawa kimia
Dalam konflik Desember 2025, fasilitas ini juga dilaporkan pernah menjadi target serangan Israel.
Sumber lain menyebutkan bahwa pada waktu yang hampir bersamaan, militer Iran tengah melakukan uji coba rudal di wilayah Teheran. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah ledakan tersebut disebabkan oleh kecelakaan teknis atau merupakan aksi sabotase maupun serangan tersembunyi.
Di sisi lain, pembom strategis Amerika Serikat yang mampu menjangkau wilayah Iran kini berada dalam status siaga lebih tinggi dari biasanya.
Media Israel Today melaporkan bahwa pengerahan pasukan AS di Timur Tengah telah sepenuhnya rampung, sementara Pentagon secara langka mengonfirmasi bahwa senjata laser generasi baru telah memasuki tahap penempatan tempur nyata.
Pengerahan Militer Skala Besar di Teluk Persia
Pada 27 Januari, Angkatan Udara AS menggelar konsentrasi kekuatan besar di kawasan Teluk Persia, dengan sasaran yang dinilai semakin jelas: Iran.
Beberapa indikator utama meliputi:
Drone MQ-4C Triton (Poseidon) melakukan pengintaian intensif di atas Teluk Persia dan pesisir Iran
Pesawat angkut berat C-5 Galaxy terpantau dalam perjalanan, diduga membawa sistem pertahanan udara Patriot
Citra satelit dari perusahaan Tiongkok menunjukkan penambahan sistem Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid
Pesawat khusus Boeing 737 BBJ berulang kali terlihat di langit Timur Tengah
Laporan dari Lebanon menyebutkan peningkatan aktivitas drone AS dan Israel di sepanjang pantai barat negara tersebut
Sistem pertahanan udara AS dari Fort Hood, Texas, kini dipindahkan ke:
Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait
Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi
Selain itu, sistem THAAD juga tengah dialihkan ke sejumlah pangkalan AS di kawasan.
Respons Iran dan Ancaman Jalur Laut Strategis
Media oposisi Iran melaporkan bahwa Masoud Khamenei, putra ketiga Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, kini mengambil alih sebagian besar urusan harian ayahnya dan muncul sebagai figur inti pengendali rezim.
Iran meningkatkan kehadiran militernya di:
Teluk Oman
Jalur laut strategis dekat Uni Emirat Arab
Drone jarak jauh Iran dikirim untuk mengumpulkan intelijen terhadap USS Abraham Lincoln. Pada saat yang sama, drone AS dan Iran dilaporkan beroperasi bersamaan di atas Selat Hormuz, meningkatkan risiko benturan langsung.
Iran dan kelompok Houthi juga disebut tengah bersiap melancarkan perang maritim asimetris di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb—dua jalur vital perdagangan global.
Lebih mengkhawatirkan, Iran memindahkan pasukan Garda Revolusi dari pangkalan resmi ke sekolah-sekolah, meniru taktik Hamas dengan menjadikan fasilitas sipil sebagai tameng manusia.
Israel mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memberi peringatan kepada UEA, Yordania, Irak, dan Arab Saudi. Jika konflik pecah, Inggris, UEA, dan Yordania diperkirakan akan membantu mencegat rudal dan drone Iran yang diarahkan ke Israel.
Sementara itu, Turki dikabarkan tengah merencanakan pembentukan zona penyangga di perbatasan Iran guna mengantisipasi potensi gelombang pengungsi jika rezim Teheran runtuh.
Isu HAM Iran dan Sikap Tiongkok Disorot
Pada 26 Januari, Perserikatan Bangsa-Bangsa meloloskan resolusi untuk menyelidiki dugaan penindasan HAM di Iran. Tiongkok memilih menentang resolusi tersebut tanpa memberikan penjelasan resmi.
Sikap Beijing menuai kritik luas di media sosial.
Sejumlah warganet menyindir: “Ketika dunia menyelidiki kekerasan, dia yang menahan peluru. Ketika orang lain mencari kebenaran, dia sibuk mematikan lampu.”
Penutup
Dengan pengerahan militer yang hampir sepenuhnya rampung, ketegangan AS–Iran kini berada di titik kritis. Dunia internasional menanti apakah tekanan ini akan berujung pada kesepakatan terakhir, atau justru menjadi awal konflik besar yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah dan jalur energi global.