Mantan Wali Kota Mengaku Bersalah di Pengadilan atas Tuduhan Menjadi Agen Partai Komunis Tiongkok Secara Ilegal

EtIndonesia. Mantan Wali Kota Arcadia, sebuah kota di negara bagian California, Amerika Serikat  Eileen Wang  atau Wang Ailin, yang didakwa oleh pengadilan federal Amerika Serikat karena secara ilegal bertindak sebagai “agen Partai Komunis Tiongkok (PKT)”, pada hari ini secara resmi mengaku bersalah di Pengadilan Federal Los Angeles. Sebelumnya, ia telah menyetujui kesepakatan pengakuan bersalah dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wali kota. Berikut laporan langsung dari reporter kami, Li Jiayin, di luar gedung pengadilan.

Reporter NTD, Li Jiayin, melaporkan: “Pagi ini, mantan Wali Kota Arcadia Wang Ailin tiba di Pengadilan Federal Los Angeles mengenakan setelan jas hitam. Ia tampil dengan riasan tipis dan rambut yang tampak telah ditata rapi, namun menunjukkan ekspresi serius. Didampingi pengacara pembelanya, Jason Liang, serta beberapa orang lainnya, Wang hadir di persidangan dan secara resmi mengaku bersalah atas tuduhan bertindak sebagai agen PKT secara ilegal di wilayah Amerika Serikat.”

Reporter NTD, Li Jiayin

Dokumen dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat menunjukkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2022, Wang Ailin diduga menjalankan propaganda pro-PKT di Amerika Serikat atas arahan pihak PKT dan membantu memperjuangkan kepentingan Beijing tanpa melaporkannya kepada Jaksa Agung AS sebagaimana diwajibkan oleh hukum.

Seorang warga yang mengenal Wang selama bertahun-tahun dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa Wang sering secara aktif dan terbuka membagikan berbagai kegiatan serta materi propaganda yang berkaitan dengan PKT melalui grup-grup WeChat.

Selain itu, Wang bersama mantan tunangannya, Sun Yaoning, yang sebelumnya juga telah dijatuhi hukuman karena bertindak sebagai agen PKT, pernah mengelola sebuah situs berita berbahasa Mandarin bernama “Pusat Berita Amerika” (America News Center).

Anggota Dewan Kota Arcadia, Eileen Wang, menghadiri upacara pelantikan Asian Hall of Fame 2023 di Biltmore Los Angeles, Los Angeles, pada 21 Oktober 2023. Frazer Harrison/Getty Images

Menurut dokumen pengadilan, atas permintaan pejabat PKT, situs tersebut menerbitkan sejumlah artikel yang mengulang narasi resmi Beijing. Salah satu artikel bahkan mengklaim bahwa tidak ada genosida maupun kerja paksa di Xinjiang. Setelah mendapat pujian dari seorang pejabat PKT, Wang dilaporkan membalas dengan kalimat: “Terima kasih, pemimpin.”

Setelah keluar dari ruang sidang, reporter NTD menanyakan kepada Wang: “Sebagai pejabat publik yang dipilih rakyat Amerika, mengapa Anda bertindak sebagai agen PKT? Apakah PKT memberi Anda keuntungan tertentu? Apakah Anda mengetahui atau terlibat dalam tindakan Chen Jun dan Sun Yaoning terhadap kelompok oposisi di luar negeri serta praktisi Falun Gong?”

Namun Wang Ailin tetap bungkam sepanjang waktu dan tidak memberikan jawaban apa pun. Orang-orang yang mendampinginya juga menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan komentar.

Reporter Li Jiayin menambahkan bahwa Wang Ailin menghadapi ancaman hukuman maksimum 10 tahun penjara, 3 tahun masa pengawasan setelah bebas, serta denda hingga 250.000 dolar AS.

Pengadilan telah menetapkan 6 Oktober sebagai tanggal pengumuman putusan hukuman.

Laporan oleh Li Jiayin dan Lin Yongfeng, NTD Television, Los Angeles.

Iran Gencarkan Perang Informasi, Militer AS Bantah Klaim Pesawat Tempurnya Ditembak Jatuh

EtIndonesia.com. Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa tidak ada satu pun pesawat militernya yang ditembak jatuh di dekat Provinsi Bushehr, Iran, meskipun televisi pemerintah Iran mengklaim sebaliknya.

Menurut laporan Reuters, televisi pemerintah Iran pada Jumat (29 Mei) dini hari mengutip pernyataan pejabat lokal Distrik Jam di Provinsi Bushehr, Masoud Tangestani, yang mengklaim bahwa sebuah pesawat militer Amerika telah dihancurkan di wilayah tersebut.

Menanggapi klaim itu, United States Central Command melalui platform X menyatakan: “Tidak ada pesawat militer Amerika yang ditembak jatuh. Seluruh aset Angkatan Udara Amerika Serikat berada dalam kondisi aman.”

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, kedua pihak tidak hanya berhadapan di ranah militer, tetapi juga semakin terlibat dalam perang informasi dan perebutan opini publik.

Sebelumnya, dua pejabat Amerika Serikat juga mengonfirmasi kepada Fox News bahwa laporan Iran mengenai keberhasilan menembak jatuh pesawat militer AS tidak benar.

Dengan demikian, klaim yang disiarkan oleh media pemerintah Iran dibantah baik oleh Komando Pusat Militer AS maupun oleh sejumlah pejabat Amerika yang mengetahui situasi tersebut.

Sumber : NTDTV. com

Siswi SD di Guangdong, Tiongkok  Dirundung dan Direkam, Warganet Murka Tuntut Pelaku Dijatuhkan Hukuman Berat

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang siswi sekolah dasar di Kota Leizhou, Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong, Tiongkok menjadi korban perundungan oleh sejumlah siswi lain. Korban ditampar dan didorong secara bergantian, sementara beberapa pelaku merekam seluruh kejadian dengan telepon genggam sambil tertawa-tawa. Setelah video tersebut beredar luas, kemarahan publik pun meledak di media sosial.

Video yang beredar menunjukkan bahwa di sebuah gang kawasan permukiman, seorang siswi berseragam sekolah dasar dikepung oleh beberapa siswi lain yang mengenakan seragam yang sama. Korban ditampar, didorong, bahkan dihantam hingga terhempas ke dekat tembok.

Di lokasi terdengar suara tawa dan ejekan. Salah seorang siswi terus mengarahkan ponselnya ke wajah korban untuk merekam kejadian tersebut. Sedikitnya enam hingga tujuh anak terlihat terlibat dalam aksi perundungan itu.

Sepanjang insiden, korban tampak menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia tidak berani melawan ataupun membalas, dan terlihat sangat ketakutan.

Menurut laporan media Tiongkok, para siswa yang terlibat merupakan murid sebuah sekolah dasar di Kota Leizhou.

Pada 25 Mei sore, petugas dari Kantor Polisi Kota Baru Leizhou menyatakan bahwa polisi telah menemukan seluruh siswa yang terlibat dalam kasus tersebut. Saat ini kasus masih dalam proses penanganan, dan seluruh pihak yang terlibat merupakan siswa sekolah dasar.

Pada 26 Mei pagi, seorang pejabat dari bagian keamanan dan ketertiban Biro Pendidikan Kota Leizhou menyatakan bahwa insiden perundungan itu dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran sehari-hari antar siswa. Ia juga mengatakan bahwa korban telah menjalani pemeriksaan di rumah sakit dan tidak mengalami cedera fisik yang serius.

Namun, penjelasan tersebut tidak meredakan kemarahan publik.

Banyak warganet mengecam keras insiden itu:

“Ya Tuhan! Tamparannya terdengar sangat keras. Kasus seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Pelaku harus dihukum berat, kalau tidak kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi.”

“Kalau ibunya melihat video ini, pasti sangat sedih dan sakit hati. Saya sampai marah melihatnya.”

“Saya benar-benar ingin menolong anak itu.”

Banyak komentar juga menyoroti dampak psikologis yang mungkin dialami korban:

“Hanya karena tubuhnya tidak terluka parah bukan berarti masalahnya selesai. Trauma psikologis bisa membekas seumur hidup.”

“Luka fisik mungkin ringan, tetapi luka batin bisa sangat dalam.”

“Dokter mengatakan tidak ada masalah besar secara fisik. Tapi bayangan buruk dalam hatinya mungkin tidak akan pernah hilang sepanjang hidup. Itulah masalah yang sebenarnya.”

Sebagian warganet mengaku pernah mengalami pengalaman serupa saat masih kecil:

“Waktu SD saya juga pernah mengalami perundungan seperti ini.”

“Pelaku harus ditindak tegas.”

“Kasus ini harus diselidiki secara serius. Saya sangat marah melihatnya.”

Ada pula komentar yang menuntut hukuman yang lebih berat:

“Anak-anak seperti iblis.”

“Keluarkan mereka dari sekolah dan catatan pelanggaran mereka harus disimpan permanen.”

“Pelaku perundungan harus dihukum berat.”

“Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum!”

Sumber : NTDTV.com

(Berita Terlarang) Lebih dari 2.000 Foto Tragedi Pembantaian Tiananmen 1989 Terungkap, Saksi Mata: Sejarah Tidak Bisa Ditutupi

Menjelang peringatan 37 tahun Peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, The Epoch Times mempublikasikan secara eksklusif lebih dari 2.000 foto sejarah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Foto-foto tersebut kembali menarik perhatian dunia terhadap fakta-fakta seputar penumpasan berdarah tahun 1989. Sejumlah saksi mata Peristiwa 4 Juni mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dapat memblokir informasi, tetapi tidak dapat menghapus ingatan sejarah.

EtIndonesia.com. Pada 27 Mei, The Epoch Times merilis kumpulan foto berharga yang telah tersimpan selama 37 tahun. Jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 lembar. Foto-foto itu mendokumentasikan secara lengkap berbagai peristiwa yang terjadi di jalan-jalan Beijing pada musim semi hingga awal musim panas 1989, termasuk lautan massa yang berkumpul secara damai di Lapangan Tiananmen, ketegangan saat pasukan darurat militer memasuki kota, hingga pemandangan tragis setelah penumpasan terjadi.

Kumpulan foto tersebut diambil oleh seorang fotografer resmi pemerintah pada masa itu. Menjelang akhir hidupnya, ia mempercayakan arsip foto tersebut kepada The Epoch Times dengan harapan dapat meninggalkan kesaksian sejarah atas peristiwa yang mana selama puluhan tahun diblokir oleh PKT.

Salah seorang pendiri Partai Demokrasi Tiongkok, Zhu Yufu, mengatakan bahwa terlalu banyak orang yang menyaksikan langsung Peristiwa 4 Juni sehingga bukti-buktinya tidak mungkin dihapus sepenuhnya oleh PKT.

“Masih ada orang-orang yang dahulu berada di dalam sistem pemerintahan yang tidak berani mengungkapkan kebenaran. Namun ketika seseorang mendekati akhir hidupnya, biasanya ia ingin mengatakan hal yang benar. Beban moral itu terlalu berat untuk dipikul seumur hidup. Kejahatan seperti ini tidak mungkin disembunyikan selamanya. PKT membantai begitu banyak anak muda di siang bolong. Siapa yang bisa menerima hal seperti itu?” ujarnya.

Zhu Yufu sendiri pernah memotret aksi pawai mahasiswa pada tahun 1989. Ia mengungkapkan bahwa bahkan sebelum penumpasan terjadi, berbagai daerah sudah mulai melakukan persiapan untuk penyelidikan dan pengawasan besar-besaran.

“Saat itu saya menjabat sebagai pimpinan serikat pekerja. Sebelum penindasan dimulai, aparat keamanan sudah memerintahkan kami untuk menyusup ke tengah mahasiswa, memotret kegiatan mereka, lalu menyerahkan foto-foto itu agar nantinya bisa digunakan untuk melakukan pembalasan setelah peristiwa berakhir,” katanya. 

Ia mengatakan bahwa setelah itu aparat berulang kali menggeledah rumahnya dan menangkapnya, dengan tujuan menghancurkan berbagai dokumen terkait Peristiwa 4 Juni.

“Mereka mengira dengan cara itu semua bukti di masyarakat akan hilang. Tetapi saya percaya selalu ada celah yang membuat kebenaran bocor keluar. Tidak ada seorang pun yang bisa menutupi langit dengan satu tangan.”

Perkiraan Korban Jauh Lebih Besar

Tiga puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Peristiwa Tiananmen, namun PKT hingga kini belum pernah mengumumkan jumlah korban tewas secara resmi.

Sementara itu, dokumen diplomatik Inggris yang telah dideklasifikasi sebelumnya menyebut bahwa militer PKT sedikitnya menewaskan 10.000 orang dalam operasi penumpasan tersebut.

Saksi mata Peristiwa 4 Juni sekaligus sejarawan Tiongkok, Yu Luowen, berpendapat bahwa jumlah korban sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar daripada angka yang diketahui publik saat ini.

“Jumlah mahasiswa yang tewas pasti lebih dari 10.000 orang. Banyak mahasiswa datang dari luar Beijing. Jika warga Beijing atau mahasiswa setempat meninggal, kita mungkin masih bisa mengetahuinya. Tetapi mahasiswa dari daerah lain, siapa yang tahu? Bahkan keluarganya mungkin tidak pernah tahu bahwa anak mereka telah meninggal. Jika mereka bertanya, pemerintah mungkin hanya mengatakan bahwa anak mereka hilang. Karena itu jumlah korban yang sebenarnya sangat sulit dihitung,” ujarnya.

Pada tahun 1989, Yu tinggal di Beijing dan sering datang ke lokasi demonstrasi untuk mendukung para mahasiswa.

Ia mengenang: “Saat itu hampir seluruh masyarakat Beijing turun ke jalan. Banyak pegawai CCTV, penerbit, lembaga berita, dan berbagai kalangan masyarakat ikut mendukung mahasiswa.”

Menurut Yu, pada malam penumpasan berlangsung, ia dapat mendengar suara tembakan yang sangat intens dari rumahnya.

