Studi AS : Jahe Bisa Hilangkan 50% Sel Menua dalam 24 Jam? Fakta atau Harapan?

EtIndonesia. Setiap pagi, aroma jahe hangat memenuhi dapur. Begitu juga dengan kebiasaan Bu Wang, 68 tahun, yang selalu memasukkan tiga irisan jahe segar ke dalam segelas susu kedelainya.

Melihat kebiasaan itu, tetangganya bercanda :  “Wah Bu, jangan-jangan makan jahe bisa bikin awet muda?”

Bu Wang tertawa dan menjawab :  “Katanya dari berita, ilmuwan Amerika menemukan jahe bisa menghapus 50% sel tua dalam 24 jam. Kalau benar, saya boleh dong tetap muda selamanya!”

Tapi benarkah sehebat itu? Apakah sepotong jahe di dapur kita bisa jadi “obat awet muda alami”? Mari kita ungkap faktanya.

Penelitian Besar di AS: Jahe Bisa Menghancurkan Sel Menua?

Isu ini berasal dari kolaborasi penelitian antara U.S. National Institute on Aging dan Mayo Clinic. Dalam eksperimen laboratorium, peneliti menambahkan ekstrak jahe murni — seperti gingerenone A dan 6-gingerol — ke kultur sel manusia yang sudah menua.

Hasilnya mengejutkan: dalam 24 jam, sekitar 50% sel tua menghilang, dan sel baru tampak lebih aktif serta sehat. Bahkan dalam laporan lain, 6-gingerol mampu membersihkan 40% sel menua tanpa merusak sel sehat.

Yang bikin ilmuwan makin antusias — dibandingkan obat anti-aging tradisional (kombinasi dasatinib + quercetin), ekstrak jahe terlihat lebih selektif dan efek sampingnya lebih rendah.

Tak heran, hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal internasional seperti PLOS ONE, dan membuat publik ramai berspekulasi: “Jahe = pemutar balik usia?”

Jadi, apakah cukup makan jahe setiap hari supaya awet muda?

Sayangnya, tidak sesederhana itu.

  • Zat aktif yang digunakan di laboratorium adalah ekstrak murni & terkonsentrasi, bukan jahe biasa.
  • Kandungan gingerenone A dalam jahe segar hanya sekitar 3% dari total bobotnya.
  • Untuk menyamai dosis eksperimen (sekitar 1000 mg per hari), seseorang harus makan ratusan gram jahe mentah setiap hari — hampir seperti makan jahe sebagai nasi.

Selain itu, proses penuaan manusia tidak ditentukan oleh satu faktor saja, tetapi dipengaruhi oleh genetik, pola makan, stres, tidur, aktivitas fisik, lingkungan, dan banyak faktor kompleks lainnya.

Fakta Penting: Jahe Sehat, Tapi Tetap Ada Risikonya

Jahe memang bahan kesehatan yang sangat baik bila dikonsumsi secara wajar — manfaatnya antara lain:

  • Menghangatkan tubuh & melancarkan pencernaan
  • Antioksidan & anti-peradangan
  • Membantu cegah masuk angin & memperlancar metabolisme

Namun bila dikonsumsi berlebihan, justru bisa memberi efek samping:

  • Meningkatkan beban kerja hati (karena kandungan safrole)
  • Memicu iritasi lambung
  • Ada studi yang menyebut 6-gingerol justru bisa menghambat pertumbuhan rambut jika dioleskan langsung

Cara “Anti-Penuaan” yang Justru Lebih Efektif

– Gunakan jahe secukupnya sebagai bumbu makanan
– Perbanyak makanan kaya antioksidan: sayuran hijau gelap, kedelai, buah beri, kacang-kacangan
– Tidur cukup dan teratur
– Olahraga rutin (khususnya jalan cepat / latihan otot ringan)
– Jaga suasana hati tetap sehat dan stabil

Dan ingat — jika punya penyakit kronis atau kondisi khusus, selalu konsultasikan lebih dulu ke dokter.

Kesimpulan

Jahe bukan obat mujarab untuk awet muda, apalagi jika hanya dimakan mentah setiap hari.
Penelitian modern memberi harapan, bukan jaminan instan.

Jahe adalah “bumbu kesehatan”, bukan “obat keabadian”. Yang membuat panjang umur bukan satu bahan ajaib — melainkan kebiasaan hidup yang benar dan konsisten. (jhn/yn)

Jepang Percepat Belanja Pertahanan Demi Menangkal Ancaman Partai Komunis Tiongkok

Jepang melakukan re-armament secepat mungkin, menandai perubahan terbesar dalam postur keamanannya sejak 1945

Oleh James Gorrie

Bagi Tokyo, militer Tiongkok yang berkembang pesat merupakan ancaman nyata dan langsung, bukan ancaman jauh di masa depan.

 Tiongkok telah memperluas kemampuan militernya dengan cepat, mulai dari kapal perang, rudal anti-kapal, pesawat tempur, hingga kendaraan pengangkut pasukan, disertai unjuk kekuatan yang mengikutinya, terutama terkait Taiwan.

Ancaman Langsung Menurut Jepang

Perencana pertahanan Jepang menilai rezim komunis Tiongkok sebagai ancaman langsung. Seorang perencana pemerintah memperingatkan bahwa jangkauan Beijing yang semakin luas bisa menciptakan skenario di mana Tiongkok mencoba merebut pulau-pulau Jepang yang dekat Taiwan. Tak mengherankan, Korea Utara dengan rudal nuklir hipersoniknya juga dianggap sebagai ancaman serius oleh Tokyo.

Sebagai tanggapan, postur pertahanan baru Jepang, sebagaimana dijelaskan dalam white paper Defense of Japan 2025, mencakup peningkatan belanja militer, reorganisasi ekonomi dan struktur komando, serta persiapan rencana darurat yang bisa meluas hingga mempertahankan Taiwan jika terjadi konflik.

Rencana ini juga memperluas prioritas pengadaan, termasuk rudal jarak jauh, sistem penolakan di laut dan udara, serta investasi untuk memperkuat logistik dan stok persenjataan—perubahan yang dimaksudkan untuk meningkatkan biaya operasi Tiongkok di Laut Cina Timur atau sekitar Taiwan.

Era pasca perang Jepang yang mengandalkan pasisfisme dan perlindungan Amerika Serikat telah berakhir.


Jepang Mempercepat Belanja Pertahanan

White paper Kementerian Pertahanan Jepang 2025 menyebut bahwa Tiongkok “dengan cepat meningkatkan pengeluaran pertahanan nasionalnya, sehingga secara luas dan cepat memperkuat kemampuan militernya.”

Tokyo menilai angkatan laut Tiongkok sebagai proyeksi kekuatan dan pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di kawasan, yang didukung oleh rudal baru, kapasitas pembangunan kapal, kapal induk, dan sistem amfibi yang mampu menjangkau lebih jauh dari first island chain.

Reaksi Beijing terhadap pembaruan militer Jepang menegaskan pergeseran dinamika kekuatan di Asia Timur.

Media negara Tiongkok, Xinhua, melaporkan bahwa menurut juru bicara pertahanan Tiongkok:“Peningkatan cepat militer Jepang, termasuk pengembangan senjata ofensif dan peralatan, menimbulkan kewaspadaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat dunia.”

Namun, pembangunan militer Jepang dipicu oleh militerisasi agresif dan kebijakan ekspansif rezim Tiongkok di kawasan dan sekitarnya.

Dalam dekade terakhir, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok tumbuh dengan cepat. Analisis menunjukkan saat ini mereka mengoperasikan lebih dari 370 kapal permukaan dan kapal selam—jumlah yang melebihi armada AS dari sisi jumlah lambung kapal, dengan kemungkinan mencapai paritas menengah hingga jangka panjang dalam bidang utama kekuatan laut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Tiongkok menggambarkan militer yang kuat sebagai stabilisasi dan “kekuatan untuk perdamaian,” tetapi memperingatkan terhadap campur tangan eksternal di Taiwan.

