Jangan Menjadi Sebuah Cangkir, Jadilah Sebuah Danau

EtIndonesia. Di sisi seorang guru besar India yang telah lanjut usia, ada seorang murid muda yang selalu mengeluh tentang hidup.

Suatu hari, sang guru menyuruh murid itu pergi membeli garam. 

Setelah murid tersebut kembali, guru itu memberi perintah kepada murid yang murung itu: “Ambil segenggam garam, masukkan ke dalam segelas air, lalu minumlah.”

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.

“Asin,” jawab murid itu sambil meringis dan meludah sedikit.

Kemudian sang guru menyuruhnya menuangkan sisa garam itu ke sebuah danau di dekat sana. Murid itu pun menuruti perintah dan menuangkan garam ke danau.

Sang guru lalu berkata:  “Sekarang, cicipilah air danau itu.”

Murid itu mengambil sedikit air danau dengan kedua tangannya, lalu mencicipinya.

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.

“Segar,” jawab murid itu.

“Apakah kamu merasakan rasa asin?” tanya sang guru lagi.

“Tidak,” jawab murid itu.

Saat itulah sang guru berkata dengan tenang: “Penderitaan dalam hidup ini seperti garam.
Jumlahnya tidak lebih dan tidak kurang—memang segitu adanya. Namun rasa asin yang kita rasakan bergantung pada seberapa besar wadah yang menampungnya.

Karena itu, ketika kamu berada dalam penderitaan, yang perlu kamu lakukan adalah meluaskan hatimu. Jangan menjadi sebuah cangkir, jadilah sebuah danau.”

Renungan / Hikmah Cerita

Dunia ini luas, namun tak ada air yang lebih asin daripada air laut. Membaca kisah yang sederhana namun penuh makna ini, membuat kita merenung akan hal tersebut.

Rasa pahit dalam hidup tidak hanya ditentukan oleh wadah penerimaan—yakni kesabaran, kelapangan hati, dan kapasitas diri seseorang—tetapi juga oleh cara kita mengelolanya.

Karena itu, selain memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kelapangan dada, manusia juga perlu kebijaksanaan untuk mengolah kepahitan dalam hati.

Seperti air laut yang tidak dapat diminum begitu saja, namun bisa menjadi air tawar melalui proses penguapan, demikian pula manusia—dengan kesadaran diri dan perenungan, kita dapat memisahkan kepahitan dari kejernihan batin, hingga hati kembali tenang dan bening hingga ke dasarnya.(jhn/yn)

OJK Cabut Izin Usaha PT BPR Prima Master Bank, LPS Siap Jalankan Penjaminan dan Likuidasi

Surabaya – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Prima Master Bank (BPR Prima Master Bank). Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-9/D.03/2026 tanggal 27 Januari 2026.

Pencabutan izin dilakukan setelah bank yang beralamat di Jalan Jembatan Merah 15-17, Surabaya, ini dinyatakan gagal melakukan proses penyehatan dan tidak lagi memenuhi persyaratan kesehatan perbankan.

Proses Panjang Menuju Pencabutan
Riwayat masalah BPR Prima Master Bank telah berlangsung cukup lama:

  • 20 Desember 2024: OJK menetapkan bank ini sebagai Bank Dalam Penyehatan (BDP) karena memiliki rasio modal (KPMM) di bawah 12% dan predikat kesehatan “Tidak Sehat”.
  • 19 Desember 2025: Statusnya ditingkatkan menjadi Bank Dalam Resolusi (BDR) setelah manajemen dan pemegang saham dinilai gagal memperbaiki kondisi permodalan.
  • 21 Januari 2026: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan tidak melakukan penyelamatan dan meminta OJK untuk mencabut izin usahanya.

LPS Akan Jalankan Fungsi Penjaminan dan Likuidasi
Dengan pencabutan izin ini, LPS akan segera mengambil alih proses sesuai Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang LPS dan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. LPS akan menjalankan fungsi penjaminan simpanan nasabah dan melakukan proses likuidasi bank.

Imbauan untuk Nasabah
OJK mengimbau seluruh nasabah PT BPR Prima Master Bank untuk tetap tenang. Dana masyarakat yang disimpan di bank tersebut tetap dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami tegaskan bahwa dana nasabah dijamin LPS. Masyarakat tidak perlu khawatir, proses penjaminan dan likuidasi akan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” disampaikan OJK dalam rilisnya.

Pencabutan izin ini merupakan bagian dari komitmen OJK dalam menjaga stabilitas dan kesehatan industri perbankan nasional, serta melindungi kepentingan nasabah.

Rusia Angkat Kaki dari Bandara Qamishli, 100 Ribu Pasukan Kurdi Terjepit di Bawah Serangan Turki

EtIndonesia. Perhatian internasional kini turut tertuju pada langkah strategis Rusia di Suriah. Pada 25 Januari 2026, militer Rusia secara mendadak menarik seluruh pasukannya dari Bandara Qamishli, sebuah titik strategis di Suriah timur laut yang selama ini menjadi pusat logistik dan garis kehidupan utama bagi pasukan Kurdi.

Menurut berbagai laporan lapangan, proses evakuasi dilakukan secara intensif sepanjang malam. Sejumlah pesawat angkut militer Il-76 terlihat lepas landas satu per satu, mengangkut personel dan perlengkapan penting. Bersamaan dengan itu, jet tempur MiG, helikopter Mi-8, serta seluruh peralatan berat dan sistem pendukung juga ditarik keluar dari pangkalan tersebut.

Setelah penarikan rampung, pangkalan Qamishli dilaporkan diserahkan kepada Pasukan Pertahanan Nasional Suriah serta unsur kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Langkah ini secara efektif meninggalkan sekitar 100.000 pasukan Kurdi yang selama ini mendapat dukungan Amerika Serikat dalam posisi terjepit, tanpa perlindungan strategis dari Rusia.

Qamishli: Titik Kunci yang Kini Hilang

Qamishli bukan sekadar bandara militer. Selama bertahun-tahun, lokasi ini berfungsi sebagai urat nadi logistik, suplai senjata, dan jalur penghubung utama bagi wilayah-wilayah Kurdi di Suriah timur laut, termasuk Kobani dan wilayah sekitarnya.

Ketika tekanan militer Turki meningkat dalam beberapa bulan terakhir, Rusia sebelumnya berperan sebagai penyeimbang kekuatan, menciptakan zona penyangga tidak resmi untuk menahan eskalasi langsung antara Turki dan pasukan Kurdi. Keberadaan Rusia di Qamishli menjadi faktor penentu yang mencegah operasi militer besar-besaran Ankara.

Namun situasi berubah drastis. Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa hubungan Kurdi dengan Washington mengalami ketegangan. Pasukan Kurdi dikabarkan telah menyerahkan sebagian sumber daya strategis, pos logistik, serta cadangan pangan kepada Amerika Serikat, sekaligus menolak permintaan AS untuk terlibat dalam potensi operasi militer terhadap Iran. Keputusan ini diyakini mempercepat hilangnya dukungan tidak langsung dari Moskow.

Moskow Menarik Diri, Kurdi Ditinggalkan

Upaya pasukan Kurdi untuk meminta bantuan Rusia setelah penarikan pasukan AS dilaporkan tidak membuahkan hasil. Presiden Rusia, Vladimir Putin disebut hanya mengizinkan evakuasi ratusan simpatisan pro-Rusia dan staf terkait, sementara puluhan ribu pasukan Kurdi dan penduduk sipil di kawasan tersebut dibiarkan menghadapi situasi yang semakin genting.

Akibatnya, Qamishli dan Kobani kini berada dalam kondisi terisolasi. Jalur suplai darat terputus, ladang minyak strategis tak lagi dapat diakses, sementara pasokan air bersih dan listrik berada di ambang krisis. Di sisi lain, amunisi pasukan Kurdi dilaporkan menipis, sementara serangan udara Turki terus berlangsung secara sporadis namun konsisten.

Upaya bantuan dari wilayah Kurdi Irak memang masih terjadi, namun bersifat terbatas dan berskala kecil, jauh dari cukup untuk mengubah keseimbangan militer di lapangan.

Manuver Presisi Putin

Banyak analis menilai langkah Rusia sebagai manuver strategis yang dingin dan presisi. Dengan menarik diri dari pangkalan non-inti seperti Qamishli, Moskow dinilai tengah menukar pengaruh taktis jangka pendek dengan jaminan keamanan jangka panjang bagi basis-basis utamanya di Suriah, yakni Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartus.

Langkah ini juga memperkuat posisi Rusia dalam negosiasi regional yang lebih luas, sekaligus mengurangi risiko terseret ke dalam konflik baru antara Turki, Kurdi, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, pasukan Kurdi kini harus menanggung konsekuensi langsung dari manuver geopolitik yang kompleks, berada di persimpangan antara kepentingan Amerika, Rusia, dan Turki—tanpa jaminan perlindungan nyata dari salah satu pihak.

Situasi di Suriah timur laut pun kian rapuh, dan banyak pihak memperingatkan bahwa kekosongan kekuatan di Qamishli dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat.

IDX Terapkan Trading Halt, IHSG Anjlok 8%

JAKARTA, 28 Januari 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah darurat dengan memberlakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1) siang. Tindakan ini diambil menyusul pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai minus 8%.

