Gelombang Permintaan Maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong Muncul di Media Sosial Taiwan

Belakangan ini, media sosial di Taiwan diramaikan oleh gelombang suara “permintaan maaf” kepada The Epoch Times dan Falun Gong. Banyak warganet Taiwan secara beruntun mengunggah tulisan, mengakui bahwa di masa lalu mereka tidak memahami—bahkan bersikap skeptis terhadap—laporan media The Epoch Times serta berbagai upaya pengungkapan kebenaran yang dilakukan praktisi Falun Gong. Namun, serangkaian peristiwa yang baru-baru ini terungkap di Tiongkok mendorong mereka untuk mengakses lebih banyak informasi dan mengubah pandangan, hingga akhirnya secara sukarela memulai ajakan “meminta maaf kepada The Epoch Times” di media sosial.

EtIndonesia. Baru-baru ini, sejumlah warganet Taiwan di platform media sosial Threads mengunggah permintaan maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong. Unggahan tersebut memicu diskusi luas dan banyak warganet Taiwan turut merespons serta ikut dalam “gelombang permintaan maaf” ini.

Salah satu pengunggah menulis pada 28 November:  “Kini saya menyadari bahwa (The Epoch Times) adalah media kebenaran!”

 Unggahan itu memperoleh lebih dari 20.000 tanda suka, serta ratusan komentar dan bagikan ulang.

Banyak warganet menyusul dengan unggahan serupa, menyatakan bahwa sebelumnya mereka “tidak mau percaya” atau “menganggap berlebihan” laporan The Epoch Times terkait pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Warganet Taiwan di platform media sosial Threads mengunggah permintaan maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong (tangkapan layar)

Namun, seiring berbagai petunjuk dan sisi gelap yang mengerikan satu demi satu terungkap—termasuk operasi transplantasi jantung dan hati simultan yang dijalani penyanyi Taiwan Lü Jianzhong (Tank), serta kematian misterius aktor Tiongkok Yu Menglong—semakin banyak orang mulai meninjau ulang informasi terkait.

Warganet lain menanggapi pada 30 November dengan menulis:  “Menjelang akhir tahun… semakin banyak hal terungkap. Saya datang untuk meminta maaf sekali lagi.”

Ia juga menyinggung unggahannya pada April lalu, saat mengaku pernah menganggap tayangan di jalanan Taipei tentang kebenaran pengambilan organ hidup oleh praktisi Falun Gong sebagai “terlalu berdarah dan berlebihan”. Baru setelah banyak informasi terungkap belakangan ini, ia menyadari betapa mengerikannya kenyataan tersebut.

Warganet Taiwan di platform media sosial Threads mengunggah permintaan maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong (tangkapan layar)

Ada pula warganet yang berkomentar bahwa setelah menonton film dokumenter “States Organs”, ia melakukan riset dan memahami kekejaman penganiayaan PKT terhadap kelompok berkeyakinan Falun Gong. Yang lain mengenang bahwa sebelum pandemi COVID-19 pun mereka sudah membaca laporan terkait dari The Epoch Times dan “sejak itu terus mengikutinya”.

Seiring semakin banyak warga Taiwan yang melihat dengan lebih jelas realitas rezim PKT, pemerintah Taiwan juga berupaya memperkuat persatuan untuk menghadapi tekanan dari PKT.

Warganet Taiwan di platform media sosial Threads mengunggah permintaan maaf kepada The Epoch Times dan Falun Gong (tangkapan layar)

Selain itu, pada 7 Desember, Dewan Perwakilan Rakyat AS merilis versi terbaru Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) setebal 3.086 halaman, yang mengatur penggunaan anggaran Pentagon untuk tahun fiskal 2026 serta arah kebijakan. Dokumen tersebut mencakup isu-isu utama seperti senjata nuklir, pertahanan rudal, operasi luar angkasa, dan penempatan militer di kawasan Indo-Pasifik, serta memperkuat strategi pertahanan terhadap PKT dan Rusia.

UU tersebut mengesahkan bantuan militer kepada Taiwan hingga 1 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2026, peluncuran program pengembangan dan produksi sistem drone, serta peningkatan pelatihan gabungan antara penjaga pantai Taiwan dan Amerika Serikat.

Selain itu, rancangan undang-undang tersebut juga mencakup Taiwan Non-Discrimination Act dan dukungan bagi Taiwan untuk bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, undang-undang itu menghapus ketentuan yang mengundang Taiwan berpartisipasi dalam latihan militer Rim of the Pacific (RIMPAC).

Selanjutnya, rancangan tersebut masih harus disetujui melalui pemungutan suara di DPR AS dan Senat AS masing-masing, sebelum diserahkan kepada Presiden untuk ditandatangani dan berlaku sebagai undang-undang. (Hui/asr)

Pokrovsk Menjadi Neraka Baru: 25% Korban Rusia Terkumpul di Satu Kota!”

EtIndonesia. Sebuah podcast investigatif Ukraina merilis rangkaian temuan terbaru mengenai tiga kegagalan ofensif Rusia di sektor Movchansk, wilayah utara Kharkiv.

Rusia sebelumnya berupaya menciptakan kemenangan propaganda dengan mengibarkan bendera di Movchansk dan mengklaim kota itu telah direbut. Namun investigasi menunjukkan:

  • Pasukan yang dikirim Rusia ke garis depan bukanlah unit tempur utama,
  • Melainkan kelompok kecil yang ditugaskan semata-mata untuk direkam kamera,
  • Yang kemudian menjadi sasaran empuk artileri dan drone Ukraina.

Hasilnya tragis: ratusan tentara tewas, dan operasi propaganda berubah menjadi bencana militer.

Serangan Putus Asa Rusia: Rudal Menargetkan Bendungan Kupiansk

Setelah gagal menembus pertahanan Ukraina di Kharkiv, militer Rusia mencoba melakukan langkah ekstrem: menembakkan rudal ke sebuah bendungan dekat Kupiansk dengan tujuan membanjiri posisi Ukraina.

Namun upaya itu gagal total. Bendungan yang diserang merupakan gravity dam, yakni struktur yang diperkuat pondasi batu masif. Rudal-rudal Rusia hanya merusak lapisan permukaan dan tidak menyebabkan keruntuhan.

Analis Barat menyebut tindakan ini sebagai indikasi keputusasaan militer Rusia setelah serangkaian kegagalan ofensif.

Pertempuran Lyman: Ukraina Tahan Serbuan 100.000 Pasukan Rusia

Di sektor Lyman, terjadi salah satu pertempuran tekanan terbesar sepanjang tahun. Hampir 100.000 pasukan Rusia, yang terdiri dari:

  • Angkatan Darat ke-20,
  • Angkatan Darat ke-25,
  • Brigade Spetsnaz ke-10 dan ke-16, berusaha menekan lini pertahanan Ukraina.

Namun jumlah besar tersebut tertahan hanya oleh sekitar 8.000 tentara Ukraina. Tarik-ulur berlangsung intens, tetapi Rusia tidak berhasil memecah satu pun garis pertahanan memperlihatkan efektivitas perencanaan defensif Ukraina.

Serangan Akurat Ukraina 

Menjelang dini hari 8 Desember, Ukraina meluncurkan serangkaian serangan presisi terhadap infrastruktur militer Rusia:

  • Chmyrivka (Luhansk): gudang amunisi besar dihancurkan.
  • Donetsk: fasilitas penyimpanan dan perakitan drone mengalami kerusakan berat.
  • Semeikyne: depot bahan bakar terbakar total.
  • Sistem pertahanan udara Pantsir-S1 dihantam dan dinonaktifkan.

Serangan terkoordinasi ini melemahkan kemampuan logistik Rusia di Donbas.

Pokrovsk: “Tungku Baja” Pertempuran Paling Berdarah Sejak Perang Dunia II

Pertempuran Pokrovsk memasuki hari ke-20 dan menjadi salah satu pertempuran kota paling brutal dalam perang modern.

Data intelijen Inggris menyebutkan bahwa: 25% korban tentara Rusia dalam perang tahun 2025 berasal dari sektor Pokrovsk saja.

