Menurut proyeksi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah kelahiran di Tiongkok pada tahun 2025 telah turun di bawah 9 juta jiwa. Yang sangat kontras dengan penurunan tajam jumlah bayi baru lahir ini adalah jumlah lulusan perguruan tinggi nasional yang justru mencetak rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu lebih dari 12 juta orang.
Satu turun, satu naik—generasi muda yang terjepit di tengah kondisi ini sedang menjalani sebuah “ketidakcocokan hidup” yang sunyi. Di tengah kelesuan ekonomi Tiongkok dan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan PKT yang keras, kaum muda memilih tidak menikah dan tidak memiliki anak, sepenuhnya kehilangan harapan akan masa depan.
Seorang blogger daratan Tiongkok: “Tidak bekerja, tidak membeli rumah, tidak menikah, tidak punya anak—generasi pasca-2000 yang ‘empat kosong’ seperti ini, coba katakan pada saya, dengan apa lagi kalian mau ‘memanen’ mereka?”
Etindonesia. Memasuki tahun baru, data terbaru PBB menunjukkan bahwa total jumlah kelahiran di Tiongkok sepanjang tahun 2025 hanya 8,71 juta jiwa. Pangsa Tiongkok dalam jumlah kelahiran global untuk pertama kalinya turun di bawah 7%, menandakan bahwa negara ini tengah mempercepat langkahnya memasuki era kelahiran rendah.
Penulis kolom Epoch Times, Wang He, mengatakan: “Dari proyeksi PBB saat ini, kita bisa menarik dua kesimpulan. Pertama, penurunan angka kelahiran di Tiongkok telah menjadi tren jangka panjang. Kedua, memburuknya struktur demografi semakin dalam. Populasi Tiongkok kini sudah mengalami pertumbuhan negatif, dengan tingkat kelahiran yang sangat rendah. Negara ini telah terperangkap dalam jebakan tingkat kelahiran rendah dan tingkat fertilitas total yang rendah.”
Selama empat puluh tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok (PKT) menerapkan kebijakan satu anak dalam jangka panjang, yang menyebabkan ketidakseimbangan serius dalam struktur penduduk. Menurut data resmi PKT, sejak 2022 jumlah kelahiran di Tiongkok mulai mengalami pertumbuhan negatif dan turun di bawah ambang 10 juta. Pada tahun 2024, jumlah kelahiran hanya mencapai 9,54 juta jiwa.
Wang He menambahkan: “Kerusakan yang dilakukan PKT terhadap struktur demografi Tiongkok sudah mencapai tingkat yang tidak dapat diperbaiki. Ini adalah sebuah kejahatan besar. Namun hingga kini, PKT sama sekali tidak pernah menyampaikan permintaan maaf sedikit pun atas kebijakan perencanaan keluarga yang jahat tersebut. Memburuknya situasi demografi Tiongkok sepenuhnya merupakan akibat langsung dari kebijakan jahat PKT ini.”
Sementara jumlah bayi baru lahir terus mencapai titik terendah, data yang dirilis Kementerian Pendidikan PKT menunjukkan bahwa jumlah lulusan perguruan tinggi angkatan 2025 diperkirakan mencapai 12,22 juta orang, kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Ini juga merupakan tahun keempat berturut-turut jumlah lulusan melampaui angka “10 juta”.
Namun, platform pengembangan karier “Zhaopin” menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan pencarian kerja bagi lulusan bergelar magister ke atas telah turun menjadi hanya 44,4%. Banyak lulusan terjebak dalam kondisi “lulus berarti menganggur”. Laporan menyebutkan bahwa fenomena “pendidikan tinggi, pekerjaan rendah” semakin meluas di berbagai daerah di Tiongkok.
Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, istilah “pemuda empat tidak”—yakni tidak pacaran, tidak menikah, tidak membeli rumah, dan tidak memiliki anak—telah menjadi istilah populer di seluruh negeri.
Seorang pemuda Tiongkok mengatakan: “Karena kondisi lingkungan secara keseluruhan memang sangat buruk sekarang. Semua orang sulit mencari pekerjaan. Dengan gaji yang minim saja sudah sulit untuk menghidupi diri sendiri, apalagi punya kemampuan untuk menopang kehidupan baru.”
Analisis menunjukkan bahwa seiring dengan kelesuan ekonomi Tiongkok, suramnya prospek pekerjaan dan karier kaum muda, serta ketidakseimbangan serius dalam struktur demografi, berbagai masalah sosial tak terelakkan akan muncul.
“Situasi terbaru menunjukkan pertumbuhan negatif secara menyeluruh, dan ini sangat berbahaya. Pada akhirnya, jumlah kelahiran akan menjadi sangat kecil, sementara kelompok lansia menjadi sangat besar. Hal ini akan membawa dampak besar terhadap keseimbangan pembangunan ekonomi dan stabilitas sosial secara keseluruhan,” ujar ekonom dari Washington Institute of Information and Strategy, Li Hengqing. (Hui)
Laporan wawancara oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Tang Rui
EtIndonesia. Kabut tebal melanda Kaifeng, Provinsi Henan, Tiongkok. Insiden tersebut menyebabkan kecelakaan tabrakan beruntun. Sebuah bus penumpang terlihat setengah berada di luar pagar pengaman jembatan, situasinya sangat berbahaya.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, pada 2 Januari pagi, tabrakan yang melibatkan banyak kendaraan terjadi di Jembatan Jalan Raya Sungai Kuning di Kaifeng, Henan.
Video yang beredar di internet memperlihatkan kondisi jembatan yang kacau, dengan banyak kendaraan bertabrakan dan rusak parah. Selain itu, lokasi “tabrakan beruntun” tidak hanya di satu titik. Disebutkan secara daring bahwa puluhan kendaraan terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Video juga menunjukkan sebuah bus penumpang dengan bagian depan hancur, tersangkut di pagar pengaman jembatan. Roda depan kiri menggantung di udara, dan setengah badan bus sudah menjorok keluar pagar.
Dari area pintu bus terlihat darah mengalir hingga ke pagar pengaman. Diduga ada penumpang yang mengalami luka serius, dan hingga kini belum diketahui apakah masih hidup atau tidak.
Media resmi pemerintah daerah Tiongkok melaporkan bahwa bus yang terlibat merupakan bus antarkota rute Changyuan–Shangqiu. Seorang petugas tiket di dalam bus mengatakan bahwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 9 pagi, saat jarak pandang di atas jembatan sangat rendah.
Sopir tidak menyadari bahwa di depan telah terjadi tabrakan beruntun. Ketika akhirnya terlihat jelas, sopir hanya sempat membanting setir ke jalur berlawanan yang kosong, namun akhirnya menabrak pagar pengaman jembatan. Untungnya, bus tidak sampai terjun ke bawah jembatan.
Media resmi mengklaim bahwa “tidak ada korban luka” di dalam bus tersebut. Namun jika dibandingkan dengan video di lokasi kejadian, pernyataan ini jelas merupakan kebohongan demi “menjaga stabilitas”. Foto-foto lokasi kejadian yang dipublikasikan media resmi juga sengaja menutupi noda darah di area pintu bus.
Hingga kini belum ada pengumuman resmi yang merinci kejadian tersebut. Jumlah korban tewas dan luka dalam kecelakaan beruntun ini masih belum diketahui. (Hui)
Sabtu (3/1/2026) dini hari, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan darat, laut, dan udara untuk melancarkan serangan presisi berskala belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Venezuela. Operasi ini berhasil menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro beserta istrinya.
Aksi ini mengirimkan sinyal kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT), Iran, dan rezim tirani lainnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pesan Amerika adalah: “Jangan bermain trik dengan Presiden Trump, karena akibatnya tidak akan baik.”
Presiden Trump pada Sabtu menyatakan bahwa penangkapan Maduro adalah: “Salah satu demonstrasi kekuatan dan kemampuan militer Amerika paling mengagumkan, paling efektif, dan paling mengguncang dalam sejarah Amerika Serikat.”
Menteri Perang AS Pete Hegseth, saat membahas operasi penangkapan Maduro, mengatakan: “Koordinasi, kerahasiaan, daya hancur, presisi, serta jangkauan hukum Amerika — semuanya ditampilkan secara penuh pada operasi malam itu.”
Peringatan kepada Rezim Tiran : Trump Tidak Selamanya Memberi Kesempatan
Hegseth menyatakan bahwa Maduro pernah diberi kesempatan, seperti halnya Iran pernah diberi kesempatan, “Sampai mereka tidak lagi punya kesempatan, sampai ia tidak lagi punya kesempatan.”
Maduor pada akhirnya memilih menempuh jalan bunuh diri politik dan menanggung akibatnya.
Asap tebal mengepul dari Caracas, ibu kota Venezuela, setelah AS melancarkan serangan udara pada 3 Januari 2026. Pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Maduro selama operasi tersebut. (Jose Abreu/@Jabreu89 /X/AFP)
“Sulit diungkapkan dengan kata-kata tentang keberanian, kekuatan, dan presisi operasi sejarah ini. Ini adalah operasi gabungan militer dan penegakan hukum berskala besar, dilaksanakan secara sempurna oleh orang-orang Amerika terbaik,” kata Hegseth.