Perdagangan dihentikan sementara pada pukul 13:43:13 WIB melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan dijadwalkan akan dilanjutkan pada pukul 14:13:13 WIB, tanpa perubahan jadwal sesi berikutnya.

Dalam rilis resminya, BEI menyatakan langkah ini dilakukan untuk menjaga agar perdagangan saham berjalan teratur, wajar, dan efisien. Aturan yang menjadi dasar pemberlakuan trading halt mengacu pada Peraturan BEI Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, serta Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.

Penurunan indeks yang memicu penghentian perdagangan ini mencerminkan tekanan jual yang signifikan di pasar modal Indonesia. Trading halt umumnya diberlakukan untuk mencegah kepanikan berlebihan (panic selling) dan memberikan jeda bagi investor untuk menilai situasi secara lebih tenang.

Pasca penghentian sementara, para analis memperkirakan pasar akan tetap dihadapkan pada volatilitas tinggi. Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan berita dan laporan keuangan emiten, sembari mengelola portofolio dengan hati-hati.

Peringatan Galang Diabaikan, Pernikahan Nadia dan Timothy Tertunda Saat Ingatan Kembali

0

JAKARTA – Kebahagiaan Nadia (Marshanda) setelah selamat dari upaya pembunuhan ternyata tidak berlangsung lama. Kini, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: kehilangan ingatan dan ketidakpercayaan terhadap orang-orang terdekat, termasuk Saras (Pamela Sidarta), asisten sekaligus sahabat yang selama ini menjadi sandarannya.

Sementara Nadia berjuang mengingat masa lalunya, ayahnya justru merencanakan pernikahannya dengan Timothy (Arya Vasco), sang tunangan. Kabar itu sampai ke Galang (Stefan William), yang segera berusaha memperingatkan Nadia bahwa Timothy menyimpan bahaya. Sayangnya, Nadia yang masih dalam kondisi rapuh memilih meragukan Galang dan menutup diri dari kebenaran yang mulai mengintai.

Tak menyerah, Galang mulai menyelidiki dalang di balik upaya pembunuhan Nadia. Dari Pak Dadang, petugas kebersihan yang mematikan CCTV kantor Grand Harmonia, Galang mendapatkan petunjuk penting: nama Saras, mantan asisten Nadia yang dipecat Timothy, dan kunci pemulihan ingatan Nadia.

Setelah berhasil membujuk Saras untuk kembali terlibat, Galang dan Saras merancang strategi penyelamatan. Di tengah kemeriahan resepsi pernikahan Nadia dan Timothy, Saras menyamar sebagai vendor dan berhasil menyerahkan buku harian Nadia—catatan yang berisi rahasia kelam masa lalu, termasuk perselingkuhan Timothy.

Saat ingatan Nadia perlahan pulih, Timothy yang merasa terancam langsung mengusir Saras. Kejadian itu membuat Nadia shock hingga tak sadarkan diri, memaksa penundaan pernikahan. Rencana Timothy untuk menguasai posisi CEO pun terancam gagal.

Akankah ingatan Nadia pulih sepenuhnya? Bisakah Galang menyelamatkannya dari rencana busuk Timothy? Dan apakah Nadia akan kembali memilih cinta sejatinya?

Jawabannya dapat Anda saksikan dalam WeTV Original “Melindungimu Selamanya” Episode 7, tayang eksklusif setiap Jumat dan Sabtu pukul 18.00 WIB hanya di WeTV.

Kehidupan Bergerak di Antara Dua Kutub

EtIndonesia. Ada seorang petani yang memiliki sebidang lahan pertanian yang tandus.

Dia sering mengeluh: “Andai Tuhan membiarkanku mengatur cuaca sendiri, semuanya pasti akan menjadi lebih baik. Jelas sekali Dia tidak begitu memahami cuaca seperti apa yang dibutuhkan tanaman.”

Tuhan pun berkata kepadanya: “Aku akan memberimu waktu satu tahun untuk mengendalikan cuaca. Cuaca apa pun yang kamu inginkan, akan terjadi.”

Petani malang itu sangat gembira. 

Dia segera berkata: “Aku ingin cuaca cerah.”

Maka Matahari pun bersinar terang.

Tak lama kemudian dia berkata lagi: “Sekarang turunkan hujan.”

Dan hujan pun turun.

Sepanjang tahun itu, dia terus mengatur cuaca seperti ini—bergantian antara sinar matahari dan hujan.

Benih-benih tumbuh semakin besar, dan menyaksikan tanaman berkembang menjadi sumber kebahagiaan tersendiri baginya.

Dengan penuh kebanggaan dia berkata: “Sekarang Tuhan pasti mengerti bagaimana seharusnya mengatur cuaca!”

Tanaman-tanamannya belum pernah tumbuh sebesar ini, belum pernah sehijau ini—warna hijaunya begitu pekat dan menyejukkan mata.

Akhirnya, musim panen pun tiba.

Petani itu membawa sabitnya ke ladang untuk memanen gandum. Namun seketika hatinya terjun bebas ke dasar jurang—karena pada batang-batang tanaman itu tidak ada satu pun bulir gandum.

Tuhan datang menemuinya dan bertanya: “Bagaimana hasil panenmu?”

Petani itu mulai mengeluh: “Sangat buruk, Tuhanku. Benar-benar buruk!”

“Bukankah kamu sudah mengendalikan cuaca sesuai keinginanmu? Bukankah semua berjalan seperti yang kamu harapkan?”

“Tentu saja!” jawab petani itu bingung. “Itulah yang membuatku heran. Aku mendapatkan hujan dan matahari sesuai keinginanku, tetapi tetap tidak ada hasil panen.”

Lalu Tuhan berkata kepadanya: “Tetapi kamu tidak pernah meminta angin, badai, hujan deras, salju, atau hal-hal lain yang membersihkan udara dan membuat akar tanaman menjadi lebih kuat serta lebih tahan. Itulah sebabnya tanamanmu tidak menghasilkan apa pun.”

Hanya dengan tantangan, kehidupan bisa tumbuh.

Hanya ketika seseorang mengalami:cuaca baik dan cuaca buruk, kegembiraan dan penderitaan, musim dingin dan musim panas, kekecewaan dan kebahagiaan, ketidaknyamanan dan kenyamanan— barulah kehidupan benar-benar terbentuk.

Kehidupan selalu bergerak di antara dua kutub ini. Di antara dua kutub itulah, kita belajar menjaga keseimbangan.

Dengan dua “sayap” itulah, kita belajar bagaimana cara menjalani hidup.

Bukan hanya dalam satu hal keseimbangan itu diperlukan—dalam banyak aspek kehidupan pun demikian. Mencari titik seimbang di antara dua ekstrem sejatinya adalah salah satu ujian terbesar dalam hidup.

Renungan / Hikmah Cerita

Setelah membaca kisah ini, staf redaksi justru teringat pada jamur shiitake. Mengapa sebuah cerita kehidupan bisa mengingatkan pada jamur? Mari kami ceritakan perlahan.

Di Kabupaten Taichung, tepatnya di Kecamatan Xinshe, yang dahulu dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, banyak petani kini beralih menanam jamur shiitake. “Desa buah” pun berubah menjadi “kampung jamur”.

Dalam proses budidaya jamur, ada satu tahap penting: kantong media jamur harus dibalik selama dua hingga tiga hari, lalu dibalik kembali. Hanya dengan cara itulah jamur bisa mulai tumbuh.

Pernah ditanyakan kepada seorang petani jamur, mengapa kantong jamur harus dibolak-balik seperti itu?

Dia menjawab:“Jamur adalah makhluk yang sangat unik. Hampir semua makhluk hidup, ketika lingkungannya semakin sulit, akan tumbuh lebih lambat atau mengurangi keturunannya. Namun jamur justru sebaliknya—dia tumbuh subur dan menyebarkan keturunannya dalam jumlah besar ketika berada dalam kondisi sulit. Jika kantong jamur tidak dibalik sehingga jamur ‘merasakan ancaman’, maka jamur itu tidak akan pernah tumbuh.”

Manusia pun sama.

Jika sepanjang hidup seseorang selalu berada dalam kenyamanan, nyaris tanpa hambatan, maka hampir pasti tidak akan tumbuh daya juang.

Justru karena menghadapi rintangan demi rintangan, manusia berkembang dan berevolusi.

Karena kehidupan selalu menemukan arah baru ketika melewati cobaan.(jhn/yn)

Perang Sudah di Depan Mata? Tanda-tanda Mengerikan Bermunculan di Timur Tengah

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan berbagai media regional dan Barat pada 26 Januari 2026, konsentrasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut dinyatakan telah rampung, memicu spekulasi luas bahwa aksi militer terhadap Iran dapat terjadi dalam 24 hingga 36 jam ke depan.

Sejumlah indikator lapangan menunjukkan eskalasi tajam. Lebanon melaporkan peningkatan signifikan patroli drone Amerika Serikat dan Italia di sepanjang pantai barat negara itu. Pada saat yang sama, lalu lintas penerbangan sipil di wilayah Israel mulai terganggu, dengan banyak penerbangan internasional memutar balik atau menghindari wilayah udara Israel, menandai meningkatnya ancaman keamanan di langit Timur Tengah.

