Operasi Serangan Mata Elang AS di Suriah Menyasar Para Militan, Infrastruktur dan Gudang Senjata ISIS

EtIndonesia. Militer Amerika Serikat pada Jumat (19 Desember) melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap lebih dari 70 target organisasi teroris “Negara Islam” (ISIS) di wilayah Suriah. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan “pembalasan yang sangat keras”. Operasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Suriah.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, serangan udara tersebut setidaknya menewaskan lima anggota ISIS, termasuk seorang pemimpin tim drone.

Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menulis di media sosial X bahwa pada Jumat, militer AS melancarkan “Operasi Serangan Mata Elang” di Suriah, dengan sasaran militan ISIS, infrastruktur, serta gudang senjata. Operasi ini merupakan respons langsung atas serangan ISIS pada Sabtu pekan lalu di Palmyra, Suriah, yang menargetkan pasukan Amerika.

Serangan ISIS pada Sabtu lalu itu menewaskan tiga warga Amerika, termasuk dua anggota Garda Nasional Negara Bagian Iowa dan seorang penerjemah sipil Amerika. Selain itu, tiga orang lainnya terluka.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menulis di media sosial: “Malam ini, pasukan Amerika Serikat dan Yordania menggunakan lebih dari 100 senjata berpemandu presisi untuk menyerang lebih dari 70 target ISIS di Suriah. Mencari perdamaian melalui kekuatan.”

Pada Jumat malam, Presiden Trump juga menyinggung operasi penumpasan ISIS tersebut dalam pidatonya di North Carolina.

Presiden AS Donald Trump: “Operasi ini sangat berhasil. Presisi sempurna. Kami menghantam setiap target dengan tepat.”

Pada Sabtu (20 Desember), Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan dukungannya terhadap serangan militer AS terhadap ISIS.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese: “Serangan udara ini merupakan respons langsung terhadap serangan ISIS terhadap personel pertahanan Amerika Serikat. Tindakan pemerintah AS tepat waktu, cepat, dan tegas. Kami mendukung tindakan tersebut.”

Pada Minggu lalu, terjadi serangan teror yang terinspirasi ISIS di Pantai Bondi, Australia, yang menewaskan sedikitnya 15 orang, sementara banyak lainnya masih dirawat di rumah sakit.

Albanese menegaskan bahwa ideologi jahat ISIS tidak seharusnya memiliki tempat di mana pun di dunia, dan ia menyatakan dukungan terhadap respons pemerintah Amerika Serikat. (Hui)

Laporan gabungan wartawan New Tang Dynasty Television: Li Mei dan Jiang Diya

Kasus Flu Mengganas di Tiongkok: Kasus Berat dan Kematian Meledak, Otoritas Diduga Tutup-Tutupi Fakta

Belakangan ini, wabah influenza di Tiongkok merebak dengan ganas. Penyebaran virus sangat luas, gejalanya berat, dan tingkat infeksi melonjak tajam. Kelompok usia 5 hingga 14 tahun tercatat jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Data yang disebut sebagai “musim flu” tahun ini telah melampaui periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Jumlah kasus berat dan kematian meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu. Masyarakat meragukan bahwa ini hanya flu biasa dan menduga kemungkinan disebabkan oleh mutasi virus COVID-19, sementara otoritas tetap menutupi kebenaran.

EtIndonesia. Media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) melaporkan bahwa saat ini tingkat aktivitas flu di banyak kota di Tiongkok meningkat dengan cepat, jumlah kasus infeksi bertambah signifikan. Beijing telah memasuki periode dengan tingkat kejadian tinggi, dan Shanghai juga akan segera mencapai puncaknya. Namun, kondisi sebenarnya disebut-sebut jauh lebih buruk.

Warga mengatakan, “Flu tahun ini benar-benar gila. Satu orang terinfeksi, seluruh keluarga ikut tertular. Unit gawat darurat rumah sakit penuh antrian.”

Seorang warga Tiongkok daratan berkata:  “Flu A kali ini sangat parah. Anak kami kena flu A duluan, lalu saya minta izin sekolah untuknya dan dia minum obat di rumah. Mungkin kemudian menular ke saya.”

Seorang dokter spesialis penyakit pernapasan di Tiongkok daratan mengatakan:
“Semua orang belakangan ini harus benar-benar memperhatikan perlindungan diri, karena saya bekerja di bagian pernapasan, dan sekarang jumlah pasien saya sangat, sangat banyak.”

Data pemantauan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok menunjukkan bahwa data musim flu tahun ini telah melampaui periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam hampir empat tahun, serta masih terus meningkat. Namun, data sebenarnya tidak jelas.

Menurut laporan, dari wilayah selatan hingga utara, laporan wabah berkelompok di sekolah terus meningkat. Tingkat hasil positif tes pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun jelas lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Di beberapa daerah di Shanghai, hampir seluruh satu tingkat kelas harus dikarantina.

Selain itu, di Henan, Zhejiang, Jiangsu, dan daerah lainnya, banyak anak yang setelah terinfeksi berkembang menjadi “paru-paru putih” (white lung) dalam waktu sangat singkat, dan jumlah kasus kematian di berbagai daerah juga terus meningkat.

 “Data pemeriksaan flu terbaru yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok menunjukkan bahwa hanya dalam tiga bulan terakhir, jumlah kasus flu A berat dan kematian di seluruh negeri meningkat sekitar 40,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Rumah Sakit Kesehatan Ibu dan Anak Kota Pingxiang. 

Professor Liu, dosen di Canadian College of Traditional Chinese Medicine dan direktur Klinik Pengobatan Tiongkok Kangmei, mengatakan:  “Dari sudut pandang lain, khususnya di Tiongkok daratan, kondisi ini mungkin berkaitan dengan terganggunya fungsi kekebalan tubuh masyarakat akibat pandemi COVID-19 sebelumnya. Terjadi kekacauan pada sistem imun. Karena yang dilaporkan bukan hanya infeksi virus flu A, tetapi juga virus pernapasan lain seperti RSV, bahkan infeksi campuran. Fenomena ini dalam dua tahun terakhir sangat jelas dan patut mendapat perhatian serius.”

Mengapa wabah di Tiongkok begitu parah? Media resmi Partai Komunis Tiongkok mengklaim bahwa perubahan utama tahun ini adalah pergeseran strain virus yang beredar. 

Strain flu A H1N1 yang mendominasi musim lalu kini tergeser, sementara flu A H3N2 menjadi strain utama musim ini dengan proporsi lebih dari 95 persen, disertai sedikit flu A H1N1 dan virus influenza tipe B yang beredar bersamaan.

Namun, masyarakat mengungkapkan bahwa rumah sakit melakukan pemeriksaan ketat terhadap pasien yang hasil tesnya positif. Mereka meragukan bahwa wabah ini sebenarnya masih merupakan mutasi virus COVID-19, dan menuduh otoritas serta rumah sakit bekerja sama untuk menutupi kebenaran.

Seorang orang tua siswa di Tiongkok daratan berkata:  “Di rumah sakit juga ada pencatatan yang sangat ketat. Mereka bertanya kamu dari sekolah mana, kelas apa. Kalau hasilnya positif, katanya karena flu A, padahal sebenarnya ini adalah virus mutasi COVID-19!”

Para ahli mengingatkan bahwa seiring penyebaran virus di tengah masyarakat, kecepatan mutasi virus akan semakin meningkat. Semua pihak harus benar-benar memperhatikan keselamatan kesehatan publik. (Hui/asr)

Laporan wawancara oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Tang Rui.

Gempar Laporan Otopsi Bayi 5 Bulan Xiao Luoxi di Rumah Sakit Tiongkok Terungkap: Sebenarnya Sehat dan Tidak Perlu Operasi, Dokter Diduga Memalsukan Data

EtIndonesia. Bayi berusia 5 bulan bernama Xiao Luoxi meninggal dunia setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Afiliasi Universitas Ningbo. Upaya orang tuanya menuntut kejelasan dan keadilan memicu simpati luas dari warganet. Pada 19 Desember, laporan otopsi Xiao Luoxi dipublikasikan dan menunjukkan bahwa ia sebenarnya sehat dan tidak memerlukan operasi, serta terdapat dugaan pemalsuan dan penipuan oleh dokter yang terlibat. Peristiwa ini memicu kemarahan publik, dan kata kunci “Xiao Luoxi” langsung menjadi trending di medsos Weibo pada hari yang sama.

Ibu Xiao Luoxi pada 19 Desember mengunggah laporan otopsii anaknya ke internet. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kelainan jantung yang sebenarnya hanya berukuran 3 mm (cacat kecil yang umum dan biasanya dapat sembuh sendiri tanpa operasi). Tidak ditemukan kelainan kompleks seperti yang sebelumnya diklaim pihak rumah sakit, seperti “defek septum atrium tipe sinus koroner” atau “sindrom sinus koroner tanpa atap”. 