Hegseth menekankan, Amerika mengirim pesan kepada musuh bahwa militer AS dapat bertindak kapan saja dan di mana saja.
Ia mengatakan, tidak ada negara lain di dunia yang mampu melakukan operasi seperti ini, bahkan mendekatinya pun tidak mungkin. Belum pernah ada presiden yang menunjukkan kepemimpinan, keberanian, dan tekad seperti ini.
Bagi dia, ini adalah kombinasi kekuatan terkuat yang pernah ada dalam sejarah dunia. Seperti yang dikatakan Presiden, musuh kita tetap berada dalam kondisi waspada. Amerika dapat bertindak sesuai rencana, kapan pun dan di mana pun.
NBC News menganalisis, operasi terhadap Maduro akan membuat Partai Komunis Tiongkok (PKT) memperhatikan dengan cermat, sementara Iran akan merasa cemas.
Pesan yang dikirim oleh Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri AS Rubio akan terdengar jelas oleh musuh-musuh Amerika di seluruh dunia.
Presiden Trump menyatakan, Amerika memiliki: “Kemampuan dan keahlian yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh musuh-musuh kami.”
Rubio menegaskan, ini adalah pesan kepada dunia, khususnya bagi mereka yang suka bermain trik: “Jangan bermain trik. Jangan bermain trik dengan Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, karena tidak akan ada hasil yang baik.”
NBC menyebut, di Iran, ketika rakyat turun ke jalan dalam protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Trump hanya dalam satu malam membalik rezim Maduro, yang akan membuat pihak berwenang Iran sulit tidur.
Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan mencatat, bahwa beberapa jam setelah pejabat PKT bertemu Maduro, Presiden Trump langsung melakukan operasi penangkapan Maduro hidup-hidup
Maduro pada 2 Januari memposting di akun Instagramnya video dan foto pertemuannya dengan delegasi PKT, menyebut pertemuan dengan utusan khusus Xi Jinping, Qiu Xiaoqi, “menyenangkan”, dan menegaskan, “Venezuela dan Tiongkok (PKT) adalah saudara,” serta menekankan, “ikatan kokoh antara kedua negara.”
NBC menyatakan, jika pertemuan PKT dan Maduro dimaksudkan untuk mengirim pesan ke Washington, jelas pesan itu gagal total. Aksi Trump menangkap hidup Maduro mengirim pesan yang jelas ke PKT: “Belahan Barat bukan wilayahmu.”
Pengamat urusan Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, Tang Jingyuan, menggambarkan operasi ini sebagai “peristiwa penanda (landmark) dalam hubungan internasional modern.”
“Penangkapan dan ekstradisi Maduro menandakan bahwa keamanan nasional Amerika Serikat—terutama dalam ranah geopolitik—telah menjadi prioritas absolut,” katanya.
“Dari sudut pandang Washington, Maduro telah lama kehilangan legitimasi melalui manipulasi pemilu dan keterlibatan negara dalam perdagangan narkoba yang secara langsung mengancam keamanan AS,” imbuhnya.
Tang mengatakan bahwa langkah Washington mencerminkan keputusan sadar pemerintahan Trump untuk tidak lagi memperlakukan sebagian pemimpin asing sebagai ‘penguasa berdaulat yang kebal hukum’, melainkan sebagai pelaku kriminal.
“Bagi para pemimpin yang telah kehilangan legitimasi dan melakukan kejahatan besar, Amerika Serikat kini memandang dirinya memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk bertindak sebagai penegak hukum internasional,” ujarnya.
Nicolás Maduro berjalan bersama istrinya Cilia Flores saat tiba di bandara Beijing pada 13 September 2018. Istana Miraflores/Handout via Reuters
Gaung Panama 1989
Shen Ming-shih, peneliti di Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mencatat bahwa meskipun operasi ini luar biasa, bukan tanpa preseden. Pada 1989, Amerika Serikat pernah menangkap pemimpin Panama Manuel Noriega dan membawanya ke AS atas dakwaan perdagangan narkoba.
Shen mengatakan bahwa penggerebekan di Venezuela jauh lebih berdampak besar, mengingat ukuran negara itu yang lebih besar serta keterkaitannya yang dalam dengan Tiongkok dan Rusia.
“Di permukaan, pelanggaran utama Maduro adalah menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, Washington juga sangat khawatir terhadap ekspor minyak Venezuela ke Partai Komunis Tiongkok (PKT), kerja samanya yang luas dengan Tiongkok, serta hubungan eratnya dengan Rusia,” ujarnya.
“Itulah sebabnya intervensi militer ini memiliki implikasi besar—bukan hanya bagi Amerika Selatan, tetapi juga bagi Tiongkok dan Rusia.”
Shen menegaskan bahwa misi ini merupakan tindakan penegakan hukum yang terarah terhadap individu tertentu, bukan sebuah aksi perang.
Warga Venezuela yang tinggal di Spanyol merayakan di alun-alun Puerta del Sol di Madrid pada 3 Januari 2026, setelah pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro setelah melancarkan serangan ke Venezuela. Pierre-Philippe Marcou/AFP via Getty Images
Menghindari Perang Darat Berkepanjangan
Mark Cao, analis teknologi militer yang berbasis di Amerika Serikat, mantan insinyur material, sekaligus host kanal berita militer berbahasa Mandarin di YouTube “Mark Space”, mengatakan bahwa operasi ini mencerminkan upaya terukur demi menghindari perang darat yang mahal dan berkepanjangan. Hal demikian justru berpotensi menimbulkan korban besar di pihak Amerika Serikat.
“Dengan menangkap Maduro dan istrinya, rezim Maduro dipecah berkeping-keping, dan Amerika Serikat berhasil menghindari perang darat yang panjang dan mahal,” katanya. “Strategi ini menyingkirkan penghalang utama dalam rezim tersebut.”
Cao mengatakan pendekatan ini juga memberikan pukulan psikologis yang tajam kepada Beijing dan Moskow. Apalagi kedua rezim ini mendukung Maduro secara diplomatik dan ekonomi.
Maduro diketahui bertemu dengan delegasi yang mewakili Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya beberapa jam sebelum ia ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi semalam.
“Tiongkok baru saja mengirim utusan sebagai sinyal dukungan,” ujar Cao. “Namun sebelum bantuan material apa pun sempat tiba, rezim itu sudah runtuh.”
Tidak Ada Tempat Aman bagi Bandar Narkoba
Ketua Komite Intelijen Senat AS, Tom Cotton, pada Sabtu di program Fox & Friends mengatakan: “Ini adalah bandar narkoba yang telah didakwa oleh Amerika Serikat. Di mana pun mereka berada, apa pun gelarnya, orang seperti ini tidak akan pernah memiliki tempat aman.”
“Ini pengingat bagi seluruh musuh Amerika di dunia, bahwa ketika kita memiliki Panglima Tertinggi yang berani dan tegas, militer kita mampu melakukan apa pun untuk melindungi kepentingan nasional Amerika,” tambahnya.
Helikopter-helikopter terbang melintas di tengah kepulan asap yang membubung dari ledakan-ledakan di Caracas, Venezuela, 3 Januari 2026, dalam cuplikan layar yang diperoleh dari rekaman video milik Reuters. Video diperoleh dari Reuters/via REUTERS
Intelijen AS dan Pasukan Khusus Koordinasi Operasi: Menunjukkan Kekuatan
Menurut situs berita militer Amerika, Defense One, operasi penangkapan Maduro didukung penuh oleh komunitas intelijen AS.
Seorang pejabat AS yang mengetahui urusan dalam, menyebut beberapa badan intelijen AS membentuk tim operasi krisis, yang selama operasi memberi informasi ntelijen kepada Komando Operasi Khusus AS dan Komando Selatan.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, mengatakan pada konferensi pers Sabtu, CIA, NSA, dan NGA semua terlibat.
NGA (Badan Intelijen Geospasial Nasional Amerika Serikat) menggunakan data citra dan peta untuk mendukung operasi militer.
Caine juga menyebut, selama beberapa bulan sebelum operasi, badan intelijen AS mengamati dengan rinci kehidupan sehari-hari Maduro, melacak pergerakan, tempat tinggal, perjalanan, makanan, pakaian, bahkan hewan peliharaannya.
Ia mengatakan, operasi ini “melibatkan lebih dari 150 pesawat, yang lepas landas secara koordinatif dari berbagai lokasi di Belahan Barat.”
Sabtu dini hari pukul 01.00, pasukan khusus AS bersama FBI menyerbu rumah Maduro dan terlibat baku tembak.
Pukul 01.15, pasukan khusus menembus ruang aman dan menangkap pasangan Maduro.
Presiden Trump sebelumnya mengatakan, yang mengeksekusi misi ini adalah: “Prajurit paling terlatih di dunia. Tidak ada yang memiliki bakat seperti mereka. Bukan hanya keberanian yang penting — keberanian memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bakat. Tidak ada yang memilikinya seperti mereka. Dan tidak ada yang memiliki peralatan seperti milik kita.”
