EtIndonesia. Industri hiburan Tiongkok tengah mengalami kehancuran besar-besaran. Mulai dari anjloknya pendapatan box office, proyek film yang dibekukan, hingga kemarahan publik atas kematian misterius aktor Yu Menglong, seluruh sektor budaya yang dulu bernilai miliaran dolar kini terpaku dan lumpuh total — terjepit di antara sensor ketat, hengkangnya modal, dan krisis moral.
“Ini benar-benar menyedihkan,” ujar seorang kritikus di Beijing, sambil menunjukkan grafik penjualan tiket film Spark yang dirilis pada 16 Oktober.
“Setiap bioskop besar kosong. Dari puluhan jadwal tayang, hanya dua atau tiga yang laku dua tiket saja.”
Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan ruang teater raksasa yang nyaris tanpa penonton.
“Malam Jumat, pemutaran terakhir—tidak ada siapa-siapa. Saya satu-satunya orang di gedung bioskop sebesar ini,” rekam seorang pengguna.
Bintang veteran Huang Xiaoming mengaku kini harus “memohon pekerjaan.”
“Dulu produser yang datang mengejar saya. Sekarang, saya yang mengetuk pintu,” katanya.
“Ketika saya di puncak, saya bisa menolak proyek. Sekarang, saya meminta, dan mereka hanya tersenyum lalu bilang akan dipertimbangkan.”
Aktris Liu Tao dan Ning Jing juga bicara blak-blakan.
“Kamu tidak salah bilang saya tidak punya peran—karena memang tidak ada,” kata Ning kepada para penggemarnya.
Aktor Tanpa Pekerjaan, Bertahan dengan Pekerjaan Serabutan
Seiring melambatnya ekonomi Tiongkok, produksi film dan televisi merosot tajam, meninggalkan puluhan ribu aktor tanpa pekerjaan.
Bahkan nama-nama besar kini harus beralih ke video pendek dan siaran langsung untuk mencari penghasilan. Ada pula yang mengambil pekerjaan sampingan seperti kurir makanan, petugas kebersihan, atau seniman jalanan.
Seorang aktris berusia 29 tahun yang kini bekerja sebagai pelayan restoran mengaku:
“Saya gagal dalam wawancara kerja sebagai kurir dan akhirnya membagikan brosur. Tidak ada yang memalukan dari pekerjaan jujur—setidaknya saya bisa menyimpan 2.000 yuan di rekening.”
Aktor Yu Qingbin, yang dulu dikenal lewat peran-peran pendukung, mengatakan cicilan rumah sebesar 10.000 yuan membuatnya terpaksa bekerja sebagai pengantar makanan.
“Saya tidak pernah menyangka akan sampai meminjam uang hanya untuk bertahan hidup,” ujarnya.
“Saya ingin sutradara dan produser melihat saya lagi. Saya masih siap kembali ke lokasi syuting.”
Data menunjukkan jumlah drama televisi yang diproduksi di Tiongkok turun 30 persen pada 2023, sementara jumlah figuran di Hengdian—pusat produksi film Tiongkok—merosot lebih dari 40 persen.
Bahkan aktor senior seperti Ma Jingtao ambruk karena kelelahan, dipaksa tetap syuting di bawah suhu 40°C demi mempertahankan pekerjaan.
Kebijakan “batas gaji aktor” yang diberlakukan pada 2018 memicu kaburnya modal besar-besaran dan menutup hampir 10.000 studio film. Sejak saat itu, hanya segelintir aktor papan atas yang memonopoli proyek-proyek yang tersisa.
“Proses casting sekarang seperti pesan makanan online,” kata seorang produser.
“Kamu hanya memilih antara hidangan termahal atau paket promo termurah. Tidak ada lagi kelas menengah.”
Kematian Yu Menglong: Titik Balik Moral Industri Hiburan
Dugaan lama tentang “aturan tersembunyi” (hidden rules) dalam industri hiburan Tiongkok kini kembali menjadi sorotan.
Sebagian warganet bersimpati pada aktor-aktor yang berjuang, tetapi kebanyakan menunjuk pada kematian misterius Yu Menglong sebagai bukti kerusakan moral sistem yang busuk.
“Yu Menglong adalah korban dari sistem yang korup,” tulis seorang pengguna Weibo.
“Musim dingin yang panjang tidak sebanding dengan penderitaannya. Ia dijadikan mainan oleh anak-anak pejabat partai dan kapitalis—dan mereka menghancurkannya.”
Komentar lain menulis:
“Lebih baik menganggur daripada mati! Banyak yang diperkosa, dibunuh dalam ‘kecelakaan,’ dijadikan tumbal darah, dan lenyap tanpa jejak—seolah dihapus dari dunia.”
Sebagian publik bahkan menyerukan boikot total terhadap industri hiburan Tiongkok:
“Selama kasus Yu Menglong belum diusut tuntas, kami tidak akan mendukung hiburan Tiongkok. Jangan salahkan kami—kami hanya ingin melindungi orang-orang yang kami sayangi.”
“Jika kematiannya tidak diselidiki, tidak ada yang berani mendukung siapa pun. Orang takut idola mereka akan bernasib sama. Dan jujur saja—hidup sudah sulit, ekonomi buruk, siapa yang mau buang waktu nonton drama lambat dan kosong makna?”
Musim Dingin yang Belum Berakhir
Para pelaku industri menyebut bahwa “musim dingin ini belum akan berakhir.”
Platform streaming memangkas anggaran untuk drama panjang, sementara para aktor kelas menengah—tulang punggung industri—terpaksa menganggur.
Aktor Jiang Long menggambarkan pergulatannya:
“Ketika tidak ada peran, kamu tidak hanya kehilangan penghasilan—kamu kehilangan jati diri. Saat pesan makanan, kamu berpikir dua kali sebelum menambah lauk daging.”
Bagi Yu Qingbin, menjadi kurir makanan justru membawa pencerahan.
“Itu bukan kegagalan, tapi kejernihan. Mencari nafkah dengan tangan sendiri memberi saya ketenangan,” katanya.
“Mungkin itu naskah paling nyata dalam hidup saya.”
Sumber : Visiontimes.com