Pentagon Konfirmasi Penempatan Senjata Baru

Media Israel dan Barat mengungkapkan bahwa seluruh pengerahan militer AS kini berada dalam posisi operasional. Pentagon secara tidak lazim juga mengonfirmasi bahwa senjata otomatis generasi baru telah memasuki tahap penempatan tempur, dan dinilai sebagai elemen kunci untuk menghadapi potensi serangan jenuh drone dan rudal dari Iran maupun kelompok proksinya.

Menurut konfirmasi silang The Jerusalem Post dan sejumlah sumber intelijen, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah mencapai posisi yang telah ditetapkan dan kini menjadi poros utama daya gentar laut AS di kawasan. Kapal induk tersebut beroperasi bersama kapal penjelajah rudal dan unsur pertahanan udara, membentuk sistem serangan laut terpadu berlapis.

THAAD, Patriot, dan Iron Dome Aktif Penuh

Di darat, Amerika Serikat telah mengintegrasikan sistem pertahanan rudal THAAD yang baru dikerahkan dengan jaringan Patriot yang telah ada. Sistem ini membentuk lapisan intersepsi rudal balistik jarak tinggi dan rendah yang secara khusus diarahkan untuk menghadapi ancaman Iran.

Di Israel, pasukan AS yang dikerahkan dinyatakan sepenuhnya siap tempur, sementara militer Israel memasuki status siaga tingkat tiga. Sistem Iron Dome diaktifkan secara nasional, jet siluman F-35I berada di garis depan kesiapsiagaan, dan pesawat F-15I serta F-16 dari berbagai negara sekutu dilibatkan dalam latihan kesiapan tempur intensif selama beberapa hari terakhir.

Skala dan tempo latihan ini dinilai jauh melampaui pola pencegahan rutin, mengindikasikan persiapan nyata menuju konflik bersenjata.

Israel Siap Menyerang Balik Iran

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel pada 26 Januari 2026 menyatakan bahwa seluruh persiapan perang telah diselesaikan dan Israel siap berkoordinasi dengan pasukan AS kapan pun dibutuhkan. Para pejabat tinggi Israel menegaskan bahwa jika Iran menyerang Israel, maka serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran akan segera dilancarkan.

Sejumlah tanda tidak biasa terus bermunculan: pembatalan penerbangan sipil secara massal, patroli udara intensif AS dan Italia di Mediterania Timur, serta pergerakan pesawat pengintai yang meningkat drastis.

Koalisi Regional Mulai Terbentuk

Amerika Serikat dilaporkan telah memberi pemberitahuan kepada Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, dan Arab Saudi mengenai rencana operasi terkait. Jika konflik pecah, Inggris, UEA, dan Yordania diperkirakan akan berpartisipasi dalam operasi pertahanan udara regional, guna mencegat rudal dan drone bunuh diri Iran.

Sebagai bagian dari langkah darurat, Inggris pada 26 Januari 2026 mengerahkan empat jet tempur Typhoon ke Qatar, memperkuat postur udara koalisi bersama AS.

Iran Masuk Mode Perang: Khamenei Dipindahkan ke Bunker

Di pihak Iran, perkembangan besar juga terjadi. Setelah militer mengeluarkan peringatan serangan udara, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan telah dipindahkan secara darurat ke fasilitas bawah tanah berkeamanan tinggi di Teheran. Pengelolaan pemerintahan harian sementara dialihkan kepada Masoud Pezeshkian, yang secara luas ditafsirkan sebagai peralihan kekuasaan de facto dalam situasi perang.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan status siaga tempur penuh, dengan ribuan personel berada dalam posisi “jari di pelatuk”. Di fasilitas rudal bawah tanah yang membentang ratusan meter, sekitar 3.000 rudal dilaporkan berada dalam kondisi siap luncur, termasuk rudal hipersonik Fattah.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Iran juga memperkuat pertahanan di Selat Hormuz dan Provinsi Hormozgan, membangun jaringan tembakan anti-kapal padat. Berbagai rudal anti-kapal—termasuk Fattah, Moghadam-360, dan rudal jelajah berat Abu Mahdi—dilaporkan telah ditempatkan di garis depan.

Selat Hormuz merupakan jalur vital dunia, dengan lebih dari 17 juta barel minyak per hari melintas. Gangguan kecil saja berpotensi mengguncang pasar energi global. Tak heran, kabar ini langsung memicu lonjakan harga minyak jangka pendek dan membuat perusahaan pelayaran internasional menilai ulang risiko rute mereka.

AS Tingkatkan Tekanan, Iran Balas dengan Ancaman Asimetris

Dalam 48 jam terakhir hingga 26 Januari 2026, lebih dari 45 penerbangan militer C-17 AS tercatat bolak-balik ke Timur Tengah, mengangkut personel dan peralatan kunci—pola yang oleh analis disebut sebagai ritme pra-perang klasik.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan akan mempertahankan kehadiran militer yang diperlukan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, meski tidak merinci langkah lanjutan.

Para analis menilai strategi Iran bersifat asimetris dan terukur. Menghadapi keunggulan mutlak AS dalam kapal induk dan kekuatan udara, Teheran memilih memanfaatkan rudal, drone, dan kendali titik geografis strategis untuk memperbesar risiko dengan biaya relatif rendah.

Israel Sudah Lebih Dulu Menyalakan Api

Di luar konfrontasi langsung AS–Iran, Israel telah lebih dahulu meningkatkan eskalasi. Dalam hitungan jam pada akhir Januari 2026, Israel melancarkan 14 serangan udara besar-besaran terhadap target Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, termasuk di wilayah Maidan dan Jabal. Serangan ini dipandang sebagai pembersihan awal medan perang, guna melemahkan proksi Iran di utara.

Jika perang terbuka AS–Iran benar-benar pecah, para pengamat menilai Israel hampir pasti akan memperluas operasi ke Lebanon, Suriah, dan wilayah lain yang menjadi basis kelompok bersenjata pro-Iran.

Kesimpulan: Jendela Waktu Sangat Sempit

Dengan seluruh elemen militer berada di posisi siap tempur, 24 hingga 36 jam ke depan dipandang sebagai jendela waktu kritis. Satu keputusan politik atau satu insiden kecil saja berpotensi memicu konflik regional besar—dengan dampak global terhadap keamanan, energi, dan stabilitas dunia.

Timur Tengah kini berdiri di tepi jurang sejarah. Dunia menunggu: apakah perang akan meledak, atau masih ada ruang bagi penahanan terakhir?

2026, Tahun Penentuan: Zhang Youxia, Xi Jinping, dan Perang Internal Militer

EtIndonsia.  Panggung politik dan militer Tiongkok diguncang oleh peristiwa besar yang jarang terjadi. Pada 24 Januari 2026, pemerintah Tiongkok secara tiba-tiba mengumumkan penangkapan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), bersama Liu Zhengli, Kepala Staf Gabungan CMC, serta 17 perwira tinggi aktif lainnya.

Penangkapan ini langsung mengguncang struktur komando militer Tiongkok dan memicu spekulasi luas, baik di dalam maupun di luar negeri, mengenai krisis politik serius di tingkat elite Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Laporan Wall Street Journal: Tuduhan yang Mengguncang Dunia

Sehari setelah penangkapan tersebut, pada 25 Januari 2026, media Amerika Serikat, The Wall Street Journal (WSJ) menerbitkan laporan eksklusif yang mengungkap isi sebuah rapat pengarahan internal di Tiongkok yang berlangsung pada hari Sabtu sebelumnya.

Dalam rapat tersebut, disebutkan bahwa:

  • Zhang Youxia diduga menerima suap besar-besaran saat berperan dalam pengangkatan Li Shangfu sebagai Menteri Pertahanan.
  • Tuduhan yang jauh lebih serius muncul: Zhang Youxia dituduh membocorkan rahasia senjata nuklir Tiongkok kepada Amerika Serikat, sehingga dikategorikan sebagai kejahatan bersekongkol dengan kekuatan asing.

Meski WSJ dikenal memiliki kredibilitas tinggi, laporan ini tetap harus dibaca dengan sangat hati-hati, mengingat sensitivitas ekstrem isu politik dan keamanan internal PKT.

Sekutu Lama Xi Jinping, Kini Musuh?

Pertanyaan besar pun muncul: Apakah Zhang Youxia benar-benar mata-mata Amerika Serikat?

Secara historis, Zhang Youxia justru dikenal sebagai sekutu militer paling tepercaya Presiden Xi Jinping. Hubungan keduanya berakar jauh ke masa awal perjuangan PKT. Ayah Xi Jinping, Xi Zhongxun, dan ayah Zhang Youxia, Zhang Zongxun, adalah rekan seperjuangan dekat—yang satu menjabat sebagai komandan militer, sementara yang lain sebagai komisaris politik.

Setelah Xi Jinping berkuasa, Zhang Youxia menjadi pilar penting dalam konsolidasi kekuasaan Xi di tubuh militer dan mendukungnya selama lebih dari satu dekade. Hingga sebelum Kongres Nasional PKT ke-20, tidak tampak adanya retakan terbuka di antara keduanya.

