Sidang Perdana Maduro di New York, Aset Dibekukan Swiss, dan Kuba Berduka — Dunia Masuk Fase Baru

EtIndonesia. Pada 5 Januari 2026, mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro secara resmi menghadiri sidang perdananya di pengadilan federal New York. Dalam persidangan tersebut, Maduro menolak seluruh dakwaan dan tetap bersikukuh mengklaim dirinya sebagai presiden sah Venezuela, meskipun telah ditangkap dan diekstradisi oleh Amerika Serikat dalam operasi militer lintas negara pada 3 Januari lalu.

Dakwaan Berat: Narkotika, Terorisme, dan Kejahatan Kemanusiaan

Jaksa federal Amerika Serikat menuduh Maduro selama bertahun-tahun menyalahgunakan kekuasaan negara, berkolusi dengan kartel narkoba lintas negara serta organisasi teroris. Dia diduga menggunakan paspor diplomatik dan perlindungan resmi negara untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke pasar internasional.

Lebih jauh, Maduro juga dituduh memerintahkan penculikan, penganiayaan, hingga pembunuhan terhadap individu atau kelompok yang dianggap menghalangi jaringan peredaran narkoba yang dikendalikannya. Dakwaan ini menempatkan kasus Maduro sebagai salah satu perkara kejahatan terorganisir tingkat negara paling serius dalam sejarah peradilan Amerika Serikat.

Istri Maduro Terancam Penjara Seumur Hidup

Tak hanya Maduro, istri Maduro juga didakwa dalam perkara terpisah. Dia dituduh menerima suap, membantu penyelundupan narkoba, serta terlibat dalam kejahatan senjata lintas negara. Jika terbukti bersalah, ancaman hukuman maksimal yang dihadapi adalah penjara seumur hidup.

Kalangan hukum menilai Maduro kemungkinan akan mengajukan klaim kekebalan pidana sebagai kepala negara asing. Namun, preseden kasus Manuel Noriega—mantan pemimpin Panama yang ditangkap dan diadili Amerika Serikat pada 1989—dinilai sangat merugikan posisi Maduro.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa Maduro akan divonis bersalah, seraya menegaskan bahwa bukti yang dimiliki jaksa sangat kuat dan berlapis.

Swiss Bekukan Seluruh Aset Maduro

Masih pada 5 Januari 2026, Dewan Federal Swiss mengumumkan kebijakan pembekuan total seluruh aset milik Maduro dan para kroninya di wilayah Swiss. Kebijakan ini berlaku segera dan memiliki masa berlaku empat tahun.

Pemerintah Swiss menyatakan langkah tersebut bertujuan mencegah aliran dana ilegal ke luar negeri, serta menjadi pelengkap sanksi terhadap Venezuela yang telah diberlakukan sejak 2018. Swiss menegaskan bahwa pembekuan ini tidak menyasar anggota pemerintah Venezuela yang sedang menjabat, namun secara khusus menargetkan Maduro dan lingkaran dekatnya sebagai tokoh politik asing berisiko tinggi.

Setiap dana yang terbukti diperoleh secara ilegal akan disita dan dikembalikan demi kepentingan rakyat Venezuela, guna memastikan hasil kejahatan tidak dapat diselamatkan di tengah krisis politik saat ini.

Reaksi Panik di Tiongkok: Propagandis PKT Emosional

Di dunia maya Tiongkok, beredar luas video Li Yi, seorang intelektual propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang tampak mengalami luapan emosi ekstrem saat membahas operasi militer Amerika Serikat.

Dalam kanal YouTube-nya, Li Yi berteriak marah, menyebut bahwa jarak daratan Tiongkok ke Taiwan hanya sekitar 180 kilometer, sementara Amerika Serikat yang berjarak 1.800 kilometer justru mampu menangkap Maduro hidup-hidup. Dia terlihat menampar mulutnya sendiri, memukul meja, menangis tersedu, bahkan mencaci dirinya dengan sebutan “bukan manusia”.

Sementara itu, “penasihat negara” PKT Jin Canrong pada 4 Januari 2026 merilis video peringatan bahwa Tiongkok tidak memiliki kehadiran militer di belahan bumi barat. Dia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat menguasai kawasan tersebut, maka investasi dan kepentingan ekonomi Tiongkok di Amerika Latin akan menghadapi risiko politik besar.

Topik “Jin Canrong menyebut penangkapan Maduro berdampak besar bagi Tiongkok” sempat menjadi trending di Weibo sebelum disensor.

Sindiran Warganet dan Lagu yang Dilarang

Sebagai bentuk sindiran, warganet Tiongkok membanjiri kolom komentar dengan lagu “Sayang Bukan Kamu” milik Liang Jingru, disertai komentar bernada satire seperti “Sayang bukan kamu” dan “Amerika salah tangkap orang”. Lagu tersebut mendadak viral sebelum akhirnya ikut dilarang tayang.

Warganet Taiwan kemudian menyarankan lagu lain berjudul “Semoga Selalu Kamu”, sebagai kelanjutan sindiran politik lintas Selat.

Kuba Akui Korban dan Tetapkan Hari Berkabung

Pemerintah Cuba pada 5 Januari 2026 mengakui bahwa 32 warga negaranya tewas selama serangan mendadak Amerika Serikat ke Caracas. Seluruh korban merupakan anggota militer dan badan intelijen Kuba.

Havana menetapkan dua hari berkabung nasional, mengungkap kedalaman keterlibatan Kuba dalam struktur militer dan politik Venezuela.

Para analis menilai jaringan intelijen Kuba merupakan pilar utama penopang kekuasaan Maduro, mulai dari manipulasi pemilu hingga pengawasan aparat keamanan.

Trump sebelumnya, pada 3 Januari 2026, menyatakan bahwa Kuba akan menjadi fokus berikutnya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyebut kondisi Kuba sebagai “bencana yang sedang runtuh”, seraya menegaskan bahwa jaringan intelijen Kuba dan PKT di Amerika Selatan telah dilumpuhkan.

Dampak Regional dan Global

Di Iran, meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani (Baqaei) pada 5 Januari menyatakan hubungan Iran–Venezuela tetap stabil, organisasi HAM melaporkan kerusuhan telah menyebar ke 60 kota dengan sedikitnya 15 demonstran tewas.

Analis geopolitik Parkzad menilai tahun 2026 akan menjadi periode paling gelap bagi kepemimpinan Iran, sementara media Rusia Metas melaporkan bahwa Kedutaan Besar Rusia di Caracas menyarankan warganya menunda perjalanan ke Venezuela.

Aksi Massa di New York dan Dugaan Operasi Asing

Pada hari yang sama, ribuan orang menggelar aksi protes terkoordinasi di Times Square, New York. Spanduk dan papan slogan dicetak rapi dan seragam, memicu pertanyaan publik mengenai sumber dana, logistik, dan pengorganisasian kilat.

Jurnalis Nate Friedman mengonfirmasi bahwa aksi tersebut terkait dengan organisasi People’s Forum, yang disebut memiliki afiliasi dengan PKT dan dukungan dana hingga 20 juta dolar AS, sehingga memunculkan dugaan campur tangan kekuatan asing.

Venezuela Tetap Stabil Pasca Penangkapan

Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasca penangkapan Maduro, kehidupan di Venezuela tetap berjalan normal. Harga stabil, pasar tertib, dan banyak warga secara terbuka menyampaikan rasa lega dan terima kasih kepada Amerika Serikat.

Di media sosial, warganet kembali menyindir perbandingan kemampuan militer: 76 tahun Selat Taiwan hanya menjadi retorika, sementara Amerika Serikat menempuh 1.800 kilometer dan mengeksekusi operasi presisi dalam hitungan jam.

Peringatan Terakhir Trump ke Kolombia

Pada 4 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menuduhnya terkait narkoba dan produksi kokain.

Sehari kemudian, Petro menantang balik: “Tangkap saya saja. Saya di sini menunggu.” Pernyataan tersebut langsung memicu gelombang komentar warganet yang berharap tantangan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Koalisi Pimpinan Arab Saudi Lancarkan Serangan Udara ke Kelompok Separatis Yaman, 80 Orang Tewas dan 152 Terluka, 130 Ditangkap

EtIndonesia. Sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok separatis Yaman “Dewan Transisi Selatan” (Southern Transitional Council/STC) pada 2 Januari, menurut statistik awal sedikitnya 80 pejuang kelompok tersebut tewas, 152 orang terluka, dan 130 orang ditangkap.

Pasukan koalisi yang didukung Riyadh memulai operasi pada  2 Januari dengan tujuan merebut kembali wilayah luas yang sebelumnya dikuasai oleh Dewan Transisi Selatan.

Pejabat Dewan Transisi Selatan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa sebagian besar korban jatuh akibat serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Sasaran serangan udara tersebut adalah kamp-kamp militer yang dikuasai kelompok separatis, termasuk kamp Al-Khasha dan Barshid di wilayah Hadramaut.