“Keesokan paginya, Lapangan Tiananmen sudah dibersihkan. Para mahasiswa telah diusir. Mereka yang tewas dan menjadi korban ditinggalkan di lokasi. Kawasan itu kemudian ditutup agar tidak ada yang bisa melihatnya. Setelah itu, helikopter terus-menerus mengangkut jenazah keluar dari lokasi. Korban meninggal sangat banyak,” ujarnya. 

Ia juga menyatakan bahwa pasukan militer saat itu menggunakan kendaraan lapis baja terhadap para mahasiswa, menembaki kerumunan yang sedang mundur, dan bahkan warga yang menyaksikan dari pinggir jalan juga terkena tembakan. Menurutnya, sebagian jenazah korban kemudian dimusnahkan dan dibuang untuk menghilangkan jejak.

“Peristiwa 4 Juni Adalah Aib Terbesar PKT”

Yu Luowen mengatakan bahwa Peristiwa Tiananmen menjadi titik balik bagi banyak anggota Partai Komunis sendiri.

“Peristiwa 4 Juni adalah aib terbesar Partai Komunis. Karena kejadian ini, banyak anggota partai memutuskan hubungan dengan PKT dan keluar dari partai. Bahkan anggota partai sendiri tidak dapat menerima apa yang terjadi. Mereka menganggap tindakan PKT saat itu terlalu kejam,” katanya. 

Hingga kini, PKT masih menerapkan sensor ketat terhadap segala informasi terkait Peristiwa Tiananmen. Akibatnya, banyak generasi muda di Tiongkok tidak mengetahui sejarah tersebut.

Meski demikian, di berbagai negara di luar Tiongkok, kegiatan peringatan setiap tanggal 4 Juni masih terus diselenggarakan setiap tahun.

Zhu Yufu menegaskan bahwa keluarga korban tidak pernah melupakan peristiwa itu. Mereka yang menyaksikan langsung penumpasan berdarah tersebut juga tidak melupakannya. Kini, generasi kedua keluarga korban telah tumbuh dewasa, dan ingatan sejarah mengenai Peristiwa Tiananmen akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sumber : NTDTV.com

Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)

Jepang–Filipina Bentuk Aliansi Strategis Langka, Sinyal Bersama Menghadapi PKT Kian Kuat

EtIndonesia.com. Di tengah meningkatnya tekanan dan manuver agresif Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Laut Tiongkok Selatan serta Selat Taiwan, Jepang dan Filipina mengambil langkah besar yang jarang terjadi dengan secara terbuka meningkatkan hubungan bilateral mereka. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Kamis (28/5/2026) di Tokyo secara resmi mengumumkan peningkatan hubungan kedua negara menjadi “Kemitraan Strategis Komprehensif”.

Pengumuman tersebut dilakukan pada momen yang sangat sensitif, bertepatan dengan berlangsungnya pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, Xi secara langsung mengkritik kebijakan penguatan pertahanan yang didorong Takaichi. Namun Trump tidak mengikuti narasi Beijing, bahkan menegaskan dukungannya terhadap upaya negara-negara sekutu untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka sendiri. 

Para analis menilai perkembangan ini menunjukkan munculnya pola baru koordinasi negara-negara Indo-Pasifik dalam menghadapi pengaruh PKT.

Pada 28 Mei, Takaichi dan Marcos Jr. bersama-sama mengumumkan bahwa hubungan Jepang-Filipina resmi ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Kedua negara juga sepakat memperdalam kerja sama di bidang militer, keamanan, dan maritim.

Takaichi mengatakan: “Ini mencerminkan tekad kedua negara yang memiliki nilai dan prinsip yang sama untuk terus memperdalam hubungan secara berkelanjutan dan beragam, tanpa terpengaruh oleh perubahan situasi internasional.”

Marcos Jr. menyatakan: “Kami bersama-sama mengumumkan dimulainya perundingan Perjanjian Keamanan Menyeluruh Informasi Militer, serta konsultasi mengenai penetapan batas maritim.”

Kunjungan ini juga menjadi kunjungan kenegaraan resmi pertama seorang pemimpin Filipina ke Jepang dalam lebih dari satu dekade.

Banyak pengamat menilai peningkatan hubungan Jepang dan Filipina secara terbuka ini memiliki pesan strategis yang jelas terhadap PKT.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing terus meningkatkan tekanan militer di Laut Tiongkok Selatan, Laut Tiongkok Timur, dan Selat Taiwan. Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok semakin sering terlibat konfrontasi di wilayah sengketa Laut Tiongkok Selatan, sementara Jepang berulang kali memperingatkan aktivitas militer PKT di sekitar Taiwan.

Kerja Sama Intelijen dan Pertahanan Diperkuat

Pengamat politik Li Linyi menilai bahwa kunjungan Marcos Jr. menghasilkan dua capaian utama. “Pertama, hubungan kedua negara ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif. Kedua, kerja sama dan pertukaran intelijen ditingkatkan. Kedua hal ini sangat penting untuk membendung ekspansi PKT.”

Sementara itu, penasihat senior dari Taiwan Institute of Japan Studies, Chen Wenjia, mengatakan bahwa kawasan kini mulai menunjukkan kecenderungan koordinasi regional dalam menghadapi PKT.

“Kerja sama Jepang dan Filipina kini tidak lagi terbatas pada penjaga pantai, tetapi telah meluas ke latihan militer bersama, berbagi intelijen, hingga kerja sama peralatan pertahanan. Yang paling dikhawatirkan PKT bukanlah perlawanan dari satu negara, melainkan terbentuknya efek pengepungan terkoordinasi di sepanjang Rantai Pulau Pertama,” katanya. 

Rantai Pulau Pertama Dinilai Semakin Solid

Para analis menunjukkan bahwa posisi geografis Jepang dan Filipina memiliki arti strategis yang sangat penting.

Jepang berada di sisi utara Laut Tiongkok Timur dan Selat Taiwan, sementara Filipina menguasai jalur strategis di Selat Bashi dan bagian utara Laut Tiongkok Selatan. Kedua negara membentuk titik-titik kunci dalam konsep Rantai Pulau Pertama, yang selama ini dianggap sebagai garis pertahanan utama untuk membatasi pergerakan militer PKT ke Samudra Pasifik.

Chen Wenjia menambahkan: “Jika kerja sama keamanan antara Amerika Serikat dan Filipina semakin terlembagakan, Angkatan Laut PKT akan menghadapi pengawasan dan tekanan yang lebih besar saat beroperasi di Pasifik Barat. Inilah sebabnya PKT terus memperkuat kehadiran militernya di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan, karena khawatir Rantai Pulau Pertama perlahan berkembang menjadi jaringan keamanan yang menyerupai aliansi.”

Menurutnya, dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik ke depan akan semakin menyerupai persaingan strategis yang melibatkan banyak negara secara bersamaan, bukan sekadar konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Laporan oleh Yi Xin dan Chang Chun, NTD Television

Aktivis HAM dan Komunitas Diaspora Protes Kunjungan Menlu Tiongkok ke Ottawa di Tengah Berlanjutnya Pelanggaran HAM di Tiongkok

EtIndonesia.com. Para aktivis hak asasi manusia (HAM) Kanada dan komunitas diaspora menggelar aksi unjuk rasa di komplek Parliament Hill selama dua hari pada pekan ini. Aksi mereka dalam rangka memrotes kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Mereka juga menyerukan diakhirinya berbagai pelanggaran HAM yang terus berlangsung di Tiongkok.

Wang tiba di Ottawa pada Rabu, (28/5/2026) dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Jumat (29/5/2026).

Anggota dari berbagai kelompok yang mengalami penganiayaan di Tiongkok, termasuk praktisi Falun Gong, warga Uyghur, Tibet, dan Hong Kong, menggelar protes di Ottawa terhadap penganiayaan yang dilakukan rezim komunis Tiongkok terhadap masyarakat di dalam negeri serta tindakan represi lintas negara yang dilakukan di Kanada. Anggota Komite Kanada dari Partai Demokrasi Tiongkok juga turut memprotes kunjungan Wang.

Wang bertemu dengan Anand di kantor Global Affairs Canada pada pagi hari 29 Mei, sementara para praktisi Falun Gong membentangkan spanduk di seberang jalan yang menyerukan penghentian penganiayaan terhadap sesama praktisi mereka di Tiongkok.

Para praktisi Falun Gong juga menggelar aksi di Parliament Hill sejak pagi hingga sore hari dengan membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Intimidasi Tiongkok di Kanada,” “Hentikan Pengambilan Organ di Tiongkok,” dan “Hentikan Represi Lintas Negara PKT terhadap Falun Gong,” yang merujuk pada Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Para praktisi Falun Gong menggelar aksi protes di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Perdana Menteri Mark Carney pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.

Setelah pertemuan Wang dengan Carney, para praktisi Falun Gong meneriakkan, “Hentikan penganiayaan terhadap Falun Gong,” saat iring-iringan kendaraan Wang melintas.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual tradisional Tiongkok yang menggabungkan latihan meditasi dan ajaran moral berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Latihan ini mulai dianiaya di Tiongkok sejak 1999, ketika PKT memandang popularitasnya yang terus meningkat sebagai ancaman terhadap kekuasaannya dan bertekad untuk memberantasnya. Penganiayaan terhadap Falun Gong masih berlanjut hingga saat ini, dengan berbagai laporan mengenai penyiksaan, kerja paksa, indoktrinasi, pengawasan, pembunuhan, hingga pengambilan organ secara paksa dari orang yang masih hidup.

Para praktisi Falun Gong menggelar aksi protes di seberang kantor pusat Global Affairs Canada di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Sementara itu, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill untuk menentang penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)

Campur Tangan Beijing dalam Urusan Kanada

Ruth Collins, seorang praktisi Falun Gong dari Montreal, datang ke Ottawa untuk mengikuti aksi di Parliament Hill pada 29 Mei. Ia mengatakan kepada NTD, media saudara The Epoch Times, bahwa protes terhadap kunjungan Wang sangat penting mengingat gangguan yang baru-baru ini terjadi terhadap pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Toronto serta berbagai upaya Beijing untuk menekan teater-teater di Kanada agar tidak mengizinkan pertunjukan tersebut berlangsung.

Shen Yun adalah kelompok seni tari dan musik klasik Tiongkok yang berbasis di New York dan didirikan pada 2006 oleh sejumlah seniman Tiongkok terkemuka. Misinya adalah menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok yang menurut kelompok tersebut hampir hancur akibat puluhan tahun pemerintahan komunis. Kelompok ini melakukan tur dunia dengan slogan “Tiongkok Sebelum Komunisme,” dan banyak anggotanya merupakan praktisi Falun Gong.

Ruth Collins, seorang praktisi Falun Gong dari Montreal, menghadiri aksi unjuk rasa di Parliament Hill, Ottawa, selama kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Kanada pada 29 Mei 2026. NTD

Penyelenggara Shen Yun di Kanada, Himpunan Falun Dafa Kanada, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Shen Yun menghadapi kampanye global yang semakin intensif untuk menghentikan pertunjukannya melalui tekanan diplomatik, gugatan hukum yang tidak berdasar, dan sekitar 150 ancaman bom palsu di berbagai negara.

“Sangat penting bagi kami untuk berada di sini. Setidaknya jika para pejabat Tiongkok melihat spanduk-spanduk ini, mungkin mereka akan memahami bahwa kami tidak menginginkan campur tangan Tiongkok di Kanada,” kata Collins.

Collins mengatakan bahwa berlatih Falun Gong telah mengubah cara hidupnya, cara berbicara kepada orang lain, dan cara ia menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Sejati, Baik, dan Sabar adalah fokus utama dalam hidup saya. Prinsip itu menjadi ukuran apakah yang saya lakukan benar atau salah. Jika sesuatu tidak sesuai dengan Sejati, Baik, dan Sabar, berarti saya harus memperbaiki diri, melihat ke dalam diri sendiri, dan berubah,” ujarnya.

Penganiayaan terhadap Uyghur di Tiongkok

Dalam siaran pers tertanggal 28 Mei, Uyghur Rights Advocacy Project (URAP) menyatakan bahwa aksi solidaritas yang berhasil telah digelar di Parliament Hill pada hari itu, mempertemukan aktivis Uyghur, Hong Kong, Tibet, dan kelompok HAM lainnya untuk menyerukan “akuntabilitas dan nilai-nilai demokrasi dalam kebijakan luar negeri Kanada.”

Kelompok-kelompok tersebut mendesak pemerintah federal Kanada agar “menghadapi pelanggaran HAM yang terus berlangsung di Tiongkok dan menolak setiap upaya normalisasi hubungan diplomatik yang mengabaikan akuntabilitas.”

Mehmet Tohti, direktur eksekutif Uyghur Rights Advocacy Project, terlihat di Ottawa pada 11 Juli 2023. The Canadian Press/Sean Kilpatrick.

“Kita tidak bisa menormalisasi hubungan dengan pemerintah Tiongkok ketika warga Uyghur masih dipenjara, keluarga-keluarga masih dipisahkan, dan para korban penindasan masih mencari keadilan,” kata Direktur Eksekutif URAP, Mehmet Tohti.

“Kerja sama ekonomi tidak boleh mengorbankan hak asasi manusia.”

Kelompok itu mendesak Carney dan Anand untuk secara terbuka menyampaikan kekhawatiran kepada Wang mengenai penahanan massal dan pengawasan terhadap warga Uyghur di Tiongkok, praktik kerja paksa yang masih berlangsung, penyalahgunaan rantai pasokan, serta represi lintas negara yang menargetkan warga Uyghur dan aktivis HAM di Kanada.

Anggota Komite Kanada dari Partai Demokrasi Tiongkok menggelar aksi protes di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Perdana Menteri Mark Carney pada 29 Mei 2026. NTD.

Pemerintah Kanada sendiri telah mengakui adanya kerja paksa di Tiongkok. Dalam siaran pers tahun 2021, Global Affairs Canada menyatakan bahwa “bukti menunjukkan bahwa kerja paksa terhadap warga Uyghur dan kelompok etnis minoritas lainnya terjadi tidak hanya di Xinjiang, tetapi juga di seluruh Tiongkok.”