“Mereka berlatih sebelumnya. Mereka bahkan membangun replika rumah yang persis sama dengan target untuk latihan…” kata Trump.
Awal tahun 2026 diawali dengan sebuah peristiwa yang mengguncang dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah berhasil melaksanakan “Operation Absolute Resolve”, menangkap Nicolás Maduro dan istrinya. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan keras terhadap kemungkinan intervensi langsung di Iran terkait penindasan terhadap aksi protes di dalam negeri.
Langkah ini menandai dimulainya sebuah “model baru: mengakhiri rezim tirani secara langsung” sebagai instrumen kebijakan nyata Amerika Serikat. Amerika tidak lagi hanya mengandalkan sanksi, kecaman, dan tekanan tidak langsung, tetapi secara terbuka memasukkan intervensi militer langsung untuk mengakhiri kekuasaan tirani ke dalam kotak peralatan kebijakan luar negerinya.
Ini bukan hanya mengguncang rezim-rezim totaliter di seluruh dunia secara psikologis, tetapi juga memberikan peringatan mendalam terhadap model kediktatoran berteknologi tinggi yang dibangun oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Venezuela Berubah Rezim dalam Semalam
Menurut laporan banyak media internasional, pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS meluncurkan operasi besar dengan sandi “Operation Absolute Resolve.” Pentagon mengerahkan kekuatan besar di kawasan Karibia, termasuk satu kapal induk, 11 kapal perang, dan sejumlah jet tempur F-35, dengan total lebih dari 15.000 personel terlibat.
Operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang lepas landas dari 20 pangkalan di belahan bumi barat, termasuk jet F-35, F-22, dan pembom B-1, yang terlebih dahulu menghancurkan sistem pertahanan udara Venezuela.
Selanjutnya, pasukan elite (termasuk Delta Force) memasuki Caracas dengan helikopter terbang rendah dan melaksanakan penangkapan terhadap pasangan Maduro di rumah aman mereka.
Presiden Trump menyaksikan langsung siaran operasi tersebut dari Mar-a-Lago di Florida. Dalam wawancara dengan Fox News ia mengatakan: “Saya pernah melakukan banyak operasi yang cukup bagus, tetapi saya belum pernah melihat operasi seperti ini.”
Dalam operasi itu, militer AS sempat memutus sebagian pasokan listrik Caracas untuk memastikan kelancaran serangan. Pasangan Maduro ditangkap saat mencoba melarikan diri ke ruang aman yang berpintu baja.
Tidak ada tentara AS yang tewas, hanya sedikit yang terluka, dan satu helikopter mengalami kerusakan. Keduanya kemudian dipindahkan ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima milik AS, lalu diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terorisme narkotika dan berbagai kejahatan lainnya.
Amerika Mengambil Alih Venezuela Sementara
Dalam konferensi pers pada pagi 3 Januari, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan sementara “mengambil alih” Venezuela.
Ia berkata: “Kami akan mengelola negara ini sampai tercapai sebuah transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.”
Trump juga berencana mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk mengambil alih infrastruktur energi Venezuela, menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki fasilitas yang rusak dan menciptakan kekayaan bagi negara tersebut, serta berharap “Venezuela kembali berjaya.”
Venezuela adalah negara pengekspor minyak tradisional yang selama lebih dari seratus tahun memiliki hubungan kerja sama minyak dengan Amerika Serikat. Namun, kebijakan era Hugo Chávez dan Maduro menyebabkan produksi minyak merosot tajam, sementara berbagai perusahaan Tiongkok masuk dalam skala besar ke sektor minyak Venezuela.
Latar Belakang Minyak dan Masuknya Modal Tiongkok
Pemimpin gerakan demokrasi Tiongkok di pengasingan, Sheng Xue mengatakan bahwa Venezuela selama ini merupakan eksportir minyak tradisional dan telah bermitra dengan Amerika lebih dari satu abad.
Hingga kini, ekspor minyak Venezuela masih sangat bergantung pada pasar Amerika sebagai importir besar. Namun, seiring pembatasan kebijakan Venezuela serta peralihan Amerika ke minyak Kanada, volume impor minyak Venezuela oleh perusahaan-perusahaan AS terus menurun. Dalam periode inilah pemerintah PKT dan perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai masuk besar-besaran ke Venezuela.
Ia menjelaskan bahwa minyak Venezuela sebagian besar adalah minyak sangat berat (kandungan karbon tinggi) yang memerlukan biaya lebih tinggi untuk eksploitasi, transportasi, dan pemurnian. Reformasi sistem yang dilakukan Chávez setelah berkuasa telah menyebabkan produksi minyak Venezuela terus menurun. Pada pertengahan 1990-an, perusahaan minyak nasional Venezuela (PDVSA) merupakan salah satu yang terkuat di benua Amerika, tetapi setelah restrukturisasi Chávez, kemampuan manajemen dan produksi perusahaan tersebut mulai melemah.
Preseden Sejarah dan Guncangan Global: Ketakutan Menjadi Kenyataan
Peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Ming-shi, menyatakan bahwa ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat menangkap kepala negara asing. Pada 1980-an, Presiden Panama Manuel Noriega ditangkap oleh pasukan khusus AS atas dugaan perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya, lalu dibawa ke AS untuk diadili.
Shen memperkirakan bahwa setelah penangkapan Maduro, Venezuela kemungkinan akan membentuk pemerintahan sementara dan menggelar pemilu ulang. Pemimpin oposisi Maria Corina Machado—peraih Hadiah Nobel Perdamaian—memiliki peluang besar untuk menang.
Namun Sheng Xue menegaskan bahwa guncangan terbesar dari operasi ini terletak pada satu hal: ketakutan kini datang dari kenyataan, bukan lagi sekadar asumsi.
“Bagi rezim Maduro, ini bukan hanya akhir kekuasaan, tetapi juga simbol sejarah: sebuah rezim yang lama dianggap bagian dari ‘otoritarianisme sayap kiri’ dan ‘blok anti-Amerika’, dapat diakhiri secara cepat, tepat, dan menentukan tanpa perang besar dan tanpa tarik-uluran berkepanjangan,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa dampaknya melampaui Venezuela. Bagi semua rezim totaliter, otoriter, tirani komunis, dan pemerintahan teror, muncul pertanyaan baru: “Apakah penguasa tertinggi bisa menjadi objek yang dapat ditangkap, diserahkan, dan disingkirkan?”
Dampak sesungguhnya bukan di ranah militer, melainkan pada psikologi dan struktur kekuasaan internal rezim.
Iran Bisa Menjadi Target Berikutnya
Pengamat Politik Chen Pokong menyatakan bahwa Trump telah memberikan peringatan jelas kepada Iran. Jika Iran menindas demonstrasi damai, Amerika akan turun tangan menyelamatkan rakyat. “Senjata sudah dikokang.”
Aksi protes di Iran telah meluas ke 21 provinsi dan melumpuhkan aparat pemerintah. Ia menilai, rezim Iran sangat ketakutan dan kemungkinan besar Iran akan menjadi target berikutnya. Tahun 2026 diprediksi akan menjadi “panggung drama beruntun” bagi dunia.
Implikasi bagi Tiongkok: Tidak Serupa, Tapi Lebih Berbahaya dan Berkepanjangan
Banyak orang Tiongkok bertanya: “Apakah Tiongkok akan menjadi yang berikutnya?”
Sheng Xue menjawab: “Tidak akan seperti Venezuela atau Iran — bukan karena PKT lebih ‘sah’, tetapi karena situasinya jauh lebih kompleks dan berbahaya.”
Tiongkok memiliki senjata nuklir, sistem industri lengkap, posisi kunci dalam rantai pasok global, dan mesin negara raksasa. Setiap intervensi militer langsung berisiko menimbulkan bencana global.
Namun justru karena itu, kediktatoran Tiongkok menjadi yang paling berbahaya dan paling lama bertahan.
PKT telah membangun kediktatoran digital paling maju di abad ke-21: kamera pengawasan total, pengenalan wajah dan gaya berjalan, integrasi penuh data pribadi (ponsel, pembayaran, perjalanan, medis, sosial, komunikasi), prediksi AI terhadap potensi ancaman, sistem kredit sosial, kontrol unit kerja, hukuman kolektif keluarga, serta kemampuan penyensoran opini publik hingga tingkat individu.
“Masalah Tiongkok bukan rakyat tidak mau melawan, tetapi perlawanan telah diblokir secara teknologi.”
Model Perubahan Tiongkok dan Bentuk Tekanan Luar
Sheng Xue menegaskan bahwa perubahan Tiongkok lebih mungkin mengikuti model:
Tekanan eksternal → kerusakan struktur kekuasaan → retakan internal → pelonggaran lokal → runtuh berantai.
Ia memaparkan bentuk tekanan luar yang efektif:
Intervensi teknologi & sistem: memutus akses PKT ke chip canggih, AI, teknologi pengawasan, data global, cloud, dan kolaborasi riset.
Serangan finansial presisi: membekukan aset elite PKT, membuka kekayaan dan status luar negeri mereka.
