Empat Tahun Perang Rusia–Ukraina: Dua Juta Korban di Balik Perang Atrisi Ekstrem
EtIndonesia. Tanggal 24 Februari 2026 menandai empat tahun sejak perang Rusia–Ukraina meletus secara penuh. Di seluruh Ukraina, warga mengheningkan cipta untuk mengenang besarnya korban jiwa dan tak terhitung keluarga yang hancur.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk pertama kalinya memperlihatkan kepada publik kantor kerjanya di dalam bunker bawah tanah, serta bersumpah mempertahankan kemerdekaan negara. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menuding Barat memprovokasi melalui perang, dan Rusia kembali melontarkan peringatan nuklir. Kapan perang yang mengguncang seluruh Eropa ini akan berakhir, masih belum diketahui.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy: “Hari ini adalah peringatan empat tahun sejak Putin melancarkan apa yang ia sebut pengepungan Kyiv selama tiga hari.”
Pada hari peringatan empat tahun pecahnya perang Rusia–Ukraina, Presiden Zelenskyy untuk pertama kalinya memperlihatkan kepada publik bagian dalam kantor kerjanya di bunker. Empat tahun lalu pada hari yang sama, pasukan Rusia melancarkan serangan mendadak ke Kyiv, berupaya menjatuhkan pemerintahan Ukraina dengan cepat dalam hitungan hari. Namun kenyataannya, operasi awal Rusia gagal, dan sejak itu perang berubah menjadi ajang adu teknologi dan kehendak—sebuah perang atrisi ekstrem antara Rusia dan Ukraina.
Zelenskyy berkata : “Menengok kembali awal invasi dan merefleksikan hari ini, kita sepenuhnya beralasan mengatakan: kita telah mempertahankan kemerdekaan kita, dan kita tidak kehilangan status kenegaraan kita.”
Pukul 09.00 pagi, warga Ukraina di mana pun berada berhenti sejenak selama satu menit untuk mengheningkan cipta, mengenang mereka yang gugur dalam perang.
Ayah Piven adalah seorang tentara Ukraina. Menurut penuturannya, sang ayah mengorbankan diri dalam sebuah operasi evakuasi demi menyelamatkan rekan-rekannya.
Putri tentara Ukraina yang gugur, Valeriia Piven: “Dia pergi pada hari pertama perang pecah. Aku sangat merindukannya.”
Menurut perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), hingga akhir 2025 total korban tentara dari kedua pihak dalam perang Rusia–Ukraina mencapai sekitar 1,8 hingga 2 juta orang. Di antaranya, jumlah tentara Rusia yang tewas mencapai sekitar 325.000 orang, sementara di pihak Ukraina terdapat sekitar 100.000 hingga 140.000 tentara yang gugur, serta sekitar 15.000 warga sipil Ukraina yang meninggal.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte: “Hari ini dan setiap hari, kami mengenang penderitaan yang dialami Ukraina. NATO sejak awal berdiri bersama Ukraina. Hari ini kami berdiri bersama Anda, dan ke depan dalam menghadapi tantangan, kami juga akan tetap berdiri bersama Anda.”
Pada hari peringatan tersebut, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Finlandia Alexander Stubb, dan sejumlah pemimpin negara lainnya secara langsung mengunjungi Kyiv untuk menyatakan dukungan kepada Ukraina.
Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen berkata: “Pertama, Uni Eropa menyediakan pinjaman sebesar 90 miliar euro untuk Ukraina, yang kami sebut ‘pinjaman landak baja’. Apapun yang terjadi, kami akan memenuhi kewajiban pinjaman tersebut.”
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan: “Kita harus sangat jelas: perang ini hanya akan berakhir ketika Putin menyadari bahwa ia tidak dapat menang. Karena itu, kita harus meningkatkan tekanan terhadap Rusia.”
Dalam pidatonya pada Selasa (24 Februari), Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Ukraina, dengan bantuan badan intelijen Barat, berupaya merusak proses perdamaian, termasuk dengan mengancam pipa-pipa energi Rusia.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan yang menuduh Inggris dan Prancis bersiap secara rahasia memasok komponen serta teknologi senjata nuklir ke Ukraina, dan memperingatkan risiko bentrokan langsung antar negara pemilik senjata nuklir serta konsekuensi serius yang mungkin ditimbulkannya.
Seorang pejabat pertahanan Inggris mengatakan kepada The Kyiv Independent bahwa pernyataan Moskow sama sekali tidak berdasar. Ia menilai hal itu sebagai langkah “nekat” Putin pada momen peringatan empat tahun, untuk mengalihkan perhatian publik dari kegagalan perang Rusia.
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing
Pertempuran Sengit Lawan Bos Kartel “El Mencho” yang Paling Diburu, 25 Tentara Meksiko Kehilangan Nyawa
Menteri Keamanan Meksiko Omar García Harfuch mengonfirmasi jumlah korban tewas tersebut dalam konferensi pers bersama Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum.
EtIndonesia. 25 anggota Garda Nasional Meksiko tewas di negara bagian Jalisco dalam enam serangan setelah tewasnya pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco, Nemesio Oseguera Cervantes, yang dikenal sebagai “El Mencho,” demikian disampaikan pejabat keamanan tertinggi negara itu pada 23 Februari.
García Harfuch mengonfirmasi jumlah korban tewas tersebut dalam konferensi pers pada 23 Februari pagi, bersama Presiden Sheinbaum, sebagai tanggapan atas kekerasan kartel yang meletus setelah Oseguera Cervantes tewas dalam operasi pemerintah Meksiko pada 22 Februari.
Seorang penjaga penjara, seorang agen dari kantor kejaksaan negara bagian, dan seorang wanita yang tidak diidentifikasi juga tewas, kata García Harfuch. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar 30 tersangka kriminal tewas di negara bagian Jalisco dan empat lainnya di negara bagian Michoacán.
Kematian El Mencho memicu “27 serangan pengecut terhadap aparat di Jalisco,” kata Harfuch dalam konferensi pers harian presiden pada 23 Februari. Ia juga mengatakan sedikitnya 70 orang telah ditangkap di tujuh negara bagian.