Akar Konflik: Skandal Pasukan Roket 2023

Retakan pertama yang nyata justru muncul pasca-kongres, melalui kasus besar Pasukan Roket PLA pada 2023. Dalam penyelidikan tersebut:

  • Wei Fenghe dan Li Shangfu, dua mantan Menteri Pertahanan, dijerat kasus korupsi besar-besaran.
  • Keduanya sebelumnya bertugas di Departemen Peralatan Umum, di mana Zhang Youxia adalah atasan langsung mereka hingga tahun 2017.

Militer Tiongkok secara terbuka menyatakan bahwa penyelidikan ditarik mundur hingga tahun 2017—sebuah sinyal yang secara halus namun tegas mengarah langsung ke Zhang Youxia.

Pesan Xi Jinping saat itu dianggap sangat jelas: “Saya sudah menangkap orang-orang kepercayaan lama Anda.”

Sejumlah analis menilai bahwa bukti korupsi terhadap Zhang Youxia sebenarnya telah berada di tangan Xi sejak 2023, namun sengaja ditahan—seperti pedang yang digantung di leher, menunggu waktu dijatuhkan.

Mengapa Bertindak Sekarang?

Dua detail penting dari laporan WSJ menguatkan dugaan ini:

Pertama, tuduhan suap terhadap Zhang Youxia diumumkan hanya beberapa hari setelah penangkapan. Ini sangat tidak lazim, mengingat kasus pejabat militer setingkat ini biasanya membutuhkan berbulan-bulan penyelidikan. Sebagai perbandingan, kasus Wei Fenghe dan Li Shangfu memakan waktu lebih dari enam bulan sebelum diumumkan secara resmi.

Kedua, Xi Jinping dilaporkan telah mengirim tim investigasi khusus ke Shenyang, untuk menyelidiki masa jabatan Zhang Youxia sebagai Komandan Wilayah Militer Shenyang (2007–2012). Para penyelidik bahkan tidak tinggal di fasilitas militer, melainkan di hotel, sementara perangkat komunikasi sejumlah jenderal yang memiliki hubungan dekat dengan Zhang dan Liu disita.

Hal ini menunjukkan bahwa periode Shenyang belum pernah diselidiki secara tuntas sebelumnya, dan kini menjadi fokus utama.

Bahasa Xinhua: Isyarat Kudeta?

Pernyataan resmi Xinhua pada 24 Januari 2026 menggunakan bahasa yang sangat keras, antara lain menyebut:

“Secara serius merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer, melemahkan kepemimpinan mutlak partai atas militer, membahayakan fondasi kekuasaan partai, dan mengguncang persatuan ideologis seluruh tentara.”

Dalam struktur PKT:

  • Ketua Komisi Militer = Xi Jinping
  • Pusat Partai = Xi Jinping

Artinya, Zhang Youxia dan Liu Zhengli dituduh secara langsung menantang otoritas Xi Jinping, membuka kemungkinan dugaan upaya kudeta atau ancaman kudeta internal.

Rangkaian Besar: 2023–2026

Banyak pengamat menilai kasus ini sebagai bagian dari rangkaian panjang:

  • 2023: Skandal Pasukan Roket — awal konflik
  • 2025: Kejatuhan sembilan jenderal, termasuk Miao Hua dan He Weidong, tokoh dekat Xi
  • 2026: Penangkapan Zhang Youxia — babak penentuan

Rumor sepanjang tahun 2025—meski belum terkonfirmasi—menyebutkan bahwa Xi Jinping sempat mengalami gangguan kesehatan serius, menciptakan kekosongan kekuasaan sementara yang diduga dimanfaatkan untuk manuver internal.

Bukan Amerika, Tapi Politik Hidup dan Mati

Tuduhan “bersekongkol dengan kekuatan asing” bukanlah hal baru dalam sejarah PKT. Tokoh-tokoh seperti Peng Dehuai di masa lalu pernah dijatuhkan dengan tuduhan serupa tanpa bukti transparan.

Secara logika, banyak analis meragukan bahwa Zhang Youxia benar-benar menjual rahasia nuklir ke Amerika Serikat. Tuduhan tersebut dinilai lebih sebagai alat politik untuk menghancurkan lawan.

Kesimpulan yang paling banyak dipegang para pengamat:

Kasus Zhang Youxia bukan tentang Amerika, bukan semata korupsi, melainkan pertarungan kekuasaan hidup dan mati di jantung PKT.

Ke Depan: Pembersihan Besar-besaran

Penangkapan Zhang Youxia diperkirakan belum menjadi akhir. Militer Tiongkok sangat mungkin akan memasuki fase pembersihan besar-besaran, dengan semakin banyak jenderal berpotensi tumbang.

Dunia kini menunggu: siapa berikutnya?

Penangkapan Jenderal Zhang Youxia Mengguncang Moral di Dalam Komando Militer Pusat

Penangkapan Ini Menimbulkan Kekhawatiran tentang Potensi Pemberontakan Selama Masa Perang

Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli yang terjadi secara bersamaan, memunculkan berbagai versi mengenai detail penangkapan mereka. Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai versi tersebut, peristiwa ini telah menyingkap kekacauan dan gejolak serius di internal elite kekuasaan. 

Saat ini, keluhan rakyat, ketidakpuasan tentara, dan kekecewaan aparat di Tiongkok sangat mendalam. Sejumlah analis menilai bahwa kasus Zhang Youxia dipandang sebagai langkah kunci yang menandai pergeseran sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh, sekaligus menunjukkan bahwa struktur kepercayaan di dalam kelompok penguasa PKT telah sepenuhnya runtuh.

EtIndonesia. Pada 24 Januari sore, anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua KMP Zhang Youxia, serta anggota KMP dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli, secara resmi diumumkan “jatuh” dan disebut “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum serius”, sehingga dikenai pemeriksaan dan penyelidikan resmi.

Malam itu juga, surat kabar militer PKT menerbitkan tajuk rencana yang mengecam Zhang dan Liu dengan bahasa yang sangat keras, menuduh mereka “secara serius mengkhianati kepercayaan dan amanah Partai dan Komisi Militer Pusat”, “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer”, serta “membahayakan fondasi kekuasaan Partai”.

Media Epoch Times mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa penilaian politik awal terhadap Zhang dan Liu bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa, melainkan dituduh “memecah Komisi Militer Pusat”, yang secara langsung menyentuh isu sistem tanggung jawab ketua KMP dan kepemilikan kekuasaan komando tertinggi. Dalam konteks politik militer saat ini, tuduhan semacam itu berarti kasus tersebut telah dinaikkan ke tingkat politik tertinggi.

Sumber yang mengetahui situasi menyebutkan bahwa penanganan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah menimbulkan guncangan nyata di dalam militer. Sejumlah perwira menengah dan senior diminta mendadak untuk menghentikan cuti, membatalkan agenda yang telah direncanakan, dan diperintahkan untuk “siaga di tempat”. Pada saat yang sama, sistem komando, propaganda, dan pernyataan politik di tubuh militer diperketat secara serempak, sehingga suasana keseluruhan menjadi sangat tegang.

Sebagai dua tokoh tertinggi di jajaran militer PKT, tumbangnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan mengejutkan opini internasional. Peristiwa ini juga menandai bahwa pertarungan internal di tingkat elite PKT telah sepenuhnya “membuka topeng”, tanpa lagi menyisakan ruang kompromi. Arah masa depan politik Tiongkok pun menjadi sorotan dunia luar.

Komentator politik Xiao Yang dalam artikelnya di Epoch Times pada 26 Januari menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Xi Jinping, logika pemerintahan Tiongkok telah jelas bergeser dari “otoritarianisme berorientasi pembangunan” menuju “totalitarianisme defensif”. 

Ia menyebut, stabilitas tidak lagi menjadi sarana, melainkan tujuan itu sendiri; keamanan tidak lagi melayani operasi sosial, tetapi ditempatkan di atas segalanya. Kekuasaan politik memasuki kondisi ketegangan ekstrem—takut pada masyarakat di dalam negeri, takut pada dunia luar, takut pada sejarah, takut pada rakyat, bahkan takut pada legitimasi dirinya sendiri. Situasi “segala sesuatu terasa seperti musuh” ini justru merupakan tanda awal keruntuhan sistem.

Penulis menyatakan bahwa pembersihan terhadap elite militer, terlebih yang melibatkan Wakil Ketua KMP yang sedang menjabat seperti Zhang Youxia, melepaskan sinyal yang sangat berbahaya—yakni bahwa perebutan kekuasaan di tingkat tertinggi PKT telah mendekati fase “saling tidak bisa ditoleransi”. 

Ketika sebuah rezim mulai saling mencurigai dan saling membersihkan di dalam kekuatan bersenjata tertingginya, itu menandakan bahwa struktur kepercayaan internal kelompok penguasa telah sepenuhnya hancur.

Penulis menambahkan bahwa di bawah Xi Jinping, PKT kini tidak hanya “mewaspadai masyarakat”, tetapi mulai mewaspadai orang-orangnya sendiri. Ketika inti kekuasaan tidak lagi mampu menoleransi keberadaan kekuatan berbeda di dalam internalnya, sistem tersebut pada hakikatnya telah memasuki tahap keausan internal yang parah dan kemunduran yang tidak dapat dipulihkan. 