Sebelumnya, Arab Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di selatan Yaman pada 30 Desember 2025. Saudi mengatakan serangan tersebut menargetkan kiriman senjata yang disebutnya datang dari Uni Emirat Arab untuk mendukung pasukan separatis.

Pada 3 Januari 2026, pasukan pro-Arab Saudi ditempatkan di Bandara Internasional Saiyun di provinsi Hadramawt, Yaman, menyusul serangan baru-baru ini oleh militan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA. (AFP via Getty Images)

Riyadh menindaklanjuti serangan dengan tuntutan agar pasukan UEA meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam serta memperingatkan bahwa keamanan nasional Arab Saudi merupakan “garis merah” yang tidak dapat dilanggar. UEA kemudian menyatakan akan menarik seluruh sisa pasukannya dari negara tersebut.

Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan anggota berpengaruh OPEC. Kedua negara semula dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada 4 Januari 2026. Setiap perselisihan berkepanjangan antara kedua negara berpotensi mempersulit upaya mempertahankan konsensus kebijakan produksi minyak, dengan implikasi terhadap harga minyak mentah dunia.

Yaman telah dilanda perang sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri ke wilayah selatan. Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi pada tahun berikutnya, mendukung pemerintah dalam kampanye untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Meski Riyadh dan Abu Dhabi memasuki perang sebagai mitra, keduanya kemudian mendukung sekutu yang saling bersaing.

UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), sebuah faksi kuat di selatan yang berupaya memulihkan kembali kemerdekaan Yaman Selatan. Sebaliknya, Arab Saudi mendukung pemerintah pusat serta pasukan-pasukan suku yang bersekutu dengannya. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Venezuela Meledak: Trump Masuk, Dana Rahasia Elite PKT Terancam, Khamenei Siapkan Rencana Kabur

EtIndonesia. Pada 4 Januari 2026, Presiden Amerika, Serikat Donald Trump mengumumkan kabar besar yang langsung mengguncang geopolitik global. Dia menyatakan bahwa sejumlah perusahaan raksasa energi Amerika Serikat tengah bersiap masuk ke Venezuela untuk mengelola dan menambang minyak bumi negara tersebut.

Pernyataan ini segera memicu spekulasi luas. Jika investasi energi skala besar benar-benar direalisasikan, maka pengerahan militer Amerika Serikat dinilai hampir tak terelakkan untuk melindungi aset strategis tersebut. Namun, para analis menilai bahwa target Washington kemungkinan jauh melampaui sekadar minyak.

Venezuela Disebut “Halaman Belakang” Elite PKT

Ekonom Tiongkok Wu Jialong mengungkap informasi mengejutkan dalam program Critical Moment. Menurutnya, Venezuela selama beberapa tahun terakhir telah menjadi “halaman belakang” baru bagi elite tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menyembunyikan kekayaan dan kepentingan keluarga.

Wu menjelaskan bahwa penyimpanan aset di Swiss, Australia, maupun Amerika Serikat kini semakin mudah dilacak oleh sistem keuangan global. Karena itu, elite PKT diduga memindahkan aset luar negeri dalam jumlah besar ke Venezuela, termasuk menempatkan anggota keluarga—bahkan anak-anak hasil hubungan gelap—di negara tersebut.Dia juga menyebut beredarnya rumor sensitif mengenai keberadaan anak di luar nikah Xi Jinping di Venezuela, meski hingga kini belum ada konfirmasi independen.

Jika analisis ini benar, maka langkah Trump bukan sekadar penangkapan terhadap Nicolás Maduro, melainkan serangan langsung ke pusat kepentingan elite PKT, mencakup harta, jaringan keuangan, hingga keselamatan keluarga mereka. Artinya, jalur pelarian terakhir elite PKT berpotensi terputus total.

Iran Bergejolak, Khamenei Siapkan “Rencana B”

Dampak penangkapan Maduro tidak hanya mengguncang Beijing, tetapi juga menimbulkan kepanikan serius di Teheran. Sosok yang disebut paling terancam berikutnya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Memasuki awal Januari 2026, gelombang perlawanan domestik di Iran kian tak terbendung. Berbagai video yang beredar menunjukkan eskalasi tajam: para demonstran tidak lagi sekadar melempar batu, tetapi membawa senapan, bahkan di beberapa kota melucuti senjata aparat keamanan.

Harian The Times pada 5 Januari 2026 melaporkan, mengutip sumber intelijen Barat, bahwa Khamenei telah menyiapkan “Rencana B”. Jika situasi benar-benar di luar kendali, dia disebut akan melarikan diri ke Moskow, membawa lebih dari 20 orang kepercayaan dan anggota keluarga, serta dana rampasan senilai sekitar 95 miliar dolar AS.

Israel Siaga, Operasi “Mesin Besi” Disetujui

Pada saat bersamaan, akun militer dan geopolitik internasional AXE, yang memiliki puluhan ribu pengikut, mengungkap perkembangan penting di Timur Tengah. AXE melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menghabiskan malam sebelumnya dalam rapat keamanan intensif.

Tak lama kemudian, menurut sumber yang sama, Kabinet Keamanan Israel telah menyetujui sebuah rencana operasi militer dengan sandi “Mesin Besi”. Meski belum ada konfirmasi resmi, sejumlah sumber intelijen menyebut bahwa sekitar 10 pesawat angkut strategis AS tengah membawa perlengkapan khusus dan terus berdatangan ke kawasan Timur Tengah.

Para analis menilai, “api Iran” kini berada di ambang ledakan penuh.

6 Januari 2026: Sidang Perdana Maduro di New York

Namun, puncak drama global diperkirakan terjadi pada 6 Januari 2026 di New York. Pada hari tersebut, Nicolás Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York.

Begitu proses hukum dimulai, konstelasi politik internasional diyakini akan berubah drastis. Banyak pihak memahami satu hal mendasar: bagi politikus yang ditangkap, ancaman terbesar bukanlah penjara, melainkan momen ketika dia mulai membuka rahasia demi menyelamatkan dirinya.

Rahasia Gelap PKT yang Diduga Dipegang Maduro

Menurut analisis AXE, Maduro menyimpan berbagai rahasia sensitif terkait elite PKT, di antaranya:

  1. Selisih transaksi minyak yang dialirkan melalui jalur bawah tanah, dengan pembayaran dalam RMB, lalu berujung menjadi simpanan elite PKT di Hong Kong dan luar negeri.
  2. Operasi kapal-kapal “hantu” dengan GPS dimatikan: mekanisme bongkar muat minyak di tengah laut serta besaran “uang perlindungan” yang dibayarkan perantara Tiongkok kepada para jenderal Venezuela.
  3. Proyek infrastruktur mangkrak yang diduga digunakan sebagai skema pemindahan dana negara dari “tangan kiri ke tangan kanan”.

Jika Maduro membuka seluruh informasi ini di pengadilan, Trump akan memperoleh amunisi hukum untuk memperluas sanksi, bahkan mendorong penuntutan pidana lintas negara. AXE menilai, bank-bank Tiongkok yang terlibat pencucian uang berisiko dikeluarkan dari sistem dolar global, sebuah langkah yang dapat mengguncang fondasi keuangan internasional.

Kesimpulan sementara:  Rangkaian peristiwa sejak 4 hingga 6 Januari 2026 menunjukkan bahwa dunia tengah memasuki fase konfrontasi geopolitik baru, di mana minyak, uang gelap, rahasia politik, dan pengadilan internasional bertemu dalam satu titik krisis yang berpotensi mengubah tatanan global.

Trump Isyaratkan Kemungkinan Operasi Militer di Kolombia dan Meksiko, Prediksi Rezim Komunis Kuba Akan Runtuh dengan Sendirinya

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 4 Januari memperingatkan bahwa para pengedar narkoba di Kolombia dan Meksiko bisa menghadapi tindakan serius dari militer AS, sekaligus memprediksi bahwa rezim komunis Kuba kemungkinan akan runtuh, menyusul serangan udara presisi AS di Venezuela yang berujung penangkapan maduro hidup-hidup. 

Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Trump ditanya apakah Amerika Serikat akan melakukan aksi militer terhadap Kolombia. Ia menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat. Dan dia tidak akan melakukan itu untuk waktu yang lama, percayalah,” kata Trump, yang tampaknya merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro.

Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin harus “melakukan sesuatu terhadap Meksiko” terkait penyelundupan narkoba, dengan mengatakan bahwa pemerintah negara itu tidak berbuat cukup banyak untuk memberantas kartel narkoba.

“Meksiko harus membereskan diri karena mereka mengalir melalui Meksiko, dan kita akan harus melakukan sesuatu,” ujarnya. 

“Kami sebenarnya ingin Meksiko yang melakukannya, mereka mampu melakukannya, tetapi sayangnya kartel-kartel itu sangat kuat di Meksiko.”