Selain itu, pada Desember 2024, Kanada menjatuhkan sanksi terhadap delapan pejabat senior Tiongkok, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, atas keterlibatan mereka dalam penganiayaan terhadap praktisi Falun Dafa, warga Uyghur, dan warga Tibet.

Dalam pernyataan resminya pada 2024, Global Affairs Canada menyebut bahwa kelompok-kelompok tersebut menjadi sasaran berbagai bentuk penindasan oleh rezim Beijing, termasuk penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, dan pembatasan kebebasan beragama atau berkeyakinan.

“Wang Yi, Menteri Luar Negeri Tiongkok, adalah salah satu arsitek utama, pelaksana, dan pembela kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Tiongkok, termasuk genosida yang masih berlangsung, penghapusan budaya, dan represi lintas negara yang menargetkan warga Uyghur, Tibet, dan Hong Kong,” tulis Tohti di platform X pada 24 Mei.

“Kunjungannya tidak boleh berlalu tanpa protes yang kuat.”

Koalisi Kanada Desak Anita Anand

Koalisi Kanada untuk Hak Asasi Manusia di Tiongkok dalam surat tertanggal 28 Mei juga mendesak Anand untuk mengangkat isu HAM dan campur tangan asing dalam pertemuannya dengan Wang.

Di antara sejumlah kasus tahanan yang disebutkan, koalisi meminta Anand menyoroti nasib penerbit Hong Kong Jimmy Lai, yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada Februari, serta aktivis HAM Uyghur berkewarganegaraan Kanada, Huseyin Celil, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2006 dan selama 20 tahun tidak diberi akses konsuler.

“Kami meminta agar Pemerintah Kanada menuntut Tiongkok berkomitmen untuk tidak lagi melakukan diplomasi sandera dan intimidasi lintas batas wilayah, serta mencabut seluruh sanksi hukuman terhadap warga Kanada jika ‘kemitraan strategis’ antara Kanada dan Tiongkok ingin dilanjutkan,” kata koalisi tersebut.

Koalisi itu juga menyatakan keprihatinan atas nota kesepahaman antara Kepolisian Berkuda Kerajaan Kanada (RCMP) dan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, serta mendesak adanya transparansi penuh dan pengawasan parlemen sebelum kerja sama lebih lanjut dilakukan.

Koalisi tersebut terdiri dari sejumlah organisasi, termasuk Canada-Hong Kong Link, Canada Tibet Committee, Falun Dafa Association of Canada, Raoul Wallenberg Centre for Human Rights, Uyghur Rights Advocacy Project, dan Toronto Association for Democracy in China.

Wang Bertemu Anand dan Carney

Anand menyampaikan pernyataan terbuka sebelum bertemu Wang. Ia mengatakan bahwa Carney dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah membangun “visi ambisius” untuk “hubungan yang dikalibrasi ulang” antara Kanada dan Tiongkok, tetapi masing-masing negara harus menangani berbagai isu dan prioritas penting guna menjamin keselamatan dan keamanan rakyat mereka.

Pada 29 Mei, saat iring-iringan kendaraan Wang Yi meninggalkan kantor Perdana Menteri Kanada, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, saat iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk bertemu dengan Mark Carney, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk melakukan pertemuan dengan Mark Carney. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk bertemu dengan Mark Carney. Di saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengunjungi Parliament Hill di Ottawa pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.

Anand juga mengatakan kepada Wang bahwa Kanada menargetkan peningkatan ekspor ke Tiongkok sebesar 50 persen pada 2030, sembari tetap “melindungi kepentingan ekonomi, keamanan nasional, dan nilai-nilai Kanada.”

Dalam sambutan pembukaannya, Wang mengatakan bahwa interaksi antara Ottawa dan Beijing meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, yang menurutnya menunjukkan kedua pihak bersedia memperbaiki hubungan.

Ia juga mengatakan bahwa hubungan bilateral telah mengalami “pasang surut” yang memberikan “banyak pelajaran penting.”

Selain itu, Wang menyampaikan bahwa Carney telah diundang untuk menghadiri Konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Tiongkok pada November mendatang.

Carney bertemu Wang di kantornya yang berada di seberang Parliament Hill pada 29 Mei. Namun, sejumlah langkah diambil untuk membatasi liputan media terhadap pertemuan tersebut.

Awalnya hanya fotografer resmi yang diizinkan mengambil gambar jabat tangan antara Carney dan Wang. Setelah mendapat protes dari Parliamentary Press Gallery, media akhirnya diperbolehkan masuk sebentar ke kantor Carney untuk merekam momen jabat tangan tersebut selama kurang dari 30 detik.

Baik Carney maupun Wang tidak memberikan komentar kepada wartawan, dan tidak ada konferensi pers yang dijadwalkan pada hari itu.

Kunjungan terakhir Wang ke Kanada terjadi pada 2016. Saat itu ia mengkritik seorang wartawan Kanada yang mengajukan pertanyaan mengenai hak asasi manusia di Tiongkok dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Kanada saat itu, Stéphane Dion.

Kunjungan Wang kali ini berlangsung setelah Carney mengunjungi Tiongkok pada Januari lalu ketika pemerintahannya berupaya mempererat hubungan dengan Beijing. Selama kampanye pemilu 2025, Carney pernah menyebut Tiongkok sebagai ancaman keamanan terbesar bagi Kanada. Namun dalam kunjungannya ke Tiongkok tahun ini, ia mengatakan bahwa hubungan Ottawa dan Beijing telah memasuki “era baru” dan kedua negara berada dalam “kemitraan strategis”.

Noé Chartier turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Mengapa Gula Memberi Rasa Tenang Sesaat, tetapi Membebani Tubuh Anda?

Gula meminjam ketenangan dari otak dan membebankan biayanya kepada tubuh.

Oleh Rachel Ann T. Melegrito

Gula adalah mekanisme pelarian yang paling diterima secara sosial di dunia. Setelah hari yang panjang di tempat kerja, banyak orang menikmati cokelat panas, memakan sepotong cokelat, atau membuka minuman manis—dan benar-benar merasa lebih baik.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun otak mungkin merasa lebih tenang, tubuh sebenarnya masih berada dalam kondisi stres.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam International Journal of Psychophysiology meneliti apakah gula memengaruhi tubuh selama aktivitas yang menenangkan seperti pijat dan istirahat santai.

Para peneliti mempelajari 94 orang dewasa sehat yang secara acak dibagi ke dalam empat kelompok: glukosa plus pijat, glukosa plus istirahat, air putih plus pijat, dan air putih plus istirahat. Setelah itu, para peserta menjalani tugas yang memerlukan perhatian berkelanjutan.

Minuman glukosa yang digunakan mengandung 75 gram glukosa yang dilarutkan dalam air—setara dengan kandungan gula dalam sekitar dua kaleng minuman bersoda biasa, atau sekitar 20 sendok teh gula.

Peneliti mengukur kadar glukosa darah, tekanan darah, aktivitas jantung, dan sinyal dari sistem tubuh yang mengatur kewaspadaan maupun relaksasi selama eksperimen berlangsung. Kadar glukosa darah diukur sebelum minum, sebelum sesi pijat atau istirahat, dan kembali diukur sebelum tugas perhatian dilakukan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pijat dan istirahat tetap memberikan efek yang diharapkan: peserta merasa lebih rileks dan tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda relaksasi yang jelas. Namun, pada peserta yang mengonsumsi glukosa, sebagian sistem kewaspadaan tubuh tidak sepenuhnya mereda, yang menunjukkan bahwa gula dapat menghambat tubuh untuk benar-benar mencapai keadaan rileks.

“Gula meminjam ketenangan sesaat dari sistem dopamin dan membebankan bunganya pada kesehatan metabolisme Anda,” kata Grant Antoine, dokter naturopati dan pemimpin klinis nutrisi presisi di Viome, kepada The Epoch Times.

Menurutnya, meskipun otak merasakan kenyamanan, tubuh mungkin masih menjalankan respons stres di balik layar.

Ketenangan yang Anda Rasakan Bukanlah Ketenangan yang Sebenarnya

Rasa nyaman yang ditimbulkan oleh gula tampaknya terutama berasal dari sistem penghargaan (reward system) di otak, bukan dari respons relaksasi seluruh tubuh.

“Rasa tenang yang dirasakan orang setelah mengonsumsi gula merupakan peristiwa neurokimia dalam sistem penghargaan otak,” kata Antoine, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurutnya, rasa tenang itu tidak meluas ke sistem kardiovaskular, sistem saraf, maupun hormon stres yang tetap aktif di balik layar.

“Itulah sebabnya camilan manis dapat secara diam-diam menghapus manfaat dari latihan pernapasan atau meditasi,” katanya.

Meskipun otak merasakan kenyamanan sesaat, “tubuh tidak pernah benar-benar menghentikan program stresnya.”

Kara Seidman, ahli gizi dan direktur kemitraan di Resbiotic Nutrition, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa glukosa meningkatkan aktivitas stres dan membuat tubuh lebih sulit rileks, bahkan ketika seseorang menjalani aktivitas yang menenangkan seperti pijat.

“Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara rasa tenang yang dirasakan dan tingkat stres fisiologis yang sebenarnya,” ujarnya.

Gula Mengirimkan Sinyal Stres ke Tubuh

Tubuh bereaksi terhadap apa yang beredar dalam aliran darah.

“Lonjakan gula darah itu sendiri merupakan faktor pemicu stres,” kata Antoine.

Peningkatan kadar gula darah mengaktifkan respons “lawan atau lari” (fight-or-flight) tubuh, yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

“Biasanya perubahan seperti ini hanya terlihat saat tubuh mengalami peningkatan stres, seperti ketika berolahraga. Namun penelitian pada manusia menunjukkan bahwa hal ini juga dapat terjadi bahkan saat sedang beristirahat,” katanya.

Yang terjadi setelah lonjakan gula darah sering kali lebih buruk. Ketika kadar gula darah turun di bawah tingkat normal, tubuh menganggapnya sebagai keadaan darurat dan melepaskan kortisol serta adrenalin—dua hormon stres—untuk mengimbanginya.

“Satu kali konsumsi gula sebenarnya dapat memicu dua gelombang aktivasi stres: satu saat gula darah melonjak dan satu lagi saat gula darah menurun,” kata Antoine.

Yang penting untuk dipahami, tidak ada batas pasti mengenai jumlah gula yang menyebabkan lonjakan gula darah. Efeknya sangat bergantung pada dosis dan kondisi masing-masing individu.

Faktor seperti makanan lain yang dikonsumsi, sensitivitas insulin seseorang, tingkat aktivitas fisik, dan apakah seseorang sudah berada dalam kondisi stres dapat memengaruhi respons tubuh.

Sebagai gambaran, studi ini menggunakan dosis glukosa yang setara dengan jumlah yang digunakan dalam tes toleransi glukosa oral—yakni dosis gula tinggi yang dirancang untuk meningkatkan kadar gula darah secara cepat.

Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi gula sebelum menghadapi situasi yang menegangkan dapat memperkuat respons hormonal tubuh. Dalam salah satu penelitian, orang yang mengonsumsi glukosa sebelum menjalani tes stres sosial—seperti berpidato atau melakukan perhitungan matematika di depan umum—mengalami lonjakan kortisol yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi glukosa.

Mereka yang sistem respons stresnya sudah terganggu, seperti orang yang mengalami stres kronis, kurang tidur, atau kelelahan berat (burnout), kemungkinan mengalami dampak yang lebih besar. Kadar kortisol mereka cenderung meningkat lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Pada tingkat biologis, kadar gula darah yang tinggi memberi sinyal bahwa energi tersedia dan kondisi mendukung aktivitas, bukan istirahat. Otak kemudian merespons dengan menggeser tubuh ke kondisi yang lebih waspada dan siap bertindak.

Mengapa Kita Menginginkan Gula Saat Stres?

Ada sejumlah faktor biologis dan psikologis yang mendorong kita mencari makanan manis ketika sedang stres.

Kortisol meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan terhadap makanan tinggi kalori.

Stres juga meningkatkan kadar ghrelin, hormon pemicu rasa lapar, yang memperkuat dorongan untuk makan.

Menurut Antoine, stres kronis dapat membuat otak menjadi “setengah tuli” terhadap leptin, hormon yang memberi sinyal rasa kenyang.

“Akibatnya, Anda merasa lebih lapar daripada biasanya dan kurang mampu mengenali kapan Anda sudah cukup makan,” katanya.

Selain itu, gula memang bekerja—setidaknya untuk sementara waktu.

Penelitian menunjukkan bahwa gula dapat meredam respons stres dengan menekan aktivitas pada sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal axis), yaitu bagian dari sistem stres yang membantu menjaga tubuh tetap waspada dan berenergi selama periode stres berkepanjangan.

Namun, efek ini hanya berlangsung singkat.

“Rasa lega itu hanya bertahan sebentar sebelum siklusnya dimulai kembali dan menuntut dosis berikutnya,” kata Antoine.

Gula juga jarang dikonsumsi sendirian. Biasanya gula dikaitkan dengan aktivitas yang menenangkan, seperti duduk santai, menonton sesuatu, atau menghabiskan waktu bersama orang lain, sehingga rasa nyaman yang muncul menjadi semakin kuat.

Karena gula mampu meredakan stres—meskipun hanya sementara—seseorang akan lebih cenderung mencarinya kembali saat merasa tertekan di kemudian hari.

Dan menurut Antoine, keinginan tersebut cenderung semakin kuat setiap kali terulang.

Harga yang Harus Dibayar dalam Jangka Panjang

Seiring waktu, siklus ini akan memberikan dampak negatif.

Ketika gula terus-menerus digunakan sebagai cara untuk meredakan stres, kadar insulin dan kortisol dapat meningkat secara bersamaan, menciptakan efek tarik-menarik.

Satu hormon berusaha menyimpan energi, sementara hormon lainnya berusaha menjaga energi tetap beredar.

Sel-sel tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin, dan kadar gula darah yang terus tinggi dapat memicu peradangan, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Dr. Deepak Bhatt, ahli jantung intervensi dan direktur Mount Sinai Fuster Heart Hospital, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa minuman manis, makanan cepat saji seperti burger dan kentang goreng, pizza, serta berbagai hidangan penutup umumnya mengandung kalori kosong dan lemak yang tidak sehat.