Rusia menembakkan lebih dari 100 bom luncur dalam 24 jam terakhir, namun efektivitasnya rendah karena:

  • Pesawat harus terbang tinggi agar tidak ditembak pertahanan udara Ukraina,
  • Sehingga akurasi bom melenceng jauh dari target.

Pokrovsk kini disebut analis sebagai “tungku baja” yang melumat habis gelombang-gelombang serangan Rusia.

Manuver Taktis Ukraina: Mundur dari Dua Desa demi Memperkuat Pertahanan

Divisi Serbu ke-7 Ukraina mundur secara terukur dari Lysivka dan Sukhyi Yar untuk:

  • menyelamatkan pasukan dari kepungan,
  • merampingkan jalur logistik,
  • menyederhanakan garis tembak urban Pokrovsk.

Mundur bukan berarti kalah — karena Ukraina masih menguasai 40% wilayah Pokrovsk, termasuk kompleks industri strategis dan kawasan utara jalur kereta.

Keberhasilan Ukraina di Dnipro, Zherebky, dan Ivanivka

Serangkaian operasi lokal Ukraina menghasilkan beberapa keberhasilan penting:

  • Tank Leopard 1A5 menghancurkan posisi pertahanan Rusia.
  • Drone FPV menghabisi unit-unit infanteri Rusia yang terpencar.
  • Zherebky kembali direbut setelah pertempuran intens.
  • Ivanivka:
    • 53 tentara Rusia tewas,
    • 36 luka berat,
    • 19 menyerah.

Kemenangan kecil semacam ini membentuk momentum besar di garis pertempuran timur.

Serangan Ukraina ke Wilayah Rusia: Depot Energi Meledak, 20 Tank Hancur

Drone jarak jauh Ukraina menyerang pelabuhan Temryuk di Krasnodar. Hasilnya:

  • 20 tank Rusia hancur,
  • 70% kapasitas penyimpanan pelabuhan lumpuh total.

Serangan lain juga menghantam:

  • Kilang minyak Ryazan (salah satu terbesar di Rusia barat),
  • Pabrik metalurgi di Luhansk,
  • Depot bahan bakar Neftekumsk di Stavropol.

Serangan ini memukul distribusi logistik Rusia di front selatan dan timur.

Rudal Jelajah “Unicorn” Ceko: Senjata Baru Ukraina dengan Jangkauan 680 km

Republik Ceko mengumumkan bahwa rudal jelajah Unicorn kini memasuki tahap uji tempur terakhir dan siap dikirim ke Ukraina pada awal 2025.

Keunggulan teknis Unicorn:

  • Jangkauan 680 km — dapat menghantam target jauh di wilayah Rusia.
  • Komponen 100% buatan Ceko, tanpa ketergantungan asing.
  • Lebih tahan terhadap sanksi, stabil untuk produksi massal.
  • Navigasi dan pemandu otonom generasi baru.

Target potensial yang bisa dihancurkan Unicorn:

  • Depot minyak besar,
  • Jaringan pipa strategis,
  • Bandara militer,
  • Fasilitas bomber nuklir Tu-95 dan Tu-160.

Banyak analis meyakini senjata ini akan menjadi game-changer bagi kemampuan serangan jauh Ukraina.

Kesimpulan: Rusia dalam Tekanan, Ukraina Menambah Momentum

Per 8–9 Desember 2025, situasi menunjukkan pola jelas:

  1. Rusia gagal dalam tiga ofensif di Kharkiv,
  2. Gagal memecah pertahanan Lyman,
  3. Terjepit dalam pertempuran Pokrovsk yang sangat mematikan,
  4. Dipukul oleh serangan mendalam Ukraina hingga ke wilayah Rusia sendiri,
  5. Sementara Ukraina menerima sistem senjata baru yang dapat mengubah dinamika perang.

Perang memasuki fase baru: Rusia defensif di mana-mana, Ukraina menyerang di berbagai titik sekaligus.

Kebenaran Berdarah Film “State Organs” Kembali Terungkap, Penonton Terguncang dan Menyerukan Pengungkapan Kejahatan Partai Komunis Tiongkok

Pada 7 Desember 2025, sutradara Zhang Yongjin dan produser Song Meixin dari film dokumenter pemenang penghargaan “State Organs” hadir dalam pemutaran film di Vancouver, Kanda untuk berdialog dengan penonton mengenai kejahatan sistematis pengambilan organ hidup yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong, sebagaimana diungkap dalam film tersebut. 

Para penonton merasa sangat terkejut dan marah, dan banyak diantaranya menyerukan agar lebih banyak orang memperhatikan kebenaran serta memberikan dukungan kepada praktisi Falun Gong. Kepala Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di Vancouver, Liu Lixin, dalam wawancara menyatakan bahwa penganiayaan semacam ini melanggar hak asasi manusia dan bahwa masyarakat internasional harus menaruh perhatian serta menekan PKT agar memperbaiki situasi tersebut.

EtIndonesia. Pada 7 Desember 2025  sutradara dan produser “State Organs”  secara langsung menghadiri pemutaran film lainnya di Vancouver, Kanada. Ia berdiskusi dengan penonton mengenai isu-isu sosial yang ditampilkan dalam film.

 “Ini adalah salah satu peristiwa paling serius dalam sejarah Tiongkok selama 25 tahun terakhir. Saya berharap melalui sudut pandang para korban dan keluarga mereka, penonton dapat melihat dan merasakan apa yang telah mereka alami, serta berdoa agar kekejaman seperti ini tidak pernah terulang lagi,” ujar Sutradara “State Organs”, Zhang Yongjin. 

Seorang penonton Jiang Xiaofei berkata:  “Saya sangat berterima kasih kepada sutradara ini. Dia sangat berani menampilkan pengalaman langsung seperti ini dalam bentuk film, sehingga lebih banyak orang bisa mengetahuinya.”

Foto: Pada 7 Desember 2025, film dokumenter pemenang penghargaan State Organs diputar di Rio Theatre, Vancouver. Dari kiri ke kanan: penyelenggara Yee, produser Song Meixin, dan sutradara Zhang Yongjin. (Qiu Chen / The Epoch Times)

“State Organs” mengungkap kejahatan sistematis pengambilan organ hidup yang dipimpin oleh PKT melalui banyak kesaksian langsung, terutama yang menyasar praktisi Falun Gong. Tirai hitam yang dibuka oleh film ini membuat para penonton di lokasi sangat terguncang.

Penonton Fang Meihua mengatakan:  “Bagaimana bisa melakukan hal seperti ini, memperlakukan nyawa manusia seperti rumput liar. Semua yang dilakukan PKT adalah demi mempertahankan kekuasaannya sendiri.”

Penonton Zhang Yun berkata:  “Sangat mengguncang. Nyawa yang hidup begitu saja dirampas. Rasanya sangat mengerikan.”

Penonton Lü Dan mengatakan:  “Lebih mengejutkan daripada yang saya bayangkan. Kita perlu membangunkan sesama saudara sebangsa di dunia domestik yang sudah dingin dan mati rasa. Film ini sangat diperlukan. Sangat berharga bagi lebih banyak orang Tionghoa untuk melihat dokumenter nyata seperti ini. Benar-benar perlu ada orang yang bersuara.”

Setelah menonton film, para penonton berharap kebenaran ini dapat disebarluaskan lebih luas, mengungkap kejahatan PKT, serta membantu rakyat Tiongkok yang menjadi korban.

Kepala Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Taipei di Vancouver, Liu Lixin, mengatakan:
“Penganiayaan terhadap penganut Falun Gong oleh PKT benar-benar merupakan tindakan yang sangat melanggar hak asasi manusia dan tidak berperikemanusiaan. Kami berharap masyarakat internasional dapat memberi perhatian dan mendorong PKT agar mengubah kondisi ini.”

Produser “States Organs”, Song Meixin, mengatakan:  “Ratusan ribu hingga jutaan keluarga Tiongkok kehilangan anak-anak mereka yang muda dan sehat akibat kejahatan negara ini. Luka dan penderitaan mereka seharusnya dikenang oleh dunia.”