Pernyataan ini menekankan mengapa Tokyo menyatakan perlu memiliki kesiapan menghadapi berbagai skenario darurat. Pemimpin Jepang baru, Sanae Takaichi, melihat situasi dengan jelas dan menegaskan:

“Jepang harus mengambil inisiatif untuk memperkuat kemampuan pertahanannya secara fundamental.”

Selain itu, Takaichi mempercepat target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari PDB lebih cepat dari jadwal semula, dari target 2027 menjadi Maret 2026.

Ia juga memahami bahwa pergeseran strategis kawasan didorong oleh kebangkitan militer Tiongkok dan tekad Tokyo untuk melindungi pulau, pusat populasi, dan bila perlu, keamanan Taiwan. Jepang menilai keamanan negaranya terkait dengan Taiwan karena wilayah dan pusat populasinya rentan terhadap tekanan atau operasi cepat Tiongkok.

Karena itu, kehadiran kapal perang dan pesawat Tiongkok di dekat pulau-pulau barat daya Jepang dan Selat Taiwan menjadi sinyal peringatan yang jelas bagi perencana pertahanan Jepang.


Jendela Pencegahan Semakin Menyempit

Namun, waktu bagi Jepang untuk menguatkan militer guna mencegah ambisi dominasi regional PKT semakin menipis. Risiko yang dulu terasa jauh kini tampak nyata di cakrawala, terlihat dari profil armada Tiongkok. White paper 2025 Tokyo menyatakan bahwa aktivitas Tiongkok yang meluas dari pantai barat daya hingga Pasifik “merupakan tantangan strategis terbesar yang dihadapi Jepang.”

Secara strategis, remiliterisasi Jepang merupakan pengakuan bahwa pengaturan keamanan yang dipimpin AS sejak akhir Perang Dunia II—ketika Angkatan Laut AS tak tertandingi—tidak lagi cukup. Kedua negara menyadari perlunya tingkat keterlibatan dan koordinasi baru. Di era pemerintahan Trump, AS bekerja sama dengan Jepang untuk mereorganisasi jejak komando dan memperdalam koordinasi dengan Tokyo.

Fokus Jepang pada serangan jarak jauh, logistik yang diperkuat, pertahanan pulau, dan integrasi aliansi mencerminkan pola pikir baru: pencegahan yang dibangun dari kemampuan dan kredibilitas, seiring wilayah Indo-Pasifik memasuki era baru kompetisi strategis.

Apakah langkah ini akan berhasil mencegah Beijing atau justru memicu persaingan yang lebih sengit masih harus dilihat.

James Gorrie adalah penulis buku The China Crisis (2013) dan membahas isu Tiongkok serta peristiwa terkini melalui podcast YouTube-nya, The Banana Republican.

Polandia Cegat Pesawat Mata-mata Il-20 Rusia untuk Ketiga Kalinya Minggu Ini

EtIndonesia. Polandia mengerahkan jet tempur MiG-29 untuk mencegat pesawat pengintai Il-20 Rusia. Ini adalah insiden ketiga minggu ini, menurut komando operasional angkatan bersenjata Polandia.

Pesawat tempur Polandia diluncurkan pada pagi hari tanggal 31 Oktober setelah Il-20 terdeteksi di atas Laut Baltik.

“Pesawat Rusia itu kembali terbang tanpa rencana penerbangan yang diajukan dan dengan transponder mati, sehingga menimbulkan potensi ancaman terhadap keselamatan penerbangan di wilayah tersebut. Pilot Polandia mencegat dan mengidentifikasi pesawat asing tersebut, yang dikawal sesuai prosedur NATO,” kata militer.

Mereka mencatat bahwa wilayah udara Polandia tidak dilanggar.

“Ini adalah situasi serupa yang ketiga minggu ini, yang mengonfirmasi peningkatan aktivitas penerbangan Rusia di wilayah Laut Baltik,” tambah komando operasional.

Il-20 terbang di atas Laut Barents

Pekan lalu, pesawat pengintai Il-20 Rusia terlihat di atas Laut Barents.

Pada 21 Oktober, sekitar pukul 11:18, penduduk Alta, Norwegia, mendengar dua ledakan, yang menyebabkan bangunan dan jendela bergetar. Angkatan Udara Norwegia mengonfirmasi bahwa dua pesawat tempur F-35 sedang terbang di atas kota tersebut pada saat itu, menembus batas kecepatan suara.

Selama penerbangan, F-35 Norwegia mengidentifikasi pesawat pengintai Il-20 Rusia di wilayah udara internasional di utara Finnmark, wilayah paling utara Norwegia.

Komando Angkatan Udara menekankan bahwa operasi tersebut dilakukan secara rutin dan tanpa ada drama. (yn)

Gelar Pangeran Andrew Dicabut,  Diusir dari Kediaman Kerajaan

Ia kini akan dikenal sebagai Andrew Mountbatten Windsor

Oleh T.J. Muscaro

Pangeran Andrew dikeluarkan dari kediaman kerajaan dan dicabut seluruh gelarnya oleh kakaknya, Raja Charles III, pada 30 Oktober 2025.

Keputusan ini muncul di tengah tekanan yang meningkat terhadap keluarga kerajaan untuk bertindak terkait hubungan Andrew dengan Jeffrey Epstein, pelaku pelecehan seksual yang sudah meninggal, serta tuduhan yang masih berlangsung seputar kasus tersebut.

“Sanksi ini dianggap perlu, meskipun yang bersangkutan terus membantah tuduhan terhadapnya,” kata Istana Buckingham dalam sebuah pernyataan.

 “Yang Mulia ingin menegaskan bahwa pikiran dan simpati terdalam mereka selalu ada, dan akan terus ada, untuk para korban dan penyintas dari segala bentuk kekerasan.”

Sebelum tindakan raja, Andrew telah menjauh dari kehidupan publik dan secara sukarela melepaskan hampir semua gelar kerajaan yang dimilikinya, termasuk Duke of York, Knight Grand Cross of the Royal Victorian Order, dan Royal Knight Companion of the Most Noble Order of the Garter, terkait tuduhan dari Virginia Roberts Giuffre.

Awalnya, Andrew berniat tetap menggunakan gelar pangeran, yang ia miliki sejak lahir sebagai anak dari mendiang Ratu Elizabeth II. Ia juga berencana agar kedua putrinya, Beatrice dan Eugenie, tetap mempertahankan gelar putri mereka.

Namun, istana menyatakan bahwa Raja Charles III memulai proses resmi untuk mencabut Gaya, Gelar, dan Kehormatan Pangeran Andrew, termasuk gelar pangeran itu sendiri. Mulai sekarang, ia akan dikenal sebagai Andrew Mountbatten Windsor.

Istana juga menyebut bahwa Andrew akan pindah dari kediaman Royal Lodge ke akomodasi pribadi.

Giuffre menuduh bahwa ia diperjualbelikan oleh Epstein dan mengalami pelecehan seksual oleh Andrew ketika berusia 17 tahun. Ia meninggal pada April pada usia 41 tahun, dengan keluarga menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri.

Memoar Giuffre, “Nobody’s Girl”, yang diterbitkan awal bulan ini, mengisahkan tiga dugaan pertemuan seksual dengan Andrew. Ia menggugat Andrew pada 2021, dan kasus ini diselesaikan pada 2022 dengan jumlah penyelesaian yang tidak diungkapkan.

Andrew terus membantah tuduhan tersebut, namun mengakui bahwa Epstein adalah pelaku pelecehan seksual dan Giuffre adalah “korban pelecehan yang sah”, sebagaimana tercantum dalam pernyataan resmi ke pengadilan.

