Semarak Kemerdekaan dengan Berbagi: BRI Bantu Kebutuhan Pokok 9 Lembaga Sosial di Surabaya

SURABAYA — Semangat kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan upacara dan lomba-lomba. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Region 12 Surabaya memilih jalur lain: berbagi. Melalui program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) , BRI menyalurkan paket sembako kepada sembilan panti asuhan, lembaga kesejahteraan sosial anak, dan gereja di Surabaya dan sekitarnya.

Penyaluran bantuan yang berlangsung pada 30 Juli 2026 ini menjadi bagian dari rangkaian program Berbagi Bahagia Natal 2025 sekaligus momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bantuan Langsung untuk Mereka yang Membutuhkan

Bantuan diserahkan secara langsung oleh perwakilan BRI Region 12 Surabaya, Amatus Susilardi, bersama para Insan BRILiaN. Penerima bantuan terdiri dari:

  • Panti Asuhan Don Bosco
  • Panti Asuhan Pondok Hayat
  • Panti Asuhan Sumber Kasih
  • Panti Pondok Kasih
  • Panti Yestoya
  • Gereja Yohanes Pemandi
  • Panti Asuhan Undaan
  • Panti Asuhan Wedha Usia
  • LKSA Immanuel

Wujud Nyata Kepedulian di Tengah Masyarakat

Amatus Susilardi menyampaikan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk nyata komitmen BRI untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan.

“Penyaluran bantuan sembako dari BRI Peduli merupakan wujud nyata kepedulian perusahaan dalam menebarkan kasih, kebersamaan, serta solidaritas sosial kepada sesama,” ujar Amatus, Rabu (19/8/2026).

Menurut dia, program tersebut tidak sekadar memberikan bantuan kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan harmonis antara BRI dan masyarakat di lingkungan sekitar.

“Hal ini merupakan komitmen BRI dalam mendukung kesejahteraan sosial sekaligus mempererat hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Bantuan diserahkan langsung oleh karyawan BRI di unit-unit kerja yang telah ditunjuk dan menyasar masyarakat yang membutuhkan, sebagai upaya meringankan beban ekonomi kelompok masyarakat yang kurang beruntung,” katanya.

Kontribusi untuk Ketahanan Nasional

Amatus menegaskan, kepedulian sosial merupakan bagian dari tanggung jawab BRI sebagai perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki perhatian terhadap pembangunan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Penyaluran sembako ini juga menjadi bagian dari kontribusi BRI dalam mendukung agenda Asta Cita Pemerintah, terutama yang berkaitan dengan:

  • Penguatan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa
  • Dukungan terhadap swasembada pangan, energi, dan air
  • Penguatan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru

“BRI senantiasa berupaya hadir di tengah masyarakat melalui berbagai program yang memberikan manfaat secara langsung. Kami berharap bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadirkan rasa kebersamaan bagi para penerima,” tutur Amatus.

Komitmen Berkelanjutan

Ke depan, BRI Peduli akan terus menjalankan berbagai program sosial secara berkelanjutan sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Melalui bantuan tersebut, BRI berharap manfaat yang diberikan tidak berhenti pada bantuan material semata, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat gotong royong dan solidaritas di tengah keberagaman masyarakat.

【Serial Sejarah】Jiang Zemin yang Sebenarnya (Bagian 1) 

Catatan editor: Empat belas tahun lalu, Jiang Zemin yang Sebenarnya pertama kali diterbitkan untuk pembaca. Empat belas tahun kemudian, Jiang Zemin telah meninggal dunia, tetapi warisan politik yang ditinggalkannya belum hilang. Banyak kekacauan dan krisis yang terjadi di Tiongkok saat ini dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Jiang berkuasa. Pemerintahan melalui korupsi, pengabaian supremasi hukum, penghancuran moralitas, penganiayaan terhadap Falun Gong, serta berkembangnya mesin otoriter dan kekerasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah meninggalkan berbagai masalah yang tak kunjung selesai bagi Tiongkok. 

Untuk memahami PKT saat ini dan memahami bagaimana Tiongkok sampai pada kondisi sekarang, perlu memahami Jiang Zemin yang Sebenarnya. Oleh karena itu, artikel ini diterbitkan kembali.

Batas moral di tengah perkembangan ekonomi (Bagian atas) — Jiang Zemin yang Sebenarnya (Episode 1)

Banyak orang menentangnya dan mengatakan: Falun Gong meningkatkan moral masyarakat dan menstabilkan masyarakat. Namun, ia menekan semuanya dan berkata: jika ekonomi sudah berkembang, moralitas dengan sendirinya akan membaik. Dengan demikian, ia membalikkan standar moral masyarakat Tiongkok selama 5.000 tahun dan menjadi orang yang dianggap sebagai pendosa terbesar sepanjang sejarah.

1. Mentalitas Akhir Zaman

Pada pagi hari 30 Oktober 2000, di permukaan Sungai Yangtze di wilayah Sansingtuo, Yunyang, Chongqing, kapal penumpang Changjiang No. 1 mengalami kecelakaan dan terbalik. Beberapa penumpang yang jatuh ke air berjuang dan berteriak meminta pertolongan di tengah air sungai yang dingin.

Saat itu, beberapa kapal tongkang bermotor kecil datang setelah mendengar kabar tersebut. Mendengar ini, orang mungkin menghela napas lega dan berpikir bahwa bantuan datang tepat waktu! Namun, kita semua keliru. Kapal-kapal yang datang justru mengabaikan orang-orang yang berteriak meminta pertolongan, tetapi sangat tertarik pada barang-barang yang mengapung di permukaan air. Beberapa pemilik kapal bahkan mengejek mereka: “Kalian beristirahat saja di dasar kapal!”

Sepuluh tahun kemudian, Tiongkok mengklaim telah melampaui Jepang dan menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.

Pada 13 Oktober 2011, di Huangqi, Distrik Nanhai, Foshan, Guangdong, kamera pengawas sebuah toko merekam pemandangan tragis. Seorang anak perempuan berusia baru dua tahun bernama Yueyue sedang berjalan di sebuah gang ketika ditabrak dan terlindas dua kali oleh sebuah van, lalu tergeletak dalam genangan darah. Satu orang, dua orang, tiga orang pejalan kaki melewatinya, tetapi tidak ada yang datang mengulurkan tangan untuk menolong.

Beberapa menit kemudian, sebuah truk melintas dan kembali melindas tubuh kecilnya. Setelah itu, 15 orang lainnya secara berturut-turut melewati tempat tersebut. Lima belas orang dewasa dari berbagai latar belakang semuanya mengabaikan anak perempuan kecil yang terbaring dalam genangan darah dan pergi dengan acuh tak acuh. Baru tujuh menit kemudian, Yueyue ditolong oleh seorang lansia pemulung yang mengangkatnya ke pinggir jalan. Setelah mendapat perawatan di rumah sakit, Yueyue akhirnya meninggal dunia.

Delapan belas orang, satu demi satu, berjalan melewatinya. Dari rekaman terlihat bahwa ada yang berjalan cepat untuk menghindar, ada yang menundukkan kepala melihat sekilas lalu pergi, dan ada yang berkali-kali menoleh tetapi akhirnya tetap berbalik dan tidak menolong. Di sisi lain, dari langkah mereka yang tergesa-gesa dan semakin cepat, kita dapat melihat ketakutan dalam hati mereka: takut terlibat masalah, takut dianggap sebagai pelaku, dan takut orang lain tidak percaya bahwa mereka benar-benar sedang berbuat baik.

Jika Anda menganggap kisah ini hanya sebuah kasus khusus, mari kita lihat kisah nyata lainnya.

Sekitar pukul 05.00 pagi pada 30 April 2012, sebuah mobil sedan Santana hitam menabrak seorang perempuan lanjut usia berusia 68 tahun di Jalan Nasional 329, wilayah Zhouxiang, Cixi, Zhejiang. Sepasang kekasih berusia 25 tahun yang berada di dalam mobil mengangkat perempuan tersebut ke dalam kendaraan dan mengatakan kepada saksi mata bahwa mereka akan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Namun, pasangan tersebut malah membawa perempuan yang terluka itu ke kawasan Haibin New City di Yuyao dan menguburnya hidup-hidup hingga meninggal dunia.

Peristiwa Yueyue mendapat pemberitaan luas dari media internasional. Banyak yang bertanya dengan terkejut: Apakah Tiongkok telah kehilangan jiwanya?!

Jika seseorang masih merasa takut menolong ketika menghadapi penjahat, dalam dua kasus yang disebutkan di atas, tidak ada bahaya apa pun yang mengancam orang-orang tersebut, tetapi mereka tetap tidak menolong orang yang sedang sekarat. Bahkan, hanya demi menghindari hukuman akibat mengemudi dalam keadaan mabuk, seseorang tega memperparah keadaan dan mengubur seorang lansia hidup-hidup hingga meninggal.

Di internet daratan Tiongkok juga muncul diskusi besar mengenai kasus Yueyue. Menanggapi kesedihan dan kemarahan para pengguna internet terhadap kemerosotan moral masyarakat Tiongkok, majalah teori PKT Qiushi pada Januari, Februari, dan April 2012 berturut-turut menerbitkan tiga artikel mengenai apa yang disebut sebagai “tiga teori tentang pemahaman yang benar terhadap kondisi moral masyarakat pada tahap sekarang”.

Artikel-artikel tersebut menyatakan bahwa arus utama moral masyarakat sedang berkembang ke arah yang maju, cerah, dan baik, serta menyebut berbagai perilaku tidak bermoral yang menjadi perhatian masyarakat luas sebagai fenomena individual. Begitu diterbitkan, artikel-artikel tersebut langsung menjadi bahan ejekan para pengguna internet. Mereka menganggap sikap Qiushi yang seolah-olah menutup mata terhadap kenyataan justru merupakan bukti langsung dari kemerosotan moral dan hilangnya kejujuran.

Jika kita mencari artikel mengenai kejujuran di internet, kita akan menemukan hasil pencarian dalam jumlah sangat besar yang membuat orang sulit tertawa ataupun menangis. Misalnya: “minta skripsi sekitar 6.000 kata tentang kejujuran dalam ujian”, “minta skripsi berjudul penyebab dan solusi hilangnya integritas dalam akuntansi”, “mendesak mencari skripsi tentang kejujuran dan pertumbuhan mahasiswa, sebaiknya karya orisinal”.

Dulu, ketidakjujuran dianggap sebagai sesuatu yang sangat tidak bermoral. Kini, masyarakat sudah terbiasa dengannya. Artinya, standar penilaian moral telah turun secara drastis.

Untuk belajar di luar negeri, seseorang dapat mencari perusahaan agen yang menyediakan layanan lengkap: transkrip nilai, ijazah, resume, semuanya dapat dibuatkan secara palsu. Hal itu bahkan telah menjadi hal yang dianggap biasa dalam masyarakat; baik orang tua maupun siswa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Pada 14 Januari 2011, rektor Universitas Aomori di Jepang mengadakan konferensi pers dan mengumumkan bahwa universitas tersebut telah mengeluarkan 140 mahasiswa Tiongkok selama periode 2008 hingga 2010.