“Kami memantau secara ketat segala bentuk reaksi atau restrukturisasi di dalam kartel yang dapat memicu kekerasan,” ujarnya.
Pada malam 22 Februari, Gedung Putih mengonfirmasi melalui platform X bahwa pemerintah Amerika Serikat memberikan intelijen kepada Meksiko sebelum penggerebekan yang menargetkan Oseguera Cervantes, yang merupakan pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG). Dalam unggahan tersebut, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga memuji militer Meksiko karena berhasil menjatuhkan salah satu penjahat paling diburu di kedua negara.
“Dalam operasi ini, tiga anggota kartel tambahan tewas, tiga terluka, dan dua ditangkap,” tulisnya.
Menanggapi laporan kekerasan yang dilakukan anggota kartel di seluruh negeri, Kedutaan Besar AS menulis di X bahwa personelnya di beberapa kota dan negara bagian akan berlindung di tempat dan bekerja dari jarak jauh pada 23 Februari. Kedutaan juga memperingatkan warga negara AS di berbagai wilayah Meksiko untuk tetap berlindung dan waspada terhadap lingkungan sekitar mereka.
Kematian Oseguera Cervantes memicu gelombang kekerasan di seluruh Meksiko, ketika anggota kartel memblokir jalan, membakar kendaraan, dan melancarkan serangan balasan. Bangunan-bangunan dibakar di berbagai kota, dan baku tembak terjadi dengan aparat Meksiko.
Presiden AS Donald Trump telah menuntut agar Meksiko berbuat lebih banyak untuk memerangi penyelundupan fentanyl, serta memperingatkan bahwa ia dapat memberlakukan tarif tambahan atau mengambil tindakan militer sepihak jika upaya negara itu tidak menunjukkan hasil.
Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menawarkan hadiah hingga 15 juta dolar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan dan hukuman terhadap Oseguera Cervantes, dan menggambarkan CJNG sebagai salah satu organisasi narkoba dengan pertumbuhan tercepat di Meksiko sejak didirikan pada 2009. Pada tahun 2025, pemerintahan Trump menetapkan CJNG dan kartel narkoba besar lainnya di Meksiko sebagai organisasi teroris asing.
Associated Press dan Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.
Floyd Mayweather vs Manny Pacquiao Resmi Rematch September: Duel Legendaris Kembali Memanas
EtIndonesia. Los Angeles — Floyd Mayweather dan Manny Pacquiao telah sepakat untuk menggelar pertandingan ulang dari duel bersejarah mereka pada tahun 2015.
Pertarungan kedua mereka akan digelar pada 19 September di Las Vegas, demikian diumumkan kedua ikon tinju tersebut pada hari Senin. Pertandingan ulang ini akan disiarkan melalui Netflix, dan akan menjadi ajang tinju pertama yang digelar di Sphere, arena hiburan imersif yang terletak di sebelah timur kawasan Strip.
Mayweather, yang genap berusia 49 tahun pada hari Selasa, mengumumkan pekan lalu niatnya mengakhiri masa pensiun sembilan tahunnya dari tinju kompetitif. Pacquiao yang kini berusia 47 tahun mengakhiri masa pensiun empat tahunnya tahun lalu, dan dijadwalkan menghadapi Ruslan Provodnikov pada 18 April dalam pertarungan kedua sejak comeback-nya.
Mayweather dan Pacquiao belum mengumumkan kelas berat maupun jumlah ronde untuk pertarungan kedua tersebut.
Dua petinju paling menonjol di generasi mereka akan kembali bertemu 11 tahun setelah Mayweather mengalahkan Pacquiao melalui keputusan juri dalam pertarungan yang tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi besar selama satu dekade sebelumnya. Meski demikian, promotor menyebutnya tetap sebagai pertarungan paling menguntungkan dalam sejarah, memecahkan rekor pay-per-view dan menarik perhatian dunia.
“Saya sudah pernah melawan dan mengalahkan Manny sekali,” kata Mayweather dalam sebuah pernyataan. “Kali ini hasilnya akan sama.”
Pacquiao kemudian mengungkapkan bahwa ia bertarung dengan cedera bahu saat itu karena tidak ingin menunda pertandingan penting tersebut. Ia tidak mampu memberikan tekanan ofensif seperti biasanya terhadap Mayweather, yang menggunakan strategi pertahanan khasnya untuk meraih kemenangan dengan relatif nyaman.
“Para penggemar sudah menunggu cukup lama—mereka pantas mendapatkan pertandingan ulang ini,” kata Pacquiao. “Saya ingin Floyd hidup dengan satu kekalahan dalam catatan profesionalnya dan selalu ingat siapa yang memberikannya.”
Pertemuan pertama mereka terjadi lebih dari lima tahun setelah penggemar mulai menuntut duel antara dua petinju hebat dengan ukuran tubuh yang sebanding. Kedua pihak sempat saling menyalahkan atas penundaan tersebut, tetapi Mayweather selalu menegaskan ia akan melawan siapa pun, kapan pun ia mau—membuat banyak penggemar percaya bahwa ia menunggu sampai usia mulai mengurangi keganasan pukulan Pacquiao yang terkenal brutal.
Kini, keduanya sudah jauh melewati masa puncak mereka, tetapi Mayweather dan Pacquiao tetap menjadi dua nama terbesar dalam dunia tinju.
Setelah mengalahkan Conor McGregor pada 2017 dan pensiun dengan rekor sempurna 50-0, Mayweather menghabiskan sebagian besar usia 40-annya mengikuti pertarungan ekshibisi yang sangat menguntungkan melawan YouTuber dan lawan kelas pinggiran, sambil mempertahankan gaya hidup mewahnya di luar ring. Saat ini ia juga terlibat sengketa hukum dengan beberapa kreditur, mulai dari dugaan tunggakan sewa apartemen di Manhattan hingga tagihan perhiasan.
Mayweather juga mengumumkan pertarungan ekshibisi lain melawan Mike Tyson yang kini berusia 59 tahun pada musim semi ini, meskipun lokasi dan tanggalnya belum ditentukan.
