Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo Mengganas, Lebih dari 2.500 Orang Meninggal Dunia

EtIndonesia.com Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada Sabtu (22/8/2026) bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) sedang mengalami pertumbuhan “secara eksponensial”. Lebih dari 2.500 orang telah meninggal, dan sekitar separuh dari kematian tersebut terjadi dalam 20 hari terakhir.

Ini merupakan wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo. Jumlah kasus terkonfirmasi telah mencapai lebih dari 5.000 kasus, yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah.

Para petugas mengatakan bahwa dana bantuan diperkirakan akan habis dalam beberapa minggu.

Selain itu, akibat kepanikan dan ketidakpuasan masyarakat setempat, para pekerja kesehatan semakin sering menjadi sasaran serangan.

Dalam enam bulan terakhir, telah terjadi lebih dari 260 serangan terhadap petugas kesehatan, yang mengakibatkan sedikitnya 8 tenaga medis meninggal dunia. (***)

Diduga Berbaiat dengan ISIS, Perempuan New York Ditangkap karena Merencanakan Pengeboman Gedung Kongres Negara Bagian

EtIndonesia.com Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menangkap seorang perempuan di Negara Bagian New York yang diduga menyatakan kesetiaan kepada kelompok teroris ISIS (Islamic State). Ia dituduh merencanakan untuk menempatkan bahan peledak di gedung parlemen negara bagian dan membunuh para anggota parlemen. Setelah serangan itu, ia juga diduga berencana melarikan diri ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

FBI berhasil mengetahui rencana tersebut melalui seorang agen yang menyamar. Sebelum perempuan itu benar-benar melancarkan serangan, agen FBI mengganti bahan peledak yang akan digunakannya dengan alat peledak palsu, sehingga rencana tersebut berhasil digagalkan.

Perempuan berusia 35 tahun dari New York, Jessica Bowie, diduga merencanakan serangan ketika para senator negara bagian sedang mengadakan sidang.

Jaksa menuduh Bowie mulai merencanakan serangan sejak Juli. Ia setidaknya lima kali mendatangi kawasan di sekitar gedung parlemen Negara Bagian New York untuk mengambil foto dan melakukan pengintaian. Tanpa menyadarinya, ia juga membahas rencana serangan tersebut dengan agen FBI yang menyamar.

Pada 5 Agustus, ia pergi ke Home Depot untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alat peledak. Jaksa mengatakan bahwa ia berencana menyembunyikan alat tersebut di dalam tas pengiriman DoorDash, lalu membawanya masuk ke gedung parlemen negara bagian untuk melakukan serangan.

Pada Rabu, setelah menerima alat yang diyakininya sebagai bahan peledak sungguhan dari agen FBI yang menyamar, Bowie langsung ditangkap. Polisi juga menemukan sebilah pisau yang dibawanya serta dokumen tertulis yang berisi sumpah kesetiaan kepada ISIS.

Penyelidik mengatakan Bowie pernah menyatakan sumpah setia kepada ISIS. Ia bahkan pernah memuji serangan teroris 11 September 2001 di media sosial serta memposting pernyataan anti-Amerika dan dukungan terhadap terorisme. Beberapa akun miliknya juga pernah diblokir karena melanggar aturan platform.

Petugas penegak hukum mengatakan bahwa Bowie diduga berencana melarikan diri ke Suriah setelah melakukan serangan dan bergabung dengan wilayah yang dikuasai ISIS. Ia juga disebut pernah membicarakan kemungkinan melakukan serangan lain di masa mendatang, termasuk di Times Square, New York, dan Gedung Putih.

Gubernur New York, Kathy Hochul, mengatakan pemerintah negara bagian akan terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memastikan keselamatan masyarakat.

“Karena aparat penegak hukum berhasil mencegat dugaan konspirasi ini sejak dini, gedung parlemen negara bagian tidak pernah benar-benar berada dalam bahaya. Saat ini juga tidak ada ancaman spesifik dan kredibel terhadap gedung parlemen negara bagian,” katanya. 

Laporan dari Amerika Serikat: Zheng Shengxun, New Tang Dynasty Television.

Mantan Pejabat Tinggi PKT di Bidang Pengobatan Tradisional, Yu Wenming, Divonis 15 Tahun karena Menerima Suap Sekitar Rp 166,8 Miliar 

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kesehatan dan farmasi Tiongkok mengalami beberapa gelombang “pembersihan”. Baru-baru ini, mantan Kepala Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) Yu Wenming, yang telah dicopot dari jabatannya selama 14 bulan, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Ia didakwa menerima suap lebih dari 63,44 juta yuan (sekitar RMB) atau Sekitar Rp 166,8 miliar. 

EtIndonesia.com  Pada 21 Agustus, pengadilan menjatuhkan vonis dalam kasus suap Yu Wenming. Ia didakwa bahwa selama periode 2009 hingga Februari 2021, ketika menjabat sebagai wakil kepala dan kemudian kepala Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok, ia menggunakan jabatannya untuk memberikan keuntungan kepada pihak-pihak tertentu dalam urusan pendaftaran dan persetujuan obat, perpanjangan sertifikat registrasi produk, serta berbagai hal lainnya.

Sebagai imbalannya, ia secara ilegal menerima uang dan harta benda dengan total lebih dari 63,44 juta yuan.

Atas tindak pidana menerima suap, Yu Wenming dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan denda 6 juta yuan.

Data publik menunjukkan bahwa Yu Wenming berasal dari Shan County, Provinsi Shandong, dan merupakan anggota Partai Demokratik Petani dan Pekerja Tiongkok. Ia mulai bekerja pada Agustus 1988.

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjabat sebagai wartawan dan editor di China Traditional Chinese Medicine News, penanggung jawab serta wakil kepala Departemen Pengobatan Tradisional Tiongkok dan Komunikasi, hingga Direktur Pusat Pengembangan dan Pertukaran Sains dan Teknologi Pengobatan Tradisional Tiongkok.

Pada 2004, Yu Wenming menjadi Wakil Kepala Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok. Pada 2007, ia menjadi Ketua Komite Kota Beijing dari Partai Demokratik Petani dan Pekerja Tiongkok. Pada Desember 2017, ia menjadi Wakil Ketua Eksekutif Komite Sentral ke-16 partai tersebut.

Pada Juni 2018, ia diangkat menjadi Kepala Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional Tiongkok. Ia meninggalkan jabatan tersebut pada Juli 2023 dan kemudian dicopot/diperiksa pada Juni 2025. Sidang kasusnya dimulai pada 17 Juni 2026.

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor kesehatan dan farmasi Tiongkok terus menjadi sasaran “pembersihan”. 

Sejumlah tokoh penting industri, pejabat regulator, serta pimpinan rumah sakit telah satu demi satu diperiksa, dicopot, atau dijatuhi hukuman.

Sebelum Yu Wenming dicopot, sejumlah pejabat tinggi dalam sistem pengawasan obat-obatan Tiongkok juga telah diperiksa, termasuk Chen Shifei, mantan Wakil Kepala Administrasi Nasional Produk Medis, serta Bi Jingquan, mantan Kepala Administrasi Umum Pengawasan Makanan dan Obat-obatan Tiongkok.

Bahkan sebelum vonis terhadap Yu Wenming diumumkan, dalam waktu kurang dari tiga minggu—antara 21 Juli hingga 11 Agustus—hampir 30 pejabat komisi kesehatan daerah, direktur rumah sakit dan sekretaris partai rumah sakit, serta eksekutif perusahaan farmasi dilaporkan telah diperiksa atau dicopot secara berturut-turut.

Di antara mereka adalah:

  • Li Guang, Direktur Utama Grup Rumah Sakit Medis Terpadu Rumah Sakit Kedua Distrik Longhu, Kota Shantou, Provinsi Guangdong, yang diperiksa.
  • Quan Zhou, mantan Direktur Rumah Sakit Pertama Kabupaten Fengkai, Provinsi Guangdong, yang menyerahkan diri untuk diperiksa.
  • Tang Rongke, Sekretaris Partai Komite Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tibet Daerah Otonomi Tibet, yang diperiksa.
  • Xu Kaibing, Kepala Kantor sekaligus Sekretaris Komisi Disiplin Internal Komisi Kesehatan Kota Putian, Provinsi Fujian, yang diperiksa.
  • Chen Jianhong, Kepala Divisi Pengendalian Penyakit Komisi Kesehatan Distrik Yuanzhou, Provinsi Jiangxi, yang menyerahkan diri untuk diperiksa.

Sumber : NTDTV.com

Perempuan di Mongolia Dalam Terjatuh dan Menggelinding Menuruni Lereng, Anjing Terbang Menolong dan Melindungi Majikan

Belakangan ini, sebuah video yang memperlihatkan “seorang perempuan terjatuh dan menggelinding menuruni lereng pasir, lalu anjingnya berlari menggunakan tubuhnya untuk menahan sang majikan” menarik perhatian publik.

EtIndonesia.com  Beredar video dari seorang perempuan tanpa sengaja tergelincir dari lereng pasir dan mulai menggelinding ke bawah. Anjing yang berada di dekatnya segera berlari menghampiri dan berusaha menggunakan tubuhnya untuk menahan serta melindungi majikannya. Momen tersebut menyentuh hati banyak orang.

Pada 22 Agustus, topik “perempuan terjatuh dan menggelinding menuruni lereng, anjing melindungi majikan” menjadi trending topic di internet.

Menurut laporan, kejadian tersebut berlangsung di Wuhai, Mongolia Dalam. Seorang perempuan kehilangan pijakan di lereng pasir dan kemudian menggelinding menuruni lereng. Anjing Border Collie peliharaannya yang melihat kejadian tersebut tanpa ragu langsung berlari ke bagian bawah lereng dan menggunakan tubuhnya untuk menghalangi majikannya agar tidak terus meluncur.

Rekaman video di lokasi menunjukkan bahwa saat kejadian, perempuan tersebut sedang beraktivitas di lereng pasir. Tiba-tiba ia kehilangan pijakan dan mulai meluncur di atas permukaan pasir yang lembut.

Dalam situasi genting itu, Border Collie yang semula berada di dekatnya langsung mempercepat lari menuju sang majikan. Anjing tersebut menempatkan tubuhnya di antara perempuan itu dan lereng, berusaha memperlambat laju tubuhnya yang terus menggelinding.

Saat berlari menuruni lereng, anjing tersebut berusaha menempelkan tubuhnya seluas mungkin pada tubuh majikannya, dengan tujuan mengurangi risiko benturan kedua yang dapat menyebabkan cedera lebih parah. Setelah majikannya berhenti menggelinding, anjing itu tetap berada di sampingnya.

Perekam video merasa terharu dan berkata:

“Naluri anjing untuk melindungi benar-benar membuat hati siapa pun tersentuh dalam sekejap.”

Banyak warganet kemudian memberikan komentar:

“Saya sampai menangis melihatnya. Anjing memang selalu menjadi sahabat yang paling setia.”

“Dia tidak tahu apa itu bahaya, dia hanya tahu bahwa majikannya sedang dalam bahaya.”

“Border Collie bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki naluri yang sangat kuat untuk melindungi majikannya.”

Ada juga warganet yang bercanda:

“Majikannya yang jatuh, tetapi si anjing malah lebih panik daripada ketika dirinya sendiri terluka.”

Sebelumnya, di Sichuan juga pernah terjadi kasus ketika seekor anjing peliharaan menggunakan tubuhnya untuk menghalangi kendaraan saat majikannya mengalami kecelakaan lalu lintas.

Menurut pakar hewan peliharaan, Border Collie merupakan salah satu ras anjing dengan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi dan secara alami memiliki naluri perlindungan serta rasa tanggung jawab yang kuat.

Ketika majikannya berada dalam bahaya, anjing jenis ini dapat memberikan respons dengan sangat cepat. Menurut pakar tersebut, perilaku itu bukan semata-mata pertunjukan yang sengaja dilakukan karena pelatihan, melainkan merupakan hasil dari ikatan emosional yang kuat dan naluri alami yang terbentuk selama hidup bersama majikannya.