Awal bulan ini, email baru muncul yang menunjukkan Andrew tetap berhubungan dengan Epstein lebih lama dari yang sebelumnya diakui.

Mantan istri pangeran, Sarah Ferguson, juga kehilangan gelarnya sebagai Duchess of York. Beberapa badan amal memutus hubungan dengannya setelah surat kabar Inggris mengunggah email yang ia kirim kepada Epstein, di mana ia menyebut Epstein sebagai “teman tertinggi”.

Laporan ini turut disusun dengan kontribusi dari Associated Press.

Di Balik Merosotnya Industri Hiburan Tiongkok: Kematian Yu Menglong dan Aksi Boikot Publik yang Membekukan Seluruh Industri

EtIndonesia. Industri hiburan Tiongkok tengah mengalami kehancuran besar-besaran. Mulai dari anjloknya pendapatan box office, proyek film yang dibekukan, hingga kemarahan publik atas kematian misterius aktor Yu Menglong, seluruh sektor budaya yang dulu bernilai miliaran dolar kini terpaku dan lumpuh total — terjepit di antara sensor ketat, hengkangnya modal, dan krisis moral.

“Ini benar-benar menyedihkan,” ujar seorang kritikus di Beijing, sambil menunjukkan grafik penjualan tiket film Spark yang dirilis pada 16 Oktober.

 “Setiap bioskop besar kosong. Dari puluhan jadwal tayang, hanya dua atau tiga yang laku dua tiket saja.”

Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan ruang teater raksasa yang nyaris tanpa penonton.

“Malam Jumat, pemutaran terakhir—tidak ada siapa-siapa. Saya satu-satunya orang di gedung bioskop sebesar ini,” rekam seorang pengguna.

Bintang veteran Huang Xiaoming mengaku kini harus “memohon pekerjaan.”

“Dulu produser yang datang mengejar saya. Sekarang, saya yang mengetuk pintu,” katanya.
“Ketika saya di puncak, saya bisa menolak proyek. Sekarang, saya meminta, dan mereka hanya tersenyum lalu bilang akan dipertimbangkan.”

Aktris Liu Tao dan Ning Jing juga bicara blak-blakan.

“Kamu tidak salah bilang saya tidak punya peran—karena memang tidak ada,” kata Ning kepada para penggemarnya.


Aktor Tanpa Pekerjaan, Bertahan dengan Pekerjaan Serabutan

Seiring melambatnya ekonomi Tiongkok, produksi film dan televisi merosot tajam, meninggalkan puluhan ribu aktor tanpa pekerjaan.

Bahkan nama-nama besar kini harus beralih ke video pendek dan siaran langsung untuk mencari penghasilan. Ada pula yang mengambil pekerjaan sampingan seperti kurir makanan, petugas kebersihan, atau seniman jalanan.

Seorang aktris berusia 29 tahun yang kini bekerja sebagai pelayan restoran mengaku:

“Saya gagal dalam wawancara kerja sebagai kurir dan akhirnya membagikan brosur. Tidak ada yang memalukan dari pekerjaan jujur—setidaknya saya bisa menyimpan 2.000 yuan di rekening.”

Aktor Yu Qingbin, yang dulu dikenal lewat peran-peran pendukung, mengatakan cicilan rumah sebesar 10.000 yuan membuatnya terpaksa bekerja sebagai pengantar makanan.

“Saya tidak pernah menyangka akan sampai meminjam uang hanya untuk bertahan hidup,” ujarnya.
“Saya ingin sutradara dan produser melihat saya lagi. Saya masih siap kembali ke lokasi syuting.”

Data menunjukkan jumlah drama televisi yang diproduksi di Tiongkok turun 30 persen pada 2023, sementara jumlah figuran di Hengdian—pusat produksi film Tiongkok—merosot lebih dari 40 persen.

Bahkan aktor senior seperti Ma Jingtao ambruk karena kelelahan, dipaksa tetap syuting di bawah suhu 40°C demi mempertahankan pekerjaan.

Kebijakan “batas gaji aktor” yang diberlakukan pada 2018 memicu kaburnya modal besar-besaran dan menutup hampir 10.000 studio film. Sejak saat itu, hanya segelintir aktor papan atas yang memonopoli proyek-proyek yang tersisa.

“Proses casting sekarang seperti pesan makanan online,” kata seorang produser.
“Kamu hanya memilih antara hidangan termahal atau paket promo termurah. Tidak ada lagi kelas menengah.”


Kematian Yu Menglong: Titik Balik Moral Industri Hiburan

Dugaan lama tentang “aturan tersembunyi” (hidden rules) dalam industri hiburan Tiongkok kini kembali menjadi sorotan.

Sebagian warganet bersimpati pada aktor-aktor yang berjuang, tetapi kebanyakan menunjuk pada kematian misterius Yu Menglong sebagai bukti kerusakan moral sistem yang busuk.

“Yu Menglong adalah korban dari sistem yang korup,” tulis seorang pengguna Weibo.
“Musim dingin yang panjang tidak sebanding dengan penderitaannya. Ia dijadikan mainan oleh anak-anak pejabat partai dan kapitalis—dan mereka menghancurkannya.”

Komentar lain menulis:

“Lebih baik menganggur daripada mati! Banyak yang diperkosa, dibunuh dalam ‘kecelakaan,’ dijadikan tumbal darah, dan lenyap tanpa jejak—seolah dihapus dari dunia.”

Sebagian publik bahkan menyerukan boikot total terhadap industri hiburan Tiongkok:

“Selama kasus Yu Menglong belum diusut tuntas, kami tidak akan mendukung hiburan Tiongkok. Jangan salahkan kami—kami hanya ingin melindungi orang-orang yang kami sayangi.”

“Jika kematiannya tidak diselidiki, tidak ada yang berani mendukung siapa pun. Orang takut idola mereka akan bernasib sama. Dan jujur saja—hidup sudah sulit, ekonomi buruk, siapa yang mau buang waktu nonton drama lambat dan kosong makna?”


Musim Dingin yang Belum Berakhir

Para pelaku industri menyebut bahwa “musim dingin ini belum akan berakhir.”
Platform streaming memangkas anggaran untuk drama panjang, sementara para aktor kelas menengah—tulang punggung industri—terpaksa menganggur.

Aktor Jiang Long menggambarkan pergulatannya:

“Ketika tidak ada peran, kamu tidak hanya kehilangan penghasilan—kamu kehilangan jati diri. Saat pesan makanan, kamu berpikir dua kali sebelum menambah lauk daging.”

Bagi Yu Qingbin, menjadi kurir makanan justru membawa pencerahan.

“Itu bukan kegagalan, tapi kejernihan. Mencari nafkah dengan tangan sendiri memberi saya ketenangan,” katanya.
“Mungkin itu naskah paling nyata dalam hidup saya.”

Sumber  : Visiontimes.com

Siapa yang Paling Lama Menemani Kita dalam Hidup? Jawaban Sederhana Ini Menyentuh Lebih dari 10.000 Netizen

EtIndonesia. Seorang penulis Jepang bernama “Wabi” menulis sebuah kalimat singkat namun dalam maknanya di platform X (Twitter):

“Pendamping paling setia dan paling lama dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Maka rawatlah diri dengan baik.  Makanlah makanan yang bergizi, beristirahatlah ketika lelah, dan jauhilah orang yang memperlakukanmu dengan asal-asalan.  Karena saat kebahagiaan akhirnya datang, kamu bisa menyambutnya dengan sepenuh hati.”

Unggahan ini langsung menyentuh banyak hati — lebih dari 10.000 kali dibagikan dan hampir 10.000 suka dari para netizen Jepang.