Pacquiao sebelumnya mencalonkan diri sebagai presiden di negara asalnya, Filipina, namun gagal. Ia kemudian juga kalah dalam pemilihan Senat Filipina pada Mei tahun lalu. Dua bulan setelah kekalahan politik itu, ia kembali naik ring dan menghadapi juara kelas welter WBC Mario Barrios, dengan hasil imbang mayoritas dalam upayanya menjadi juara kelas 147 pon tertua dalam sejarah.
Pertandingan ulang ini menjadi salah satu ajang besar terbaru yang ditayangkan di Netflix, seiring platform tersebut terus mengamankan pertarungan-pertarungan papan atas untuk program olahraga langsungnya. Tahun lalu, Netflix menayangkan kemenangan Terence Crawford atas Canelo Álvarez, dan pada April mendatang juga akan menayangkan pertarungan comeback juara kelas berat Tyson Fury.
Arena Sphere, yang dibuka pada 2023, juga pernah menjadi tuan rumah acara UFC pada 2024. Presiden UFC Dana White mengatakan promosi tersebut harus mengeluarkan sekitar 20 juta dolar AS untuk menggelar acara itu—sekitar 10 kali lipat lebih mahal dibandingkan acara pay-per-view UFC biasa—karena kemampuan dan persyaratan unik arena tersebut.
Oleh Greg Beacham
Polisi Selidiki Ancaman Bom Kedua Saat Tur Shen Yun di Australia
Berita ini muncul hanya sehari setelah Perdana Menteri Anthony Albanese terpaksa dievakuasi setelah ancaman kekerasan ditujukan kepadanya.
EtIndonesia. Polisi Australia mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki ancaman bom lainnya yang belum diverifikasi, kali ini di Gold Coast Home of the Arts (HOTA), yang menjadi tuan rumah pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang berbasis di New York.
Berita ini muncul hanya sehari setelah Albanese terpaksa dievakuasi dari kediaman resminya akibat ancaman bom.
“Sebagai tindakan pencegahan, polisi memerintahkan evakuasi sejumlah bangunan,” kata juru bicara Kepolisian Queensland kepada The Epoch Times mengenai situasi di HOTA pada 23 Februari, tepat setelah tengah hari.
“Beberapa tim dikerahkan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap lokasi.
“Tidak ditemukan barang mencurigakan, dan bangunan dinyatakan aman.”
Tempat tersebut dibuka kembali untuk umum sekitar pukul 14.00.
Polisi mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung.
BACA JUGA : Perdana Menteri dan Shen Yun Terima Ancaman Bom, PM Australia Albanese Dievakuasi dari Kediaman Resminya
Shen Yun Performing Arts adalah perusahaan tari dan musik klasik Tiongkok yang selama bertahun-tahun menjadi target penindasan oleh Partai Komunis Tiongkok.
Shen Yun didirikan oleh praktisi disiplin spiritual Falun Gong dan menampilkan 5.000 tahun peradaban Tiongkok, sekaligus menggambarkan penganiayaan Partai Komunis Tiongkok terhadap latihan tersebut.
Email terkait Albanese ditulis dalam bahasa Mandarin dan mengancam keselamatannya serta mengancam akan meledakkan bahan peledak di The Lodge jika pertunjukan Shen Yun diizinkan untuk terus berlangsung di seluruh Australia.
“Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan, maka kediaman perdana menteri akan diledakkan menjadi reruntuhan dan darah akan mengalir seperti sungai,” demikian bunyi email kedua tersebut.
Lucy Zhao dari Asosiasi Falun Dafa Australia mengeluarkan pernyataan pada 25 Februari yang mengutuk kampanye Partai Komunis Tiongkok yang mana semakin meningkat terhadap Shen Yun dan Falun Gong.
“Pola terkoordinasi dari ancaman bom, ancaman pembunuhan, dan intimidasi sistematis ini lebih dari sekadar pelecehan—ini mencerminkan taktik intimidasi yang disponsori negara yang dirancang untuk membungkam perbedaan pendapat di luar perbatasan Tiongkok,” katanya.
“Selama dua tahun terakhir, lebih dari 150 ancaman bom dan pembunuhan telah menargetkan pertunjukan Shen Yun dan anggota komunitas Falun Gong di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Taiwan, dan masyarakat demokratis lainnya.
“Beberapa ancaman ini telah dilacak ke sumber di Tiongkok. Skala, pengulangan, dan koordinasi global dari ancaman ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang operasi campur tangan asing yang bertujuan menekan kebebasan yang dilindungi di negara-negara demokratis.”
Zhao juga meredakan kekhawatiran tentang keselamatan publik.
“Tidak satu pun pertunjukan dibatalkan sebagai akibatnya, dan juga tidak terjadi cedera fisik,” katanya.
“Tujuan dari ancaman ini adalah intimidasi psikologis—untuk menanamkan ketakutan, menekan tempat pertunjukan, dan merusak kebebasan demokratis. Upaya-upaya ini telah gagal,” pungkasnya.
Artikel ini sebelumnya terbit di The Epoch Times edisi Bahasa Inggris
Anggota Parlemen Australia Bereaksi atas Evakuasi PM Albanese Akibat Ancaman Bom, Soroti Teror Terhadap Shen Yun
Menteri Keuangan Australia Katy Gallagher mengatakan para politisi menghadapi jumlah ancaman yang semakin meningkat.
EtIndonesia. Para politisi Australia angkat bicara setelah aparat penegak hukum terpaksa mengevakuasi Perdana Menteri Anthony Albanese dari kediaman resminya di Canberra pada 24 Februari di tengah ancaman bom yang bersifat kekerasan.
Menteri Keuangan Australia Katy Gallagher mengatakan situasi tersebut “sangat mengkhawatirkan,” menggemakan komentar Albanese sebelumnya bahwa Australia perlu “menurunkan tensi.”
“Kami telah melihat di negara lain ada kekerasan politik dan ancaman terhadap politisi, tetapi di Australia, kami beruntung masih dapat beraktivitas, berbaur dengan masyarakat, dan bekerja dengan aman,” katanya kepada ABC sehari kemudian.