Sumber : NTDTV.com

Presiden Prabowo Optimistis Karhutla Segera Terkendali, Kebutuhan Penanganan Terus Dipenuhi

EtIndonesia.com Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah terus memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Pemerintah memprioritaskan langkah mitigasi untuk menghentikan perluasan kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik-titik api baru.

Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam keterangan pers usai menggelar rapat bersama jajaran terkait di Posko Aju Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah yang berada di kawasan Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

“Saya sudah lihat situasi kita ikuti terus. Kita ambil langkah-langkah ya, mitigasi, yang penting kita segera hentikan perluasan penambahan titik api. Alhamdulillah ini berjalan terus,” ujar Presiden kepada awak media dikutip dari siaran pers BPMI Setpres. 

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menerima laporan langsung dari jajaran terkait mengenai perkembangan situasi di lapangan, termasuk berbagai kebutuhan untuk memperkuat operasi penanganan karhutla. Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah akan berupaya memenuhi kebutuhan tersebut agar penanganan dapat berjalan secara optimal.

“Semua pejabat melaporkan kebutuhan-kebutuhannya, kita berusaha penuhi. Tiap hari kita tambahkan helikopter-helikopter, alat-alat, mesin bor untuk air, semua perlengkapan kita penuhi lah,” ungkap Presiden.

Presiden Prabowo pun menyampaikan optimismenya bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat segera dikendalikan. Keyakinan tersebut didasarkan pada pengalaman Indonesia dalam menghadapi karhutla pada tahun-tahun sebelumnya dengan kondisi yang bahkan lebih berat.

“Jadi saya berharap kita segera bisa kendalikan. Dan kalau kita lihat sejarah tahun-tahun, berapa tahun-tahun yang dulu sangat lebih parah kita mampu atasi. Jadi saya percaya ini segera kita atasi,” tegas Kepala Negara.

Selain memastikan penguatan operasi pemadaman dan pemenuhan kebutuhan di lapangan, Presiden Prabowo memberikan perhatian terhadap kemungkinan adanya pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan secara sengaja oleh korporasi. Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran dan terbukti secara hukum.

“Harus kita tindak ya, akan kita tindak. Kalau benar-benar terbukti, ya kita tindak. Kita akan tindak sesuai dengan hukum dan peraturan,” tegas Presiden.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan pemerintah melalui dua langkah secara bersamaan, yakni memperkuat upaya pengendalian kebakaran di lapangan sekaligus memastikan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja.

Putusan Kasus Evergrande : Siapa yang Akan Menanggung Beban Utang Besar dan Proyek yang Belum Rampung?

Pendiri Grup Evergrande, Xu Jiayin, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan seluruh harta pribadinya disita. Kasus Evergrande seolah-olah telah berakhir, tetapi apakah masalahnya benar-benar sudah selesai? Para analis menilai, hukuman penjara terhadap Xu Jiayin hanya menjawab pertanyaan “siapa yang melakukan kejahatan”, tetapi belum menjawab pertanyaan “siapa yang akan membayar kerugian rakyat?”

EtIndonesia.com  Xu Jiayin dijatuhi hukuman seumur hidup. Kasus Evergrande tampaknya telah mencapai tahap akhir, tetapi bagi jutaan korban, persoalan sebenarnya justru baru dimulai.

Ketika krisis Evergrande meletus, sekitar 1,62 juta unit rumah belum sempat diserahterimakan. Proyek-proyek tersebut tersebar di lebih dari 200 kota dan melibatkan sekitar 6 juta pemilik rumah. 

Bagi mereka, persoalan terpenting bukan berapa lama Xu Jiayin akan dipenjara, melainkan apakah rumah yang mereka beli akhirnya bisa mereka terima dan siapa yang bertanggung jawab atas uang yang sudah mereka bayarkan.

“Yang paling menderita sebenarnya adalah orang-orang yang sudah membeli rumah tetapi belum menerima rumahnya. Mereka adalah pihak yang paling sengsara. Banyak di antara mereka, seperti warga yang rumahnya digusur, harus meminjam uang di berbagai tempat untuk bertahan hidup dan tinggal di rumah penampungan. Ada pula yang terpaksa tinggal di penginapan kecil. Kondisinya sangat menyedihkan,” ujar Ekonom Amerika Serikat Li Hengqing. 

Selain itu, Evergrande juga memiliki tunggakan dalam jumlah sangat besar berupa pembayaran kepada kontraktor, wesel komersial, serta utang kepada pemasok. 

Banyak perusahaan kecil dan menengah yang mengalami putusnya arus kas karena tidak menerima pembayaran, bahkan sampai gulung tikar. Namun, siapa yang pada akhirnya akan menanggung utang dalam jumlah sangat besar tersebut masih belum jelas.

“Banyak bencana dan utang nyata pada akhirnya harus ditanggung oleh orang-orang biasa. Selain itu, utang Xu Jiayin mencapai sekitar 2 triliun yuan. Lebih dari separuhnya merupakan utang kepada pemasok, yaitu utang kepada perusahaan-perusahaan di sepanjang rantai pasoknya,” ujar komentator isu terkini Wang He. 

“Untuk bagian ini juga tidak ada penjelasan yang jelas. Pemerintah menjatuhkan denda lebih dari 10 miliar yuan, tetapi bagaimana uang tersebut akan digunakan juga tidak dijelaskan,” jelasnya. 

Menurutnya, lubang keuangan yang begitu besar ditimbulkan oleh kasus tersebut, tetapi pihak berwenang hanya menjadikan Xu Jiayin sebagai “kambing hitam”, tanpa menyediakan solusi yang benar-benar dapat menyelesaikan masalah.

“Lubang itu masih tetap ada. Inilah kondisi Tiongkok saat ini. Sistem peradilan PKT lebih banyak digunakan sebagai alat politik yang sewenang-wenang. Mereka tidak menyelesaikan masalah nyata, tetapi mencari kambing hitam untuk melampiaskan kemarahan. Akibatnya, para korban sebenarnya tetap menjadi korban.”

Para analis menilai kasus Evergrande merupakan gambaran kecil dari pecahnya gelembung properti Tiongkok. Pada masa ekspansi pesat sektor properti, dana dan kredit dalam jumlah besar mengalir ke pasar real estate. Kini, ketika sektor properti mengalami kemerosotan, dampaknya menjalar ke berbagai industri terkait seperti perbankan, konstruksi, baja, semen, dan perlengkapan rumah tangga.

Banyak perusahaan properti menghentikan pembangunan dan gagal membayar utang. Bank juga menumpuk kredit bermasalah, sementara para pekerja di sektor-sektor terkait menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan.

“Kesenjangan antara kaya dan miskin di Tiongkok sangat besar. Setidaknya lebih dari 600 juta orang berpendapatan sangat rendah dan hidup dalam kondisi yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar,” ujar Li Hengqing. 

“Dalam kondisi seperti ini, sekarang Tiongkok menghadapi kemerosotan ekonomi besar yang dipicu oleh perkembangan sektor properti. Saya percaya pemulihannya mungkin membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun. Dan, dalam proses tersebut, masyarakat akan mengalami masa yang sangat menyakitkan,” tambahnya. 

Laporan: Yi Xin dan Qiu Yue, NTD Television.

【Serial Sejarah】Jiang Zemin yang Sebenarnya (Bagian 5)

【Catatan Redaksi】 Empat belas tahun lalu, Jiang Zemin yang Sebenarnya pertama kali diperkenalkan kepada pembaca. Empat belas tahun kemudian, Jiang Zemin telah meninggal dunia, tetapi racun politik yang ditinggalkannya belum lenyap. Banyak kekacauan dan krisis yang terjadi di Tiongkok saat ini dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Jiang memegang kekuasaan.

Pemerintahan yang mengandalkan korupsi, pengabaian terhadap supremasi hukum, penghancuran moral, penganiayaan terhadap Falun Gong, serta berkembangnya mesin kediktatoran dan kekerasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dipicu oleh semua itu telah meninggalkan bencana yang tak berkesudahan bagi Tiongkok.

Untuk memahami PKT saat ini dan memahami bagaimana Tiongkok bisa sampai pada kondisi seperti sekarang, penting untuk memahami  Jiang Zemin yang Sebenarnya. Karena itu, tulisan ini diterbitkan kembali.

Seri dokumenter sejarah Jiang Zemin yang Sebenarnya, episode kelima: “Kekacauan Sosial Setelah Runtuhnya Moral (Bagian I)”

Lingkungan Hidup yang Dipenuhi Racun

Southern Daily melaporkan pada Desember 2011 bahwa data pemantauan PM2.5 di Beijing yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tiongkok kembali menembus batas tertinggi. Angkanya bahkan melampaui indeks polusi maksimum 500. Konsentrasi PM2.5 saat itu mencapai 522. Karena “melampaui rentang nilai polutan tersebut”, angka itu bahkan tidak dapat dikonversi menjadi indeks kualitas udara di situs Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

Pada 4 Agustus 2013, The New York Times menerbitkan artikel berjudul “Living in a Toxic Country” atau “Hidup di Negara Beracun”.

Seorang wartawan yang ditugaskan di Beijing mengatakan bahwa ketika hendak kembali ke Beijing, ia menyeret sebuah koper dari bandara San Francisco yang berisi 12 kaleng susu bubuk, serta sebuah kardus yang berisi dua alat penyaring udara. Barang-barang tersebut merupakan oleh-oleh yang paling diharapkan keluarganya untuk ia bawa pulang.

Masyarakat sangat khawatir terhadap keamanan makanan yang mereka makan, air yang mereka minum, udara yang mereka hirup, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Situasinya seolah-olah mereka hidup di bekas Uni Soviet setelah bencana nuklir Chernobyl atau di Jepang setelah Fukushima.

Makanan Beracun yang Sulit Dihindari

Skandal susu bubuk beracun di Tiongkok pada 2008 merupakan salah satu kasus keamanan pangan yang mengguncang Tiongkok dan dunia.

Kasus ini bermula ketika pihak Selandia Baru menemukan bahwa susu bubuk yang diproduksi Sanlu, perusahaan patungan dengan pihak Tiongkok, mengandung melamin. Selandia Baru segera bernegosiasi dengan pihak Tiongkok dan meminta Sanlu secara terbuka menarik susu bubuk beracun tersebut dari peredaran. Namun, permintaan itu terus ditolak.

Pada akhirnya, Perdana Menteri Selandia Baru turun tangan secara langsung dan bernegosiasi dengan Tiongkok. Ia memperingatkan bahwa jika PKT terus sengaja menyembunyikan masalah tersebut, Selandia Baru akan mengungkapkannya secara sepihak.

Setelah kasus tersebut terungkap ke publik, banyak bayi yang mengonsumsi susu bubuk produksi Grup Sanlu diketahui menderita batu ginjal. Penyebabnya adalah bahan kimia industri melamin yang terdapat dalam susu bubuk tersebut.

Setelah Administrasi Umum Pengawasan Mutu, Inspeksi, dan Karantina Tiongkok mengumumkan hasil pemeriksaan kandungan melamin pada susu bubuk bayi yang diproduksi berbagai perusahaan susu domestik, situasinya dengan cepat memburuk.

Susu bubuk dari sejumlah produsen, termasuk Yili, Mengniu, Guangming, Shengyuan, dan Yashili, juga ditemukan mengandung melamin.

Ternyata, mencampurkan melamin ke dalam susu merupakan salah satu “aturan tak tertulis” dalam industri tersebut. Tujuannya adalah meningkatkan kadar nitrogen yang terdeteksi dalam pemeriksaan, karena nitrogen digunakan sebagai indikator kandungan protein.

Bagaimanapun, harga melamin jauh lebih murah dibandingkan susu mentah.

Karena kasus susu bubuk beracun Sanlu berdampak besar dan meluas, ditambah lagi produk Sanlu merupakan merek terkenal yang mendapat status bebas pemeriksaan negara, kasus tersebut mendapat perhatian luas. Skandal ini kemudian membuka lebih lebar luka lama mengenai maraknya makanan beracun di Tiongkok.

Pada 2013, pembatasan pembelian susu bubuk di Hong Kong kembali membawa masalah makanan beracun dari Tiongkok ke sorotan dunia.