Komentar yang paling banyak disetujui berbunyi: “Saat kamu semakin mengenal dirimu sendiri, rasa tidak nyaman dalam hidup akan perlahan menghilang. Tidak lagi melampiaskan stres dengan alkohol, tidur cukup, dan tahu kapan harus berhenti — itu ternyata membuat hidup jauh lebih ringan.”

Wabi membalas dengan rendah hati:“Benar sekali, tidak bergantung pada alkohol itu sangat penting… saya juga sedang belajar menjaga diri lebih baik.”

Seorang netizen Jepang lain menanggapi dengan kejujuran: “Karena aku tidak bisa mengusir orang-orang yang memperlakukanku dengan semena-mena dari pikiranku, aku jadi sering merasa murung bahkan saat liburan musim panas di Taiwan… rasanya sayang sekali.”

Wabi lalu menenangkan:“Orang yang kita benci memang sering menguasai pikiran tanpa izin… aku juga sedang belajar melepaskannya lebih cepat.”

Kolom komentar pun dipenuhi ungkapan yang serempak sejalan:

  • “Tak ada yang lebih penting daripada mengenal diri sendiri.”
  • “Aku ingin benar-benar belajar mencintai diriku.”
  • “Mari kita sama-sama belajar menghargai diri.”

Karena pada akhirnya — yang benar-benar menemani kita sejak awal sampai akhir hidup ini… adalah diri kita sendiri.

Maka menjaga diri, bukanlah egoisme — melainkan bentuk cinta paling dasar yang seharusnya tidak pernah kita abaikan. (jhn/yn)

Presiden Tertua di Dunia, Paul Biya, Menang Pemilu Kamerun untuk Periode ke-8 pada Usia 92 Tahun

EtIndonesia— Presiden tertua di dunia, Paul Biya yang berusia 92 tahun, kembali memenangkan pemilu di Kamerun, demikian dinyatakan oleh pengadilan tertinggi negara itu pada Senin (27/10/2025), setelah terjadi bentrokan selama beberapa hari antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan yang menewaskan sedikitnya empat orang ketika para pendukung oposisi menuntut hasil pemilu yang kredibel.

Biya memimpin negara di Afrika Tengah ini sejak 1982, lebih lama daripada usia sebagian besar warganya. Lebih dari 70 persen dari hampir 30 juta penduduk berusia di bawah 35 tahun. Pemilu pada 12 Oktober ini memperlihatkan ketegangan yang meningkat antara generasi muda Afrika dengan para pemimpin yang menua.

Dewan Konstitusi menyatakan Biya memperoleh 53,66 persen suara, sementara mantan sekutu Issa Tchiroma Bakary mendapat 35,19 persen. Tingkat partisipasi mencapai 57,7 persen.

Dalam sebuah unggahan di media sosial setelah pengumuman, Tchiroma menuduh aparat keamanan menembaki warga sipil, menewaskan dua orang di kampung halamannya di Garoua.

“Menembak dari jarak dekat terhadap saudara sendiri—saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah kalian ini tentara bayaran,” tulisnya.
“Bunuh saya jika mau, tapi saya akan membebaskan negara ini dengan cara apapun. Ketidakadilan yang nyata.”

Tchiroma sebelumnya telah mengklaim kemenangan beberapa hari lalu, dengan mengutip hasil yang menurutnya dikumpulkan oleh partainya. Anggota partai Biya menolak klaim tersebut.

Biya dalam pernyataannya pada Senin mengatakan:

“Pikiran pertama saya tertuju pada semua yang kehilangan nyawa secara tidak perlu, serta keluarga mereka, akibat kekerasan pasca-pemilu.”


‘Tidak Akan Ada yang Berubah’

Keputusan Biya untuk mencalonkan diri lagi memicu kemarahan generasi muda dan oposisi, yang menuduhnya terlibat dalam diskualifikasi rival terkuatnya serta menggunakan “mesin negara” untuk memanipulasi pemilu.

Empat pengunjuk rasa ditembak mati pada Minggu di Douala, ibu kota ekonomi, ketika ratusan orang turun ke jalan di beberapa kota. Video yang beredar menunjukkan bentrokan dengan aparat keamanan yang menembakkan gas air mata dan mencoba membubarkan orang-orang yang memblokade jalan di Douala dan kota lain, termasuk Garoua dan Maroua di utara.

Samuel Dieudonne Ivaha Diboua, gubernur Wilayah Littoral yang meliputi Douala, mengatakan beberapa anggota aparat keamanan terluka oleh pengunjuk rasa, dan sedikitnya 105 pengunjuk rasa ditangkap.

Puluhan pendukung oposisi, aktivis, dan pemimpin  ditangkap dalam beberapa hari terakhir, termasuk beberapa yang menurut Paul Atanga Nji, menteri administrasi wilayah, diduga merencanakan serangan kekerasan.

“Saya siap mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan suara saya. Saya memilih Tchiroma karena saya ingin perubahan,” ujar seorang pengunjuk rasa, Oumarou Bouba, pedagang berusia 27 tahun di Maroua.

Setelah pengumuman hasil pemilu, Sani Aladji, pekerja hotel berusia 28 tahun di Maroua, mengatakan:

“Tidak ada yang akan berubah. Saya berharap Issa Tchiroma membawa perubahan, makanya saya memilihnya. Korupsi merajalela di rezim Biya. Kami sudah muak.”

Namun salah satu pendukung Biya, Flicia Feh, mengatakan ia percaya Biya tetap orang yang tepat untuk jabatan itu.

“Presiden kami berkampanye dengan harapan,” katanya.
“Dia memulai banyak proyek, seperti jalan tol Yaoundé-Douala, dan wajar jika dia diberi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan apa yang telah dia mulai.”

Pemerintah Kamerun menyatakan lebih dari 5.000 pengamat pemilu nasional dan internasional terakreditasi untuk memantau pemilu. Delapan kelompok masyarakat sipil lokal mencatat sejumlah ketidakteraturan, termasuk daftar pemilih yang mencantumkan orang meninggal, distribusi kertas suara yang tidak merata, dan upaya memasukkan suara secara curang.

Misi Uni Afrika menyatakan pemungutan suara “dilaksanakan sebagian besar sesuai standar regional, kontinental, dan internasional.”


Presiden Sejak 1982

Biya pertama kali berkuasa pada 1982 setelah pengunduran diri presiden pertama Kamerun dan memimpin sejak saat itu, kemudian diuntungkan oleh amandemen konstitusi yang menghapus batas masa jabatan.

Kesehatannya sering menjadi bahan spekulasi karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Eropa, meninggalkan pemerintahan kepada pejabat partai kunci dan anggota keluarga.

Meskipun Kamerun merupakan negara penghasil minyak dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat, generasi muda mengatakan manfaatnya tidak merata dan hanya dirasakan oleh elit. Data Bank Dunia menunjukkan tingkat pengangguran 3,5 persen, tetapi 57 persen tenaga kerja usia 18–35 tahun bekerja di sektor informal.

“Banyak anak muda di seluruh negeri dan diaspora berharap perubahan, tapi harapan itu pupus. Rasanya seperti kesempatan yang terlewat,” kata Emile Sunjo, dosen senior hubungan internasional di Universitas Buea.

 “Kamerun berpotensi tergelincir ke dalam anarki.”

Para kritikus juga menuduh Biya membawa Kamerun dari periode stabilitas relatif ke periode konflik. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini menghadapi serangan teroris Boko Haram di utara dan pemberontakan separatis di wilayah North West dan South West yang berbahasa Inggris. Krisis ini, dipicu oleh upaya pemerintah untuk memaksakan bahasa Prancis di sekolah dan pengadilan, telah menewaskan hampir 7.000 orang, mengungsikan lebih dari satu juta orang, dan membuat ribuan melarikan diri ke Nigeria.

Christopher Fomunyoh, direktur regional di National Democratic Institute for International Affairs, mengatakan Dewan Konstitusi Kamerun “menempatkan diri mereka dalam situasi yang sulit” dan tidak punya pilihan selain menyatakan Biya sebagai pemenang.