Evakuasi tersebut dipicu oleh email berbahasa Mandarin yang dikirim kepada penyelenggara lokal untuk Shen Yun Performing Arts yang berbasis di New York, yang memperingatkan bahwa “sejumlah besar bahan peledak nitrogliserin” telah ditempatkan di The Lodge di Deakin.
“Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan, maka kediaman perdana menteri akan diledakkan menjadi reruntuhan dan darah akan mengalir seperti sungai,” demikian bunyi email ancaman tersebut.
Kepolisian Federal Australia diberitahu tentang ancaman tersebut pada 24 Februari dan langsung bertindak pada hari yang sama.
Ancaman tersebut serupa dengan ancaman yang diarahkan kepada para pemimpin Inggris, Korea Selatan, dan Denmark ketika Shen Yun melakukan tur.
Shen Yun adalah perusahaan seni pertunjukan yang berbasis di New York yang bertujuan menghidupkan kembali 5.000 tahun peradaban Tiongkok dan didirikan oleh para seniman yang melarikan diri dari penganiayaan Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong, sebuah latihan meditasi damai.
Selama dua tahun terakhir, Shen Yun telah menjadi sasaran kampanye penindasan lintas negara yang melibatkan ancaman bom, ancaman email, dan kampanye media.
Email terbaru ini muncul setelah pernyataan 2 Januari oleh konsulat Tiongkok di Sydney dan Melbourne yang mendesak warga Australia untuk tidak menonton Shen Yun.
BACA JUGA : Perdana Menteri dan Shen Yun Terima Ancaman Bom, PM Australia Albanese Dievakuasi dari Kediaman Resminya
BACA JUGA : Polisi Selidiki Ancaman Bom Kedua Saat Tur Shen Yun di Australia
Insiden tersebut membuat Albanese meninggalkan kediamannya selama beberapa jam sementara polisi melakukan pemeriksaan, sebelum ia dinyatakan aman untuk kembali ke kediamannya.
Gallagher mengatakan, “Ini hanyalah pengingat lain bahwa ancaman itu ada, dan ketika ada ancaman, polisi akan menanggapinya dengan serius.”
Gallagher juga menyinggung serangkaian penangkapan baru-baru ini terhadap individu yang mengancam anggota parlemen.
“Saya dapat mengatakan bahwa selama saya berkarier di dunia politik, saya belum pernah mengalami gejolak dan tekanan terhadap politisi seperti yang terjadi saat ini,” katanya.
“Saya pikir dunia online saat ini sangat aktif dan berkembang.
“Ini tidak hanya terjadi pada anggota pemerintah, tetapi di seluruh parlemen, di mana beberapa politisi menghadapi ancaman yang benar-benar tidak masuk akal terhadap keselamatan mereka.”
Perdana Menteri Albanese menulis komentar singkat di Instagram sehari kemudian, disertai foto anjingnya, Toto.
“Toto tetap siaga, tetapi semuanya baik-baik saja,” tulisnya. “Terima kasih kepada Kepolisian Federal Australia atas kerja dan profesionalisme yang berkelanjutan serta kepada orang-orang yang mengirim pesan perhatian dan dukungan.”
Pemimpin Oposisi Angus Taylor mengatakan ia senang mendengar Albanese aman dan baik-baik saja.
“Ancaman terhadap anggota parlemen mana pun benar-benar menjijikkan, terutama di negara yang dibangun atas dasar mengekspresikan perbedaan melalui debat,” katanya di X.
Pemimpin One Nation, Pauline Hanson, mengatakan ia terkejut mendengar tentang evakuasi Albanese.
“Saya bersimpati kepada perdana menteri dan keluarganya karena harus melalui hal itu, itu bukan perasaan yang menyenangkan. Saya tahu karena saya pernah mengalaminya sendiri, terutama pada tahun 1997 dan 1998, ketika saya menerima ancaman pembunuhan, dan saya mendapat perlindungan polisi federal selama 24 jam sehari selama 18 bulan,” katanya.
“Anak-anak saya bahkan pernah harus dievakuasi dari sekolah karena ada ancaman terhadap mereka.”
The Epoch Times menghubungi Kepolisian Federal Australia, yang mengatakan mereka tidak berencana membuat pernyataan pada 25 Februari.
Pusat Informasi Falun Dafa, yang melacak kampanye ini, mencatat lebih dari 130 ancaman pembunuhan dan bom terhadap Shen Yun sejak Maret 2024. Bahkan, puluhan ancaman kekerasan lainnya juga menargetkan pejabat dan lembaga Amerika Serikat yang mendukung Falun Gong.
Sebagian besar email tersebut ditulis dalam bahasa Mandarin, dengan pengirim secara palsu mengklaim akan melakukan tindakan kekerasan jika pertunjukan tetap berlangsung. Pada Februari 2025, John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington—yang kini bernama Trump Kennedy Center—dievakuasi karena ancaman bom yang menargetkan Shen Yun.
Daniel Y. Teng dan Cindy Li berkontribusi pada laporan ini.
Artikel ini sebelumnya terbit di The Epoch Times edisi Bahasa Inggris
Seorang Pria Diduga Melatih Anjingnya untuk Membuang Kantong Sampah Secara Ilegal di Pinggir Jalan
EtIndonesia. Seorang pria di Italia telah didenda karena diduga melatih anjingnya untuk membawa kantong sampah di mulutnya dan membuangnya di tempat yang tidak diizinkan untuk menghindari pembayaran biaya pengumpulan sampah.
Pihak berwenang di Catania, Italia, baru-baru ini membagikan rekaman yang diambil oleh kamera CCTV di kotamadya yang menunjukkan seekor anjing membawa apa yang tampak seperti kantong sampah plastik di mulutnya dan membuangnya di pinggir jalan sebelum kembali ke tempat asalnya. Polisi kemudian mengidentifikasi hewan tersebut dan mendenda pemiliknya karena menggunakannya untuk membuang sampah secara ilegal.
“Kecerdasan… tidak pernah bisa menjadi alasan untuk ketidakberadaban,” tulis pihak berwenang Italia dalam sebuah unggahan Facebook. “Unit lingkungan kepolisian kota Catania telah merilis dua video yang direkam oleh kamera pengawasan di mana seekor anjing terlihat membuang kantong sampah di jalan.”