Pemerintahan yang selalu waspada dan penuh ketakutan menjadi tak terhindarkan. Inilah yang disebut sebagai “era akhir PKT”—kediktatoran satu orang dengan hilangnya sepenuhnya dukungan rakyat.

Dalam artikel lain, komentator politik Ding Lvkai berpendapat bahwa tumbangnya Zhang Youxia bukan sekadar akhir politik seorang jenderal senior, melainkan menandai perubahan kualitatif dalam logika pengoperasian kekuasaan militer PKT. 

Ding menyebut, hilangnya lapisan “penyangga struktural” yang diwakili oleh Zhang sangat mungkin dipandang sebagai langkah kunci yang mendorong sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh. Sejarah sering kali tidak mengumumkan akhir sebuah rezim lewat keruntuhan yang dramatis, melainkan melalui keputusan-keputusan teknis yang tampak biasa, namun diam-diam mengubah arah.

Sejak Xi Jinping berkuasa, ekonomi Tiongkok terperosok ke dalam kesulitan, pertikaian elite semakin tajam, dan banyak pejabat PKT memilih sikap “pasrah”. Ketidakpuasan terhadap Xi merambah seluruh lapisan masyarakat. Di kalangan rakyat, suara yang mengecam Xi, menentang Xi, menyerukan kejatuhan Xi, dan menuntut Xi turun dari jabatan terus bermunculan.

Komentator independen Du Zheng dalam artikelnya di media Taiwan Up Media pada 25 Januari menulis bahwa sebelumnya para loyalis militer Xi Jinping—seperti He Weidong dan Miao Hua dari “faksi Fujian”—telah kalah dalam perebutan kekuasaan dengan Zhang Youxia dan akhirnya tersingkir. Kali ini, menurutnya, langkah Xi Jinping pada dasarnya merupakan tindakan balas dendam terhadap Zhang Youxia.

Penulis menyebutkan bahwa setelah tumbangnya He Weidong dan Miao Hua, kini Zhang Youxia dan Liu Zhenli kembali diselidiki, yang berujung pada guncangan serius dalam moral militer. Hal ini tentu berdampak pada Zona Komando Tengah yang bertugas melindungi Beijing.

Dalam tulisan sebelumnya, penulis juga menyinggung bahwa sejumlah perwira lapis bawah di beberapa zona komando merasa marah akibat korupsi di tingkat atas atau karena elite sibuk bertarung secara internal. 

Potensi pemberontakan militer bisa terakumulasi di bawah tekanan tinggi, dan dalam situasi perang dapat meletus menjadi pemberontakan tentara. Jika pasukan yang bertugas melindungi ibu kota, bahkan Zhongnanhai, mengalami pemberontakan, maka hal itu akan langsung mengancam posisi Xi Jinping.

Penulis menegaskan bahwa keluhan rakyat, tentara, dan pejabat di Tiongkok saat ini semakin parah. Setelah Xi Jinping memasuki masa jabatan ketiga, ekonomi jatuh ke dalam krisis serius, kontrol politik semakin diperketat, dan pembersihan internal kian intensif. 

Baik PKT maupun Xi Jinping telah menjadi sasaran penentangan, baik di dalam maupun di luar sistem. Terlebih sejak paruh akhir 2025, marak fenomena warganet “menabrak menara” (menantang sensor), di mana di bawah pengawasan ketat PKT, banyak orang mencari cara untuk melawan dengan berbagai metode tersembunyi dan relatif aman, mengejek sistem politik dan mengejek Xi Jinping.

Penulis menutup dengan menyatakan bahwa dalam situasi seperti ini, meskipun Xi Jinping memiliki bunker nuklir militer PKT di Xishan, Beijing, untuk menghindari serangan mendadak militer AS, kemarahan para prajurit di sekelilingnya justru bisa menjadi ancaman yang lebih sulit diantisipasi. Sepanjang sejarah, baik di Timur maupun Barat, tidak sedikit penguasa lalim yang akhirnya tumbang dengan cara seperti ini. (Hui)

Tang Zheng

Berharganya Menggenggam Tangan Kiri dengan Tangan Kanan

EtIndonesia. Suatu hari, di sebuah meja jamuan minum, ketika suasana mulai hangat dan wajah-wajah memerah karena pengaruh alkohol, seorang pria melontarkan celetukan setengah bercanda:

“Menggenggam tangan wanita penghibur, rasanya seperti kembali ke usia delapan belas atau sembilan belas tahun; menggenggam tangan adik ipar, menyesal dulu pernah salah menggenggam tangan; menggenggam tangan kekasih, terasa aliran hangat mengalir ke hati; menggenggam tangan teman perempuan semasa sekolah, menyesal dulu tidak berani melangkah; tapi menggenggam tangan istri… rasanya seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.”

Orang-orang di meja pun tertawa.

Namun, seorang wanita paruh baya yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara:“Ungkapan ‘tangan kiri menggenggam tangan kanan’ itu justru sangat tepat.”

Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya.

Wanita itu melanjutkan dengan tenang: “Menggenggam tangan orang lain—entah itu memabukkan atau mengguncang jiwa—setelahnya bisa saja dilepaskan dan dibuang.
Tetapi tangan kiri atau tangan kanan, jika salah satunya hilang, hidup pun akan pincang selamanya.”

Seseorang yang masih memiliki kedua tangannya dengan utuh, jika memandang pernikahan dan hidup dengan sikap seperti ini, sejatinya menyimpan sebuah kebanggaan yang sunyi di dalam dirinya.

Karena hanya ketika seseorang kehilangan salah satu tangannya, barulah dia sungguh-sungguh memahami betapa berharganya menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan.

Saat seseorang tanpa sadar menggenggam tangan kirinya dengan tangan kanan, akan muncul rasa memiliki yang alami—sebuah rasa aman dan kepenuhan yang nyata, bukan semu.

Pernikahan yang seperti “tangan kiri menggenggam tangan kanan” memiliki ketenangan yang panjang dan jernih, bagaikan air musim gugur yang mengalir tanpa riak.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, orang-orang di dalam pernikahan akan mengalami berbagai ketidakberdayaan dan kebingungan. Sudut-sudut tajam kepribadian perlahan terkikis, dan gairah pun memudar.

Namun perasaan yang tersembunyi di lipatan-lipatan pikiran, yang melekat di rambut yang mulai memutih, justru tetap mampu menyentuh hati dan memikat jiwa.

Tangan siapa pun, setelah ditempa oleh badai usia dan kerasnya waktu, lambat laun akan kehilangan daya tarik yang dulu pernah dimilikinya.

Pada dasarnya, perjalanan dari cinta bebas menuju pernikahan adalah proses dari gemerlap menuju kesederhanaan. Yang tersisa hanyalah hari-hari biasa—hari-hari seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.

Mungkin tidak lagi mendebarkan, tidak lagi romantis, tetapi jauh lebih nyata dan dapat diandalkan dibandingkan “menggenggam tangan orang lain”.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pria hanya akan merasa tenang dan akrab terhadap istrinya apabila dia telah menyiapkan perasaan seperti tangan kiri menggenggam tangan kanan.

Sesungguhnya, para pria pun paham:“Menggenggam tangan wanita penghibur itu mahal,
menggenggam tangan kekasih itu melelahkan.”

Hanya tangan istri yang setia menemani—dalam kegagalan maupun keberhasilan—yang akan tanpa syarat memberikan kelembutan seumur hidup.

Dan ketika suatu hari segalanya telah berlalu, ketika kabut kehidupan telah menghilang, jika seorang pria dan wanita masih mampu saling menggandeng tangan hingga akhir perjalanan hidup, maka itu bukan lagi sekadar kesederhanaan.

Itulah keindahan hidup yang abadi, tak lekang oleh waktu.

Renungan / Hikmah Cerita

Kata-kata bisa diucapkan oleh siapa saja, tetapi tidak semua orang mampu mengucapkannya dengan bijak. Banyak orang, jika mendengar pasangan atau lawan jenis berkata seperti itu, mungkin akan langsung membantah—dan pertengkaran pun tak terelakkan.

Namun mampu merespons dengan cara yang ringan, menenangkan, dan penuh makna, bukan hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.

Menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan memang terlihat biasa, bahkan membosankan. Namun justru di sanalah tersembunyi kebahagiaan yang paling berharga.(jhn/yn)

Hukum Baru Taliban Melegalkan Perbudakan di Afghanistan, Memberikan Kekebalan Hukum kepada Para Mullah

EtIndonesia. Taliban secara resmi telah memperkuat sistem peradilan berbasis kelas di Afghanistan di bawah Kode Prosedur Pidana yang baru diberlakukan dan ditandatangani oleh pemimpin tertingginya, Hibatullah Akhundzada, sebuah langkah yang telah memicu kemarahan di antara organisasi hak asasi manusia dan memperbarui kekhawatiran internasional atas arah tatanan hukum dan politik negara tersebut.