Saat ini di daratan Tiongkok, banyak perusahaan yang secara khusus menawarkan jasa penulisan karya ilmiah juga bermunculan. Mulai dari skripsi sarjana, tesis magister, disertasi doktoral, karya ilmiah untuk kenaikan jabatan, pidato pejabat, hingga laporan dan rangkuman, semuanya tersedia. Bisnis pemalsuan bahkan dilakukan secara terbuka, dengan klaim bahwa penulisnya merupakan tim peneliti dari universitas-universitas ternama.

Hasil pencarian yang kami tunjukkan sebelumnya hanyalah sebagian kecil dari praktik pemalsuan semacam ini. Di permukaan, pemerintah memang terus meningkatkan upaya pemberantasan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri pembuatan karya ilmiah palsu justru semakin berkembang meskipun terus mendapat kecaman.

Beberapa artikel aneh dari majalah Qiushi mengenai kondisi moral masyarakat bahkan menggunakan hal-hal seperti tidak meludah sembarangan, belajar memilah sampah, dan menyeberang jalan melalui zebra cross sebagai bukti adanya kemajuan moral yang sangat besar.

Moralitas adalah kualitas batin seseorang, sedangkan etiket merupakan manifestasi eksternal. Ketika ekonomi berkembang dan kehidupan menjadi lebih makmur, perilaku masyarakat biasanya menjadi lebih beradab dan sopan. Pada umumnya, orang yang bermoral dan berpendidikan baik akan lebih memahami tata krama serta bersikap sopan. Namun, kebalikannya belum tentu benar.

Pemimpin geng kriminal yang membunuh dan merampok, atau pejabat korup yang menggabungkan kekuasaan dan uang, dapat masuk ke dalam lingkaran masyarakat kelas atas. Memahami bagaimana bersikap elegan dan berpura-pura berkelas bukanlah hal yang sulit; mereka bahkan dapat tampil seperti seorang gentleman.

Hal ini seperti babi dalam novel alegori karya penulis Inggris George Orwell, Animal Farm. Setelah mengenakan jas dan dasi, bagian dalamnya tetaplah seekor babi. Apakah kita dapat mengatakan bahwa orang-orang seperti itu memiliki moralitas yang luhur?

Pada musim semi 1997, ketika Wang Lijun, mantan kepala Kepolisian Chongqing, sedang berada pada masa paling populer, paling disukai, dan paling berjaya dalam kariernya, ia diwawancarai oleh penulis skenario televisi Zhou Lijun. Dalam tulisannya Wang Lijun: Sebuah Ramalan yang Menjadi Kenyataan, Zhou Lijun mencatat:

“Di pemandian umum di Fushun, kami berdua duduk telanjang di dalam kolam yang dipenuhi uap panas. Saat itulah ia mengucapkan kalimat yang kemudian terbukti seperti sebuah ramalan. Saya sangat memahami bahwa saya hanyalah sepotong permen karet di mulut seorang pejabat. Ketika sudah tidak ada rasanya lagi, saya akan dikunyahkan lalu diludahkan ke tanah, dan belum tentu tidak menempel di sol sepatu seseorang.”

Sebenarnya, bukan hanya Wang Lijun yang bergantung pada orang lain agar dapat bertahan di dunia politik dan dengan menyedihkan menggambarkan dirinya sebagai permen karet yang dapat dikunyah dan dibuang kapan saja.

Bagaimana dengan Bo Xilai, “majikannya”? Setelah Bo Xilai digugat oleh praktisi Falun Gong ketika berkunjung ke Amerika Serikat, seorang teman lamanya dari Universitas Peking bertanya mengapa ia sampai berada dalam situasi tersebut. Dengan wajah tidak berdaya, Bo menjawab: “Bukankah karena pihak atas memerintahkan penindasan terhadap Falun Gong?”

Bo Xilai juga merupakan “sepotong permen karet” Jiang Zemin, dan Jiang Zemin pada akhirnya juga membuangnya.

Demi mempertahankan posisi mereka, Jiang Zemin dan Zeng Qinghong memilih mengorbankan pihak lain demi menyelamatkan kepentingan sendiri. Dalam menangani kasus Bo Xilai, mereka justru tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap Hu Jintao dan Wen Jiabao, melainkan membiarkan keadaan berkembang sesuai arus. Dengan demikian, Bo Xilai juga tidak lebih dari sekadar sepotong “permen karet” di mulut Jiang Zemin.

Jika bagian atas tidak lurus, bagian bawah pun akan bengkok. Demi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, orang-orang satu demi satu terseret ke dalam kejahatan bersama, menyebabkan hati nurani manusia jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Inilah gambaran langsung kemerosotan moral dalam lingkungan politik PKT.

2. Meninggalkan kapal dan melarikan diri

Menurut laporan Beijing Times pada 21 Februari 2012, kelompok penelitian mengenai kondisi hukum dan supremasi hukum dari Institut Hukum Akademi Ilmu Sosial Tiongkok melakukan survei terhadap sebagian pegawai negeri dan masyarakat di 23 provinsi dan kota, termasuk Beijing, Sichuan, dan Zhejiang.

Hasil survei itu diterbitkan dalam Blue Book on the Rule of Law 2012. Buku itu menyatakan bahwa pejabat publik memiliki tingkat penerimaan yang relatif tinggi terhadap apa yang disebut sebagai “pejabat telanjang” (裸官). Semakin tinggi tingkat jabatan seorang pejabat, semakin toleran sikapnya terhadap pejabat semacam itu.

Lebih dari separuh pejabat tingkat provinsi/departemen, direktorat/biro, serta kabupaten/kantor yang disurvei mengakui bahwa anak-anak mereka memiliki kewarganegaraan asing atau izin tinggal permanen di luar negeri.

Yang dimaksud dengan “pejabat telanjang” terutama adalah pejabat PKT yang telah memindahkan pasangan, anak-anak, dan aset mereka ke luar negeri melalui imigrasi atau transfer aset.

Semakin banyak pejabat “telanjang”, setelah kasus korupsi mereka terbongkar, melarikan diri ke luar negeri. Sebagian besar dari mereka sebelumnya telah memindahkan pasangan dan anak-anak ke luar negeri serta memindahkan aset keluar dari Tiongkok. Bahkan jika pejabat tersebut sendiri mendapat hukuman, pasangan dan anak-anaknya tetap dapat menikmati hasil ilegal tersebut dan menghindari penagihan.

Para pejabat PKT tampaknya berpura-pura tenang di permukaan, tetapi di dalam hati mereka semakin ketakutan.

Wang Lijun, mantan wakil wali kota Chongqing, sebelumnya merupakan tangan kanan Bo Xilai, anggota Politbiro PKT sekaligus sekretaris Partai Komunis Chongqing. Ia juga pernah diangkat sebagai model pekerja nasional, salah satu dari sepuluh polisi paling berprestasi di Tiongkok, delegasi Kongres Nasional PKT ke-14, dan “pahlawan pemberantas kejahatan”. Kariernya tampak sangat menjanjikan.

Tokoh utama serial televisi 19 episode Jiwa Polisi Baja, yang diadaptasi dari sebuah novel panjang, juga didasarkan pada sosok Wang Lijun.

Departemen keamanan PKT pernah menyadap percakapan telepon antara Hu Changqing, yang saat itu merupakan wakil gubernur Provinsi Jiangxi, dengan putranya yang berada di luar negeri. Hu Changqing berkata:

“Anakku, bekerjalah dengan baik di luar sana! Saya rasa [Partai Komunis] tidak akan bertahan sepuluh tahun lagi. Saya dan ibumu akan segera pergi ke luar negeri untuk berkumpul kembali denganmu.”

Cheng Kejie, mantan wakil ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, juga pernah berkata kepada kekasihnya Li Ping:

“Simpan semua uang ini di luar negeri. Cepat atau lambat [Partai Komunis] akan berakhir.”

Di Tiongkok terdapat kasus penggelapan dana jaminan sosial Shanghai.

Di Amerika Serikat terdapat skandal pembukuan palsu perusahaan Enron.

Ada pula kasus penipuan Madoff yang mengguncang dunia.

Di Tiongkok terdapat kasus Sun Zhigang yang meninggal setelah dipukuli oleh pegawai pusat penahanan.

Ada juga kasus yang dikenal sebagai “permainan petak umpet”, ketika seseorang dipukuli hingga tewas di dalam rumah tahanan.

Di Amerika Serikat terdapat kasus penyiksaan tahanan oleh tentara Amerika yang ditempatkan di Irak.

Di Tiongkok, pada 2010 terjadi serangkaian kasus pembunuhan anak di sekolah dasar.

Di Amerika Serikat juga terdapat penembakan di sekolah.

Lalu, apakah benar seperti yang dikatakan PKT bahwa semua burung gagak di dunia sama-sama hitam?

Kasus pekerja budak di tempat pembakaran batu bata ilegal di Shanxi.

Kasus Peng Yu di Nanjing, ketika orang yang menolong lansia justru dituduh sebagai pihak yang menyebabkan kecelakaan.

Kasus Yueyue di Foshan, ketika orang-orang tidak menolong anak yang terluka.

Kasus Yao Jiaxin, yang setelah menabrak seseorang justru menikam korban sebanyak delapan kali dan melakukan pembunuhan dengan sengaja.

Kasus Guo Meimei yang memamerkan kekayaan dan membongkar dugaan korupsi mengejutkan di Palang Merah Tiongkok.

Kasus “budak seks” Luoyang di Henan yang menggemparkan, yang melibatkan aparat penegak hukum.

Serta berbagai kasus seperti susu bubuk beracun, clenbuterol dalam daging, minyak jelantah yang didaur ulang menjadi minyak goreng, dan mantou berwarna.

Semua peristiwa tersebut berulang kali disebut oleh media dan para pengguna internet sebagai tindakan yang telah menembus batas moral.

Siapa yang sebenarnya sedang menembus batas moral?

Bersambung

Minyak Iran Mengalir ke Tiongkok, Hengli Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Baru AS

EtIndonesia.com  — Ketika Amerika Serikat semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, perhatian Washington kini tidak hanya tertuju pada kemampuan Teheran menjual minyak, tetapi juga pada perusahaan-perusahaan asing yang menjadi pembeli utama komoditas tersebut. Salah satu nama yang kini berada di pusat perhatian adalah raksasa petrokimia Tiongkok, Hengli Group, khususnya unit penyulingannya di Dalian.

Dalam laporan yang diterbitkan pada 17 Agustus 2026, The Wall Street Journal mengungkap secara terperinci bagaimana Hengli berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan minyak Iran. Menurut laporan tersebut, perusahaan itu diduga membeli minyak Iran bernilai miliaran dolar yang dikirim menggunakan jaringan kapal yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Hengli sendiri membantah melakukan perdagangan dengan Iran.

Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena Hengli bukan perusahaan kecil yang beroperasi jauh dari lingkaran ekonomi utama Tiongkok. Kelompok bisnis tersebut didirikan oleh pengusaha Chen Jianhua dan berkembang dari usaha tekstil menjadi konglomerat besar yang bergerak di bidang petrokimia, penyulingan minyak hingga pembuatan kapal.

Posisi Chen juga menarik perhatian karena ia termasuk di antara pengusaha swasta terkemuka yang hadir ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan penting dengan para pemimpin sektor swasta pada 2025. Kehadiran tersebut menunjukkan besarnya posisi Hengli dalam lanskap industri Tiongkok.

Washington Sudah Menjatuhkan Sanksi

Tekanan terhadap Hengli sebenarnya telah meningkat beberapa bulan sebelumnya.

Pada 24 April 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control atau OFAC menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., Ltd. Washington menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu pelanggan terbesar Iran untuk minyak mentah dan produk petroleum lainnya.

Departemen Keuangan AS mengatakan Hengli telah membeli produk minyak Iran senilai miliaran dolar. Sejak setidaknya 2023, fasilitas tersebut disebut menerima minyak Iran dari sejumlah kapal yang telah masuk daftar sanksi Amerika Serikat.

Tiga kapal yang disebut Washington—BIG MAG, GALE, dan ARES—bahkan dikatakan telah mengirimkan lebih dari lima juta barel minyak mentah Iran ke Hengli. Pemerintah AS juga menuduh sebagian transaksi tersebut berhubungan dengan minyak yang penjualannya diawasi jaringan terkait Angkatan Bersenjata Iran.

Besarnya Hengli membuat langkah Washington menjadi penting. Kompleks penyulingannya di Dalian memiliki kapasitas sekitar 400.000 barel per hari, menjadikannya salah satu perusahaan penyulingan independen terbesar di Tiongkok yang pernah menjadi sasaran langsung sanksi Amerika Serikat.

Bagi Washington, masalah utamanya adalah aliran pendapatan.

Selama Iran masih mampu menemukan pembeli dalam jumlah besar untuk minyaknya, efektivitas sanksi ekonomi Amerika Serikat akan memiliki batas. Minyak yang berhasil dijual tetap memberikan pemasukan kepada Teheran, sekalipun transaksi dilakukan dengan diskon, melalui perantara, kapal yang berganti identitas, ataupun sistem pembayaran yang berusaha mengurangi keterpaparan terhadap sistem keuangan Amerika.

Tiongkok Melawan Tekanan AS

Beijing tidak tinggal diam.

Pada 2 Mei 2026, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengeluarkan perintah yang melarang pengakuan, pelaksanaan ataupun kepatuhan terhadap sanksi Amerika Serikat terhadap lima perusahaan penyulingan Tiongkok yang dituduh terlibat dalam transaksi minyak Iran.

Selain Hengli, perusahaan yang disebut mencakup Shandong Shouguang Luqing Petrochemical, Shandong Jincheng Petrochemical Group, Hebei Xinhai Chemical Group dan Shandong Shengxing Chemical.

Beijing menilai sanksi Washington merupakan penerapan yurisdiksi ekstrateritorial yang tidak semestinya dan menegaskan penolakannya terhadap sanksi sepihak yang tidak memperoleh mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan minyak Iran kini semakin terhubung dengan persaingan strategis Amerika Serikat-Tiongkok.

Jika Washington ingin benar-benar menekan sumber pendapatan utama Teheran, sasaran berikutnya berpotensi tidak hanya berupa kapal tanker atau perusahaan Iran. Tekanan dapat bergerak menuju pembeli minyak di Tiongkok, perusahaan logistik, pelabuhan, perusahaan perantara, hingga jaringan perbankan yang diduga membantu memproses transaksi.

Langkah semacam itu tentu membawa risiko lebih besar karena dapat mempertemukan kebijakan tekanan terhadap Iran dengan hubungan ekonomi AS-Tiongkok yang jauh lebih luas.

Pertemuan Trump-Xi Ikut Menjadi Sorotan

Di tengah ketegangan tersebut, rencana pertemuan berikutnya antara Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping turut menjadi perhatian.

Trump sebelumnya mengatakan dirinya memperkirakan Xi akan datang ke Amerika Serikat sekitar 24 September 2026. Waktu tersebut bertepatan dengan periode diplomatik penting di New York ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Namun, menurut informasi yang beredar mengenai rencana perjalanan tersebut, Xi kemungkinan tiba di Amerika Serikat pada malam 23 September, tidak menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, kemudian meninggalkan AS pada 25 September 2026.

Ketidakpastian tetap ada. Sejumlah diplomat dilaporkan memperhatikan bahwa Beijing belum memperlihatkan seluruh tanda persiapan yang biasanya terlihat menjelang perjalanan luar negeri tingkat tinggi seorang pemimpin Tiongkok.

Karena itu, isu Iran berpotensi menjadi salah satu faktor yang memperumit agenda diplomatik Washington-Beijing. Sanksi yang terlalu luas terhadap perusahaan dan lembaga keuangan Tiongkok dapat memicu tindakan balasan Beijing sekaligus menambah daftar perselisihan yang harus diselesaikan kedua negara.

Persoalannya kini bukan sekadar berapa banyak minyak yang masih dapat dijual Iran.

Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa jauh Washington bersedia menekan perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk memutus sumber pemasukan Teheran, dan seberapa keras Beijing akan melindungi kepentingan energi serta perusahaan domestiknya.

Dengan demikian, pertempuran ekonomi terhadap Iran berpotensi memasuki babak yang jauh lebih kompleks. Di satu sisi, Amerika Serikat ingin mempersempit ruang keuangan Teheran. Di sisi lain, Tiongkok menolak sanksi sepihak Washington dan memiliki kepentingan besar dalam mempertahankan keamanan pasokan energinya.

Menjelang kemungkinan pertemuan Trump-Xi pada September 2026, minyak Iran kini dapat berubah dari sekadar persoalan Timur Tengah menjadi salah satu ujian penting bagi hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. (***)

Iran Disebut Bersiap Hadapi Perang Lebih Besar, Strategi Teheran Mulai Bergeser

EtIndonesia.com  — Di tengah berakhirnya periode memorandum antara Amerika Serikat dan Iran serta semakin suramnya prospek penyelesaian melalui jalur diplomasi, muncul laporan bahwa Teheran sebenarnya telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang jauh lebih besar.

Laporan terbaru The Wall Street Journal pada 17 Agustus 2026, dengan mengutip sejumlah pejabat Iran dan Arab serta penilaian intelijen regional, menyebut kelompok garis keras di Iran sejak awal tidak sepenuhnya mempercayai proses diplomasi yang berlangsung setelah memorandum dengan Amerika Serikat disepakati pada pertengahan Juni 2026.

Di kalangan kelompok tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa memorandum itu bukan jalan menuju perdamaian permanen, melainkan sekadar kesempatan bagi Amerika Serikat dan Israel untuk membeli waktu, mengatur ulang kekuatan, serta mempersiapkan operasi militer yang lebih besar terhadap Iran.

Kecurigaan inilah yang disebut menjadi salah satu alasan mengapa kelompok garis keras Iran tidak pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada perundingan.

Alih-alih mengendurkan kesiapan militernya selama periode diplomasi, Teheran justru dilaporkan menggunakan sekitar dua bulan terakhir untuk memperkuat kemampuan menghadapi perang berkepanjangan.

Iran Mempercepat Persiapan Militer

Menurut laporan tersebut, persiapan Iran berlangsung dalam berbagai bidang, mulai dari restrukturisasi kekuatan militer, peningkatan kemampuan kontraintelijen, hingga percepatan produksi persenjataan.

Salah satu langkah penting adalah semakin besarnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC terhadap unsur-unsur kekuatan militer reguler. Struktur pertahanan Iran disebut diarahkan agar mampu bergerak lebih terkoordinasi apabila konflik kembali meningkat.

Teheran juga dilaporkan membawa kembali sejumlah tokoh garis keras dan veteran dari lembaga-lembaga lama ke posisi penting. Sebagian dari mereka memiliki pengalaman sejak Perang Iran-Irak pada 1980–1988, sementara yang lain berpengalaman dalam operasi keamanan dan penanganan ancaman di dalam negeri.

Langkah tersebut mengindikasikan bahwa Iran tidak hanya mempersiapkan kemampuan untuk menghadapi serangan dari luar, tetapi juga berusaha memperkuat keamanan internal apabila perang berkepanjangan menimbulkan tekanan politik, sosial, maupun ekonomi.

Operasi kontraintelijen juga diperluas. Bagi Teheran, ancaman bukan hanya berasal dari rudal, pesawat tempur atau kapal perang lawan, tetapi juga kemungkinan infiltrasi jaringan intelijen asing, sabotase dan operasi rahasia terhadap fasilitas strategis.

Pada saat bersamaan, Iran disebut mempercepat produksi rudal dan pesawat nirawak. Kedua jenis persenjataan tersebut menjadi bagian penting dari strategi Iran karena dapat digunakan untuk menyerang sasaran dalam jarak jauh tanpa harus mengandalkan kekuatan udara konvensional.

WSJ melaporkan reorganisasi internal dan penguatan kemampuan rudal serta drone merupakan bagian dari persiapan Teheran menghadapi kemungkinan konfrontasi jangka panjang, meskipun Iran sendiri tetap menghadapi tekanan ekonomi dan kerugian akibat konflik sebelumnya.

Medan Konflik Semakin Meluas

Persiapan Iran tidak berhenti pada wilayah daratannya sendiri.

Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas di jalur pelayaran strategis juga menjadi bagian penting dari konfrontasi. Serangan terhadap kapal-kapal komersial meningkat, sementara perselisihan mengenai pengaturan lalu lintas melalui Selat Hormuz terus menjadi salah satu hambatan utama dalam proses diplomasi.

Iran sebelumnya mengajukan sejumlah tuntutan terkait pembukaan kembali Hormuz, termasuk penghentian blokade laut Amerika Serikat, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian operasi terhadap sekutu-sekutu Teheran di kawasan.

Konflik juga tidak lagi terbatas pada Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Jaringan kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran di Yaman dan Irak disebut semakin terkoordinasi, sementara eskalasi juga telah menjangkau Laut Merah. WSJ melaporkan strategi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan biaya yang harus ditanggung lawan apabila perang terus berlanjut.

Perkembangan terbaru kembali muncul pada Senin, 17 Agustus 2026.

Media Iran melaporkan sebuah kapal tanker minyak milik perusahaan Uni Emirat Arab dihentikan dan ditahan di dekat Pulau Qeshm ketika melintasi Selat Hormuz. Data navigasi maritim disebut menunjukkan kapal tersebut berhenti ketika sedang melakukan pelayaran melalui kawasan itu. Identitas kapal maupun perusahaan pemiliknya belum diumumkan dalam laporan awal.