Pembukaan ruang informasi: menghancurkan monopoli informasi PKT.
Deterensi militer kredibel dalam kondisi ekstrem: Venezuela menjadi preseden psikologis.
Penutup: Kedaulatan Tak Lagi Menjadi Tameng Tirani
Sheng Xue menyimpulkan: Dunia bebas tidak lagi menganggap kedaulatan sebagai tameng permanen bagi tirani. Biaya menoleransi tirani kini lebih mahal daripada biaya menentangnya.
Dan untuk pertama kalinya, para diktator dunia benar-benar mulai merasa tidak aman.
EtIndonesia. Jaksa Agung Amerika Serikat Pam Bondi mengatakan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, didakwa di Distrik Selatan New York. Hal demikian disampaikan Pam Bondi pada 3 Januari dini hari.
“Nicolás Maduro didakwa atas konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat penghancur, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan perangkat penghancur terhadap Amerika Serikat,” kata Bondi di X. “Mereka akan segera menghadapi seluruh kedahsyatan keadilan Amerika di tanah Amerika dan di pengadilan Amerika.”
Bondi mengeluarkan pernyataan itu beberapa jam setelah Maduro dan Flores ditangkap dan dievakuasi oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat di Caracas pada 3 Januari dini hari.
“Atas nama seluruh Departemen Kehakiman AS (DOJ), saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden [Donald] Trump karena memiliki keberanian untuk menuntut pertanggungjawaban atas nama rakyat Amerika, serta terima kasih sebesar-besarnya kepada militer kita yang berani yang telah melaksanakan misi luar biasa dan sangat berhasil untuk menangkap dua terduga pengedar narkoba internasional ini.”
Jaksa Agung Pam Bondi (tengah) berbicara dalam sebuah konferensi pers di Departemen Kehakiman di Washington pada 4 Desember 2025. Andrew Harnik/Getty Images
Pengumuman Bondi tersebut menyusul pernyataan Senator Mike Lee (Republik–Utah) yang mengatakan bahwa ia diberi tahu oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahwa serangan ke ibu kota Venezuela merupakan cara untuk melindungi aparat penegak hukum saat mereka melaksanakan surat perintah penangkapan terhadap Maduro.
Lee menambahkan bahwa Rubio juga mengatakan kepadanya bahwa Maduro “ditangkap oleh personel AS untuk diadili atas dakwaan pidana di Amerika Serikat.”
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau juga menegaskan bahwa Maduro diperkirakan akan menghadapi proses hukum.
“Si tiran telah tumbang,” kata Landau di media sosial. “Ia kini—akhirnya—akan menghadapi keadilan atas kejahatan-kejahatannya.”
Pada tahun 2020, Maduro dan 14 pejabat Venezuela lainnya didakwa atas tuduhan narkoterorisme, korupsi, perdagangan narkoba, dan dakwaan lainnya di New York City, Miami, dan Washington, D.C.
“Cakupan dan besarnya perdagangan narkoba yang diduga itu hanya mungkin terjadi karena Maduro dan pihak-pihak lain telah merusak institusi Venezuela serta memberikan perlindungan politik dan militer bagi kejahatan narkoterorisme yang merajalela sebagaimana dijabarkan dalam dakwaan kami,” kata Jaksa AS Geoffrey S. Berman dalam siaran pers tahun 2020.
“Sebagaimana diduga, Maduro dan para terdakwa lainnya dengan sengaja berniat membanjiri Amerika Serikat dengan kokain guna merusak kesehatan dan kesejahteraan bangsa kami. Maduro secara sangat sadar menggunakan kokain sebagai senjata.”
The Epoch Times edisi bahasa Inggris menghubungi Departemen Kehakiman AS untuk mengklarifikasi apakah Bondi merujuk pada dakwaan tahun 2020 tersebut atau tidak.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu, 3 Januari 2026 bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan terhadap Venezuela dan presiden negara itu, Nicolás Maduro telah ditangkap.
Menyusul serangan tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunggah tangkapan layar salah satu postingannya di media sosial dari Juli tahun lalu. Dalam unggahan itu tertulis: “Maduro BUKAN Presiden Venezuela dan rezimnya BUKAN pemerintah yang sah.”
“Maduro adalah kepala Cartel de Los Soles, sebuah organisasi narkoteror yang telah menguasai sebuah negara.”
Unggahan Rubio muncul di tengah kecaman dari sejumlah pemerintah asing seperti Rusia, yang menyatakan berdiri dalam “solidaritas” dengan rakyat dan pemerintah Venezuela.
Perwakilan Tinggi Uni Eropa (UE) untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, menyampaikan sikap yang lebih terukur. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia mengatakan, “UE telah berulang kali menyatakan bahwa Tuan Maduro tidak memiliki legitimasi dan telah membela transisi damai. Dalam keadaan apa pun, prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam PBB harus dihormati.”
Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christopher Landau, merayakan serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “fajar baru bagi Venezuela.”
“Si tiran telah tumbang,” kata Landau di media sosial. “Ia kini—akhirnya—akan menghadapi keadilan atas kejahatan-kejahatannya.”
Sementara itu, Anggota kongres AS dari Partai Republik, María Elvira Salazar menyambut baik tindakan Trump. Dalam sebuah unggahan, ia mengatakan bahwa “rezim Maduro telah berakhir, berkat kepemimpinan [Trump] dan [Menteri Luar Negeri Marco Rubio].”
“Sekarang saatnya para pemimpin sah Venezuela memulihkan kebebasan dan membangun kembali bangsa ini,” tambah anggota kongres tersebut. “Malam ini, seruan kebebasan baru bergema di seluruh belahan bumi: lantang, jelas, dan tak terbendung.”
Anggota Kongres AS lainnya, Carlos Giménez juga merayakan hal itu dan mengisyaratkan bahwa para pemimpin Amerika Latin lainnya akan menyusul setelah Maduro.
“Maduro telah tumbang, Díaz-Canel dan Ortega menyusul,” katanya, merujuk pada pemimpin Kuba Miguel Díaz-Canel Bermúdez dan Presiden Nikaragua Daniel Ortega.
Ia menambahkan bahwa “belahan bumi kita akan menjadi belahan bumi kebebasan!”
Anggota Kongres AS Mario Díaz-Balart juga memuji intervensi Trump. “Negara kita telah menghadapi ancaman keamanan nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya dari rezim Maduro yang tidak sah,” katanya.
Menjelang datangnya tahun 2026, pemerintah di berbagai daerah di Tiongkok mengeluarkan pemberitahuan yang menyatakan bahwa, dengan alasan seperti “force majeure”, kegiatan perayaan malam tahun baru di tempat-tempat besar dibatalkan. Namun pada malam pergantian tahun, tetap ada warga yang secara spontan berkumpul untuk merayakan datangnya tahun baru. Sejumlah anak muda yang menyalakan kembang api bahkan dikejar oleh polisi.
EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025 malam, Partai Komunis Tiongkok (PKT) bersikap seolah menghadapi musuh besar. Banyak daerah melarang penyelenggaraan kegiatan perayaan, sekaligus mengerahkan sejumlah besar polisi bersenjata untuk berjaga ketat.
Video yang beredar menunjukkan bahwa di Hangzhou, aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar, membentuk barisan manusia di pusat perbelanjaan dan alun-alun kota, menutup sebagian pintu keluar stasiun metro, serta mematikan layar hitung mundur di pusat perbelanjaan.
Meski demikian, di kawasan komersial Hubin, orang-orang tetap berkumpul dan menyambut tahun baru bersama-sama dengan hitung mundur.
Di kawasan wisata Shilaoren, Qingdao, sepanjang garis pantai sepanjang 1,7 kilometer dipasangi pagar pembatas, sejumlah pos pemeriksaan melakukan pemeriksaan badan, dan polisi khusus bersenjata dikerahkan untuk berpatroli.
Namun banyak warga tetap berkumpul secara spontan di Alun-alun 4 Mei (May Fourth Square), menghitung mundur bersama, menerbangkan balon, dan merayakan datangnya tahun baru.
“(Di kalangan masyarakat) ada psikologi berharap akan terjadi perubahan besar. Dari sudut pandang PKT, ketegangan ini berlebihan. Ini menunjukkan bahwa para penguasa PKT memiliki ketakutan yang lebih dalam di hati mereka, khawatir akan terjadinya sesuatu,” kata Profesor Xie Tian dari Aiken School of Business, Universitas South Carolina, Amerika Serikat.
Video juga menunjukkan bahwa di Ningbo dan daerah lain, sejumlah anak muda mengabaikan larangan pemerintah dan tetap menyalakan kembang api pada malam tahun baru, namun akhirnya dikejar polisi dan beberapa orang dibawa pergi.
Ada pula warga yang, untuk menghindari pencegahan polisi, menyalakan kembang api dari atas perahu di tengah danau.
“Jika prospek kerja anak muda suram—banyak yang menganggur setelah lulus atau baru saja kehilangan pekerjaan—maka tekanan dan kemarahan yang meluas ini dapat diperkirakan. Setelah lama ditekan dan tertekan, anak muda pasti akan mencari jalan untuk meluapkan emosi,” tambahnya.