Sejak skandal pencampuran melamin ke dalam susu bubuk Sanlu terungkap pada 2008, masalah susu bubuk beracun di Tiongkok daratan tidak kunjung berakhir. Kasus demi kasus terus bermunculan.

Banyak wisatawan dari Tiongkok daratan berbondong-bondong ke Hong Kong untuk membeli susu bubuk, sehingga menyebabkan kelangkaan susu bubuk di Hong Kong.

Setelah skandal susu bubuk beracun, masyarakat Tiongkok ternyata masih belum terbebas dari makanan berbahaya. Muncul pula kacang panjang beracun, beras beracun, lobster beracun, mentimun beracun, dan berbagai jenis pangan tercemar lainnya.

Seseorang bahkan menyusun “ensiklopedia lengkap makanan beracun Tiongkok”, yang memuat sedikitnya 55 jenis makanan beracun yang paling umum ditemukan di Tiongkok.

Di antaranya adalah:

  • Beras beracun yang sangat karsinogenik, berupa beras lama yang telah rusak atau beras berkualitas rendah yang biasa diperuntukkan bagi pekerja migran, serta berbagai produk makanan yang dibuat dari beras tersebut.
  • Kecap beracun yang dibuat dengan mencampurkan cairan hasil pengolahan rambut.
  • Ham Jinhua yang direndam dengan pestisida dichlorvos.
  • Tahu busuk yang dibuat dengan merendamnya menggunakan kotoran babi.
  • Biji melon beracun yang diproses menggunakan minyak mineral.
  • Daging babi kering Taicang yang menggunakan daging babi mati dan daging babi indukan, kemudian daging babi indukan tersebut diputihkan dengan hidrogen peroksida.
  • “Minyak selokan” atau minyak jelantah ilegal, yang diambil dari saluran pembuangan dan kemudian diolah kembali untuk digunakan sebagai minyak makanan.

Wu Heng, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Fudan, melakukan pencarian melalui internet dan menemukan sebuah basis data bernama “Safety Express”.

Basis data tersebut mengumpulkan lebih dari 10.000 laporan berita terkait pangan, dan sekitar 6.000 di antaranya berkaitan dengan makanan beracun.

Setelah membaca laporan-laporan tersebut, ia baru menyadari bahwa lokasi dan frekuensi terjadinya kasus keamanan pangan sangat mengejutkan.

Tergerak oleh temuan tersebut, Wu Heng bersama puluhan pengguna internet lainnya menelusuri puluhan ribu laporan mengenai makanan beracun. Mereka kemudian menyaring dan mengolah informasi tersebut hingga menghasilkan bentuk awal Wikipedia Makanan Beracun Tiongkok.

Tragedi Air

Pan Yue, mantan Wakil Kepala Administrasi Negara Perlindungan Lingkungan, pernah menulis seruan keras:

“Pencemaran air semakin mendekati titik kritis yang berbahaya!”

Hal tersebut telah menjadi bencana yang muncul setiap musim panas.

Kota pesisir Qingdao menghadapi ledakan alga yang nyaris memecahkan rekor. Pantai-pantai yang sangat populer di kota tersebut tertutup lapisan serat berwarna hijau.

Pada musim panas 2007, Tiongkok berturut-turut mengalami ledakan alga biru-hijau di Danau Taihu, Danau Dianchi, dan Danau Chaohu.

Peristiwa tersebut menjadi sebuah tanda bahwa biaya lingkungan yang terakumulasi akibat model pembangunan tradisional Tiongkok telah mencapai titik kritis.

Saat itu, sekitar 26 persen dari tujuh sistem sungai utama Tiongkok tergolong sebagai air Kelas V dan di bawah Kelas V. Dari sembilan danau utama, tujuh di antaranya juga tergolong Kelas V atau lebih buruk.

Air Kelas V dan di bawah Kelas V tidak boleh bersentuhan dengan tubuh manusia dan bahkan tidak layak digunakan untuk keperluan pertanian.

Pada Maret 2013, sejumlah besar bangkai babi ditemukan mengambang dan diangkat dari Sungai Huangpu, sumber air minum bagi lebih dari 20 juta penduduk Shanghai.

Menurut laporan resmi Tiongkok daratan, hingga 19 Maret, lebih dari 13.000 bangkai babi telah diangkat dari Sungai Huangpu.

Pada 18 Maret, pembawa acara program televisi NBC The Tonight Show, Jay Leno, secara tajam menyindir pernyataan pemerintah PKT yang menyebut bahwa ribuan bangkai babi tersebut tidak akan memengaruhi kualitas air.

Jay Leno berkata:

“Jumlah total babi mati yang mengambang di sungai Shanghai telah melebihi 13.000 ekor. Pemerintah menduga penyebabnya adalah petani di hulu membuang babi yang mati karena penyakit ke sungai. Kalau bukan itu, mungkin ada seseorang yang sedang memainkan permainan Angry Birds terbesar di dunia. Entahlah, yang mana.”

Ia kemudian menyindir:

“Yang menurut saya lucu adalah pemerintah PKT justru menyatakan bahwa bangkai-bangkai babi itu tidak akan memengaruhi kualitas air minum! Kalau 13.000 bangkai babi yang membusuk saja tidak berpengaruh, seburuk apa sebenarnya kualitas air minum kalian? Oh, ternyata rasanya sama seperti biasanya. Saya memang suka air minum rasa daging asap.”

Perumahan Dibangun di Atas Tanah Beracun

Majalah Caijing melaporkan pada 6 Juni 2012 bahwa dalam beberapa tahun terakhir, akibat penyesuaian struktur penggunaan lahan industri dan perkotaan di Tiongkok daratan, banyak industri berpolusi tinggi yang sebelumnya menempati lokasi strategis di kawasan perkotaan dipindahkan. Hampir seluruh lahan bekas industri tersebut kemudian dikembangkan.

Menurut penelitian Institut Ilmu Tanah Nanjing, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, pada 2008, ribuan pabrik di Jiangsu, Liaoning, Guangzhou, Chongqing, dan berbagai wilayah lainnya dipindahkan. Sekitar 200 juta meter persegi lahan dinilai dapat digunakan kembali.

Namun, sejumlah besar tanah tercemar atau “tanah beracun” digunakan kembali tanpa menjalani proses pembersihan dan pengolahan yang semestinya, bahkan dibangun menjadi kawasan perumahan.

Salah satu contohnya adalah sebuah proyek perumahan yang sedang dibangun di Distrik Chaoyang, di luar Jalan Lingkar Kelima Timur Beijing. Lokasi tersebut sebelumnya merupakan pabrik pengawetan bantalan rel milik Kementerian Perkeretaapian.

Pabrik itu telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun. Sejumlah besar bahan kimia telah meresap ke dalam tanah dan air tanah.

Pabrik tersebut dipindahkan delapan tahun sebelumnya dan lahannya dibiarkan kosong. Namun setelah pembangunan dimulai pada awal tahun sebelumnya, pemeriksaan masih menemukan zat karsinogenik hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dengan kadar lebih dari 1.000 kali batas yang diperbolehkan.

Berbagai polutan volatil lainnya juga ditemukan dengan kadar 300–400 kali lebih tinggi dari batas yang ditetapkan.

Pada 2006, Kementerian Perlindungan Lingkungan menghabiskan 1 miliar yuan untuk melakukan survei pencemaran tanah secara nasional. Namun, data hasil survei tersebut hingga kini belum dipublikasikan.

Para pakar menganalisis bahwa selain dapat memicu kepanikan masyarakat, hasil survei tersebut juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Racun Tersembunyi di Balik Pakaian

Menurut Xinhua dan sejumlah media lainnya, Greenpeace pada 23 Agustus 2011 menerbitkan laporan investigasi mengenai residu zat beracun dan berbahaya dalam pakaian bermerek global.

Greenpeace membeli 78 sampel dari 15 merek pakaian di 18 negara di seluruh dunia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 52 sampel mengandung residu zat beracun dan berbahaya.

Dalam laporan tersebut, 40 persen sampel Adidas ditemukan mengandung NPE, sedangkan 100 persen sampel Li-Ning mengandung NPE.

Maraknya Dokter Palsu dan Obat Palsu

Jika dibandingkan dengan makanan beracun yang ada di mana-mana, praktik dokter palsu dan obat palsu juga tidak kalah parah.

Menurut laporan, pada 2005 saja terdapat lebih dari 78.000 kasus obat palsu dan obat berkualitas buruk yang ditindak oleh pihak berwenang.

Pada 29 dan 30 April 2006, Departemen Penyakit Menular Rumah Sakit Afiliasi Ketiga Universitas Sun Yat-sen mengalami serangkaian kasus pasien hepatitis berat yang tiba-tiba mengalami gagal ginjal akut. Lima pasien meninggal meskipun telah mendapat pertolongan medis.

Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pasien-pasien tersebut menggunakan suntikan Kelan Jiabei (亮菌甲素) yang diproduksi Qiqihar No. 2 Pharmaceutical Co., Ltd. Obat tersebut mengandung zat pengotor yang tidak diketahui dan dinyatakan sebagai obat palsu.

Tidak lama setelah skandal Qiqihar No. 2 Pharmaceutical, terjadi kasus yang lebih serius, yaitu kematian akibat obat palsu Xinfu (欣弗).

Pada 27 Juli 2006, seorang anak perempuan berusia enam tahun dari Harbin, Liu Sichen, meninggal setelah menerima infus klindamisin.

Di 16 provinsi dan kota di seluruh Tiongkok, tercatat 93 kasus efek samping Xinfu, dengan 11 orang meninggal dunia.

Penyebabnya kembali terkait dengan produsen obat yang memproduksi obat yang tidak memenuhi standar.

Pada 31 Maret 2010, Changzhou diguncang skandal besar pemalsuan vaksin. Produsen vaksin terkenal setempat, Jiangsu Yanshen Biotechnology Co., Ltd., terbukti oleh Badan Pengawas Obat Nasional telah melakukan pemalsuan secara sengaja dalam proses produksi vaksin selama bertahun-tahun.

Akibatnya, sejumlah besar vaksin bermasalah beredar di pasaran. Laporan tersebut menyebut jumlah korban sedikitnya lebih dari satu juta orang.

Ke Mana Perginya “Malaikat Berbaju Putih”?

Saat ini, ketika membicarakan hubungan antara dokter dan pasien di Tiongkok, situasinya seolah-olah seperti membicarakan transaksi jual beli di pusat perbelanjaan.

Rumah sakit telah berubah menjadi unit bisnis dengan keuntungan sebagai tujuan utama. Pasien menjadi pelanggan sekaligus sumber pemasukan bagi rumah sakit dan dokter.

Dalam kondisi kemerosotan moral yang tajam dan ketika segala sesuatu diukur berdasarkan uang, berbagai cara tidak etis pun muncul. Rumah sakit dan dokter memanfaatkan fungsi serta kewenangan mereka untuk memperoleh keuntungan ekonomi tambahan dari pasien.

Seorang dokter muda pernah mengungkapkan dalam blog pribadinya apa yang disebutnya sebagai “rahasia mengejutkan tentang bagaimana pasien diperas—hal-hal yang tidak pernah dipahami pasien bahkan hingga meninggal dunia.”

Pada 2009, setelah lulus dari program pascasarjana spesialis onkologi di Tianjin Medical University, saya beruntung diterima sebagai dokter di departemen onkologi sebuah rumah sakit kelas III tingkat A di Provinsi Shandong.

Pada akhir November 2009, ketika departemen onkologi kami membagikan bonus, rata-rata setiap orang hanya menerima sedikit lebih dari 2.000 yuan.

Kepala departemen menutup pintu dan mengadakan rapat rahasia. Ia berkata:

“Rumah sakit kita menerapkan sistem penilaian berdasarkan kinerja. Pendapatan dikurangi biaya, kemudian dikalikan persentase komisi—itulah yang menjadi bonus departemen.”

Ia sengaja berhenti sejenak, kemudian berkata:

“Saya rasa tidak perlu saya jelaskan lebih jauh, kan? Kalau kalian menggunakan obat murah yang hanya beberapa yuan, itu pilihan kalian. Tetapi jangan menganggap diri kalian sebagai Bodhisattva yang turun ke dunia, lalu membuat semua orang ikut hidup susah.”