Dengan demikian, laporan awal yang menyebut kapal tersebut sebagai “kapal pesiar” perlu dikoreksi. Informasi yang tersedia pada 17–18 Agustus menyebutnya sebagai kapal tanker milik perusahaan UEA.

Insiden tersebut semakin memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan di salah satu jalur energi terpenting dunia.

Newt Gingrich: Iran Berusaha Menang Secara Politik

Di tengah meningkatnya tekanan militer tersebut, mantan Ketua DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Newt Gingrich, mengemukakan pandangan berbeda mengenai tujuan jangka panjang Iran.

Dalam wawancara radio yang diberitakan pada 16 Agustus 2026, Gingrich berpendapat bahwa Teheran tidak harus mengalahkan Amerika Serikat secara langsung di medan perang untuk mencapai tujuannya.

Menurut Gingrich, strategi Iran adalah bertahan cukup lama sehingga biaya ekonomi, militer dan politik konflik mulai menggerus dukungan masyarakat Amerika terhadap perang. Ia membandingkannya dengan strategi Vietnam Utara pada era Perang Vietnam.

Dalam pandangan tersebut, kemenangan dapat dicapai dengan melemahkan kemauan politik lawan untuk meneruskan konflik.

Iran, menurut analisis Gingrich, dapat berharap bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan domestik yang dihadapi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Apalagi Amerika Serikat juga harus menanggung biaya mempertahankan operasi militer dalam jangka panjang. Pentagon kini melakukan rotasi kapal induk di Timur Tengah setelah pengerahan panjang USS Abraham Lincoln, sebuah perkembangan yang sekaligus memperlihatkan besarnya tuntutan logistik untuk mempertahankan operasi militer berkepanjangan di kawasan.

Karena itulah, konfrontasi antara Washington dan Teheran kini bukan lagi sekadar persoalan siapa yang memiliki rudal, pesawat atau kapal perang lebih banyak.

Pertarungan juga berlangsung dalam dimensi ekonomi, diplomasi, psikologis dan politik.

Bagi Iran, kemampuan bertahan menghadapi tekanan dapat menjadi senjata tersendiri. Sementara bagi Amerika Serikat, tantangannya adalah mempertahankan tekanan militer dan ekonomi tanpa kehilangan dukungan politik di dalam negeri.

Dengan berakhirnya memorandum dan belum terlihatnya terobosan diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, laporan mengenai persiapan perang Iran memberikan gambaran bahwa Teheran setidaknya sedang mempersiapkan skenario terburuk.

Pertanyaan terbesarnya sekarang bukan hanya apakah Amerika Serikat dan Iran masih dapat mencapai kesepakatan, tetapi apakah kedua pihak masih memiliki ruang untuk mundur sebelum persaingan yang berlangsung berubah menjadi konflik regional yang jauh lebih luas. (***)

Malam Mencekam di Irak! Drone dari Iran Incar Kantor PM Kurdistan dan Kepala Intelijen

EtIndonesia.com  Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah dua drone bermuatan bahan peledak yang disebut diluncurkan dari wilayah Iran menyerang kawasan Kurdistan Irak pada Senin, 17 Agustus 2026. Serangan tersebut menjadi perhatian karena salah satu sasaran yang dituju adalah kantor pribadi Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan atau KRG, Masrour Barzani, sementara drone lainnya menyasar kediaman seorang pejabat tinggi keamanan dan intelijen Kurdistan.

Insiden ini terjadi pada saat yang sangat sensitif. Pada hari yang sama, periode 60 hari yang ditetapkan dalam memorandum kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran juga berakhir, tanpa tercapainya kesepakatan permanen yang mampu menyelesaikan pertikaian kedua negara.

Menurut keterangan otoritas keamanan Kurdistan Irak, dua drone tersebut menyerang pada dini hari 17 Agustus 2026. Hasil penyelidikan awal yang diumumkan Direktorat Kontraterorisme Kurdistan menyebutkan bahwa drone-drone itu berasal dari wilayah Iran.

Sasaran pertama adalah kantor pribadi Perdana Menteri Masrour Barzani, sedangkan sasaran kedua adalah kediaman kepala badan keamanan dan intelijen regional Kurdistan. Lokasi yang menjadi sasaran berada di kawasan Pirmam, Provinsi Erbil, wilayah yang memiliki arti penting bagi pemerintahan Kurdistan Irak.

Meskipun serangan diarahkan terhadap dua lokasi yang berkaitan dengan pejabat tinggi pemerintahan dan keamanan, otoritas Kurdistan memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka. Belum ada pula pihak yang secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pemerintah Irak kemudian menyatakan akan melakukan penyelidikan terhadap insiden itu. Sementara itu, Iran justru mengecam serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menggambarkan insiden itu sebagai tindakan mencurigakan yang berpotensi merusak hubungan antara Iran dan Irak. Dengan demikian, terdapat perbedaan tajam antara temuan awal otoritas Kurdistan yang menyebut drone berasal dari wilayah Iran dan sikap resmi Teheran yang mengecam serangan tersebut.

Perdana Menteri Masrour Barzani sendiri mengecam keras serangan tersebut dan menilainya sebagai perkembangan berbahaya bagi keamanan serta stabilitas Kurdistan Irak.

Insiden drone ini menjadi semakin penting karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Pada Senin, 17 Agustus 2026, tenggat 60 hari yang tercantum dalam memorandum kesepahaman Amerika Serikat–Iran resmi berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan permanen.

Memorandum tersebut sebelumnya ditandatangani pada 17 Juni 2026 dan menetapkan periode 60 hari bagi Washington dan Teheran untuk mencoba mencapai kesepakatan yang lebih luas. Salah satu persoalan utama yang hendak diselesaikan adalah masa depan program nuklir Iran, selain penghentian konflik serta persoalan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Namun, sepanjang periode tersebut, perbedaan kepentingan kedua negara ternyata tetap sangat besar. Perselisihan mengenai program nuklir Iran, blokade Amerika Serikat, sanksi ekonomi, hingga status dan pengelolaan Selat Hormuz membuat jalan menuju kesepakatan semakin sulit.

Pada pagi 17 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperjelas posisi Washington melalui platform Truth Social. Trump menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya tetap sama, yakni memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu nuklir tetap menjadi garis merah Washington dalam setiap kemungkinan perundingan baru dengan Teheran.

Beberapa waktu kemudian, ketika berbicara kepada wartawan di Oval Office, Gedung Putih, Trump memberikan penilaian yang semakin pesimistis mengenai peluang tercapainya kesepakatan.

Menurut Trump, Iran memang menginginkan sebuah kesepakatan, tetapi kemungkinan tidak bersedia menerima bentuk kesepakatan yang dianggap perlu oleh pemerintah Amerika Serikat.

Trump kemudian memperjelas bahwa Washington tidak sedang berusaha memperpanjang memorandum kesepahaman 60 hari tersebut. Dengan kata lain, setelah tenggat berakhir pada 17 Agustus, pemerintahan Trump tidak berniat sekadar menambah waktu perundingan berdasarkan kerangka lama.

Perkembangan tersebut menciptakan ketidakpastian baru mengenai arah hubungan Amerika Serikat dan Iran. Memorandum yang sebelumnya diharapkan menjadi jembatan menuju penyelesaian konflik kini berakhir tanpa kesepakatan final, sementara ketegangan keamanan justru kembali terlihat di sejumlah kawasan.

Serangan drone terhadap kantor Masrour Barzani menjadi salah satu contoh terbaru betapa konflik yang berpusat pada Iran dan Amerika Serikat berpotensi memiliki dampak jauh melampaui wilayah kedua negara.

Kurdistan Irak sendiri memiliki posisi geopolitik yang sangat sensitif. Wilayah tersebut berbatasan dengan Iran dan selama bertahun-tahun berada di tengah persaingan kepentingan antara pemerintah Irak, kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran, pemerintah Kurdistan, serta Amerika Serikat.

Karena itu, serangan terhadap kantor perdana menteri regional dan kediaman kepala intelijen bukan sekadar insiden keamanan biasa. Jika kesimpulan otoritas Kurdistan mengenai asal penerbangan drone tersebut terkonfirmasi melalui penyelidikan lebih lanjut, serangan ini dapat meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran sekaligus memperumit hubungan Iran dengan pemerintah Irak dan Pemerintah Regional Kurdistan.

Terlebih lagi, waktunya hampir bersamaan dengan berakhirnya tenggat diplomatik Amerika Serikat–Iran.

Dengan tidak diperpanjangnya memorandum tersebut, perhatian kini tertuju pada langkah berikutnya dari Washington dan Teheran. Amerika Serikat tetap menempatkan pencegahan senjata nuklir Iran sebagai tuntutan utama, sedangkan Iran sejauh ini belum menunjukkan kesediaan menerima keseluruhan persyaratan yang diinginkan Washington.

Situasi ini membuat 17 Agustus 2026 menjadi salah satu tanggal penting dalam perkembangan terbaru konflik tersebut. Di satu sisi, jalur diplomasi memasuki fase baru setelah berakhirnya tenggat 60 hari. Di sisi lain, dua drone menyerang lokasi yang berkaitan langsung dengan pucuk pemerintahan dan keamanan Kurdistan Irak.

Kombinasi kedua peristiwa itu menunjukkan bahwa ketika ruang diplomasi semakin menyempit, risiko eskalasi keamanan di kawasan justru semakin besar. Kini pertanyaan terpenting adalah apakah berakhirnya memorandum akan membuka jalan bagi format perundingan baru, atau justru menjadi awal dari babak konfrontasi yang lebih keras antara Amerika Serikat, Iran, dan kekuatan-kekuatan regional yang berada di tengah perseteruan tersebut. (***)

Terbongkar! Trump Diam-Diam Buka Jalur Rahasia dengan Garda Revolusi Iran

EtIndonesia.com  Di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar mereda, muncul fakta baru mengenai diplomasi rahasia yang berlangsung di balik layar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa Washington telah membangun sebuah saluran komunikasi khusus dengan jajaran Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), organisasi militer yang kini memegang pengaruh sangat besar dalam struktur kekuasaan Iran.

Pengakuan Trump tersebut menjadi semakin penting setelah Axios pada 16 Agustus 2026 menerbitkan laporan terperinci mengenai upaya pemerintahan Trump membuka jalur komunikasi langsung dengan pimpinan IRGC. Laporan itu didasarkan pada keterangan tiga sumber yang mengetahui proses tersebut.

Trump mengakui adanya komunikasi tersebut ketika membahas perkembangan terbaru Iran. Namun, menurut Presiden AS itu, posisi Teheran saat ini berada dalam keadaan terdesak. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Washington tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran, jalur diplomasi tidak sepenuhnya ditutup.

Laporan Axios mengungkap bahwa upaya membangun komunikasi rahasia itu sebenarnya sudah berlangsung sejak Mei 2026, ketika Washington menghadapi persoalan serius dalam proses perundingan dengan Iran.