Ia menambahkan bahwa semua pihak yang terlibat harus bersiap menghadapi konsekuensi dan reaksi yang tak terhindarkan.


oleh The Associated Press/Theepochtimes.com

Propaganda Rusia Sebarkan Kebohongan Baru Tentang ‘Kekejaman’ Pasukan Ukraina

EtIndonesia. Propaganda Rusia menyebarkan klaim palsu bahwa pasukan Ukraina diduga “menanam Ranjau” di bangunan tempat tinggal di Kostiantynivka, wilayah Donetsk, menurut Pusat Penanggulangan Disinformasi (CCD).

Disinformasi tersebut menunjukkan bahwa pasukan Ukraina menanam ranjau di gedung-gedung tinggi di Kostiantynivka dan mencegah penduduk meninggalkan kota.

“Ini adalah contoh khas operasi informasi yang bertujuan mendiskreditkan Pasukan Pertahanan Ukraina dan mengintimidasi penduduk sipil,” demikian pernyataan CCD.

CCD menekankan bahwa pihak Rusia tidak memberikan bukti, tidak memberikan konfirmasi foto atau video, dan hanya mengandalkan pernyataan seorang pakar militer Rusia.

Para analis di CCD menekankan bahwa Ukraina bertindak sesuai dengan hukum humaniter internasional, sementara Rusia secara sistematis menargetkan infrastruktur sipil.

“Dengan menyebarkan kebohongan semacam itu, para propagandis bertujuan untuk membenarkan berbagai kejahatan mereka sendiri dan mengalihkan kesalahan ke Ukraina,” demikian pernyataan CCD.

Tema propaganda Rusia di bulan November

Sebelumnya, RBC-Ukraina, mengutip Pusat Penanggulangan Disinformasi (CCD), melaporkan topik-topik utama propaganda Rusia di bulan November.

Ini termasuk kampanye tentang dugaan kekejaman oleh Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah garis depan.

Analis CCD memperkirakan bahwa media propaganda akan menghasilkan disinformasi skala besar tentang terorisme oleh pasukan Ukraina, penyiksaan warga sipil, eksekusi warga negara, dan pemblokiran detasemen, yang akan disebarkan secara aktif di media sosial, aplikasi perpesanan, dan melalui media yang dikontrol.

Tujuan utama kampanye ini adalah untuk merusak kepercayaan lokal terhadap tentara dan otoritas Ukraina, menciptakan perpecahan dan ketakutan di komunitas garis depan, dan menggunakan informasi ini di media internasional untuk melemahkan dukungan bagi Ukraina di seluruh dunia.

Topik propaganda Rusia lainnya diperkirakan akan mencakup:

  • Sanksi Uni Eropa dan AS;
  • Eskalasi ancaman nuklir;
  • Gangguan negosiasi antara Rusia dan AS;
  • Mendiskreditkan Coalition of the Willing;
  • Manipulasi anggaran negara Ukraina tahun 2026;
  • Disinformasi mengenai musim panas;
  • Kampanye informasi tentang penjualan jet tempur Gripen. (yn)

Mantan Dubes USCIRF Desak Gedung Putih Bertemu dengan Pendiri Falun Gong, Tegaskan Partai Komunis Tiongkok  Memerangi Keyakinan

EtIndonesia. Dalam sebuah forum kebijakan besar di Washington, mantan United States Commission on International Religious Freedom (USCIRF) atau Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback, menyerukan agar Gedung Putih mengambil langkah bersejarah: mengundang pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi, untuk bertemu dengan pejabat tinggi pemerintah AS sebagai wujud komitmen Amerika terhadap Keyakinan, kebebasan beragama, dan nilai-nilai universal.

Berbicara pada 28 Oktober 2025 dalam acara Tiongkok forum yang diselenggarakan oleh Victims of Communism Memorial Foundation (VOC), Brownback menegaskan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah melancarkan perang yang tak mungkin dimenangkan melawan pilar keyakinan dan kebebasan.

“PKT sedang berperang melawan keyakinan— dan perang itu yang pasti mereka kalah,” ujarnya.

‘Perang terhadap keyakinan’

Brownback menjelaskan bahwa ideologi ateis rezim Tiongkok secara inheren menganggap semua sistem kepercayaan independen sebagai ancaman.

“PKT tidak hanya menindas satu kelompok — mereka menindas siapa pun yang memiliki keyakinan,” katanya.

Ia menelusuri bagaimana Beijing telah lama menekan umat Kristen, Muslim, Buddha Tibet, dan terutama praktisi Falun Gong (atau Falun Dafa) — sebuah latihan meditasi damai yang didirikan di Tiongkok oleh Li Hongzhi pada 1992, berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar (Zhen-Shan-Ren).

Menjelang tahun 1999, jumlah pengikut Falun Gong diperkirakan mencapai 70 hingga 100 juta orang, melampaui jumlah anggota PKT. Popularitas ini menimbulkan ketakutan di kalangan pimpinan partai, sehingga Jiang Zemin, yang saat itu berkuasa, melancarkan kampanye brutal untuk memusnahkan latihan tersebut dari seluruh Tiongkok.

Sejak saat itu, ribuan praktisi dilaporkan tewas di tangan aparat Tiongkok melalui penyiksaan, kerja paksa, dan penahanan. Banyak yang ditahan di fasilitas rahasia, di mana para penyintas melaporkan perlakuan kejam seperti sengatan listrik, pemukulan, dan penyiksaan psikologis agar mereka meninggalkan keyakinannya. Penindasan ini terus berlangsung selama lebih dari dua dekade.

“PKT menganggap Falun Gong sebagai kelompok yang tidak bisa mereka kendalikan, lalu memutuskan untuk memusnahkannya,” ujar Brownback.

Ia mengutip banyak laporan yang mendokumentasikan penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, hingga pengambilan organ paksa dalam skala besar, dengan mengutip pernyataan pengacara hak asasi manusia asal Kanada David Matas, yang menyebut kejahatan ini sebagai “kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di planet ini.”

Kejahatan Sistematis dan ‘Genosida’

Brownback juga menyinggung kasus-kasus nyata yang dicatat oleh situs Minghui.org, yang berbasis di AS dan mendokumentasikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di dalam dan luar Tiongkok, di antaranya:

  • Zhang Fengxia (52 tahun) dari Daqing, Heilongjiang, ditangkap pada Agustus 2025 dan meninggal hanya tujuh hari kemudian dalam tahanan.
  • Men Yulin dari Jinzhou, Liaoning, meninggal empat hari setelah dibebaskan dari hukuman penjara tujuh tahun.
  • Wang Shimin dari Provinsi Shanxi menjadi lumpuh akibat penyiksaan dan kini terbaring lemah akibat kekerasan berat yang dialaminya di penjara.

Brownback juga mengingat kembali tragedi Kamp Kerja Paksa Masanjia tahun 2000, di mana 18 praktisi Falun Gong perempuan dilucuti pakaiannya dan dimasukkan ke sel tahanan pria di bawah pengawasan Luo Gan, anggota Politbiro saat itu.

“Tidak ada rezim dalam sejarah yang membantai warganya sendiri yang beriman dalam skala sebesar ini,” ujarnya.

 “Pembunuhan yang dilakukan PKT terhadap rakyatnya melampaui pemerintahan mana pun.”

Isu Kebebasan Beragama Sebagai Kepentingan Keamanan Nasional

Brownback menegaskan bahwa kebebasan beragama bukan hanya isu hak asasi manusia, tetapi juga masalah keamanan nasional.

“Bagi PKT, kebebasan beragama adalah ancaman eksistensial; bagi kita, kebebasan beragama adalah fondasi bangsa,” katanya.