Kode baru tersebut, yang dikeluarkan pada 4 Januari 2026 dan diedarkan ke pengadilan di seluruh negeri, telah diperoleh oleh Rawadari, sebuah organisasi hak asasi manusia Afghanistan yang memantau pelanggaran dan mengadvokasi akuntabilitas. Meskipun dokumen tersebut mencakup 119 pasal di tiga bagian dan 10 bab, para kritikus mengatakan salah satu fitur yang paling mengkhawatirkan adalah legalisasi eksplisit hierarki sosial dalam sistem peradilan itu sendiri.

Pembagian Berdasarkan Hierarki

Di tengah kontroversi terdapat Pasal 9, yang membagi masyarakat Afghanistan menjadi empat kategori: ulama, kaum elit, kelas menengah, dan kelas bawah. Di bawah sistem ini, hukuman untuk kejahatan yang sama tidak lagi ditentukan terutama oleh sifat atau beratnya pelanggaran, tetapi oleh status sosial terdakwa.

Menurut undang-undang tersebut, jika seorang ulama melakukan kejahatan, tanggapannya terbatas pada nasihat. Jika pelaku termasuk dalam kaum elit, konsekuensinya adalah panggilan ke pengadilan dan nasihat. Bagi mereka yang termasuk dalam apa yang disebut kelas menengah, pelanggaran yang sama mengakibatkan hukuman penjara. Tetapi bagi individu dari “kelas bawah”, hukumannya meningkat menjadi penjara dan hukuman fisik.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan ketentuan ini secara efektif memberikan kekebalan hampir total kepada ulama dan tokoh agama dari pertanggungjawaban pidana yang berarti, sementara mengekspos warga Afghanistan yang lebih miskin dan terpinggirkan pada hukuman yang lebih keras dan lebih kejam.

“Ini bukan sistem peradilan; ini adalah hierarki hak istimewa yang dikodifikasi secara hukum,” kata Rawadari dalam sebuah pernyataan, memperingatkan bahwa kode tersebut menghancurkan prinsip kesetaraan di hadapan hukum dan menggantinya dengan diskriminasi yang dilembagakan.

Kembalinya Perbudakan?

Para ahli hukum mencatat bahwa langkah ini menandai penyimpangan tajam bahkan dari konsep dasar hukum pidana modern, di mana hukuman seharusnya proporsional dengan kejahatan dan berdasarkan tanggung jawab individu, bukan latar belakang sosial. Sebaliknya, kode baru Taliban secara terbuka merangkul stratifikasi sosial sebagai prinsip hukum, mengubah pengadilan menjadi instrumen untuk melestarikan dan menegakkan tatanan sosial yang kaku.

Sistem berbasis kelas ini diperparah oleh elemen lain yang sangat kontroversial—referensi berulang kode tersebut terhadap orang “bebas” dan “budak”.

Dalam beberapa pasal, termasuk ketentuan tentang hukuman, hukum tersebut secara eksplisit membedakan antara individu yang bebas dan yang diperbudak, sebuah terminologi yang menurut para pembela hak asasi manusia sama dengan pengakuan hukum atas status yang benar-benar dilarang berdasarkan hukum internasional. Perbudakan dilarang dalam semua keadaan berdasarkan norma-norma hukum internasional yang mutlak, namun kode hukum Taliban memperlakukannya sebagai kategori hukum yang normal.

Kata-kata Lebih Penting daripada Bukti?

Di luar hierarki sosial, Kode Prosedur Pidana yang baru juga menghilangkan banyak perlindungan dasar dari proses hukum yang adil. Dokumen tersebut tidak mengakui hak untuk mendapatkan pengacara pembela, hak untuk tetap diam, atau hak untuk mendapatkan kompensasi atas hukuman yang salah. Dokumen ini sangat bergantung pada “pengakuan” dan “kesaksian” sebagai cara utama untuk membuktikan kesalahan, sementara menghilangkan persyaratan untuk penyelidikan independen dan gagal menetapkan hukuman minimum dan maksimum yang jelas untuk kejahatan.

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa kerangka hukum ini secara dramatis meningkatkan risiko penyiksaan dan pengakuan paksa, terutama dalam sistem di mana hakim dan penegak hukum beroperasi tanpa pengawasan atau akuntabilitas.

Kode tersebut juga secara signifikan memperluas penggunaan hukuman fisik, termasuk cambuk, dan memperkenalkan pelanggaran yang didefinisikan secara samar seperti “menari” atau hadir dalam “pertemuan korupsi”, memberikan hakim wewenang yang luas untuk menahan dan menghukum orang karena kegiatan budaya atau sosial biasa.

Sebuah Tantangan Hak Asasi Manusia

Namun, bagi banyak pengamat, formalisasi keadilan berbasis kelas merupakan sinyal paling jelas bahwa Taliban tidak hanya memberlakukan hukum yang keras, tetapi juga merekonstruksi seluruh sistem hukum di sekitar hak istimewa, loyalitas, dan status keagamaan. 

“Dengan menempatkan ulama dan elit agama di atas hukum, Taliban secara efektif mengumumkan bahwa sebagian orang tidak boleh disentuh, sementara yang lain dapat dibuang selamanya,” kata Rawadari.

Organisasi tersebut menyerukan penangguhan segera implementasi kode tersebut dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional untuk menggunakan semua mekanisme hukum dan diplomatik yang tersedia untuk mencegah penegakannya. Mereka juga berjanji untuk terus memantau situasi dan menerbitkan laporan berkala tentang bagaimana kerangka hukum baru tersebut digunakan dalam praktiknya.

Seiring dengan semakin terisolasinya Afghanistan dan semakin dalamnya penindasan internal, para kritikus mengatakan bahwa kode pidana baru tersebut mengirimkan pesan yang tegas – di bawah pemerintahan Taliban, keadilan tidak lagi buta, melainkan berlapis-lapis, selektif, dan sangat selaras dengan kekuasaan. (yn)

Pakar Rusia: Perangkat Tiongkok Membantu Iran Memblokir Internet untuk Menindas Rakyat

Penindasan brutal oleh otoritas Iran terhadap massa demonstran telah menyebabkan banyak korban jiwa. Dunia luar secara luas mencurigai bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) memberikan dukungan teknologi kepada rezim totaliter Iran untuk memutus akses internet. Baru-baru ini, seorang pakar Rusia menyatakan bahwa dalam gelombang protes di Iran, perangkat buatan PKT membantu Iran memblokir jaringan internet dan komunikasi, sehingga aparat Iran dapat membantai para demonstran tanpa diketahui dunia luar.

EtIndonesia. Menurut laporan media Rusia, pakar militer Rusia Vladimir Yevseyev menyampaikan dalam sebuah diskusi panel di Pusat Multimedia Internasional “Russia Today” bahwa sebelum protes di Iran pecah, negara-negara Barat telah mengirimkan sejumlah besar terminal komunikasi ke dalam wilayah Iran agar koneksi internet tidak terputus. Namun, Iran “beruntung” memiliki perangkat khusus yang dikirim oleh PKT, yang mampu memblokir terminal komunikasi Barat tersebut.

Selain itu, perangkat PKT ini juga dapat melacak lokasi terminal, “sehingga pasukan keamanan Iran dapat menahan dan menangkap orang-orang yang menggunakan terminal tersebut.”

Perlawanan rakyat Iran terhadap rezim otoriter dimulai pada 28 Desember tahun lalu. Pada malam 8 Januari 2026, otoritas Iran melakukan pemutusan total jaringan internet dan mulai melakukan penindasan berdarah. 

Meskipun Elon Musk membuka akses Starlink secara gratis bagi para demonstran Iran, dilaporkan bahwa otoritas Iran melakukan gangguan sinyal besar-besaran terhadap Starlink, sehingga tidak semua wilayah dapat terhubung dengan lancar. Ditambah lagi, perangkat untuk mengakses Starlink sangat sulit diperoleh, sehingga hanya segelintir orang yang berhasil berkomunikasi dengan dunia luar dan mengirimkan rekaman gambar.

Secara kebetulan, selama aksi protes nasional di Iran, BUMN Tiongkok China Electronics Technology Group Corporation (CETC) secara terbuka memamerkan perangkat perang elektronik jenis baru—sebuah sistem portabel yang secara khusus dirancang untuk mendeteksi dan mengganggu terminal pengguna Starlink.

Berdasarkan foto-foto yang beredar di internet, perangkat tersebut bernama “Perangkat Deteksi dan Gangguan Terminal Starlink”. 

Pihak pameran membanggakan bahwa sistem ini mampu melokalisasi, memantau dari jarak jauh, dan melakukan gangguan terarah terhadap sinyal terminal Starlink yang menggunakan pita KU. Perangkat ini dirancang ringan, dapat dibawa dan dioperasikan oleh satu personel, atau dipasang pada platform drone untuk pengerahan bergerak.

Saat itu, dunia luar berspekulasi bahwa PKT mungkin telah memberikan dukungan teknis kepada otoritas Iran. Namun, ada pula warganet yang meragukan kemampuan teknologi PKT mencapai tingkat tersebut. 

