EtIndonesia. Situasi di kawasan Selat Hormuz kembali berubah drastis pada 5 Mei 2026. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian sementara operasi militer “Project Freedom”, hanya beberapa jam setelah bentrokan sengit antara militer Amerika Serikat dan Iran terjadi di kawasan Teluk Persia.
Pengumuman itu disampaikan Trump sekitar pukul 19.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan penghentian sementara operasi dilakukan untuk memberi kesempatan bagi proses negosiasi damai dengan Iran.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa blokade terhadap Iran tetap dipertahankan sepenuhnya.
Ia juga menyebut bahwa operasi militer Amerika Serikat telah mencapai “keberhasilan besar” dan pembicaraan mengenai “kesepakatan menyeluruh dan final” dengan Iran mengalami kemajuan signifikan.
Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi internasional bahwa Washington dan Teheran kemungkinan sedang bergerak menuju sebuah kesepakatan besar dalam beberapa hari ke depan.
Pentagon Bongkar Sistem Pertahanan Raksasa AS
Pada 5 Mei 2026 pagi, Menteri Perang AS Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menggelar konferensi pers di Pentagon.
Dalam konferensi tersebut, Pentagon membeberkan detail operasi “Freedom” yang selama beberapa hari terakhir dijalankan di Selat Hormuz.
Hegseth mengatakan militer AS telah membangun sistem pengamanan udara dan laut berlapis yang ia sebut sebagai “kubah merah-putih-biru” untuk melindungi kapal dagang internasional selama 24 jam penuh.
Menurut Pentagon, operasi tersebut melibatkan lebih dari 100 pesawat tempur dan drone, kapal perang, sistem anti-rudal, serta pengawasan udara intensif di kawasan Teluk Persia.
Pengamat militer menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak sekadar melakukan pengawalan kapal, melainkan sedang mengambil alih kendali penuh atas jalur laut dan udara di kawasan strategis tersebut.
Kapal Perang AS Tembus Blokade Iran
Pada hari yang sama, dua kapal perusak Amerika Serikat berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia meski mendapat serangan dari Iran.
Laporan menyebutkan kapal perang AS menjadi sasaran drone, rudal, dan kapal cepat milik Iran. Namun armada Amerika mendapat perlindungan penuh dari helikopter Apache, Seahawk, dan berbagai pesawat tempur pendukung lainnya.
Trump mengungkapkan bahwa Iran mengirim delapan kapal cepat untuk menyerang garis blokade militer AS. Namun seluruh kapal tersebut berhasil dihancurkan dalam waktu singkat.
Dalam wawancara di Ruang Oval Gedung Putih, Trump bahkan sempat melontarkan candaan:
“Kapal mereka cepat, tapi rudal kami lebih cepat.”
Trump juga menegaskan bahwa kekuatan militer Iran dan Amerika Serikat “tidak berada pada level yang sama”.
Menurutnya, kapal cepat Iran tidak mampu menembus pertahanan kapal perang Amerika yang dirancang khusus untuk menghadapi pertempuran berat.
Dua Kapal Dagang Berhasil Keluar dari Selat Hormuz
Media Axios melaporkan bahwa sebelum operasi “Freedom” dimulai, Gedung Putih sebenarnya telah memperingatkan Iran agar tidak mengganggu pengawalan kapal dagang oleh militer Amerika.
Namun hanya dua jam setelah peringatan diberikan, Iran justru melancarkan serangan.
Meski begitu, dua kapal dagang akhirnya berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan aman di bawah perlindungan armada Amerika Serikat.
Salah satu kapal yang dikawal merupakan kapal milik Maersk, perusahaan pelayaran terbesar kedua di dunia asal Denmark.
Keberhasilan pengawalan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa perusahaan pelayaran internasional mulai percaya pada kemampuan militer AS dalam menjaga keamanan jalur perdagangan global.
Iran Bantah Serang Uni Emirat Arab
Ketegangan kawasan semakin meningkat setelah Iran dituduh meluncurkan 19 rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke arah Uni Emirat Arab pada 4 Mei 2026.
Sebuah kapal kargo Korea Selatan juga dilaporkan terkena ledakan dalam insiden tersebut.
Serangan itu memicu kecaman keras dari banyak negara, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, India, Italia, dan Uni Eropa.
Namun pada 5 Mei, militer Iran mengeluarkan tiga pernyataan resmi yang membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyerang UEA menggunakan rudal maupun drone.
Di sisi lain, UEA dilaporkan mulai melancarkan serangan udara balasan terhadap sejumlah target militer Iran, termasuk pangkalan Garda Revolusi Iran dan fasilitas minyak di Bandar Abbas.
Korea Selatan Mulai Pertimbangkan Bergabung
Perkembangan penting lainnya datang dari Korea Selatan. Pemerintah Seoul dikabarkan mulai meninjau kemungkinan bergabung dalam operasi “Freedom” yang dipimpin Amerika Serikat.
Jika keputusan itu disetujui, Korea Selatan akan menjadi negara Asia pertama yang ikut dalam operasi militer internasional di Selat Hormuz.
Padahal sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung sempat memberikan bantuan kemanusiaan kepada Iran pada April 2026.
Trump Beri Sinyal Dukungan untuk Warga Iran
Dalam wawancara lain pada 4 Mei 2026, Trump juga mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengatakan bahwa rakyat Iran membutuhkan senjata untuk melawan rezim mereka sendiri.
Trump menyebut bahwa tanpa senjata, warga sipil Iran tidak akan mampu menghadapi aparat bersenjata pemerintah.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Amerika Serikat mungkin sedang mempertimbangkan dukungan lebih besar terhadap kelompok oposisi di Iran.
Kini perhatian dunia tertuju pada langkah Trump yang tiba-tiba menghentikan sementara operasi “Freedom”, sementara di saat yang sama Menteri Luar Negeri Iran justru melakukan perjalanan penting ke Tiongkok.
Banyak pihak menilai Timur Tengah saat ini berada di persimpangan paling berbahaya: menuju kesepakatan damai besar atau justru memasuki konflik regional yang lebih luas. (***)