Begitu kepala departemen selesai berbicara, semua orang langsung mengarahkan pandangan kepada saya. Wajah saya seketika terasa panas.

Beberapa hari kemudian, seorang pensiunan pejabat yang menderita kanker prostat dirawat di bangsal. Sel kanker tersebut bahkan sudah menyebar ke rongga perut.

Mengingat pelajaran sebelumnya, saya mencoba berbicara dengan istrinya:

“Saya menyarankan menggunakan obat yang relatif lebih baik karena dapat meningkatkan kualitas hidup pasien…”

Belum selesai saya berbicara, istrinya langsung mengangguk berkali-kali:

“Obat apa pun yang bagus, gunakan saja. Saya rela mengeluarkan uang untuk suami saya, Zhang.”

Mendengar kalimat itu, saya pun mulai memberikan berbagai obat mahal.

Pada akhirnya, lelaki tua tersebut dirawat selama dua bulan dan menghabiskan 400.000 yuan, tetapi akhirnya tetap meninggal dunia.

Pada Juli 2010, saya menerima seorang pasien kanker paru-paru stadium awal. Karena menurut saya pasien tersebut memiliki indikasi untuk menjalani operasi, saya merujuknya kepada seorang dokter di departemen bedah toraks.

Namun, setelah operasi, dokter bedah toraks tersebut secara khusus mengundang saya makan dan memberi saya amplop berisi 500 yuan.

Saya menolaknya, tetapi dia berkata:

“Ini memang hakmu. Nanti kalau saya punya pasien yang perlu menjalani kemoterapi, saya akan ‘memperkenalkan’ mereka kepadamu. Kita bekerja sama dalam jangka panjang!”

Kemudian, sebagai orang yang merasa lebih berpengalaman, dia “mengajari” saya:

“Kamu baru lulus belum lama. Sudah memahami alur kerja departemen onkologi? Sederhananya begini: ketika ada pasien kanker, pertama-tama kita rujuk ke bagian bedah untuk operasi. Biarkan bagian bedah mendapatkan uang dari operasinya. Setelah itu pasien dipindahkan ke bagian kemoterapi untuk kemoterapi, kemudian ke bagian radioterapi untuk radioterapi. Setelah semua departemen mendapatkan uangnya, barulah pasien dilempar ke bagian pengobatan tradisional Tiongkok untuk minum obat herbal.”

Kejadian berikutnya akhirnya membuat saya membuktikan sendiri ucapan dokter bedah tersebut.

Ada seorang pasien kanker lambung stadium lanjut yang sel kankernya sudah menyebar ke peritoneum. Namun, pasien itu tetap dipindahkan ke bagian bedah umum untuk menjalani operasi.

Setelah operasi, pasien dipindahkan ke departemen onkologi untuk kemoterapi, kemudian ke departemen radioterapi untuk menjalani radioterapi, lalu ke bagian pengobatan tradisional Tiongkok untuk minum obat herbal.

Setelah menjalani berbagai tindakan tersebut selama tiga bulan, pasien akhirnya meninggal dunia.

Saya diam-diam mengambil data pencitraan medis pasien tersebut untuk memeriksanya. Begitu melihat hasilnya, saya langsung menyadari bahwa pasien sebenarnya tidak memiliki indikasi untuk menjalani operasi.

Tim Penulis Jiang Zemin yang Sebenarnya, diproduksi bersama oleh New Tang Dynasty Television (NTD).

Kenaikan Pajak Air Tanah di Pasuruan Dikaji Ulang, Pemkab Siapkan Relaksasi untuk Jaga Industri

PASURUAN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan memastikan kebijakan kenaikan Pajak Air Tanah (PAT) tidak akan diberlakukan secara serampangan. Pemerintah daerah tengah menyiapkan formulasi yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi lingkungan, rasa keadilan bagi wajib pajak, serta keberlanjutan iklim investasi industri.

Ruang dialog dengan kalangan industri juga akan dibuka untuk mencari titik temu terkait penerapan kebijakan PAT. Pemkab Pasuruan bahkan menyiapkan opsi relaksasi sebagai bagian dari upaya menjaga agar kebijakan perpajakan tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap dunia usaha.

Kepala Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Pengendalian Pendapatan Daerah Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Pasuruan, Tomy Hartono, mengatakan perubahan besaran PAT memiliki landasan regulasi yang harus dipatuhi pemerintah daerah.

“Perubahan nilai PAT itu memang dasar kami di Peraturan Gubernur Nomor 35 Tahun 2025 yang berlaku untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur,” ujar Tomy.

Pergub Jawa Timur Nomor 35 Tahun 2025 ditetapkan pada 18 Desember 2025 dan mengatur Nilai Perolehan Air Tanah (NPA) sebagai dasar pemungutan PAT. Regulasi tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 5 Tahun 2024 tentang Pedoman Penetapan Nilai Perolehan Air Tanah.

Penyesuaian tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan penerimaan pajak. Salah satu tujuan utamanya adalah mendorong pengendalian pengambilan air tanah secara berlebihan sekaligus memperkuat upaya konservasi sumber daya air.

NPA Menjadi Dasar Perhitungan

Secara sederhana, besaran PAT ditentukan berdasarkan Nilai Perolehan Air Tanah (NPA). Nilai tersebut dihitung melalui perkalian antara Harga Air Baku (HAB) dan Bobot Air Tanah (BAT).

Tomy menjelaskan, secara umum penentuan bobot dan koefisien dalam perhitungan NPA tidak berubah secara mendasar. Penyesuaian lebih berkaitan dengan formulasi yang ditetapkan melalui regulasi terbaru.

“Nilai NPA itu sudah diatur di Peraturan Gubernur tanpa kami mengurangi atau menambahi. Karena Peraturan Gubernur itu lebih tinggi dari Peraturan Bupati,” jelasnya.

Meski demikian, Pemkab Pasuruan tidak serta-merta menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur penerapan PAT. Bapenda masih melakukan kajian agar kebijakan yang dihasilkan dapat diterapkan secara proporsional.

“Kita sudah menyusun kajian dan sudah dalam tahap finalisasi. Saat ini juga sedang mendapat persetujuan dari Pemprov,” kata Tomy.

Menurut dia, kehati-hatian diperlukan agar kebijakan yang nantinya diterapkan tidak menimbulkan persoalan baru, khususnya bagi sektor industri yang menggunakan air tanah dalam kegiatan produksinya.

“Mohon ditunggu dulu karena kita tidak mau terburu-buru. Nanti, ketika ada kebijakan yang benar-benar mengutamakan rasa keadilan, Perbup baru akan dikeluarkan,” tambahnya.

Industri Diajak Berdialog

Pemkab Pasuruan juga membuka ruang bagi pelaku industri untuk menyampaikan keberatan maupun masukan terkait perubahan PAT. Aspirasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan daerah.

Tomy menegaskan, pemerintah tidak ingin kebijakan PAT justru mengganggu keberlangsungan usaha dan investasi di Kabupaten Pasuruan.

“Kami akan mendengarkan bagaimana keluh kesah dari industri supaya setidaknya mencapai titik temu yang menciptakan rasa keadilan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, formulasi penerapan kenaikan PAT masih terus digodok. Pemkab ingin memastikan kebijakan yang diterbitkan nantinya mampu mempertemukan dua kepentingan: menjaga kelestarian sumber daya air sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha.

“Kita masih berproses. Peraturan Bupatinya masih berproses sehingga bisa menghasilkan kebijakan yang seimbang. Yang jelas, kita tidak ingin merugikan industri. Kita hadir untuk masyarakat,” tegas Tomy.

Daerah Memiliki Ruang Memberikan Relaksasi

Sebelumnya, Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, juga mendorong agar keberatan industri terkait kenaikan PAT disampaikan melalui jalur dialog dengan pemerintah daerah.

Menurut Agus, Kementerian ESDM berperan menyusun pedoman, sedangkan penetapan NPA dilakukan pemerintah provinsi dan penerapan persentase tarif PAT menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami di Kementerian ESDM itu hanya membuat pedomannya saja, tapi yang menetapkan angka dari pajak air tanah itu diserahkan kepada pemerintah provinsi dalam bentuk penetapan Nilai Perolehan Air Tanah atau NPA dan pemerintah kabupaten/kota dalam bentuk persentase penerapan tarif Pajak Air Tanah,” ujarnya.

Karena kondisi setiap daerah berbeda, penerapan kebijakan juga diharapkan mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah. Menurut Agus, jika pelaku industri menilai kenaikan PAT terlalu tinggi, keberatan dapat disampaikan kepada pemerintah daerah untuk kemudian dibahas bersama.

“Kalau masih ada keberatan terkait besarnya perhitungan PAT itu, silakan mengajukan keberatan kepada bupatinya atau walikotanya dan ajak mereka untuk mendiskusikannya bersama-sama,” katanya.

Agus juga menyebut pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk memberikan pengurangan pajak melalui mekanisme insentif fiskal sesuai ketentuan.

Dengan demikian, persoalan kenaikan PAT tidak semata-mata soal naik atau turunnya beban pajak. Di balik kebijakan tersebut terdapat kepentingan yang lebih luas, yakni bagaimana pemanfaatan air tanah dapat dikendalikan agar tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan aktivitas ekonomi.

Bagi Kabupaten Pasuruan yang memiliki basis industri cukup kuat, keseimbangan tersebut menjadi penting. Kebijakan PAT diharapkan dapat menjadi instrumen konservasi air tanah, namun tetap memberikan ruang bagi industri untuk tumbuh dan berinvestasi secara berkelanjutan.

Karena itu, dialog antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci. Dengan kajian yang matang, transparansi perhitungan, serta ruang untuk menyampaikan keberatan, kebijakan PAT diharapkan tidak hanya meningkatkan kepatuhan pajak, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan iklim investasi di Kabupaten Pasuruan.

Banjir Melanda Berbagai Wilayah Tiongkok, Kerugian Warga Terdampak Sangat Parah

 Beberapa waktu terakhir, banjir melanda berbagai wilayah Tiongkok, termasuk Kunming di Yunnan, Chengdu di Sichuan, dan Zhoukou di Henan. Di Henan, hujan deras ditambah pelepasan air dari waduk menyebabkan lahan pertanian terendam dalam skala luas dan tanaman gagal dipanen. Hingga 20 Agustus, genangan di Zhoukou dan sejumlah daerah yang paling parah terdampak masih belum surut, sementara kerugian para petani sangat besar.

EtIndonesia.com Badan Meteorologi Tiongkok pada 20 Agustus kembali mengeluarkan peringatan biru hujan lebat. Akibat pengaruh tekanan rendah tropis di Laut Tiongkok Selatan dan monsun barat daya, pada 20–21 Agustus sejumlah wilayah di Pulau Hainan, Guangdong, Guangxi, Fujian, dan Sichuan masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Di beberapa lokasi juga diperkirakan terjadi hujan ekstrem, petir, angin kencang, serta cuaca konvektif lainnya.

Menurut Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok, hingga pukul 09.00 pada 19 Agustus, 36 sungai di Heilongjiang, Mongolia Dalam, Henan, Zhejiang, dan wilayah lainnya masih berada di atas ambang batas siaga banjir.

Banjir melanda Sichuan dan Yunnan

Sejumlah wilayah Sichuan telah mengalami hujan sangat lebat selama beberapa hari berturut-turut. Pada dini hari 18 Agustus, Dujiangyan, di hulu Chengdu, mengalami gelombang banjir terbesar tahun ini. Sungai Jinjiang, yang dikenal sebagai sungai induk Chengdu, mengalami kenaikan debit air secara drastis sehingga sejumlah ruas jalan di kawasan kota terendam.

Seorang warga Distrik Shuangliu, Chengdu, bermarga Zhang, mengatakan:

“Hujannya tidak pernah berhenti. Kawasan kota Chengdu kebanjiran, dan air dialirkan ke sungai ini. Rumah kami berada di dekat sungai. Dari depan rumah, yang terlihat seperti lautan.”