Seorang dokter bedah jantung menyatakan bahwa cacat kecil semacam ini memiliki tingkat penyembuhan mandiri lebih dari 80% dalam usia satu tahun, dan pasien tanpa gejala tidak memerlukan operasi seumur hidup.

(Tangkapan layar)

Ibu Xiao Luoxi menulis, “Setelah menerima laporan otopsi, rasanya hancur tak tertahankan,” dan menuduh bahwa, “Dalam laporan autopsi, putri saya sama sekali tidak memiliki defek septum atrium tipe sinus koroner, apalagi sindrom sinus koroner tanpa atap. Yang ada hanya defek septum atrium sekunder berukuran 3 mm. Saya secara acak bertanya kepada seorang dokter bedah jantung secara daring: meskipun tidak dioperasi, anak saya tidak akan mengalami masalah apa pun seumur hidupnya. Justru karena kalian menakut-nakuti kami, … anak saya berakhir dengan tragedi seperti ini.”

Dalam unggahannya, ibu Xiao Luoxi juga mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan otopsi, sayatan operasi sepanjang 6,5 cm di antara tulang rusuk dan sayatan perikardium sepanjang 5 cm tidak dijahit, hanya kulit luar yang dijahit. Rongga dada kanan terdapat penumpukan darah 30 ml (sekitar sepertiga dari total volume darah bayi), saluran napas mengandung sisa cairan berdarah. Catatan operasi menyebutkan “seluruh tambalan telah dilepas”, namun kenyataannya masih tersisa tambalan perikardium berukuran 1,4 cm × 0,5 cm di dalam jantung.

(Tangkapan layar)

Pada hari yang sama, ayah Xiao Luoxi juga mengunggah pernyataan:  “Putri saya sama sekali tidak sakit. Putri saya sehat-sehat saja. Dia seharusnya tidak meninggal! Dia seharusnya tidak menjalani operasi!”  “Catatan operasi dipalsukan secara terang-terangan. Lalu, apa lagi dari seluruh rekam medis ini yang bisa dipercaya?”

Ayah Xiao Luoxi juga mengklarifikasi bahwa terkait otopsi, proses tersebut dilakukan sesuai ketentuan. Pada 26 November, dengan persetujuan kedua belah pihak—Rumah Sakit Ibu dan Anak Afiliasi Universitas Ningbo dan keluarga otopsi dilaksanakan atas penugasan Komisi Kesehatan Kota Ningbo.

(Tangkapan layar)

Netizen mengungkapkan kemarahan mereka:

 “Ada defek septum atrium!! USG jantung semuanya palsu!!! Luka operasi tidak dijahit, Xiao Luoxi kehabisan darah hingga meninggal!!! Bahkan orang tua masih ditipu bahwa operasi berhasil!”
“Apakah bayi dijadikan kelinci percobaan? Saya sampai gemetar karena marah.”
“Saya sempat berpikir ini pengobatan berlebihan atau kesalahan operasi, tapi tidak pernah terpikir bahwa seorang anak yang sehat ditipu dan dijadikan objek operasi—ini sangat mengerikan!”
“Saya bisa menebak mungkin pembuluh darah dijahit salah, tapi tak menyangka sama sekali tidak dijahit. Saya bisa menebak mungkin dokter kurang terampil dan berhenti di tengah operasi, tapi tak menyangka anak itu sebenarnya tidak bermasalah dan tidak perlu operasi. Saya bisa menebak anak itu meninggal karena kerusakan organ, tapi tak menyangka ia meninggal karena kehabisan darah. Kata-kata yang asing dan dingin ini benar-benar menghancurkan pemahaman saya tentang kemanusiaan.”

Ada pula netizen yang meninggalkan pesan :
“Seorang anak yang sehat, hidup-hidup sampai mati karena operasi! Ini sama sekali bukan kecelakaan medis!”
“Bayi dijadikan bahan eksperimen! Dipakai untuk latihan!”
“Ini bukan kecelakaan medis! Ini pembunuhan!” (Hui)

Laporan kompilasi oleh reporter Li Li / Xu Gengwen

Jingwei dan Burung Gagak

EtIndonesia. Menurut legenda kuno, putri Kaisar Yan pergi bermain ke laut, namun malang—dia tenggelam dan meninggal dunia. Arwahnya kemudian menjelma menjadi seekor burung bernama Jingwei.

Untuk membalas nasib tragis di kehidupan sebelumnya, Jingwei bersumpah mengisi laut hingga rata. Setiap hari tanpa mengenal lelah, dia terbang bolak-balik sambil membawa batu kecil dan menjatuhkannya ke laut. Hari demi hari, tahun demi tahun, tekadnya tak pernah goyah. Karena kegigihannya itu, Jingwei dipuja sebagai lambang ketekunan dan keuletan.

Suatu hari, ketika Jingwei sedang sibuk bekerja, dia melihat seekor burung gagak terbang melewatinya—di paruhnya juga tergenggam sebuah batu kecil.

“Apakah burung gagak itu juga ingin meniru aku mengisi laut?” pikir Jingwei heran.

Dia pun mengikuti gagak itu. Burung gagak mendarat di sebuah tebing, di sana terdapat sebuah botol kaca berisi setengah botol air. Dengan hati-hati, burung gagak menjatuhkan batu kecil ke dalam botol. Air di dalam botol pun naik hingga ke bibir botol. Dengan gembira, gagak itu meminum air tersebut.

Melihat itu, Jingwei tertawa sinis dan berkata meremehkan: “Hmph, itu hanya trik kecil yang sepele!”

Burung gagak melirik Jingwei, lalu dengan santai meneguk air sekali lagi sambil berkata : “Wahai Jingwei yang terhormat, memang benar tujuanku sangat sederhana—tetapi nyata dan dapat dicapai. Sementara kamu terus berlari tanpa henti, pernahkah kamu memikirkan satu kenyataan ini?”

“Luas lautan di bumi ini dua setengah kali lebih besar dari luas daratan, dan volume air laut sepuluh kali lipat dari volume daratan. Artinya, sekalipun seluruh daratan dilemparkan ke laut, bumi ini tetap hanya akan menjadi hamparan samudra. Tujuan besarmu itu… sesungguhnya mustahil dicapai.”

Mendengar kata-kata itu, Jingwei langsung jatuh pingsan.

Renungan

Burung gagak, dengan usaha sederhana dan strategi yang tepat, berhasil meminum air dengan mudah. Jingwei, meski tekun dan pantang menyerah, pada akhirnya bekerja sia-sia.

Penyebabnya bukan karena kurang gigih, melainkan karena dia hanya mengandalkan kemauan subjektif, tanpa mempertimbangkan kenyataan objektif.

Dalam hidup, kita memang harus tekun dan bekerja keras, tetapi juga perlu mengangkat kepala dan melihat arah jalan.

Melangkahlah dengan kaki menjejak bumi, namun pandangan tetap terbuka pada realitas dan kemungkinan.(jhn/yn)

Balasan Serangan terhadap Tentaranya, Militer AS Luncurkan Serangan Presisi terhadap Lebih dari 70 Target ISIS di Suriah

Pada 13 Desember, sebuah konvoi gabungan militer Amerika Serikat dan Suriah disergap di wilayah tengah Suriah, menewaskan dua tentara dan satu warga sipil. Sebagai balasan, pada Jumat (19 Desember), militer AS menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi untuk menyerang lebih dari 70 target milik ISIS (Islamic State).

EtIndonesia. Komando Pusat Militer AS (US Central Command) menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh seorang penembak tunggal dan terjadi pada  13 Desember di kota Palmyra di Suriah tengah, “saat pasukan sedang berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting setempat.”

Media pemerintah Suriah, SANA, mengutip seorang sumber keamanan yang melaporkan bahwa dua tentara Suriah terluka, dan helikopter AS telah mengevakuasi para korban ke pangkalan militer AS di Al-Tanf, wilayah yang berada dekat perbatasan Irak.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), Washington menyatakan bahwa penyergapan terhadap konvoi tersebut dilakukan oleh seorang pelaku tunggal (lone wolf) yang terkait dengan ISIS.

Sebagai tanggapan, US Central Command menyebutkan bahwa militer AS “menggunakan pesawat tempur, helikopter serang, dan artileri untuk menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di Suriah tengah.”

US Central Command menambahkan: “Operasi ini menggunakan lebih dari 100 amunisi berpemandu presisi, yang menargetkan infrastruktur dan gudang senjata ISIS yang telah diketahui.”
Palmyra memiliki situs-situs kuno yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO, dan wilayah tersebut sebelumnya pernah dikuasai oleh kelompok jihad.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menulis di platform media sosial X bahwa militer AS telah meluncurkan “Operasi Hawkeye Strike” di Suriah, sebagai respons langsung atas serangan terhadap pasukan AS di Palmyra pada 13 Desember, dengan tujuan melenyapkan pejuang ISIS serta menghancurkan infrastruktur dan persenjataan mereka.