“Perilaku ini licik dan sangat tidak adil, karena selain mencemari kota, dia juga mencoba menghindari aturan dengan memanfaatkan teman berkaki empat yang tidak menyadari bahaya. Menghormati tata krama perkotaan dan lingkungan adalah kewajiban setiap orang,” tambah unggahan tersebut.
Setelah menganalisis rekaman CCTV, pihak berwenang Catania yakin bahwa anjing tersebut telah dilatih oleh pemiliknya untuk membuang sampah secara ilegal agar tidak tertangkap kamera. Mereka dilaporkan telah mendenda pemilik hewan tersebut, meskipun tidak jelas bagaimana mereka berhasil membuktikan bahwa anjing tersebut telah dilatih untuk membuang sampah sembarangan.
Berdasarkan hukum Italia, individu yang tertangkap membuang sampah secara ilegal dapat didenda mulai dari 1.500 euro hingga 18.000 euro, tetapi tidak ada ketentuan tentang anjing…(yn)
Tiongkok Terlibat dalam Perdagangan Narkoba Meksiko Selama Lebih dari Seabad: Dari Opium hingga Bahan Kimia Prekursor, Pencucian Uang, dan Senjata Kartel
EtIndonesia. Pembunuhan gembong narkoba Meksiko El Mencho — nama aslinya Nemesio Oseguera Cervantes — telah menyoroti bagaimana kartelnya, CJNG, bergantung pada Tiongkok dan operator Tiongkok untuk membangun kerajaan fentanylnya.
Meskipun prekursor yang bersumber dari Tiongkok telah mendukung sebagian besar kartel Meksiko yang terlibat dalam narkoba sintetis seperti fentanyl dan metamfetamin, sejarah keterlibatan Tiongkok dalam perdagangan narkoba Meksiko dimulai sejak ekonomi opium abad ke-20.
Berikut adalah cara-cara di mana Tiongkok dan operator Tiongkok membantu kartel narkoba Meksiko:
Tempat Persembunyian Opium: Keterlibatan Tiongkok dalam Perdagangan Narkoba Meksiko Dimulai Seabad yang Lalu
Pada awal abad ke-20, tempat persembunyian opium diperkenalkan di Meksiko, terutama melayani pekerja imigran Tiongkok. Awalnya, pedagang dan petani Tiongkok menanam opium dan mengolah opium untuk tempat-tempat merokok, terutama melayani komunitas Tionghoa setempat di Sonora dan Baja California, Meksiko.
Secara bertahap, opium dimasukkan ke dalam lanskap pertanian Meksiko. Pada pertengahan abad, petani dan kartel Meksiko mendominasi budidaya opium, meskipun jaringan Tiongkok telah membantu membangun integrasi ilegal tanaman tersebut ke dalam sistem pertanian Meksiko barat laut.
Ini menandai pertemuan pertama Meksiko dengan perdagangan narkoba dan membuka jalan bagi ekonomi opium negara itu, yang kemudian berkembang menjadi produksi heroin untuk pasar Amerika.
Bahan kimia prekursor: Fase utama kedua keterlibatan Tiongkok dalam perdagangan narkoba Meksiko
Banyak kartel Meksiko sekarang beralih ke narkoba sintetis seperti metamfetamin dan fentanil. Tiongkok adalah sumber utama global bahan kimia prekursor dan peralatan terkait yang memicu booming narkoba sintetis Meksiko.
Industri kimia yang disubsidi negara Tiongkok, yang beroperasi dengan penegakan peraturan penggunaan ganda yang longgar, memfasilitasi akses ke bahan-bahan utama ini.
Prekursor fentanil — termasuk NPP, ANPP, 4-AP, dan anhidrida propionat — diproduksi di pabrik kimia Tiongkok dan dikirim ke kartel Meksiko, seringkali menggunakan pelabelan yang salah atau penjualan melalui dark web. Laboratorium rahasia di Meksiko mensintesis fentanil dan analognya, menghasilkan narkoba yang jauh lebih murah dan lebih ampuh daripada heroin.
Prekursor metamfetamin, seperti efedrin atau turunan pseudoefedrin, mengikuti jalur serupa, memungkinkan produksi metamfetamin skala besar di Meksiko.
Kartel Meksiko seperti CJNG (Cartel Jalisco Nueva Generación) pimpinan El Mencho dan kartel Sinaloa menerima impor ini melalui pelabuhan termasuk Manzanillo, melalui perantara dan organisasi perdagangan narkoba Tiongkok-Meksiko seperti yang disebut “kartel Zheng”, yang bertindak sebagai perantara.
Masuknya zat sintetis ini menghancurkan sebagian besar ekonomi pertanian di wilayah penghasil opium seperti Sinaloa dan Guerrero, karena permintaan bergeser dari heroin ke fentanil.
Kebangkitan ‘prekursor’ Tiongkok: Tren mengkhawatirkan lainnya dalam perdagangan narkoba Meksiko
Pada tahun 2019, Pemerintah Tiongkok menetapkan fentanil sebagai zat yang dikendalikan. Sejak itu, beberapa pemasok beralih ke produksi dan pemasaran bahan kimia “prekursor” dan analog khusus.
Ini dirancang untuk menghindari kontrol Tiongkok dan internasional. Prekursor dan analog tersebut dijual melalui platform terenkripsi dan pasar bisnis-ke-bisnis.
Beberapa eksekutif dan broker kimia Tiongkok telah didakwa di AS karena dengan sengaja memberikan panduan teknis tentang metode sintesis dan taktik penghindaran kepada pembeli yang terkait dengan kartel Meksiko.
Tiongkok memasok mesin dan teknologi untuk produksi massal narkoba di Meksiko
Tiongkok memasok sebagian besar mesin yang digunakan untuk produksi narkoba massal di Meksiko, mulai dari mesin pengepres pil hingga peralatan jalur perakitan. Mesin pencetak pil dan mesin industri lainnya memungkinkan produksi tablet yang mengandung fentanil dan oksikodon palsu dalam skala besar.