Penonton Jury mengatakan:  “Setelah menonton hari ini, saya semakin memahami kejahatan-kejahatan Partai Komunis. Mereka telah menghancurkan tak terhitung banyak keluarga yang tidak bersalah. Saya menyerukan agar lebih banyak orang mengungkap kejahatan mereka.”

Pendiri dan direktur ‘Treasure Island Frog Language’ sekaligus penyelenggara acara, Yen Liao, mengatakan:  “Sebisa mungkin memberi lebih banyak tekanan terhadap PKT di tingkat internasional, menyampaikan isi kebenaran kepada semua orang di sekitar kita, terus memperluas pengaruh, dan pada akhirnya membantu lebih banyak orang yang masih menderita di Tiongkok.” (Hui)

Laporan wawancara oleh jurnalis New Tang Dynasty Television Lin Xi dan Li Wei, Kanada.

Tak Punya Latar Belakang, Tetap Bisa Menang dengan Indah

EtIndonesia. Latar keluarga: Ayahnya kehilangan kaki akibat cedera perang dan meninggal ketika dia berusia 21 tahun. Ibunya menghidupi keluarga besar terdiri dari tujuh orang dengan bekerja sebagai kasir di arena seluncur es.

Pencapaian sekarang: Jurnalis senior majalah dengan oplah terbesar di Prancis, Paris Match, dan sosok yang dijuluki “calon ibu negara Prancis”.

Valérie Trierweiler tentu tak pernah membayangkan bahwa di paruh kedua hidupnya, jumlah wawancara yang dia terima akan jauh lebih banyak daripada jumlah wawancara yang pernah dia lakukan. Valérie—yang berpenampilan mirip bintang Hollywood era klasik Katharine Hepburn—menjadi pusat perhatian dunia ketika kekasihnya, François Hollande, terpilih sebagai Presiden Prancis.

Hollande sendiri dijuluki rakyat Prancis sebagai “presiden tiga tanpa”: tanpa pengalaman, tanpa ciri khas, tanpa istri. Dan Valérie pun disebut “pacar tiga tanpa”: tanpa latar belakang keluarga, tanpa status sosial, tanpa pelindung. 

Namun Valérie menegaskan kepada media: “Saya bukan Cinderella.”

Dia bahkan berkata ingin menjadikan Hillary Clinton sebagai teladan untuk memperbarui citra ibu negara Prancis.

Anak Miskin yang Cepat Dewasa

Valérie yang kini berusia 47 tahun dibesarkan di Lembah Loire. Ayahnya yang mengalami amputasi akibat perang meninggal saat Valérie berusia 21 tahun. Ibunya—seorang ibu rumah tangga yang tiba-tiba harus menafkahi enam anak—mulai bekerja sebagai kasir di arena seluncur es.

Situasi keluarga yang berat membuat Valérie muda sadar: jika ingin mengubah nasib, dia harus menjadi kuat.

Setelah lulus dari jurusan sejarah dan politik, tanpa koneksi apa pun dia nekat masuk ke dunia jurnalistik Paris yang sangat kompetitif. Dari bawah, dia merangkak pelan, hingga akhirnya menjadi jurnalis senior Paris Match, bertugas meliput aktivitas Partai Sosialis. Sejak 2005, dia juga mulai tampil di televisi sebagai pembawa acara politik dan program talkshow.

Sesungguhnya, dia dan Hollande pertama kali bertemu bertahun-tahun sebelumnya, saat pemilu legislatif Prancis. Hollande yang kala itu berusia 34 tahun terpilih menjadi anggota parlemen dan disebut-sebut sebagai bintang baru Partai Sosialis—meski belum mampu menaklukkan hati Valérie. Baru ketika mereka bertemu lagi pada 2005, sesuatu berubah.

“Saya langsung jatuh cinta pada pria sosial-demokrat yang gemuk dan berkacamata itu,” kenang Valérie.

Saat itu Valérie telah mengalami dua kegagalan pernikahan dan membesarkan tiga anak sendirian. Namun hal itu tidak menghentikan hubungan mereka. Mereka berpacaran diam-diam selama lima tahun, sampai akhirnya pada 2010, Valérie mengumumkan secara terbuka bahwa dia adalah pasangan resmi Hollande.

Tidak Mau Jadi Sorotan

Setelah kemenangan Hollande dalam pemilu, Valérie menulis di Twitter: “Saya merasa terhormat mendampingi Presiden Prancis berikutnya, dan bahagia bisa berbagi hidup dengan François.”

Di tengah memanasnya atmosfer kampanye, media justru semakin penasaran karena statusnya sebagai jurnalis politik membuatnya berbeda dibanding Carla Bruni, mantan model papan atas yang menjadi ibu negara sebelumnya.

Namun Valérie sama sekali tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dia menolak wawancara eksklusif, karena tidak ingin mengalihkan fokus publik dari pemilu.

Dia sering tampil dengan kacamata hitam besar—memberikan kesan dingin dan sulit didekati. Banyak yang menyebutnya “diva”, “duchess”, bahkan “putri”. Dua program komedi radio bahkan menggambarkannya sebagai anjing Rottweiler. 

Dia hanya tertawa: “Saya justru suka panggilan itu.”

Meski begitu, dia mengakui bahwa sikapnya yang tampak angkuh sebenarnya hanya bentuk rasa malu.

 “Tapi orang salah paham dan mengkritik saya. Tentu saya cemas. Tapi jika saya akan menjadi pasangan presiden, saya harus siap menghadapi semuanya,”katanya.

Bahkan terhadap Paris Match, tempatnya bekerja, dia tetap tegas. Ketika fotonya muncul di halaman depan dengan judul “Valérie—Kartu Truf Hollande yang Memikat”, dia marah besar.

 “Melihat wajah saya di koran tempat saya bekerja tanpa izin dan tanpa pemberitahuan… sungguh mengejutkan. Saya marah,” tulisnya di Twitter.

Pilar Kuat di Belakang Presiden

“Saya adalah pengamat yang terlibat. Saya ingin tetap berada di balik layar, mengamati apa yang terjadi,” ujarnya.

Dengan naluri jurnalistik yang tajam dan pemikiran independen, Valérie menjadi kekuatan paling elegan sekaligus paling tegas di belakang Hollande. 

Hollande tak jarang berkata kepada media: “Valérie adalah wanita dalam hidup saya.”

 Di ponselnya, dia bahkan menyimpan kontak Valérie dengan nama: “My Love.”

Tim kampanye Hollande tahu bahwa meminta pendapat Valérie sebelum mengambil keputusan besar adalah langkah bijak.

Dia adalah penasihat yang paling menjaga Hollande. Dia meneleponnya beberapa kali sehari, dan apa pun aktivitas Hollande, dia selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan Valérie.

Atas saran Valérie:

  • Hollande menurunkan berat badan
  • Dia mengganti kaca mata lamanya
  • Dia memperbaiki gaya berpakaian
  • Dia dilatih berbicara hingga intonasinya mengingatkan publik pada mantan Presiden Mitterrand

Popularitas Hollande pun melonjak.

Menjelang pemilu, Valérie menggambarkan Hollande sebagai sosok yang bersahaja dan dekat dengan rakyat: membeli pakaian di pasar, mencari kaus kaki anak-anak di bawah tempat tidur, memasak sendiri, dan memiliki kebiasaan buruk tidak pernah menutup pintu lemari maupun pintu ruangan—kebiasaan yang menurutnya menandakan Hollande adalah orang yang “tidak punya apa pun untuk disembunyikan.”

Semua itu berhasil dia kemas tanpa memanfaatkan acara televisinya sendiri. Pengalaman panjangnya di media telah mengasah kemampuannya membaca psikologi publik dengan sangat tepat.

Tak Akan Pernah Meninggalkan Dunia Jurnalistik

Valérie pernah menjadi sorotan besar ketika menampar seorang rekan kerja yang membuat komentar seksis. Sebagai seorang feminis dan ibu tunggal dari tiga anak, keberaniannya membuat media Prancis menyebutnya sebagai “penerus Iron Lady”.