Ia menegaskan: “Ini bukan awal dari sebuah perang—ini adalah deklarasi pembalasan.”
Ia menambahkan: “Hari ini (19 Desember), kami telah memburu dan menewaskan banyak musuh, dan operasi seperti ini akan terus berlanjut.”

Donald Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa militer AS, “seperti yang telah saya janjikan, melakukan pembalasan yang sangat keras terhadap para teroris kejam ini.”

Ia juga memperingatkan: “Siapa pun yang menyerang warga Amerika akan menerima pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

US Central Command juga menyatakan bahwa setelah serangan di Palmyra, Amerika Serikat dan pasukannya telah melakukan 10 operasi di Suriah dan Irak, yang mengakibatkan 23 teroris tewas atau ditangkap, meski tidak merinci afiliasi kelompok ekstremis tersebut.

Kementerian Luar Negeri Suriah tidak secara langsung mengomentari gelombang serangan udara AS ini, namun menyatakan melalui platform X bahwa Suriah berkomitmen untuk memerangi ISIS dan memastikan kelompok tersebut “tidak memiliki tempat persembunyian apa pun di wilayah Suriah.” (Hui)

Eskalasi Berbahaya di Karibia: AS Sita Tanker Iran, Tiongkok, dan Kejar Armada Bayangan Venezuela

EtIndonesia. Dalam dua pekan terakhir (awal–pertengahan Desember 2025), militer Amerika Serikat secara beruntun menyita sejumlah kapal tanker minyak di perairan Karibia, khususnya di sekitar wilayah Venezuela. Langkah agresif ini dipandang luas sebagai sinyal bahwa Washington tengah menaikkan level konfrontasi langsung terhadap pemerintahan Venezuela serta jaringan pendukungnya.

Sementara Presiden Venezuela, Nicolás Maduro bereaksi keras dan menunjukkan kemarahan terbuka, Presiden AS, Donald Trump—yang secara terbuka merilis rekaman operasi—tampak santai, seolah menyaksikan eskalasi ini sebagai panggung kekuatan geopolitik.

Kapal Iran Disita, Minyak Disapu Bersih

Pada awal Desember 2025, Angkatan Laut AS bersama Penjaga Pantai AS mencegat sebuah kapal tanker milik Iran bernama Skipper di lepas pantai Venezuela. Kapal tersebut ditahan sepenuhnya, sementara seluruh muatan minyaknya disita.

Washington menyatakan bahwa kapal ini merupakan bagian dari “armada bayangan” Venezuela, yakni jaringan kapal yang dituding digunakan untuk menghindari sanksi internasional dan mendanai aktivitas ilegal.

Tanker Milik Tiongkok Jadi Sasaran

Kejutan besar terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025, ketika AS menyita kapal tanker kedua bernama Century. Meski mengibarkan bendera Panama, kapal ini sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan Tiongkok.

Kapal Century membawa 1,8 juta barel minyak mentah Merey-16, kualitas unggulan milik perusahaan minyak nasional Venezuela. Dengan harga pasar saat ini, nilai kargo tersebut diperkirakan melampaui 100 juta dolar AS.

Tak lama setelah meninggalkan pelabuhan Venezuela, kapal ini langsung dikuasai oleh militer AS.

Taktik Militer: Operasi Kilat dari Udara

Rekaman video operasi—yang kemudian dideklasifikasi dan dirilis ke publik—menunjukkan pola operasi khas militer AS:

  • Sedikitnya tiga helikopter bersenjata dikerahkan
  • Satu helikopter melayang tepat di atas kapal
  • Pasukan khusus AS turun langsung dari udara
  • Dua helikopter lainnya berjaga sebagai unsur tembak siap pakai

Militer AS menyatakan operasi berlangsung cepat, aman, dan tanpa perlawanan.

Washington: Ini Pendanaan Kartel dan Terorisme

Pemerintah AS menyebut kapal-kapal tersebut sebagai bagian dari jaringan pendanaan Maduro yang dikaitkan dengan kartel narkoba dan aktivitas terorisme.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menegaskan: “Kami akan terus memberantas pengiriman minyak ilegal di wilayah ini. Kami akan memburu mereka satu per satu hingga tuntas.”

Pernyataan ini dipandang luas sebagai deklarasi konfrontasi terbuka terhadap Maduro dan para sekutunya.

Tanker Ketiga Diburu: Bella One

Belum reda ketegangan, militer AS kembali mengejar kapal tanker ketiga bernama Bella One, yang berangkat dari Iran dan direncanakan menuju Venezuela.

Kapal ini kedapatan mengibarkan bendera palsu dan menonaktifkan transponder, namun tetap terdeteksi oleh sistem radar dan satelit Angkatan Laut AS. Kapal tersebut akhirnya dicegat dan disita.

Para analis menegaskan bahwa dengan teknologi pengawasan AS saat ini, kamuflase semacam itu tidak lagi efektif.

Dampak Langsung: Ekspor Minyak Venezuela Terhenti

Serangkaian penyitaan ini berarti satu hal: ekspor minyak Venezuela praktis terhenti total.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, dalam wawancara televisi (21 Desember 2025) menyatakan bahwa: “Volume minyak ini tidak signifikan terhadap pasokan global, sehingga tidak akan memicu lonjakan harga minyak dunia.”

Namun, bagi Tiongkok—pembeli terbesar minyak Venezuela—dampaknya bisa jauh lebih terasa.

AS Tingkatkan Tekanan Militer di Sekitar Venezuela

Seiring penyitaan kapal, AS juga meningkatkan tekanan militer secara diam-diam.

Di Pangkalan Angkatan Laut Roosevelt Roads, Puerto Rico, yang berhadapan langsung dengan Venezuela, terpantau lebih dari 20 jet tempur siluman F-35A dan F-35B dikerahkan pada pertengahan Desember 2025.

Jet-jet ini berasal dari Garda Nasional Udara Vermont, skuadron Green Mountain Boys, dan akan beroperasi bersama Korps Marinir AS.

EC-130H: Sinyal Perang Elektronik

Pada malam 21 Desember 2025, sebuah pesawat EC-130H Compass Call mendarat di Puerto Rico. Meski tampil sederhana, pesawat ini adalah senjata perang elektronik strategis.

Jumlahnya di dunia hanya empat unit, dengan kemampuan:

  • Melumpuhkan sistem komunikasi musuh
  • Membuat lawan “buta dan bisu” secara elektronik

Pesawat ini pernah digunakan di Panama, Irak, Afghanistan, Suriah, dan berbagai medan perang lain.

Maduro Panik, Rusia Mulai Menjauh

Di Caracas, Maduro menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB dan mulai membagikan senjata kepada warga sipil untuk membentuk milisi lokal.

Di sisi lain, laporan intelijen Eropa menyebut bahwa Kementerian Luar Negeri Rusia mulai mengevakuasi keluarga diplomatnya dari Venezuela, sementara sejumlah tanker Rusia yang semula menuju Karibia memutar balik arah.

Front Lain Bergolak: Ukraina Guncang Rusia

Sementara itu, konflik Rusia–Ukraina juga memanas:

  • Malam 21 Desember 2025: Intelijen Ukraina menyusup ke Pangkalan Udara Lipetsk, Rusia, dan membakar dua jet tempur Su-27 dan Su-30
  • Malam yang sama: Dua jet Su-27 Rusia dihancurkan di Pangkalan Belbek, Krimea, menggunakan drone
  • Pagi 22 Desember 2025: Jenderal Rusia Salvarov, Kepala Departemen Pelatihan Operasi Staf Umum Rusia, tewas akibat bom mobil di Moskow

Ini menjadi jenderal senior ketiga Rusia yang tewas di wilayah belakang sejak perang dimulai.

Kritik Internal Rusia Menguat

Tokoh nasionalis Rusia Kalashnikov, yang sebelumnya dikenal pro-Kremlin, secara terbuka menyatakan bahwa: “Rusia sedang kalah dalam perang ini.”

Dia menilai militer Rusia kelelahan, logistik melemah, dan Zaporizhzhia berpotensi menjadi “kuburan pasukan Rusia”.

Dalam konferensi pers tahunan di Moskow, Vladimir Putin bahkan mendapat pertanyaan tajam dari jurnalis: “Apakah Anda yakin rakyat Rusia masih benar-benar serius mendukung perang ini?”

Penutup

Dari Karibia hingga Eropa Timur, rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu pola jelas:
garis konflik global semakin menyempit, semakin langsung, dan semakin berisiko.

Penyitaan tanker, pengerahan jet siluman, perang elektronik, hingga operasi rahasia lintas negara menandai bahwa dunia sedang bergerak ke fase konfrontasi yang jauh lebih berbahaya.