Ketika makan karena stres menjadi kebiasaan, hal itu juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang merupakan faktor risiko utama bagi diabetes dan penyakit jantung.

Namun semua ini tidak berarti Anda harus sepenuhnya menghindari gula atau merasa bersalah ketika mengonsumsinya.

Rasa nyaman yang diberikan gula memang nyata, tetapi hanya sebagian.

Memahami bagaimana gula memengaruhi otak dan tubuh dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih bijaksana, terutama saat menghadapi stres.

Merasa lebih baik bukan hanya soal mendapatkan kenyamanan sesaat, melainkan juga memberi kesempatan kepada tubuh untuk benar-benar kembali ke keadaan istirahat dan pemulihan.


Rachel Melegrito pernah bekerja sebagai terapis okupasi yang menangani kasus-kasus neurologis. Ia juga mengajar mata kuliah ilmu dasar dan terapi okupasi profesional di universitas. Pada 2019, ia meraih gelar magister dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Sejak 2020, Melegrito secara luas menulis artikel mengenai kesehatan untuk berbagai publikasi dan merek.

Rahasia Fisiologis di Balik Kemampuan Mengambil Keputusan Saat Tertekan

Serangkaian penelitian Angkatan Laut Amerika Serikat mengeksplorasi bagaimana keselarasan antara jantung dan otak dapat membantu mencapai kinerja puncak di bawah tekanan.

Oleh Rakefet Tavor

Setelah beberapa tabrakan yang melibatkan kapal perang Amerika Serikat antara tahun 2017 hingga 2019, salah satunya menewaskan tujuh pelaut, pimpinan Angkatan Laut AS melakukan penyelidikan terhadap penyebab insiden tersebut.

Laporan tahun 2019 yang diterbitkan oleh Naval Health Research Center menyatakan bahwa “masalah dalam pengambilan keputusan di antara awak kapal mungkin merupakan faktor penting yang berkontribusi” terhadap kecelakaan tersebut dan bahwa “stres mungkin turut berperan.”

“Para pelaut di kapal menghadapi tingkat stres yang tinggi karena operasi di atas kapal memiliki berbagai faktor stres yang unik dan sering kali intens, yang memengaruhi kesiapan personel militer,” demikian bunyi laporan tersebut. “Meskipun stres terkadang dapat menjadi motivasi, paparan terhadap faktor stres yang intens atau berkepanjangan memiliki dampak negatif yang telah terdokumentasi dengan baik terhadap pengambilan keputusan dan kinerja operasional.”

Untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan, Naval Health Research Center meneliti sejumlah program yang dapat membantu para pelaut belajar mengatasi stres secara efektif, mempertahankan fokus di bawah tekanan, dan memperkuat kemampuan mereka menghadapi situasi yang sulit dan berbahaya. Salah satu program tersebut adalah Stress Resilience Training System, yang dikembangkan bersama HeartMath Institute yang berbasis di California.

Sebagai bagian dari program tersebut, 92 awak dari sebuah kapal masing-masing diberikan iPad yang telah dilengkapi aplikasi khusus dengan sistem biofeedback yang menampilkan aktivitas jantung pengguna secara waktu nyata (real-time). Aplikasi tersebut memuat berbagai simulasi yang memungkinkan peserta mempraktikkan teknik yang diajarkan kepada mereka, seperti latihan pernapasan dan metode mengubah emosi dalam berbagai skenario yang menantang.

Tujuan latihan tersebut adalah mengubah perasaan stres dengan cepat dan menggantinya dengan emosi positif seperti rasa syukur atau kasih sayang terhadap orang yang dicintai.

Untuk menilai dampak program tersebut, para awak kapal mengikuti serangkaian tes kognitif yang dilakukan dua kali: pada awal penelitian dan setelah delapan minggu menggunakan aplikasi. Tes tersebut mengukur kemampuan pengambilan keputusan, kecepatan pemrosesan informasi, perhatian, dan perencanaan.

Pada akhir periode delapan minggu, peningkatan paling signifikan ditemukan pada skor tes pengambilan keputusan, yang meningkat rata-rata sebesar 65 persen. Kecepatan pemrosesan informasi juga meningkat, meskipun lebih kecil, yaitu sebesar 14 persen.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Jawabannya terletak pada perubahan aktivitas jantung, suatu bidang yang telah dipelajari oleh tim peneliti HeartMath selama bertahun-tahun.

Pada tahun 1995, tim tersebut melakukan penelitian awal yang meneliti hubungan antara emosi dan aktivitas jantung, serta bagaimana aktivitas tersebut selanjutnya memengaruhi fungsi otak.

Penelitian itu menemukan hubungan antara emosi yang dialami seseorang dan ukuran fisiologis yang disebut variabilitas denyut jantung (heart rate variability atau HRV), yaitu pengukuran fluktuasi kecil dalam denyut jantung atau perbedaan interval waktu antar denyut jantung.

Di masa lalu, denyut jantung yang stabil dianggap sebagai tanda kesehatan yang baik. Namun kini diketahui bahwa variabilitas yang lebih tinggi (HRV tinggi) justru menunjukkan fleksibilitas fisiologis yang lebih baik.

Fleksibilitas ini menandakan bahwa jantung dan sistem saraf dapat beradaptasi secara efisien terhadap perubahan kebutuhan tubuh, seperti mempercepat denyut jantung saat beraktivitas fisik dan memperlambatnya saat beristirahat.

Seseorang dengan HRV tinggi cenderung lebih mampu menghadapi aktivitas fisik, stres, dan perubahan lingkungan.

Dalam penelitian tahun 1995 tersebut, peneliti utama Rollin McCraty dan rekan-rekannya meminta peserta memasuki dua kondisi emosional yang berlawanan: mengingat suatu peristiwa yang membuat mereka marah dan membangkitkan rasa penghargaan terhadap seseorang.

Analisis aktivitas listrik jantung mereka menunjukkan perbedaan yang mencolok. Ketika peserta merasa marah, hanya terjadi peningkatan pada pita frekuensi rendah. Sebaliknya, ketika mereka merasakan penghargaan atau rasa syukur, terjadi peningkatan pada frekuensi rendah maupun tinggi. Perbedaan ini memengaruhi HRV para peserta.

Dari Kekacauan Menuju Koherensi

Dalam penelitian lain yang diterbitkan setahun kemudian, para peneliti memperdalam analisis mereka terhadap data HRV.

Dalam penelitian tersebut, 20 peserta diminta menggunakan latihan pernapasan dan meditasi untuk membangkitkan emosi positif seperti penghargaan, kepedulian, atau cinta kasih.

Para peneliti memeriksa data HRV beberapa menit sebelum dan sesudah latihan.

Ketika hasilnya digambarkan dalam grafik, terlihat perubahan yang sangat jelas: grafik berubah dari pola yang kacau menjadi jauh lebih halus dan teratur.

Beberapa tahun kemudian, para peneliti HeartMath mendefinisikan pola tersebut sebagai “koheren”, yang mencerminkan pengaruh positif emosi terhadap ritme jantung.

“Saat kita merasakan stres, frustrasi, kemarahan, kecemasan, atau kekhawatiran, pola ritme jantung menjadi bergerigi dan tidak teratur, dan sinyal itu dikirim dari jantung ke otak,” kata Deborah Rozman, salah satu peneliti utama HeartMath, dalam sebuah kuliah yang dipublikasikan oleh Science and Nonduality.

“Ketika kita merasakan cinta, kepedulian yang tulus, belas kasih, kebaikan, dan penghargaan—semua kualitas yang kita kaitkan dengan hati—kita melihat gelombang sinus yang indah, sebuah pola koheren, dan otak jantung mengirimkan pola tersebut ke otak di kepala.”

Menurutnya, ketika sinyal yang teratur seperti itu mencapai otak, hal tersebut berkontribusi pada sinkronisasi global di dalam otak sehingga otak dapat beroperasi pada kapasitas optimalnya.

Dalam sebuah artikel tinjauan yang diterbitkan pada tahun 2009, para peneliti menjelaskan bahwa mereka mengukur gelombang alfa di otak dan mengamati sinkronisasinya dengan denyut jantung. Mereka juga menemukan frekuensi tertentu ketika denyut jantung menjadi stabil dalam pola sinusoidal.

Penelitian tambahan menunjukkan adanya korelasi antara gelombang alfa otak dan aktivitas jantung selama kondisi emosional tertentu.

McCraty dan rekan-rekannya berpendapat bahwa dalam keadaan koheren, jantung yang merupakan osilator ritmis yang kuat dapat menyelaraskan ritme sistem tubuh lainnya sehingga ikut tersinkronisasi.

Dengan kata lain, jantung “menarik” pernapasan, tekanan darah, bahkan ritme otak lainnya agar selaras dengan frekuensinya, menciptakan sinkronisasi harmonis di seluruh tubuh.

McCraty menjelaskan bahwa sinkronisasi ini meluas melampaui otak dan memengaruhi berbagai sistem tubuh lainnya, yang kemudian menyatu dalam pola yang teratur dan harmonis.

Institut tersebut segera menemukan bahwa proses biofeedback—di mana seseorang menerima umpan balik langsung mengenai perubahan fisiologis pada aktivitas jantungnya—dapat membantu mengubah kondisi emosional dan fisiologis seseorang.

Melalui teknik yang memperkuat emosi positif, seseorang dapat mencapai keadaan “koherensi” dengan relatif efektif.

Lebih dari Sekadar Kinerja di Bawah Tekanan

Keadaan koheren menawarkan banyak manfaat.

Dari sisi kesehatan dan fisiologi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keadaan koheren membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dan mengurangi rasa sakit pada penderita nyeri kronis.

Efek serupa juga ditemukan pada aspek mental. Keadaan koheren membantu perempuan yang mengalami depresi pascamelahirkan dan pasien yang berjuang menghadapi gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Para peneliti HeartMath menjelaskan bahwa koherensi muncul dari interaksi antara dua sistem saraf utama dalam tubuh:

  • Sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab membangkitkan tubuh saat stres dan mengaktifkan respons “lawan atau lari”.
  • Sistem saraf parasimpatik, yang mendorong kondisi tenang dan pemulihan.

Rozman menjelaskan bahwa dalam keadaan koheren, “sistem saraf simpatik dan parasimpatik tersinkronisasi sehingga kekuatan keduanya bekerja bersama.”

Dengan kata lain, ketika kita mengalami kemarahan, frustrasi, atau emosi negatif lainnya, tidak ada koordinasi antara kedua sistem tersebut dan masing-masing berusaha memengaruhi denyut jantung ke arah yang berlawanan.

Sebaliknya, ketika kita menunjukkan kepedulian, kebaikan, belas kasih, cinta, atau rasa syukur, kedua sistem tersebut bekerja secara terkoordinasi sehingga menghasilkan ritme jantung yang seimbang dan harmonis.

Koherensi Bukan Sekadar Relaksasi

Para peneliti menjelaskan bahwa terdapat perbedaan penting antara relaksasi dan koherensi.

Dalam keadaan relaksasi, tubuh hanya “menurunkan gigi.” Sistem saraf menjadi tenang, denyut jantung menjadi seragam, dan aktivitas sistem parasimpatik meningkat.

Tubuh berada dalam kondisi istirahat mendalam atau keadaan “energi rendah.”

Sebaliknya, dalam keadaan koheren, jantung dan otak bekerja bersama secara tersinkronisasi dan harmonis.

Kita merasa tenang dan fokus, tetapi tetap penuh vitalitas.

Tubuh beroperasi pada frekuensi yang teratur sehingga mampu merespons lingkungan dengan lebih baik dan lebih seimbang.

Hubungan dengan Intuisi

Sebuah penelitian menarik yang dilakukan McCraty dan rekan-rekannya bahkan menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas jantung yang koheren dan meningkatnya intuisi.

Sebanyak 26 peserta yang telah terlatih dalam teknik HeartMath dan mampu memasuki keadaan koheren mengikuti eksperimen yang menampilkan 45 gambar: 15 gambar yang membangkitkan emosi dan 30 gambar yang menenangkan.

Eksperimen dilakukan dalam dua putaran. Pada satu putaran peserta diminta mempertahankan keadaan koheren, sedangkan pada putaran lainnya mereka berada dalam kondisi normal.

Urutan putaran ditentukan secara acak untuk setiap peserta.

Aktivitas jantung peserta direkam sepanjang eksperimen.

Hasilnya menunjukkan bahwa denyut jantung peserta melambat secara signifikan sebelum gambar yang membangkitkan emosi ditampilkan, sedangkan perlambatan serupa tidak terjadi sebelum gambar yang menenangkan.

Dengan kata lain, jantung tampak merespons secara intuitif. Jantung mulai memperlambat ritmenya sebelum gambar emosional muncul, seolah-olah mempersiapkan tubuh menghadapi apa yang akan datang.

Sebelum gambar yang menenangkan ditampilkan, denyut jantung tetap relatif stabil karena tubuh secara intuitif “merasakan” bahwa tidak diperlukan persiapan emosional.

Ketika peserta berada dalam keadaan koheren, efek intuitif tersebut menjadi lebih jelas.

Sebelum setiap rangkaian gambar ditampilkan, peserta berusaha memusatkan perhatian pada jantung sambil mempertahankan emosi positif seperti rasa syukur atau kepedulian selama beberapa saat.

Sebagian peserta—terutama perempuan—menunjukkan perlambatan denyut jantung yang signifikan sebelum stimulus emosional di masa depan, yang mengindikasikan bahwa keadaan koheren mungkin meningkatkan sensitivitas intuitif.

“Jantung mengirimkan sinyal saraf yang berbeda ke otak, hingga mencapai lobus frontal, dan otak merespons sebelum komputer secara acak memilih gambar yang akan ditampilkan,” kata Rozman.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang terlatih dalam koherensi jantung lebih terhubung dengan bimbingan intuitif dari jantung.”

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Epoch Magazine Israel.