Hollande pernah menyatakan bahwa sekalipun dia memenangkan pemilu, dia tidak berniat menikah. Artinya, Prancis bisa saja memiliki presiden yang tidak menikah, dan Valérie mungkin tidak akan menyandang gelar “Ibu Negara”.

Namun Valérie sudah lama menegaskan: “Meski François terpilih menjadi presiden, saya tidak akan meninggalkan profesi jurnalistik. Saya hanya tidak akan lagi meliput politik.”

Ketegasannya, kepribadian yang lugas, serta perannya dalam membentuk citra Hollande membuat masyarakat Prancis sangat menghormatinya.

Seorang staf Hollande berkata : “Ketika berbicara dengannya, kita tidak pernah tahu reaksinya. Itu menakutkan. Saya sebisa mungkin menghindari konfrontasi.”

Dia menyebut Valérie sebagai “macan betina.”

Namun justru itulah kekuatannya. Untuk mempertahankan jati diri dan sekaligus memenangkan hati seorang presiden—tanpa latar belakang, tanpa koneksi, tanpa privilese—seorang wanita biasa memang harus memiliki keberanian seekor “macan betina”. (jhn/yn)

Polandia Membubarkan Partai Komunis, Video Warganet  Daratan Tiongkok Bersorak: “Aliran Sesat Harus Dimusnahkan” 

Polandia secara resmi membubarkan Partai Komunis Polandia (KPP). Warganet Tiongkok Daratan ramai-ramai memberikan komentar dukungan di platform Douyin. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang Tiongkok mulai menyadari sifat jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Pada 3 Desember 2025, Mahkamah Konstitusi Polandia mengeluarkan putusan yang secara resmi menyatakan Partai Komunis Polandia (KPP) sebagai organisasi ilegal, serta memerintahkan penghapusannya dari daftar partai politik. Alasannya adalah “platform dan ideologi partai tersebut melanggar Pasal 13 Konstitusi Polandia, yang melarang keberadaan partai politik apa pun yang didasarkan pada ideologi totaliter seperti Nazisme, Fasisme, atau Komunisme.”

EtIndonesia. Partai Komunis Polandia (KPP) didirikan pada 2002. Meskipun jumlah anggotanya tidak besar dan pengaruhnya dalam pemilu juga sangat kecil, partai ini memiliki makna simbolis sejarah yang kuat karena berkaitan erat dengan warisan rezim komunis yang pernah berkuasa di Polandia selama hampir setengah abad.

Pada 2020, Jaksa Agung Polandia saat itu (mantan Menteri Kehakiman) untuk pertama kalinya mengajukan mosi pembubaran KPP. Pada November lalu, Presiden Polandia Karol Nawrocki kembali mengajukan permohonan serupa ke pengadilan. Putusan Mahkamah Konstitusi ini menandai berakhirnya pertarungan hukum selama lima tahun, sekaligus menutup sejarah keberadaan partai komunis di negara tersebut.

Ketika kabar ini menyebar ke platform Douyin di Daratan Tiongkok, hampir seluruh komentar warganet menyambutnya dengan sorak-sorai. Banyak di antaranya juga secara tersirat mengkritik PKT dalam kolom komentar.

Banyak warganet memuji bahwa “Polandia menegakkan keadilan atas nama langit”, sementara sejumlah besar lainnya memanfaatkan kesempatan ini untuk mencela komunisme, dengan komentar seperti:
“Memusnahkan aliran sesat adalah tanggung jawab semua orang”,
“Organisasi aliran sesat harus dibubarkan”,
“Kami sedang mengalaminya—aliran sesat ini benar-benar lebih menjijikkan daripada Nazi”,
“Runtuhkan aliran sesat, seumur hidup ini saya berharap bisa membersihkannya”,
“Ini adalah racun bagi umat manusia, pencipta bencana dunia saat ini, organisasi paling jahat dalam sejarah manusia”,
“Organisasi penipuan yang sesungguhnya harus diberantas dengan keras”,
“Organisasi teroris memang pantas dimusnahkan”.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak video di platform media sosial Tiongkok Daratan yang membahas topik “pemberontakan” dan “perlawanan”. 

Baru-baru ini, Douyin kembali dibanjiri berbagai video dan gambar yang secara tersirat mengutuk rezim PKT atau pemimpin partai Xi Jinping, dengan respons yang sangat ramai di kolom komentar. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Krasnohorivka Runtuh… atau Tidak? Ukraina Kibar Bendera di Kota yang Diklaim Rusia Sudah Jatuh!”

EtIndonesia. Pertempuran di sekitar Krasnohorivka telah berlangsung hampir dua tahun penuh. Meski Rusia beberapa hari sebelumnya mengklaim telah merebut kota tersebut, situasi di lapangan ternyata tidak sesederhana itu.

Pada 6 Desember 2025, Angkatan Bersenjata Ukraina merilis video yang memperlihatkan prajurit Brigade Serbu Udara ke-25 mengibarkan bendera Ukraina di depan sebuah bangunan di kawasan utara Krasnohorivka.

Bangunan dalam video tersebut terlihat telah hancur total. Berdasarkan analisis OSINT, lokasi itu diyakini berada di utara jalan raya utama yang membelah Krasnohorivka. Sementara itu, sebagian besar wilayah selatan jalan raya sudah jatuh ke tangan Rusia sejak lama.

Perubahan Garis Depan Sepanjang 2025

Jika meninjau peta perubahan garis tempur dari Januari hingga Desember 2025, tampak bahwa Rusia melakukan gerak maju secara bertahap dari arah utara, barat, dan selatan kota. Tujuan akhir mereka jelas: mengepung pasukan Ukraina dari utara dan memutus jalur logistik utama.

Pada awal Desember, Kementerian Pertahanan Rusia merilis video lain yang menunjukkan pasukan mereka berpatroli di pusat kota dan mengibarkan bendera Rusia. Visual itu memastikan bahwa pusat, wilayah tengah, dan selatan Krasnohorivka sudah sepenuhnya diduduki Rusia.

Namun, rekaman yang sama juga mengungkapkan kenyataan pahit: kota kecil yang dahulu berpenduduk 100.000 jiwa itu kini rata dengan tanah akibat perang yang berkepanjangan.

Doktrin Baru Medan Tempur: Tank Berpagar Besi dan Ranting Pohon

Sebuah video garis depan menunjukkan prajurit Rusia memindahkan sepeda motor—alat mobilitas yang kini lazim digunakan pasukan infanteri Rusia. Di latar belakang, tank-tank Rusia melintas dengan bentuk yang aneh:

  • Dilengkapi kandang besi raksasa (anti-drone cage)
  • Dipasangi rangkaian ranting pohon untuk menyamarkan citra panas dan membingungkan drone Ukraina

Taktik ini mencerminkan bagaimana perang Ukraina selama tiga tahun terakhir telah mengubah bentuk perang modern. Bahkan tank tempur utama generasi baru pun kini tampil berbeda demi bertahan dari gelombang drone kamikaze.

Serangan Udara Rusia: 704 Target Udara Ditembakkan

Pada 6 Desember 2025, Rusia kembali melancarkan serangan udara terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Ukraina melaporkan mendeteksi dan melacak:

  • 51 rudal jelajah
  • 17 rudal balistik
  • 653 drone, termasuk lebih dari 300 drone Shahed

Angkatan Udara Ukraina merilis video intersepsi menggunakan F-16 dan Mirage, termasuk adegan dramatis pesawat tempur Ukraina menembak jatuh drone Shahed menggunakan senapan mesin di udara karena kecepatan drone yang terlalu rendah untuk dikunci misil.

Diplomasi Damai Amerika Serikat: Pertemuan Trump–Putin Jalan Buntu

Pada akhir November, Pemerintah AS mengajukan dokumen proposal perdamaian 28 poin untuk menghentikan perang. Sebagai tindak lanjut, pada awal Desember 2025, Jared Kushner dan Steve Witkoff  utusan khususi AS, melakukan kunjungan langsung ke Moskow dan bertemu Presiden Vladimir Putin.

Hasilnya: tidak ada kesepakatan apa pun.