Kapal Tanker Minyak “Armada Bayangan” Rusia Diserang di Mediterania untuk Pertama Kalinya : Ukraina Rilis Rekaman Videonya

EtIndonesia. Otoritas Ukraina pada Jumat 19 Desember 2025, menyatakan bahwa Ukraina untuk pertama kalinya menggunakan drone untuk menyerang kapal tanker “armada bayangan” Rusia di Laut Mediterania. Selain itu, Uni Eropa sepakat untuk memberikan pinjaman sebesar 90 miliar euro kepada Ukraina tanpa terlebih dahulu menggunakan aset Rusia yang dibekukan, guna memenuhi kebutuhan pendanaan Kyiv dalam dua tahun ke depan.

Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia Pertama Kali Diserang di Mediterania — Ukraina Ungkap Rekaman

Pejabat Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengungkapkan pada Jumat bahwa drone Ukraina untuk pertama kalinya terbang lebih dari 2.000 kilometer dan menghantam kapal tanker “armada bayangan” Rusia bernama Qendil, di perairan Laut Mediterania, menyebabkan kerusakan parah pada lambung kapal.

Ini merupakan eskalasi serangan Ukraina terhadap kapal-kapal yang mengangkut minyak Rusia. Pekan lalu, militer Ukraina juga berhasil melancarkan serangan mendadak di Laut Hitam terhadap kapal tanker “Dashan” berbobot puluhan ribu ton.

Sehari sebelumnya, Dewan Eropa mengumumkan sanksi baru terhadap 41 kapal milik “armada bayangan” Rusia, sehingga jumlah kapal tanker yang hingga kini dikenai sanksi mencapai 600 unit.

Uni Eropa Setujui Bantuan 90 Miliar Euro untuk Ukraina, Aset Rusia yang Dibekukan Belum Digunakan

Sementara itu, setelah 17 jam perundingan, Uni Eropa pada Jumat dini hari memutuskan untuk menghimpun dana melalui pasar keuangan dan memberikan bantuan pendanaan sebesar 90 miliar euro kepada Ukraina dalam dua tahun ke depan.

Ketua Dewan Eropa António Luís Santos da Costa mengatakan:  “Kami akan memberikan pinjaman yang dijamin oleh anggaran Uni Eropa. Ukraina hanya perlu melunasi pinjaman ini setelah Rusia membayar ganti rugi.”

Keputusan ini berarti Uni Eropa memilih opsi meminjam dari pasar ketimbang langsung menggunakan aset Rusia yang dibekukan.

Perdana Menteri Belgia De Wever menyatakan:  “Kami menghindari kekacauan dan perpecahan; Eropa tetap bersatu. Aset Rusia yang dibekukan itu akan terus dibekukan dan pada akhirnya akan digunakan untuk memperbaiki kerusakan akibat perang Rusia yang tidak beralasan dan tidak adil terhadap Ukraina.”

Selain Hungaria, Slovakia, dan Ceko, 24 negara anggota Uni Eropa lainnya menyetujui partisipasi dalam program pinjaman tanpa bunga untuk membantu Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang saat itu sedang berkunjung ke Polandia, menyampaikan terima kasih atas keputusan Uni Eropa tersebut dan menilai dukungan dana ini sangat penting karena memperkuat ketahanan Ukraina.

 “Saya pikir Eropa telah menunjukkan kepemimpinan. Sikap ini penting dan tegas, serta memperlihatkan kekuatan yang nyata,” ujarnya. 

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan:  “Saya benar-benar yakin bahwa sekarang sikap Anda terhadap Rusia jauh lebih kuat. Kartu yang Anda pegang lebih keras. Saya tahu Anda tidak bermain kartu—Anda pernah mengatakannya. Masih ingat?”

Zelensky menjawab:  “Tapi kadang-kadang iya.”

Zelenskyy menambahkan bahwa tahun depan Ukraina akan memperoleh 45 miliar euro anggaran, dan ia menegaskan bahwa hal ini mengirim sinyal keras kepada Rusia bahwa melanjutkan perang tidak ada gunanya. Kyiv memiliki dukungan pendanaan, dan garis depan Ukraina tidak akan runtuh.

Pada hari yang sama, Vladimir Putin menggelar konferensi pers tahunan. Ia menuduh Ukraina menolak mengakhiri konflik secara damai dan mengklaim bahwa pasukan Rusia telah sepenuhnya menguasai inisiatif strategis serta akan meraih lebih banyak terobosan sebelum akhir tahun.

Pembicaraan AS–Ukraina: Rubio Sebut Ada Kemajuan, Namun Jalan Masih Panjang

Sementara itu, perwakilan Amerika Serikat dan Ukraina tengah mengadakan pembicaraan di Florida mengenai upaya mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa perundingan perdamaian telah mencapai beberapa kemajuan, tetapi jalan yang harus ditempuh masih panjang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan:  “Ini bukan tentang memaksakan suatu kesepakatan kepada siapa pun, melainkan memastikan harapan dan kebutuhan kedua belah pihak, serta apa yang bersedia mereka korbankan, dan melihat apakah kita bisa menemukan titik temu. Saya pikir kita telah membuat beberapa kemajuan, tetapi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh, dan jelas isu-isu paling sulit selalu diselesaikan pada tahap akhir.” (Hui)

Laporan kompilasi oleh reporter New Tang Dynasty Television Yi Jing.

Diplomasi Gagal, Bom Bicara: Thailand Serang Kamboja Usai Pertemuan ASEAN

EtIndonesia.  Ketegangan militer antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat tajam hanya beberapa jam setelah berakhirnya Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur pada 22 Desember 2025. Kementerian Pertahanan Kamboja secara resmi menuduh Thailand telah melancarkan serangan udara terhadap wilayahnya dengan mengerahkan jet tempur F-16, menghantam sejumlah target strategis di Provinsi Siem Reap dan Preah Vihear.

Menurut pernyataan Phnom Penh, serangan tersebut menyebabkan hancurnya jembatan serta berbagai infrastruktur vital yang dinilai berperan penting bagi aktivitas sipil dan logistik di kawasan tersebut. Tuduhan ini segera memicu reaksi keras di kawasan Asia Tenggara, mengingat serangan itu terjadi tepat setelah forum diplomatik regional yang seharusnya meredakan ketegangan.

Klaim Korban Warga Tiongkok dan Sikap Diam Beijing

Kejaksaan Kamboja menyebut bahwa dalam serangan udara tersebut terdapat warga negara Tiongkok yang mengalami luka-luka. Namun hingga berita ini disusun, otoritas Beijing tidak memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi terkait klaim tersebut. Sikap diam ini kemudian menimbulkan spekulasi luas, terutama mengingat besarnya kepentingan ekonomi dan politik Tiongkok di wilayah Kamboja.

Bantahan Thailand: Klaim Bela Diri yang Sah

Pemerintah Thailand dengan tegas membantah tuduhan agresi sepihak. Bangkok menyatakan bahwa serangan udara yang dilakukan Angkatan Udara Kerajaan Thailand merupakan tindakan bela diri yang sah, sebagai respons langsung atas tembakan artileri dan serangan drone yang lebih dulu dilancarkan oleh pihak Kamboja ke arah wilayah Thailand.

Menurut pernyataan militer Thailand, operasi udara tersebut ditujukan secara spesifik pada target yang dianggap mengancam keamanan nasional, dan bukan ditujukan kepada warga sipil.

Tuduhan Balik: Permukiman Sipil Jadi Sasaran

Di hari yang sama, 22 Desember 2025, Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengeluarkan tuduhan lanjutan dengan menyatakan bahwa peluru artileri Thailand jatuh ke kawasan permukiman sipil di Provinsi Battambang. Insiden tersebut diklaim menghancurkan satu rumah warga hingga rata dengan tanah serta melukai seorang warga negara Tiongkok.

Thailand belum mengakui tuduhan ini, sementara verifikasi independen atas insiden tersebut masih belum tersedia.

Patung Dewa Hindu Dibongkar di Wilayah Sengketa

Masih pada tanggal yang sama, pasukan zeni Thailand dilaporkan membongkar sebuah patung dewa Hindu di wilayah Chong Ang Ma, kawasan yang menurut Bangkok telah direbut kembali dari kontrol Kamboja. Patung tersebut oleh Thailand dianggap sebagai simbol klaim kedaulatan ilegal Kamboja atas wilayah Thailand, sehingga pembongkarannya dipandang sebagai tindakan penegasan teritorial.

Diplomasi ASEAN dan Rencana Perundingan Militer

Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN di Kuala Lumpur pada 22 Desember 2025 berakhir tanpa pengumuman gencatan senjata konkret. Namun, seusai pertemuan, Menteri Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa Thailand dan Kamboja sepakat untuk menggelar perundingan militer melalui Komisi Perbatasan Bersama pada 24 Desember 2025.