Kota Kunming di Yunnan juga dilanda hujan sangat lebat selama beberapa hari. Sejumlah ruas jalan di Distrik Guandu, Panlong, dan wilayah lainnya mengalami genangan parah, sementara banyak toko dan kendaraan terendam.

Tang, seorang pemilik toko di Desa Qinglong, Distrik Panlong, Kunming, mengatakan: “Mobil-mobil itu awalnya diparkir rapi, bahkan sampai dua baris. Kemudian terseret air dan menumpuk menjadi satu. Jumlahnya sekitar 10 sampai 20 mobil. Mobil teman saya juga hanyut. Banyak barang ikut terendam. Kerugiannya sangat parah.”

Lahan pertanian Henan rusak parah

Henan merupakan salah satu provinsi pertanian utama Tiongkok. Hujan deras ditambah pelepasan air dari waduk menyebabkan lahan pertanian dalam skala luas terendam dan tanaman gagal dipanen. Petani di daerah yang terdampak paling parah, seperti Pingdingshan, Xuchang, dan Zhoukou, mengalami kerugian besar.

Pada 20 Agustus, seorang warga Zhoukou mengatakan bahwa pada 12 Agustus, air dari Sungai Jialu di hulu Zhengzhou dilepaskan dan kemudian banjir mengalir ke Distrik Chuanhui. Banjir tersebut menyebabkan tanggul jebol dan memperparah kondisi Zhoukou. Hingga kini, banyak wilayah masih tergenang dan lahan pertanian dalam area luas terendam.

Wang, seorang petani dari Kecamatan Dawangzhuang, Kabupaten Xihua, Zhoukou, mengatakan:

“Air dari hulu terus dialirkan ke daerah kami. Sungai sudah penuh seluruhnya. Saya belum pernah melihat air sebanyak ini. Rumah-rumah yang berada di daerah rendah sudah kemasukan air. Jagung, kacang tanah, kedelai, kacang panjang, semuanya sudah terendam selama empat atau lima hari. Akar dan batangnya mulai membusuk.”

Kabupaten Xiangcheng di Xuchang dikenal sebagai salah satu pusat produksi tembakau di Henan. Tanaman tembakau milik para petani, serta berbagai tanaman milik para petani buah, juga mengalami kerusakan berat.

Liu, seorang petani dari Zhoukou, mengatakan: “Lin’an, Distrik Jian’an di Xuchang, termasuk Jiaxian, Yuzhou, dan Xiangcheng semuanya merupakan daerah penanaman tembakau. Tanggul jebol di Kota Changqiao, Jiaxian. Kerugiannya sangat besar. Yang paling parah adalah kawasan penanaman cabai yang membentang ratusan kilometer, dengan luas mencapai jutaan mu. Saat cabai sudah hampir siap dipanen, pada dasarnya semuanya mati terendam banjir.”

Peternak harus menyelamatkan ternak sendiri

Peternakan babi milik Zhang Xiuying, seorang peternak di Desa Helou, Kecamatan Gucheng, Kabupaten Fugou, Zhoukou, dikepung banjir selama empat hari. Ia mengaku telah berulang kali menelepon berbagai tingkat pemerintahan untuk meminta bantuan, tetapi tidak mendapat pertolongan. Pada akhirnya, ia harus menyelamatkan sendiri lebih dari 200 ekor babi.

“Pada 17 Agustus, ketika orang tua saya pulang untuk mengambil obat bagi babi, seluruh jalan sudah dipenuhi air. Desa kami memang terkena dampak lebih parah. Untuk tanaman, satu batang pun jangan berharap bisa diselamatkan. Kalau air di desa baru surut setelah setengah bulan, apa yang tersisa dari tanaman? Tidak ada. Semuanya akan mati terendam,” katanya. 

Zhang mengatakan bahwa sejak 14 Agustus, air di desanya telah naik lebih dari satu meter di atas permukaan tanah. Gandum dan jagung yang disimpan di rumahnya, serta bungkil kedelai dan pakan ternak, semuanya terendam.

Ia memperkirakan kerugiannya mencapai puluhan ribu yuan. Obat-obatan yang tidak berhasil diselamatkan bernilai sekitar 10.000 yuan. Ia juga kehilangan sekitar 20.000 jin (sekitar 10 ton) gandum dan 20.000 jin jagung, selain beberapa karung pakan ternak dan bungkil kedelai.

Perabotan dan peralatan rumah tangga juga rusak, termasuk kulkas dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang nilainya sekitar 4.000–5.000 yuan. Selain itu, sebuah kendaraan roda tiga listrik seharga 4.800 yuan, traktor seharga 8.000 yuan, serta mesin pemuat seharga 9.000 yuan turut terdampak.

Zhang mengatakan bahwa apa yang dialaminya bukan kasus yang terisolasi. Para petani di daerah tersebut menghadapi masalah serupa. Bahkan ketika mereka ingin memompa keluar air, mereka menghadapi persoalan lain: “Airnya harus dibuang ke mana?”

Menurutnya, mereka hanya dapat menunggu hingga permukaan air di wilayah sekitar turun. Setelah itu, genangan di daerah mereka baru perlahan dapat dialirkan keluar. (***)

Unesa Dampingi Guru SD di Surabaya Dorong Manfaatkan AI untuk Kembangkan Bahan Ajar

SURABAYA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru bagi guru untuk menyusun bahan ajar secara lebih cepat, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melihat peluang tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memberikan pendampingan kepada guru-guru SD di Surabaya untuk meningkatkan kompetensi dalam mengembangkan bahan ajar dengan memanfaatkan teknologi AI.

Kegiatan yang berlangsung pada Juli 2026 di Ruang Seminar Jurusan Bahasa Inggris Unesa, Lidah Wetan, Surabaya, tersebut dilaksanakan secara luring dan daring. Pendampingan melibatkan tim dosen yang terdiri atas Dr. Ririn Pusparini, M.Pd., S.Pd., Esti Kurniasih, S.Pd., M.Pd., Retno Wulan Dari, S.Pd., M.Pd., dan Prianka Ratu Masitho, S.Pd., M.TESOL.

Ketua tim pendampingan, Eva Rahmawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahan ajar merupakan salah satu komponen penting yang turut menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan untuk menyusun bahan ajar secara sistematis serta menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

“Dengan kemajuan teknologi saat ini, menyusun bahan ajar tidak akan menjadi beban yang berat bagi guru jika guru dapat memanfaatkan AI dalam pengerjaannya,” ujar Eva dalam keterangan resminya, Rabu (19/8/2026).

Pendampingan tersebut diikuti guru-guru Bahasa Inggris yang sebelumnya telah mengembangkan perencanaan pembelajaran. Melalui kegiatan ini, peserta diarahkan untuk mengubah perencanaan pembelajaran tersebut menjadi bahan ajar yang lebih relevan dengan karakteristik peserta didik.

Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Unesa, Dr. Himmawan Adi Nugroho, S.Pd., M.Pd., turut mendorong para guru agar tidak sekadar menggunakan AI, tetapi mampu memanfaatkannya sebagai alat bantu untuk menghasilkan bahan ajar yang efektif.

“Guru harus mampu mengembangkan bahan ajar yang disesuaikan dengan peserta didiknya, dan AI dapat dimanfaatkan untuk memperingan tugas tersebut,” kata Himmawan.

G

Dalam proses pendampingan, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai pengembangan bahan ajar, mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran hingga menentukan bahan yang sesuai dengan tujuan tersebut.

Tim kemudian mendemonstrasikan pemanfaatan AI dalam proses pengembangan bahan ajar. Setelah memperoleh pemahaman dasar, para guru tidak berhenti pada sesi teori.

Peserta dibagi ke dalam kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga orang. Setiap kelompok didampingi seorang dosen yang bertindak sebagai fasilitator. Dengan memanfaatkan AI, para guru kemudian mengembangkan bahan ajar berdasarkan perencanaan pembelajaran yang telah mereka susun sebelumnya.

Hasil pengembangan bahan ajar tersebut selanjutnya dipresentasikan pada akhir kegiatan untuk mendapatkan masukan dan evaluasi.

Eva menegaskan, proses menghasilkan bahan ajar tidak selesai hanya dalam satu hari pendampingan. Produk yang dihasilkan peserta masih perlu disempurnakan agar benar-benar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa.

Karena itu, peserta diberi kesempatan untuk melakukan penyempurnaan secara mandiri setelah kegiatan. Mereka juga dapat berkonsultasi dengan dosen pendamping secara daring berdasarkan jadwal yang disepakati bersama.

“Diharapkan, melalui kegiatan pendampingan ini para peserta dapat menghasilkan bahan ajar yang dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didiknya,” tutur Eva.

Melalui program tersebut, Unesa berharap pemanfaatan AI tidak hanya membantu meringankan pekerjaan administratif guru, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kreativitas dan kualitas bahan ajar.

Dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara tepat, guru diharapkan semakin siap menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.

Pria Pengangguran Mengalami Gagal Ginjal Akut Setelah Bertahan Hidup Selama 20 Jari dengan Hanya Minum Air Setiap Kali Merasa Lapar

EtIndonesia.com Di tengah kemerosotan ekonomi Tiongkok, banyak anak muda kehilangan pekerjaan. Berbagai laporan bahkan menyebut ada orang yang pingsan karena kelaparan, bahkan meninggal dunia akibat kelaparan di jalanan. Baru-baru ini, media melaporkan kasus seorang pria berusia 30 tahun yang kehilangan pekerjaan dan mengalami kesulitan ekonomi. Setelah menahan lapar selama 20 hari, ia akhirnya jatuh dan dilarikan ke rumah sakit. Ia kemudian didiagnosis mengalami gagal ginjal akut.

Menurut laporan Southern Metropolis Daily, Rumah Sakit Pertama Universitas Zhejiang (Zhejiang University First Affiliated Hospital) pada 20 Agustus mempublikasikan sebuah kasus medis. Seorang pria berusia 30 tahun, yang disebut dengan nama samaran Yang, kehilangan pekerjaan, mengalami kesulitan keuangan, dan terlilit pinjaman daring.

Selama 10 hari penuh, ia hanya mengandalkan biskuit dan makanan ringan untuk mengganjal perut di rumah. Setelah makanan ringan tersebut habis, setiap kali merasa lapar ia minum air dalam jumlah sangat banyak. Kondisi ini berlangsung selama 10 hari berikutnya.

Namun, pada hari ke-21, ia mulai mengalami kram perut, pusing, tubuh sangat lemas, serta kesulitan berjalan. Ia bahkan terjatuh di rumah dan tidak mampu bangun. Yang kemudian menelepon layanan darurat 120 dan segera dibawa ke rumah sakit di Shenzhen. Ia didiagnosis mengalami gagal ginjal akut.

Setelah mengetahui kondisi tersebut, orang tua Yang membawanya kembali ke kampung halaman mereka di Jiangxi untuk melanjutkan pengobatan. Setelah menjalani tiga kali hemodialisis, tiba-tiba kedua matanya tidak dapat melihat dengan jelas. Ia hanya mampu melihat cahaya yang samar.

Keluarganya kemudian membawanya ke Rumah Sakit Pertama Universitas Zhejiang. Dokter menemukan bahwa Yang mengalami gangguan sistem saraf akut akibat kekurangan vitamin B1 yang sangat parah. Setelah mendapatkan suplementasi vitamin B1, penglihatannya mulai dapat menangkap cahaya kembali. Setelah menjalani perawatan yang disesuaikan dengan kondisinya, fungsi ginjalnya akhirnya berhasil pulih.

Pengalaman tersebut membuat banyak warganet daratan Tiongkok berkomentar:

“Aduh, situasi ekonomi sedang buruk, mencari uang semakin sulit, sementara harga barang semakin mahal!”

“Kasihan sekali.”

“Terlalu menyedihkan.”

“Ekonomi platform yang tidak sehat menyebabkan semakin banyak orang kehilangan pekerjaan!”

Seorang pengguna Weibo menyindir:

“Kemarin baru saja melihat pakar mengatakan bahwa pekerjaan fleksibel adalah sebuah keuntungan.”