Trump menggambarkan pertemuan itu sebagai “baik”, tetapi meragukan adanya terobosan dalam waktu dekat. Sementara itu, penasihat Putin, Yuri Ushakov, menegaskan bahwa kedua pihak tidak dapat mencapai kompromi terkait isu wilayah—syarat yang menurut Moskow mutlak:

  • Barat harus mengakui wilayah Ukraina yang diduduki sebagai bagian dari Rusia
  • Ukraina harus mundur sepenuhnya dari wilayah Donetsk

Tuntutan ini jelas tidak dapat diterima Ukraina.

Mengapa Strategi Negosiasi Trump Dinilai Gagal?

Banyak pendukung Trump percaya bahwa dia ingin membawa perdamaian. Namun, strategi yang ditempuh justru dinilai kontraproduktif:

1. AS menekan pihak yang salah

Pada awal tahun, baik Rusia maupun Ukraina sama-sama belum siap menghentikan perang. Namun AS justru:

  • Menghentikan pembagian intelijen
  • Menunda bantuan militer
  • Menekan Ukraina untuk mundur dari Kursk

Akibatnya, garis pertahanan Ukraina melemah di momen kritis.

2. Akar masalah bukan Ukraina — tetapi Rusia

Perang tidak berhenti karena Rusia tidak ingin berhenti. Putin menegaskan bahwa Donetsk akan direbut melalui cara militer. Selama ia masih merasa mendapat keuntungan di lapangan, ia tidak punya alasan untuk berhenti.

3. Amerika Serikat tidak menggunakan “kartu” yang mereka miliki

Tekanan AS terhadap Rusia sejauh ini hanya:

  • Menambah dua perusahaan minyak ke daftar sanksi
  • Menerapkan tarif sekunder terhadap India

Hanya itu—sangat minim untuk memengaruhi Kremlin.

4. Keseimbangan kekuatan tidak seimbang

Rusia memiliki:

  • Jumlah pasukan lebih banyak
  • Industri pertahanan lebih besar
  • Ekonomi lebih kuat

Ukraina hanya menang secara moral: dia adalah korban agresi.

Ironi Narasi “Melindungi Warga Etnis Rusia”

Selama tiga tahun perang, ribuan warga etnis Rusia di Donetsk, Kherson, dan Kharkiv justru menjadi korban bombardir Rusia sendiri.

Jika Putin benar ingin melindungi mereka, mengapa kota-kota itu dihujani:

  • rudal,
  • bom, dan
  • drone kamikaze?

Serangan terhadap perempuan, anak-anak, dan lansia jauh dari konsep “melindungi rakyat” dan tidak mencerminkan nilai-nilai yang diklaim kelompok pro-Kremlin di luar negeri.

“Ukraina Tidak Punya Kartu” — Lalu Tugas Mediator Adalah Apa?

Trump berulang kali menyatakan bahwa Ukraina tidak memiliki leverage dalam negosiasi.

Benar.

Namun karena itu pula, tugas Amerika adalah memberi Ukraina kartu, bukan justru:

  • menghentikan intelijen,
  • menahan bantuan,
  • atau memaksanya mundur.

Perdamaian yang menekan pihak lemah bukanlah perdamaian yang adil.

Penilaian Akhir: Mengapa Perang Belum Bisa Berakhir

Trump sebelumnya berulang kali mengatakan bahwa dia dapat menghentikan perang “dengan cepat” jika menjabat. Namun hingga satu tahun masa kepresidenan (2025):

  • Gencatan senjata belum tercapai
  • Rusia tidak bergeser dari tuntutan wilayah
  • Ukraina terpaksa bertahan dengan sumber daya yang menipis

Ini menunjukkan bahwa pemahaman Trump tentang perang jauh lebih sederhana dibandingkan realitas di lapangan.

Jika Amerika benar-benar ingin membawa perdamaian, syaratnya hanya satu:

Ukraina harus diperkuat, bukan dilemahkan.

Hanya ketika Putin yakin tidak bisa menang di medan tempur, ia akan berhenti.

Kesimpulan

Perang Ukraina—khususnya Pertempuran Krasnohorivka—mencerminkan kompleksitas konflik modern:

  • perang drone,
  • tank berlapis kandang besi,
  • negosiasi yang buntu,
  • dan perebutan narasi global.

Selama Rusia masih mengejar keuntungan militer dan Amerika Serikat tidak menekan pihak yang tepat, perdamaian akan tetap menjauh.

Pertempuran Kembali Meletus di perbatasan Thailand-Kamboja, Serangan Udara Thailand Targetkan Artileri Roket Buatan Tiongkok dan Rusia

EtIndonesia.  Tiba-tiba terdengar dentuman keras, orang-orang berteriak dan berhamburan ke segala arah. Pada Senin pagi, Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk melancarkan serangan udara terhadap Kamboja, sementara dari sisi Kamboja terlihat asap tebal mengepul.

Ini adalah pertempuran paling serius antara Thailand dan Kamboja sejak konflik perbatasan pecah pada Juli tahun ini. Kedua pihak sama-sama menuduh pihak lawan melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Trump.

 “Sikap Thailand, termasuk tindakan militernya, akan tetap tidak berubah sampai Kamboja mengubah pendiriannya dan menempuh jalan damai,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri
Nikorndej Balankur. 

Perdana Menteri Thailand, Anutin, menegaskan bahwa Thailand sama sekali tidak menginginkan kekerasan, tetapi juga tidak akan mentolerir pelanggaran terhadap kedaulatannya.

Militer Thailand menyatakan bahwa dalam putaran konflik terbaru ini, sedikitnya satu prajurit Thailand tewas dan delapan lainnya luka-luka. Militer juga mengatakan bahwa Kamboja telah mengerahkan senjata berat, menata ulang pasukan tempurnya, serta menyiapkan kekuatan pendukung untuk kemungkinan eskalasi militer.

Kementerian Pertahanan Thailand mengonfirmasi bahwa sasaran serangan udara Thailand pada Senin adalah fasilitas militer Kamboja yang digunakan untuk mengerahkan artileri jarak jauh. Berdasarkan informasi intelijen, Kamboja berniat menggunakan senjata tersebut untuk menyerang sebuah bandara sipil dan sebuah rumah sakit umum di Thailand.

Thailand memperingatkan bahwa militer Kamboja kemungkinan telah mengerahkan peluncur roket PHL-03 buatan Tiongkok. Data menunjukkan bahwa senjata ini merupakan andalan pasukan roket PKT, dengan jangkauan tembak antara 70 hingga 130 kilometer. Saat ini, militer Kamboja memiliki 6 unit sistem tersebut. Selain itu, Kamboja juga memiliki 48 unit sistem peluncur roket ganda BM-21 buatan Rusia.

Di sisi lain, pihak Kamboja mengecam serangan Thailand dan menyatakan  Kamboja tidak membalas dengan kekuatan militer.

Seiring kembali berkobarnya konflik, warga yang tinggal di sepanjang perbatasan Thailand–Kamboja mulai dievakuasi dalam jumlah besar. Sebagian warga lainnya berlindung di bunker atau tempat penampungan sementara untuk menghindari tembakan artileri. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.

Pemerintahan Trump Melacak 300.000 “Anak Hilang”, 62.000 Berhasil Ditemukan

EtIndonesia. Data terbaru Gedung Putih menunjukkan bahwa sejak dimulainya masa jabatan kedua pemerintahan Trump, pemerintah AS telah berhasil menemukan kembali sekitar 62.000 anak imigran ilegal yang sebelumnya dinyatakan “hilang”. Pada saat yang sama, pemerintah juga tengah melakukan penyelidikan intensif terhadap kasus penipuan kesejahteraan anak senilai 1 miliar dolar AS yang terungkap di negara bagian Minnesota, dengan fokus menelusuri aliran dana terkait.

 “Presiden Trump telah menyelamatkan lebih dari 62.000 anak. Sebagian dari anak-anak ini sebelumnya diperdagangkan untuk industri seks. Ada yang dipaksa bekerja. Ada pula yang mengalami kekerasan. Beberapa bentuk penganiayaan yang kami temukan bahkan sulit untuk saya gambarkan,” ujar Kepala Urusan Perbatasan Gedung Putih, Tom Homan. 