Perundingan tersebut dirancang untuk membahas mekanisme teknis dan konkret guna memulihkan serta menjaga gencatan senjata yang berkelanjutan.

Thailand menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya dibuat terlalu tergesa-gesa, tanpa detail operasional yang jelas, sehingga sulit diterapkan di lapangan. Sebaliknya, pihak Kamboja menyatakan kesiapan untuk gencatan senjata tanpa syarat, sebuah pernyataan yang oleh Thailand dinilai tidak menyentuh akar persoalan keamanan.

Pertemuan Bangkok–Beijing: Sikap Tegas Thailand

Pada 22 Desember 2025, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul bertemu di Bangkok dengan Deng Xijun, utusan khusus Tiongkok untuk urusan Asia.

Dalam pertemuan tersebut, Anutin menegaskan bahwa posisi Thailand tidak berubah dan tetap berpegang pada syarat perdamaian yang telah diajukan. Deng Xijun, menurut pernyataan resmi, hanya menyampaikan sikap prinsipil Beijing yang mengharapkan stabilitas dan perdamaian regional, tanpa meminta Thailand untuk mengalah atau menarik pasukan.

Menariknya, dalam pertemuan ini tidak ada pembahasan terbuka mengenai warga negara Tiongkok yang dilaporkan terluka, sebuah detail yang kembali memicu tanda tanya di kalangan pengamat.

Langkah Kamboja ke PBB: Pertarungan Opini Global

Tak lama berselang, Kamboja mengajukan laporan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, menuduh Thailand menggunakan taktik pengeras suara dan tekanan psikologis terhadap warga sipil. Meski kecil kemungkinan Dewan Keamanan PBB mengeluarkan putusan substantif, langkah ini dinilai sebagai strategi perang opini, bukan upaya hukum murni.

Tujuan utamanya adalah membangun posisi moral dan mengumpulkan modal diplomatik untuk perundingan lanjutan.

Kartu Moral Thailand: Perang Melawan Penipuan Daring

Thailand secara terbuka menyadari bahwa kekuatan utamanya di panggung internasional terletak pada isu pemberantasan penipuan telekomunikasi dan industri abu-abu. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah perbatasan Kamboja kerap dituding sebagai pusat penipuan daring, kasino ilegal, serta kejahatan lintas negara.

Investigasi informal yang beredar di media sosial bahkan menunjukkan bahwa sejumlah institusi di Kamboja memiliki papan nama berbahasa Mandarin, dengan struktur kepemilikan dan operasional yang didominasi warga negara Tiongkok.

Selama operasi militer Thailand dapat dikemas sebagai operasi anti-penipuan, opini internasional cenderung berpihak pada Bangkok. Namun, jika muncul korban sipil atau tuduhan kerja paksa, narasi tersebut berisiko runtuh dan berubah menjadi tudingan agresi lintas batas.

Reaksi Publik Tiongkok: Dukungan Mengalir ke Thailand

Menariknya, gelombang dukungan justru muncul dari warganet Tiongkok. Ribuan komentar membanjiri akun resmi Kedutaan Besar Thailand di Weibo. Salah satu komentar yang viral berbunyi: “Pakai kartu saya saja, hajar para penipu itu.”

Upaya media pemerintah Tiongkok untuk merilis video propaganda militer juga berbalik arah. Kolom komentar dipenuhi sindiran, dengan komentar paling populer berbunyi, “Siapa pun yang menyerang Tiongkok akan dibalas Thailand,” disertai sapaan sinis “Sawadikap, keponakan-keponakan.”

Gambaran Lapangan: Kendaraan Lapis Baja dan Sistem Santunan

Di media sosial, beredar video yang memperlihatkan Angkatan Darat Kerajaan Thailand menggunakan kendaraan lapis baja M113 buatan Amerika Serikat, yang dimodifikasi dengan lapisan bambu dan jaring pelindung tambahan sebagai perlindungan darurat di medan konflik.

Perbandingan sistem santunan militer juga menjadi sorotan. Santunan resmi bagi prajurit Thailand yang gugur dilaporkan mencapai sekitar 300.000 dolar AS, cukup untuk menjamin kehidupan keluarga jangka panjang. Di sisi lain, kompensasi yang diketahui di pihak Kamboja disebut jauh lebih kecil, umumnya berupa penghapusan cicilan rumah sekitar 20.000 dolar AS, ditambah bantuan beras dan hunian sementara berukuran sekitar 10 meter persegi, tanpa jaminan santunan besar yang berkelanjutan.

Pusat Penipuan dan Jejak Teknologi Pengawasan

Di dalam kawasan pusat penipuan, umumnya dipasang kamera pengawas, kawat berduri, serta penjaga bersenjata untuk mencegah korban melarikan diri dan memastikan praktik kerja paksa berjalan. Peralatan pengawasan yang digunakan dilaporkan sebagian besar berasal dari merek Tiongkok, seperti Hikvision dan Dahua.

Dengan dinamika militer, diplomasi, dan perang opini yang saling bertaut, konflik Thailand–Kamboja kini tidak lagi sekadar sengketa perbatasan, melainkan telah berkembang menjadi pertarungan narasi dan legitimasi di tingkat regional maupun global.

San Francisco Gelap Gulita: Pemadaman Listrik Besar-besaran, 130.000 Warga Terdampak

EtIndonesia. Pemadaman listrik besar-besaran memutus aliran listrik ke sekitar 130.000 rumah dan bisnis di San Francisco, Amerika Serikat pada  Sabtu (20/12/2025) waktu setempat, menurut perusahaan utilitas Pacific Gas and Electric Co. (PG&E).

Gangguan listrik tersebut membuat wilayah luas di bagian utara kota tenggelam dalam kegelapan, dimulai dari lingkungan Richmond dan Presidio, serta kawasan sekitar Golden Gate Park sejak awal sore hari, lalu meluas ke area lainnya.

PG&E tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai penyebab pemadaman tersebut. Gangguan ini berdampak pada sekitar sepertiga pelanggan perusahaan utilitas itu di San Francisco.

Unggahan di media sosial dan laporan media lokal menyebutkan penutupan massal restoran dan toko, serta lampu lalu lintas dan dekorasi Natal yang padam.

Departemen Manajemen Darurat San Francisco menyatakan di platform X bahwa terjadi “gangguan transportasi yang signifikan” di seluruh kota, serta mengimbau warga untuk menghindari perjalanan yang tidak penting dan memperlakukan lampu lalu lintas yang mati sebagai persimpangan empat arah.

Badan-badan transportasi kota mengatakan mereka melewati beberapa halte bus Muni dan stasiun kereta BART akibat pemadaman listrik tersebut.

Setidaknya sebagian pemadaman disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di dalam sebuah gardu listrik PG&E di persimpangan 8th Street dan Mission Street, menurut pernyataan pejabat pemadam kebakaran di X sekitar pukul 15.15.

Sekitar pukul 16.00, PG&E mengumumkan di X bahwa mereka telah menstabilkan jaringan listrik dan tidak memperkirakan adanya pemadaman tambahan bagi pelanggan.

Namun, hingga pukul 23.00, pusat informasi pemadaman PG&E menunjukkan bahwa pusat kota San Francisco masih mencatat 36.743 pelanggan terdampak pemadaman. Situs tersebut menyebutkan perkiraan waktu pemulihan listrik pada pukul 23.30. (asr)

Coba Sekali Lagi

EtIndonesia. Dua bersaudari dari desa datang ke kota untuk mencari nafkah. Setelah melamar kerja ke sana ke mari, akhirnya mereka diterima bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan suvenir.

Mereka tidak memiliki pelanggan tetap, tidak punya koneksi, dan tidak mengenal siapa pun. Setiap hari, mereka hanya bisa menenteng contoh barang yang berat—jam dinding, album foto, cangkir, lampu meja, serta berbagai kerajinan tangan—menyusuri jalan-jalan kota, masuk dari satu kantor ke kantor lain untuk mencari pembeli.

Lima bulan lebih berlalu. Kaki mereka hampir tak sanggup berjalan lagi, mulut mereka lelah karena terlalu sering berbicara. Namun hasilnya nol besar—bahkan satu gantungan kunci pun tak berhasil terjual.

Kekecewaan yang berulang-ulang akhirnya menghabiskan kesabaran sang adik. Dia mengajak kakaknya mengundurkan diri bersama dan mencari jalan lain. 

Kakaknya berkata dengan tenang :  “Setiap awal memang sulit. Bertahanlah sedikit lagi. Siapa tahu, kesempatan berikutnya justru membawa hasil.”

Namun sang adik tak menghiraukan. Dia tetap pergi dan berpamitan dengan perusahaan itu.

Keesokan harinya, keduanya keluar rumah bersama. Sang adik berkeliling kota mencari pekerjaan baru berdasarkan iklan lowongan. Sang kakak, seperti biasa, tetap membawa contoh barang dan mencari pelanggan.