Beberapa komentar menyebutkan:  “Maduro celaka karena sistem pertahanan udara Rusia dan pengawal Kuba… dia mengira itu berguna, tapi ternyata sama sekali tidak,” dan “Starlink bukan hanya satu satelit, cakupannya hampir tanpa titik mati, dan merupakan koneksi langsung dari satelit ke terminal tanpa bergantung pada stasiun darat. Bahkan di pegunungan atau hutan lebat pun sinyalnya penuh. Terminalnya portabel, bisa dipasang di kendaraan atau terhubung langsung ke ponsel, serta mudah dipindahkan. Jadi saya benar-benar tidak mengerti, bagaimana cara mengganggunya?”

China Electronics Technology Group Corporation (CETC) didirikan pada Februari 2002, dibentuk berdasarkan lembaga riset dan perusahaan yang sebelumnya berada langsung di bawah Kementerian Industri Informasi PKT, dan merupakan BUMN di bawah pengelolaan Komisi Pengawas dan Administrasi Aset Negara Tiongkok.

Laporan gabungan oleh jurnalis Li Li / Editor Gengwen

Setelah penangkapan Zhang Youxia, Muncul Laporan tentang Pergerakan Militer yang Tak Lazim, Analisis Khawatirkan Kemungkinan Perang Saudara 

Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia serta Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Pusat Liu Zhenli baru-baru ini mengguncang opini publik. Analis politik dan ekonomi senior Taiwan, Wu Jialong, menilai bahwa menurut informasi yang beredar, pasukan yang mendukung Zhang Youxia sedang bergerak menuju Beijing. Dikhawatirkan Tiongkok berpotensi mengalami perang saudara.

EtIndonesia. Kementerian Pertahanan Tiongkok pada 24 Januari mengumumkan bahwa anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, serta anggota Komisi Militer Pusat dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli, telah “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum serius” dan resmi diselidiki.

Wu Jialong pada  26 Januari menulis analisis di Facebook, menyatakan bahwa kasus penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli masih belum sepenuhnya jelas. Di sisi lain, kubu Xi Jinping memanfaatkan media untuk memperkuat narasi resmi, menunjukkan bahwa situasi kedua pihak kini sangat tegang dan “kondisi di Tiongkok berpotensi memburuk”.

Artikel tersebut mengutip analisis sumber informasi yang menyebutkan, “Kabarnya, pasukan yang mendukung Zhang Youxia sedang bergerak menuju Beijing, dan Tiongkok mungkin akan meletus perang saudara.”

Setelah penangkapan Zhang Youxia, video yang beredar di internet memperlihatkan konvoi kendaraan militer di jalan tol Tiongkok, yang dikabarkan sedang menuju Beijing.

Mantan pejabat Mongolia Dalam yang kini tinggal di luar negeri, Du Wen, sebelumnya menulis di platform X bahwa setelah Zhang Youxia ditangkap, “Xi Jinping sangat takut pasukan masuk ke Beijing”. Ia mengutip sumber dari dalam sistem yang mengatakan bahwa kondisi militer PKT saat ini adalah yang paling tegang sejak berdirinya rezim. Sebagai figur nomor dua di militer, Zhang Youxia telah mempromosikan lebih dari seribu jenderal. Setelah ia ditangkap, militer PKT berpotensi mengalami pembelotan besar-besaran kapan saja.

(Tangkapan layar dari halaman Facebook Wu Jialong)

Wu Jialong dalam analisanya menegaskan bahwa jangan meremehkan Zhang Youxia, seolah-olah ia bisa begitu saja ditangkap tanpa konsekuensi. Terlebih lagi, banyak kebijakan Xi Jinping berakhir gagal: Inisiatif Sabuk dan Jalan gagal, Kawasan Baru Xiong’an gagal, Kawasan Teluk Besar Guangdong–Hong Kong–Makau gagal, Bursa Efek Beijing gagal, Kawasan Perdagangan Bebas Hainan gagal, Pusat Keuangan Internasional Shenzhen gagal, dan tentu saja Hong Kong juga gagal.

 “Saya sekarang berani menduga, jika Xi Jinping mencoba menangani Zhang Youxia, pada akhirnya bisa jadi juga akan berakhir gagal. Kita tunggu dan amati saja, tidak perlu terburu-buru,” tulis Wu.

Wu Jialong juga mengatakan bahwa tidak perlu khawatir Xi Jinping akan semakin memusatkan kekuasaan tanpa penyeimbang lalu melakukan petualangan militer terhadap Taiwan. Banyak pihak mendorong argumen ini, namun Wu menyatakan dirinya tidak setuju. Menurutnya, konfrontasi antara Xi Jinping dan Zhang Youxia bukanlah perkara sederhana. Xi sedang sibuk menangani masalah internal sehingga tidak memiliki kapasitas untuk beralih menyerang Taiwan.

Selain itu, demi keamanan Taiwan, Taiwan sendiri harus memiliki pengaturan internal di dalam PKT, jaringan intelijen, serta pemantauan satelit terhadap aktivitas militer Tiongkok di darat. Untuk menyerang Taiwan tidaklah mudah. Lagipula, jenderal besar apa yang dimiliki Xi Jinping untuk melaksanakan tugas penyerangan Taiwan yang begitu sulit? Wu menambahkan, jika memang ada orang seperti itu, lalu untuk apa lagi harus berurusan dengan Zhang Youxia?

Wu Jialong menilai tidak menutup kemungkinan Tiongkok akan mengalami perang saudara, kemudian muncul kekuasaan daerah yang terpecah-pecah, mirip situasi akhir Dinasti Qing. Ia berkata, “Saya mengatakan kemungkinan seperti itu ada, jadi tidak perlu terburu-buru, mari kita amati terlebih dahulu.”

(Tangkapan layar dengan tanda X)

Akun X bernama “Haojiao” pada  26 Januari juga menulis bahwa terkait penangkapan Zhang Youxia, kebenaran yang akurat masih belum dapat dipastikan. Namun ada dua hal yang dianggap pasti:

  1. Setelah beberapa gelombang jatuhnya tokoh militer, terlepas dari apakah Xi Jinping masih menguasai penuh kendali militer atau tidak, yang pasti ia telah sepenuhnya kehilangan hati dan dukungan militer.
  2. Pada saat yang sama, di seluruh sistem kader, termasuk tingkat provinsi dan kementerian, Xi Jinping juga tidak lagi memiliki wibawa dan dukungan.

Postingan tersebut menganalisis bahwa “dalam kondisi Xi Jinping kehilangan dukungan militer dan politik, syarat awal bagi munculnya kekuasaan para panglima perang dan penguasa daerah di Tiongkok sebenarnya sudah terbentuk. 

Perkembangan situasi dalam seminggu ke depan bisa sangat cepat. Jika ketidakpuasan di tubuh militer saling menular, para jenderal mungkin akan memegang pasukan sendiri dan tidak patuh pada perintah, atau bersekutu dengan penguasa daerah. 

Meski tidak secara terbuka ‘memberontak’, mereka akan membentuk fakta-fakta pemisahan wilayah satu per satu. Pada saat itu, Xi Jinping hanya akan dihadapkan pada dua pilihan: berjudi habis-habisan atau turun dari kekuasaan.” (Hui)

Pahlawan di Dalam Hati

EtIndonesia. Seorang guru Shaolin berkata kepada muridnya yang telah berlatih bela diri selama empat tahun :  “Ilmu kungfumu sudah hampir matang. Saatnya kamu turun gunung dan terjun ke dunia luar.”

Namun sang murid merasa khawatir. Dia takut ilmunya belum cukup kuat, sehingga dia memohon kepada gurunya agar diizinkan tinggal di kuil dua tahun lagi untuk terus berlatih.

Keesokan harinya, murid itu terkejut mendapati seluruh kuil kosong. Gurunya menghilang, dan hanya tersisa sepucuk surat di atas meja. 

Dalam surat itu, sang guru menulis: “Selama empat tahun ini, kamu mempelajari semua yang kuajarkan, tetapi kamu tidak pernah bertanya mengapa kamu harus mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Karena itu, aku memintamu turun gunung. Biarkan dunia luar mengajarimu apakah ilmu yang kamu pelajari selama empat tahun ini sudah cukup. Dua tahun lagi, kamu akan kembali mencariku.”

Waktu berlalu dengan cepat. Dua tahun kemudian, murid itu benar-benar kembali ke kuil seperti yang telah diramalkan gurunya. Namun dia tetap tidak menemukan sang guru. 

Di atas altar, hanya ada sepucuk surat lain untuknya: “Aku sudah menduga kamu akan kembali. Selama dua tahun berada di dunia luar, seharusnya kamu telah mempelajari dua hal:

Pertama, kamu akan menyadari bahwa ilmu yang kamu pelajari selama empat tahun masih jauh dari cukup, karena perubahan dunia jauh lebih cepat daripada apa yang kamu pelajari.

Kedua, setelah menyadari kekuranganmu, kamu akan merasakan krisis dalam dirimu sendiri. Itulah sebabnya kamu terburu-buru kembali ke gunung untuk kembali belajar dariku.

Namun sekarang, aku memintamu turun gunung sekali lagi. Selama dua tahun ini, pasti masih banyak pendekar hebat yang belum pernah kamu hadapi. Itu berarti masih ada banyak kelemahan dalam dirimu yang belum kamu sadari. Jika tidak, kamu akan mudah merasa paling hebat hanya karena mempelajari beberapa jurus baru.