Semakin Banyak Kurir Pengantar Makanan di Tiongkok Membawa Anak Saat Bekerja di Tengah Lesunya Perekonomian

Kurir pria maupun wanita menghadapi minimnya fasilitas penitipan anak atau tidak mampu membayar biaya taman kanak-kanak, menurut warga dan para pekerja.

EtIndonesia.com. Semakin banyak kurir pengantar makanan di Tiongkok yang membawa anak-anak mereka saat mengantar pesanan, seiring kondisi ekonomi negara itu yang terus memburuk. Hal ini terlihat dari berbagai unggahan di media sosial serta kesaksian para kurir yang berbicara kepada The Epoch Times mengenai kesulitan yang mereka hadapi.

Di tengah berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok dan tingginya tingkat pengangguran, semakin banyak warga kelas menengah yang kehilangan pekerjaan dan beralih menjadi kurir pengantar makanan demi mencari nafkah.

Menurut data resmi terbaru yang dirilis rezim komunis Tiongkok pada 2023, terdapat sekitar 12 juta kurir yang terdaftar pada platform layanan pengantaran makanan di seluruh negeri. Dalam dokumenter “Laporan Kelangsungan Hidup Pekerja Pengantar Makanan Tiongkok 2026”, yang dirilis pada April oleh Sanlian Life Lab, salah satu penerbit besar di Tiongkok, jumlah kurir disebut telah melampaui 13 juta orang.

Banyak dari para kurir tersebut bekerja sebagai pekerja lepas dan hanya menerima sedikit tunjangan maupun perlindungan kesejahteraan dari platform pengantaran ataupun negara. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kurir bahkan menggelar aksi protes untuk menuntut hak-hak dasar mereka.

Tian Jing, seorang kurir di Guangzhou, Provinsi Guangdong, yang menggunakan nama samaran karena khawatir akan pembalasan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia mulai bekerja sebagai kurir tahun lalu. Karena tidak ada yang bisa menjaga anaknya yang berusia dua tahun, ia terpaksa membawa anak tersebut saat bekerja.

“Anak saya kadang rewel, tetapi saya tidak punya pilihan lain,” katanya.

“Saya mengantar makanan hanya untuk mendapatkan cukup uang membeli bahan makanan. Tentu saja anak saya ikut menderita karena harus ikut berkeliling bersama saya,” ujarnya. “Sekarang persaingan di setiap sektor sangat ketat. Mustahil menemukan pekerjaan dengan jam kerja kantor yang normal.”

Xiaofang, seorang kurir di Kota Jiangmen, Provinsi Guangdong, yang juga menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa mengantar makanan sambil membawa anak sangat melelahkan. Ia menambahkan bahwa dirinya membesarkan anak seorang diri dan keluarganya sama sekali tidak dapat membantu.

Ia mengatakan pesanan kini sangat sedikit dan tarifnya rendah. Kadang-kadang ia tidak mendapatkan satu pesanan pun selama satu jam penuh.

“Saya punya anak yang harus saya nafkahi dan saya tidak punya uang. Karena itu saya tetap keluar bekerja, karena berapa pun yang bisa saya hasilkan akan sangat membantu.”

Xiaofang mengatakan ia hanya mampu memperoleh sekitar 30 hingga 40 yuan (sekitar Rp68.000 hingga Rp91.000) per hari.

“Ekonomi sudah buruk selama beberapa tahun terakhir. Setiap tahun lebih buruk daripada sebelumnya, dan tidak ada pekerjaan yang memberikan penghasilan yang baik lagi.”

Di tengah ekonomi yang terus lesu, rezim Tiongkok pada 2026 menetapkan target pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 4,5 hingga 5 persen, yang merupakan tingkat terendah sejak 1991.

Yang Hua, seorang ibu tunggal di Kota Langfang, Provinsi Hebei, yang juga menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia bercerai pada 2023 ketika anaknya baru berusia satu tahun. Setelah kehilangan pekerjaan pada 2024, ia mulai bekerja sebagai kurir pengantar makanan.

Ia menuturkan bahwa bisnis pengantaran makanan saat ini sangat sulit. Tahun lalu pesanan sangat banyak dan ia langsung menerima permintaan begitu keluar rumah. Namun tahun ini jumlah pesanan menurun drastis.

“Mungkin sekarang semakin banyak orang yang menjadi kurir, sementara semakin sedikit orang yang memesan makanan,” katanya.

Yang mengatakan bahwa mengantar makanan sambil menggendong anak membuatnya takut mengendarai sepeda motor terlalu cepat. Akibatnya, pesanan sering terlambat dan penghasilannya dipotong.

Belum lama ini, seorang rekan kerja pria yang juga membawa anak saat bekerja dikenai potongan upah sebesar 50 yuan (sekitar Rp114.000) karena terlambat mengantar pesanan.

“Waktu itu salju turun tipis dan jalanan licin karena es. Dia tidak berani berkendara terlalu cepat karena membawa anaknya.”

Para Ayah Juga Mengantar Makanan Sambil Membawa Anak

Berbagai video yang menunjukkan kurir pria membawa anak saat bekerja telah menarik perhatian publik dan memicu perdebatan hangat mengenai kerasnya kehidupan para kurir tersebut.

Salah satu video yang diunggah pada 3 April memperlihatkan seorang kurir di Provinsi Guangxi membawa dua anak sekaligus saat mengantar makanan—satu duduk di depan sepeda motornya dan satu lagi digendong di punggung.

Video lainnya menunjukkan seorang kurir di Guangxi tetap mengantar pesanan pada 17 Januari di tengah cuaca musim dingin yang sangat dingin sambil membawa anaknya.

Video lain yang menjadi viral memperlihatkan seorang kurir pria di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, sedang makan di sebuah restoran saat jeda kerja pada 30 November 2025, sambil menggendong anak di punggungnya.

Su He, seorang kurir di Guangzhou yang menggunakan nama samaran, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia berasal dari Zhaoqing, Guangdong. Ibu dari anaknya telah meninggalkan mereka sehingga ia harus mengurus anaknya sambil bekerja mengantar makanan.

Menurut Su, mencari uang kini semakin sulit. Kadang-kadang ia harus mengantar makanan hingga larut malam sambil membawa anaknya yang tertidur.

Ia mengatakan selalu berusaha menjaga anaknya tetap dalam pengawasan. Ketika masuk ke toko untuk mengambil pesanan, biasanya ia meminta seseorang di toko tersebut untuk mengawasi anaknya sebentar.

Ia juga belum menyekolahkan anaknya ke taman kanak-kanak karena biayanya terlalu mahal.

“Saat ini pekerjaan mengantar makanan hanya menghasilkan sekitar tiga hingga empat ribu yuan per bulan (sekitar Rp6,8 juta hingga Rp9,1 juta),” kata Su.

Menurutnya, seiring ekonomi Tiongkok yang terus memburuk, bahkan mahasiswa—yang sebelumnya merupakan salah satu kelompok pelanggan utama layanan pengantaran makanan—kini sudah jarang memesan makanan secara daring.

“Sekarang pesanan sangat sedikit dan persaingannya sangat ketat. Dulu saya bisa bekerja lebih dari sepuluh jam sehari sambil menggendong anak, tetapi sekarang saya beruntung jika bisa mendapatkan beberapa jam kerja saja dalam sehari.”

Dokumenter “Laporan Kelangsungan Hidup Pekerja Pengantar Makanan Tiongkok 2026” yang diterbitkan Sanlian Life Lab menggambarkan penderitaan dan perjuangan para kurir pengantar makanan di Tiongkok. Dokumenter tersebut sempat menarik perhatian luas masyarakat, namun kemudian dilarang oleh rezim Tiongkok. Meski demikian, dokumenter itu masih dapat ditemukan di berbagai platform luar negeri seperti X dan China Digital Times.

Tang Bing dan Guo Xiaohua berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Jepang dan Filipina Perkuat Hubungan Keamanan, Serukan Perdamaian di Selat Taiwan

Kedua negara juga menyatakan penolakan terhadap tindakan pemaksaan di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan serta mendukung perluasan kerja sama pertahanan dan maritim.

EtIndonesia.com. Jepang dan Filipina memperdalam hubungan keamanan selama kunjungan kenegaraan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Tokyo, dengan menyerukan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta menempatkan isu stabilitas lintas selat dalam pernyataan yang lebih luas mengenai keamanan maritim, kerja sama pertahanan, dan tatanan kawasan.

Pernyataan bersama tersebut dikeluarkan setelah pertemuan puncak pada 28 Mei antara Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Marcos, yang berkunjung ke Jepang saat kedua negara memperingati 70 tahun hubungan diplomatik. Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, kedua pemimpin sepakat meningkatkan hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif.

“Kedua pemimpin juga menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta mendorong penyelesaian damai isu lintas selat melalui dialog,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.

Kementerian Luar Negeri Taiwan menyambut baik pernyataan itu dan mengatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya para pemimpin Jepang dan Filipina secara bersama-sama menyampaikan keprihatinan tingkat tinggi mengenai isu Selat Taiwan dalam sebuah pernyataan resmi. Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung, mengatakan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan merupakan perhatian bersama komunitas internasional.

Pernyataan mengenai Selat Taiwan muncul dalam bagian yang sama dengan pembahasan mengenai Laut Tiongkok Timur, Laut Tiongkok Selatan, kebebasan navigasi dan penerbangan, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), serta Putusan Arbitrase Laut Tiongkok Selatan tahun 2016.

Kerja Sama Keamanan Diperluas

Dalam pernyataan bersama tersebut, Jepang dan Filipina menggambarkan diri mereka sebagai “demokrasi maritim yang memiliki pandangan serupa” dan menyatakan bahwa hubungan kedua negara telah memasuki apa yang mereka sebut sebagai “era platinum”.

Pernyataan itu menyambut dimulainya Perjanjian Akses Timbal Balik Jepang–Filipina pada 11 September 2025. Perjanjian tersebut memudahkan Pasukan Bela Diri Jepang dan Angkatan Bersenjata Filipina untuk mengadakan latihan bersama dan pertukaran personel.

Kedua pemimpin juga menyambut penandatanganan Perjanjian Akuisisi dan Dukungan Lintas Layanan Jepang–Filipina pada 15 Januari, serta menyatakan bahwa kedua pihak sedang berkoordinasi untuk segera mengaktifkannya. Perjanjian tersebut akan mendukung kerja sama logistik antara kedua militer.

Takaichi dan Marcos juga sepakat memulai negosiasi mengenai perjanjian perlindungan informasi militer rahasia, sebuah kerangka kerja yang menurut pernyataan tersebut akan memperdalam kerja sama keamanan dan meningkatkan interoperabilitas antara kedua negara serta mitra lainnya.

Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina menyebut rencana pembicaraan itu sebagai negosiasi untuk Perjanjian Keamanan Umum Informasi Militer. Menurut kantor tersebut, Marcos mengatakan inisiatif itu akan mendukung tujuan bersama dalam bidang keamanan, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan nasional.

Kedua pemimpin juga sepakat melanjutkan kerja sama peralatan pertahanan, termasuk pembahasan mengenai kapal perusak, pesawat TC-90, dan sistem radar melalui kerangka transfer peralatan pertahanan Jepang serta program Bantuan Keamanan Resmi.

Jepang menyatakan akan terus membantu meningkatkan kapasitas Penjaga Pantai Filipina melalui penyediaan kapal patroli dan pelatihan bersama, guna menjamin keselamatan maritim dan menegakkan supremasi hukum di kawasan Indo-Pasifik.

Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan

Pernyataan bersama tersebut tidak secara langsung menyebut Tiongkok dalam paragraf mengenai Selat Taiwan maupun dalam pembahasan mengenai Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan. Namun, disebutkan bahwa kedua pemimpin menyampaikan “keprihatinan serius” atas situasi di kedua kawasan laut tersebut dan menentang upaya sepihak untuk mengubah status quo melalui kekuatan atau paksaan.

Pernyataan itu juga menegaskan pentingnya kebebasan navigasi dan penerbangan, penggunaan laut yang sah, perdagangan yang tidak terhambat, serta penyelesaian sengketa maritim secara damai berdasarkan hukum internasional, khususnya UNCLOS.

Jepang dan Filipina kembali menegaskan dukungan terhadap Putusan Arbitrase Laut Tiongkok Selatan tahun 2016, yang menolak klaim luas Beijing di Laut Tiongkok Selatan dan menguatkan sejumlah posisi utama Filipina berdasarkan UNCLOS. Pernyataan tersebut menyebut putusan arbitrase itu bersifat final dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang bersengketa.

Kedua pemimpin juga menegaskan kembali pentingnya kerja sama Jepang–Filipina–Amerika Serikat bagi stabilitas kawasan dan menyatakan niat untuk meningkatkan koordinasi dengan negara-negara yang memiliki pandangan serupa, termasuk Australia dan India, guna mempertahankan tatanan internasional yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum.

Marcos Sebut Kunjungan Sangat Produktif

Menurut Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina, Marcos menyebut kunjungan kenegaraannya sangat produktif sebelum kembali ke Manila.

“Ini merupakan kunjungan yang sangat konstruktif dan sangat produktif, mengingat kami hanya berada di Jepang selama sekitar tiga hari,” kata Marcos. “Namun dalam waktu yang singkat itu, kami mampu mencapai banyak hal.”

Marcos mengatakan bahwa peningkatan status kemitraan tersebut mencerminkan bagaimana kerja sama Jepang dan Filipina telah berkembang “bukan hanya semakin kuat, tetapi juga semakin mendalam dan semakin luas.”

Selain kerja sama keamanan dan maritim, kedua pemerintah juga sepakat memperdalam kerja sama dalam bidang keamanan energi, ketahanan rantai pasokan, dekarbonisasi, kecerdasan buatan, dan kerja sama antariksa.

Pemerintah Filipina menyatakan bahwa kunjungan tersebut menghasilkan komitmen investasi, peluang proyek, fasilitas dukungan keuangan, dan prospek investasi unggulan terkait pariwisata senilai sekitar 3,4 miliar dolar AS. Marcos juga bertemu dengan para pemimpin bisnis Jepang dari sektor perbankan, infrastruktur, penerbangan, manufaktur, telekomunikasi, mobilitas, energi terbarukan, layanan kesehatan, kecerdasan buatan, teknologi keuangan, teknologi digital, pariwisata, dan ritel.