Gong Kai, Wakil Ketua Aliansi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Tiongkok wilayah New York, mengatakan: “Pengendalian semacam ini pada akhirnya akan gagal. Jika saluran pelampiasan ini sepenuhnya ditutup dan orang tidak diizinkan menyalakan kembang api, maka seluruh masyarakat akan seperti panci bertekanan tinggi. Cepat atau lambat, hal itu akan meledakkan rezim sentralistis PKT.” (hui)
Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang, dari New York.
EtIndonesia. Seorang ibu di Tiongkok selatan dijatuhi hukuman setelah secara tidak sengaja membunuh putrinya saat melakukan ritual “pengusiran setan” padanya.
Menurut laporan terbaru dari Kejaksaan Kota Shenzhen, pengadilan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun yang ditangguhkan selama empat tahun kepada ibu tersebut, yang bernama Li, pada bulan Juli.
Li dan kedua putrinya terobsesi dengan praktik takhayul yang melibatkan telepati dan pengobatan.
Mereka terus-menerus memiliki gagasan bahwa mereka diserang dan dirasuki setan dan bahwa “jiwa mereka dijual”.
Pada bulan Desember tahun lalu, putri bungsu Li, yang bernama Xie, tiba-tiba mengklaim bahwa dia dirasuki setan dan meminta Li dan putri sulungnya, yang juga bernama Xie, untuk melakukan ritual pengusiran setan padanya.
Ritual tersebut termasuk tindakan seperti menekan keras dadanya dan menuangkan air ke tenggorokannya untuk menyebabkan muntah.
Li dan Xie senior melakukan ritual tersebut tanpa ragu-ragu. Di tengah-tengah kejadian itu, Xie junior juga mengatakan bahwa pengobatan itu efektif dan meminta ibu dan saudara perempuannya untuk melanjutkan.
Keesokan paginya, anggota keluarga lainnya menemukan bahwa mulut Xie junior berdarah dan memanggil polisi.
Petugas medis tiba dan menyatakan dia meninggal di tempat kejadian.
Pengadilan menjatuhkan hukuman berdasarkan kejahatan pembunuhan karena kelalaian, dengan mempertimbangkan fakta bahwa Li dan putrinya bermaksud membantu Xie junior.
Xie senior dijatuhi hukuman yang sama dengan ibunya.
“Ini kasus yang mengerikan dan konyol,” kata seorang pengamat daring.
“Sekte macam apa ini? Apakah kita hidup di tahun 2025?” yang lain mengungkapkan keterkejutannya.
“Para pengikut sekte biasanya cukup keras kepala. Mereka membayangkan mereka dapat menyalahkan kematiannya pada ‘iblis yang begitu kuat’,” kata yang ketiga.
“Kita benar-benar perlu memperkuat pendidikan tentang ilmu pengetahuan populer,” kata yang lain.
Tragedi serupa terjadi di Taiwan pada tahun 2023 ketika seorang pria berusia 56 tahun dan istrinya melakukan ritual pengusiran setan pada putra mereka yang berusia 28 tahun di rumah karena ia tidak makan selama berhari-hari.
Ayah dan adik laki-laki pria itu menahannya dan sang ibu memasukkan tangannya ke tenggorokannya dalam upaya untuk membuatnya muntah agar setan itu pergi, tetapi malah membunuhnya.
Dalam kasus lain, seorang wanita Tiongkok mentransfer total 80.000 yuan kepada pacarnya yang diyakininya dirasuki roh jahat.
Dia mentransfer uang kepadanya 400 kali selama periode dua tahun sebelum menyadari bahwa pacarnya menipunya.(yn)
Perekonomian Tiongkok terus memburuk, berbagai sektor lesu, dan konsumsi masyarakat menurun. Selama lebih dari 20 tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus meneriakkan slogan “Revitalisasi Timur Laut”. Namun demikian, bagaimana kondisi ekonomi setempat sebenarnya?
Warga di tiga provinsi timur laut secara tegas menyatakan bahwa itu hanyalah slogan. Kini ekonomi Timur Laut telah runtuh, banyak daerah berubah menjadi “kota hantu”. Jalanan yang dulu ramai kini nyaris tanpa manusia, banyak toko tutup, dan kaum muda memilih pergi. Warga menggambarkan bahwa Tiga Provinsi Timur Laut sedang menghilang, seperti “Beidahuang” (Tanah Perawan Utara) di masa lalu.
EtIndonesia. Kemerosotan ekonomi di wilayah timur laut Tiongkok dikenal sebagai “fenomena Timur Laut”. Istilah ini merujuk pada serangkaian masalah di bidang ekonomi, demografi, dan struktur sosial, termasuk sulitnya transformasi industri berat, arus keluar talenta dalam jumlah besar, memburuknya struktur penduduk, serta kejatuhan ekonomi secara drastis.
Para pengamat menilai, kondisi ini terutama disebabkan oleh penerapan sistem PKT yang paling menyeluruh di tiga provinsi tersebut. Situasi Timur Laut hari ini bisa jadi merupakan gambaran masa depan seluruh Tiongkok.
Pada 31 Desember 2025, seorang blogger di platform X luar negeri dengan nama akun “Canghai Yisu” menulis bahwa ekonomi Timur Laut telah runtuh, depresi besar datang lebih awal dibanding wilayah lain. Di Shenyang, Harbin, dan Changchun, sekitar 27 juta orang tidak lagi berbelanja. Tanpa konsumsi, tanpa pekerjaan—“satu orang meninggal, satu rumah dikunci”. Tiga provinsi timur laut sedang menghilang dan berubah menjadi Beidahuang. Jangan lagi membanggakan revitalisasi; rakyat sudah muak dengan janji kosong PKT.
Video yang diunggah blogger tersebut merangkum keluhan dan ketidakpuasan warga dari berbagai lapisan masyarakat di tiga provinsi timur laut, yang lebih banyak mencerminkan keputusasaan mereka. Teks dalam video menyebutkan bahwa slogan “Revitalisasi Timur Laut” telah diteriakkan selama 22 tahun, dan rakyat akhirnya sadar bahwa itu hanyalah slogan belaka.
Tuan A dengan emosional berkata, lihatlah jalanan Shenyang—ada orangkah? “Saya muak mendengar kata ‘revitalisasi Timur Laut’. Kesalahan kebijakan mereka membuat seluruh Timur Laut menanggung akibatnya. Teruskan saja begini, hancur sekalian.”
Nyonya B mengatakan, ini adalah kawasan permukiman lama di Qiqihar. Hampir semua rumah di seberang kosong, satu kompleks tinggal beberapa keluarga. Sekarang kalau dijual, satu unit hanya 40–50 ribu yuan pun tak ada yang mau. Orang-orang sudah pergi semua. Timur Laut benar-benar tidak bisa mempertahankan penduduk. Bahkan jika anak muda bertahan, mereka enggan menikah dan punya anak karena ekonomi terlalu buruk.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Timur Laut berubah dari makmur menjadi merosot. Ke depan, penduduk akan semakin sedikit. Mungkin beberapa dekade lagi, yang tersisa hanya tanah,” keluh Nyonya B.
Tuan C berkata, “Hari ini 28 Desember 2025, hari Minggu. Lihat pusat perbelanjaan Shenyang—tak satupun orang. Ekonomi riil Shenyang benar-benar tamat, bahkan seluruh ekonomi Timur Laut sudah tamat. Mau revitalisasi apa kalau orang saja tidak ada?”
Teks video menyebutkan: “Banyak desa dan permukiman di Timur Laut mengalami pengosongan, sangat mirip dengan Beidahuang dulu.”
Nyonya D mengatakan, hampir semua orang di desanya telah pindah. Rumah-rumah kosong tanpa penghuni. Kondisinya mirip Beidahuang dulu. Timur Laut seperti ini sangat banyak; desa-desa hampir tak berpenghuni. Timur Laut benar-benar merosot—ekonomi lemah, tak ada perkembangan. Sekarang kota-kota kecil tingkat empat dan lima hampir tak berpenduduk; hanya beberapa kota besar yang masih tersisa orang. Jika terus begini, apakah Timur Laut akan menghilang?
“Anak kerabat saya bekerja di Shenyang selama dua tahun, sekarang juga pindah ke selatan. Katanya, ‘bahkan kota tingkat satu di Timur Laut sekarang sangat lesu’. Pekerjaan sulit dicari, tingkat kelahiran rendah, tak ada yang mau punya anak. Siapa pun yang keluar dari Timur Laut tak mau kembali. Timur Laut benar-benar sudah tidak bisa diandalkan,” katanya dengan putus asa.
Tuan E mengatakan, kota-kota kecil di Timur Laut kelak akan menjadi “kota hantu”. Bahkan ibu kota provinsi pun kini sangat lesu. Banyak warga lokal pergi ke selatan, apalagi kota kecil seperti ini. Dari pagi sampai malam, orang di jalan cuma segelintir. Gaji hanya dua sampai tiga ribu yuan, pekerjaan pun sangat sulit dicari. Selain bertani dan membuka toko kecil, hampir tak ada industri penopang.
