Lonjakan layanan pengantaran makanan di Tiongkok ditopang oleh para pekerja berpenghasilan rendah yang hanya mampu memenuhi “kebutuhan hidup minimum”, dan kondisi ini dinilai tidak berkelanjutan, kata seorang analis.
EtIndonesia. Penjualan KFC Tiongkok meningkat tajam karena bisnis pengantaran yang berkembang pesat di tengah ekonomi Tiongkok yang terus lesu. Para analis mengatakan ini adalah sebuah paradoks yang menunjukkan ekonomi lemah dan tertekan di berbagai sektor.
Pertumbuhan KFC dan bisnis serupa di Tiongkok dinilai dibangun di atas pemanfaatan terakhir tenaga kerja murah, dan akan segera terhambat oleh menurunnya daya beli masyarakat dalam negeri.
Penjualan layanan pengantaran KFC Tiongkok tumbuh 33 persen dibanding tahun lalu dan menyumbang sekitar 55 persen dari total penjualan pada kuartal pertama, naik dari 43 persen tahun lalu, menurut laporan perusahaan induknya, Yum Tiongkok yang dirilis pada 29 April.
Yum Tiongkok merupakan perusahaan yang dipisahkan dari Yum! Brands di Amerika Serikat. Perusahaan ini terdaftar di dua bursa dan memegang hak eksklusif untuk mengoperasikan merek makanan cepat saji Amerika seperti KFC dan Pizza Hut di daratan Tiongkok, sehingga harus membayar royalti kepada Yum! Brands. Perusahaan ini adalah operator restoran terbesar di Tiongkok, dengan lebih dari 18.000 gerai, terutama KFC dan Pizza Hut.
Selain KFC, penjualan layanan antar Pizza Hut juga meningkat 25 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 51 persen dari total penjualannya, naik dari 42 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Meskipun layanan pengantaran meningkatkan penjualan, hal ini menekan margin keuntungan karena Yum Tiongkok memberikan subsidi dalam kerja sama dengan platform pengantaran makanan online di Tiongkok. Perusahaan mengatakan margin akan menyusut sekitar 190 basis poin akibat meningkatnya biaya untuk kurir pengantaran, meskipun sekitar setengah dampaknya dapat dikurangi melalui peningkatan efisiensi operasional gerai.
Dalam beberapa tahun terakhir, layanan pengantaran makanan telah menjadi bisnis besar di Tiongkok. Persaingan semakin ketat dalam setahun terakhir karena ekonomi yang lesu, sementara perusahaan e-commerce besar secara agresif mengejar pangsa pasar dengan menawarkan kupon dan diskon. Regulator Tiongkok juga memberlakukan pembatasan terhadap subsidi dan praktik penjualan ekstrem dari platform pengantaran.
Siapa yang Membeli Makanan?
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terjebak dalam krisis pasar properti, melemahnya permintaan domestik, tingkat pengangguran yang tinggi, gesekan perdagangan dengan Barat, serta ketegangan geopolitik yang berasal dari masalah struktural mendasar dan kebijakan luar negeri yang semakin agresif.
Ekonomi nyata di Tiongkok menunjukkan semakin banyak restoran dan toko yang tutup atau kosong. Namun, sektor pengantaran makanan justru berkembang pesat.
Laporan media menunjukkan bahwa banyak warga Tiongkok—mulai dari lulusan baru, pekerja kantoran paruh baya, hingga aktor—tidak dapat menemukan pekerjaan atau kehilangan pekerjaan, sehingga beralih menjadi kurir pengantaran sebagai pilihan terakhir untuk mencari nafkah. Di tengah penurunan upah dan praktik platform yang dianggap eksploitatif, sebagian kurir juga melakukan protes.
Lonjakan besar layanan pengantaran makanan di Tiongkok merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor seperti penurunan kualitas konsumsi, subsidi platform, tekanan pekerjaan, dan gaya hidup perkotaan, kata Sun Kuo-hsiang, profesor hubungan internasional dan bisnis di Universitas Nanhua Taiwan.
“Ini tidak berarti ekonomi Tiongkok dalam kondisi kuat, melainkan menunjukkan bentuk baru siklus ekonomi berbiaya rendah yang muncul di bawah tekanan,” ujarnya.
Ekonom politik independen yang berbasis di AS, Davy J. Wong, mengatakan bahwa banyaknya orang memesan makanan bukan tanda standar hidup tinggi, melainkan sekadar untuk bertahan hidup.
Menurutnya, boom pengantaran makanan di Tiongkok tidak ditopang oleh orang kaya, tetapi oleh para pekerja—mereka yang belum kehilangan pekerjaan tetapi sangat kelelahan, seperti kelompok “996” yang bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari seminggu.
“Ketika orang tidak mampu makan di restoran, layanan pengantaran menjadi cara termurah untuk bertahan hidup,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ini bukan peningkatan konsumsi, melainkan contoh “efek substitusi”—menukar kesehatan dan kualitas hidup demi produktivitas.
Ia juga menyebut bahwa gelombang besar pengantaran makanan ini bukan sumber pertumbuhan ekonomi baru, melainkan hanya perputaran dalam ekonomi yang stagnan.