Trump mengatakan bahwa setiap kali ia berbicara dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, ia selalu menawarkan pasukan AS untuk membantu memerangi perdagangan narkoba di Meksiko. Namun, meskipun Sheinbaum menunjukkan keprihatinan, ia “tidak mau” dan “sedikit takut,” kata Trump.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan aksi militer di Kuba, Trump mengatakan hal itu tidak diperlukan karena ia memperkirakan negara tersebut akan runtuh dengan sendirinya karena kini tidak memiliki pemasukan.

“Mereka mendapatkan seluruh pemasukan mereka dari Venezuela, dari minyak Venezuela. Sekarang mereka tidak mendapatkan apa-apa,” kata Trump. “Saya pikir itu akan runtuh dengan sendirinya. Saya tidak berpikir kita perlu melakukan apa pun.”

Kolombia, Meksiko, dan Kuba telah mengecam keras serangan udara AS yang mengakibatkan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari rumah mereka di ibu kota Venezuela, Caracas, pada 3 Januari, untuk menghadapi dakwaan terkait narkoba dan senjata di Amerika Serikat.

Petro menyatakan di X bahwa Kolombia menentang “setiap tindakan militer sepihak” yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan dan membahayakan warga sipil.

Kementerian Luar Negeri Meksiko mengunggah pernyataan yang mengkritik aksi militer AS di Venezuela, menyerukan dialog antara kedua negara, serta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membantu meredakan ketegangan.

“Amerika Latin dan Karibia adalah zona perdamaian, yang dibangun atas dasar saling menghormati, penyelesaian sengketa secara damai, serta larangan penggunaan dan ancaman kekerasan. Karena itu, setiap aksi militer sangat membahayakan stabilitas kawasan,” bunyi pernyataan kementerian tersebut.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam operasi AS tersebut sebagai “serangan kriminal” terhadap Venezuela dan menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya. Ia menuduh pemerintah AS telah menculik presiden Venezuela yang sedang menjabat melalui sebuah operasi militer.

Menyusul penangkapan Maduro pada akhir pekan lalu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez ditunjuk sebagai presiden sementara oleh Mahkamah Agung Venezuela dan diakui sebagai pemimpin sementara oleh para pejabat militer.

Rodríguez mengecam penangkapan Maduro dan istrinya oleh AS serta menyerukan pembebasan mereka. Ia juga menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan presiden Venezuela.

Jack Phillips berkontribusi dalam laporan ini.

Satu Presiden Ditangkap: Efek Domino Maduro Menghantam Iran hingga Tiongkok

EtIndonesia. Sepanjang 3 hingga 4 Januari 2026, sejumlah akun pemantau militer berbasis intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) melaporkan pergerakan intens dan terkoordinasi kekuatan angkut udara militer Amerika Serikat. Pola penerbangan yang terdeteksi dinilai tidak biasa dan memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan operasi lanjutan berskala besar.

Salah satu unit yang kembali menjadi sorotan adalah Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 Angkatan Darat AS, yang dikenal dengan julukan “Night Stalkers”—unit elite yang kerap mengangkut pasukan Delta Force dalam misi berisiko tinggi. Unit ini sebelumnya diketahui terlibat langsung dalam operasi penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela pada 3 Januari 2026.

Data penerbangan menunjukkan bahwa sebagian armada tersebut berangkat dari wilayah daratan Amerika Serikat, kemudian transit di Pangkalan Udara RAF Fairford, Inggris, sebelum bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Sejumlah analis militer menilai, sebagian penerbangan ini berpotensi dilanjutkan ke wilayah yang lebih dekat dengan Iran.

Pergerakan tersebut melibatkan kombinasi aset khas operasi khusus, antara lain:

  • Helikopter UH-60 Black Hawk untuk penyebaran cepat pasukan elite,
  • Helikopter CH-47 Chinook untuk angkutan berat dan logistik,
  • Pesawat tiltrotor V-22 Osprey yang mampu lepas landas vertikal sekaligus terbang jarak jauh dengan kecepatan tinggi.

Selain itu, pesawat pengisian bahan bakar di udara juga terpantau aktif, mengindikasikan dukungan bagi penerbangan jarak jauh non-stop. Hingga 5 Januari 2026, Pentagon belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai tujuan spesifik pergerakan tersebut.

“Pizza Index” Pentagon Kembali Naik Tajam

Pada malam 4 Januari 2026, akun X (Twitter) NYPRIPOR, yang dikenal memantau indikator tidak resmi kesiapsiagaan militer AS melalui “Pizza Index Pentagon”, mengunggah temuan mencolok.

Menurut data yang dia kumpulkan, penjualan di gerai Papa John’s Pizza di sekitar Pentagon melonjak hingga 1.250% hanya dalam satu malam. Sebagai perbandingan, pada malam operasi penyerbuan AS ke Venezuela (3 Januari), lonjakan penjualan tercatat sekitar 700%.

Berdasarkan pola historis, akun tersebut menyimpulkan bahwa lonjakan ekstrem ini sering berkorelasi dengan persiapan operasi militer besar. Dia menilai, “sesuatu yang signifikan kemungkinan besar sedang atau akan segera terjadi.”

Kuba Akui Korban Jiwa, Trump: “Mereka Sudah Rapuh”

Pada 4 Januari 2026, di atas pesawat Air Force One, Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan kepada wartawan bahwa sejumlah personel Kuba yang bertugas mengamankan Nicolás Maduro tewas dalam operasi penangkapan di Caracas.

Sehari kemudian, 5 Januari 2026, Pemerintah Kuba secara resmi mengonfirmasi kematian 32 warganya dalam insiden tersebut.

Menanggapi hal ini, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak perlu mengambil tindakan tambahan terhadap Kuba, karena menurutnya rezim Havana “sudah berada di ambang keruntuhan dengan sendirinya.”

Pengamat geopolitik akun X Tombstone Tech menilai bahwa perekonomian Kuba hampir sepenuhnya bergantung pada Venezuela, khususnya pasokan minyak bersubsidi. Dengan terputusnya jalur kehidupan ekonomi tersebut pasca penangkapan Maduro, kerapuhan struktural rezim komunis Kuba kini terbuka lebar.

Efek Tak Terduga di Selat Taiwan

Dampak penangkapan Maduro ternyata meluas hingga Asia Timur. Kementerian Pertahanan Taiwan mencatat bahwa dalam 24 jam setelah operasi AS pada 3 Januari 2026, tidak satu pun pesawat militer Tiongkok terdeteksi di sekitar Selat Taiwan.

Fenomena “nol pesawat” ini dinilai sangat langka, mengingat aktivitas militer udara Tiongkok biasanya berlangsung hampir setiap hari. Aktivitas baru kembali terdeteksi pada 5 Januari 2026, setelah jeda singkat yang memicu perhatian luas para analis keamanan regional.

Ironi Global: Maduro dan Efek “Promosi” Nike

Di luar geopolitik, penangkapan Maduro juga memunculkan ironi yang menyedot perhatian media global. Dalam foto dan video penangkapannya, Maduro terlihat mengenakan jaket olahraga abu-abu bermerek Nike.

Berdasarkan penelusuran daring, jaket tersebut dijual dengan harga sekitar 218 euro, tergolong pakaian olahraga kelas menengah-atas. Sejumlah media asing melaporkan bahwa produk serupa mendadak laris di beberapa negara, bahkan banyak ukuran yang habis di situs resmi Nike.

Media internasional pun berseloroh mengenai “daya promosi tak disengaja” dari seorang diktator yang sepanjang hidupnya bersikap anti-Amerika, namun ditangkap justru sambil mengenakan merek Amerika—sebuah ironi tajam yang disebut sebagai sindiran paling pahit bagi dirinya sendiri.

Pemerintahan Sementara Venezuela Berbalik Lunak

Situasi politik Venezuela berubah drastis pasca penangkapan Maduro. Pada 5 Januari 2026, Presiden Sementara Venezuela, Rodríguez, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengundang Amerika Serikat untuk bersama-sama menyusun agenda kerja sama bilateral.

Menurut laporan Reuters, Rodríguez menyatakan harapan agar Venezuela dapat membangun hubungan berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan bebas dari ancaman eksternal—sebuah pernyataan yang sangat kontras dengan sikap kerasnya beberapa hari sebelumnya.

Beberapa jam setelah operasi militer AS di Caracas pada 3 Januari, Rodríguez sempat mengecam keras tindakan AS dan menuntut pemulangan Maduro. Namun sehari sebelum penangkapan, Trump telah memperingatkan Rodríguez secara terbuka agar “melakukan hal yang benar,” dengan konsekuensi lebih berat bila menolak bekerja sama.

Trump juga mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih sementara pengelolaan transisi Venezuela, dengan mengirim tim pejabat Amerika. Sekitar 15.000 pasukan AS masih dikerahkan di kawasan Karibia, dan opsi militer tetap terbuka jika pemerintah sementara tidak kooperatif.

Trump mengungkapkan bahwa Rodríguez menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio: “Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan.”