Pemerintah Filipina juga menyebut bahwa pertemuan terpisah dengan Furukawa Electric Corp., Sumitomo Electric Industries, MinebeaMitsumi Inc., dan Tsuneishi Group Corp. membahas rencana ekspansi di Filipina senilai sekitar 56,3 miliar peso atau sekitar 956 juta dolar AS dalam industri semikonduktor, elektronik canggih, manufaktur presisi, dan pembangunan kapal.

Jaringan Regional Semakin Luas

Pernyataan Jepang–Filipina menempatkan kemitraan yang ditingkatkan tersebut dalam kerangka kerja regional yang lebih luas.

Kedua pemimpin menegaskan kembali dukungan terhadap Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka serta Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik. Mereka menyatakan bahwa kedua kerangka tersebut memiliki prinsip yang sama, yakni keterbukaan, transparansi, ketahanan, inklusivitas, tatanan berbasis aturan, kebebasan navigasi dan penerbangan, penyelesaian sengketa secara damai, serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.

Mereka juga menyatakan keprihatinan terhadap pemaksaan ekonomi dan kebijakan non-pasar, serta menyebut bahwa Jepang dan Filipina akan bekerja sama memperkuat ketahanan rantai pasokan, termasuk dalam sektor mineral kritis, semikonduktor dan elektronik, energi terbarukan, serta industri otomotif.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa kedua pemerintah akan segera menggelar pertemuan tingkat menteri luar negeri dan pertahanan Jepang–Filipina (“2+2”) berikutnya, serta memulai negosiasi mengenai perjanjian perlindungan informasi militer rahasia.

Sumber : Theepochtimes.com

Iran vs AS Memanas Lagi! Rudal Meluncur, Drone Dihancurkan, Sanksi Baru Digelontorkan

EtIndonesia.com.  Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz setelah serangkaian insiden militer, peluncuran rudal, operasi pencegatan drone, serta pengumuman sanksi ekonomi baru dari Washington. Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik kedua negara yang masih berusaha mempertahankan gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi terkait program nuklir Iran.

Perkembangan terbaru tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Iran Luncurkan Rudal ke Sasaran di Kawasan Selat Hormuz

Pada 28 Mei 2026, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran melaksanakan operasi peluncuran sejumlah rudal dari wilayah selatan negara itu menuju sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Tak lama setelah laporan tersebut muncul, Kantor Berita Tasnim menjelaskan bahwa peluncuran rudal dilakukan sebagai respons terhadap insiden kontak senjata yang terjadi di laut. Menurut versi Iran, tindakan tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kepada kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran menyebut sedikitnya empat kapal berada dalam daftar sasaran operasi tersebut. Teheran mengklaim kapal-kapal tersebut berusaha melintas tanpa melakukan koordinasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), yang selama beberapa tahun terakhir memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu.

Pejabat Iran juga mengklaim bahwa salah satu kapal yang menjadi target memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat. Beberapa laporan bahkan menyebut kemungkinan adanya kapal perang AS yang menjadi sasaran rudal Iran. Namun hingga berita ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat belum mengeluarkan konfirmasi maupun bantahan resmi terkait klaim tersebut.

Upaya Diplomatik Masih Berlangsung

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, muncul laporan bahwa perwakilan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai sebuah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang bertujuan memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus membuka jalan bagi kelanjutan pembahasan program pengayaan uranium Iran.

Menurut berbagai laporan diplomatik, kesepakatan awal tersebut mencakup sejumlah poin penting, termasuk pengaturan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan pembahasan mengenai stok uranium Iran yang diperkaya pada tingkat tinggi.

Meski demikian, kesepakatan tersebut dikabarkan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sehingga belum dapat diberlakukan secara resmi.

Situasi ini mencerminkan adanya dua jalur yang berjalan bersamaan antara Washington dan Teheran, yakni jalur diplomasi serta jalur konfrontasi militer yang masih berpotensi memicu eskalasi sewaktu-waktu.

Militer AS Klaim Gagalkan Serangan Drone Iran

Sementara itu, laporan yang beredar pada dini hari 28 Mei 2026 menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat berhasil menggagalkan sebuah operasi serangan drone yang diduga berasal dari pihak Iran.

Menurut sumber-sumber pertahanan yang dikutip media Amerika, pasukan AS berhasil menembak jatuh lima drone bunuh diri yang sedang bersiap melakukan serangan di wilayah udara sekitar Selat Hormuz.

Selain itu, sebuah stasiun kendali darat yang berlokasi di dekat Pelabuhan Abbas (Bandar Abbas) dan diduga akan digunakan untuk mengendalikan drone tambahan juga dilaporkan berhasil dihancurkan dalam operasi tersebut.

Media Amerika menyebut operasi pencegatan itu melibatkan sejumlah pesawat tempur utama militer AS, antara lain:

  • F/A-18 Hornet
  • F-16 Fighting Falcon
  • F-35 Lightning II

Kehadiran pesawat-pesawat tempur generasi terbaru tersebut menunjukkan tingginya tingkat kesiagaan militer Amerika di kawasan Teluk Persia setelah serangkaian insiden yang terjadi sepanjang Mei.

Rudal Iran ke Kuwait Berhasil Dicegat

Setelah operasi penghancuran drone tersebut, sejumlah laporan menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait sebagai bentuk respons terhadap tindakan Amerika Serikat.

Namun sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan berhasil mendeteksi dan mencegat rudal tersebut sebelum mencapai sasaran.

Pemerintah Kuwait hingga kini belum melaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan besar akibat insiden tersebut. Meski demikian, kejadian ini semakin memperlihatkan meluasnya risiko konflik yang tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan Amerika Serikat, tetapi berpotensi menyeret negara-negara Teluk lainnya.

Washington Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata

Pemerintah Amerika Serikat mengecam tindakan Iran dan menuduh Teheran telah melanggar semangat maupun ketentuan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Pejabat Washington menegaskan bahwa militer Amerika akan tetap mempertahankan tingkat kesiagaan tinggi untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional dan stabilitas kawasan.

Menurut pemerintah AS, kebebasan navigasi di Selat Hormuz merupakan kepentingan strategis global yang tidak dapat diganggu oleh tindakan sepihak dari negara mana pun.

AS Umumkan Sanksi Baru terhadap Iran

Pada hari yang sama, 28 Mei 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan paket sanksi baru yang ditujukan kepada Iran.

Washington menuduh Teheran berupaya memanfaatkan sistem pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai sarana untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar mekanisme perdagangan internasional yang sah.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyerukan kepada negara-negara lain agar tidak membantu Iran menghindari tekanan ekonomi internasional yang sedang diberlakukan.

Menurut Bessent, dunia telah memasuki fase baru di mana Iran tidak lagi dapat menggunakan ancaman terhadap jalur perdagangan global sebagai alat tekanan politik maupun ekonomi.

AS Klaim Angkatan Lautnya Bentuk “Tembok Baja”

Dalam pernyataannya, Bessent menegaskan bahwa kehadiran armada Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Teluk telah membentuk apa yang ia sebut sebagai “tembok baja” yang secara signifikan membatasi kemampuan Iran dalam mengekspor minyak.

Ia juga mengungkapkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk:

  • Pembatasan jalur penerbangan internasional yang berkaitan dengan Iran.
  • Pengawasan lebih ketat terhadap layanan pengisian bahan bakar pesawat.
  • Pembatasan sistem penjualan tiket penerbangan yang terhubung dengan jaringan transportasi Iran.
  • Penguatan pengawasan terhadap transaksi keuangan lintas negara.

Pemerintah AS menegaskan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan dipertimbangkan apabila hasil negosiasi mendatang benar-benar memenuhi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Iran Mulai Longgarkan Pembatasan Internet

Di tengah tekanan militer dan ekonomi yang terus meningkat, Iran dilaporkan mulai memulihkan sebagian akses internet nasional yang sebelumnya dibatasi.

Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga aktivitas ekonomi domestik agar tidak mengalami gangguan lebih lanjut. Pembatasan internet yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir dinilai telah memberikan dampak terhadap sektor perdagangan, layanan keuangan, dan komunikasi bisnis di dalam negeri.

Pemerintah Iran sendiri belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan pelonggaran akses internet tersebut. Namun banyak pihak melihat kebijakan itu sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan internasional yang semakin besar.

Situasi Tetap Rawan Eskalasi

Perkembangan pada 28 Mei 2026 menunjukkan bahwa kawasan Teluk Persia masih berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Iran masih membuka ruang diplomasi melalui pembahasan nota kesepahaman dan perpanjangan gencatan senjata. Namun di sisi lain, berbagai insiden militer yang melibatkan rudal, drone, kapal perang, dan sanksi ekonomi terus memperbesar risiko terjadinya konfrontasi yang lebih luas.

Dengan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia, setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasar minyak global, keamanan pelayaran internasional, dan stabilitas geopolitik Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan. (***)

Korban Rusia Mendekati 500.000 Orang, Drone AI Ukraina Ubah Jalannya Perang?

EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun kembali memasuki fase yang mengkhawatirkan. Selain meningkatnya intensitas serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia, laporan intelijen Inggris juga mengungkap angka korban yang sangat besar di pihak Moskow. Pada saat yang sama, ketegangan antara Rusia dan negara-negara Baltik terus meningkat hingga mendorong NATO melakukan simulasi menghadapi kemungkinan eskalasi militer di kawasan tersebut.

Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran baru di Eropa bahwa konflik yang awalnya terbatas di Ukraina berpotensi berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih luas di kawasan Eropa Timur.

Intelijen Inggris: Korban Rusia Diperkirakan Mendekati 500.000 Orang

Pada 27 Mei 2026, Kepala Markas Besar Komunikasi Pemerintah Inggris (GCHQ), Anne Keast-Butler, menyampaikan penilaian intelijen terbaru mengenai kondisi perang di Ukraina.

Menurut analisis badan intelijen Inggris, sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2022, jumlah korban tewas di pihak Rusia diperkirakan telah mendekati 500.000 orang. Angka tersebut mencakup korban yang jatuh selama berbagai operasi militer besar yang berlangsung dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Keast-Butler menyatakan bahwa tekanan terhadap pasukan Rusia saat ini semakin terasa di berbagai sektor medan tempur. Bahkan, dalam beberapa wilayah tertentu, pasukan Rusia dilaporkan terpaksa melakukan penarikan atau mundur dari posisi yang sebelumnya mereka kuasai.

Menurut penilaian Inggris, kondisi ini merupakan salah satu perubahan paling signifikan sejak akhir tahun 2022, ketika garis depan perang relatif stabil dan tidak banyak mengalami pergeseran besar.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Rusia masih memiliki keunggulan dalam jumlah personel dan persenjataan berat, biaya perang yang harus ditanggung Moskow terus meningkat dari waktu ke waktu.

Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Dalam Wilayah Rusia

Di tengah tekanan terhadap pasukan Rusia, Ukraina terus mengembangkan strategi baru yang berfokus pada penggunaan drone jarak jauh.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv meluncurkan kampanye serangan besar-besaran yang menargetkan jalur logistik, gudang amunisi, pusat komando, hingga fasilitas energi Rusia.

Tujuan utama operasi ini adalah memutus rantai pasokan yang menopang operasi militer Rusia di garis depan.

Menurut sejumlah laporan militer Barat, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Gangguan terhadap jalur logistik menyebabkan pasukan Rusia menghadapi kesulitan dalam distribusi bahan bakar, amunisi, dan perlengkapan tempur ke beberapa sektor pertempuran.

Serangan Ukraina juga semakin berani dengan menjangkau wilayah yang jauh di dalam Rusia, termasuk daerah sekitar Moskow yang sebelumnya relatif aman dari ancaman langsung.

Para analis militer menilai bahwa kemampuan Ukraina menyerang target yang berada ratusan kilometer dari garis depan menunjukkan perkembangan signifikan dalam teknologi drone dan sistem operasi jarak jauhnya.

Pasukan Rusia Dilaporkan Mundur di Beberapa Sektor

Perkembangan lain yang menarik perhatian adalah laporan mengenai mundurnya pasukan Rusia di sejumlah sektor pertempuran.

Beberapa sumber militer menyebut bahwa Ukraina berhasil memaksa pasukan Rusia mundur dari beberapa posisi di arah Zaporizhzhia dan wilayah sekitar Dnipro.

Peristiwa seperti ini tergolong jarang terjadi selama perang berlangsung, mengingat selama beberapa tahun terakhir garis depan relatif stagnan dan didominasi perang parit serta serangan artileri jarak jauh.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa perubahan posisi di beberapa sektor belum tentu menunjukkan perubahan strategis besar secara keseluruhan. Namun perkembangan tersebut tetap dianggap sebagai sinyal bahwa tekanan Ukraina mulai memberikan dampak nyata terhadap kemampuan tempur Rusia.

Serangan Storm Shadow Hantam Sevastopol

Pada malam 27 Mei 2026, Ukraina kembali meningkatkan tekanan dengan meluncurkan kombinasi serangan menggunakan drone dan rudal jelajah Storm Shadow terhadap kota pelabuhan Sevastopol di Krimea.

Sevastopol merupakan salah satu pusat militer terpenting Rusia di Laut Hitam dan menjadi markas utama Armada Laut Hitam Rusia.

Serangan tersebut dilaporkan memicu aktivasi sistem pertahanan udara Rusia dalam skala besar.

Sebagai respons, Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan melakukan serangan udara besar-besaran terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv.

Pemerintah Rusia juga kembali memperingatkan negara-negara asing mengenai risiko keamanan yang semakin tinggi di Ukraina dan menyarankan agar para diplomat mempertimbangkan situasi yang berkembang.

Kedutaan Besar Amerika Serikat Tetap Beroperasi di Kyiv

Meski ancaman keamanan meningkat, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengevakuasi staf diplomatiknya.

Keputusan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington tetap menunjukkan dukungan politik dan diplomatik kepada pemerintah Ukraina.