Homan menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Biden, lebih dari 500.000 anak diselundupkan masuk ke Amerika Serikat, dan sekitar 300.000 anak di antaranya tidak diketahui keberadaannya. Pemerintahan Trump terus berupaya secara aktif untuk menemukan anak-anak tersebut.

Tom Homan menambahkan:  “Lebih dari 500.000 anak diselundupkan ke Amerika Serikat, lalu Joe Biden menyerahkan mereka kepada sponsor yang tidak disaring secara memadai, sehingga mengakibatkan 300.000 anak tidak diketahui keberadaannya. Pada hari pertama menjabat, Presiden Trump berjanji bahwa kami akan melakukan segala upaya untuk menemukan setiap anak. Selama empat tahun, situasi ini terus terjadi: perdagangan seks mencapai rekor tertinggi, jumlah anak yang menyeberangi perbatasan mencapai rekor tertinggi, dan jumlah kematian migran saat melintasi perbatasan juga mencapai rekor tertinggi.”

Homan menegaskan bahwa mencari anak-anak yang hilang tetap menjadi prioritas utama pemerintahan saat ini.

Sementara itu, negara bagian Minnesota telah menjadi salah satu titik fokus utama penegakan hukum imigrasi. Dalam wawancara khusus dengan CNN, Homan secara terang-terangan mengatakan bahwa Minneapolis menampung sejumlah besar imigran ilegal. Bahlan, tim penegak hukum saat ini sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Pemicu dari penegakan hukum besar-besaran ini adalah kasus penipuan bantuan sosial senilai hingga 1 miliar dolar AS. Jaksa federal menuduh bahwa jaringan kriminal di dalam komunitas imigran Somalia telah mendirikan lembaga layanan palsu untuk menggelapkan dana Program Nutrisi Anak Federal dalam jumlah besar.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada 7 Desember mengatakan kepada CBS News bahwa para penyelidik telah mengidentifikasi sejumlah jalur aliran dana ke luar negeri yang terkait dengan kasus ini dan sedang melakukan penelusuran secara intensif.


“Jika Anda datang ke Amerika Serikat, Anda harus belajar mengemudi di sisi jalan yang benar, harus berhenti di rambu berhenti, dan yang lebih penting, harus belajar untuk tidak menipu rakyat Amerika,” ujarnya. 

Bessent menyatakan bahwa para penyelidik telah melacak dana yang berada atas nama para tersangka, dan uang tersebut dikirim ke luar negeri melalui sistem transfer uang bawah tanah.

Ketika ditanya oleh wartawan apakah dana tersebut pada akhirnya mungkin digunakan untuk mendanai organisasi teroris di luar negeri, Bessent menjawab bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Pemerintah akan menelusuri setiap aliran dana hingga ke tujuan akhirnya, dan tidak akan membiarkan satu sen pun lolos. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Zhao Jialin

Menurut Laporan: Taliban Mengeksekusi Mati Terpidana Pembunuh di Depan Ribuan Orang, Eksekutornya Anak Berusia 13 Tahun

EtIndonesia. Taliban pekan lalu mengawasi eksekusi publik di Afghanistan timur di mana seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dipaksa menembak seorang pria yang dihukum karena membunuh lebih dari selusin anggota keluarganya. Eksekusi tersebut, yang diadakan di sebuah stadion olahraga yang penuh sesak di Provinsi Khost, menarik sekitar 80.000 orang, menurut sebuah laporan di The Independent.

PBB mengecam tontonan tersebut sebagai “tidak manusiawi dan kejam”.

Hukuman ‘Qisas’

Pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Mangal, telah dihukum bersama dua orang lainnya atas pembunuhan 13 kerabat remaja tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak. Mahkamah Agung Afghanistan yang dikendalikan Taliban mengatakan bahwa terpidana tersebut dijatuhi hukuman berdasarkan Qisas – prinsip keadilan retributif berbasis Syariah yang mirip dengan “balas dendam”.

Para pejabat mengatakan keluarga korban telah diberi pilihan untuk memaafkan si pembunuh, sebuah langkah yang akan menyelamatkan nyawanya, tetapi mereka bersikeras agar hukuman mati tetap dilaksanakan.

“Hari ini seorang pembunuh dijatuhi hukuman pembalasan (Qisas) di stadion olahraga di Provinsi Khost,” kata Mahkamah Agung pada X, menambahkan bahwa eksekusi tersebut menyusul penolakan mereka untuk memberikan grasi.

Kerumunan Dilarang Merekam

Banyak media melaporkan bahwa penonton dilarang membawa ponsel ke dalam stadion, tetapi rekaman video dari luar menunjukkan puluhan ribu pria berkumpul untuk acara tersebut.

Pembunuhan minggu lalu menandai setidaknya eksekusi ke-11 yang dilakukan sejak Taliban menerapkan kembali hukuman publik berdasarkan interpretasi ketat mereka terhadap hukum Syariah. Hukuman untuk kejahatan seperti pembunuhan, perzinahan, dan pencurian mencakup eksekusi, amputasi, dan cambuk di depan umum.

Pembatasan Semakin Intensif

Sejak Taliban merebut kekuasaan pada tahun 2021 setelah penarikan pasukan AS dan NATO, kelompok tersebut telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap perempuan dan anak perempuan Afghanistan. Siswa perempuan dilarang bersekolah di sekolah menengah dan universitas, dan sebagian besar kesempatan kerja telah ditutup, yang memicu kecaman internasional.(yn)

Kebakaran Gedung Terra Drone di Jakarta Pusat Tewaskan 22 Orang

Etindonesia. Sebanyak 22 orang tewas akibat kebakaran yang melanda gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12//2025) siang.  

“22 orang meninggal dunia, 15 wanita dan 7 orang laki-laki. Seluruhnya  karyawan Terra Drone,” kata Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Meghantara. 

Para korban, kata Bayu, meninggal dunia dikarenakan kehabisan oksigen bukan dikarenakan kobaran api. Mereka tewas di gedung lantai 3 dan 4. Pasalnya, ujar bayu,  asap memang sifatnya merambat dari bawah ke atas.  Walaupun kebakaran hanya melanda lantai bawah dan berhasil dipadamkan, tapi asap menjalar ke lantai atas. 

Meski demikian, kata Bayu, sebanyak  19 orang berhasil diselematkan. Kini para korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Polri. 

Untuk diketahui, Terra Drone adalah perusahaan penyedia layanan teknologi drone (UAV — Unmanned Aerial Vehicle) asal Jepang.  

Berikut nama-nama korban : 

Laki-laki 7 orang

1. Aril

2. Apri

3. Yoga

4. Cendy

5. Reyhan

6. Mirza

7. Saiful

Perempuan 15 orang

1. Ninda

2. Pariyem

3. Novia

4. Nisa

5. Jazel

6. Risda

7. Asyifa

8. Della

9. Siti

10. Amelia

11. Vina

12. Candra

13. Tasya

14. Cynthia

15. Rosdiana

(***)

Akar Pertikaian Antara Thailand dan Kamboja

EtIndonesia. Sejarah permusuhan antara Thailand dan Kamboja atas klaim teritorial yang saling bersaing kembali meletus menjadi pertempuran terbuka, hanya beberapa bulan setelah kedua belah pihak menyetujui gencatan senjata yang digagas oleh Presiden AS, Donald Trump untuk mengakhiri pertempuran di perbatasan.

Kedua negara Asia Tenggara tersebut bertempur pada bulan Juli selama lima hari di dalam dan sekitar wilayah perbatasan yang disengketakan, menyebabkan puluhan warga sipil dan militer tewas serta puluhan ribu penduduk desa di kedua belah pihak harus dievakuasi ke tempat yang aman.

Pada hari Senin (8/12), pertempuran terberat sejak gencatan senjata meletus. Meskipun belum jelas siapa yang pertama kali melancarkan serangan, Thailand melancarkan serangan udara di sepanjang perbatasan sementara pertempuran darat juga meletus.

Thailand dan Kamboja memiliki sejarah permusuhan selama berabad-abad dan mengalami ketegangan berkala di sepanjang perbatasan darat mereka yang panjangnya lebih dari 800 kilometer.