Sun mengatakan bahwa pengguna utama layanan ini adalah penduduk kota dengan pendapatan stabil tetapi lebih berhati-hati dalam pengeluaran, seperti pekerja kantoran, mahasiswa, profesional muda, penyewa tunggal, pekerja lembur, dan keluarga kecil.
Subsidi dari platform berperan penting dalam menarik konsumen dan menciptakan kesan permintaan tinggi.
Wong menambahkan bahwa pertumbuhan keuntungan KFC Tiongkok dibangun di atas “dividen demografis” berupa tenaga kerja murah di Tiongkok. Masuknya besar-besaran lulusan dan pekerja menganggur ke sektor ini membuat biaya pengantaran turun hingga batas minimum.
Ia juga mengatakan platform menggunakan algoritma untuk mengeksploitasi pekerja secara maksimal.
Hal ini menciptakan siklus buruk di mana kelompok bawah saling merugikan.
Ketika daya beli terus menurun—bahkan makanan murah pun terasa mahal—kemakmuran yang didorong oleh pengantaran ini akan runtuh.
Sun menyebut ekonomi Tiongkok saat ini menunjukkan paradoks klasik: kepercayaan rendah, tetapi kebutuhan dasar tetap ada; konsumsi kelas atas lesu, tetapi merek murah berkembang.
Ambiguitas Identitas
Identitas KFC Tiongkok dan Pizza Hut Tiongkok menjadi kabur karena dijalankan oleh Yum Tiongkok.
Menurut Wong, ambiguitas ini menciptakan perlindungan hukum dan keuangan untuk mengurangi risiko, terutama yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik.
Pemisahan Yum Tiongkok dari Yum! Brands disebut sebagai “isolasi risiko”. Jika terjadi sanksi besar antara Tiongkok dan Amerika Serikat, perusahaan induk hanya akan kehilangan royalti, bukan seluruh asetnya di Tiongkok.
Perusahaan ini kini beroperasi seperti perusahaan lokal Tiongkok—dikelola oleh warga Tiongkok, terdaftar di New York, dan membayar lisensi untuk merek Amerika.
Identitas campuran ini memungkinkan perusahaan tampil sebagai perusahaan lokal saat sentimen nasionalisme tinggi, sekaligus mempertahankan citra merek Amerika untuk menarik nilai pasar.
Namun, strategi ini tidak mampu menghindari tekanan margin keuntungan, terutama saat harus bersaing dengan merek lokal yang sangat murah.
Tetap Berekspansi
Dengan model “Gemini” (gabungan KFC dan Pizza Hut), Yum Tiongkok membuka hampir 80 gerai baru dalam satu kuartal, terutama di kota-kota kecil.
Sementara itu, Starbucks juga memperluas bisnisnya di Tiongkok dengan bekerja sama dengan perusahaan lokal Boyu.
Menurut analis, ekspansi ini merupakan sebuah taruhan—memanfaatkan peluang terakhir dari pasar yang ada.
Dengan harga sewa properti komersial yang sangat rendah, perusahaan besar dapat memperoleh lokasi strategis dengan biaya murah dan bertahan lebih lama dibanding pesaing kecil.
Selain itu, perusahaan asing juga menjalin kerja sama dengan pihak lokal yang memiliki kekuatan politik untuk mengurangi risiko perubahan kebijakan.
Masa Depan Boom Pengantaran Makanan
Gelombang besar layanan pengantaran makanan kemungkinan akan berkembang dalam tiga tahap yang berbeda, kata Sun.
“Tahap pertama adalah fase ‘ekspansi berbasis subsidi’, di mana platform menghabiskan banyak modal untuk menarik pelanggan, merekrut pedagang, dan memastikan kapasitas pengantaran,” ujarnya.
“Tahap kedua adalah fase ‘normalisasi harga murah’: konsumen sudah terbiasa menggunakan layanan pengantaran, tetapi nilai rata-rata pesanan menurun, dan margin keuntungan pedagang mulai menipis.”
“Tahap ketiga adalah fase ‘konsolidasi dan regulasi’, yang ditandai dengan platform mulai mengurangi subsidi, menaikkan komisi atau biaya layanan, serta menyingkirkan pedagang kecil—pada tahap ini, pendapatan para kurir juga akan menjadi semakin tidak stabil.”
Sun menyimpulkan bahwa sektor pengantaran makanan akan tetap ada di Tiongkok, tetapi kemampuannya untuk menopang jumlah pengangguran yang terus meningkat akan semakin menurun.
Wong mengatakan “gelembung” ini akan pecah ketika platform berhenti memberikan subsidi; ketika para penganggur menjadi begitu miskin sehingga tidak lagi mampu bekerja sebagai pengemudi pengantaran (misalnya karena tidak mampu menyewa sepeda listrik atau membayar biaya pengobatan, dan faktor lainnya); atau ketika “tenaga kerja bergerak” ini dimasukkan ke dalam sistem pengelolaan politik Partai Komunis Tiongkok—misalnya dengan pembentukan cabang Partai dalam layanan pengantaran—yang pada akhirnya akan membuat biaya operasional melonjak tajam.
Luo Ya dan Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.
Sumber : Theepochtimes.com