Ada pula yang mengatakan bahwa sekarang mereka merasa kesal setiap kali melihat istilah seperti “kesejahteraan”, “keberuntungan”, atau “bonus”. Mereka menyinggung istilah-istilah seperti “996 adalah berkah”, “bonus demografi”, “bonus talenta”, dan “bonus insinyur”.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring perlambatan ekonomi dan meningkatnya pengangguran di daratan Tiongkok, terus muncul laporan mengenai anak muda yang diduga pingsan karena kelaparan di jalanan, bahkan meninggal akibat kelaparan.

Pada Agustus 2024, di Xi’an, pernah diberitakan kasus seorang perempuan lulusan universitas ternama Beijing yang termasuk kelompok universitas “211”. Setelah mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, perempuan tersebut dilaporkan meninggal karena kelaparan di kamar kontrakannya. Jenazahnya baru ditemukan sekitar 20 hari kemudian. Kasus tersebut menggemparkan internet Tiongkok.

Pada April lalu, warga Dongguan merekam seorang pemuda terbaring tak bergerak di trotoar. Dua petugas polisi berjaga di dekatnya, diduga sedang menunggu kendaraan datang untuk menangani jenazah. Sejumlah pejalan kaki menduga bahwa pria tersebut mungkin meninggal karena kelaparan.

Pada 25 Mei tahun ini, seorang pemuda di Wuhan tidak dapat menemukan pekerjaan. Setelah beberapa hari tidak makan, ia pingsan di pinggir jalan dan kehilangan kesadaran. Dua warga yang memberikan pertolongan mengatakan:

“Mereka ditipu oleh agen tenaga kerja berkali-kali. Beberapa hari sebelumnya ada seorang perempuan yang juga ditipu agen ilegal. Dia bekerja selama 18 hari, tetapi hanya dibayar 200 yuan.” (***)

Menggemparkan! Ribuan Ikan Mati Mengapung di Sungai di Henan, Tiongkok, Bau Busuk Menyengat

EtIndonesia.com  Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah besar ikan mati terlihat mengapung di sebuah sungai di Kota Zhoukou, Provinsi Henan, Tiongkok. Bau busuk yang menyengat tercium di lokasi, sementara pemandangan dalam video terlihat mengkhawatirkan.

Beberapa video yang diunggah oleh warganet setempat memperlihatkan sejumlah speedboat berada di sungai, sementara permukaan air dipenuhi ikan-ikan mati. Permukaan sungai tampak putih oleh ikan yang mengapung dengan perut menghadap ke atas dan jumlahnya sangat banyak. Rekaman lainnya juga memperlihatkan sejumlah besar ikan mati mengambang di sepanjang aliran sungai.

Menurut rangkuman laporan media daratan Tiongkok, sekitar pukul 08.00 pada 20 Agustus, seorang warga bermarga Zhang sedang melewati pintu air Sungai Shahe di Distrik Chuanhui, Kota Zhoukou, ketika melihat sejumlah besar ikan mati mengapung di dekat permukaan air. Bau amis dan busuk yang sangat kuat tercium di lokasi.

Zhang mengatakan, setelah banjir melanda pada 18 Agustus, ikan-ikan mati mulai bermunculan sedikit demi sedikit di permukaan Sungai Shahe. Jumlahnya semakin lama semakin banyak, sehingga ia khawatir kondisi tersebut dapat mencemari sungai.

Menanggapi kejadian tersebut, seorang petugas Biro Sumber Daya Air Kota Zhoukou mengatakan pada 20 Agustus bahwa wilayah tersebut baru-baru ini mengalami hujan deras. Kemungkinan ikan-ikan tersebut terdorong ke lokasi akibat pelepasan air dari hulu Sungai Shahe, yang menyebabkan tekanan arus cukup besar.

Warganet setempat kemudian meninggalkan berbagai komentar, antara lain:

“Banyak orang pergi mengambil ikan. Di sepanjang jalan baunya sangat menyengat.”

“Baunya sangat busuk. Di Jalan Jiaotong bahkan sangat menyengat.”

“Udara di mana-mana dipenuhi bau busuk.”

“Udara Zhoukou dipenuhi bau ikan mati. Sekarang hujan deras lagi, pulang ke rumah saja sulit.”

Pada 18 Agustus, banyak warga di daerah tersebut terlihat menangkap ikan. Ada warga yang bahkan menangkap ratusan kilogram ikan dengan tangan kosong.

Setelah ikan-ikan mati muncul di Sungai Shahe, sejumlah kecil warga terlihat berdiri di tepi sungai menggunakan jaring untuk mengambilnya. Namun, belum diketahui apakah ikan-ikan tersebut aman untuk dikonsumsi.

Para ahli mengingatkan bahwa ikan dan udang setelah banjir dapat membawa banyak bakteri dan virus, sehingga terdapat risiko kontaminasi. Mereka menyarankan agar ikan tersebut tidak dikonsumsi.

Beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa ikan-ikan tersebut mungkin berkumpul setelah air surut akibat hujan deras dan mati karena kekurangan oksigen.

Namun, terhadap penjelasan tersebut, banyak warganet justru menuding bahwa perusahaan-perusahaan setempat memanfaatkan hujan deras untuk membuang limbah, sehingga menyebabkan kematian massal ikan.

Sejumlah komentar warganet antara lain: “Sudahlah! Pabrik-pabrik kimia di sekitar sini setiap tahun memang menunggu musim hujan untuk membuang limbah. Apakah rakyat dianggap anak berusia tiga tahun sehingga bisa dibohongi begitu saja?”

“Banjir tidak akan menyebabkan ikan mati sebanyak ini.”

“Di mana ada kekurangan oksigen yang bisa membunuh ikan sebanyak ini? Ini jelas ada perusahaan yang memanfaatkan kekacauan untuk membuang limbah, bahkan kemungkinan zat beracun. Airnya sudah tercemar.”

“Itu semua air limbah dari pabrik kimia. Ikan-ikan mati karena terkena limbah tersebut.”

“Perusahaan-perusahaan yang mencemari lingkungan memanfaatkan hujan deras dan pelepasan air banjir untuk membuang limbah sesuka hati. Kesempatan gratis seperti ini hanya ada sekali setahun.”

“Perusahaan membuang limbah secara diam-diam, bahkan limbah yang sangat beracun. Ikan-ikan itu mati keracunan.”

“Kalau kekurangan oksigen, ikan akan berenang di lapisan atas air. Ini jelas ikan mati karena pencemaran limbah.”

“Sebaiknya ikan-ikan tersebut segera diangkat dan kemudian dimusnahkan atau ditangani dengan cara yang aman. Masyarakat jangan sampai mengambil dan memakannya!”

“Satu kali hujan deras, setengah limbah di Henan langsung terbuang.”

“Bahkan ikan saja bernasib sial karena hidup di tengah masyarakat seperti ini.” (***)

【Serial Sejarah】 Jiang Zemin yang Sebenarnya (Bagian 4)

【Catatan Redaksi】 Empat belas tahun lalu, The Real Jiang Zemin pertama kali diterbitkan untuk para pembaca. Empat belas tahun kemudian, Jiang Zemin telah meninggal dunia, tetapi warisan politik beracun yang ditinggalkannya belum lenyap. Banyak kekacauan dan krisis yang terjadi di Tiongkok saat ini dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Jiang memegang kekuasaan.

Pemerintahan yang dijalankan melalui korupsi, pengabaian supremasi hukum, penghancuran moral, serta penganiayaan terhadap Falun Gong—yang kemudian turut memperbesar mesin otoriter dan kekerasan Partai Komunis Tiongkok (PKT)—telah meninggalkan berbagai malapetaka yang tak berkesudahan bagi Tiongkok.

Untuk memahami PKT saat ini dan mengerti mengapa Tiongkok sampai berada dalam kondisi seperti sekarang, penting untuk memahami Jiang Zemin yang Sebenarnya. Oleh karena itu, artikel ini diterbitkan kembali.

Episode keempat serial sejarah “Jiang Zemin yang Sebenarnya”, berjudul “GDP Jiang Zemin (Bagian II)”.

“Orang Paling Korup di Tiongkok” — Jiang Mianheng

Pada 1980-an, posisi Jiang Zemin belum stabil. Ia kemudian mengirim putranya, Jiang Mianheng, untuk belajar di Amerika Serikat dan memperoleh green card sambil mengamati perkembangan situasi di Tiongkok. 

Setelah Jiang Zemin menguasai kekuasaan Partai, pemerintahan, dan militer pada 1992, ia meminta Jiang Mianheng segera kembali ke Tiongkok untuk “diam-diam menjadi kaya”. Jiang Mianheng pun kembali bersama seluruh keluarganya.

Pada Januari 1993, Jiang Mianheng bekerja di Institut Riset Metalurgi Shanghai di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Empat tahun kemudian ia menjadi direktur institut tersebut. Seiring semakin kuatnya posisi dan kekuasaan Jiang Zemin, Jiang Mianheng mulai terjun ke dunia bisnis, sehingga menurut artikel ini ia dapat memegang jabatan sekaligus mengumpulkan kekayaan.

Pada 1994, Jiang Mianheng menggunakan “pinjaman” senilai beberapa juta yuan RMB untuk membeli Shanghai United Investment Company, perusahaan milik Komisi Ekonomi Shanghai yang disebut bernilai lebih dari 100 juta yuan. Dari sinilah ia mulai membangun apa yang disebut sebagai “kerajaan telekomunikasi”.

Pada 2001, Shanghai United Investment dan perusahaan-perusahaan yang berada di bawahnya telah memiliki lebih dari sepuluh perusahaan, antara lain Shanghai Information Network, Shanghai Cable Network, dan China Netcom. Bisnisnya mencakup kabel, penerbitan elektronik, produksi CD, serta jaringan broadband dan perdagangan elektronik.

Menurut kalangan bisnis Shanghai, jumlah jabatan sebagai direktur yang dimiliki Jiang Mianheng sangat banyak. Ia disebut terlibat dalam berbagai bidang ekonomi penting di Shanghai, bahkan termasuk dewan direksi proyek terowongan lintas sungai dan Metro Shanghai. Artikel ini menyebut Jiang Mianheng sebagai “raja telekomunikasi Tiongkok” sekaligus tokoh besar di Shanghai.

Namun, menurut artikel tersebut, hal itu belum cukup bagi keluarga Jiang. Dalam sejarah PKT, seorang pengusaha sebesar apa pun tetap menghadapi risiko jika tidak memiliki jabatan politik sebagai perlindungan.

Pada 2 Desember 1999, nama Jiang Mianheng muncul dalam daftar pengangkatan pejabat Dewan Negara. Ia diangkat oleh Jiang Zemin sebagai Wakil Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, sehingga dengan cepat masuk ke jajaran elite kepemimpinan negara.

Pada Mei 2001, dalam Fortune Global Forum di Hong Kong, Jiang Zemin membawa Jiang Mianheng sebagai seorang “pemimpin negara” dan memperkenalkannya kepada para tokoh internasional, khususnya para pengusaha perusahaan multinasional. Menurut artikel tersebut, hal ini bertujuan memperluas kekuatan “kerajaan keluarga Jiang”. Pada saat itu, Jiang Mianheng disebut sebagai salah satu representasi tertinggi hubungan antara kekuasaan dan bisnis di PKT.

Sebelum berdirinya China Netcom, Jiang Mianheng merupakan pemilik “Netcom”. Ia bahkan menyatakan akan mengakuisisi “Northern Telecom”. Namun artikel tersebut menuduh bahwa perusahaan Netcom telah dikuras dan tidak memiliki kemampuan untuk membeli Northern Telecom.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Jiang Zemin disebut secara pribadi memerintahkan agar China Telecom dipecah menjadi dua, yaitu Northern Telecom dan Southern Telecom, dan aset tetap China Telecom di sepuluh provinsi bagian utara diserahkan kepada Netcom.

Pada September 2004, Netcom—salah satu dari empat perusahaan telekomunikasi besar Tiongkok dan yang terakhir belum melantai di bursa—terus menunda rencana IPO. Artikel tersebut mempertanyakan mengapa tiga perusahaan telekomunikasi besar lainnya memiliki kekuatan untuk melakukan IPO, sementara setelah memperoleh aset tetap dari sepuluh provinsi di wilayah utara, Netcom masih kekurangan aset.