Komentar Trump singkat namun tajam: “Sikapnya sopan, tetapi sebenarnya dia tidak punya pilihan.”

Rubio kemudian menegaskan dalam wawancara NBC bahwa: “Ini bukan perang. Kami sedang memerangi kartel narkoba, bukan berperang melawan Venezuela.”

Dia menambahkan bahwa pasukan AS hanya berada di Caracas sekitar dua jam, menjalankan misi penegakan hukum, bukan invasi atau operasi militer jangka panjang.

Guncangan Psikologis di Kalangan Nasionalis Tiongkok

Penangkapan Maduro juga memicu reaksi emosional di Tiongkok. Akademisi pro-penyatuan paksa Taiwan, Li Yi, yang dikenal luas sebagai figur nasionalis keras, mengalami ledakan emosi dalam siaran langsung YouTube.

Dalam kondisi emosional, dia menampar dirinya sendiri, tubuhnya gemetar, dan berteriak: “Aku bahkan merasa bukan manusia lagi!”

Video tersebut segera viral. Pengacara Taiwan, Lin Zhiquan menilai bahwa kehancuran mental Li Yi disebabkan runtuhnya keyakinan lama bahwa kekuatan militer Tiongkok hanya tertinggal sedikit dari AS, padahal kenyataannya terpaut beberapa generasi.

Pengamat X Sanfeng menilai, figur seperti Li Yi bertahan hidup secara politik berdasarkan asumsi bahwa Amerika telah melemah. Ketika AS mampu “menangkap seorang presiden layaknya elang mencengkeram anak ayam”, seluruh fondasi narasi itu runtuh seketika.

Tokoh anti-Amerika lainnya, Jin Canrong, juga mengakui bahwa penangkapan Maduro berdampak besar bagi kepentingan Tiongkok, terutama investasi ekonomi di Amerika Latin, yang kini menghadapi risiko politik meningkat.

Gerakan Politik Tiongkok di Pengasingan Menguat

Perubahan drastis situasi global sejak awal 2026 turut memicu geliat politik di kalangan diaspora Tiongkok. Pada 4 Januari 2026, Panitia Persiapan Sementara Parlemen Tiongkok resmi dibentuk di Museum Peringatan 4 Juni, Los Angeles.

Menurut laporan Epoch Times, sejumlah tokoh veteran gerakan demokrasi Tiongkok hadir secara langsung maupun daring. Dalam deklarasinya, panitia menegaskan tujuan mengakhiri sistem satu partai dan mendorong demokrasi konstitusional, dengan menekankan keselamatan dan profesionalisme.

Tokoh demokrasi Wang Dan menegaskan bahwa membangun parlemen bukan lari cepat, melainkan maraton panjang, sementara Wakil Sekretaris Jenderal Yuan Jue berharap platform ini menjadi ruang terbuka dialog lintas pandangan politik serta sarana peningkatan literasi demokrasi.

Kesimpulan:

Memasuki awal 2026, dunia tampak bergerak dalam fase transisi geopolitik yang cepat dan saling terhubung. Dari gerak senyap militer AS, kejatuhan rezim Venezuela, efek psikologis di Tiongkok, hingga manuver politik di pengasingan, satu benang merah terlihat jelas: struktur kekuatan global sedang bergeser, dan dampaknya menjalar jauh melampaui satu negara atau satu kawasan.

Hari Kedelapan Kerusuhan di Iran, AS Kirim Sinyal Perang dan Khamenei Disebut Siap Kabur

EtIndonesia. Kerusuhan sosial besar-besaran yang dipicu oleh keruntuhan ekonomi Iran kini telah memasuki hari kedelapan, menandai salah satu gelombang protes terluas dan paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Situasi di dalam negeri Iran terus memburuk, sementara dari luar negeri, Amerika Serikat mulai menunjukkan sinyal tekanan militer dan politik yang semakin jelas.

AS Kerahkan Pesawat Angkut Strategis ke Timur Tengah

Sejumlah data intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) yang dirilis pada awal Januari 2026 menunjukkan bahwa militer Amerika Serikat tengah mengonsentrasikan pesawat angkut strategis dalam jumlah besar menuju kawasan Timur Tengah. Pergerakan ini mencakup pesawat logistik jarak jauh yang umumnya digunakan untuk pengangkutan pasukan, peralatan berat, serta dukungan operasi militer skala besar.

Pada saat yang hampir bersamaan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengambil langkah yang sangat jarang dilakukan: dia menyampaikan peringatan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menggunakan bahasa Persia, melalui platform resmi Pemerintah AS.

Langkah ini dinilai para analis sebagai sinyal psikologis dan strategis yang kuat, menandakan bahwa Washington tengah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan operasi militer dengan intensitas lebih tinggi jika situasi Iran terus memburuk.

Protes Menyebar ke 25 Provinsi, Ratusan Ditangkap

Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang dirilis pada 4 Januari 2026, gelombang protes di Iran telah:

  • Menyebar ke 174 wilayah
  • Mencakup 60 kota
  • Terjadi di 25 dari total 31 provinsi

Aksi yang terjadi tidak hanya berupa demonstrasi jalanan, tetapi juga mogok kerja, penutupan pasar, serta perlawanan terbuka terhadap aparat keamanan.

Dalam kurun waktu satu pekan terakhir:

  • Sedikitnya 582 orang dilaporkan ditangkap
  • 16 orang dipastikan tewas

Namun, HRANA menegaskan bahwa angka ini kemungkinan besar jauh di bawah jumlah sebenarnya, mengingat pembatasan ketat terhadap media, pemadaman internet di sejumlah wilayah, serta tekanan keamanan yang masif.

Basis Garda Revolusi Dibakar, Momen Disebut “Bersejarah”

Pada 4 Januari 2026, sejumlah video yang beredar luas di platform X (dulu Twitter) memperlihatkan massa warga Iran menyerbu dan membakar beberapa fasilitas milik Garda Revolusi Iran (IRGC). Dalam rekaman tersebut, tampak para demonstran melempar batu, merusak bangunan, dan menyalakan api di sekitar basis militer.

Banyak warganet Iran maupun internasional menyebut peristiwa ini sebagai “momen bersejarah”, karena untuk pertama kalinya dalam skala besar, simbol kekuasaan utama rezim Iran diserang secara langsung oleh rakyatnya sendiri.

Laporan Intelijen: Khamenei Siapkan Rencana Kabur ke Moskow

Masih pada 4 Januari 2026, harian Inggris The Times mengutip laporan intelijen Barat yang menyebutkan bahwa Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat.

Menurut laporan tersebut:

  • Jika kerusuhan nasional semakin meluas
  • Jika pasukan keamanan mulai membangkang atau kehilangan loyalitas
  • Maka Khamenei disebut-sebut akan melarikan diri ke Moskow

Langkah ini disebut meniru preseden mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang sebelumnya mengamankan diri ke Rusia di tengah krisis besar di negaranya. Laporan yang sama juga menyebutkan bahwa sejumlah aset milik Khamenei telah lebih dahulu dipindahkan ke luar negeri.

Retorika Keras Khamenei dan Respons Tajam Elon Musk

Meski menghadapi tekanan besar, Khamenei tetap menampilkan sikap keras di hadapan publik. Pada 3 Januari 2026, bertepatan dengan hari penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, Khamenei menulis di platform X: “Kami tidak akan menyerah kepada musuh.”

Namun, pernyataan tersebut segera mendapat respons tajam dari Elon Musk. Pada 4 Januari 2026, Musk membalas unggahan tersebut dalam bahasa Persia dengan kalimat singkat namun menyengat: “Bermimpi di siang bolong!”

Unggahan itu viral dan dalam waktu singkat meraih lebih dari 16 juta tayangan, memperkuat tekanan psikologis terhadap kepemimpinan Iran di tengah krisis.

Peringatan Terbuka AS: “Kesempatan Itu Telah Hilang”

Pada 3 Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth kembali mengambil langkah tidak biasa dengan menyampaikan pernyataan resmi dalam bahasa Persia, secara langsung menyasar kepemimpinan Iran.

Dalam pernyataannya, Hegseth menyebut bahwa Maduro sebenarnya pernah memiliki kesempatan untuk memilih jalan lain, sama seperti yang pernah dimiliki Iran. Namun, menurutnya, kesempatan tersebut kini telah hilang.

Dia menegaskan: “Mereka telah membuat pilihan, dan sekarang mereka melihat konsekuensinya.”

Banyak pengamat dan warganet menilai bahwa pesan tersirat dari pernyataan ini merupakan peringatan keras kepada Ali Khamenei:  jika dia tidak segera mundur atau pergi, maka pada akhirnya dia mungkin tidak lagi memiliki kesempatan untuk pergi sama sekali.