Tanpa keyakinan, lanjutnya, moralitas dan peradaban akan runtuh.

“Jika Amerika mengorbankan kebebasan beragama, dunia bebas itu sendiri akan hancur,” ujarnya memperingatkan.

Ia mendesak pemerintah Washington untuk menjadikan pembelaan terhadap kebebasan berkeyakinan sebagai pilar strategis kebijakan luar negeri AS, bukan sekadar simbolik.

“Kebebasan beragama mewakili nilai-nilai kita dan menjadi tantangan terbesar bagi totalitarianisme komunis,” tambahnya.

Seruan Bersejarah untuk Gedung Putih

Momen paling mencolok dalam pidatonya adalah ketika Brownback menyerukan secara terbuka:

“Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, tinggal di Amerika Serikat. Pejabat Gedung Putih seharusnya bertemu dengannya dan secara terbuka menegaskan bahwa praktisi Falun Gong berhak atas kebebasan beragama — dan mereka pantas mendapatkannya sekarang.”

Ia menyebut pertemuan semacam itu sebagai “Tindakan simbolis paling kuat untuk kebebasan beragama dalam sejarah Amerika.”

“Jika Anda ingin melihat Tiongkok yang sesungguhnya, lihatlah Falun Gong,” kata Brownback.

“Mereka hanya berusaha kembali pada budaya tradisional dan keyakinan moral — akar peradaban Tiongkok.”

Gerakan Global untuk Kebebasan

Sebagai Duta Besar Kebebasan Beragama AS di era Presiden Donald Trump, Brownback dikenal memimpin sanksi terhadap pejabat Tiongkok seperti Chen Quanguo, mantan sekretaris Partai di Xinjiang — langkah yang membuat Beijing melarangnya masuk secara permanen.

“Itu salah satu kehormatan terbesar dalam hidup saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, ia melihat undangan kepada Master Li Hongzhi bukan sekadar langkah politik, tetapi titik balik spiritual.

“Dunia bebas harus merebut kembali iman untuk melawan totalitarianisme ateistik,” katanya.

Brownback menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa Amerika, yang didirikan atas prinsip kebebasan beragama, harus kembali mengibarkan panji itu melawan kampanye penghapusan budaya dan moral yang dijalankan oleh PKT.

“Mengundang Li Hongzhi ke Gedung Putih bukan sekadar diplomasi; itu ujian moral,” tegasnya.

 “Langkah itu akan menunjukkan bahwa dunia bebas berdiri sejajar dengan kebenaran, belas kasih, dan kesabaran.”

Saat mengakhiri pidatonya, Brownback kembali mengulang keyakinan yang menjadi pegangan hidupnya:

“PKT sedang berperang melawan Iman — dan mereka akan kalah. Karena kekuatan keyakinan bersumber dari kebebasan hati manusia.”

oleh Chen Jing, Vision Times

Satu Niat Baik Dapat Mengubah Seluruh Hidup Seseorang

EtIndonesia. Bertahun-tahun yang lalu, seorang guru sedang tidur siang di rumah ketika tiba-tiba telepon berdering. 

Begitu dia angkat, terdengar suara pria asing dan kasar:“Anakmu mencuri buku di toko kami, sekarang sudah kami tangkap. Cepat datang!”

Di dalam telepon, terdengar suara seorang gadis kecil menangis ketakutan, diselingi teriakan marah dari orang di sekitarnya. Guru itu menoleh — dan melihat putrinya sedang duduk tenang menonton televisi di ruang tamu.

Saat itu juga dia langsung mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam hati seakan tampak tatapan ketakutan seorang anak yang meminta pertolongan.

Tanpa banyak bertanya, dia menanyakan alamat toko buku itu — dan segera bergegas pergi.

Setibanya di sana — benar saja — dia melihat seorang gadis kecil yang wajahnya penuh air mata, berdiri gemetar, sementara para pegawai toko sedang membentaknya dengan suara keras.

Guru itu segera mendekat, merangkul sang gadis, dan dengan suara lembut berkata kepada para pegawai: “Apa pun masalahnya, bicarakan dengan saya. Saya ibunya. Tolong jangan menakuti anak ini.”

Meski para pegawai terlihat tidak senang, dia tetap membayar denda sebesar 28 yuan, lalu membawa gadis itu pulang.

Di rumah, dia membersihkan wajah dan pakaiannya, namun tidak mengajukan satu pun pertanyaan.

Sebelum gadis itu pergi, dia hanya berkata lembut: “Kalau kamu ingin membaca buku, datanglah ke rumah Tante. Tante punya banyak buku.”

Gadis kecil itu hanya menatapnya dalam-dalam — lalu berlari pergi. Sejak saat itu, dia tidak pernah muncul lagi.

Waktu berlalu begitu cepat. Bertahun-tahun terlewat — dan guru itu sudah hampir melupakan kejadian tersebut.

Sampai suatu hari — pintu rumahnya diketuk pelan. Ketika dibuka, berdirilah seorang gadis dewasa yang anggun dan cantik, membawa banyak hadiah — dengan wajah penuh kebahagiaan.

Guru itu bingung:  “Kamu mencari siapa?”

Gadis itu menahan haru — sebelum akhirnya berkata: “Tante mungkin tidak mengenali saya. Sayalah gadis kecil yang dulu… tertangkap mencuri buku. Tahun ini saya baru lulus dari salah satu universitas terbaik, dan sudah mendapat pekerjaan yang sangat baik. Selama ini, saya hanya menyimpan satu keinginan…  yaitu datang dan memanggil Tante… ‘Mama.’”

Air mata pun jatuh tanpa bisa ditahan — dari kedua belah pihak.

Guru itu lalu bertanya pelan:  “Kalau saat itu Tante tidak membantumu… apa yang kira-kira akan terjadi?”

Gadis itu menunduk dan menjawab pelan: “Saya tidak tahu pasti… tapi mungkin… saya akan melakukan sesuatu yang bodoh. Mungkin… bahkan memilih untuk mati.”

Guru itu terdiam — hatinya seperti tersentak keras.  Namun melihat gadis itu kini tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh harapan — dia pun tersenyum bahagia.

Renungan

Kadang, satu niat baik kecil yang kita lakukan — tidak hanya menyelamatkan orang lain dari jurang, tetapi juga menanamkan benih kebaikan besar dalam hidup kita sendiri.

Setiap pikiran yang kita munculkan, akan menjadi benih karma dalam hati:

  • Pikiran baik → kelak berbuah kebahagiaan dan keberuntungan.
  • Pikiran jahat → kelak berbuah penderitaan dan bencana.
  • Pikiran kosong, tidak baik tidak jahat → kelak hanya berbuah kehampaan.

Seperti kata Mahaguru Huineng: “Semua ladang pahala tidak terletak di luar diri —
semuanya berasal dari dalam hati.” (jhn/yn)

AS yang Dipimpin Trump Bersiap Melakukan Uji Coba Nuklir Bawah Tanah

EtIndonesia. AS berencana untuk melanjutkan uji coba nuklir setelah jeda lebih dari 30 tahun. Keputusan ini kemungkinan melibatkan uji coba bawah tanah, menurut Reuters.

Presiden AS mengonfirmasi niat negaranya untuk memulai kembali uji coba nuklir untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. Dia tidak merinci apakah program tersebut akan mencakup uji coba bawah tanah, yang umum dilakukan selama Perang Dingin.

“Anda akan segera mengetahuinya, tetapi kami akan melakukan beberapa uji coba,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Florida, menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan ledakan bawah tanah.

Menurutnya, negara-negara lain sudah melakukan uji coba serupa, dan jika mereka melakukannya, “Kami akan melakukannya, oke?”