Selama periode tersebut Jiang Mianheng melakukan tiga kali restrukturisasi terhadap Netcom, kemudian membatalkannya. Melalui serangkaian restrukturisasi dan pembatalan yang rumit, ia disebut mengumpulkan aset telekomunikasi milik negara untuk kepentingannya sendiri.

Zhang Chunjiang, presiden China Netcom yang direkrut oleh Jiang Mianheng, disebut pernah secara terbuka mengatakan bahwa semua itu dilakukan “demi mencatatkan saham di bursa”. Pada dasarnya aset milik negara telah dikuras dan diubah menjadi milik pribadi, sementara pembeli saham Netcom menjadi pihak yang menanggung kerugian.

Pada Mei 2012, dugaan penggunaan dana negara dalam jumlah besar oleh Jiang Mianheng dengan dalih “persatuan dan integrasi lintas Selat Taiwan” untuk membiayai bisnis pribadinya terungkap.

Salah satu kasus yang paling ramai diberitakan adalah kerja sama antara Jiang Mianheng dan Wang Wenyang, putra pengusaha Taiwan Wang Yongqing, untuk mendirikan Hongli Group dan membangun pabrik wafer di kawasan industri teknologi tinggi Zhangjiang, Pudong, Shanghai. Kerja sama tersebut sempat disebut sebagai kolaborasi besar antara “pangeran politik dan kekayaan” dari kedua sisi Selat Taiwan.

Ketika terus ditanya oleh media Taiwan, Wang Wenyang mengungkapkan bahwa dari modal investasi sebesar US$1,6 miliar yang disebut sebagai investasinya, ia sebenarnya tidak mengeluarkan uang sedikit pun. Seluruh dana puluhan miliar yuan disediakan oleh Jiang Mianheng, yang disebut sebagai pemilik sebenarnya.

Pengusaha properti Zhou Zhengyi, yang disebut sebagai salah satu orang terkaya di Shanghai, ditahan pada Mei 2003. Kasus tersebut disebut sebagai salah satu dugaan penipuan keuangan terbesar sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Penyelidikan kemudian mengarah kepada Jiang Mianheng.

Penyelidik disebut menemukan bahwa di Distrik Putuo, yang berbatasan dengan Distrik Jing’an, Jiang Mianheng bersama pemerintah Distrik Putuo juga memperoleh sebidang tanah dalam jumlah besar dengan cara yang mirip dengan kasus Zhou Zhengyi di Jing’an. Tanah yang diperoleh Jiang Mianheng dan Jiang Miancong di Shanghai disebut telah mendapat persetujuan penggunaan, tetapi diperoleh tanpa membayar uang.

Kerabat Keluarga Jiang Mengumpulkan Kekayaan

Putra kedua Jiang Zemin, Jiang Miancong, tidak seterkenal kakaknya, tetapi menurut artikel ini Jiang Zemin meminta Xu Caihou membantunya masuk ke Nanjing Military Region sebagai wakil komisaris politik dengan pangkat mayor jenderal.

Jiang Miancong sebelumnya bekerja di bidang radio dan tidak memiliki pengalaman yang berkaitan dengan militer. Menjelang Jiang Zemin pensiun, ia disebut merasa lebih percaya jika kendali militer diserahkan kepada putranya sendiri. Jiang Zemin ingin memindahkan Jiang Miancong ke Staf Umum, tetapi rencana tersebut ditolak oleh Chi Haotian.

Akhirnya, Jiang Miancong ditempatkan di Departemen Organisasi Departemen Politik Umum sebagai kepala biro kedua. Tidak lama kemudian ia dipromosikan menjadi wakil kepala departemen organisasi dan selanjutnya menjadi kepala departemen tersebut.

Jiang Shangqing memiliki dua putri, Jiang Zehui dan Jiang Zeling. Jiang Zemin disebut mempromosikan Jiang Zehui hingga menjadi pejabat setingkat kementerian. Sebelumnya, Jiang Zehui hanyalah seorang dosen biasa di Universitas Pertanian Anhui. Setelah Jiang Zemin naik ke tampuk kekuasaan, karier Jiang Zehui meningkat dengan sangat cepat: pertama menjadi dekan Fakultas Kehutanan Universitas Pertanian Anhui, kemudian menjadi rektor universitas tersebut, dan selanjutnya menjadi direktur Akademi Kehutanan.

Jiang Zemin juga memiliki kerabat dari pihak ibunya, Wu Zhiming, yang selama 18 tahun bekerja sebagai pekerja pengatur jalur kereta api di Bengbu, Anhui. Ia disebut tidak memiliki pendidikan atau keahlian khusus. Baru setelah Jiang Zemin menjadi Sekretaris Partai Kota Shanghai, Wu Zhiming masuk Partai dan memperoleh jabatan pada Maret 1986. Ia kemudian naik dengan cepat hingga menjadi pejabat setingkat wakil menteri.

Pada Juni 2002, Wu Zhiming telah menjabat sebagai anggota Komite Tetap Partai Shanghai, sekretaris Komisi Politik dan Hukum Shanghai, sekretaris Partai di Biro Keamanan Publik Shanghai, kepala kepolisian Shanghai, komisaris politik pertama Korps Polisi Bersenjata Shanghai, serta Ketua Komite Permusyawaratan Politik Rakyat Shanghai.

Pada Januari 2003, Jiang Zemin memindahkan keponakannya Xia Deren menjadi anggota Komite Tetap Partai Provinsi Liaoning, wakil sekretaris Partai Kota Dalian, sekaligus wali kota Dalian. Sejak saat itu, Jiang Zemin memiliki pengaruh besar di Dalian.

Zhou Yongkang mengaku sebagai keponakan dari istri Jiang Zemin dan sering membanggakan dirinya sebagai “orang dekat Ketua Jiang”. Dalam proses penganiayaan terhadap Falun Gong, Zhou Yongkang disebut termasuk salah satu pejabat yang paling aktif. Ia kemudian dipromosikan Jiang Zemin menjadi Menteri Keamanan Publik.

Pada Kongres Nasional ke-17 PKT tahun 2007, Zhou Yongkang dipromosikan Jiang Zemin menjadi sekretaris Komisi Politik dan Hukum Pusat dan masuk ke jajaran Komite Tetap Politbiro.

Selain itu, jumlah kerabat Jiang Zemin yang secara terang-terangan maupun diam-diam memperoleh jabatan atau mengumpulkan kekayaan sulit dihitung.

Dugaan Kasus Keluarga Zhou Yongkang dan Zeng Qinghong

Jiang Mianheng  dituduh memperoleh kekayaan melalui perusahaan milik negara. Setelah kasus Bo Xilai terungkap, semakin banyak kasus yang melibatkan anggota kelompok politik keluarga Jiang bermunculan.

Salah satunya adalah Zhou Bin, putra Zhou Yongkang. Menurut laporan Apollo News pada 8 April 2012, Zhou Bin dituduh menggunakan kekuasaan ayahnya dan bekerja sama dengan sejumlah pejabat serta pengusaha swasta untuk melakukan rekayasa dalam restrukturisasi kepemilikan Pabrik Minuman Keras Langjiu di Gulin, Sichuan.

Artikel tersebut menuduh mereka menggunakan aset perusahaan milik negara sebagai jaminan pinjaman, kemudian melakukan penilaian aset dengan harga rendah dan menjual perusahaan tersebut dengan harga murah. Pabrik tersebut sebelumnya memiliki aset tetap sekitar 1,7 miliar yuan dan berada dalam kondisi menguntungkan.

Zhou Bin dan pihak-pihak lain disebut memperoleh aset perusahaan dengan cara yang digambarkan sebagai “meminjam tangan untuk mendapatkan keuntungan tanpa modal”, dengan nilai hampir 3 miliar yuan, termasuk aset tetap sebesar sekitar 1,728 miliar yuan, minuman keras yang disimpan senilai sekitar 1 miliar yuan, serta aset tidak berwujud perusahaan.

Keluarga Zeng Qinghong

Zeng Qinghong merupakan salah satu tokoh paling berkuasa pada era Jiang Zemin dan disebut sebagai salah satu orang kepercayaan terdekat Jiang, selain Zhou Yongkang.

Pada 1989, ia mengikuti Jiang Zemin ke Beijing dan menjadi wakil kepala Kantor Umum Komite Sentral PKT. Pada 1992, ia disebut memainkan peran penting dalam membantu Jiang Zemin mempertahankan kekuasaannya setelah konflik politik yang melibatkan kelompok keluarga Yang.

Zeng Qinghong kemudian menjadi anggota Komite Tetap Politbiro, sekretaris Sekretariat Komite Sentral, serta kepala Sekolah Partai Pusat. Dari 2003 hingga 2008, ia menjabat Wakil Presiden Republik Rakyat Tiongkok.

Xin Ziling, yang pernah menjadi wakil direktur Departemen Riset Politik Universitas Militer PLA dan kepala penerbit akademi militer, kemudian menerbitkan tulisan di media luar negeri yang secara terbuka menuduh mantan Wakil Presiden Zeng Qinghong melakukan korupsi besar.

Menurut tulisan Xin Ziling, pada 2006 putra Zeng Qinghong, Zeng Wei, memperoleh pinjaman bank sebesar 70 juta yuan untuk membeli sebuah tambang batu bara di Taiyuan, Shanxi. Melalui perusahaan penilai yang memiliki hubungan tertentu, tambang tersebut kemudian dinilai mencapai 750 juta yuan.

Selanjutnya, perusahaan milik negara terbesar di Shandong, Luneng Group, disebut mengeluarkan 750 juta yuan untuk membeli tambang tersebut. Melalui beberapa transaksi serupa, Zeng Wei yang awalnya disebut tidak mengeluarkan modal sendiri akhirnya memiliki aset senilai 3,3 miliar yuan.

Zeng Wei menggunakan 3,3 miliar yuan itu untuk membeli 91,6% saham Shandong Luneng, yang menurut catatan buku bernilai 73,805 miliar yuan dan nilai aktualnya diperkirakan mencapai 110 miliar yuan atau lebih.

Hubungan Jiang Zemin dengan Bo Xilai

Jiang Zemin pernah mendapat dukungan politik dari Bo Yibo, sehingga menurut artikel ini ia kemudian membalas budi kepada putra Bo Yibo, Bo Xilai.

Bo Xilai juga disebut berusaha keras menyenangkan Jiang Zemin. Ia menjadi salah satu pejabat pertama yang memasang potret raksasa Jiang Zemin di depan gedung Pemerintah Kota Dalian.

Dalam mengikuti kampanye Jiang Zemin terhadap Falun Gong, Bo Xilai disebut sangat aktif sehingga memperoleh kepercayaan Jiang Zemin. Artikel ini menuduh bahwa Jiang Zemin memberikan perlindungan politik yang besar terhadap dugaan korupsi Bo Xilai.

Menurut laporan Asahi Shimbun pada 21 April 2012, penyelidikan otoritas PKT disebut mengonfirmasi bahwa Bo Xilai dan istrinya telah memindahkan US$6 miliar dana ilegal ke luar negeri.

Utang Pemerintah

Menurut laporan The Wall Street Journal, ketika Bo Xilai menjadi Sekretaris Partai Komunis Kota Chongqing, pemerintah kota tersebut berusaha mengejar pertumbuhan ekonomi guna membantu Bo memperoleh posisi lebih tinggi di pemerintahan pusat. Dalam proses tersebut, Chongqing disebut menumpuk utang hingga puluhan miliar dolar AS.

Setelah Bo Xilai menjadi Sekretaris Partai Chongqing pada 2007, pinjaman dari berbagai bank di Chongqing meningkat tajam.

Shi Zonghan, pakar masalah utang pemerintah daerah Tiongkok dari Northwestern University, menyatakan bahwa pada akhir 2011, total utang pemerintah daerah, perusahaan milik negara, dan pengembang milik negara di Chongqing mencapai sekitar 1 triliun yuan.