“Beberapa tahun lagi, kota-kota kecil di Timur Laut akan semuanya jadi kota hantu. Ini bukan berlebihan—memang separah itu,” ujarnya.
Nyonya F mengatakan, kawasan komersial Beishi Lama di Shenyang dulu sangat ramai, sekarang kosong melompong. Semua toko disewakan, tak ada orang.
Nyonya G menggambarkan kondisi pedesaan Timur Laut saat ini: rumah-rumah bagus tak berpenghuni, penduduk makin sedikit. “Ini jalan utama desa kami, lihat berapa rumah yang lampunya menyala. Lampu jalan terang, tapi hampir tak ada manusia.”
Nyonya H mengeluh bahwa mencari kerja di Harbin sangat sulit. Ada yang menyuruh uji coba kerja tiga atau tujuh hari, lalu mengatakan “tidak cocok” tanpa dibayar. Atau jam kerja berat—24 jam kerja, 24 jam istirahat, dan bahkan tengah malam pun tak bisa istirahat.
Nyonya I juga ingin meninggalkan Timur Laut. “Dulu jalan ini di Harbin sangat ramai. Lihat sekarang berapa banyak toko tutup. Gaji rendah, orang tak keluar belanja. Saya juga berencana ke selatan pada 2026. Tinggal di sini seperti hidup yang bisa ditebak sampai akhir,” katanya.
J, seorang pemuda dengan koper di sampingnya, bercanda di depan kamera: “Keluarga, cari kerja di Changchun terlalu sulit. Saya mau pulang kampung dan mulai hidup ‘rebahan’ lebih awal.”
Tuan K mengatakan, inilah kondisi kota kecil Timur Laut—begitu malam tiba, jalanan kosong. Siang pun tak banyak orang. Lampu jalan mati setelah pukul 9 malam karena tak ada orang. Anak muda sudah pergi, yang tersisa hanya orang tua. Antar makanan pun bisa mati kelaparan.
Tuan L dengan emosional berkata, “Mengapa Changchun tak bisa mempertahankan penduduk? Akar masalahnya adalah minimnya lapangan kerja dan penghasilan rendah. Pekerjaan yang lumayan hampir mustahil didapat tanpa koneksi. Nepotisme sangat parah. Mau wirausaha atau industri baru, rantai industrinya tak lengkap. Industri tradisional pun kacau. Kota kelas tiga, konsumsi kelas dua. Tanpa jaringan, tanpa relasi, mengurus apa pun sangat sulit.”
Nyonya M berkata, “Siang bolong di Harbin kok tak ada orang? Sepi sekali. Tak heran toko fisik mati. Konsumsi benar-benar turun. Grosir bilang tak ada pembeli, ritel juga sama, toko pakaian sepi, bahkan salon pun sepi—orang tak potong rambut lagi?”
Tuan N mengemudi melewati deretan vila dan terkejut: “Dari luar terlihat baru, tapi dari dekat rusak—kaca jendela hilang, pintu copot. Jelas tak pernah dihuni. Area seluas ini.”
Warga: “Satu Orang Meninggal Dunia, Satu Rumah Dikunci—Siapa Berani Punya Anak?”
Menurut statistik terbaru Tiongkok 2025, Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning menempati tiga terbawah dalam tingkat kelahiran nasional, sementara tingkat perceraian dan kematian termasuk tiga tertinggi.
Banyak lansia setempat berkata, “Belakangan ini pengeras suara sering berbunyi—acara pemakaman.” “Mati 30 orang, lahir cuma 3.” “Bukan penuaan penduduk—anak muda sudah pergi.” “Sudah tiga-empat tahun tak ada yang menikah.” “Satu orang meninggal, satu rumah dikunci—anak-anak tak di rumah, rumah jadi kosong.”
Nyonya O mengeluh, “Satu generasi demi generasi hilang, semuanya pergi. Saya sudah lama tak melihat bayi baru lahir di sini, di Yilan, Heilongjiang—mungkin satu dua tahun tak melihat sama sekali.”
“Bahkan membesarkan satu anak saja sulit, bagaimana berani punya anak? Harga-harga melonjak, beli apa pun mahal, jual apa pun murah. Tekanan ekonomi begitu besar sampai sulit bernapas,” kata Nyonya P. Kondisi keluarga seperti ini tidaklah sedikit. (Hui)
Beberapa ledakan terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu, 3 Januari 2026 bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan terhadap Venezuela dan Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores telah ditangkap hidup-hidup.
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” kata Trump dalam unggahan dini hari di Truth Social.
Ia menambahkan bahwa konferensi pers akan digelar pukul 11.00 di resor miliknya, Mar-a-Lago.
Setidaknya tujuh ledakan dan suara pesawat terbang rendah terdengar sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Sabtu di ibu kota Caracas. Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian.
Pentagon merujuk pertanyaan kepada Gedung Putih, yang menolak memberikan komentar.
Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) telah melarang penerbangan komersial Amerika Serikat di wilayah udara Venezuela karena adanya “aktivitas militer yang sedang berlangsung”, menyusul ledakan di Caracas.
Panggilan ke Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command), yang mengawasi operasi militer di kawasan tersebut, tidak mendapat jawaban.
Peringatan FAA, yang dikenal sebagai “Notice to Airmen”, dikeluarkan tak lama setelah pukul 01.00 dini hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat. Peringatan itu memperingatkan seluruh pilot komersial dan pribadi AS bahwa wilayah udara di atas Venezuela dan negara pulau kecil Curaçao, yang terletak di lepas pantai utara Venezuela, dinyatakan terlarang “karena risiko keselamatan penerbangan yang terkait dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung.”
Peringatan tersebut dirancang untuk memberi tahu para pilot mengenai berbagai macam bahaya.
Asap terlihat membubung dari hanggar sebuah pangkalan militer di Caracas. Instalasi militer lain di ibu kota dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
Warga di berbagai lingkungan berhamburan ke jalan. Sejumlah orang terlihat dari kejauhan di berbagai wilayah Caracas.
Dalam pernyataannya, pemerintah Venezuela menyerukan para pendukungnya untuk turun ke jalan.
“Rakyat ke jalan!” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Pemerintah Bolivarian menyerukan kepada seluruh kekuatan sosial dan politik di negara ini untuk mengaktifkan rencana mobilisasi dan mengecam serangan imperialis ini.”
Pernyataan itu menambahkan bahwa Presiden Nicolás Maduro telah “memerintahkan agar seluruh rencana pertahanan nasional dijalankan” dan menetapkan “keadaan gangguan eksternal.” Status darurat tersebut memberinya kewenangan untuk menangguhkan hak-hak warga dan memperluas peran angkatan bersenjata.
Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.
EtIndonesia. Setiap orang hidup di dunia ini dengan caranya masing-masing. Mereka memiliki mimpi dan tujuan yang berbeda, bergegas menuju arah yang mereka pilih. Mereka berusaha sekuat tenaga menjalani hidup, dan dengan tindakan mereka seolah berkata: demi hal yang kita cintai, demi masa depan, entah di depan sana menanti kepahitan atau manisnya hasil, entah jalannya dipenuhi duri atau penuh kicau burung dan bunga bermekaran, kita tetap akan melangkah tanpa ragu dan maju tanpa menoleh ke belakang.
Suatu hari pada bulan Maret 1976, di sebuah kota kecil di Anhui, terdengar tangisan bayi—sebuah kehidupan baru telah lahir. Namun takdir berkata lain. Tak lama kemudian, bayi itu didiagnosis menderita polio. Dia tumbuh sebagai penyandang disabilitas: sulit bergerak dan berbicara dengan jelas. Sejak itu, dia menjadi bahan ejekan teman-teman sebayanya—diejek, ditindas, bahkan dihina. Luka-luka itu menanamkan rasa rendah diri dan ketakutan di dalam hatinya.
Padahal, dia adalah anak yang cerdas. Namun karena terus dibayangi rasa minder akibat keterbatasan fisik, dia tidak pernah berani mendaftar ke universitas favorit. Saat hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, dia diterima di Universitas Shihezi, Xinjiang.
Memasuki dunia kampus, dia bertekad mengubah dirinya. Dia mulai belajar bergaul, membuka hati yang telah lama tertutup, dan perlahan melangkah ke tengah masyarakat. Dari sanalah dia menemukan minatnya di bidang bisnis. Dia menyadari memiliki bakat berdagang. Di kampus, dia mulai berjualan tiket film, menjual CD, dan berbagai usaha kecil lainnya—bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk mengumpulkan pengalaman.
Setelah lulus kuliah, karena kondisi keluarga yang miskin dan statusnya sebagai penyandang disabilitas, sangat sedikit perusahaan yang mau menerimanya. Bahkan ada yang terang-terangan meremehkan dan mendiskriminasi kekurangan fisiknya. Dia mengikuti wawancara berkali-kali, namun semuanya berakhir dengan penolakan. Meski begitu, dia tidak menyerah.
Demi bisa makan, dia mulai berjualan kaki lima—menjual kartu-kartu kecil dengan keuntungan yang sangat tipis.