Klaim teritorial yang saling bersaing ini sebagian besar bermula dari peta tahun 1907 yang dibuat ketika Kamboja berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis, yang menurut Thailand tidak akurat. Banyak warga Thailand masih marah dengan putusan Mahkamah Internasional tahun 1962, yang memberikan kedaulatan atas wilayah sengketa kepada Kamboja — sebuah keputusan yang ditegaskan kembali pada tahun 2013. Perselisihan ini memicu beberapa bentrokan bersenjata antara tahun 2008 dan 2011.

Perdamaian yang tidak mudah dicapai pada akhir Juli, ketika Malaysia mendesak perundingan damai dan Presiden Trump mempertemukan kedua pihak yang bertikai dengan memanfaatkan pentingnya pasar AS bagi ekspor kedua negara, mengancam akan mencabut hak istimewa perdagangan yang krusial.

Trump kemudian mengklaim intervensi ini sebagai salah satu dari beberapa contoh di dunia di mana tindakannya menghasilkan perdamaian antara negara-negara yang bertikai.

Pakta pendahuluan tersebut diikuti oleh perjanjian Oktober yang lebih rinci. Isinya menyerukan koordinasi operasi pembersihan ranjau, pemindahan senjata dan peralatan berat dari perbatasan, penerapan langkah-langkah untuk memulihkan rasa saling percaya, serta penghentian retorika yang merugikan dan penyebaran informasi palsu. Tak satu pun dari tindakan ini yang dilaksanakan sepenuhnya, jika memang dilaksanakan.

Kedua negara terus terlibat dalam perang propaganda yang sengit, dan terkadang terjadi pecahnya kekerasan lintas batas dalam skala kecil.

Keluhan utama Kamboja adalah Thailand terus menahan 18 tentara yang ditawan. Thailand menuduh Kamboja memasang ranjau darat baru di wilayah sengketa yang melukai tentara Thailand. Kamboja mengatakan ranjau tersebut merupakan sisa-sisa perang saudara selama beberapa dekade yang berakhir pada tahun 1999.

Kegagalan untuk menerapkan ketentuan gencatan senjata digunakan oleh pihak Thailand sebagai alasan untuk tidak segera membebaskan para tahanan Kamboja, meskipun perjanjian Oktober mendesak mereka untuk melakukannya “sebagai bukti keinginan Thailand untuk meningkatkan rasa saling percaya dan rasa saling percaya.”

Thailand adalah salah satu sekutu terdekat dan terlama Washington. Negara ini juga memiliki keunggulan militer yang sangat besar, yang paling jelas ditunjukkan oleh kemampuannya yang hampir tak tertandingi dalam menggunakan kekuatan udara.

Namun, Kamboja juga telah berusaha memperkuat posisinya secara diplomatis. Kamboja adalah salah satu negara pertama yang sangat mendukung nominasi Hadiah Nobel Perdamaian untuk Trump, bahkan mengerahkan massa untuk berdemonstrasi mendukungnya.

Kamboja juga telah melancarkan kampanye propaganda intensif di media sosial dengan menggambarkan dirinya sebagai pihak yang lemah dan sering mengeluarkan tuduhan yang tidak dapat diverifikasi tentang tindakan Thailand. Saling serang dengan basis nasionalisme telah terjadi di kedua belah pihak.

Washington, di sisi lain, tampaknya berusaha secara aktif membangun hubungan yang lebih baik dengan Kamboja untuk menariknya menjauh dari hubungan dekatnya dengan Tiongkok, tetapi hal itu pada gilirannya telah memicu kebencian di Thailand.

Kamboja telah membuat kemajuan lebih jauh dalam menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan Washington dibandingkan Thailand, yang ekonominya jauh lebih besar dan lebih kompleks.

Potensi konsekuensi ekonomi melampaui perdagangan.

Pertempuran yang kembali terjadi tepat ketika musim pariwisata musim dingin mencapai puncaknya, dan berisiko menghambat wisatawan. Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama bagi kedua negara, yang masih berusaha pulih dari pukulan berat yang dialami industri ini selama pandemi virus corona.

Permusuhan antara kedua negara tetangga ini bukan hanya tentang klaim perbatasan yang tumpang tindih, tetapi juga permusuhan budaya yang mengakar sejak berabad-abad lalu, ketika mereka merupakan kerajaan besar yang saling bersaing.

Di era yang lebih modern, sentimen negatif masih melekat, karena pembangunan Kamboja, yang terhambat oleh kolonialisme Prancis dan, pada tahun 1970-an, oleh pemerintahan brutal Khmer Merah yang komunis, telah jauh tertinggal dari Thailand.

Kedua negara telah berselisih mengenai klaim atas produk budaya, mulai dari tinju, tari topeng, pakaian tradisional, hingga makanan.(yn)

Tiga Kilometer di Pelukan Malaikat : Kisah Fatan, Bayi 3 Bulan yang Selamat dari Sapuan Banjir Bandang

EtIndonesia. Banjir bandang yang menerjang  Salareh Aia di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada akhir November lalu menyisakan kesedihan mendalam, tetapi juga kisah yang diliputi keajaiban. 

Di tengah lumpur dan puing-puing kehancuran, seorang bayi berusia tiga bulan, bernama Fatan, ditemukan selamat setelah sempat hilang terbawa arus.

Perpisahan Tragis Sejauh Tiga Kilometer

Fatan adalah korban termuda yang kini terdaftar di posko pengungsian. Ia mengalami kisah yang sangat dramatis. Saat banjir bandang menghantam kediamannya, bayi mungil ini terpisah dari kedua orang tuanya.

Ia terseret arus sejauh tiga kilometer. Ia seperti dilindungi oleh malaikat dan diliputi saat banjir menghantam kampung halamannya.

Sang ayah, lebih dahulu ditemukan oleh masyarakat pada Kamis malam dalam keadaan terluka. Namun, Fatan baru ditemukan keesokan harinya, Jumat pagi.

Regu penolong menemukan Fatan setelah semalaman ia harus bertahan hidup seorang diri. Saat ditemukan, Fatan berada dalam posisi tertutup dan menangis di atas jerami padi. Kondisinya memilukan; tubuhnya dipenuhi lumpur dan juga luka-luka.

Uluran Tangan dan Kehilangan Terbesar

Penemu Fatan langsung membawanya ke rumah, mengganti semua pakaiannya, lalu mengantarkannya ke posko pengungsian untuk mendapatkan perawatan.

Di posko, Fatan yang saat itu menjadi pengungsi termuda, menunjukkan betapa kuatnya kasih sayang sesama manusia. Rahma meminta tolong agar ada orang yang bersedia menyusui Fatan. Beruntung, orang itu bersedia menyusui Fatan selama sehari semalam.

Tak lama kemudian, Fatan masih bernasib baik karena ia sempat bertemu dan dipeluk ayahnya pada hari kedua di pengungsian.

Namun, di balik mukjizat penyelamatan Fatan, tersimpan duka mendalam. Nasib ibu dan abangnya jauh lebih tragis; mereka ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim SAR pada Jumat pagi.

Kini, Fatan dirawat bersama keluarga besarnya, yakni tante, kakek, dan neneknya. 

Kisah Fatan menjadi pengingat bahwa di tengah bencana yang melenyapkan segalanya, masih ada kekuatan cinta dan harapan yang memungkinkan kehidupan sekecil apa pun untuk terus berjuang.

 Fatan dan keluarganya adalah potret dari tragedi Palembayan: meskipun badai telah merenggut tiang penyangga keluarga, uluran tangan komunitas, seperti pelukan tante dan neneknya, menjadi jangkar baru yang menahan perahu kehidupannya dari arus keputusasaan. (Yud)

Gaung Jeritan di Huta Godang : Jejak Gergaji Mesin di Balik Amuk Air Bah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan

EtIndonesia. Ketika azan Subuh baru saja selesai berkumandang, di Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Nirwana (bukan nama sebenarnya) merasakan air sudah mulai masuk ke rumah. Awalnya, ia mengira itu hanya banjir biasa, setinggi mata kaki, sebelum kemudian surut. Ia bahkan sempat membersihkan rumah dan bersiap membuka warung.

