Laporan gabungan jurnalis Zhang Ting
Sabtu (3/1/2026) dini hari, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan darat, laut, dan udara untuk melancarkan serangan presisi berskala belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Venezuela. Operasi ini berhasil menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro beserta istrinya.
Aksi ini mengirimkan sinyal kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT), Iran, dan rezim tirani lainnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pesan Amerika adalah: “Jangan bermain trik dengan Presiden Trump, karena akibatnya tidak akan baik.”
Presiden Trump pada Sabtu menyatakan bahwa penangkapan Maduro adalah: “Salah satu demonstrasi kekuatan dan kemampuan militer Amerika paling mengagumkan, paling efektif, dan paling mengguncang dalam sejarah Amerika Serikat.”
Menteri Perang AS Pete Hegseth, saat membahas operasi penangkapan Maduro, mengatakan: “Koordinasi, kerahasiaan, daya hancur, presisi, serta jangkauan hukum Amerika — semuanya ditampilkan secara penuh pada operasi malam itu.”
Peringatan kepada Rezim Tiran : Trump Tidak Selamanya Memberi Kesempatan
Hegseth menyatakan bahwa Maduro pernah diberi kesempatan, seperti halnya Iran pernah diberi kesempatan, “Sampai mereka tidak lagi punya kesempatan, sampai ia tidak lagi punya kesempatan.”
Maduor pada akhirnya memilih menempuh jalan bunuh diri politik dan menanggung akibatnya.

“Sulit diungkapkan dengan kata-kata tentang keberanian, kekuatan, dan presisi operasi sejarah ini. Ini adalah operasi gabungan militer dan penegakan hukum berskala besar, dilaksanakan secara sempurna oleh orang-orang Amerika terbaik,” kata Hegseth.
Hegseth menekankan, Amerika mengirim pesan kepada musuh bahwa militer AS dapat bertindak kapan saja dan di mana saja.
Ia mengatakan, tidak ada negara lain di dunia yang mampu melakukan operasi seperti ini, bahkan mendekatinya pun tidak mungkin. Belum pernah ada presiden yang menunjukkan kepemimpinan, keberanian, dan tekad seperti ini.
Bagi dia, ini adalah kombinasi kekuatan terkuat yang pernah ada dalam sejarah dunia. Seperti yang dikatakan Presiden, musuh kita tetap berada dalam kondisi waspada. Amerika dapat bertindak sesuai rencana, kapan pun dan di mana pun.
NBC News menganalisis, operasi terhadap Maduro akan membuat Partai Komunis Tiongkok (PKT) memperhatikan dengan cermat, sementara Iran akan merasa cemas.
Pesan yang dikirim oleh Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri AS Rubio akan terdengar jelas oleh musuh-musuh Amerika di seluruh dunia.
Presiden Trump menyatakan, Amerika memiliki: “Kemampuan dan keahlian yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh musuh-musuh kami.”
Rubio menegaskan, ini adalah pesan kepada dunia, khususnya bagi mereka yang suka bermain trik: “Jangan bermain trik. Jangan bermain trik dengan Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, karena tidak akan ada hasil yang baik.”
NBC menyebut, di Iran, ketika rakyat turun ke jalan dalam protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Trump hanya dalam satu malam membalik rezim Maduro, yang akan membuat pihak berwenang Iran sulit tidur.
Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan mencatat, bahwa beberapa jam setelah pejabat PKT bertemu Maduro, Presiden Trump langsung melakukan operasi penangkapan Maduro hidup-hidup
Maduro pada 2 Januari memposting di akun Instagramnya video dan foto pertemuannya dengan delegasi PKT, menyebut pertemuan dengan utusan khusus Xi Jinping, Qiu Xiaoqi, “menyenangkan”, dan menegaskan, “Venezuela dan Tiongkok (PKT) adalah saudara,” serta menekankan, “ikatan kokoh antara kedua negara.”
NBC menyatakan, jika pertemuan PKT dan Maduro dimaksudkan untuk mengirim pesan ke Washington, jelas pesan itu gagal total. Aksi Trump menangkap hidup Maduro mengirim pesan yang jelas ke PKT: “Belahan Barat bukan wilayahmu.”
Pengamat urusan Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, Tang Jingyuan, menggambarkan operasi ini sebagai “peristiwa penanda (landmark) dalam hubungan internasional modern.”
“Penangkapan dan ekstradisi Maduro menandakan bahwa keamanan nasional Amerika Serikat—terutama dalam ranah geopolitik—telah menjadi prioritas absolut,” katanya.
“Dari sudut pandang Washington, Maduro telah lama kehilangan legitimasi melalui manipulasi pemilu dan keterlibatan negara dalam perdagangan narkoba yang secara langsung mengancam keamanan AS,” imbuhnya.
Tang mengatakan bahwa langkah Washington mencerminkan keputusan sadar pemerintahan Trump untuk tidak lagi memperlakukan sebagian pemimpin asing sebagai ‘penguasa berdaulat yang kebal hukum’, melainkan sebagai pelaku kriminal.
“Bagi para pemimpin yang telah kehilangan legitimasi dan melakukan kejahatan besar, Amerika Serikat kini memandang dirinya memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk bertindak sebagai penegak hukum internasional,” ujarnya.