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengumumkan gelombang baru operasi serangan jarak jauh terhadap wilayah Rusia.

Fokus utama serangan tersebut adalah infrastruktur energi yang selama ini menjadi sumber pendapatan penting bagi Moskow.

Produksi Energi Rusia Dilaporkan Menurun

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kilang minyak dan fasilitas energi Rusia menjadi sasaran serangan drone Ukraina.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa akibat gangguan berulang terhadap fasilitas tersebut, produksi energi Rusia mengalami penurunan hingga mendekati 10 persen.

Penurunan produksi ini secara langsung memengaruhi ekspor minyak dan pemasukan devisa Rusia.

Bagi Kremlin, pendapatan dari sektor energi merupakan salah satu sumber utama pembiayaan operasi militer dan pengeluaran negara.

Karena itu, tekanan terhadap industri energi Rusia dipandang sebagai salah satu strategi utama Ukraina untuk melemahkan kemampuan Moskow dalam mempertahankan perang jangka panjang.

Putin Tandatangani Undang-Undang Baru yang Memicu Kekhawatiran

Ketegangan juga meningkat setelah Presiden Putin menandatangani undang-undang baru pada 25 Mei 2026.

Peraturan tersebut memberikan dasar hukum bagi Rusia untuk mengerahkan pasukan ke luar negeri dalam kondisi tertentu, terutama ketika pemerintah Rusia menilai warga negaranya menghadapi ancaman atau proses hukum di negara lain.

Meski Moskow menyatakan aturan tersebut bertujuan melindungi warga Rusia di luar negeri, sejumlah pemerintah Eropa menilai regulasi itu berpotensi digunakan sebagai pembenaran hukum bagi intervensi militer di masa depan.

Para pejabat Eropa khawatir Kremlin dapat menggunakan isu perlindungan warga Rusia sebagai alasan untuk meningkatkan aktivitas militernya di negara-negara tetangga yang memiliki populasi berbahasa Rusia dalam jumlah besar.

Hubungan Rusia dan Negara Baltik Memburuk

Dalam beberapa minggu terakhir, hubungan Rusia dengan negara-negara Baltik mengalami peningkatan ketegangan yang signifikan.

Moskow menuduh Latvia memberikan perlindungan kepada operator drone Ukraina dan bahkan mengancam akan menyerang pusat-pusat pengambilan keputusan di negara tersebut.

Pemerintah Latvia dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut.

Rusia juga mengeluarkan peringatan kepada perusahaan-perusahaan di delapan negara Eropa yang terlibat dalam kerja sama produksi drone dengan Ukraina.

Menurut Moskow, keterlibatan dalam produksi peralatan militer untuk Kyiv dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.

Situasi semakin tegang ketika sebuah drone Rusia yang dilaporkan terbang dari wilayah Belarus mendekati ruang udara Lithuania.

Pemerintah Lithuania segera mengaktifkan sistem peringatan pertahanan udara dan memindahkan sejumlah pejabat ke lokasi perlindungan darurat sebagai langkah antisipasi.

Rusia Siapkan Gugatan terhadap Negara Baltik

Tidak lama setelah insiden tersebut, Putin mengumumkan rencana untuk membawa Latvia, Lithuania, dan Estonia ke Mahkamah Internasional.

Rusia menuduh ketiga negara tersebut melakukan pembatasan terhadap penggunaan bahasa Rusia dan hak-hak kelompok penutur bahasa Rusia.

Banyak pengamat internasional menilai langkah hukum tersebut bukan semata-mata persoalan bahasa, melainkan bagian dari upaya membangun dasar legitimasi politik yang dapat digunakan Rusia dalam kebijakan luar negerinya di masa mendatang.

NATO Simulasikan Skenario Invasi Rusia ke Lithuania

Meningkatnya ketegangan di kawasan Baltik membuat NATO mulai melakukan berbagai simulasi militer.

Menurut laporan media internasional, para pejabat keamanan Eropa kini secara serius mempertimbangkan kemungkinan Rusia meningkatkan tekanan terhadap kawasan Baltik sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.

Dalam salah satu simulasi yang dilaporkan dilakukan NATO, Rusia diperkirakan dapat melancarkan operasi terhadap Lithuania melalui beberapa arah sekaligus, yakni dari Belarus, wilayah eksklave Kaliningrad, dan sektor timur Latvia.

Hasil simulasi awal menunjukkan bahwa tanpa dukungan teknologi modern, ibu kota Lithuania, Vilnius, berisiko mengalami isolasi atau hampir terkepung dalam waktu relatif singkat.

Namun hasil simulasi kedua menunjukkan gambaran yang berbeda.

Ketika Lithuania dan negara-negara sekutu menggunakan ribuan drone canggih berbasis kecerdasan buatan (AI), laju serangan pasukan Rusia melambat secara drastis dan mengalami kerugian yang jauh lebih besar.

Temuan tersebut memperkuat keyakinan NATO bahwa teknologi drone dan sistem kecerdasan buatan akan memainkan peran penting dalam konflik masa depan.

Eropa Khawatir Konflik Meluas

Dengan meningkatnya serangan drone, ancaman balasan Rusia, ketegangan di kawasan Baltik, serta perubahan kebijakan militer Moskow, para pemimpin Eropa kini menghadapi kekhawatiran baru mengenai arah perang yang sedang berlangsung.

Meskipun belum ada indikasi bahwa konflik akan segera meluas ke luar Ukraina, berbagai perkembangan dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa risiko eskalasi regional terus meningkat.

Bagi NATO dan Uni Eropa, tantangan terbesar saat ini bukan hanya membantu Ukraina mempertahankan diri, tetapi juga memastikan bahwa perang tidak berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas antara Rusia dan negara-negara anggota aliansi Barat. (***)

Situasi Makin Berbahaya! Rusia Rangkul Taliban, Sementara Drone Rusia Hantam Wilayah NATO

EtIndonesia. 29 Mei 2026 menjadi hari yang sarat perkembangan penting dalam dinamika geopolitik Eurasia. Di satu sisi, Rusia mengambil langkah strategis dengan mempererat hubungan militernya dengan pemerintahan Taliban di Afghanistan. Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina memasuki fase baru yang ditandai meningkatnya penggunaan drone, serangan presisi jarak jauh, serta munculnya insiden yang berpotensi menyeret NATO lebih jauh ke dalam konflik.

Perkembangan-perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu kini tidak hanya berdampak pada Ukraina dan Rusia, tetapi juga mulai memengaruhi stabilitas kawasan Asia Tengah hingga Eropa Timur.

Rusia dan Taliban Resmi Jalin Kerja Sama Teknologi Militer

Dalam langkah yang menarik perhatian dunia internasional, Rusia dan pemerintahan Taliban di Afghanistan baru-baru ini menandatangani perjanjian kerja sama teknologi militer.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia, Sergei Shoigu, melakukan pertemuan langsung dengan Menteri Pertahanan Afghanistan dari pemerintahan Taliban, Mohammad Yaqoob, yang merupakan putra mendiang pendiri Taliban, Mullah Omar.

Hingga 29 Mei 2026, kedua pihak belum mengumumkan secara resmi rincian isi perjanjian tersebut. Namun para pengamat militer menilai istilah “kerja sama teknologi militer” biasanya mencakup berbagai bentuk kolaborasi strategis, antara lain:

  • Transfer senjata dan amunisi
  • Pasokan peralatan militer
  • Lisensi produksi persenjataan
  • Transfer teknologi pertahanan
  • Pengembangan sistem senjata bersama
  • Program penelitian dan pengembangan militer
  • Pelatihan teknis personel pertahanan

Bila kerja sama tersebut benar-benar mencakup aspek-aspek di atas, maka Taliban berpotensi memperoleh akses resmi terhadap berbagai teknologi dan sistem persenjataan Rusia yang selama ini sulit mereka dapatkan.

Langkah ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya Moskow memperluas jaringan kemitraan internasional di tengah tekanan politik dan ekonomi yang masih dihadapi akibat konflik Ukraina.

Selain itu, Rusia tampaknya berusaha membangun pengaruh baru di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan, wilayah yang memiliki posisi strategis karena berbatasan dengan berbagai negara penting seperti Pakistan, Iran, Tiongkok, serta negara-negara bekas Uni Soviet.

Sejumlah analis menilai kerja sama tersebut dapat menjadi pijakan baru bagi Rusia untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya di kawasan yang selama beberapa dekade menjadi arena persaingan kekuatan besar dunia.


Komandan Elite Ukraina: Rusia Mendekati Titik Kelelahan

Sementara Rusia memperluas hubungan militernya di luar negeri, situasi di medan perang Ukraina justru menghadirkan tantangan besar bagi Moskow.

Dalam wawancara yang dipublikasikan oleh Reuters pada akhir Mei 2026, Komandan Korps Ketiga Ukraina, Andriy Biletsky, menyatakan bahwa militer Rusia saat ini sedang menghadapi tekanan yang semakin berat.

Menurut Biletsky, enam bulan ke depan dapat menjadi periode yang sangat menentukan bagi arah perang secara keseluruhan.

Ia menilai masalah utama Rusia bukan lagi kekurangan rudal, tank, atau amunisi, melainkan semakin terbatasnya sumber daya manusia yang siap bertempur.

Menurut penilaiannya, sejumlah indikator menunjukkan penurunan kapasitas tempur Rusia, di antaranya:

  • Banyak perwira lapangan dan komandan tingkat bawah telah gugur selama perang.
  • Sistem rotasi pasukan semakin sulit dilakukan.
  • Prajurit mengalami kelelahan akibat operasi tempur berkepanjangan.
  • Unit-unit tempur membutuhkan waktu lebih lama untuk pemulihan.
  • Efektivitas serangan darat mulai mengalami penurunan.

Biletsky bahkan menyatakan bahwa Rusia saat ini dinilai semakin sulit melakukan operasi ofensif besar-besaran seperti yang pernah terjadi pada tahap awal invasi tahun 2022.

Meski demikian, Rusia hingga kini masih mempertahankan kemampuan meluncurkan serangan rudal dan drone dalam jumlah besar terhadap berbagai target di Ukraina.


HIMARS Resmi Perkuat Korps Reaksi Cepat Ketujuh Ukraina

Di tengah upaya mempertahankan momentum di medan perang, Ukraina juga terus meningkatkan kemampuan serangan presisinya.

Perhatian khusus tertuju pada bergabungnya sistem roket M142 HIMARS ke dalam Korps Reaksi Cepat Ketujuh Ukraina, yang saat ini dianggap sebagai salah satu formasi paling elit dalam angkatan bersenjata negara tersebut.

Tidak lama setelah menerima sistem HIMARS, unit tersebut langsung diterjunkan dalam operasi tempur.

Laporan dari medan perang menyebutkan bahwa misi perdana korps tersebut berhasil menghancurkan sejumlah posisi artileri Rusia yang sebelumnya aktif menyerang garis pertahanan Ukraina.

Keberhasilan ini memperlihatkan semakin pentingnya peran HIMARS dalam strategi perang Ukraina.

Sistem buatan Amerika Serikat tersebut dikenal memiliki beberapa keunggulan utama:

  • Mobilitas tinggi
  • Akurasi serangan yang sangat presisi
  • Kemampuan menyerang target jauh di belakang garis depan
  • Efektivitas tinggi dalam operasi kontra-artileri

Penggunaan HIMARS juga memungkinkan Ukraina mengurangi risiko bagi pasukan garis depan dengan menghancurkan sasaran penting dari jarak aman.


Drone Ukraina Terus Mengubah Pola Perang

Perang Rusia-Ukraina kini semakin memasuki era peperangan berbasis teknologi dan sistem tanpa awak.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina secara konsisten meningkatkan penggunaan drone untuk menyerang sasaran-sasaran strategis di wilayah belakang Rusia.

Target yang menjadi fokus serangan meliputi:

  • Sistem pertahanan udara
  • Gudang amunisi
  • Depot bahan bakar
  • Jalur logistik militer
  • Pangkalan udara
  • Fasilitas komunikasi

Strategi ini bertujuan mengganggu kemampuan Rusia mempertahankan operasi tempur dalam jangka panjang.

Selain itu, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa pembatasan akses terhadap sejumlah layanan komunikasi satelit yang sebelumnya dimanfaatkan oleh pihak Rusia telah menyebabkan gangguan koordinasi di beberapa sektor medan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menyatakan bahwa sepanjang tahun 2026, pasukan Ukraina telah berhasil merebut kembali hampir 600 kilometer persegi wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali Rusia.

Meskipun angka tersebut masih menunggu verifikasi independen, sejumlah pengamat mengakui bahwa terdapat perubahan dinamika di beberapa sektor garis depan.

Lembaga pemikir militer Amerika, Institute for the Study of War, bahkan menilai Ukraina kemungkinan sedang mempersiapkan tahap berikutnya dari operasi serangan balasan yang lebih besar dan lebih terkoordinasi.


Drone Rusia Masuk Wilayah NATO, Rumania Tingkatkan Kewaspadaan

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap Rusia, sebuah insiden yang lebih sensitif justru terjadi di wilayah NATO.

Menurut sejumlah laporan yang muncul pada 29 Mei 2026, sebuah drone serang satu arah yang diduga berasal dari Rusia dilaporkan memasuki wilayah Romania.

Insiden tersebut terjadi di sekitar Kota Galați, dekat perbatasan dengan Ukraina.

Drone tersebut dilaporkan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal bergerak dan menyebabkan sejumlah warga sipil mengalami luka-luka. Beberapa korban disebut mengalami cedera serius.

Peristiwa ini langsung memicu perhatian karena terjadi di wilayah negara anggota NATO.

Berbeda dengan Ukraina yang bukan anggota aliansi tersebut, Rumania merupakan bagian dari NATO dan dilindungi oleh prinsip pertahanan kolektif yang tercantum dalam Pasal 5 Piagam NATO.

Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah insiden tersebut merupakan kesalahan navigasi, kegagalan teknis, atau tindakan yang disengaja.