Menyesal Tiga Kali Sepanjang Hidup

EtIndonesia. Paman Jue adalah orang yang sangat keras kepala. Dia selalu merasa dirinya benar dan gemar bersikap berlawanan dengan orang lain. Dahulu, dia bertani di sebelah utara Gunung Gui. Padi dia tanam di lereng gunung yang kering, sementara sorgum dia tanam di kaki gunung yang rendah dan lembap.

Seorang sahabatnya menasihati :  “Padi menyukai tempat lembap, seharusnya ditanam di kaki gunung. Sorgum tahan kering, seharusnya ditanam di lereng. Yang kamu lakukan justru terbalik. Ini bertentangan dengan sifat alami tanaman, hasilnya pasti tidak baik.”

Namun Paman Jue tidak mau mendengar. Akibatnya, selama sepuluh tahun bertani, keluarganya bahkan sering kekurangan makanan. Barulah kemudian dia memperhatikan cara bertani sahabatnya—padi ditanam di tempat basah, sorgum di tempat kering, dan hasil panennya selalu melimpah. 

Saat itulah dia meminta maaf :  “Dulu aku salah. Seandainya sejak awal aku mendengarkan nasihatmu.”

Beberapa waktu kemudian, Paman Jue pergi ke sebuah tempat bernama Wenshang untuk berdagang. 

Dia berpikir : “Dulu aku rugi karena tidak mau sama dengan orang lain. Sekarang, apa pun yang dilakukan orang lain, aku akan mengikutinya.”

Melihat orang lain berebut membeli barang tertentu, dia ikut memborong. Melihat orang lain menjual barang tertentu, dia ikut menjual. 

Sahabatnya kembali menasihati :  “Terus mengikuti langkah orang lain tidak akan berhasil. Karena kamu selalu satu langkah lebih lambat. Saat kamu menjual barang yang sama, pasar sudah kebanjiran. Pedagang yang cerdas justru membeli barang yang belum diperebutkan orang lain. Ketika kesempatan datang, barulah keuntungan besar bisa diraih.”

Sekali lagi, Paman Jue mengabaikan nasihat itu. Sepuluh tahun berlalu, dia jatuh miskin hingga tak lagi memiliki modal untuk berdagang. 

Dia teringat kembali ucapan sahabatnya sepuluh tahun lalu dan datang meminta maaf :  “Kamu benar. Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkanmu.”

Setelah itu, Paman Jue dan sahabatnya pergi melaut dengan kapal nelayan ke Laut Cina Timur. Ketika kapal mendekati sebuah pusaran air besar, sahabatnya berteriak :  “Jangan maju lagi! Di depan ada pusaran besar, kalau masuk, tidak akan bisa keluar!”

Paman Jue berpikir bahwa di depan pasti banyak ikan, sehingga dia tetap melaju. Akibatnya, kapalnya terseret ke dalam pusaran raksasa dan berputar-putar tanpa henti. Begitulah, kapalnya terjebak di pusaran selama sepuluh tahun.

Beruntung, di dalam pusaran itu ikan sangat melimpah. Dia bertahan hidup dengan memakan ikan mentah dan meminum air hujan. Hingga suatu hari, seekor ikan sebesar gunung berubah menjadi burung raksasa, mengepakkan sayapnya dan memicu gelombang besar yang akhirnya melemparkan kapal Paman Jue keluar dari pusaran.

Ketika dia pulang ke rumah, rambutnya sudah memutih seluruhnya, tubuhnya kurus kering seperti lilin. Tak satu pun kerabat atau sahabat yang mengenalinya. 

Dia kembali menemui sahabatnya, membungkuk dalam-dalam dua kali, lalu menunjuk ke langit dan berkata:  “Dulu aku terlalu keras kepala. Kini, biarlah matahari menjadi saksi—kali ini aku benar-benar akan berubah.”

Sahabatnya tersenyum pahit dan berkata :  “Kamu sudah tua. Masa muda telah berlalu. Sekalipun kamu berubah sekarang, seberapa besar lagi gunanya?” (jhn/yn)

Penjara Brooklyn: “Neraka di Bumi” Tempat Maduro dari Venezuela Ditahan

EtIndonesia. Penjara Brooklyn yang menahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro adalah fasilitas yang begitu bermasalah, beberapa hakim menolak untuk mengirim orang ke sana meskipun pernah menampung narapidana terkenal seperti bintang musik R Kelly dan Sean “Diddy” Combs.

Dibuka pada awal tahun 1990-an, Metropolitan Detention Center, atau MDC Brooklyn, saat ini menampung sekitar 1.300 narapidana.

Ini adalah tempat penahanan rutin bagi orang-orang yang menunggu persidangan di pengadilan federal di Manhattan dan Brooklyn, menahan terduga gangster dan pengedar narkoba bersama beberapa orang yang dituduh melakukan kejahatan kerah putih.

Sekumpulan ekspatriat Venezuela, banyak yang mengenakan bendera, berkumpul di trotoar di luar penjara pada Sabtu malam untuk merayakan penangkapan Maduro. Kerumunan bersorak ketika iring-iringan kendaraan penegak hukum yang diyakini membawa pemimpin yang digulingkan dan istrinya tiba di penjara.

Maduro bukanlah presiden pertama suatu negara yang dipenjara di sana.

Juan Orlando Hernández, mantan presiden Honduras, dipenjara di MDC Brooklyn saat diadili karena menyelundupkan ratusan ton kokain ke AS. Setelah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 45 tahun penjara, Hernández diampuni dan dibebaskan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Desember.

Para tahanan saat ini termasuk salah satu pendiri kartel narkoba Sinaloa Meksiko, Ismael “El Mayo” Zambada Garcia, dan Luigi Mangione, yang dituduh membunuh CEO UnitedHealthcare. Mantan tahanan termasuk taipan kripto Sam Bankman-Fried dan rekan lama Jeffrey Epstein, Ghislaine Maxwell.

Terletak di sebelah pusat perbelanjaan di kawasan industri tepi laut dan dalam jarak pandang Patung Liberty, penjara ini digambarkan, dalam kondisi terburuknya, sebagai “neraka di bumi” dan “tragedi yang terus berlanjut.”

Para tahanan dan pengacara mereka telah lama mengeluhkan kekerasan yang merajalela. Dua narapidana tewas dibunuh oleh narapidana lain pada tahun 2024, dan para pekerja penjara telah didakwa menerima suap atau menyediakan barang selundupan.

Selama musim dingin tahun 2019, pemadaman listrik membuat fasilitas dan para narapidananya berada dalam kegelapan yang dingin selama seminggu.

Namun, baru-baru ini, Biro Penjara federal mengatakan telah berupaya untuk memperbaiki kondisi.

Fasilitas tersebut menambah staf pemasyarakatan dan medis, memperbaiki lebih dari 700 permintaan pemeliharaan yang tertunda dan menjawab kekhawatiran para hakim. Perbaikan juga dilakukan pada saluran listrik dan pipa, layanan makanan, serta sistem pemanas dan pendingin udara.

Selain peningkatan fisik, otoritas federal telah berupaya untuk memberantas kejahatan di dalam penjara. Maret lalu, 23 narapidana didakwa dengan berbagai pelanggaran, mulai dari penyelundupan senjata dalam kantong Doritos hingga penusukan seorang pria yang dihukum karena pembunuhan legenda hip-hop Jam Master Jay.

“Singkatnya, MDC Brooklyn aman bagi para narapidana dan staf,” kata Biro Penjara pada bulan September. Jumlah narapidana juga menurun dari 1.580 pada Januari 2024, yang menurut laporan tersebut, menyebabkan “penurunan substansial” dalam kejahatan dan penyelundupan.

Di sana, Maduro kemungkinan akan melihat beberapa wajah yang familiar jika dia diizinkan keluar dari tempat isolasi tempat dia akan ditempatkan awalnya.

Salah satunya adalah terdakwa bersama Hugo Carvajal, mantan kepala intelijen Venezuela yang memisahkan diri dari Maduro pada tahun 2019 dan telah mengindikasikan bahwa dia ingin bekerja sama dengan otoritas AS.

Ada juga Anderson Zambrano-Pacheco, yang diduga anggota geng Tren de Aragua Venezuela yang ditangkap tahun lalu di New York atas tuduhan kepemilikan senjata api. Zambrano-Pacheco termasuk di antara mereka yang tertangkap dalam video keamanan yang meneror warga di kompleks apartemen di pinggiran Kota Denver, sebuah insiden yang dimanfaatkan Trump selama kampanye presidennya.

MDC telah menuai lebih banyak sorotan sejak tahun 2021, ketika Biro Penjara menutup penjara Kota New York lainnya — Metropolitan Correctional Center — setelah bunuh diri Jeffrey Epstein di sana menyoroti keamanan yang longgar, infrastruktur yang runtuh, dan kondisi yang berbahaya serta kumuh.(yn)

Biarkan Tamu Mempromosikan Anda

EtIndonesia. Di Thailand, ada seorang pemilik hotel bernama Kut yang telah mengelola usaha perhotelan selama lebih dari 20 tahun. Dari pengalamannya itu, dia mengumpulkan banyak pelajaran berharga tentang manajemen. 