Di hari-hari yang dingin, dia sering menahan lapar. Mengenakan mantel tentara hijau, dia berjongkok di pinggir jalan, menjaga dagangannya yang belum laku. Dia menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, tanpa satu pun menoleh. Namun, masa itu belumlah yang paling pahit dalam hidupnya.
Seperti yang pernah dia katakan sendiri: “Aku pernah berjualan kartu di kaki lima, membuka toko buku, membuka warnet. Tokoku pernah dibakar, warnetku pernah ditutup. Tapi aku tidak pernah menyerah, dan tidak lagi mengeluh—karena mengeluh tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan hanyalah mengandalkan diri sendiri.”
Setelah menempuh jalan yang tak terhitung jumlahnya, mengalami kegagalan demi kegagalan, dengan ketekunan dan perjuangan yang tak kenal lelah, dia akhirnya mendirikan perusahaan garmen miliknya sendiri. Dengan kualitas terbaik, harga terjangkau, dan kejujuran sebagai fondasi, dia meraih kepercayaan para pelanggan. Perusahaannya terus berkembang, produknya dipasarkan secara daring hingga ke mancanegara, dan dia pun menjadi salah satu dari sepuluh pedagang online terbesar di dunia.
Tokoh luar biasa itu adalah Cui Wanzhi, CEO Hefei Diezhilian Clothing Company.
Saat memperkenalkan dirinya, dia pernah berkata: “Ayahku menanamkan sebuah pohon untukku, dan aku menanamkan sebuah mimpi untuk diriku sendiri. Tuhan mencintaiku, maka Dia menggigitku satu kali. Dengan luka yang masih berdarah, aku terus berjalan—tanpa menoleh ke belakang.”
Tak ada kesuksesan yang datang begitu saja. Sebelum meraih keberhasilan, segala penderitaan, kegagalan, dan kesulitan yang dia alami sejatinya adalah hadiah. Hingga suatu hari, jawaban yang berhembus di dalam angin akan menyapanya—seperti sebutir benih di musim semi yang terbawa angin, jatuh ke setiap sudut bumi, menyebar dan mengisahkan semangat perjuangan manusia.(jhn/yn)
EtIndonesia. Suatu ketika, dalam sebuah ekspedisi militer, Napoleon Bonaparte memimpin pasukan bersama seorang insinyur untuk melakukan pengintaian medan. Mereka tiba di tepi sebuah sungai. Di sungai itu tidak ada jembatan, sementara pasukan harus segera menyeberanginya.
Napoleon pun bertanya kepada sang insinyur : “Katakan padaku, seberapa lebar sungai ini?”
“Maaf, Yang Mulia, semua alat ukur saya tertinggal bersama pasukan di belakang. Mereka masih sekitar sepuluh mil dari sini,” jawab insinyur itu.
“Aku ingin kau segera mengukurnya,” kata Napoleon.
“Itu tidak mungkin dilakukan, Yang Mulia,” jawab insinyur
“Aku memerintahkanmu sekarang juga mengukur lebar sungai ini. Jika tidak, aku akan menghukummu!” Kata Napoleon.
Insinyur itu segera berpikir keras dan menemukan sebuah cara. Dia melepaskan helm baja yang dikenakannya, lalu mengatur posisi sehingga tepi helm, matanya, dan satu titik di seberang sungai berada tepat dalam satu garis lurus. Setelah itu, dia menjaga tubuhnya tetap tegak dan perlahan-lahan mundur ke belakang.
Ketika posisi matanya, tepi helm, dan satu titik di sisi sungai tempat dia berdiri kembali berada pada satu garis lurus, dia berhenti. Dia menandai titik tempatnya berdiri, lalu mengukur jarak antara dua titik tersebut dengan langkah kakinya.
Setelah itu, dia berkata kepada Napoleon : “Jarak inilah yang kira-kira sama dengan lebar sungai.”
Napoleon sangat gembira. Dia segera memberikan promosi jabatan kepada insinyur tersebut.
Renungan
Metode selalu lebih banyak daripada masalah. Untuk persoalan-persoalan yang tampak sulit, sering kali bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum menemukannya.
Kebijaksanaan sejatinya sudah tersembunyi di dalam pikiran kita sendiri. Mereka yang mampu menyingkirkan kemalasan, berani melampaui batas diri, dan mau berpikir kreatif, akan membuat kecerdasannya benar-benar bersinar—dan pada akhirnya meraih keberhasilan.(jhn/yn)
EtIndonesia. Huruf mencerminkan kehidupan. Setiap kali menulis satu huruf, seolah kita sedang menafsirkan hidup itu sendiri. Setiap goresan dan tarikan membentuk keindahan hidup; setiap jeda dan langkah menggambarkan lika-liku perjalanan; setiap menahan dan melepaskan menghadirkan ritme tegang dan rileks dalam kehidupan. Dan aku, melalui penulisan satu demi satu huruf Han, telah melewati badai dan akhirnya menyambut pelangi.
Suatu malam, aku menggenggam kuas dan menirukan tulisan dari buku contoh. Ujung kuas meluncur di atas kertas, meninggalkan jejak tinta hitam satu per satu. Entah mengapa, biasanya saat berlatih menulis aku selalu tenang, tetapi malam itu hatiku terasa gelisah. Kegelisahan itu seperti seekor serangga yang buruk rupa, merayap canggung di depan mataku, sesekali mengangkat kepalanya yang jelek dan mengibaskan kaki-kakinya dengan liar, membuat hatiku terus-menerus tidak tenang dan sulit berkonsentrasi.
Aku menghela napas pelan. Tanganku bergerak, pergelangan kuas diputar dengan lembut, sebuah huruf pun terbentuk di atas kertas. Namun saat kuperhatikan dengan saksama, selalu terasa ada yang janggal—sesuatu yang sulit dijelaskan.
Saat itu, ayah masuk ke kamarku karena suatu keperluan.
Dia berdiri di belakangku, memperhatikan sejenak, lalu berkata : “Huruf-huruf ini belum ditulis dengan baik. Lihat, bagian vertikal ini seharusnya tebal, sedangkan garis horizontalnya seharusnya tipis. Tapi justru kamu menebalkan bagian yang tidak perlu dan menipiskan bagian yang seharusnya kuat. Hasilnya jadi terlihat lemah dan tidak bertenaga.”
Setelah mendengar nasihat ayah, aku menulis beberapa lembar lagi. Namun hasilnya tetap terasa hambar—tidak ada kekuatan, bentuknya pun tidak tepat. Melihat huruf-huruf yang kehilangan irama itu, kegelisahan di dalam hatiku seperti serangga yang melekat di tulang, merayap tanpa henti. Setiap kali aku berusaha menenangkan diri, dia muncul kembali, mencakar-cakar hatiku.
Akhirnya aku meletakkan kuas, duduk di kursi untuk beristirahat, berusaha menekan kegelisahan itu.
“Kalau kondisinya sedang tidak baik, latihan saja lain kali,” pikirku.
Aku membersihkan kuas, keluar dari ruang kerja, meninggalkan beberapa lembar tulisan yang gagal. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa masa kemacetan pertama dalam perjalanan menulisku telah diam-diam datang. Aku juga tidak tahu, demi melewati masa itu, betapa banyak badai yang harus kuhadapi.
Pada akhir pekan, aku pergi ke rumah guru untuk berlatih kaligrafi. Aku membentangkan kertas di atas meja, mengambil kuas, dan mulai menulis satu demi satu. Namun kegelisahan itu kembali muncul, seperti hewan kecil yang terus menggeram di dalam hatiku. Menatap kertas di atas meja, rasa tidak sabar mulai muncul. Perasaan mengalir yang dulu begitu alami kini menghilang entah ke mana. Setiap goresan terasa kering dan membosankan.
Huruf-huruf di bawah kuasku seperti udang berkaki lunak—mengambang di atas kertas tanpa tenaga. Melihat hasil itu, rasa kesal pun muncul, dan kegelisahan semakin menjadi-jadi. Dalam luapan emosi, aku menarik kuas dengan kuat di atas kertas, hingga sebuah “serangga” yang berat dan kikuk tercetak di sana.
Saat itu juga, guru kebetulan lewat.
Dia melihat tulisanku, mengerutkan kening, lalu berkata : “Kurangi tinta. Huruf ini sudah terlalu basah. Saat menulis, perhatikan baik-baik. Setelah selesai, bandingkan, cari bagian yang kurang baik, lalu segera perbaiki. Perhatikan perubahan tebal-tipisnya. Sudah, lanjutkan menulis.”
Aku menundukkan kepala dengan malu dan berusaha mengikuti instruksi guru. Namun huruf-huruf yang lahir dari kuasku seakan mengejek ketidakmampuanku.
Sore berlalu. Dengan perasaan cemas, aku menyerahkan hasil latihan kepada guru. Setelah melihatnya, ada kilatan kekecewaan di matanya.
Dia membetulkan beberapa kesalahan dan berpesan : “Pulanglah dan lebih banyak berlatih. Tulisan hari ini belum baik. Kamu harus terus berusaha.”