Pada saat itu, pejabat Amerika mulai mempertanyakan apakah para perunding Iran benar-benar mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan strategis. Washington menilai pengaruh IRGC terhadap proses pengambilan keputusan di Teheran telah meningkat tajam sehingga kesepakatan dengan diplomat Iran belum tentu dapat dijalankan tanpa dukungan Garda Revolusi.

Karena itulah pemerintahan Trump berusaha mencari jalan untuk mengetahui secara langsung posisi pimpinan IRGC.

Sekitar 10 Mei 2026, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat saat itu, Tulsi Gabbard, menghubungi Presiden Pemerintah Regional Kurdistan Irak, Nechirvan Barzani. Menurut laporan tersebut, komunikasi dilakukan dengan persetujuan Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance.

Pemilihan Barzani sebagai perantara bukan tanpa alasan. Pemimpin Kurdistan Irak tersebut memiliki hubungan panjang dengan Iran dan dinilai mempunyai akses yang sulit diperoleh pejabat Amerika. Washington melihat Barzani sebagai figur yang dapat menjembatani komunikasi dengan pejabat tinggi Garda Revolusi tanpa harus menggunakan saluran diplomatik resmi.

Misi yang diberikan kepadanya sangat spesifik: mencari tahu apakah pimpinan IRGC benar-benar mendukung arah perundingan yang sedang dilakukan pihak Iran.

Empat hari kemudian, tepatnya pada 14 Mei 2026, komunikasi tersebut memasuki tahap yang jauh lebih serius.

Seorang pejabat Garda Revolusi Iran dilaporkan datang ke kantor Barzani di Erbil, ibu kota wilayah Kurdistan Irak, dengan membawa sebuah telepon terenkripsi. Perangkat komunikasi itu memungkinkan Barzani melakukan pembicaraan aman secara langsung dengan Panglima IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi.

Dalam pembicaraan tersebut, Barzani menanyakan secara langsung apakah Vahidi dan jajaran Garda Revolusi mendukung tim perunding Iran.

Jawaban yang diterima Washington ternyata cukup positif.

Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, Vahidi menyampaikan dukungan penuh terhadap para perunding Iran. Ia juga menegaskan bahwa posisi tersebut mewakili Garda Revolusi dan bahwa IRGC lebih memilih menyelesaikan krisis melalui jalur negosiasi.

Setelah pembicaraan selesai, Barzani dilaporkan segera menyampaikan hasil komunikasi itu kepada Gabbard. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Gedung Putih.

Bagi Washington, jawaban itu memiliki arti strategis karena memberikan indikasi bahwa setidaknya pada pertengahan Mei 2026 terdapat ruang untuk mencapai penyelesaian politik yang mendapat dukungan salah satu pusat kekuasaan terpenting di Iran.

Pemerintahan Trump kemudian melangkah lebih jauh dengan mengusulkan pertemuan rahasia antara pihak Amerika Serikat dan Iran di Erbil.

Namun, rencana tersebut menghadapi persoalan keamanan yang sangat serius.

Pihak Iran disebut khawatir bahwa wilayah Kurdistan Irak bukan tempat yang cukup aman untuk mengadakan pertemuan sensitif seperti itu. Salah satu kekhawatiran terbesar Teheran adalah keberadaan jaringan intelijen Israel yang diyakini memiliki kemampuan operasi cukup luas di kawasan tersebut.

Iran khawatir identitas maupun lokasi delegasinya dapat diketahui sehingga pejabat yang menghadiri pertemuan berisiko menjadi sasaran operasi pembunuhan.

Akibat kekhawatiran tersebut, rencana pertemuan rahasia di Erbil akhirnya tidak pernah terlaksana. Meski demikian, keberadaan jalur komunikasi melalui Barzani memperlihatkan bahwa Washington telah berusaha menembus struktur kekuasaan Iran melalui jalur tidak resmi.

Laporan mengenai komunikasi tersebut juga menarik perhatian karena muncul ketika hubungan Washington dan Teheran kembali berada dalam situasi sangat rapuh. Reuters pada 17 Agustus 2026 melaporkan bahwa diplomasi antara kedua negara kembali mengalami kebuntuan, sementara Iran mengancam mengadopsi sikap militer yang lebih ofensif jika upaya diplomatik gagal. Meski demikian, komunikasi melalui perantara yang memiliki hubungan dengan IRGC menunjukkan bahwa kontak di belakang layar belum sepenuhnya berhenti.

Menariknya, laporan mengenai jalur komunikasi rahasia tersebut berhadapan dengan bantahan resmi dari pihak Garda Revolusi.

IRGC sebelumnya secara terbuka membantah klaim mengenai adanya komunikasi langsung dengan Trump. Dalam pernyataan yang diberitakan pada 10 Juni 2026, Garda Revolusi menyebut klaim mengenai kontak langsung tersebut sebagai informasi yang tidak benar.

Dengan demikian, terdapat dua versi yang berbeda. Pemerintahan Trump mengakui adanya jalur komunikasi dengan Garda Revolusi, sementara IRGC secara resmi menyangkal klaim mengenai kontak langsung dengan Presiden AS.

Perbedaan pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan betapa rumitnya diplomasi Amerika Serikat dan Iran. Di depan publik, kedua pihak terus menunjukkan sikap keras dan saling memberikan tekanan. Namun di belakang layar, berbagai jalur komunikasi tampaknya tetap dicoba untuk mencegah krisis berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar.

Yang juga patut diperhatikan, Tulsi Gabbard tidak lagi menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional ketika laporan mengenai operasi diplomatik rahasia itu terungkap pada Agustus. Ia mengumumkan pengunduran dirinya pada 22 Mei 2026, hanya beberapa hari setelah komunikasi rahasia melalui Barzani berlangsung.

Kini, keberadaan jalur komunikasi dengan IRGC menjadi salah satu bagian terpenting dalam membaca strategi Washington menghadapi Iran. Amerika Serikat tampaknya menjalankan dua pendekatan secara bersamaan: mempertahankan tekanan militer dan ekonomi di satu sisi, sambil tetap mencari akses langsung kepada pusat-pusat kekuasaan Iran di sisi lainnya.

Pertanyaan terbesarnya adalah apakah jalur rahasia tersebut nantinya mampu menghasilkan terobosan diplomatik, atau justru hanya menjadi saluran komunikasi darurat di tengah hubungan kedua negara yang semakin berbahaya.

Untuk sementara, satu hal menjadi semakin jelas: di balik ancaman terbuka dan perang pernyataan antara Washington dan Teheran, diplomasi rahasia masih terus memainkan peran penting dalam menentukan arah krisis Amerika Serikat–Iran. (***)

Trump Murka! Oman Diancam Dibombardir AS, Kesepakatan dengan Iran Jadi Pemicu

EtIndonesia.com  Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Oman terkait masa depan Selat Hormuz. Jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia itu kini berada di tengah tarik-menarik kepentingan antara Amerika Serikat, Iran, dan Oman.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, 17 Agustus 2026, Trump memperingatkan bahwa Oman dapat menghadapi konsekuensi militer serius apabila menghalangi upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjamin kebebasan pelayaran di kawasan tersebut.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan Hormuz bukan lagi sekadar mengenai keamanan kapal dagang, tetapi telah berkembang menjadi pertarungan mengenai siapa yang memiliki pengaruh terbesar terhadap salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya tidak menetapkan batas waktu tertentu untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Menurutnya, Washington tidak berada dalam posisi terburu-buru untuk mencapai penyelesaian.

Bahkan, Trump kembali menggunakan retorika keras terhadap Teheran dengan mengatakan bahwa Iran harus “mengibarkan bendera putih” dan menyerah.

Pernyataan tersebut muncul ketika perhatian internasional tertuju pada pembicaraan yang melibatkan Iran dan Oman mengenai mekanisme untuk membuka kembali serta mengatur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sejumlah rincian yang beredar sebelumnya menunjukkan bahwa kesepakatan antara Teheran dan Muscat berpotensi menghasilkan mekanisme baru bagi lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Namun justru di sinilah muncul persoalan baru bagi Washington.

Beberapa waktu setelah wawancara tersebut, Trump kembali berbicara kepada wartawan dan menyampaikan ketidakpuasannya terhadap Oman. Ia mengatakan tidak menilai Oman telah menunjukkan kinerja yang baik dalam menangani persoalan tersebut.

Meski demikian, Trump mengisyaratkan bahwa Washington akan menghadapi Oman dengan pendekatan tersendiri, sebagaimana Amerika Serikat menangani persoalannya dengan negara-negara lain.

Pernyataan itu semakin memperkuat dugaan bahwa pemerintahan Trump tidak ingin kesepakatan Iran-Oman berkembang menjadi pengaturan yang justru memberikan kedua negara tersebut pengaruh lebih besar atas Selat Hormuz.

Analis senior urusan Timur Tengah David Wurmser menilai inti persoalan bagi Washington terletak pada status Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional.

Menurut Wurmser, apabila Iran dan Oman mencapai kesepakatan yang pada praktiknya membagi kewenangan atau memberikan kedua negara kendali lebih besar terhadap jalur pelayaran tersebut, hasilnya dapat bertentangan dengan salah satu tujuan utama Amerika Serikat.

Washington sejak awal menginginkan kebebasan navigasi melalui Hormuz tetap terjamin dan tidak bergantung pada keputusan sepihak Teheran maupun Muscat.

Dengan kata lain, Amerika Serikat tidak sekadar menginginkan kapal-kapal kembali dapat melintas. Washington juga ingin memastikan bahwa setelah jalur tersebut dibuka, tidak muncul sistem baru yang memberikan Iran kemampuan menentukan siapa yang boleh lewat, dengan syarat apa, dan berapa biaya yang harus dibayarkan.

Jika mekanisme semacam itu terbentuk, Iran dan Oman berpotensi memperoleh pengaruh besar terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk Teluk.

Bagi Trump, kondisi tersebut dapat dianggap sebagai kemunduran dari tuntutan awal Washington.

Wurmser menjelaskan bahwa salah satu sasaran strategis pemerintahan Trump adalah memastikan kepentingan Amerika Serikat dan kebebasan pelayaran internasional tidak berada di bawah kendali Iran. Pada saat bersamaan, Washington tetap mempertahankan tuntutan lainnya, terutama agar Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Karena itulah, tekanan terbaru terhadap Oman dapat dipahami sebagai upaya Washington untuk mencegah lahirnya kesepakatan yang dinilai terlalu menguntungkan Iran.

Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena kondisi geografis Selat Hormuz.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk dengan Teluk Oman itu memiliki jalur pelayaran masuk dan keluar yang sangat terbatas. Kapal-kapal yang mengangkut minyak, gas, maupun berbagai komoditas lainnya harus melewati koridor pelayaran yang berada dekat dengan wilayah Iran dan Oman.

Posisi geografis inilah yang membuat kedua negara memiliki nilai strategis sangat besar.