Malam harinya, mereka kembali ke kamar kontrakan dengan perasaan yang sangat berbeda. Sang adik pulang dengan tangan kosong—lagi-lagi gagal mendapatkan pekerjaan. Sang kakak justru membawa pesanan pertamanya.

Sebuah perusahaan yang sebelumnya telah dia datangi empat kali akan mengadakan konferensi besar. Perusahaan itu memesan 250 set kerajinan tangan mewah sebagai cenderamata bagi para peserta, dengan total nilai lebih dari 200 ribu yuan. Dari pesanan itu, sang kakak memperoleh komisi 20 ribu yuan—penghasilan pertamanya sebagai pekerja perantau.

Sejak saat itu, pesanan datang silih berganti, dan prestasinya terus meningkat.

Enam tahun berlalu. Sang kakak kini memiliki mobil, rumah lebih dari 100 meter persegi, dan perusahaan suvenir miliknya sendiri. Sementara itu, sang adik terus berpindah-pindah pekerjaan. Bahkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari—pakaian dan makanan—dia masih harus dibantu oleh kakaknya.

Suatu hari, sang adik bertanya tentang rahasia kesuksesan.

Kakaknya menjawab sederhana: “Sebenarnya, seluruh rahasia kesuksesanku hanya satu—
aku berusaha satu kali lebih banyak darimu.”

Hanya selisih satu kali usaha. Padahal bakat hampir sama, peluang pun serupa. Namun sejak saat itu, kedua saudari tersebut menapaki jalan hidup yang sepenuhnya berbeda.

Dan bukan hanya kisah kakak ini. Begitu banyak tokoh sukses dengan prestasi gemilang— keberhasilan awal mereka pun sering kali berawal dari satu usaha tambahan.

Renungan Penutup

Sering kali, yang memisahkan gagal dan berhasil, bukan kecerdasan, bukan keberuntungan,  melainkan kesediaan untuk mencoba satu kali lagi.

Satu langkah lagi. Satu usaha lagi. Satu hari lebih lama bertahan. Dan hidup pun akan berubah arah.(jhn/yn)

Lewat Sketsa Pensil, Stefanus Nuradhi Hidupkan Kembali Surabaya Tempo Dulu

Surabaya, 22 Desember 2025 – Kekayaan sejarah dan arsitektur Surabaya kembali dihadirkan melalui goresan pensil dalam pameran sketsa bertajuk “Urban Echoes: Sketches from Surabaya’s Old Streets” karya seniman Stefanus Nuradhi. Pameran ini resmi dibuka di The Arch Bistro, Kokoon Hotel Surabaya, dan akan berlangsung hingga 28 Desember 2025.

Sebanyak 15 karya sketsa ditampilkan, sebagian besar menggambarkan Surabaya tempo dulu dengan fokus pada bangunan dan sudut kota bersejarah. Meski beberapa objek menampilkan kondisi Surabaya masa kini, ruh utama karya tetap berpijak pada jejak peninggalan yang patut dijaga dan dilestarikan.

“Tujuan saya sederhana, ingin warga Surabaya tahu bahwa kota ini sangat kaya dengan warisan yang berharga. Ada banyak bangunan dan sudut kota yang mungkin kita lewati setiap hari, tapi sesungguhnya punya cerita besar,” ujar Stefanus Nuradhi saat sesi bincang santai pembukaan pameran.

Cinta pada Surabaya Lama

Stefanus mengaku ketertarikannya pada Surabaya tempo dulu berangkat dari kecintaan personal terhadap kota ini. Menurutnya, Surabaya tidak kalah dengan kota lain seperti Semarang dalam hal bangunan bersejarah dan daya tarik visual.

“Surabaya memang punya bangunan kolonial, tapi justru itu yang menjadi daya tarik tersendiri. Saya ingin membangkitkan minat generasi muda dan warga Surabaya agar lebih peduli pada warisan kotanya,” katanya.

Berbeda dari kebanyakan seniman pensil yang fokus pada potret wajah atau karya pesanan komersial, Stefanus memilih objek bangunan kota lama. Ia menilai tema tersebut masih jarang digarap secara serius, khususnya di Surabaya.

Proses Detail dari Foto Lama

Dalam proses kreatifnya, Stefanus banyak menggunakan foto-foto lama yang kerap memiliki resolusi rendah atau detail yang buram. Namun keterbatasan itu justru menjadi tantangan tersendiri.

“Saya ambil garis besarnya dari foto lama, lalu detail yang tidak terlihat saya cari dari berbagai referensi lain. Misalnya Jembatan Merah, saya cari banyak gambar pembanding agar detailnya mendekati aslinya,” jelasnya.

Teknik tersebut menghasilkan sketsa dengan detail tinggi, kontras gelap terang yang kuat, dan kesan hidup, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu Surabaya.

Dari Dunia Usaha ke Seni

Menariknya, Stefanus bukan berlatar belakang seni rupa murni. Ia sempat berkecimpung sebagai pengusaha percetakan sejak 1967 hingga krisis ekonomi 1998, kemudian mendukung usaha kursus kecantikan milik sang istri hingga 2020. Kecintaannya pada menggambar mulai ia tekuni secara serius sejak sekitar 2005–2010.

“Seni ini menjadi ruang ekspresi. Harapan saya, siapapun dengan minat di bidangnya masing-masing bisa mengekspresikan kecintaan pada kotanya,” ujarnya.

Hotel sebagai Ruang Apresiasi Seni

Assistant Marcomm Manager Kokoon Hotel Surabaya, Tegar Kanugran, menyampaikan bahwa pameran ini sejalan dengan karakter heritage hotel yang berada di kawasan Kota Lama Surabaya.

“Kami ingin Kokoon Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga ruang apresiasi seni dan budaya. Pameran ini diharapkan bisa menambah daya tarik wisata Surabaya sekaligus memperkuat identitas heritage hotel kami,” kata Tegar.

Pameran “Urban Echoes” terbuka untuk umum tanpa biaya masuk. Selain menikmati karya, pengunjung juga dapat membeli sketsa yang dipamerkan sebagai bentuk dukungan terhadap seniman lokal dan pelestarian ingatan Kota Surabaya.

Indosat Siagakan Jaringan dan AI Hadapi Lonjakan Trafik Nataru 2025/2026

Surabaya, 22 Desember 2025 – Indosat Ooredoo Hutchison memastikan kesiapan penuh jaringan telekomunikasi di wilayah Jawa, khususnya Jawa Timur, guna mengantisipasi lonjakan trafik data selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Dalam pemaparan media yang digelar di Surabaya, Indosat memproyeksikan kenaikan trafik data nasional sebesar 15–16 persen dibandingkan hari normal, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat ke pusat wisata, transportasi, dan area publik.

“Kami memahami momen Natal dan Tahun Baru adalah waktu penting bagi masyarakat untuk tetap terhubung. Karena itu, kesiapan jaringan kami lakukan secara menyeluruh, bukan hanya di Desember, tetapi melalui persiapan panjang sejak Oktober,” ujar Fath Yudhonegoro, perwakilan manajemen Indosat Ooredoo Hutchison.

Puluhan Ribu BTS Siap Siaga

Secara regional Jawa, Indosat mengoperasikan lebih dari 58.600 BTS 4G dan 5G, sementara di Jawa Timur terdapat sekitar 24.600 BTS yang siap melayani pelanggan. Total trafik data di Jawa Timur diperkirakan mencapai 35,6 ribu TB per hari selama periode libur Nataru.

Penguatan jaringan dilakukan melalui peningkatan kapasitas, optimalisasi berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga penggelaran BTS baru dan mobile BTS di titik-titik strategis.

Fokus Area Wisata dan Jalur Mudik

Indosat telah mengidentifikasi 175 titik keramaian (Point of Interest) dan 26 rute utama, termasuk jalan tol, non-tol, dan jalur kereta api. Di Jawa Timur, wilayah seperti Surabaya, Malang, Gresik, Sidoarjo, dan Sampang diprediksi menjadi penyumbang trafik tertinggi.

Destinasi wisata seperti Jatim Park 1, 2, dan 3, Alun-Alun Kota Batu, Simpang Lima Gumul Kediri, bandara, terminal, pusat perbelanjaan, serta tempat ibadah juga menjadi fokus penguatan jaringan.

Posko 24 Jam dan Tim Lapangan

Untuk menjaga kualitas layanan, Indosat mengoperasikan empat posko Network & Service Operation Center di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya yang beroperasi 24 jam sehari. Puluhan tim lapangan disiagakan untuk memastikan respons cepat jika terjadi gangguan, termasuk saat kondisi cuaca ekstrem.

“Kami menyiapkan skenario terburuk, termasuk pemadaman listrik. Prinsip kami adalah last man standing, jaringan Indosat harus tetap hidup,” jelas Yosep, perwakilan tim teknologi Indosat.