Melanjutkan uji coba setelah jeda 33 tahun

Sehari sebelumnya, pemimpin AS itu telah mengumumkan bahwa dia telah memerintahkan dimulainya kembali uji coba senjata nuklir setelah jeda 33 tahun. Para analis mengatakan langkah ini merupakan sinyal bagi negara-negara nuklir lainnya, seperti Tiongkok dan Rusia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam penerbangan helikopter Marine One menuju pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Busan, Korea Selatan.

Masih belum jelas apakah ini merujuk pada uji coba peledakan nuklir yang sebenarnya di bawah pengawasan Badan Keamanan Nuklir Nasional atau uji terbang rudal yang mampu membawa hulu ledak.

Namun, penyebutan uji coba bawah tanah ini menarik perhatian luas, karena metode inilah yang digunakan AS hingga tahun 1992.

Reaksi dan Konsekuensi

Dalam kunjungan ke Malaysia, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan bahwa melanjutkan uji coba merupakan cara yang sangat bertanggung jawab untuk mempertahankan pencegahan nuklir, seraya menambahkan bahwa Pentagon akan bekerja sama erat dengan Departemen Energi.

“Kami bergerak cepat,” tegasnya.

Pada saat yang sama, Anggota DPR dari Partai Demokrat, Dina Titus dari Nevada, lokasi uji coba nuklir utama AS, mengajukan rancangan undang-undang yang melarang dimulainya kembali uji coba bawah tanah dan memblokir pendanaannya.

Dia memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mendorong Rusia dan Tiongkok untuk mengambil tindakan serupa dan sekali lagi menempatkan penduduk Nevada pada risiko radiasi dan kerusakan lingkungan.(yn)

Hamas Kembalikan Dua Jenazah Sandera Israel yang Tewas di Gaza

EtIndonesia. Kantor Perdana Menteri Israel pada Kamis (30 Oktober) mengumumkan bahwa Hamas telah menyerahkan dua jenazah sandera Israel yang meninggal dunia selama ditahan di Gaza melalui Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Menurut pernyataan resmi, setelah Hamas menyerahkan jenazah tersebut kepada Palang Merah di Gaza, militer Israel (IDF) kemudian menerima dan mengirimkannya ke lembaga forensik untuk proses identifikasi.

Berdasarkan tahap pertama perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, kelompok Hamas telah membebaskan seluruh sandera yang masih hidup sebagai imbalan atas pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina oleh Israel. Dalam kesepakatan itu, Israel juga menarik sebagian pasukannya, menghentikan sementara operasi militer, dan meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Sesuai isi perjanjian, Hamas diwajibkan mengembalikan jenazah 28 sandera Israel yang tewas selama perang, sebagai pertukaran dengan 360 jenazah anggota militan Palestina yang tewas dalam pertempuran.

Pengembalian sandera — baik yang hidup maupun yang meninggal — merupakan bagian penting dari rencana perdamaian Gaza. Rencana tersebut mewajibkan Hamas untuk menyerahkan seluruh sandera yang tersisa, termasuk 20 orang yang masih hidup dan 28 jenazah, paling lambat pada 13 Oktober.

Namun hingga Kamis (30 Oktober) ini, Hamas baru mengembalikan 15 jenazah. Jika dua jenazah terbaru ini terkonfirmasi sebagai sandera Israel yang tewas, maka masih ada 11 jenazah yang belum dikembalikan dari Gaza.

Sejak pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dimulai, Israel berulang kali menuduh Hamas melanggar kesepakatan, terutama karena gagal menyerahkan seluruh jenazah sandera sesuai batas waktu yang telah ditetapkan.

Dalam lebih dari dua minggu terakhir, kedua belah pihak juga saling menuduh melanggar gencatan senjata dan terlibat dalam beberapa bentrokan bersenjata. Insiden terbaru terjadi pada Selasa lalu, ketika seorang tentara Israel tewas dalam serangan Hamas di Rafah, Gaza bagian selatan, yang kemudian dibalas dengan serangan udara baru oleh Israel terhadap wilayah Gaza.

Namun, Hamas mengklaim tidak terlibat dalam serangan di Rafah tersebut.

Sebelumnya, Hamas menyatakan bersedia menyerahkan seluruh jenazah sandera, namun kemudian mengaku kesulitan menemukan sebagian jenazah karena banyak fasilitas dan terowongan di Gaza hancur akibat perang.

Militer Israel kini telah memindahkan kedua jenazah tersebut ke Pusat Medis Forensik Nasional di Tel Aviv (National Center for Forensic Medicine) untuk proses identifikasi resmi. (Hui/asr)

Mengapa Harus Memiliki Anak? — Inilah Jawaban Terindah yang Pernah Saya Dengar

EtIndonesia. Di usia muda, banyak orang merasa hidup seharusnya dijalani untuk diri sendiri. Kebebasan, mimpi, perjalanan, karier… semua itu menyerupai cahaya yang menerangi masa muda. 

Ketika orangtua berkata: “Lebih baik cepat punya anak,” kita tak jarang mengernyit —
“Kenapa harus mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk membesarkan seorang anak?”

Namun ketika usia pelan-pelan memasuki masa dewasa, teman-teman satu per satu menjadi orangtua.

Melihat senyum mereka yang bercampur lelah, barulah saya mulai perlahan memahami satu kalimat lama: “Melahirkan anak bukan untuk meneruskan marga, melainkan agar di perjalanan hidup ini, kita memiliki satu bentuk kasih yang tak tergantikan — sebuah penerusan jiwa.”

Suatu hari, teman saya bernama Xiao Li mengajak putrinya yang baru tiga tahun berjalan-jalan di taman.  Si kecil membawa sekop mainan dan sedang menggali tanah di dekat taman bunga.

Lalu ia mendongak dan berkata polos:  “Ayah, lihat! Cacing kecil itu sedang pindah rumah.”

Xiao Li ikut berjongkok, melihat dengan serius, lalu tersenyum hangat.

Dia berkata: “Jika bukan karena dia, mungkin aku tak akan pernah memperhatikan kehidupan sekecil ini… atau merasakan betapa lembutnya angin sore ini.”

Saat itu dia sadar — anak bukan sekadar tanggung jawab, tetapi cermin yang memantulkan kembali sisi diri kita yang paling murni… yang hampir terlupakan.

Memiliki anak, membuat seseorang belajar mencintai lebih dalam, dan bertanggung jawab lebih besar.

Pernah suatu kali, di kereta bawah tanah saya melihat seorang ibu muda memeluk bayinya yang sedang tidur pulas, sementara tangan satunya menenteng banyak barang belanjaan. Bayi itu nyaman tidur di pelukannya, sedangkan ibunya berkeringat dan tampak kelelahan.

Seseorang memberinya sebotol air. 

Dia tersenyum dan berkata pelan: “Terima kasih.”

Saat itu saya tersadar: Tak ada yang terlahir luar biasa. Tapi setiap orangtua yang bertahan demi anaknya — sedang tumbuh menjadi pahlawan tanpa jubah.

Inilah “lelah yang penuh makna”. Inilah perjalanan spiritual — dipaksa kuat, dipaksa sabar, dipaksa matang — namun hati terasa semakin kaya dan lembut.

Saya masih ingat sepupu saya.

Dulu, setelah lulus kuliah, dia berkarier di kota besar andai berkata :  “Pernikahan dan anak hanya akan membatasi hidup.”

Namun setelah dia melahirkan di usia tiga puluh — sikapnya berubah total.

Dia berkata pelan: “Anak adalah keterikatan yang paling hangat dalam hidupku.”

Setiap pulang kerja, langkahnya lebih cepat.

Karena tahu ada suara kecil yang akan berteriak: “Mama, kamu pulang!”

Dan dia berkata: “Rasanya… tidak ada promosi jabatan yang bisa menggantikan momen itu.”

Makna yang lebih dalam lagi adalah… anak membuat seseorang merasakan keberlanjutan dari kehidupan itu sendiri.