Namun, ketenangan itu adalah tipuan.

Sekitar pukul 08.30, air naik lagi, kali ini lebih besar dari yang pertama. Yang tadinya setinggi mata kaki, kini sudah mencapai selutut di rumahnya. Kecepatan air itu menjadi pertanda buruk: cepat naik dan cepat pula surut.

Tak lama berselang, ia mendengar teriakan panik dari tetangga. Seorang anak berlari-lari sambil menangis, berteriak, “Kak, udah Kak, datang air besar Kak!”. Nirwana sempat mengira itu hanya candaan atau banjir biasa. Namun, ketika sang ibu, yang disuruhnya mengungsi, berkata “enggak, ini banjirnya beda,” Nirwana sadar ancaman yang datang bukanlah genangan air biasa.

Menjaga Dokumen di Tengah Hanyutan

Nirwana segera berlari ke kamar untuk mengambil tas. Dari jendela kamarnya, ia menatap horor: air sudah terlihat besar sekali. Ia menjerit dan langsung menutup jendela, sambil menangis dan menelepon pamannya meminta pertolongan.

Air yang datang kali ini sudah keruh dan “mencek-mencek”, sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Beruntung, ia sempat disuruh kembali oleh ibunya untuk menyelamatkan dokumen penting. Dokumen itu kemudian ia titipkan kepada tetangga yang memiliki rumah berlantai dua.

Tidak lama setelah ia naik ke lantai dua rumah tetangga—sekitar pukul 11.00 atau 11.30—bencana itu mencapai puncaknya. Arus sungai dari arah Rambin dan Garoga datang dari dua arah, menyeret apa pun yang dilewati.

Tim SAR di Huta Godang (Dok Basarnas)

Nirwana menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah di dekat jembatan (Rambin) satu per satu hanyut, termasuk rumah papan. Bahkan rumah berlantai dua juga terdampak, dan rumah-rumah di sampingnya juga hanyut.

“Dapur saya itu kan papan juga… saya saksikanlah semua peralatan masakan itu udah hanyut kayak dangdang apa segala macamnya,” tuturnya dengan nada histeris.

Kengerian tidak berhenti di situ. Dari lantai dua, ia menjadi saksi orang-orang hanyut terbawa air. Ada yang meminta tolong, dan ada yang berhasil selamat karena mendarat di pelepah atau kayu seperti kelapa sawit. Bahkan, ia melihat orang-orang yang sudah tanpa busana terseret arus. Meskipun jaraknya jauh, ia melihat jelas siapa orang-orang itu, meskipun ia tidak mengenalnya.

“Saya saksikan kayu-kayu besar itu sempat menabrak rumah yang saya ungsi itu, akhirnya bergetar itu rumah,” kenangnya.

47 Orang Hilang dan Jejak Serakah

Air bah itu mulai surut di sore hari, sekitar pukul 17.00. Namun, saat air surut, kengerian lain terlihat jelas: kayu-kayu besar menumpuk di mana-mana.

Para saksi dan warga setempat menemukan bahwa bencana ini bukan semata-mata akibat tanah longsor alami. Di lokasi, terlihat jelas tumpukan kayu-kayu besar yang merupakan kayu hutan, bukan kayu dari lahan masyarakat. Kayu-kayu tersebut memiliki bekas potongan gergaji mesin.

“Ini adalah kayu hutan yang ditebang tangan-tangan jahil,” ujar seorang peliput di lokasi.

Penebangan ini, yang dicurigai dilakukan untuk pembukaan lahan sawit, diperkirakan telah membabat sekitar 200 hektar. Keberadaan kayu-kayu tebangan inilah yang menjadi “peluru” banjir bandang, menghantam rumah-rumah warga. Jembatan penghubung antara Desa Garoga dan Anggoli (perbatasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah) kini dipenuhi tumpukan kayu-kayu hutan yang besar.

Tragedi ini meninggalkan luka yang mendalam. Hingga saat ini, diperkirakan sekitar 47 masyarakat masih belum ditemukan akibat hanyut ke sungai.

Logistik dan Perjuangan Melintasi Jembatan Darurat

Di tengah kehancuran, warga berjuang untuk bertahan. Upaya darurat dilakukan untuk membangun jembatan penyeberangan sistem bongkar pasang antara Desa Garoga dan Anggoli. Jembatan ini, yang dibuat dari kayu-kayu temuan, harus dibongkar setiap malam untuk mengantisipasi air sungai membesar.

Perjuangan untuk bertahan hidup terangkum dalam kisah warga yang kesulitan logistik. Seorang warga bercerita bahwa ia baru bisa makan pada jam 12.00 siang, dan makanan yang dimakan adalah apa pun yang dibawa oleh pihak penyalur bantuan, termasuk roti, karena tidak lagi bisa “jual mahal”. Mereka sangat bergantung pada bantuan yang masuk.

Keberadaan begitu banyak kayu tebangan dan korban jiwa yang mencapai puluhan orang memicu tuntutan. Pemerintah didesak untuk mengusut tuntas masalah banjir bandang di Garoga dan sekitarnya, yang diduga kuat merupakan ulah keserakahan manusia.

Banjir bandang di Tapanuli ini adalah surat kabar alam yang dikirim dalam bentuk arus deras. Setiap batang kayu besar yang menghantam rumah warga dan hanyut di sungai adalah bukti tertulis dari keserakahan manusia. Hutan, yang seharusnya menjadi spons penahan air, telah dicincang seperti kertas, mengubah hujan biasa menjadi palu godam yang mematikan. Sungai kini bukan lagi pembawa kehidupan, melainkan saksi bisu tumpukan kayu hasil kejahatan yang menenggelamkan 47 harapan.

Hingga Senin, 9 Desember 2025, Sumatera Utara mencatatkan 338 korban meninggal dunia, 138 hilang dan 42.503 pengungsi. Tapanuli Tengah mencatatkan korban meninggal dunia mencapai 110 jiwa dan 94 hilang, Tapanuli Selatan 85 korban meninggal dunia dan 30 orang hilang serta Kota Sibolga dengan 53 jiwa meninggal dunia dan 2 orang hilang. (Yud)

Gedung Terra Drone Kebakaran,  Gubernur Pramono Ingatkan Para Pemilik Usaha Prioritaskan Aspek Keselamatan

EtIndonesia. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas insiden kebakaran yang terjadi di PT Terra Drone Indonesia, Jalan Letjen Soeprapto, RT 01/RW 02, Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, pada Selasa (9/12/2025). Ia menegaskan, seluruh proses penanganan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, serta mengutamakan keselamatan dan dukungan bagi keluarga terdampak.

“Saya sebagai Gubernur Jakarta sungguh berduka. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ucapnya saat meninjau lokasi kebakaran dikutip dari siaran pers Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta. 

Gubernur Pramono juga memastikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan bertanggung jawab penuh atas proses pemakaman korban meninggal dunia. 

“Tadi, saya sudah menelepon Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota untuk menyiapkan segala keperluannya. Kemungkinan tidak bisa di satu tempat karena jumlahnya,” ujarnya.

Untuk korban luka, Pemprov DKI memastikan seluruhnya akan dirujuk ke fasilitas kesehatan dan ditangani secara menyeluruh tanpa biaya.

Gubernur Pramono turut mengingatkan para pemilik usaha agar menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. “Kami berharap siapa pun yang memiliki usaha seperti ini benar-benar menjadikan keselamatan sebagai hal yang sangat penting,” tegasnya.

Ia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta telah bergerak cepat menangani keadaan darurat. Dinas Gulkarmat, BPBD, dan unsur terkait lainnya diminta tetap siaga hingga proses evakuasi dan identifikasi seluruh korban selesai. Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan memberi ruang bagi petugas yang masih bekerja di lapangan.

Berdasarkan informasi terkini, sebanyak 22 korban meninggal dunia telah dievakuasi, terdiri atas 15 perempuan dan 7 laki-laki. Seluruh korban telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati. 

Petugas juga berhasil menyelamatkan 19 orang dari lantai tujuh. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati demi memastikan keselamatan seluruh personel yang bertugas. (***)