Trafik Didominasi Media Sosial

Berdasarkan proyeksi, lonjakan trafik didominasi oleh penggunaan WhatsApp, YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook, yang meningkat signifikan selama periode liburan.

Indosat juga terus memperluas jaringan 5G berbasis AI di Surabaya dan Sidoarjo, dengan lebih dari 400 ribu pengguna 5G aktif di Surabaya. Meski demikian, pemanfaatan 5G dinilai masih memiliki ruang besar untuk tumbuh.

Produk dan Layanan Pendukung

Selain jaringan, Indosat menghadirkan berbagai paket data fleksibel untuk pelanggan selama liburan, mulai dari paket harian, mingguan, hingga bulanan. Distribusi layanan didukung oleh lebih dari 37.400 titik penjualan, termasuk IM3 Store dan 3Kiosk, yang tersebar hingga tingkat kecamatan.

“Dengan jaringan yang andal dan produk yang mudah dijangkau, kami ingin pelanggan menikmati liburan dengan nyaman dan tanpa khawatir konektivitas,” ujar Sigit, perwakilan tim komersial Indosat.

Melalui tema “Ada Nyata di Setiap Langkah”, Indosat menegaskan komitmennya untuk hadir dan menemani masyarakat Indonesia tetap terhubung di setiap momen penting, termasuk saat merayakan Natal dan Tahun Baru.

Serangan Pisau di MRT Taipei: Pahlawan yang Melawan Tersangka Meninggal Dunia, Pramuniaga Berhasil Menyelamatkan Puluhan Orang dengan Membuka Gudang

EtIndonesia. Pada 19 Desember 2025 malam, di sekitar Stasiun MRT Taipei dan Stasiun Zhongshan terjadi serangkaian insiden pelemparan bom asap dan penusukan acak, yang menyebabkan 3 warga meninggal dunia. Tersangka Zhang Wen terjatuh dari gedung dan meninggal dunia. Kewaspadaan di stasiun kereta api, MRT, dan bandara ditingkatkan secara menyeluruh, sementara jaksa dan polisi melakukan penyelidikan sepanjang malam untuk mengungkap motif kejahatan.

Tersangka Zhang Wen Pernah Masuk Daftar Buronan Terkait Penghindaran Wajib Militer

Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa tersangka adalah Chang Wen, 27 tahun, tidak memiliki pekerjaan tetap, berasal dari Taoyuan, dan pernah bekerja sebagai petugas keamanan. Ia terlibat kasus pelanggaran undang-undang wajib militer dan sejak Juli telah ditetapkan sebagai buronan oleh Kejaksaan Taoyuan.

Polisi Kota Taipei menyebutkan bahwa Chang Wen pada Januari tahun ini menyewa tempat tinggal di Distrik Zhongzheng, Taipei, yang lokasinya berdekatan dengan kantor polisi. Namun, beberapa hari sebelum kejadian, ia menginap di sebuah hotel di sekitar kawasan perbelanjaan Eslite Nanxi dekat Stasiun Zhongshan, dan diketahui telah menginap selama tiga hari.

Polisi telah menggeledah tempat tinggal sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng, hotel tempat ia menginap di sekitar Stasiun Zhongshan, serta rumahnya di Kota Taoyuan. Di lokasi sewaan ditemukan bahan-bahan yang diduga untuk merakit bom molotov. Polisi juga mewawancarai anggota keluarga untuk mengetahui pergaulan dan kondisi kesehatan Chang Wen.

Pada 19 Desember, Chang Wen yang berusia 27 tahun melemparkan bom asap di lorong bawah tanah Stasiun Utama Taipei dan di luar Stasiun Zhongshan, kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan, menikam orang-orang sebelum jatuh hingga tewas. Polisi menggeledah apartemen sewaan Chang Wen di Distrik Zhongzheng malam itu. (CNA)

Pelaku Kembali ke Hotel Mengambil Senjata Lalu Beraksi Lagi

Sekitar pukul 17.30 pada 19 Desember, Zhang Wen mengenakan masker gas dan melemparkan beberapa bom asap di pintu keluar M7 dan M8 Stasiun Taipei, bahkan terdapat benda yang diduga bahan bakar bom molotov yang sempat terbakar.

Dalam proses tersebut, seorang pria yang melintas di pintu keluar M7 melihat kejadian dan segera berusaha menghentikan pelaku, namun malang ia justru diserang hingga meninggal dunia.

Pada 19 Desember, sebuah bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei. Walikota Taipei Chiang Wan-an (tengah) segera memimpin tim ke lokasi kejadian untuk melakukan investigasi. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa meskipun MRT telah beroperasi kembali, keamanan dan patroli akan terus diperkuat. (CNA)

Menurut penyelidikan, setelah melempar bom asap di terowongan bawah tanah dekat pintu keluar M7 Stasiun Taipei, Chang Wen berjalan kaki melalui pusat perbelanjaan bawah tanah menuju hotel dekat Stasiun Zhongshan untuk mengambil senjata tajam. Ia hanya berada di kamar hotel sekitar 30 detik, lalu sekitar pukul 18.00 kembali ke luar Stasiun Zhongshan, melempar bom asap sambil membawa pisau sepanjang 30 cm, dan melakukan penusukan secara acak di sepanjang jalan. Warga yang berada di lokasi berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Polisi berjaga-jaga di pintu masuk dan keluar stasiun MRT Zhongshan setelah insiden pada 19 Desember. (CNA)

Pelaku kemudian menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan dan menyerang pengunjung, menyebabkan dua orang mengalami henti jantung sebelum tiba di rumah sakit (OHCA). Dua korban lainnya ditikam di lantai 1 dan lantai 4, dengan luka yang terkonsentrasi di bagian leher. Chang Wen akhirnya terjatuh dari lantai 6 pusat perbelanjaan dan dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.

Petugas polisi bersenjata lengkap siaga tinggi di luar Stasiun Zhongshan pada malam 19 Desember. (CNA)

Wali Kota Taipei Chiang Wan-an menyatakan bahwa saat mengunjungi pasien OHCA yang kritis di Rumah Sakit NTU, ia mengetahui bahwa seorang korban pria yang berusaha menghentikan pelaku telah meninggal dunia. Ia menyampaikan duka mendalam dan menyatakan bahwa pemerintah kota bersama perusahaan MRT dan instansi terkait akan memberikan pendampingan dan santunan penuh kepada keluarga korban.

Menurut data terbaru dari Kantor Penanggulangan Bencana Kota Taipei pada pukul 22.30 malam itu, total korban yang dibawa ambulans 119 ke rumah sakit berjumlah 9 orang, sementara 4 orang lainnya berobat sendiri. Total 13 korban terdiri dari 8 pria dan 5 wanita, dengan rincian 4 orang meninggal dunia (termasuk pelaku Chang Wen), 1 luka berat, 1 luka sedang, dan 7 luka ringan.

Bom asap dilemparkan ke Stasiun Utama Taipei pada malam 19 Desember. Tersangka, Zhang Wen, kemudian secara acak menyerang orang-orang di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) di distrik perbelanjaan Zhongshan, menyebabkan banyak luka, beberapa ringan dan beberapa serius. Bercak darah terlihat di tempat kejadian. Foto menunjukkan polisi menutup lokasi kejadian di Toko Buku Eslite (cabang Nanxi) pada malam tanggal 19, dengan tim forensik mengumpulkan bukti. (CNA)

Pramuniaga Sigap Membuka Gudang, Melindungi Banyak Orang

Setelah kejadian, lokasi kejadian dipenuhi bercak darah. Seorang saksi merekam momen pelaku melakukan penusukan dan warga yang panik melarikan diri. Polisi segera memasang garis pembatas, tim forensik melakukan olah TKP, serta mengamankan sisa-sisa bahan peledak yang diduga digunakan pelaku. Kepolisian Kota Taipei bahkan sempat mengerahkan unit khusus SWAT ke lokasi.

Serangan acak terjadi di luar stasiun MRT Zhongshan pada malam 19 Desember, mengakibatkan banyak kematian dan luka-luka. Polisi menemukan sisa-sisa yang tampaknya merupakan bahan peledak yang digunakan oleh tersangka di jalan di luar pintu keluar MRT, mengambil foto sebagai bukti, dan membawanya untuk penyelidikan. (CNA)

Diketahui, saat pelaku membawa pisau panjang dan menerobos masuk ke Eslite Life Nanxi, warga panik berlarian. Ketika pelaku naik ke lantai 4, seorang pramuniaga perempuan yang hendak mengisi ulang stok barang dengan sigap menarik pelanggan masuk ke gudang dan menguncinya, sehingga melindungi banyak orang dan membantu meminimalkan jumlah korban.