Seorang kakek tetangga berkata: “Bukan harta yang membuatku bangga — tapi ketika aku tua, anak-anakku masih mau duduk mengelilingiku, makan dan berbincang dalam satu meja.”

Setiap Tahun Baru, rumahnya paling ramai. Cucu-cucu berlari, suara tawa memenuhi udara. Dia duduk bersama istrinya, tertawa tanpa bisa disembunyikan.

Mungkin inilah — arti memiliki anak. Dalam panjangnya hidup, ada seseorang yang akan menemanmu melihat empat musim…  Agar hidup tidak sunyi.

Ada orang berkata: “Tanpa anak pun aku bisa hidup bahagia.”

Itu benar. Hidup tidak punya satu jawaban mutlak. Melahirkan atau tidak — keduanya adalah bentuk kehidupan.

Namun jawaban terindah yang pernah saya dengar datang dari seorang pria berusia lebih dari tujuh puluh tahun.

Dia berkata: “Saat muda, anak adalah kemungkinan baru dalam hidup kita. Saat tua, anak adalah perpanjangan dari kenangan kita. Mereka bisa menjadi kelemahan kita — tapi juga perisai kita.”

Dia duduk di bangku taman. Di sampingnya, putrinya yang kini berusia lima puluh tahun sedang mengupaskan jeruk untuknya.  Cahaya matahari jatuh lembut pada mereka — dan saya seperti melihat berkah dari waktu.

Saat itu aku mengerti — memiliki anak bukan soal meminta balasan. Tapi tentang meneruskan cinta, dan memastikan hangatnya hati kita tetap hidup meski suatu hari kita pergi.

Memiliki anak, sesungguhnya juga adalah proses penyembuhan diri.

Banyak orang baru memahami arti “orang tua” setelah menjadi orangtua.

Seorang teman berkata: “Saat aku begadang merawat anakku yang demam, barulah aku benar-benar mengerti mengapa dulu ibuku tidak pernah menyerah.”

Anak membuat kita melihat kembali diri kecil kita. Dan semakin menghargai cinta yang pernah kita terima.  Kata ‘rumah’ pun jadi terasa lebih berat — dan lebih dalam.

Jadi, jika ada yang bertanya padaku: “Mengapa harus memiliki anak?”

Aku akan menjawab: “Karena dengan kehadiran mereka — pemandangan hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”

Mereka mengajarkan kita untuk menurunkan ego, belajar memberi, dan membiarkan hari-hari biasa menjadi tak biasa karena hatimu tumbuh lebih lembut dan lebih besar.

Memiliki anak bukan keterpaksaan. Melainkan petualangan paling hangat yang bisa dimiliki dalam hidup.

Dalam perjalanan hidup ini, setiap orang mencari makna: ada yang memilih karier,  ada yang memilih kebebasan, dan ada yang memilih anak.

Semua pilihan layak dihormati. Namun tak bisa dipungkiri — bagi banyak orang, anak telah menjadi jawaban paling indah tentang arti hidup.  Tentang mencintai, dan tentang dicintai kembali. (jhn/yn)

Hampir 50 Tewas Setelah Badai Melissa Menghantam Karibia

Etindonesia. Jumlah korban tewas akibat Badai Melissa meningkat pada hari Kamis (30/10) menjadi hampir 50 orang, kata para pejabat, setelah badai dahsyat tersebut menghancurkan kepulauan Karibia dan bergerak menuju Bermuda.

Banjir diperkirakan akan mereda di Bahama meskipun banjir bandang dapat berlanjut di Kuba, Jamaika, Haiti, dan Republik Dominika, menurut Pusat Badai Nasional AS (NHC).

Badai tersebut, salah satu yang terkuat yang pernah tercatat, menjadi empat kali lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, menurut sebuah studi oleh Imperial College London.

Kondisi badai tropis terjadi di Bermuda pada Kamis malam dan pulau itu berada di bawah peringatan badai, dengan kecepatan angin maksimum 100 mil (155 kilometer) per jam, kata NHC.

Pemerintah mendesak warga untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap badai yang masih kuat.

Melissa menghantam Jamaika dan Kuba dengan kekuatan yang sangat besar, dan warga sedang menaksir kerugian mereka dan jalan panjang menuju pemulihan.

“Korban tewas terkonfirmasi akibat Badai Melissa kini mencapai 19,” termasuk sembilan di Westmoreland dan delapan di St. Elizabeth, kedua paroki di wilayah barat pulau Karibia yang terdampak parah, ujar Menteri Informasi Dana Morris Dixon kepada media berita lokal termasuk Jamaica Gleaner.

Akses komunikasi dan transportasi sebagian besar masih terputus di Jamaika dan Kuba, dan penilaian komprehensif atas kerusakan yang ditimbulkan bisa memakan waktu berhari-hari.

Di Haiti yang miskin, badan pertahanan sipil negara itu mengatakan pada hari Kamis bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 30, dengan 20 orang terluka dan 20 lainnya hilang.

Disebutkan lebih dari 1.000 rumah terendam banjir, dengan sekitar 16.000 orang berada di tempat penampungan.

Di bagian timur pulau komunis Kuba, yang sedang berjuang melawan krisis ekonomi terburuknya dalam beberapa dekade, orang-orang berjuang melewati jalan-jalan yang tergenang air dengan rumah-rumah yang terendam banjir dan runtuh.

Badai tersebut menghancurkan jendela-jendela, merobohkan kabel listrik dan komunikasi seluler, serta merobohkan atap dan dahan-dahan pohon.

Melissa “membunuh kami, karena dia membuat kami hancur,” ujar Felicia Correa, yang tinggal di komunitas La Trampa dekat El Cobre, kepada AFP.

“Kami sudah mengalami kesulitan yang luar biasa. Sekarang, tentu saja, keadaan kami jauh lebih buruk.”

Otoritas Kuba mengatakan sekitar 735.000 orang telah dievakuasi — terutama di Provinsi Santiago de Cuba, Holguin, dan Guantanamo.

‘Daerah Bencana’

Sementara itu, Amerika Serikat telah memobilisasi tim tanggap bencana dan personel pencarian dan penyelamatan perkotaan, dan tim-tim tersebut saat ini berada di Republik Dominika, Jamaika, dan Bahama, menurut seorang pejabat Departemen Luar Negeri.

Tim-tim tersebut juga sedang dalam perjalanan ke Haiti.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga mengikutsertakan musuh ideologisnya, Havana, dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat “siap untuk menawarkan bantuan kemanusiaan segera kepada rakyat Kuba yang terdampak Badai.”

Pemerintah Inggris mengumumkan dana darurat sebesar £2,5 juta untuk wilayah tersebut, dan juga mengatakan akan menyewa penerbangan “terbatas” untuk membantu warga negara Inggris meninggalkan wilayah tersebut.

Di Jamaika, koordinator residen PBB, Dennis Zulu, mengatakan kepada wartawan bahwa Badai Melissa telah menyebabkan “kehancuran infrastruktur, properti, jalan, dan konektivitas jaringan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya.”

Pihak berwenang di sana mengatakan bahwa mengonfirmasi laporan kematian sulit dilakukan karena akses ke daerah-daerah yang paling terdampak terbatas, dan beberapa orang masih belum dapat menghubungi keluarga dan orang-orang terkasih.

‘Semuanya Telah Hilang’

Badai Melissa menyamai rekor tahun 1935 untuk badai paling dahsyat yang pernah melanda Jamaika ketika menghantam Jamaika pada hari Selasa, menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS.

Di Seaford Town, petani dan pengusaha Christopher Hacker melihat restorannya dan perkebunan pisang di dekatnya rata dengan tanah.

“Semuanya telah hilang,” katanya kepada AFP.

Badai besar seperti itu “merupakan pengingat brutal akan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan aksi iklim di semua lini,” kata Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell. (yn)