Menurut Wurmser, apabila sebuah mekanisme baru memungkinkan Iran dan Oman bersama-sama menentukan aturan pelayaran, keduanya pada praktiknya dapat memperoleh pengaruh terhadap hampir keseluruhan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Bukan hanya masalah keamanan yang menjadi perhatian. Potensi penerapan tarif, biaya transit, pemeriksaan, maupun mekanisme perizinan tertentu juga dapat menjadi sumber perselisihan baru.

Bagi Oman sendiri, situasinya tidak sederhana.

Muscat memiliki kepentingan besar untuk mencegah konflik dengan Iran berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. Secara geografis, Oman berada sangat dekat dengan kawasan konflik dan berpotensi menghadapi dampak langsung apabila pertempuran meningkat.

Selain itu, Oman berkepentingan memperkuat posisi pelabuhan dan jaringan perdagangan maritimnya. Stabilitas Selat Hormuz sangat penting bagi kepentingan ekonomi negara tersebut.

Namun pada saat yang sama, Oman selama bertahun-tahun juga mempertahankan hubungan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Karena itu, mengambil kebijakan yang dianggap secara langsung menentang kepentingan strategis Washington dapat membawa risiko politik, ekonomi, dan keamanan yang besar bagi Muscat.

Wurmser menilai faktor inilah yang kemungkinan sedang diperhitungkan Trump.

Washington dapat berasumsi bahwa Oman pada akhirnya tidak akan mengambil risiko konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat hanya demi mempertahankan kesepakatan yang dianggap menguntungkan Iran.

Dengan demikian, ancaman keras Trump terhadap Oman dapat dilihat sebagai bagian dari strategi tekanan untuk memaksa Muscat mengubah, membatasi, atau bahkan meninggalkan bagian-bagian kesepakatan yang tidak dapat diterima Washington.

Perkembangan pada 17 Agustus 2026 tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perebutan pengaruh di Selat Hormuz telah memasuki fase yang semakin kompleks.

Persoalannya kini bukan hanya apakah jalur pelayaran itu dapat kembali dibuka sepenuhnya, tetapi juga siapa yang nantinya menentukan aturan permainan di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Apabila Amerika Serikat bersikeras mempertahankan Hormuz sebagai jalur internasional yang bebas, sementara Iran menuntut pengaruh lebih besar dan Oman berusaha mencari kompromi, ketiga pihak akan menghadapi ruang negosiasi yang semakin sempit.

Dalam kondisi seperti ini, sebuah kesepakatan yang semula diharapkan dapat meredakan ketegangan justru berpotensi menjadi sumber perselisihan berikutnya.

Dan, jika ancaman Trump terhadap Oman benar-benar berkembang dari tekanan diplomatik menjadi langkah militer, perseteruan mengenai Selat Hormuz berisiko membuka babak baru konflik Timur Tengah dengan konsekuensi yang jauh lebih luas bagi keamanan kawasan dan perdagangan energi global. (***)

Wabah COVID-19 di Tiongkok Memasuki Puncak, Ada Sekeluarga Terinfeksi

EtIndonesia.com  Pada 16 Agustus, seorang pengguna internet Tiongkok mengunggah video di media sosial yang mengatakan bahwa ketiga anggota keluarganya mengalami demam tinggi dan semuanya dinyatakan positif COVID-19. Ia menyarankan masyarakat untuk tidak bepergian keluar rumah dan sebisa mungkin tetap berada di rumah.

“Beberapa hari lalu saya pergi keluar bersama keluarga. Setelah pulang, kami semua tertular,” katanya dalam video tersebut. Ia kembali mengingatkan masyarakat, “Jangan keluar rumah dulu.”

Agustus merupakan salah satu periode dengan mobilitas masyarakat yang tinggi di Tiongkok. Karena para pelajar sedang libur, banyak keluarga bepergian dan berwisata, yang dinilai turut mendorong penyebaran wabah.

Akun Weibo populer bernama “Hou Dabao” pada 15 Agustus menulis: “Kemarin saya melihat sangat banyak pasien yang mengalami demam. Sebagian besar ternyata adalah pasien COVID-19. Gejala utamanya adalah demam tinggi, seluruh tubuh terasa sakit, bahkan terasa nyeri sampai ke tulang. Selain itu, sakit tenggorokan. Ada juga yang mengalami berbagai gejala di seluruh tubuh yang tidak dapat didiagnosis sebagai penyakit lain. Setelah datang berobat ke tempat kami dan diperiksa, ternyata hasilnya positif COVID-19. Bisa dikatakan, belakangan ini sebagian besar orang yang mengalami gejala-gejala tersebut adalah pasien COVID-19.”

Menurut data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC Tiongkok), jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan pada Juli mencapai 522.000 kasus. Angka tersebut meningkat 443.000 kasus dibandingkan Juni yang mencatat sekitar 79.000 kasus, atau naik 560,76% dalam sebulan.

Dari jumlah tersebut, tercatat 487 kasus parah dan 1 kematian. Data menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat.

Data juga menunjukkan bahwa selama 3–9 Agustus, berdasarkan pemeriksaan sampel saluran pernapasan dari pasien dengan gejala mirip influenza di rumah sakit pemantauan di seluruh Tiongkok, tingkat positif tertinggi berasal dari virus SARS-CoV-2 (COVID-19), yaitu 21,1%.

Di posisi berikutnya adalah:

  • Virus influenza: 14,3%
  • Enterovirus: 3,9%

Karena pemerintah Tiongkok selama ini dituduh menyembunyikan informasi sebenarnya mengenai wabah, pihak luar mempertanyakan apakah jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19 di Tiongkok sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka resmi.

Seorang pengguna di platform X di luar Tiongkok mengatakan: “522.000 itu hanya data orang yang pergi berobat ke rumah sakit. Banyak orang yang mengalami flu dan demam tidak pergi ke rumah sakit. Jumlah kasus sebenarnya diperkirakan bahkan lebih dari 2 juta.”

Seiring dengan kembali meningkatnya kasus COVID-19, banyak warga Tiongkok membagikan pengalaman mereka di media sosial.

Salah satu pengguna menulis: “Satu keluarga semuanya tertular, tidak ada satu pun yang lolos. Saya yang paling parah, demam ringan berulang kali, seluruh tubuh terasa sakit. Sudah hari keenam dan masih sangat lemas.”

Pengguna lainnya mengatakan: “Semua orang di perusahaan kami tertular.”

Ada pula yang menulis: “Setengah orang di perusahaan kami sudah positif.”

Seorang pengguna internet mengatakan bahwa pada Juli, Tiongkok mencatat 522.000 kasus baru COVID-19, sementara Guangdong saja menyumbang lebih dari 70.000 kasus. Menurutnya, jumlah infeksi telah meningkat secara signifikan.

Ia juga mengutip pepatah lama yang berbunyi, “Setelah banjir besar, biasanya akan datang wabah.” Menurutnya, kondisi yang banyak hujan, lembap, dan panas dapat membuat virus lebih mudah menyebar. (***)

Mobil di Jinping, Guizhou, Tiongkok  Menabrak Kerumunan, Sejumlah Orang Terluka

EtIndonesia.com  Pada 17 Agustus, sebuah kendaraan SUV kecil menabrak kerumunan orang di sekitar pasar tradisional di Kota Sanjiang, Kabupaten Jinping, Prefektur Qiandongnan, Provinsi Guizhou, sehingga sejumlah pejalan kaki terluka.

Menurut keterangan polisi Kabupaten Jinping, insiden terjadi sekitar pukul 08.50 pada 17 Agustus. Seorang pria berusia 48 tahun, bermarga Zhou, sedang mengemudikan sebuah SUV. Ketika kendaraan melaju di dekat pintu keluar sebuah tempat parkir bawah tanah, kendaraan tersebut kehilangan kendali dan menabrak sejumlah pejalan kaki.

Berdasarkan penyelidikan awal, kendaraan memang kehilangan kendali. Polisi telah memastikan bahwa pengemudi tidak mengemudi dalam keadaan mabuk dan tidak berada di bawah pengaruh narkoba. Hasil pemeriksaan alkohol dan narkoba keduanya negatif.

Setelah kejadian, para korban yang terluka telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sejauh ini tidak ada korban yang berada dalam kondisi mengancam jiwa.

Pada hari yang sama, seorang pengguna internet mengunggah informasi bahwa sekitar pukul 08.00 pagi, di bawah Jembatan Qingjiang dekat pasar tradisional Kabupaten Jinping, seorang pria yang mengemudikan mobil pribadi berwarna putih menabrak sejumlah warga. Beberapa orang terlihat tergeletak di lokasi kejadian.

Saat kejadian berlangsung, kawasan tersebut sedang ramai karena bertepatan dengan hari pasar, sehingga jumlah orang yang berada di lokasi cukup banyak.

Video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah SUV putih menabrak sejumlah pejalan kaki hingga terjatuh.

Seorang staf kantor Kota Sanjiang, Kabupaten Jinping, mengatakan bahwa departemen terkait telah datang ke lokasi untuk menangani kejadian tersebut. Ia membenarkan bahwa memang ada warga yang terluka, tetapi tidak bersedia memberikan rincian lebih lanjut.

Sejumlah warga setempat juga mengungkapkan dugaan bahwa pria tersebut mungkin sengaja menabrakkan kendaraan ke kerumunan sebagai bentuk aksi balas dendam terhadap masyarakat. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Serangkaian Insiden Serupa

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai wilayah di Tiongkok memang berulang kali mengalami insiden kendaraan yang menabrak kerumunan warga, yang oleh sejumlah pihak dikaitkan dengan aksi “balas dendam terhadap masyarakat”.

Pada Juni lalu, di ruas jalan dekat RT-Mart di Suizhou, Provinsi Hubei, beredar informasi bahwa sebuah mobil sengaja menabrak pejalan kaki, kemudian menabrak tiang listrik dan berbagai fasilitas. Diperkirakan 20–30 orang menjadi korban tewas atau terluka, meskipun data resmi mengenai jumlah korban belum diumumkan secara jelas.

Pada bulan yang sama, kecelakaan beruntun serius juga terjadi di berbagai lokasi, termasuk Luohe, Provinsi Henan. Media luar negeri melaporkannya sebagai aksi ekstrem yang diduga berkaitan dengan “balas dendam terhadap masyarakat”.

Pada 1 Mei, di kawasan Gaoxin, Chengdu, Provinsi Sichuan, sebuah sedan tiba-tiba mempercepat laju dan menabrak pejalan kaki yang sedang menyeberang di kawasan ramai. Kendaraan tersebut kemudian terus menabrak sepeda motor dan kendaraan lainnya. Insiden itu menyebabkan 1 orang tewas dan 11 orang terluka.

Seorang pria bermarga Li, berusia 31 tahun, ditangkap di lokasi. Ketika keluar dari kendaraan, ia masih membawa pisau tajam.