Namun sejumlah analis keamanan menilai bahwa apabila nantinya ditemukan bukti bahwa serangan tersebut dilakukan secara sengaja terhadap wilayah Rumania, maka insiden ini dapat menjadi salah satu eskalasi paling sensitif sejak perang Rusia-Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Perkembangan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang selama ini berpusat di Ukraina berpotensi meluas dan menimbulkan ketegangan langsung antara Rusia dan negara-negara anggota NATO.

Kesimpulan

Perkembangan pada akhir Mei 2026 memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina terus memasuki fase yang semakin kompleks. Rusia berupaya memperluas jaringan kemitraan militernya melalui kerja sama dengan Taliban, sementara Ukraina terus meningkatkan kemampuan serangan presisi dan operasi drone jarak jauh.

Di saat yang sama, insiden masuknya drone Rusia ke wilayah Rumania menambah dimensi baru dalam konflik ini. Jika ketegangan terus meningkat, maka perang yang selama ini terkonsentrasi di Ukraina berpotensi menciptakan dampak keamanan yang jauh lebih luas bagi Eropa dan kawasan internasional. (***)

Kesepakatan Rahasia AS-Iran Bocor ke Publik, Tapi Pertempuran Justru Meledak 48 Jam Kemudian

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat sensitif setelah muncul laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Namun, harapan tersebut segera dibayangi oleh perbedaan sikap di kedua negara, sementara bentrokan militer baru justru kembali terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi masih terbuka, risiko pecahnya konflik yang lebih luas tetap sangat tinggi.

Kesepakatan Awal AS-Iran Muncul ke Publik

Pada 28 Mei 2026, media Amerika Axios melaporkan bahwa Washington dan Teheran telah menyusun sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang dapat menjadi dasar perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.

Menurut laporan tersebut, rancangan kesepakatan berisi sejumlah poin penting yang bertujuan meredakan ketegangan sekaligus membuka jalan menuju negosiasi yang lebih luas mengenai program nuklir Iran.

Beberapa poin utama yang disebutkan dalam rancangan kesepakatan itu meliputi:

  • Iran berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir.
  • Fokus pembahasan selama 60 hari akan diarahkan pada penanganan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi.
  • Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk pelayaran internasional tanpa hambatan.
  • Iran diwajibkan membersihkan seluruh ranjau laut yang dipasang di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
  • Amerika Serikat akan mempertimbangkan pelonggaran sebagian sanksi ekonomi.
  • Sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri berpotensi dicairkan kembali.

Kesepakatan tersebut dinilai sebagai salah satu upaya diplomatik paling serius sejak krisis terbaru antara kedua negara meletus beberapa bulan terakhir.

Namun hingga akhir 28 Mei, kesepakatan itu masih belum memperoleh persetujuan resmi dari kedua pihak.

Trump Belum Berikan Lampu Hijau

Dua pejabat senior Amerika yang mengetahui proses negosiasi mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan akhir terhadap rancangan kesepakatan tersebut.

Menurut sumber tersebut, Trump meminta waktu tambahan beberapa hari untuk mempelajari seluruh konsekuensi politik, militer, dan ekonomi sebelum mengambil keputusan final.

Pemerintah Amerika disebut masih melakukan evaluasi menyeluruh mengenai efektivitas kesepakatan tersebut dalam membatasi program nuklir Iran serta menjamin keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan Fox News pada hari yang sama, Trump menunjukkan sikap yang masih sangat hati-hati terhadap Iran.

Ia mengatakan:

“Mereka pandai bernegosiasi dan sangat licik. Namun semua kartu ada di tangan kami karena kami sudah mengalahkan mereka secara militer.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih memandang Iran dari posisi tekanan strategis dan belum sepenuhnya yakin untuk memberikan konsesi besar.

Teheran Juga Belum Menyetujui Kesepakatan

Hambatan tidak hanya datang dari pihak Amerika.

Tak lama setelah laporan Axios beredar, media IM24 melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, juga belum memberikan persetujuan terhadap usulan kesepahaman yang diajukan Washington.

Tim negosiator Iran bahkan membantah laporan sejumlah media Barat yang menyebut bahwa kesepakatan telah berhasil dicapai.

Menurut sumber-sumber Iran, pembahasan masih berlangsung dan belum ada keputusan final mengenai berbagai isu utama, terutama yang berkaitan dengan program pengayaan uranium dan masa depan sanksi ekonomi Amerika.

Sikap ini menunjukkan bahwa kedua pihak masih berada pada tahap negosiasi yang sangat rapuh.

Presiden Iran Minta Rakyat Bersiap Menghadapi Tekanan

Masih pada 28 Mei 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang memperlihatkan bahwa pemerintah Iran belum melihat tanda-tanda berakhirnya konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Ia meminta rakyat Iran untuk bersiap menghadapi tekanan ekonomi maupun politik yang kemungkinan masih akan berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Menurut Pezeshkian, tekanan tersebut merupakan bagian dari perjuangan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, ia juga menyatakan bahwa pemerintah Iran tidak akan menerima pendekatan diplomatik yang dianggap merugikan kehormatan nasional negara tersebut.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran masih berusaha mempertahankan posisi tawar dalam negosiasi yang sedang berlangsung.

Wakil Presiden AS Ungkap Perbedaan Masih Besar

Sementara itu, kantor berita AFP melaporkan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance juga mengakui masih adanya perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran.

Menurut Vance, Trump belum siap mendukung kesepakatan apa pun sebelum persoalan-persoalan inti terselesaikan.

Perbedaan terbesar saat ini mencakup:

  • Batas pengayaan uranium Iran.
  • Nasib cadangan uranium yang telah diperkaya.
  • Mekanisme pengawasan internasional.
  • Jaminan keamanan bagi jalur pelayaran internasional.

Dengan kata lain, peluang tercapainya kesepakatan final masih menghadapi hambatan serius meskipun kedua pihak terus melakukan komunikasi diplomatik.


Ketegangan Kembali Meledak di Selat Hormuz

Di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung, situasi keamanan justru kembali memburuk.

Pada 27 Mei 2026, Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.

Insiden tersebut memicu respons cepat dari militer Amerika Serikat.

Washington segera mengerahkan sejumlah pesawat tempur ke kawasan Teluk Persia dan melaksanakan operasi militer yang melibatkan kekuatan udara serta laut.

Jenis pesawat yang diterjunkan antara lain:

  • F/A-18 Super Hornet
  • F-16 Fighting Falcon
  • F-35 Lightning II

Amerika mengklaim berhasil menembak jatuh lima drone Iran yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz.

Setelah itu, pesawat tempur Super Hornet melancarkan serangan presisi terhadap sebuah pusat kendali darat Iran di kawasan Bandar Abbas, salah satu lokasi militer strategis Iran di pesisir Teluk Persia.

Menurut sumber Amerika, fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung operasi militer yang berpotensi mengancam lalu lintas pelayaran internasional.

Gudang Rudal Diduga Hancur

Di tengah operasi tersebut, muncul laporan yang menyebut bahwa selama masa gencatan senjata, Iran menerima sejumlah rudal anti-kapal baru.

Beberapa laporan yang beredar mengklaim bahwa rudal-rudal jenis CM-302 dikirim secara diam-diam dan memiliki kemampuan terbang dengan kecepatan hingga tiga kali kecepatan suara serta bergerak sangat rendah di atas permukaan laut untuk menghindari radar.

Laporan yang sama menyebut bahwa sebuah gudang penyimpanan rudal tersebut menjadi salah satu target serangan Amerika.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen yang dapat memverifikasi klaim tersebut.

Komandan Garda Revolusi Dikabarkan Tewas

Laporan lain yang juga belum dapat diverifikasi secara independen menyebut bahwa Brigadir Jenderal Ali Azmaei, komandan baru Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, kemungkinan tewas dalam serangan Amerika.

Ali Azmaei dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam struktur militer Iran dan memiliki peran besar dalam operasi keamanan maritim di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Apabila laporan tersebut terbukti benar, maka hal itu akan menjadi salah satu kehilangan terbesar bagi Angkatan Laut Garda Revolusi dalam konflik terbaru ini.


Iran Balas Serang Pangkalan Amerika di Kuwait

Situasi semakin memanas pada 28 Mei 2026 ketika Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika di Kuwait.

Serangan tersebut menjadi bentrokan kedua dalam kurun waktu kurang dari 48 jam dan dianggap sebagai insiden paling serius sejak diberlakukannya gencatan senjata sebelumnya.

Selain menyerang pangkalan Amerika, Iran juga mengumumkan bahwa pasukannya berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai Amerika di dekat wilayah Bushehr, Iran selatan.

Pemerintah Iran menyatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas militer Amerika yang dianggap mengancam keamanan nasional mereka.

Insiden Kapal di Selat Hormuz

Menurut laporan Iran International TV, pasukan Iran juga melepaskan tembakan ke empat kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa melakukan koordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi.

Iran mengklaim menggunakan rudal anti-kapal dalam operasi tersebut.

Selain itu, Garda Revolusi dilaporkan menembaki sebuah kapal pesiar Amerika yang disebut telah mematikan sistem radar saat berada di kawasan tersebut.

Menurut versi Iran, tindakan itu dilakukan untuk memaksa kapal tersebut keluar dari wilayah operasi militer.

CENTCOM Kecam Iran

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) langsung mengecam tindakan Iran dan menuduh Teheran melakukan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

CENTCOM menyatakan bahwa aktivitas militer Iran di Selat Hormuz berpotensi mengancam kebebasan navigasi internasional dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Militer Amerika juga mengungkapkan bahwa lebih dari 20 kapal perang Amerika saat ini berada di kawasan sekitar Iran dan menjalankan operasi pengamanan maritim, termasuk kapal serbu amfibi serta armada pengawal lainnya.

Arab Saudi dan Mesir Keluarkan Kecaman Keras

Serangan Iran terhadap pangkalan Amerika di Kuwait juga memicu reaksi keras dari negara-negara Arab.

Pada 28 Mei 2026, pemerintah Arab Saudi dan Mesir mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam serangan rudal dan drone Iran.

Kedua negara menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Kuwait dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Riyadh dan Kairo juga menyerukan agar seluruh pihak menahan diri serta menghindari langkah-langkah yang dapat memicu perang regional yang lebih besar.

Prospek Perdamaian Masih Sangat Rapuh

Meskipun pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlangsung, perkembangan selama 27–28 Mei 2026 menunjukkan bahwa situasi di lapangan bergerak jauh lebih cepat dibanding proses negosiasi.

Di satu sisi, kedua negara masih membahas kemungkinan kesepakatan yang dapat memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun di sisi lain, bentrokan militer, serangan balasan, dan tuduhan pelanggaran gencatan senjata terus terjadi.

Kondisi ini membuat masa depan hubungan Amerika Serikat dan Iran tetap berada di persimpangan yang berbahaya. Keputusan akhir Presiden Donald Trump serta sikap Pemimpin Tertinggi Iran dalam beberapa hari mendatang diperkirakan akan menjadi faktor penentu apakah kawasan Timur Tengah bergerak menuju perdamaian sementara atau justru kembali memasuki fase konflik yang lebih luas. (***)

Jalan Ambles di Lenteng Agung, Pemprov DKI Jakarta Lakukan Pengalihan Arus 

EtIndonesia.com. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat menangani kerusakan jalan amblas di ruas Jalan Lenteng Agung Raya, tepatnya di dekat Gang Empang, depan Bengkel Alpino Knalpot, Jakarta Selatan. Kerusakan yang memakan dua lajur jalan tersebut menyebabkan kepadatan lalu lintas menuju arah Depok dan sekitarnya.

Sebagai langkah penanganan darurat sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta bersama instansi terkait melakukan pengalihan arus lalu lintas di kawasan tersebut.

Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang Hermawan, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penanganan kejadian ini.

“Kami memahami aktivitas masyarakat terganggu akibat kondisi jalan amblas ini. Karena itu, pengaturan lalu lintas dan pengalihan arus segera dilakukan untuk mengurangi kepadatan sekaligus memastikan keselamatan pengguna jalan tetap terjaga. Kami juga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujarnya di Jakarta, pada Jumat (29/5) dikutip dari siaran pers Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta. 

Ruas Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah amblas pada Kamis malam (28/5/2026). (Pemprov DKI Jakarta)

Ujang mengimbau masyarakat agar menyesuaikan rute perjalanan dan mengikuti arahan petugas di lapangan selama proses penanganan berlangsung.

Adapun rekayasa lalu lintas yang diterapkan sebagai berikut:

  • Kendaraan roda dua masih dapat melintas melalui lajur paling kanan di Jalan Lenteng Agung Raya.
  • Pengalihan arus lalu lintas untuk kendaraan roda dua dilakukan secara situasional melalui Jalan Gardu – Jalan H. Shibi IV – Jalan H. Shibi II – Jalan H. Shibi – keluar menuju Jalan Akses UI.
  • Kendaraan roda empat dengan tujuan UI/Depok dialihkan untuk putar balik di Perlintasan KA Universitas Pancasila (JPL 23), kemudian melintas melalui Jalan Lenteng Agung Barat – Jalan Kahfi II – Jalan Tanah Baru – Depok Sawangan.
  • Kendaraan roda empat bertonase besar dialihkan dari Simpang Jalan TB Simatupang ke arah barat melalui Jalan Tol Desari maupun ke arah timur melalui Jalan Raya Bogor atau Jalan Tol Jagorawi.

“Kami mengajak masyarakat tetap berhati-hati saat melintas di sekitar lokasi dan sebisa mungkin menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan,” tutur Ujang.

Ruas Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah amblas pada Kamis malam (28/5/2026). (Pemprov DKI Jakarta)

Kerusakan jalan diketahui terjadi secara bertahap sejak Rabu (27/5). Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan telah melakukan penanganan awal menggunakan material coldmix guna menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Bina Marga juga telah berkoordinasi dengan Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan untuk menelusuri penyebab kerusakan. Dugaan awal, amblesnya jalan dipicu gangguan pada saluran air di bawah badan jalan.

Ujang menegaskan Pemprov DKI Jakarta terus memantau situasi di lapangan dan mempercepat proses penanganan agar kondisi lalu lintas dapat kembali normal.