Ketika seseorang bertanya bagaimana seharusnya promosi hotel wisata dilakukan, dia tersenyum dan menjawab: “Raih simpati para tamu, biarkan tamu yang mempromosikan Anda.”

Bagaimana caranya meraih simpati tamu? Menurut Kut, wisatawan yang datang dari berbagai penjuru dunia memiliki kebiasaan hidup, karakter, dan selera yang berbeda-beda. Sehebat apa pun layanan yang disediakan hotel, tetap mustahil memenuhi seluruh permintaan khusus mereka. Karena itu, satu-satunya kunci adalah bersikap fleksibel, menanggapi perubahan dengan lembut, dan mengalahkan kekakuan dengan keluwesan.

Suatu kali, beberapa pengusaha dari Eropa dijemput dengan mobil hotel Mandarin Oriental Bangkok. Mereka tahu bahwa jalan-jalan utama Bangkok sering macet, sehingga meminta untuk mengganti rute dan naik perahu kecil melalui Sungai Chao Phraya menuju hotel. Saat itu, kapal wisata sudah berangkat. Selain itu, sesuai rencana awal, makan malam telah disiapkan di kamar mereka. Perubahan mendadak ini jelas akan mengacaukan pengaturan, membuat staf bekerja lembur, dan menambah biaya.

Namun, petugas hotel tidak mengeluh sedikit pun. Dengan senyum ramah, dia mengantar para tamu ke dermaga, menyewa sebuah perahu kecil dengan harga tinggi, mengantar mereka ke hotel, lalu menyiapkan ulang hidangan dan minuman.

Para tamu Eropa itu sangat terkesan. Mereka memuji pelayanan hotel tersebut ke mana pun mereka pergi, menyebut manajemennya luar biasa.

Iklan memang merupakan sarana objektif yang memengaruhi psikologi konsumen dan mendorong mereka membeli produk atau menggunakan jasa. Namun pemahaman Kut tentang iklan jauh lebih unik. Dia tahu bahwa penilaian tamu terhadap sebuah hotel bukan hanya soal makanan lezat atau kamar mewah, tetapi juga layanan-layanan kecil yang bersifat situasional dan sementara. Jika hal-hal ini ditangani dengan baik, kesannya akan bertahan lama di ingatan tamu. Pilihan hotel mereka di masa depan, serta cerita yang mereka sampaikan kepada orang lain, itulah iklan paling hidup dan paling meyakinkan.

Untuk mencapai standar tersebut, hotel harus terus meningkatkan kualitas layanan.

Kut melengkapi lebih dari 400 kamar hotel dengan lebih dari 900 staf layanan—rata-rata dua staf untuk menangani kebutuhan mendadak setiap kamar. Selain itu, para staf secara berkala mengikuti pelatihan, seleksi, dan promosi jabatan. Para manajer senior memiliki peran penting dalam membimbing karyawan baru. Dalam hal ini, Kut sangat berhasil—hampir semua manajer senior mampu membantu karyawan baru mengatasi berbagai masalah mendesak yang mereka hadapi.

Pernah suatu kali, seorang tamu asal Australia menempati kamar yang menghadap jalan raya. Dia marah karena suara peluit polisi lalu lintas mengganggu istirahatnya, hingga membanting dan memecahkan dua vas bunga. Petugas hotel menahan amarahnya, segera menyuguhkan segelas jus jeruk dingin, menenangkan sang tamu, lalu dengan cepat memindahkannya ke kamar yang menghadap taman dalam. Permintaan tamu pun terpenuhi.

Tamu Australia itu merasa sangat berterima kasih. Dia secara sukarela mengganti kerugian vas yang pecah dan bahkan memesan kamar mewah hotel tersebut untuk jangka panjang.

Persaingan pasar memang keras, tetapi juga sarat dengan sisi kemanusiaan. Seperti pepatah mengatakan: jika Anda memberi kebaikan kepada pelanggan, pelanggan pun akan membalas dengan kebaikan yang setimpal.(jhn/yn)

Harga Minyak Turun Setelah AS Menangkap Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro

EtIndonesia. Harga minyak turun pada hari Senin (5/1) setelah operasi militer AS menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, yang negaranya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Peningkatan volume minyak Venezuela yang memasuki pasar akan menambah kekhawatiran kelebihan pasokan dan memberikan tekanan lebih lanjut pada harga minyak, yang telah turun dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam perdagangan pagi di Asia, Brent Crude turun 0,21 persen menjadi 60,62 dolar per barel sementara West Texas Intermediate turun 0,35 persen menjadi 57,12 dolar, keduanya dari titik terendah sebelumnya.

Pasukan AS menyerang Caracas pada dini hari Sabtu, membom target militer dan membawa Maduro dan istrinya untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba federal di New York.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang akan “mengelola” Venezuela dan mengirim perusahaan AS untuk memperbaiki infrastruktur minyaknya yang sangat rusak.

Setelah bertahun-tahun mengalami kurangnya investasi dan sanksi, Venezuela saat ini memproduksi sekitar satu juta barel minyak per hari, turun dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada tahun 1999.

Namun, para analis mengatakan bahwa di samping pertanyaan-pertanyaan besar lainnya tentang masa depan Venezuela, peningkatan produksi minyak secara substansial tidak akan mudah atau cepat.

“Pemulihan produksi apa pun akan membutuhkan investasi besar mengingat infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo, kepada AFP.

Berinvestasi saat ini juga kurang menarik: harga minyak tertekan oleh kelebihan pasokan dan turun pada tahun 2025 meskipun ada hambatan pertumbuhan yang signifikan seperti perang tarif Trump dan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.(yn)

Mitos Kebal Hukum Mantan Presiden di Indonesia: Belajar dari “Buku Putih” Hingga Kasus Najib Razak

ETIndonesia– Diskursus mengenai pertanggungjawaban hukum mantan kepala negara kembali mengemuka di tengah publik. Fenomena hukum yang menimpa mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, yang divonis total 165 tahun penjara atas kasus korupsi dan pencucian uang, menjadi cermin besar bagi sistem hukum di Indonesia.

Namun, bagi pengamat politik Foxpoll, Pangi Syarwi Chaniago, gagasan untuk menyeret mantan presiden ke meja hijau di Indonesia masih dianggap sebagai sebuah “mitos politik” yang sulit ditembus.

Dalam bincang-bincang di kanal YouTube Forum Keadilan TV  (31/12/2025), Pangi menyoroti adanya hambatan struktural dan budaya yang membuat posisi mantan presiden seolah memiliki hak imunitas tak tertulis. Ia menyebutkan adanya istilah “Buku Putih” sebagai bentuk konsensus antara presiden terpilih dan pendahulunya,.

“Di Indonesia itu ada buku putih yang hanya mereka yang tahu. Artinya, ada perjanjian tersendiri yang membuat mereka tidak bisa tersentuh oleh hukum,” ujar Pangi Syarwi Chaniago dalam wawancara tersebut,. Menurutnya, kesepakatan ini memberikan rasa aman bagi mantan penguasa sehingga mereka seringkali tidak mempertimbangkan risiko hukum jangka panjang saat masih menjabat.

Budaya Feodal dan Intervensi Politik

Pangi menilai bahwa lemahnya penegakan hukum terhadap elit di Indonesia berakar pada “DNA” politik yang masih sangat dominan dibandingkan DNA penegakan hukum itu sendiri,. Ia berpendapat bahwa hukum di Indonesia seringkali masih berada di bawah kendali kekuasaan, berbeda dengan negara maju di mana kekuasaan tunduk pada supremasi hukum.

“Hukum kita di Indonesia ini kan masih feodal semangatnya. DNA penegakan hukum kita itu intervensi politiknya lebih kuat daripada DNA penegakan hukum,” tegas Pangi. Hal ini diperparah dengan budaya masyarakat Timur yang cenderung “pemaaf dan pelupa,” serta adanya rasa sungkan atau “nggak enakan” untuk memproses hukum seseorang yang dianggap pernah berjasa bagi negara,,.

Lebih lanjut, Pangi memberikan kritik tajam terhadap lembaga penegak hukum seperti KPK dan Polri yang menurut pengamatannya masih berada di bawah pengaruh kendali politik tertentu,. Terkait isu laporan dugaan korupsi yang menyeret nama Presiden Joko Widodo dan keluarganya, Pangi menyatakan keraguannya akan keberanian lembaga anti-rasuah saat ini,.

“Komisioner KPK sekarang enggak akan berani ketika berhadapan dengan keluarga Jokowi, dia tumpul… akan mencret lah kata orang begitu, enggak akan berani,” ucapnya merujuk pada pengaruh politik yang masih membayangi pasca-masa jabatan,.