Pada 29 Maret, di pasar tradisional Da-Hanji, Distrik Fangshan, Beijing, seorang pria berusia sekitar 50 tahun mengemudikan ekskavator berat dan menerobos ke tengah pasar. Ia dilaporkan berulang kali menabrak pedagang dan warga.

Informasi yang beredar di internet menyebut puluhan orang tewas atau terluka, meskipun jumlah korban belum dipastikan secara resmi. Polisi dilaporkan menemukan sejumlah besar dokumen pengaduan di dalam kendaraannya. Pria tersebut diduga melakukan aksi balas dendam setelah pengaduannya selama bertahun-tahun tidak mendapat penyelesaian, kemungkinan berkaitan dengan sengketa pembongkaran atau penggusuran paksa.

Sumber : NTDTV.com

Gelombang Para Pedagang Menutup Toko untuk Menghindari Denda Menyebar dari Heilongjiang ke Wilayah Selatan Tiongkok

EtIndonesia.com  Belakangan ini, sejumlah wilayah di Tiongkok mengalami fenomena yang disebut sebagai “gelombang menghindari denda dengan menutup toko”. Dari Heilongjiang dan Jilin hingga Zhejiang dan Guangdong, sejumlah pedagang memilih menghentikan usaha karena khawatir menghadapi pemeriksaan dan denda. Mereka bahkan lebih memilih tidak membuka toko daripada mengambil risiko terkena sanksi.

Para pengamat menilai, fenomena ini kemungkinan bukan sekadar persoalan pengawasan dan regulasi, tetapi juga mencerminkan semakin menyempitnya ruang bertahan bagi usaha kecil dan menengah di tengah kesulitan keuangan pemerintah daerah serta tekanan kebijakan.

Dalam sebuah video terdengar komentar: “Angin pemeriksaan 3C akhirnya sampai juga ke Linyi. Ada yang merasa seperti menjelang Tahun Baru Imlek?”

Pada 11 Agustus, Linyi Lighting City, pasar khusus lampu terbesar di kawasan Jiangbei, Linyi, Provinsi Shandong, menjadi sasaran pemeriksaan terkait sertifikasi 3C. Para pedagang beramai-ramai menutup toko untuk menghindari pemeriksaan, sehingga sepanjang jalan pertokoan hampir tidak terlihat orang.

Dalam video lainnya, seorang warga mengatakan: “Hanya dalam satu menit, semuanya sudah tutup! Susah payah datang ke sini, tetapi seluruh pasar seperti mogok kerja. Sebenarnya apa yang diperiksa? Seluruh pasar tutup! Semua orang dibuat panik! Hari ini sudah 3 Agustus, tetapi pemeriksaan 3C masih berlangsung!”

Menurut video yang dipublikasikan kanal media mandiri “Yesterday”, yang mengikuti berbagai aksi kelompok masyarakat di Tiongkok, selama lebih dari sepuluh hari antara 22 Juli hingga 4 Agustus, pedagang di sembilan kota di empat provinsi—Jilin, Zhejiang, Jiangsu, dan Guangdong— secara berturut-turut menutup toko atau bahkan menutup pasar untuk menghindari pemeriksaan pemerintah Tiongkok serta kemungkinan dikenai denda tinggi.

Sementara itu, laporan Epoch Times pada 9 Agustus menyebut bahwa Hunan, Guangdong, Zhejiang, dan Guizhou juga mengalami peningkatan pemeriksaan sertifikasi 3C serta pemeriksaan kualitas produk. Pemeriksaan tersebut mencakup berbagai sektor, seperti bahan bangunan, perangkat keras, lampu, peralatan dapur, dan barang kebutuhan sehari-hari.

Seorang pemilik toko reparasi ponsel dan komputer di Guizhou mengatakan bahwa pemeriksaan 3C sebenarnya telah dilakukan selama bertahun-tahun, tetapi tahun ini jauh lebih ketat.

“Selama itu barang elektronik, semuanya diperiksa. Bohlam, stopkontak, pemanas listrik, semuanya diperiksa. Kalau tidak memenuhi standar, akan didenda,” ujarnya.

Pemilik toko di Dongyang, Zhejiang, Lu Meimei, yang menjual peralatan rumah tangga Bosch dan lampu dari wilayah selatan, mengatakan bahwa seorang pedagang setempat pernah didenda 50.000 yuan hanya karena satu panel sakelar tidak memiliki sertifikasi 3C. Bahkan, sebuah lampu pernah dikenai denda hingga 300.000 yuan.

Ketakutan serupa juga menyebar ke sektor usaha kebutuhan masyarakat lainnya di wilayah timur laut Tiongkok. Di Jilin dan Heilongjiang, kabar mengenai penutupan restoran, toko obat, bengkel, salon rambut, dan usaha lainnya mulai bermunculan.

Seorang warga Hunchun, Jilin, mengatakan bahwa satu kawasan pertokoan di sana terlihat seperti “desa yang baru saja didatangi tentara Jepang”, karena hampir semua toko menutup pintunya rapat-rapat.

Sebenarnya, gelombang penutupan toko untuk menghindari denda ini telah muncul sejak April hingga Juni tahun ini di sejumlah wilayah Heilongjiang.

Sejumlah pedagang mengatakan bahwa pemerintah setempat meningkatkan pemeriksaan acak “dua acak, satu terbuka” (double random inspection) serta penindakan, sehingga para pedagang memilih menutup toko secara bersama-sama.

Hal yang patut diperhatikan, belakangan ini Tiongkok juga melakukan peningkatan pengawasan dari tingkat pusat hingga daerah. Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok mengumumkan bahwa mulai Juni, 24 tim inspeksi dan evaluasi keselamatan kerja pemerintah pusat akan secara bertahap ditempatkan di 31 provinsi, daerah otonom, dan kota setingkat provinsi untuk melakukan pemeriksaan terbuka maupun tersembunyi. 

Pada akhir Juli, tim pengawas kualitas dari Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar juga ditempatkan di Guangdong.

Komentator politik Li Linyi mengatakan bahwa seiring dengan terus lesunya pasar properti Tiongkok, kesulitan keuangan pemerintah daerah semakin parah. Karena itu, pemerintah daerah diduga menjadikan denda sebagai sumber pendapatan baru.

Mantan wakil wali kota Jixi, Heilongjiang, Li Chuanliang, berpendapat bahwa jika pemerintah ingin memeriksa sertifikasi 3C, pemeriksaan seharusnya dimulai dari pabrik yang memproduksi barang, bukan mengarahkan pemeriksaan kepada pedagang kecil yang menjual produk tersebut.

Menurutnya, pemeriksaan kali ini pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya pemerintah Tiongkok untuk mengendalikan bahkan menghilangkan ruang perkembangan perusahaan swasta kecil dan menengah.

“Banyak perusahaan swasta dan usaha kecil menengah menjadi fondasi keuangan daerah, ekonomi Tiongkok, dan perekonomian suatu wilayah. Tetapi sekarang tidak lagi. Sekarang segala sesuatu dilakukan Partai Komunis Tiongkok dengan kontrol sebagai prioritas,” kata Li Chuanliang. 

“Saya melihat pasar elektronik di Huaqiangbei yang telah berkembang selama lebih dari 20 tahun juga ditutup secara besar-besaran. Sekarang mereka mencari berbagai alasan dan cara. Menurut saya, tujuannya adalah pemusnahan. Kalau ditemukan, barang akan disita; kalau ditemukan, akan didenda,” lanjutnya. . 

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan kecil dan menengah, para pelaku usaha, serta keamanan jiwa dan harta mereka tidak dianggap sebagai prioritas.

Menurut Li, kebijakan pemerintah Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir semakin menekankan perusahaan milik negara berskala besar dan menengah, sehingga ruang bagi perusahaan swasta kecil semakin tertekan.

Bagi pedagang yang memiliki utang dan mengandalkan usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pemeriksaan dan denda semacam ini dapat langsung mengancam kelangsungan hidup mereka.

“Sebagian usaha kecil dan menengah memiliki utang. Ada yang hanya berusaha mencari nafkah, tetapi kemudian didenda hingga kehilangan seluruh harta dan akhirnya bangkrut. Kalau tidak didenda, mereka menutup toko. Hari ini ditutup, besok mungkin datang pemeriksaan lagi, jadi dampaknya pasti sangat besar,” kata Li Chuanliang. 

Ia juga mengatakan bahwa banyak produk di Tiongkok kemungkinan tidak memiliki sertifikasi 3C, sehingga menurutnya tujuan sebenarnya adalah membuat usaha kecil dan menengah gulung tikar agar perusahaan besar yang dikendalikan negara dapat berkembang lebih mudah.

“Bukankah ini contoh klasik pemerintah berebut keuntungan dengan rakyat?” ujarnya.

Dari “membuka toko untuk berbisnis” menjadi “menutup toko untuk menghindari denda”, fenomena ini mencerminkan keresahan para pedagang kecil terhadap ketidakpastian kebijakan dan risiko penegakan aturan.

Ketika semakin banyak pedagang kecil memilih menurunkan pintu toko mereka, kerugian bagi perekonomian daerah kemungkinan bukan hanya berupa hilangnya omzet, tetapi juga semakin melemahnya dinamika pasar yang sejak awal sudah rapuh.

Ukraina Lancarkan Serangan Drone Terbesar ke Rusia, Gudang Wildberries Dilalap Api

 Laporan Ukraina pada 16 Agustus menunjukkan bahwa dalam 24 jam sebelumnya, serangan Rusia di berbagai wilayah Ukraina menyebabkan 7 warga sipil tewas dan 51 lainnya terluka. Di sisi lain, Ukraina melancarkan serangan udara terbesar ke Rusia sejak perang dimulai. Pihak Rusia mengatakan mereka telah mencegat lebih dari 800 drone Ukraina.

EtIndonesia.com  Angkatan Udara Ukraina mengatakan bahwa dalam 24 jam sebelumnya, Rusia menyerang 13 lokasi di Ukraina menggunakan rudal anti kapal supersonik, rudal Iskander-M, rudal balistik S-400 atau KN-23 buatan Korea Utara, serta 106 drone. Serangan tersebut memicu sejumlah kebakaran di ibu kota Ukraina, Kyiv.

Seorang warga Ukraina mengatakan, “Pasarnya hancur total. Seluruh pasar, dari ujung ke ujung, tidak ada satu kios pun yang tersisa.”

Di sisi lain, Angkatan Laut Ukraina melaporkan bahwa pada 16 Agustus, pasukan Ukraina menyerang sistem rudal pertahanan pantai Rusia “Bastion” yang berada di wilayah Krimea yang diduduki Rusia. Serangan tersebut disebut menyebabkan kerugian besar pada personel dan peralatan militer Rusia.

Militer Ukraina menegaskan bahwa Bastion merupakan sistem pertahanan pantai yang langka dan mahal. Rusia kerap menggunakan sistem tersebut untuk meluncurkan rudal jelajah ke wilayah selatan Ukraina dan daerah lainnya, termasuk untuk menyerang kawasan sipil.