Dalam pesan internal, manajemen Eslite Life Nanxi menyampaikan terima kasih kepada seluruh tenant dan karyawan yang bekerja sama dalam mengatur evakuasi, memberikan perlindungan darurat, menenangkan pelanggan dan pembaca, serta secara aktif membantu orang tua dengan anak kecil dan penyandang disabilitas. Pesan tersebut berbunyi:
“Ini adalah saat yang gelap. Terima kasih kepada semua orang, kita bersama-sama merasakan kekuatan keberanian dan cinta.”
“Setelah menata kembali perasaan, mari kita melangkah lagi. Hari ini seluruh rekan toko diminta untuk beristirahat satu hari penuh.” (Hui)

Intelijen AS Bongkar Ambisi Putin: Targetnya Bukan Donbas, Melainkan Seluruh Ukraina

EtIndonesia. Washington kembali membunyikan alarm yang sama—dan kali ini nadanya semakin tegas. Penilaian terbaru badan intelijen Amerika Serikat menyimpulkan bahwa tujuan Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam melancarkan perang Rusia–Ukraina sejak awal hingga kini tidak pernah berubah.

Perang ini, menurut intelijen AS, bukan sekadar alat tawar-menawar diplomatik, dan juga bukan semata untuk mengamankan wilayah yang saat ini telah dikuasai Rusia. Sasaran strategis Kremlin dinilai jauh lebih besar: menguasai seluruh Ukraina, serta membuka kembali ruang pengaruh Rusia atas wilayah-wilayah Eropa yang pernah berada di bawah Uni Soviet.

Evaluasi Intelijen AS: 20% Wilayah Ukraina Bukan Tujuan Akhir

Laporan Reuters pada 19 Desember 2025 mengungkapkan bahwa kesimpulan tersebut berasal dari sebuah evaluasi intelijen komprehensif yang telah diselesaikan sejak September 2025.

Dalam penilaian itu, badan intelijen AS secara eksplisit menyatakan bahwa sekitar 20% wilayah Ukraina yang saat ini diduduki Rusia hanyalah pencapaian sementara, bukan tujuan akhir perang.

Kesimpulan ini segera mendapat perhatian serius di tingkat legislatif. Anggota Demokrat dari Komite Intelijen DPR AS, Mike Quigley, menegaskan bahwa informasi intelijen yang terus diterima Washington secara konsisten menunjukkan ambisi Putin jauh melampaui apa yang tampak di medan tempur saat ini.

Eropa Lebih Merasakan Ancaman Langsung

Kekhawatiran ini tidak hanya hidup di Washington. Para pemimpin Eropa justru merasakannya secara lebih konkret dan mendesak.

Polandia disebut sebagai negara yang paling yakin bahwa Rusia menyimpan ambisi ekspansionis jangka panjang. Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lituania—meski bersikap lebih tenang, secara realistis mengakui bahwa mereka berpotensi menjadi garis depan pertama jika konflik meluas.

Karena itu, meskipun di medan perang muncul fase tarik-ulur dan wacana perundingan semakin sering terdengar, kewaspadaan Barat terhadap Rusia sama sekali tidak mengendur.

“Pembebasan Historis”: Pernyataan Putin yang Mengubah Makna Konflik

Kecemasan Barat semakin diperkuat oleh pernyataan langsung dari Moskow. Pada 18 Desember 2025, kantor berita Sputnik melaporkan bahwa Putin, dalam rapat perluasan Dewan Keamanan Nasional Rusia, menyatakan bahwa jika pihak luar menolak dialog substantif, Rusia akan mencapai “pembebasan historis” melalui cara militer.

Istilah ini segera memicu tafsir luas. Dalam pembacaan konservatif, pernyataan tersebut menandakan perluasan target militer Rusia dari Donbas ke seluruh Ukraina. Namun, skenario yang lebih mengkhawatirkan adalah jika istilah itu digunakan untuk membenarkan pencaplokan paksa Ukraina secara penuh—sebuah negara berdaulat yang memiliki kursi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jika logika ini diterima, maka preseden berbahaya akan tercipta: hari ini Ukraina, besok Asia Tengah, lalu Belarus, dan pada akhirnya negara-negara Baltik.

Inilah sebabnya, bagi Washington dan Eropa, pernyataan tersebut bukan sekadar retorika keras, melainkan sinyal strategis tingkat tinggi.

Perundingan Miami Dimulai di Tengah Nada Keras Moskow

Dalam konteks ini, putaran baru dialog dan konsultasi terkait perang Ukraina resmi dimulai pada akhir pekan 20–21 Desember 2025 di Miami, Amerika Serikat.

Utusan ekonomi Rusia, Dmitriev mengonfirmasi keberangkatannya ke Miami melalui platform X pada 20 Desember, hampir bersamaan dengan tibanya delegasi Ukraina dan perwakilan negara-negara Eropa.

Namun, tepat sehari sebelum perundingan, Putin lebih dulu “menentukan nada”. Pada 19 Desember 2025, dalam konferensi pers tahunan berdurasi berjam-jam yang disiarkan langsung, dia kembali menolak tanggung jawab atas perang, mengulang narasi lama bahwa konflik bukan dimulai oleh Rusia.

Putin tetap menyebut perang ini sebagai “operasi militer khusus”, memuji kemajuan pasukan Rusia, dan menyatakan keyakinannya bahwa Rusia akan meraih kemenangan baru sebelum akhir tahun.

Ketika ditanya langsung oleh jurnalis Amerika mengenai tanggung jawab atas korban jiwa yang sangat besar, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak perlu memikul tanggung jawab tersebut, dan kembali menyalahkan Ukraina.

Dia bahkan menyampaikan syarat terselubung: jika Ukraina menggelar pemilihan presiden, Rusia akan menghentikan serangan terhadap target strategis pada hari pemungutan suara.

Bagi banyak pengamat, pernyataan ini menunjukkan bahwa rezim Putin tidak memberikan ruang kompromi, bahkan secara simbolis.

Sikap AS Lebih Realistis, Optimisme Diturunkan

Di sisi lain, sikap Amerika Serikat menunjukkan perubahan halus. Dalam konferensi pers akhir tahun pada 20 Desember 2025, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menurunkan ekspektasi publik terhadap hasil perundingan.

Rubio menegaskan bahwa AS tidak akan memaksa Ukraina maupun Rusia untuk menerima perdamaian. Peran Washington, katanya, adalah memahami batas kompromi masing-masing pihak dan melihat apakah kesenjangan dapat dipersempit.

Pernyataan ini mencerminkan pendekatan yang lebih realistis: perundingan Miami lebih menyerupai uji coba diplomatik, bukan jalan pintas menuju akhir perang.

Perang Memasuki Hari ke-1.397, Medan Tempur Tetap Brutal

Per 21 Desember 2025, perang Rusia–Ukraina telah memasuki hari ke-1.397. Pertempuran masih berlangsung intens di berbagai sektor.

  • Svatove–Kreminna: serangan Rusia gagal menembus pertahanan Ukraina
  • Pokrovsk: medan paling brutal; Ukraina bertahan dan menekan balik, Rusia menanggung kerugian besar
  • Kupiansk: Ukraina unggul secara taktis dan mempersempit lebar front Rusia
  • Zaporizhzhia – Huliaipole: situasi kritis, namun Ukraina melancarkan serangan balik
  • Chasiv Yar & Konstantynivka: Ukraina merebut kembali wilayah dengan dukungan tank

Pada 19 Desember, Ukraina melancarkan serangan besar terhadap Divisi Lintas Udara ke-76 Rusia di Pokrovsk, menghancurkan sekitar 20 kendaraan lapis baja dengan kombinasi drone, HIMARS, robot darat, dan rudal antitank.

Serangan drone jarak jauh Ukraina juga menghantam fasilitas minyak Rusia dan menghancurkan dua jet Su-27 di Pangkalan Udara Belbek, Krimea—menandai perubahan signifikan dalam wajah peperangan modern.

Eropa Menginstitusionalisasikan Ketakutan Keamanan

Setelah Rusia menolak tiga tuntutan utama Uni Eropa, sikap Brussel berubah drastis. Pada 17 Desember 2025, Uni Eropa meloloskan undang-undang yang mempercepat mobilisasi pasukan dan peralatan berat lintas negara.

Delapan negara Eropa garis depan NATO segera berkoordinasi di Finlandia untuk membahas peningkatan anggaran pertahanan dan ancaman non-konvensional Rusia, termasuk serangan siber dan operasi abu-abu.

Eropa kini tidak lagi menunggu perdamaian datang dengan sendirinya. Dari hukum hingga anggaran, dari koordinasi militer hingga kebijakan industri pertahanan, Eropa sedang bersiap menghadapi kemungkinan konflik besar di masa depan.

Ketidakpastian terbesar bukan lagi apakah Eropa siap menghadapi konfrontasi—melainkan kapan dan dalam bentuk apa ketegangan ini akan diuji oleh kenyataan.