Perbandingan Internasional dan Harapan Masa Depan

Secara global, tren mengadili mantan pemimpin bukanlah hal baru. Pangi mencontohkan Park Geun-hye di Korea Selatan, Nicolas Sarkozy di Prancis, hingga Luis Inácio Lula da Silva di Brasil sebagai bukti bahwa di negara dengan sistem hukum egaliter, presiden dan rakyat memiliki kedudukan yang sama di depan hukum,,.

Meski di Indonesia hal ini masih dianggap “mimpi di siang bolong,” Pangi menekankan pentingnya tekanan publik yang konsisten untuk mendorong transparansi,,. Ia berharap ke depannya para pemimpin Indonesia tidak lagi bersikap “ugal-ugalan” karena merasa terlindungi oleh mitos imunitas,.

“Kita merindukan penegakan hukum yang memang setara atau equal. Bahwa semua warga negara itu sama di hadapan hukum,” pungkas Pangi, menutup pandangannya mengenai urgensi reformasi hukum yang lepas dari bayang-bayang oligarki.(isw)

Sinyal Keras dari Washington: Setelah Penangkapan Maduro, Siapa Berikutnya?


EtIndonesia.
Sebuah operasi penangkapan lintas negara yang dilakukan Amerika Serikat tidak hanya mengubah peta politik Venezuela, tetapi juga memicu gelombang kejut besar di dunia berbahasa Mandarin, khususnya di Tiongkok. Setelah Nicolás Maduro ditangkap hidup-hidup, berbagai rekaman, bocoran informasi, serta spekulasi politik dengan cepat menyebar luas di internet, memicu euforia, satire, hingga kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Euforia Digital dan Sindiran Terbuka terhadap Beijing

Dalam hitungan jam setelah kabar penangkapan dikonfirmasi, opini publik dunia maya meledak. Di berbagai platform media sosial, terutama yang diakses warganet Tiongkok, muncul gelombang komentar sarkastik, ejekan politik, dan harapan terbuka agar operasi serupa juga menimpa Xi Jinping, pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejumlah pengguna secara terang-terangan menulis bahwa militer Amerika Serikat seharusnya segera “menangkap” Xi Jinping, menyamakan nasibnya dengan Maduro. Di saat yang sama, beredar laporan tidak resmi yang menyebutkan adanya pergerakan tidak biasa di fasilitas militer sekitar Beijing, serta peningkatan signifikan terhadap pengamanan pribadi Xi Jinping.

Maduro Dibawa ke New York: Borgol, Helikopter, dan Penahanan

Pada malam hari waktu setempat, 3 Januari 2026, Maduro dan istrinya dikawal ketat ke Amerika Serikat. Setibanya di New York, Maduro turun dari pesawat dengan kaki terborgol, lalu segera diterbangkan menggunakan helikopter menuju Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn untuk menjalani penahanan.

Operasi ini dinilai sebagai salah satu penangkapan lintas negara paling bersih dan cepat dalam sejarah modern, tanpa laporan korban jiwa.

Pertemuan Tertutup dengan Delegasi PKT Jadi Sorotan

Fakta penting yang kemudian memicu spekulasi luas adalah bahwa beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro diketahui baru saja menggelar pertemuan tertutup selama berjam-jam dengan delegasi tingkat tinggi PKT. Selama bertahun-tahun, Beijing secara terbuka menyebut Maduro dan sejumlah pemimpin otoriter lain sebagai “teman lama”.

Kedekatan ini membuat banyak analis menilai bahwa penangkapan Maduro tidak hanya menjadi pukulan bagi Venezuela, tetapi juga peringatan strategis bagi Beijing.

Reaksi Komunitas Tionghoa: Dari Pujian hingga Ejekan Pedas

Begitu kabar penangkapan menyebar, komunitas Tionghoa—baik di dalam maupun luar negeri—langsung bereaksi keras. Di platform Douyin, banyak komentar yang memuji kekuatan militer Amerika Serikat dengan nada sinis.

“Menangkap seorang presiden lebih cepat daripada menangkap anak ayam. Ini baru benar-benar cepat,” tulis seorang pengguna.

Sebagian lainnya membandingkan operasi AS dengan latihan militer PKT yang dinilai hanya bersifat demonstratif.

“Tanpa latihan, tanpa slogan, langsung ditangkap. Kita selama ini menertawakan mereka, ternyata mereka benar-benar menakutkan.”

Di platform X berbahasa Mandarin di luar negeri, muncul komentar bernada satir: “Kami sudah antre terlalu lama. Amerika, tolong bergerak lebih cepat.”

Julukan ejekan terhadap Xi Jinping juga kembali bermunculan, dengan banyak warganet menegaskan bahwa penangkapan dan pengadilan Xi merupakan “suara hati mayoritas rakyat Tiongkok”.

Fenomena Unik di Tianjin: “Hari Mi Penangkapan”

Di kota Tianjin, 3 Januari 2026 menjadi hari yang tak biasa. Sejumlah warganet melaporkan bahwa sejak pukul 08: 00 pagi, seluruh jenis mie—baik mie bulat maupun mie pipih—habis terjual. Para pedagang kebingungan menghadapi lonjakan permintaan.

Warga setempat bahkan menjuluki hari itu sebagai “hari mie penangkapan”, sebuah permainan kata yang bermakna “tertangkap sejak pagi”. Bagi masyarakat Tianjin, mie bukan sekadar makanan, melainkan simbol ritual dalam momen besar.

“Kalau suatu hari rakyat benar-benar bangkit dan rezim komunis runtuh, mie pun akan habis tak bersisa,” tulis seorang pengguna.

Budaya Pop dan Simpati Global

Di tengah gelombang ini, lagu Liang Jingru berjudul ‘Sayang Bukan Kamu’ kembali viral. Kolom komentarnya dipenuhi tafsir politik tersirat, mencerminkan emosi kolektif yang sedang bergejolak.

Menariknya, pada kolom komentar media resmi PKT yang memberitakan “kerusuhan di Iran”, mayoritas komentar justru menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran, bukan aparat negara.

Iran, Khamenei, dan Sinyal Geopolitik Baru

Sejumlah laporan menyebut bahwa Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang juga disebut sebagai “teman lama” PKT, telah meninggalkan Teheran. Pada saat bersamaan, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, dilaporkan berada di Mesir.

Beredar spekulasi bahwa Presiden AS, Donald Trump mungkin akan mengirim pasukan atas nama perlindungan rakyat Iran, guna mengawal Reza Pahlavi kembali ke negaranya dan membuka jalan bagi monarki konstitusional sebagai alternatif rezim teokrasi.

Selain itu, seorang perwira tinggi Iran, Kolonel Sajjad Azad, dikabarkan membelot dan menyatakan akan melawan rezim hingga Iran merdeka.

Pengakuan Media AS dan Ketakutan Global

Bahkan CNN, media Amerika yang dikenal kritis terhadap Trump, mengakui bahwa Tiongkok, Rusia, dan Iran diam-diam sangat terkesan dengan operasi militer AS di Venezuela.

Komentator CNN menilai operasi tersebut “sederhana, presisi, dan mematikan”: menemukan target, mengunci, lalu menangkap—bahkan bersama istrinya—tanpa korban jiwa. Menurut mereka, ketiga negara tersebut tidak memiliki kapasitas melakukan operasi sebersih itu.

Beijing dalam Fase Tegang

Pada 4 Januari 2026, seorang pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, menulis di media sosial bahwa penangkapan Maduro telah menyeret Xi Jinping ke dalam fase ketakutan ekstrem. Dia mengklaim Beijing memperketat pengamanan pribadi Xi, sementara aktivitas militer di sekitar ibu kota meningkat tajam, termasuk dugaan aktivasi sistem bunker bawah tanah.

Partai Komunis Tiongkok tercatat dua kali mengeluarkan pernyataan resmi mengecam tindakan Amerika Serikat. Para analis menilai langkah Washington ini akan berdampak langsung dan negatif terhadap kepentingan geopolitik serta ekonomi PKT di Amerika Latin.

Dari Havana hingga Beijing, rezim-rezim otoriter kini dilaporkan semakin gelisah. Seperti ditulis seorang warganet dengan nada tajam.

Dapur di Balik MBG : Antara Karut-Marut Tata Kelola dan Bayang-Bayang Patronase Politik

EtIndonesia. Ambisi besar pemerintah untuk menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah berada dalam sorotan tajam. Di balik tujuan mulia untuk menuntaskan kelaparan dan memperbaiki gizi anak sekolah, program ini justru memperlihatkan celah besar dalam implementasinya. Data hingga Oktober 2025 mencatat lebih dari 11.000 anak di Indonesia mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG.

Ironisnya, di tengah kegagalan sistemik tersebut, anggaran program ini justru diproyeksikan melonjak tajam. Dari Rp71 triliun pada APBN 2025, dana MBG direncanakan naik hingga lima kali lipat menjadi Rp335 triliun pada tahun 2026. Kenaikan anggaran yang drastis ini memicu kekhawatiran mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan di balik pengelolaan “dapur” MBG.