Gaung Panama 1989
Shen Ming-shih, peneliti di Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mencatat bahwa meskipun operasi ini luar biasa, bukan tanpa preseden. Pada 1989, Amerika Serikat pernah menangkap pemimpin Panama Manuel Noriega dan membawanya ke AS atas dakwaan perdagangan narkoba.
Shen mengatakan bahwa penggerebekan di Venezuela jauh lebih berdampak besar, mengingat ukuran negara itu yang lebih besar serta keterkaitannya yang dalam dengan Tiongkok dan Rusia.
“Di permukaan, pelanggaran utama Maduro adalah menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, Washington juga sangat khawatir terhadap ekspor minyak Venezuela ke Partai Komunis Tiongkok (PKT), kerja samanya yang luas dengan Tiongkok, serta hubungan eratnya dengan Rusia,” ujarnya.
“Itulah sebabnya intervensi militer ini memiliki implikasi besar—bukan hanya bagi Amerika Selatan, tetapi juga bagi Tiongkok dan Rusia.”
Shen menegaskan bahwa misi ini merupakan tindakan penegakan hukum yang terarah terhadap individu tertentu, bukan sebuah aksi perang.

Menghindari Perang Darat Berkepanjangan
Mark Cao, analis teknologi militer yang berbasis di Amerika Serikat, mantan insinyur material, sekaligus host kanal berita militer berbahasa Mandarin di YouTube “Mark Space”, mengatakan bahwa operasi ini mencerminkan upaya terukur demi menghindari perang darat yang mahal dan berkepanjangan. Hal demikian justru berpotensi menimbulkan korban besar di pihak Amerika Serikat.
“Dengan menangkap Maduro dan istrinya, rezim Maduro dipecah berkeping-keping, dan Amerika Serikat berhasil menghindari perang darat yang panjang dan mahal,” katanya. “Strategi ini menyingkirkan penghalang utama dalam rezim tersebut.”
Cao mengatakan pendekatan ini juga memberikan pukulan psikologis yang tajam kepada Beijing dan Moskow. Apalagi kedua rezim ini mendukung Maduro secara diplomatik dan ekonomi.
Maduro diketahui bertemu dengan delegasi yang mewakili Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya beberapa jam sebelum ia ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi semalam.
“Tiongkok baru saja mengirim utusan sebagai sinyal dukungan,” ujar Cao. “Namun sebelum bantuan material apa pun sempat tiba, rezim itu sudah runtuh.”
Tidak Ada Tempat Aman bagi Bandar Narkoba
Ketua Komite Intelijen Senat AS, Tom Cotton, pada Sabtu di program Fox & Friends mengatakan: “Ini adalah bandar narkoba yang telah didakwa oleh Amerika Serikat.
Di mana pun mereka berada, apa pun gelarnya, orang seperti ini tidak akan pernah memiliki tempat aman.”
“Ini pengingat bagi seluruh musuh Amerika di dunia, bahwa ketika kita memiliki Panglima Tertinggi yang berani dan tegas, militer kita mampu melakukan apa pun untuk melindungi kepentingan nasional Amerika,” tambahnya.

Video diperoleh dari Reuters/via REUTERS
Intelijen AS dan Pasukan Khusus Koordinasi Operasi: Menunjukkan Kekuatan
Menurut situs berita militer Amerika, Defense One, operasi penangkapan Maduro didukung penuh oleh komunitas intelijen AS.
Seorang pejabat AS yang mengetahui urusan dalam, menyebut beberapa badan intelijen AS membentuk tim operasi krisis, yang selama operasi memberi informasi ntelijen kepada Komando Operasi Khusus AS dan Komando Selatan.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, mengatakan pada konferensi pers Sabtu, CIA, NSA, dan NGA semua terlibat.
NGA (Badan Intelijen Geospasial Nasional Amerika Serikat) menggunakan data citra dan peta untuk mendukung operasi militer.
Caine juga menyebut, selama beberapa bulan sebelum operasi, badan intelijen AS mengamati dengan rinci kehidupan sehari-hari Maduro, melacak pergerakan, tempat tinggal, perjalanan, makanan, pakaian, bahkan hewan peliharaannya.
Ia mengatakan, operasi ini “melibatkan lebih dari 150 pesawat, yang lepas landas secara koordinatif dari berbagai lokasi di Belahan Barat.”
Sabtu dini hari pukul 01.00, pasukan khusus AS bersama FBI menyerbu rumah Maduro dan terlibat baku tembak.
Pukul 01.15, pasukan khusus menembus ruang aman dan menangkap pasangan Maduro.
Presiden Trump sebelumnya mengatakan, yang mengeksekusi misi ini adalah: “Prajurit paling terlatih di dunia. Tidak ada yang memiliki bakat seperti mereka. Bukan hanya keberanian yang penting — keberanian memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bakat. Tidak ada yang memilikinya seperti mereka. Dan tidak ada yang memiliki peralatan seperti milik kita.”
“Mereka berlatih sebelumnya. Mereka bahkan membangun replika rumah yang persis sama dengan target untuk latihan…” kata Trump.