Kembalilah ke dunia luar. Tantang para ahli dengan inisiatif sendiri. Dua tahun lagi, kembalilah dan ceritakan kepadaku siapa saja yang tidak mampu kamu kalahkan. Saat itulah aku akan mengajarkanmu cara mengalahkan mereka.”

Dua tahun kemudian, murid itu kembali ke Kuil Shaolin untuk ketiga kalinya. Di tangannya, dia membawa catatan panjang berisi data para pendekar yang pernah mengalahkannya. Dia sangat berharap sang guru akan mengajarkan ilmu baru.

Namun sekali lagi, gurunya tidak muncul. Yang ada hanyalah sepucuk surat:

“Jika kamu telah menemukan banyak kekurangan dalam dirimu, ada dua cara untuk memperbaikinya.

Cara pertama adalah kembali belajar dariku. Namun perlu kamu tahu, semakin banyak aku mengajarimu, semakin sulit bagimu untuk melampauiku, dan kamu akan semakin kehilangan jati dirimu sendiri.

Cara kedua adalah menggunakan jurus-jurus dasar yang telah kuajarkan, lalu menyesuaikannya dengan kelemahan yang benar-benar kamu alami di dunia nyata. Dengan cara itu, kamu bisa menemukan metode yang belum pernah kuajarkan, bahkan mungkin menciptakan jurusmu sendiri.

Karena itu, sebelum kamu berusaha menjadi diriku, aku ingin kamu kembali menghabiskan dua tahun di dunia luar, mencoba melepaskan pahlawan yang tersembunyi di dalam hatimu.

Jika dua tahun lagi kamu benar-benar tidak menemukan jalan, barulah aku akan mengajarkan semua yang aku ketahui. Aku percaya, di dalam hatimu tersembunyi seorang pahlawan yang terlahir alami.”

Dua tahun pun berlalu. Untuk ketiga kalinya, murid itu naik ke gunung. Di perjalanan, sang guru diam-diam mengatur beberapa kakak seperguruan untuk menyamar sebagai perampok. Mereka semua menguasai jurus khas Shaolin.

Dalam pertarungan tersebut, sang murid justru menggunakan jurus-jurus Shaolin yang belum pernah dilihat para kakak seperguruannya. Dengan jurus ciptaannya sendiri, dia berhasil menghadapi mereka dan lolos dengan selamat.

Ketika akhirnya tiba di Kuil Shaolin, dia melihat seorang biksu muda, seusia dirinya saat pertama kali masuk kuil, sedang menyapu halaman. 

Murid itu pun bertanya: “Apakah guru ada?”

“Guru telah wafat,” jawab biksu muda itu.

Setelah menyalakan dupa dan memberi penghormatan terakhir kepada gurunya, murid itu berdiri lama dalam keheningan, lalu pergi dengan berat hati.

Di sudut tersembunyi, sang guru tua menyaksikan semua itu sambil menghapus air mata dengan penuh kelegaan.

Biksu muda itu bertanya dengan heran, mengapa selama tiga kali murid itu kembali, sang guru tidak pernah menemuinya secara langsung.

Guru tua menjawab: “Aku ingin dia menemukan sendiri pahlawan yang tersembunyi jauh di dalam hatinya. Selama dia masih percaya bahwa di dalam dirinya ada seorang pahlawan yang belum dilepaskan, aku tidak perlu turun tangan.

Guru terbaik kalian bukanlah aku. Guru terbaik kalian adalah imajinasi yang tersembunyi di dalam hati kalian. Hanya imajinasi itulah yang bisa membuat seseorang menjadi satu-satunya di dunia ini sepanjang hidupnya.”

Banyak anak muda—entah mereka baru lulus kuliah namun belum percaya diri, atau para pekerja yang telah bertahun-tahun bekerja lalu menemui jalan buntu—sering kali memilih melanjutkan studi magister untuk meningkatkan kemampuan.

Pola pikir mereka sangat mirip dengan murid Shaolin ini: sebelum benar-benar melepaskan pahlawan di dalam diri, sebelum sepenuhnya mengasah dan “menyiksa” imajinasi sendiri, mereka menganggap sekolah sebagai satu-satunya jalan keluar terbaik.

Akibatnya, meskipun setiap tahun lahir banyak lulusan magister dan doktor, belum tentu lahir imajinasi baru—atau pahlawan baru.

Hal ini sekali lagi membuktikan sebuah kebenaran lama: “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.”

Renungan / Hikmah Cerita

Pahlawan di dalam hati dalam cerita ini adalah potensi diri. Kuil Shaolin melambangkan sekolah, keluarga, serta perlindungan orangtua dan para senior. Sedangkan dunia persilatan yang penuh bahaya melambangkan masyarakat yang kompleks dan terus berubah.

Kita dapat merasakan kebijaksanaan sang guru tua—penuh perhitungan, kepedulian, dan harapan. Ia tidak langsung memberikan jawaban, melainkan menuliskannya dalam surat, membimbing muridnya agar menemukan jawabannya sendiri.

Banyak orang mengajar dengan cara memberi solusi langsung.Namun guru dalam cerita ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam:mengajarkan cara memahami masalah, dan bagaimana menemukan solusi secara mandiri.

Dengan cara itulah, potensi sejati seorang murid benar-benar bisa dibangkitkan.(jhn/yn)

Anak 5 Tahun Hanya Mau Makan Roti Gulung Sosis, Orangtuanya Putus Asa — Terapis Hipnosis Ubah Kebiasaan dalam 2 Jam

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun di Inggris dalam waktu lama hanya mau makan roti gulung sosis dan menolak semua makanan lainnya, membuat kedua orangtuanya sangat cemas. Namun, setelah menjalani satu sesi terapi hipnosis, kebiasaan makan sang anak mengalami perubahan yang luar biasa.

EtIndonesia. Menurut laporan New York Post, seorang ibu berusia 32 tahun bernama Jennifer dari Warrington, Surrey, Inggris, mengatakan bahwa putranya, Grayson, hanya mau makan roti gulung sosis merek Greggs. Jika diberikan makanan apa pun selain roti gulung sosis, keripik kentang, atau roti bawang putih, Grayson akan langsung berteriak dan menangis.

Jennifer menceritakan bahwa sejak kecil Grayson memang tidak suka makan. Saat berusia delapan bulan, ia didiagnosis alergi susu, yang menyebabkan berat badannya turun drastis. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Grayson mengaitkan aktivitas makan dengan rasa sakit. 

Pada usia dua setengah tahun, ia mulai mau makan, tetapi hanya roti gulung sosis. Saat masuk taman kanak-kanak, para guru mengatakan mereka belum pernah melihat anak yang begitu takut dengan waktu makan siang—Grayson hampir selalu hanya makan roti gulung sosis. Akibatnya, orang tuanya harus menghabiskan ratusan pound sterling setiap bulan hanya untuk membeli roti gulung sosis.

Dalam kondisi benar-benar kehabisan cara, pasangan ini menghubungi David Kilmurry, seorang terapis yang khusus menangani gangguan makan kompulsif. Sebelum sesi terapi, Jennifer sempat khawatir karena Grayson didiagnosis mengalami autisme dan mutisme selektif, yang biasanya membuatnya tidak mau berbicara dengan orang asing. Namun di luar dugaan, David langsung berhasil membuat Grayson tertawa dan merasa rileks.

Dalam sesi terapi selama dua jam, David menghipnosis Grayson dan kemudian mendorongnya untuk mencoba berbagai makanan, termasuk bayam, jeruk nipis, jeruk bali, biji delima, pai daging, jeruk, anggur, salad, dan apel.

Jennifer merasa hal ini sungguh luar biasa. Ini adalah pertama kalinya Grayson duduk dengan tenang dan benar-benar makan buah. Sebelumnya, ia sama sekali tidak mau mencoba makanan baru dan tidak tahan dengan aroma makanan yang berbeda. Di pesta ulang tahun, begitu makanan disajikan, ia akan menangis dan gemetar. Bisa membuatnya duduk dan mencoba 10 jenis makanan berbeda terasa seperti sebuah keajaiban.

Sejak menjalani terapi tersebut, Grayson juga mencoba nanas di rumah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membawa buah ke sekolah sebagai bekal makan siang. Kini ia rutin makan bayam, jeruk bali, dan delima.

Terapi hipnosis cukup umum digunakan di negara-negara Barat. Sebelumnya, media Inggris juga pernah melaporkan seorang perempuan berusia 20 tahun di Cornwall yang berhasil menyembuhkan gangguan makan yang dideritanya sejak usia lima tahun melalui hipnosis. Sebelum terapi, setiap kali makan ia hanya mau makan kentang goreng dan tidak bisa menelan makanan lain sedikit pun.

Seorang psikolog Inggris menjelaskan bahwa jenis gangguan makan seperti ini biasanya berkaitan dengan trauma makanan pada masa kanak-kanak, yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Dengan membuka alam bawah sadar pasien, membantu mereka meninjau kembali masa lalu, dan mengajarkan cara melepaskan rasa takut, masalah tersebut dapat diatasi.

Laporan terjemahan oleh jurnalis Jin Jing / Editor Xu Gengwen