Gurita Afiliasi di Balik Yayasan Penyedia

Hasil penelusuran Indonesia Corruption Watch (ICW) terhadap 102 yayasan penyedia MBG di 38 provinsi menunjukkan adanya indikasi kuat praktik patronase dan konflik kepentingan. ICW mengelompokkan yayasan-yayasan tersebut ke dalam berbagai kategori afiliasi, mulai dari partai politik, aparat penegak hukum, hingga orang dekat pejabat.

“Partai Gerindra yang juga dipimpin oleh Presiden Prabowo menempati urutan pertama sebagai partai yang terafiliasi dengan individu paling banyak di Yayasan Penyedia MBG,” demikian kutipan hasil investigasi ICW yang diunggah melalui kanal YouTube resminya bertajuk Mereka yang Berkepentingan di balik Dapur MBG. Selain Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) juga tercatat memiliki politisi yang duduk di dalam struktur yayasan penyedia.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah ditemukannya empat individu yang pernah tersangkut kasus korupsi di dalam yayasan tersebut. Fakta ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai proses verifikasi dan pengecekan rekam jejak yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memilih mitra pelaksana.

Intervensi Aparat dan Pelemahan Pengawasan

Keterlibatan aparat penegak hukum (APH) juga menjadi catatan krusial. ICW menemukan jejak petinggi kepolisian melalui Yayasan Kemala Bhayangkari, serta jejak jaksa melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Keterlibatan aktif APH dalam pelaksanaan program MBG dianggap berbahaya bagi fungsi pengawasan dan penegakan hukum di masa depan.

“Bagaimana kemudian apabila di waktu mendatang ditemukan sejumlah permasalahan… tentu hal ini akan sulit diawasi apabila APH-nya justru ikut terlibat dalam proses pelaksanaan MBG,” sebut laporan tersebut.

Selain itu, ditemukan pula 12 yayasan yang terafiliasi dengan birokrasi pemerintahan, termasuk tenaga ahli dan tim teknis dari Badan Gizi Nasional itu sendiri. Padahal, BGN merupakan lembaga yang memegang mandat utama untuk memantau dan mengawasi jalannya program pemenuhan gizi nasional.

Politik Balas Budi di Meja Makan

Temuan ICW menunjukkan bahwa MBG berpotensi menjadi wadah “bancakan” atau sarana mencari keuntungan bagi lingkaran kekuasaan. Program ini diduga kuat digunakan untuk mengakomodir politik balas budi (patronage politics) atas dukungan elektoral pada pemilihan presiden lalu, maupun untuk menjaga loyalitas jejaring politik di masa mendatang.

Secara keseluruhan, ICW mencatat ada 28 yayasan yang terafiliasi partai politik, 18 yayasan dengan pebisnis, 6 yayasan dengan militer, serta 9 yayasan yang terafiliasi dengan kelompok relawan atau ormas pendukung kampanye Pilpres 2024.

“Bila demikian, maka bukan penerima MBG yang pada akhirnya diuntungkan tapi justru kelompok-kelompok yang dengan sengaja terlibat agar bisa mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan proyek ini,” tegas ICW dalam ulasannya. Jika praktik ini terus berlanjut, manfaat program tidak akan sepenuhnya dirasakan oleh siswa, ibu hamil, maupun ibu menyusui, melainkan hanya mengalir ke saku para elit di lingkaran rezim saat ini. (isw)

Pemburu dan Serigala

EtIndonesia. Dia adalah seorang pemburu muda. Sebelumnya, dia bekerja di proyek bangunan di kota. Setelah istrinya melahirkan putri mereka, Niu Niu, dia pun pulang kampung dan berhenti bekerja. Demi menyambung hidup, setiap musim senggang dari bertani, dia akan memanggul senapan berburu peninggalan ayahnya dan masuk ke hutan.

Sudah bertahun-tahun tak ada orang berburu, sehingga hewan liar di gunung cukup melimpah. Hampir setiap kali masuk hutan, dia selalu pulang dengan hasil. Paling tidak, dia masih bisa membawa pulang seekor ayam hutan.

Suatu hari, tanpa sadar dia melangkah semakin jauh hingga ke pedalaman gunung. Saat sedang mengamati sekeliling, tiba-tiba dia melihat semak-semak di dekat tebing bergoyang tanpa henti, disertai suara “ciit-ciit” yang sangat pelan. Dia terkejut sekaligus gembira. Dengan senapan terangkat sejajar dada, dia melangkah perlahan mendekat.

Ketika sudah berdiri di atas batu, dia baru melihat dengan jelas: ternyata ada dua anak serigala—tampaknya baru berusia sekitar satu bulan. Tanpa ragu, dia membidik dua anak serigala yang sedang bermain itu dan menarik pelatuk. Karena peluru yang digunakan adalah butiran besi, satu tembakan itu langsung menjatuhkan kedua anak serigala tersebut.

Malam itu, tepat tengah malam, seekor serigala dewasa datang. Dia mengelilingi rumah sambil melolong panjang dan pilu. Mengintip dari celah pintu, dia melihat bahwa itu adalah seekor serigala betina. Dia segera mengerti—itulah induk dari dua anak serigala yang dia bunuh, datang untuk menuntut balas.

Dia menambah palang kayu di pintu, mengisi senapan dengan peluru, lalu berjaga kaku di dekat jendela. Istrinya, sambil menggendong Niu Niu yang menangis keras, mondar-mandir di dalam rumah. Hingga menjelang fajar, serigala betina itu baru pergi sambil terus melolong lirih.

Istrinya mengusap mata yang memerah dan berkata dengan cemas: “Bagaimana ini? Serigala itu sangat pendendam. Dia pasti akan datang lagi.”

Dia mengangguk pelan : “Aku harus masuk hutan lagi dan membunuh serigala betina itu.”

Keesokan harinya, dia kembali memanggul senapan dan masuk ke gunung. Selama beberapa hari berturut-turut, dia tak menemukan jejak sang serigala. Namun setiap malam, serigala betina itu selalu datang ke depan rumahnya dan melolong. Dia beberapa kali mencoba menembaknya, tetapi tembakannya selalu meleset.

Pada suatu malam, akhirnya dia berhasil melukai kaki serigala itu. Serigala betina tersebut tertatih-tatih melarikan diri. Sejak saat itu, dia tak pernah datang lagi ke rumah. Namun si pemburu tetap tidak berhenti mencarinya. Dia tahu betul, sifat serigala kejam dan tidak akan berhenti begitu saja.

Musim panen tiba. Dia tak lagi masuk hutan. Suatu hari, setelah istrinya menyusui Niu Niu hingga tertidur, dia pun pergi ke ladang menemani suaminya memanen jagung. Belum setengah jam berlalu, seorang tetangga berlari tergopoh-gopoh memberi kabar mengerikan:
Niu Niu telah dibawa pergi oleh serigala pincang itu!

Berita itu bagai petir di siang bolong. Mereka berdua terpaku, seakan kehilangan kesadaran. Butuh waktu lama sebelum dia tersadar, lalu berlari pulang dengan langkah terhuyung.

Niu Niu sudah tidak ada di atas ranjang. Rumah dipenuhi warga desa yang datang setelah mendengar kabar itu. Dia memeriksa lantai dengan saksama—tak ada bercak darah. Hatinya sedikit lega. Namun ketika teringat bahwa Niu Niu dibawa oleh serigala betina pincang itu, harapan kembali mencekik dadanya.

Dia memanggul senapan, mengajak belasan warga desa, lalu masuk ke gunung. Mereka menyusuri bukit demi bukit, lembah demi lembah, punggung gunung, dan aliran sungai, hingga hari gelap. Namun tak satu pun menemukan jejak serigala pincang atau Niu Niu.

Pulang ke rumah, dia melihat istrinya menangis hingga suaranya serak. Dia menelan sepotong mantou keras, meneguk setengah mangkuk air, lalu kembali mengajak beberapa kerabat masuk ke hutan.

 “Sekalipun Niu Niu sudah dibunuh oleh serigala itu, aku tetap harus menemukannya dan membunuhnya!”

Namun hingga fajar menyingsing, mereka tetap tidak menemukan apa-apa.

Hari itu, dia sendirian naik ke gunung. Di bawah sebuah batu besar yang tersembunyi, dia melihat serigala betina pincang itu terbaring membelakanginya, seolah sedang tidur. Detak jantungnya yang berdebar hebat, dia mengendap-endap mendekat, membidik, lalu menarik pelatuk.

Butiran besi menyebar seperti kipas. Serigala betina itu roboh tanpa sempat mengerang.

Namun pada saat yang sama, dia terpaku membatu.

Di samping serigala betina itu, terbaring Niu Niu. Tubuh kecilnya masih hangat—dan dia juga tertembak mati.

Dia berdiri kaku lama sekali. Lalu tiba-tiba dia menjerit keras, mengangkat senapannya, dan menghantamkannya dengan penuh amarah ke jurang di bawah tebing.(jhn/yn)