Dalam perjalanan pulang, aku masih berpikir polos bahwa ini hanya masalah sementara—asal lebih rajin berlatih, semuanya akan membaik. Namun kenyataan yang kejam menghancurkan harapanku. Selama beberapa minggu berturut-turut, tulisanku tetap seperti itu. Tatapan kecewa dan teguran guru membuatku sesak napas, sementara keraguan di mata orang tua semakin menambah penderitaanku.
Perlahan, aku mulai merasa enggan menulis. Aku tidak ingin lagi memegang kuas. Orangtuaku melihat semuanya dengan cemas.
Suatu hari, ayah akhirnya tak tahan melihat aku menyerah begitu saja.
Dia menghampiriku, tanpa memberi ceramah panjang, hanya menceritakan sebuah kisah: “Wang Xizhi, sang Mahaguru Kaligrafi, sejak kecil sudah berlatih menulis. Hari demi hari dia menulis tanpa henti, merusak satu demi satu ujung kuas, menghabiskan satu demi satu pena. Setelah selesai menulis, dia mencuci kuas-kuas itu di sebuah kolam. Lama-kelamaan, air kolam pun menjadi hitam. Itulah sebabnya dia bisa menjadi ‘Sang Mahaguru’. Kesuksesannya bukan hanya karena cintanya pada kaligrafi, tetapi juga karena ketekunannya.”
Kata-kata ayah mengguncang hatiku. Wang Xizhi pasti juga pernah menulis dengan buruk. Namun dia tetap bertahan, menulis kisah hidupnya yang gemilang. Kalau begitu, aku pun pasti bisa melewati lika-liku hidup dan menjadi versi diriku yang lebih baik.
Sejak saat itu, aku mulai belajar menenangkan diri. Saat merasa tertekan, aku mengajak ibu berjalan-jalan. Aku kembali mengangkat kuas, berlatih hari demi hari, berusaha menahan kegelisahan di dalam hati, menulis setiap goresan dengan perlahan dan penuh kesadaran. Kuas bergesekan dengan kertas, terus-menerus kubandingkan dengan buku contoh, berusaha mencapai hasil terbaik.
Tanganku jatuh perlahan, tinta hitam meresap ke kertas, dan huruf-huruf pun mulai memiliki kekuatan. Banyak malam berlalu. Tulisan di atas kertas akhirnya menunjukkan kemajuan yang nyata. Tatapan kecewa di mata orang tua dan guru pun perlahan berubah menjadi kelegaan dan kepuasan.
Satu huruf adalah satu kehidupan. Hidup pun seperti menulis: selama kita mau bertahan dan terus berusaha tanpa menyerah, kita pasti bisa melewati rintangan, menembus badai, dan menyambut pelangi.(jhn/yn)
EtIndonesia. Saya punya seorang teman yang berwirausaha. Dia sangat sibuk. Hampir setiap hari selalu ada orang yang menghubunginya—entah untuk membahas kerja sama, bertukar pengalaman, atau sekadar ingin bertemu dan berbincang. Akibatnya, dia kelelahan, kewalahan, dan merasa sangat terganggu.
Suatu hari, dia menemukan sebuah cara yang cukup cerdik. Setiap kali ada orang menelepon dan meminta bertemu, dia sengaja memilih lokasi yang sangat terpencil—aksesnya sulit, jauh dari pusat kota, dan membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama pulang-pergi.
Hasilnya sungguh mengejutkan.
Begitu mendengar nama tempat tersebut, banyak orang langsung meminta maaf dan mengatakan waktu mereka tidak cukup, sehingga kemungkinan besar tidak bisa datang. Ada juga yang menghilang begitu saja dan tak pernah menghubunginya lagi. Namun, selalu ada beberapa orang yang—meski harus bersusah payah dan menempuh perjalanan panjang—tetap datang menemuinya.
Dan orang-orang inilah yang benar-benar berbeda.
Mereka yang tidak takut kesulitan dan tetap bersikeras ingin bertemu, hampir selalu datang dengan urusan yang penting dan sikap yang penuh ketulusan. Benar juga—kalau urusannya tidak penting, kalau niatnya tidak sungguh-sungguh, siapa yang rela menempuh perjalanan sejauh itu hanya untuk bertemu seseorang?
Sejak menerapkan cara ini, teman saya tidak lagi sesibuk dulu. Dan setiap kali dia bertemu orang, tingkat keberhasilan kerja samanya justru sangat tinggi.
Saya juga punya seorang teman sekelas yang dulu sangat ingin belajar menulis. Setelah tahu bahwa saya pernah mempublikasikan beberapa artikel, dia datang meminta saya mengajarinya. Tentu saja saya tidak keberatan. Masalahnya adalah, dia tipe orang yang sangat menyukai keramaian. Setiap kali duduk di depan komputer kurang dari setengah jam, dia sudah merasa pusing, tubuh tidak nyaman, dan harus keluar berjalan-jalan.
Selain itu, dia juga tidak sanggup menerima kenyataan bahwa setidaknya selama enam bulan pertama menulis tidak akan menghasilkan uang. Dia juga tidak bisa menerima kemungkinan terkena penyakit akibat pekerjaan, seperti gangguan kesehatan karena duduk terlalu lama.
Jalan menulis, yang terlihat seperti jalan pintas menuju kesuksesan, sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Di sepanjang perjalanan, ada begitu banyak rintangan. Misalnya, kamu harus sanggup menghadapi kesepian; kamu harus siap tidak memiliki penghasilan setidaknya selama enam bulan—dan setelah enam bulan pun, belum tentu ada hasil; duduk terlalu lama di depan komputer juga bisa menyebabkan masalah pada bahu, leher, dan pinggang.
Di hadapan semua rintangan ini, semangat teman saya hanya bertahan kurang dari sebulan. Karena tidak melihat hasil apa pun, perlahan-lahan dia pun menyerah.
Sebenarnya, ada rintangan yang memang diciptakan untuk menyaring orang-orang yang tidak cocok. Jika kamu memang tidak sesuai menempuh jalan ini, jika keinginanmu tidak cukup kuat, maka pilihan terbaik bukanlah memaksa diri—melainkan berbalik arah dan mencari jalan yang lebih sesuai dengan dirimu.
Di dunia ini, tidak ada orang yang menyukai rintangan. Namun, sejujurnya, kita patut berterima kasih pada rintangan-rintangan itu. Dia seperti hukum seleksi alam—secara otomatis menyingkirkan orang dan hal-hal yang tidak penting, membantu kita menghemat waktu dan tenaga, dan memaksa kita menggunakan sumber daya paling berharga kita untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Inilah kebaikan terbesar yang diberikan kehidupan kepada kita—agar kita tidak terlalu banyak menempuh jalan berliku.(jhn/yn)
EtIndonesia. Baru-baru ini, seekor kucing asal Inggris bernama Flossie merayakan ulang tahunnya yang ke-30, sekaligus terus mempertahankan gelar sebagai kucing “tertua” di dunia menurut Guinness World Records. Jika dikonversikan ke usia manusia, usianya setara dengan sekitar 140 hingga 150 tahun.
Flossie adalah seekor kucing British Shorthair bercorak tortoiseshell, lahir pada 29 Desember 1995. Pada tahun 2022, sebuah lembaga perlindungan kucing berdasarkan catatan riwayat dokter hewan mengkonfirmasi tanggal kelahirannya, lalu secara resmi mengajukan permohonan dan memperoleh sertifikasi Rekor Dunia Guinness untuk Flossie.
Meski kini Flossie telah mengalami gangguan pendengaran dan penglihatannya menurun, perempuan Inggris yang merawatnya, Victoria Green, mengatakan bahwa kucing tersebut masih tergolong sehat, dan kepribadiannya tetap seperti anak kucing—“penuh kasih sayang dan suka bermain”.
Flossie, the world's oldest living cat, will celebrate her 30th birthday on December 29, 2025. pic.twitter.com/NoZ42sBby2
Pengalaman hidup Flossie sungguh menakjubkan. Ia hidup lebih lama dari dua orang pemiliknya. Ia menemani pemilik pertamanya selama sepuluh tahun hingga pemilik tersebut meninggal dunia; kemudian diadopsi oleh saudari pemiliknya dan hidup bersama selama empat belas tahun, hingga pemilik kedua itu juga wafat. Kini, Flossie diasuh oleh Victoria, seorang asisten administrasi yang menyukai kucing dan berpengalaman merawat kucing lanjut usia.
“Sejak awal saya sudah tahu Flossie itu istimewa, tapi saya tidak pernah menyangka akan hidup bersama seekor pemegang rekor dunia,” ujar Vicky sambil tersenyum.
Namun, Flossie bukanlah kucing paling panjang umur sepanjang sejarah. Menurut Guinness World Records, seekor kucing campuran tabby bernama “Creme Puff” dari Austin, Texas, Amerika Serikat, pernah hidup hingga usia 38 tahun—rekor yang hingga kini belum terpecahkan. (Hui)
Dilaporkan dan diterjemahkan oleh reporter Jin Jing / Penyunting Lin Qing