Operator Tiongkok menjalankan mekanisme pencucian uang yang luas untuk membiayai perdagangan narkoba Meksiko di AS.
Sistem perbankan bawah tanah dan broker Tiongkok, beberapa di antaranya berbasis di AS, mencuci uang kartel. Salah satu metodenya melibatkan pembelian barang di Tiongkok untuk dijual kembali di Meksiko, sehingga menghasilkan uang tunai bersih untuk kartel.
Dana kemudian dipindahkan kembali ke Meksiko menggunakan berbagai teknik yang melibatkan telepon seluler sekali pakai, aplikasi, dan jaringan manusia. Para perantara mengambil bagian untuk memulangkan miliaran dolar yang dihasilkan dari penjualan narkoba AS ke kartel Meksiko. Mata uang kripto dan sistem pembayaran digital termasuk di antara teknologi yang digunakan dalam proses ini.
Beberapa jaringan perbankan bawah tanah Tiongkok yang canggih di AS mengumpulkan uang tunai kartel dalam jumlah besar langsung dari distributor dan menyelesaikan rekening melalui transaksi cermin di Tiongkok. Kemudian mereka mengimbangi pembayaran melalui skema berbasis perdagangan. Dalam keseluruhan proses, uang tidak berpindah tangan secara fisik melintasi perbatasan. Ini adalah metode yang lebih cepat dan lebih murah daripada saluran pencucian uang tradisional, mengurangi ketergantungan kartel pada perantara di Kolombia atau Meksiko.
Senjata dan Teknologi Militer Buatan Tiongkok
CJNG dan kartel Sinaloa dilaporkan telah menggunakan senjata dan teknologi bergaya militer buatan Tiongkok, termasuk drone dan perlengkapan taktis. Peralatan ini telah meningkatkan kapasitas operasional dan daya bunuh mereka, baik dalam perang wilayah antar kartel maupun dalam konfrontasi dengan otoritas Meksiko.
Kerja Sama Kartel Tiongkok-Meksiko Memicu Krisis Opioid AS
Partisipasi Tiongkok dalam organisasi perdagangan narkoba, termasuk jaringan Tiongkok-Meksiko, merupakan aspek lain dari kerja sama ini. Kelompok-kelompok ini bertindak sebagai perantara dalam pengadaan bahan kimia dan membantu pencucian uang hasil kejahatan.
Singkatnya, Tiongkok telah memainkan peran penting dalam memicu krisis opioid AS melalui pasokan bahan prekursor untuk fentanyl, serta bahan kimia yang digunakan dalam narkotika palsu dan berkualitas rendah. Hubungan yang dimulai dengan tempat-tempat persembunyian opium seabad yang lalu telah berkembang menjadi rantai pasokan obat sintetis yang kompleks yang berlanjut hingga saat ini.(yn)
Perdana Menteri dan Shen Yun Terima Ancaman Bom, PM Australia Albanese Dievakuasi dari Kediaman Resminya
Ancaman bom yang dikirim kepada penyelenggara lokal berbunyi, “Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan, maka kediaman perdana menteri akan diledakkan hingga menjadi reruntuhan.”
EtIndonesia. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dievakuasi dari kediamannya di Canberra pada 24 Februari, setelah ancaman bom dalam bahasa Mandarin ditujukan kepadanya dan pejabat tinggi lainnya.
Ancaman muncul hanya beberapa hari sebelum pertunjukan yang dijadwalkan oleh Shen Yun Performing Arts, sebuah perusahaan tari dan musik klasik Tiongkok yang berbasis di New York, yang mana selama bertahun-tahun telah menjadi target Beijing.
Menjelang tur perusahaan tersebut di Australia, yang dijadwalkan dimulai pada 25 Februari, email berbahasa Mandarin yang dikirim kepada penyelenggara lokal menuntut agar pertunjukan dibatalkan atau menghadapi konsekuensi serius.
Salah satu email, yang diperoleh The Epoch Times, secara palsu mengklaim bahwa bahan peledak telah ditempatkan di sekitar kediaman perdana menteri dan akan diledakkan jika pertunjukan Shen Yun tetap berlangsung.
Perdana menteri dibawa ke lokasi lain selama beberapa jam sementara aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan di The Lodge di Canberra. Kepolisian Federal Australia pada 24 Februari menyatakan bahwa mereka tidak menemukan “ancaman saat ini terhadap masyarakat atau keselamatan publik,” kata seorang juru bicara kepada The Epoch Times.
Ancaman Menargetkan Shen Yun
Penyelenggara lokal Shen Yun di Australia mengatakan mereka menerima email berbahasa Mandarin pada 10 Februari dengan pesan, “Jika pertunjukan Shen Yun tetap berlangsung, sesuatu akan terjadi pada Anthony Albanese.”

Email tersebut mengancam “keselamatan pribadi Anthony Albanese dan semua pejabat tinggi Australia lainnya.”
“Tidak masalah selama Anda mampu menanggung biayanya. Saya tidak akan mencoba membujuk Anda lagi. Jangan menyesal nanti,” demikian bunyi email tersebut.

Email kedua, yang dikirim pada 22 Februari, berjudul “Saran untuk menghentikan Shen Yun.”
Email tersebut menyatakan dalam bahasa Mandarin:
“Sejumlah besar bahan peledak nitrogliserin telah ditempatkan di sekitar kediaman perdana menteri Australia, yang terletak di Adelaide Avenue di wilayah Deakin, Canberra, Australia.
“Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan, maka kediaman perdana menteri akan diledakkan menjadi reruntuhan dan darah akan mengalir seperti sungai.”
Pengirim email kedua mengaku sebagai Chen Pokong, seorang kolumnis, komentator politik, dan YouTuber yang berbasis di Amerika Serikat, yang memainkan peran penting dalam gerakan pro-demokrasi di Tiongkok pada tahun 1989, yang membuatnya dipenjara dan kemudian diasingkan ke Amerika Serikat. Namun, Partai Komunis Tiongkok memiliki riwayat menyamar sebagai individu lain, termasuk pejabat asing dan pembangkang, saat membuat ancaman seperti ini.