Menurut laporan media, selama “Dua Sesi” tahun 2013, Wakil Kepala Kantor Audit Nasional Dong Dasheng mengatakan bahwa hingga akhir 2010, utang pemerintah pusat Tiongkok mencapai sekitar 7,7 triliun yuan, sedangkan utang pemerintah daerah mencapai 10,71 triliun yuan.

Dengan mempertimbangkan adanya fluktuasi pada sebagian utang pemerintah daerah, diperkirakan total utang seluruh tingkat pemerintahan saat itu mencapai 15–18 triliun yuan.

Pada Juli 2013, Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pertama kalinya mempublikasikan penilaiannya mengenai tingkat utang pemerintah Tiongkok. Menurut perkiraan tersebut, total utang provinsi, kota, kabupaten, dan desa di Tiongkok berada di kisaran 10–20 triliun yuan, setara dengan sekitar 20–40% perekonomian Tiongkok.

“Pertumbuhan Buatan”

Ungkapan “pejabat menghasilkan angka, angka menghasilkan jabatan” menggambarkan pentingnya GDP bagi pejabat pemerintah Tiongkok. GDP dianggap sebagai ukuran prestasi dan modal untuk memperoleh promosi. Karena itu, menurut artikel ini, manipulasi data statistik GDP menjadi semakin umum.

Pada 2011, total GDP dari 31 provinsi, daerah otonom, dan kota di Tiongkok mencapai 51,8 triliun yuan, sekitar 4,6 triliun yuan lebih tinggi daripada angka yang diumumkan Biro Statistik Nasional. Selisih tersebut setara dengan total GDP Provinsi Shandong pada tahun yang sama.

Menurut kabel diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks, ketika membahas data ekonomi Tiongkok dengan duta besar Amerika Serikat, Li Keqiang disebut mengatakan bahwa ia terutama memperhatikan tiga indikator: konsumsi listrik, volume pengangkutan kereta api, dan jumlah pinjaman yang disalurkan.

Li Keqiang disebut mengatakan bahwa data GDP Tiongkok hanya memiliki “nilai referensi” dan merupakan sesuatu yang “dibuat oleh manusia”.

Dari contoh bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghadapi krisis keuangan global 2008, dapat terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat bukanlah fenomena spontan yang muncul dari mekanisme pasar dalam proses transformasi dari ekonomi terencana yang tersentralisasi menuju ekonomi pasar. Sebaliknya, pertumbuhan tersebut merupakan “pertumbuhan buatan”, yang dihasilkan oleh tingkat pemusatan kekuasaan ekonomi yang tinggi dan dikendalikan melalui kekuatan administratif pemerintah.

Sebagai respons gelombang pertama terhadap krisis, paket stimulus 4 triliun yuan yang diumumkan PKT pada November 2008 nilainya sebanding dengan hampir 800 miliar dolar AS dana penyelamatan ekonomi yang dikeluarkan pemerintahan Barack Obama di Amerika Serikat pada Februari 2009.

Namun, total perekonomian Tiongkok saat itu kurang dari separuh perekonomian Amerika Serikat, sementara Amerika Serikat sendiri merupakan sumber awal krisis tersebut. Jika dihitung berdasarkan proporsi terhadap ukuran ekonomi masing-masing, kebijakan Tiongkok tersebut jelas merupakan tindakan “meminum racun untuk menghilangkan dahaga”—yakni mengatasi krisis jangka pendek dengan mengorbankan kesehatan sistem ekonomi dalam jangka panjang.

Namun, jika mempertimbangkan kebutuhan untuk mempertahankan korupsi dan stabilitas rezim, respons semacam itu menjadi dapat dipahami.

Tim Penulis The Real Jiang Zemin
Diproduksi bersama oleh New Tang Dynasty Television (NTD)

Kapal Kelebihan Muatan Terbalik di Nigeria, Baru Berangkat Satu Menit, Lebih dari 50 Orang Tewas 

EtIndonesia.com Pada 20 Agustus, terjadi kecelakaan kapal di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut. Sebuah kapal yang diketahui kelebihan muatan tenggelam hanya sekitar satu menit setelah berangkat. Seorang warga setempat mengatakan kepada AFP bahwa sedikitnya 51 orang tewas, sementara pihak berwenang masih melakukan pencarian dan penyelamatan.

Mantan anggota dewan Distrik Goronyo, Ibrahim Musa, mengatakan: “Situasinya sangat buruk… Kami sudah memakamkan 46 jenazah, dan lima jenazah lainnya baru saja ditemukan dari sungai.”

Seorang petani setempat, Ilyasu Adamu, mengatakan kapal tersebut jelas kelebihan muatan dan tenggelam hanya satu menit setelah berangkat.

“Para penumpang awalnya hendak menuju lahan pertanian di seberang sungai. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Beberapa di antara anak perempuan itu bahkan sudah hampir menikah,” ujarnya kepada AFP. 

Menurut Adamu, jumlah korban meninggal dunia setidaknya mencapai 48 orang.

Sementara operasi penyelamatan terus berlangsung, jumlah korban tewas masih terus berubah.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Keadaan Darurat (NEMA) di Negara Bagian Sokoto, Dahir Kure, mengatakan kepada AFP bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung.

Nigeria memiliki banyak sungai dan jalur air yang ramai digunakan untuk transportasi. Kecelakaan kapal juga sering terjadi. Penyebabnya biasanya meliputi kelebihan muatan, kondisi kapal yang buruk akibat kurang perawatan, atau tidak mematuhi aturan keselamatan. Setiap tahun, puluhan orang dilaporkan tewas akibat tenggelam dalam kecelakaan kapal.

Kaum Muda Ramai-Ramai Membuat Wasiat, Pakar : Bentuk Perlindungan Diri Pasif di Tengah Kekacauan Sosial

EtIndonesia.com  Beberapa tahun terakhir berbagai bencana alam dan musibah terus terjadi di Tiongkok, sementara kasus kematian mendadak di kalangan usia muda dan produktif dilaporkan meningkat. Semakin banyak anak muda mulai membuat wasiat sejak dini. 

Para analis menilai bahwa tren “wasiat di usia muda” mencerminkan kecemasan sistemik yang ditimbulkan oleh memburuknya kondisi ekonomi dan kekacauan sosial, sekaligus menjadi sinyal bahwa generasi muda telah kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.

Dalam pandangan tradisional, membuat wasiat biasanya dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan oleh orang lanjut usia. Namun kini, membuat wasiat secara bertahap menjadi pilihan di kalangan anak muda Tiongkok.

Mahasiswa perguruan tinggi di daratan Tiongkok :  “Saya berusia 20 tahun dan sekarang mahasiswa tingkat tiga. Menurut saya, mengikuti proses pembuatan wasiat juga merupakan salah satu cara untuk merenungkan kehidupan saya.”

Siswa sekolah menengah atas di Tiongkok daratan:  “Saya baru berusia 18 tahun. Menurut saya, hal ini memang seharusnya dilakukan. Ini merupakan bentuk pengaturan kehidupan yang lebih baik.”

Seorang pekerja industri internet berusia 26 tahun bermarga Jiang mengatakan bahwa beberapa temannya meninggal secara tiba-tiba akibat kecelakaan. Hal itu membuatnya memutuskan untuk membuat wasiat lebih awal. Jika sesuatu terjadi pada dirinya, keluarganya tidak perlu menghadapi kekacauan dalam mengurus harta maupun pemakaman.

Menurut Buku Putih Tahunan 2025 China Will Registration Center, jumlah orang berusia di bawah 30 tahun yang membuat wasiat meningkat 42,3% dibandingkan 2024. Tahun lalu, jumlah wasiat yang didaftarkan oleh generasi yang lahir pada tahun 2000-an telah melampaui 200 dokumen, menunjukkan bahwa generasi muda semakin cepat mulai merencanakan urusan setelah kematian.

Wakil direktur kantor notaris internet di Hangzhou mengatakan, ketika dirinya mulai bekerja dalam layanan notarisasi wasiat pada 2006, sebagian besar orang yang datang adalah lansia berusia 70–80 tahun. Kini, anak muda yang baru berusia 18 tahun datang untuk berkonsultasi dan membuat wasiat sudah menjadi hal yang sangat umum.

Isi wasiat kaum muda juga tidak lagi terbatas pada aset tradisional seperti rumah dan tabungan. Akun gim, akun media sosial, perawatan hewan peliharaan, keinginan untuk mendonorkan organ, hingga pengaturan pemakaman pribadi kini turut dimasukkan dalam perencanaan wasiat.

Selain itu, seiring bertambahnya jumlah orang yang lajang, bercerai, dan tinggal sendirian, layanan kombinasi “perwalian yang ditentukan sebelumnya + wasiat” juga semakin mendapat perhatian.

Pada Desember tahun lalu, seorang perempuan lajang yang tinggal sendirian di Shanghai, bermarga Jiang, meninggal dunia dan meninggalkan harta sekitar 3 juta yuan RMB. Karena tidak memiliki ahli waris, harta tersebut akhirnya diterima oleh departemen urusan sipil. 

Ketika Jiang menjalani perawatan darurat di rumah sakit, kerabat jauhnya yang mengurus pemakaman bahkan tidak dapat menggunakan sepeser pun dari hartanya untuk membayar biaya pengobatan, pemakaman, maupun membeli makam. Kasus ini membuat banyak orang mulai menyadari pentingnya mengatur urusan setelah kematian sejak dini.

Influencer internet dari daratan Tiongkok :  “Kasus Nyonya Jiang juga menjadi peringatan bagi kita. Kita memang perlu secepatnya membuat pengaturan mengenai ‘perwalian yang ditentukan sebelumnya’.”

Mengenai tren anak muda di Tiongkok daratan yang ramai-ramai membuat wasiat, cendekiawan independen Lai Jianping menilai bahwa fenomena tersebut mencerminkan ketidakpastian yang semakin besar yang dirasakan kaum muda terhadap masa depan.

Lai Jianping, mantan pengacara Beijing dan cendekiawan independen:  “Semua orang semakin merasakan bahwa masyarakat Tiongkok saat ini berada dalam kondisi kacau dan kehilangan norma. Dalam bidang ekonomi, lapangan pekerjaan, pernikahan, keluarga, maupun hubungan asmara, semuanya tampak kacau, penuh risiko dan ketidakpastian.”

Lai Jianping mengatakan banyak anak muda tidak mampu mengubah lingkungan sosial yang mereka hadapi. Karena itu, mereka hanya dapat mengatur urusan setelah kematian sejak dini untuk mengurangi konflik dan penyesalan apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga.

 “Berbagai faktor ekonomi dan sosial menumpuk menjadi satu, sehingga mereka merasa cemas dan putus asa serta menganggap tidak ada jalan keluar. Namun, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar tersebut,” katanya. 

“Jadi, mereka hanya dapat melakukan perlindungan diri secara pasif dan defensif. Mereka berpikir, seandainya besok saya meninggal karena alasan apa pun, setidaknya jika saya sudah membuat pengaturan sebelumnya, saya telah menjalankan tanggung jawab dasar saya,” ujarnya. 

Zhang Junjie, seorang mahasiswa asal Tiongkok daratan yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat, mengatakan bahwa tren anak muda membuat wasiat merupakan tanda bahwa kekuatan spiritual masyarakat Tiongkok sedang perlahan runtuh dan disebut sebagai pertanda bahwa rezim otoriter akan menuju kehancuran.

 “Semakin banyak orang sekarang menyadari bahwa hari esok belum tentu lebih baik daripada hari ini, dan tahun depan belum tentu lebih baik daripada tahun ini. Nasib dan kehidupan generasi berikutnya sudah berada dalam keadaan yang tidak dapat diprediksi,” katanya. 

“Semakin banyak anak muda yang hidup dalam ketakutan, kebingungan, dan kecemasan, serta semakin kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat Tiongkok. Melalui cara seperti membuat wasiat, mereka juga menyampaikan perlawanan dan ketidakpuasan secara diam-diam terhadap masyarakat Tiongkok,” ujarnya. 

Di internet, sebuah pertanyaan yang berbunyi, “Apakah kamu bangga telah membuat anak-anak muda hidup dalam ketakutan dan kecemasan seperti ini?”, telah beredar luas dan dianggap mewakili suara banyak warganet di daratan Tiongkok.