Pada saat yang sama, Ukraina juga melancarkan serangan drone dalam skala besar terhadap sejumlah kota di wilayah Moskow, Rusia. Salah satu sasaran adalah gudang milik perusahaan ritel daring besar Rusia, Wildberries, yang terletak sekitar 45 kilometer di selatan Moskow.

Gudang tersebut memiliki luas sekitar 250.000 meter persegi. Api terlihat berkobar hebat dengan asap hitam membumbung tinggi ke langit. Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas.

Menurut laporan, Ukraina telah memaksa Wildberries untuk menutup 7 dari 10 pusat logistik terbesarnya.

Kyiv menegaskan bahwa Wildberries memasok berbagai kebutuhan kepada militer Rusia. Karena itu, serangan terhadap perusahaan tersebut merupakan bagian dari upaya Ukraina untuk meningkatkan tekanan terhadap sektor-sektor penting Rusia.

Sementara itu, video yang dirilis pemerintah wilayah Moskow pada 16 Agustus menunjukkan bahwa sebuah gudang perlengkapan medis di kawasan Domodedovo juga menjadi sasaran serangan dan mengeluarkan kepulan asap tebal.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa sistem pertahanan udaranya mencegat 822 drone Ukraina dalam semalam di berbagai wilayah.

Kantor berita Rusia TASS menyebut serangan tersebut sebagai serangan drone terbesar yang dilancarkan Ukraina sepanjang tahun ini.

Laporan NTD, dirangkum oleh reporter Yu Liang.

Drone yang Diduga Milik Rusia  Memasuki Wilayah Udara Rumania, Ditembak Jatuh oleh Pesawat Tempur F-18 NATO

EtIndonesia.com Komando Udara NATO mengonfirmasi bahwa dua jet tempur F-18 Spanyol yang sedang menjalankan misi penguatan pertahanan udara lepas landas dalam keadaan darurat pada 16 Agustus dini hari. Pesawat itu menembak jatuh sebuah drone yang memasuki wilayah udara Rumania.

Drone itu memasuki wilayah udara Rumania dari arah negara tetangga, Moldova, sekitar pukul 04.44 pada 16 Agustus. Drone itu berada sekitar 24 kilometer dari kota Galați, di bagian tenggara Rumania. Setelah mendapat izin untuk melepaskan tembakan, jet F-18 menembak jatuh drone tersebut pada pukul 05.01.

Ini merupakan drone penyusup keempat yang ditembak jatuh di Rumania sepanjang tahun ini. Pada Juli lalu, jet tempur F-16 Rumania juga menembak jatuh tiga drone yang melanggar wilayah udara negara itu.

NATO mengatakan drone yang ditembak diduga dibuat oleh Rusia. Puing-puing drone jatuh di wilayah kosong di antara dua desa dan tidak menyebabkan korban tambahan.

NATO juga telah mengubah misi pertahanannya dari “pengawasan udara” (air policing) menjadi “pertahanan udara” (air defense), sehingga pasukan dapat merespons berbagai jenis ancaman dengan lebih fleksibel.

Rumania berbatasan langsung dengan Ukraina. Sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina, Rumania telah beberapa kali melaporkan adanya drone yang memasuki wilayah udaranya. Hal ini juga menunjukkan bahwa dampak perang Rusia-Ukraina terhadap keamanan negara-negara NATO terus meluas.

Laporan NTD, dirangkum oleh reporter Zheng Shengxun.

Kebakaran Hutan Terparah di Belgia dalam Sejarah Modern Mendekati Jerman, 600 Orang Dievakuasi 

EtIndonesia.com  Belgia dalam beberapa hari terakhir dilanda kebakaran hutan terparah dalam sejarah modernnya. Sebagian besar kawasan cagar alam berubah menjadi lahan hangus. Petugas pemadam kebakaran terus berupaya keras memadamkan api, sementara sekitar 600 warga diperintahkan untuk mengungsi.

Pemerintah daerah Wallonia, Belgia, mengatakan bahwa hingga 16 Agustus, kebakaran telah menghanguskan sekitar 3.000 hektare lahan.

Pejabat Belgia menyebutnya sebagai kebakaran hutan terbesar dalam sejarah modern negara tersebut. Luas area yang terbakar lebih dari dua kali lipat dibandingkan kebakaran pada 2011, yang saat itu menghanguskan hampir 1.400 hektare.

Gelombang panas yang terus melanda berbagai wilayah Eropa memperparah kekeringan dan membuat api semakin mudah menyebar.

Petugas pemadam kebakaran dari berbagai wilayah Belgia, serta dari Belanda, Jerman, dan Luksemburg, turut dikerahkan untuk membantu memadamkan api.

“Situasi tadi malam relatif berjalan baik. Namun, tim penyelamat di darat harus menghadapi perubahan arah angin yang terus terjadi, sehingga tidak selalu mudah. Api tidak menyebar dengan cepat. Karena itu, sejumlah tim penyelamat di darat pagi ini harus menjalani pergantian personel,” kata juru bicara administrasi publik Wallonia, Ernoux. 

Menurut laporan, kebakaran mulai terjadi pada 14 Agustus di kawasan High Fens (Hautes Fagnes), cagar alam tertua dan salah satu kawasan alam paling terkenal di Belgia yang berada dekat perbatasan Jerman. Api kemudian menyebar dengan cepat.

Saat ini, lokasi kebakaran hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari perbatasan Belgia-Jerman dan sekitar 1,8 kilometer dari kawasan permukiman terdekat. Asap tebal yang dihasilkan kebakaran menyebabkan pencemaran udara serius.

Sekitar 600 orang telah menerima perintah evakuasi, sementara gedung olahraga di kota-kota sekitar digunakan sebagai tempat penampungan bagi para pengungsi.

Laporan NTD, dirangkum oleh reporter Yu Liang

Badai Tropis “Lala” Menerjang Hawaii, 130.000 Rumah Kehilangan Listrik, 1 Orang Tewas

EtIndonesia.com  Badai Tropis Lala melintasi Hawaii dan menyebabkan sedikitnya satu orang tewas serta hampir 130.000 rumah kehilangan aliran listrik. Sementara itu, Pulau Besar Hawaii (Big Island) dilanda banjir dan longsor parah. Sejumlah ruas jalan rusak diterjang banjir, bahkan beberapa rumah dilaporkan terseret arus.

Dampak Hurikan Lala menyebabkan sedikitnya satu orang tewas di wilayah selatan Big Island. Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa dua rumah terseret banjir bandang. Badan pertahanan sipil, Garda Nasional, dan Penjaga Pantai telah melakukan operasi pencarian dan penyelamatan bersama.

Hampir 130.000 rumah di seluruh negara bagian Hawaii mengalami pemadaman listrik. Di Big Island, sekitar 70% wilayah kehilangan listrik. Sedikitnya tiga rumah sakit harus mengandalkan generator cadangan untuk mempertahankan operasional.

Perusahaan listrik mengatakan bahwa angin kencang, hujan deras, jalan yang tergenang banjir, serta pohon tumbang membuat proses perbaikan jaringan listrik menjadi lebih sulit.

Hujan deras memicu banjir dan longsor, sementara pohon-pohon patah dan kabel listrik roboh. Sejumlah ruas jalan ditutup dan setidaknya 19 bangunan kehilangan atapnya akibat diterjang angin kencang.

Pusat Hurikan Nasional AS memperkirakan Big Island dan Maui masih akan menerima tambahan curah hujan sekitar 4–8 inci (10–20 cm). Sejak malam 14 Agustus, akumulasi curah hujan tertinggi telah mencapai sekitar 30–35 inci (76–89 cm).

Departemen Transportasi Hawaii sempat menutup Bandara Internasional Hilo dan Bandara Internasional Kona. Hingga saat ini, lebih dari 190 penerbangan yang masuk dan keluar Hawaii mengalami keterlambatan atau pembatalan.

Gubernur Hawaii Josh Green telah menetapkan status darurat di seluruh negara bagian.

“Sekali lagi saya mengingatkan semua orang untuk benar-benar memperhatikan keselamatan. Tolong tetap berada di rumah dan jangan keluar ke jalan dalam keadaan apa pun,” katanya. 

Lala meningkat menjadi tropis kategori 1 pada 15 Agustus, tetapi tidak melakukan pendaratan langsung dan hanya melintas di dekat Big Island. Pada pagi 16 Agustus, badai tersebut melemah menjadi badai tropis dengan kecepatan angin maksimum berkelanjutan sekitar 70 mil per jam (113 km/jam) dan kini bergerak ke arah barat.

Pusat Hurikan Nasional memperingatkan bahwa kecepatan angin di puncak gunung serta di lereng yang menghadap maupun membelakangi arah angin dapat mencapai hingga 30% lebih kuat dibandingkan kecepatan angin di dekat permukaan tanah.

Karena itu, meskipun Lala telah melemah menjadi badai tropis, wilayah dengan ketinggian tinggi masih dapat mengalami angin yang sangat kencang.

Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa setelah menjauh dari Hawaii, Lala masih berpotensi kembali mencapai kekuatan hurikan pada pertengahan pekan.

Laporan NTD dari Amerika Serikat oleh reporter Zheng Shengxun.

Tragedi di Kuil India : Desak-desakan Tewaskan 7 Orang, Tiang Listrik Roboh Diduga Picu Kepanikan

EtIndonesia.com Sebuah insiden terjadi pada Senin (17/8/2026) di sebuah kuil di negara bagian Bihar, India timur. Diduga robohnya sebuah tiang listrik memicu kepanikan di antara warga dan menyebabkan insiden desak-desakan, yang mengakibatkan  7 orang tewas dan 14 lainnya terluka. Pihak berwenang sedang menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut.

Menurut laporan Reuters, insiden terjadi di Kuil Ashok Dham, Kabupaten Lakhisarai, Bihar. Saat kejadian, sejumlah besar umat sedang berkumpul untuk merayakan bulan suci dalam agama Hindu.

“Menurut informasi yang kami terima, sebuah tiang listrik diduga roboh di lokasi. Beberapa orang mungkin tersengat listrik, kemudian terjadi situasi seperti desak-desakan. Kami harus melakukan verifikasi secara menyeluruh sebelum dapat memastikan penyebab sebenarnya,” kata pejabat kepolisian senior Shivam Kumar mengatakan kepada kantor berita ANI. 

Rekaman televisi memperlihatkan sejumlah besar anggota keluarga korban berkumpul dengan cemas di luar rumah sakit ketika petugas penyelamat membawa korban yang terluka ke rumah sakit menggunakan tandu.

India sebelumnya telah beberapa kali mengalami kecelakaan besar yang melibatkan kerumunan massa. 

Salah satunya terjadi tahun lalu saat perayaan besar Maha Kumbh, ketika puluhan juta orang berkumpul untuk melakukan ritual mandi di sungai suci. Dalam insiden tersebut, 30 orang dilaporkan tewas. (***)