The Epoch Times telah menghubungi Chen untuk meminta komentar.
Penyelenggara lokal Australia menyerahkan kedua ancaman tersebut kepada Kepolisian Federal Australia pada 24 Februari.
“Kami dengan tegas mengutuk kampanye penindasan lintas negara yang meningkat oleh Partai Komunis Tiongkok yang menargetkan Shen Yun Performing Arts dan praktisi Falun Gong di seluruh dunia,” kata penyelenggara dalam sebuah pernyataan.
“Mereka juga menyerukan penyelidikan menyeluruh dan terbuka atas ancaman tersebut untuk ‘mengatasi implikasi keamanan nasional dari insiden ini, memperkuat perlindungan terhadap campur tangan asing, dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab sesuai hukum Australia.’”
BACA JUGA : Polisi Selidiki Ancaman Bom Kedua Saat Tur Shen Yun di Australia
Beberapa minggu sebelumnya, ancaman serupa juga ditujukan kepada para pemimpin Inggris, Korea Selatan, dan Denmark, tanpa adanya insiden nyata yang terjadi.
Perusahaan seni pertunjukan ini berupaya membangkitkan kembali 5.000 tahun peradaban Tiongkok, didirikan oleh para seniman yang mempraktikkan Falun Gong. Latihan spiritual ini, juga dikenal sebagai Falun Dafa, menampilkan latihan meditasi dan ajaran berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Partai Komunis Tiongkok mulai menganiaya praktisi Falun Gong secara nasional pada tahun 1999. Dalam penganiayaan tersebut, jutaan orang telah ditahan secara sewenang-wenang, disiksa, dipaksa bekerja, dan bahkan dibunuh untuk diambil organnya guna mendukung industri transplantasi rezim yang menguntungkan.
Pertunjukan Shen Yun menampilkan tarian yang menceritakan kisah para praktisi yang menghadapi penganiayaan di Tiongkok. The Epoch Times adalah sponsor media Shen Yun.
Selama dua tahun terakhir, Shen Yun telah menjadi sasaran kampanye penindasan lintas negara yang melibatkan ancaman bom, ancaman email, dan kampanye media.
Email terbaru ini muncul setelah pernyataan pada 2 Januari oleh konsulat Tiongkok di Sydney dan Melbourne yang mendesak warga Australia untuk tidak menonton Shen Yun.
Konsulat tersebut menggemakan propaganda Partai Komunis Tiongkok dengan menyerukan “teman-teman dari semua sektor” untuk tetap “waspada” dan “menjauh dari pertunjukan ‘Shen Yun.’”
Pesan itu mengikuti dua ancaman bom pada November 2025 yang menargetkan pemutaran di Sydney dari film dokumenter “State Organs,” yang mengungkap pengambilan organ oleh Partai Komunis Tiongkok dari praktisi Falun Gong di Tiongkok.
Presiden Asosiasi Falun Dafa Australia, Lucy Zhao, mengutuk ancaman terbaru tersebut.
“Ini adalah kejahatan kebencian dan ancaman terorisme yang bertujuan membungkam para pembangkang dan menghentikan Shen Yun,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Ia mengatakan asosiasi tersebut akan bekerja lebih keras untuk “memastikan pertunjukan Shen Yun berlangsung dengan aman dan sukses di Australia” dan mengadakan kegiatan untuk mengungkap penganiayaan terhadap Falun Gong.
“Saya percaya pemerintah kami tidak akan membiarkan campur tangan asing Partai Komunis Tiongkok seperti ini terus berlanjut dan akan menyelidiki lebih lanjut serta mengambil tindakan untuk mencegahnya,” tambahnya.
‘Tidak Dapat Diterima’
Menanggapi email terbaru tersebut, anggota parlemen federal dari One Nation, Barnaby Joyce, mengatakan bahwa hal itu “sama sekali tidak dapat diterima di Australia untuk mengintimidasi seseorang yang mempraktikkan agamanya, dalam bentuk yang tidak mengancam budaya Australia, dan tidak melanggar hak orang lain.”
“Kami hidup dalam budaya Australia. Budaya Australia memiliki batasan tentang bagaimana Anda bertindak. … Budaya ini mendukung kebebasan pers, kebebasan beragama, kebebasan bergerak, percaya pada pentingnya keluarga … dan patriotisme terhadap Australia,” katanya kepada The Epoch Times.

The Epoch Times telah menghubungi Kantor Perdana Menteri dan Pemimpin Oposisi Angus Taylor untuk meminta komentar.
Taylor kemudian menulis di platform X:
“Senang mendengar bahwa Perdana Menteri selamat dan baik-baik saja setelah dievakuasi dari kediamannya di Canberra.
“Ancaman terhadap anggota parlemen mana pun sangat menjijikkan, terutama di negara yang dibangun atas dasar mengekspresikan perbedaan melalui debat.”
Mantan agen Kepolisian Federal Australia, Paul Johnstone, mengatakan email terbaru tersebut mungkin berasal dari luar negeri.
“Penggunaan kata ‘Australia’ dalam konteks ini tampak sangat formal dan agak tidak konsisten dengan korespondensi khas Australia, di mana kata seperti itu jarang digunakan. Ketidakteraturan linguistik ini mungkin perlu diperiksa lebih lanjut sebagai indikasi kemungkinan penulis dari luar,” katanya kepada The Epoch Times.
Johnstone telah melatih polisi dan personel keamanan di seluruh Asia, mengatakan sifat ancaman tersebut menunjukkan keselarasan dengan saluran propaganda atau elemen yang terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok atau Kementerian Keamanan Negara.
“Beijing tidak menganggap Shen Yun hanya sebagai organisasi budaya, tetapi sebagai platform yang menyoroti pelanggaran hak asasi manusia dan menantang otoritas rezim Tiongkok,” katanya.
“Misi diplomatik Tiongkok di luar negeri, termasuk di Australia, dilaporkan telah berupaya mencegah atau menghalangi pertunjukan Shen Yun melalui korespondensi resmi, keterlibatan dengan tempat pertunjukan dan sponsor, serta tekanan di balik layar terhadap pejabat.”
Johnstone mengatakan upaya ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk “membentuk narasi global dan melindungi citra internasional Tiongkok, yang semakin terkikis terutama di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konfrontasi maritim dengan Filipina, gesekan ekonomi dengan Jepang, dan gejolak politik internal dengan pembersihan di dalam militer dan pemerintahan.”
Insiden ini adalah yang terbaru dalam kampanye berkelanjutan yang menargetkan praktisi Falun Gong dan perusahaan yang mereka dirikan di seluruh dunia, termasuk Shen Yun.
Pusat Informasi Falun Dafa, yang melacak kampanye ini, mencatat lebih dari 130 ancaman pembunuhan dan bom terhadap Shen Yun sejak Maret 2024. Puluhan ancaman kekerasan lainnya juga menargetkan pejabat dan lembaga Amerika Serikat yang mendukung Falun Gong.
Sebagian besar email tersebut ditulis dalam bahasa Mandarin, dengan pengirim secara palsu mengklaim akan melakukan tindakan kekerasan jika pertunjukan tetap berlangsung. Pada Februari 2025, John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington—sekarang bernama Trump Kennedy Center—dievakuasi karena ancaman bom yang menargetkan Shen Yun.
Ancaman lain secara langsung menargetkan para penari Shen Yun, keluarga mereka, dan fasilitas pelatihan mereka di New York.
Tur Shen Yun Australia tahun 2026 akan tampil di Gold Coast, Sydney, Melbourne, dan Adelaide dari 25 Februari hingga 29 Maret.
Pertunjukan ini telah lama disambut hangat di kota-kota Australia selama bertahun-tahun, dan mendapat pujian dari tokoh-tokoh seperti miliarder Imelda Roche.
Eva Fu berkontribusi dalam laporan ini.
Artikel ini sebelumnya terbit di The Epoch Times edisi Bahasa Inggris
Putri Kim Jong Un Dipersiapkan untuk Kepemimpinan Militer Korea Utara
EtIndonesia. Di Korea Utara, peran putri pemimpinnya semakin meningkat. Menurut laporan media, remaja tersebut telah menerima fungsi manajerial dalam struktur yang terkait dengan program rudal, dan beberapa keputusan mulai melalui dirinya, menurut publikasi Newsweek.
Peran Baru dalam Struktur Rudal
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un telah menugaskan putrinya yang berusia 13 tahun, Kim Ju Ae, peran kepemimpinan dalam badan yang bertanggung jawab atas produksi rudal, menurut laporan media yang mengutip sumber Korea Selatan.
Menurut para jurnalis, langkah ini dilihat sebagai bagian dari persiapan bertahap calon penerus untuk mengawasi sistem militer negara dan, dalam jangka panjang, untuk memengaruhi Tentara Rakyat Korea.
Para Jenderal Sudah Berinteraksi dengan Putri Pemimpin
Penilaian intelijen menunjukkan bahwa, dalam beberapa kasus, laporan militer diserahkan langsung kepada Kim Ju Ae. Ada juga laporan bahwa perintah dalam struktur tersebut mungkin dikeluarkan olehnya, bukan oleh kepala administrasi rudal, Jang Chang Ha, yang telah memegang posisi tersebut sejak 2023.
Para ahli mengatakan bahwa keterlibatan publik Kim Ju Ae dalam proses militer dapat menandakan pembentukan peran politik baru dalam sistem kekuasaan Korea Utara. Di Korea Utara, sinyal semacam itu secara tradisional ditafsirkan sebagai elemen persiapan pemimpin nasional masa depan.
Menurut sumber-sumber Korea Selatan, Kim Jong Un sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk menyerahkan kekuasaan kepada Kim Ju Ae, yang lahir pada tahun 2013. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan percaya bahwa partisipasinya dalam acara-acara kenegaraan besar menunjukkan tahap baru dalam peran publiknya.(yn)
Video: Pesawat Tempur F-16 Jatuh di Jalan Raya di Turki yang Ramai
EtIndonesia. Pada dini hari ini, 25 Februari, sebuah pesawat tempur F-16 jatuh di jalan raya yang ramai di Turki. Pilot pesawat tempur tersebut dilaporkan tewas, menurut Yeni Akit.
Pesawat tersebut lepas landas dari pangkalan udara ke-9 setempat dan sedang melakukan penerbangan latihan rutin ketika terjadi kesulitan teknis. Kecelakaan udara terjadi sekitar pukul 1 dini hari, dan pesawat tempur tersebut jatuh di area jalan raya Izmir – Istanbul yang ramai.
Setelah kecelakaan, kebakaran hebat terjadi di lokasi kejadian, dan puing-puing pesawat tersebar hingga ratusan meter. Layanan darurat sedang bekerja di lokasi kejadian, penyelidikan sedang berlangsung, dan jalan raya telah ditutup tanpa batas waktu.
An F-16 fighter jet #crash|ed onto a highway in Balikesir. The pilot died. The aircraft took off from the local 9th air base and was making a scheduled training flight, during which technical difficulties arose. It crashed near the busy Izmir-Istanbul highway.#Turkey pic.twitter.com/oAMLvlHOVU
— Karina Karapetyan (@KarinaKarapety8) February 25, 2026
Kementerian Pertahanan Nasional Turki mengkonfirmasi informasi tentang kecelakaan pesawat tempur tersebut. Militer mengorganisir operasi pencarian dan penyelamatan dan menemukan puing-puing pesawat. Komisi investigasi kecelakaan sedang menentukan penyebab insiden tersebut.
Akin Gurlak mengumumkan bahwa Kantor Kejaksaan Agung di Balikesir telah memulai penyelidikan atas jatuhnya pesawat F-16 tersebut.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa pesawat tempur F-16 Turki pada hari Senin, 15 Desember, menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang mendekati wilayah udara negara itu di atas Laut Hitam.
NATO meminta Turki untuk menyediakan pesawat tempur F-16 beberapa bulan sebelumnya untuk misi patroli udara aliansi di negara-negara Baltik pada tahun 2026. Pesawat tempur Turki terakhir kali melakukan patroli sebagai bagian dari misi tersebut pada awal tahun 2025. (yn)
